Anda di halaman 1dari 34

Alkaloid : Senyawa Organik Terbanyak di

Alam
Ditulis oleh Sinly Evan Putra pada 27-11-2007

Dalam dunia medis dan kimia organik, istilah alkaloid telah lama
menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dalam penelitian yang telah dilakukan selama ini,
baik untuk mencari senyawa alkaloid baru ataupun untuk penelusuran bioaktifitas. Senyawa
alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid
berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik,
daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain
daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.
Berdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid di alam mempunyai keaktifan
biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada mahluk hidup. Sehingga tidaklah
mengherankan jika manusia dari dulu sampai sekarang selalu mencari obat-obatan dari berbagai
ekstrak tumbuhan. Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara
pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung
tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur tumbuh, atau sebagai basa mineral untuk
mempertahankan keseimbangan ion.
Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa
dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal
dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga berbentuk
amorf atau cairan. Dewasa ini telah ribuan senyawa alkaloid yang ditemukan dan dengan
berbagai variasi struktur yang unik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit.
Dari segi biogenetik, alkaloid diketahui berasal dari sejumlah kecil asam amino yaitu ornitin
dan lisin yang menurunkan alkaloid alisiklik, fenilalanin dan tirosin yang menurunkan alkaloid
jenis isokuinolin, dan triftopan yang menurunkan alkaloid indol. Reaksi utama yang mendasari
biosintesis senyawa alkaloid adalah reaksi mannich antara suatu aldehida dan suatu amina primer
dan sekunder, dan suatu senyawa enol atau fenol. Biosintesis alkaloid juga melibatkan reaksi
rangkap oksidatif fenol dan metilasi. Jalur poliketida dan jalur mevalonat juga ditemukan dalam
biosintesis alkaloid.
Berikut adalah beberapa contoh senyawa alkaloid yang telah umum dikenal dalam bidang
farmakologi :

Senyawa Alkaloid
Aktivitas Biologi
(Nama Trivial)
Nikotin

Stimulan pada syaraf otonom

Morfin

Analgesik

Kodein

Analgesik, obat batuk

Atropin

Obat tetes mata

Skopolamin

Sedatif menjelang operasi

Kokain

Analgesik

Piperin

Antifeedant (bioinsektisida)

Quinin

Obat malaria

Vinkristin

Obat kanker

Ergotamin

Analgesik pada migrain

Reserpin

Pengobatan simptomatis disfungsi ereksi

Mitraginin

Analgesik dan antitusif

Vinblastin

Anti neoplastik, obat kanker

Saponin

Antibakteri

Tantangan Penelitian
Tantangan dalam penelitian di bidang alkaloid, semakin lama semakin menarik dan dengan
tingkat kesukaran yang rumit. Hal ini didasarkan pada fenomena bahwa jumlah alkaloid dalam
tumbuhan berada dalam kadar yang sangat sedikit (kurang dari 1%) tetapi kadar alkaloid diatas
1% juga seringkali dijumpai seperti pada kulit kina yang mengandung 10-15% alkaloid dan pada
Senecio riddelii dengan kadar alkaloid hingga 18%. Selain kadar yang kecil, alkaloid juga harus
diisolasi dari campuran senyawa yang rumit. Proses isolasi, pemurnian, karakterisasi, dan
penentuan struktur ini membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang tentunya
memerlukan waktu yang lama untuk mendalaminya.
Tantangan berikutnya dalam penelitian setelah ditemukan senyawa alkaloid murni dan diketahui
strukturnya, adalah dengan melakukan uji aktivitas biologi terutama untuk aplikasi farmakologi
dan bioinsektisida. Setelah diketahui aktivitas biologinya, kemudian dilanjutkan dengan
mempelajari studi molekular (uji klinis) lebih lanjut senyawa tersebut bagi organisme (terutama
manusia). Seandainya alkaloid yang diteliti, memiliki kelayakan sebagai obat, maka tantangan
lain bagi para peneliti adalah mensintesis senyawa tersebut, terutama untuk mencari jalur sintesis
yang sederhana dan murah, sehingga dengan sintesis dapat menyediakan pasokan alternatif obat
semacam itu yang sering sukar diperoleh dari sumber alam.
Tantangan dalam bidang pengembangan ilmu alkaloid tidak berhenti sampai disini saja, adanya
resistensi atau adanya efek ketagihan terhadap obat, menyebabkan para peneliti kembali
disibukkan untuk mencari obat lain, yang salah satunya adalah dengan meneliti turunan-turunan
senyawa yang berkhasiat tersebut.

Penutup
Penelitian di bidang kimia alkaloid tiap tahun selalu berkembang pesat. Indonesia dengan
kekayaan alamnya yang melimpah, merupakan gudang bagi tersedianya senyawa-senyawa
alkaloid yang berkhasiat, yang siap untuk dieksplorasi dan dieksploitasi oleh para ilmuwan.
Dalam usaha mengeksplorasi dan memanfaatkan senyawa alkaloid ini, perlu ditopang oleh
paling tidak oleh tiga pihak yang berkerjasama yaitu pemerintah, dunia industri, dan para
ilmuwan. Untuk itu perlu adanya kesamaan persepsi bahwa penelitian adalah investasi. Dengan
kesamaan persepsi ini, diharapkan penelitian para ilmuwan tidak mentok pada tahap publikasi
ilmiah saja tetapi sampai pada paten dan aplikasi langsung bagi masyarakat.

Alkaloid
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Morfin

Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan
terdapat di tetumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Asam
amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak
digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral yang secara
biogenetik berhubungan dengan alkaloid termasuk digolongan ini.[1]

Daftar isi

1 Kategori
2 Sumber dan Sejarah
3 Referensi
4 Daftar pustaka

Kategori
Alkaloid biasanya diklasifikasikan menurut kesamaan sumber asal molekulnya (precursors),
didasari dengan metabolisme pathway (metabolic pathway) yang dipakai untuk membentuk
molekul itu. Kalau biosintesis dari sebuah alkaloid tidak diketahui, alkaloid digolongkan
menurut nama senyawanya, termasuk nama senyawa yang tidak mengandung nitrogen (karena
struktur molekulnya terdapat dalam produk akhir. sebagai contoh: alkaloid opium kadang disebut
"phenanthrenes"), atau menurut nama tumbuhan atau binatang dimana senyawa itu diisolasi. Jika
setelah alkaloid itu dikaji, penggolongan sebuah alkaloid diubah menurut hasil pengkajian itu,
biasanya mengambil nama amine penting-secara-biologi yang mencolok dalam proses
sintesisnya.

Golongan Piridina: piperine, coniine, trigonelline, arecoline, arecaidine, guvacine, cytisine,


lobeline, nikotina, anabasine, sparteine, pelletierine.
Golongan Pyrrolidine: hygrine, cuscohygrine, nikotina
Golongan Tropane: atropine, kokaina, ecgonine, scopolamine, catuabine
Golongan Kuinolina: kuinina, kuinidina, dihidrokuinina, dihidrokuinidina, strychnine, brucine,
veratrine, cevadine
Golongan Isokuinolina: alkaloid-alkaloid opium (papaverine, narcotine, narceine), sanguinarine,
hydrastine, berberine, emetine, berbamine, oxyacanthine
Alkaloid Fenantrena: alkaloid-alkaloid opium (morfin, codeine, thebaine)
Golongan Phenethylamine: mescaline, ephedrine, dopamin
Golongan Indola:
o Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeO-DMT, bufotenine, psilocybin
o Ergolines (alkaloid-alkaloid dari ergot ): ergine, ergotamine, lysergic acid
o Beta-carboline: harmine, harmaline, tetrahydroharmine
o Yohimbans: reserpine, yohimbine
o Alkaloid Vinca: vinblastine, vincristine
o Alkaloid Kratom (Mitragyna speciosa): mitragynine, 7-hydroxymitragynine
o Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine, coronaridine
o Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, brucine
Golongan Purine:
o Xantina: Kafein, teobromina, theophylline
Golongan Terpenoid:
o Alkaloid Aconitum: aconitine
o Alkaloid Steroid (yang bertulang punggung steroid pada struktur yang bernitrogen):
Solanum (contoh: kentang dan alkaloid tomat) (solanidine, solanine, chaconine)

Alkaloid Veratrum (veratramine, cyclopamine, cycloposine, jervine,


muldamine)[2]
Alkaloid Salamander berapi (samandarin)
lainnya: conessine
Senyawa ammonium quaternary s: muscarine, choline, neurine
Lain-lainnya: capsaicin, cynarin, phytolaccine, phytolaccotoxin

Sumber dan Sejarah


Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan
hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi
asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid.
Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama kali dipakai oleh
Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut
berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu
sudah dikenal, misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal sekitar
10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga
sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya.
IDENTIFIKASI ALKALOID
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 TUJUAN PRAKTIKUM
1. Sebelum melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan telah mengerti tentang apa yang dimaksud
dengan alkaloid dan penggolongannya.
2. Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui identifikasi alkaloid
secara kimia dan kromatografi, serta cara penyarian alkaloid.
I.2 DASAR TEORI
I.2.1 Pengertian Alkaloid
Kata alkaloid pertama kali diperkenalkan oleh W. Meisner pada awal abad 19 untuk senyawa bahan
alam yang bereaksi seperti basa. Alkaloid adalah senyawa nitrogen organik, lazimnya bagian cincin
heterosiklik, bersufat basa, sering bersifat optis aktif dan kebanyakan berbentuk kristal. (Tim Penyusun
Penuntun Praktikum Farmakognosi. 2009).
Alkaloid dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Alkaloid sejati
Alkaloid sejati adalah senyawa yang mengandung nitrogen pada struktur heterosiklik, struktur kompleks,
distribusi terbatas yang menurut beberapa ahli hanya ada pada tumbuhan. Alkaloid sejati ditemukan
dalam bentuk garamnya dan dibentuk dari asam amino sebagai bahan dasar biosintesis.
2. Pseudoalkaloid
Pseudoalkaloid memiliki sifat seperti alkaloid sejati tetapi tidak diturunkan dari asam amino. Contoh :
isoprenoid, terpenoid (coniin), dan alkaloid steroidal (paravallarine).

3. Protoalkaloid
Protoalkaloid adalah senyawa amin sederhana dengan nitrogen tidak berada pada cincin heterosiklik.
Contoh : mescaline, betanin, dan serotonin.
(Swastini, Dewa Ayu.2007).
Fungsi alkaloid dalam tanaman saat ini belum diketahui dengan jelas. Ada beberapa dugaan fungsi
alkaloid, yaitu sebagai metabolit sekunder yang berguna melindungi tanaman dari predator, sebagai
metabolit akhir yaitu limbah yang tidak berfungsi sebagai substansi simpanan atau sebagai regulator
pertumbuhan. Alkaloid banyak dimanfaatkan oleh manusia karena memiliki efek farmakologi,
diantaranya :
Depresan saraf pusat, yaitu morfin dan skopolamin
Simulan saraf pusat, yaitu strihnin dan kafein
Simpatomimetik, yaitu efedrin
Simpatolitik, yaitu yohimbin dan alkaloid ergot
Parasimpatomimetik, yaitu eserin dan pilokarpin
Antikolinergik, yaitu atoprin dan hiosiamin
Ganglioplegik, yaitu spartein dan nikotin
Anestesi lokal, yaitu kokain
Mengobati fibrilasi, yaitu quinidin
Antitumor, yaitu vinblastin dan eliptisin
Antibakteri, yaitu berberin
Amoebasida, yaitu emetin
Selain pada tumbuhan, alkaloid juga ditemukan pada bakteri seperti pyosianin yang dihasilkan oleh
Pseudomonas aeruginosa. Sementara pada fungi, terdapat alkaloid psilosin dari jamur halusinogen dan
ergomin dari Claviceps sp.
Alkaloid jarang ditemukan pada gymnospermae atau pteridophyta. Alkaloid banyak ditemukan pada
angiospermae (10-15%). Pada tanaman monokotil, alkaloid dapat ditemukan pada tanaman dari famili
Amaryllidaceae dan Liliaceae. Pada tanaman dikotil, alkaloid dapat ditemukan pada famili Annonaceae,
Apocynaceae, Fumariaceae, Lauraceae, Loganiceae, Magnoliaceae, Menispermaceae, Papaveraceae,
Ranunculaceae, Rubiaceae, Rutaceae, dan Solanaceae.
Alkaloid juga ditemukan pada beberapa binatang, dalam beberapa kasus karena hewan tersebut
mengkonsumsi tanaman yang mengandung alkaloid, misalnya castoramin dari lili air yang ditemukan
pada berang-berang. Alkaloid sebagai produk metabolisme pada hewan seperti pada salamander atau
amfibi seperti bufo, phyllobates, dan dendrobates. Alkaloid sebagai sekret dari kelenjar eksokrin banyak
ditemukan pada arthropoda seperti Hymenoptera, Neuroptera, Miriapoda, dan Coleoptera.
Pada tanaman, alkaloid ditemukan dalam bentuk garam larut air seperti sitrat, malat, mekonat, tartrat,
isobutirat, benzoat, atau kadang-kadang kombinasi dengan tanin. Secara mikrokimia, ditemukan bahwa
alkaloid banyak ditemukan pada jaringan perifer dari batang atau akar. Alkaloid disintesis padatempat
yang spesifik seperti pada akar yang sedang tumbuh, kloroplas, dan sel laktiferus.
(Swastini, Dewa Ayu.2007).

Penggolongan alkaloid berdasarkan struktur cincin atau inti yang dimiliki, yaitu :
1. Alkaloid Piridin-Piperidin
Pada proses reduksi, basa tersier piridin dikonversi menjadi basa piperidin. Alkaloid dengan struktur inti
dari kelompok ini terbagi menjadi 3 sub kelompok, yaitu :
Derivat piperidin, contohnya lobelin dan lobelia
Derivat asam nikotinat, contohnya arekolin dari areca
Derivat piridin dan piperidin, contohnya nikotin dari tembakau
Contoh dari alkaloid ini adalah nikotin dari tembakau, areca dari tanaman areca catechu, dan lobelia dari
tanaman lobelia inflata.
2. Alkaloid Tropan
Alkaloid tropan memiliki struktur inti bisiklik, mengandung nitrogen yaitu azabisiklo [3,2,1] oktan atau 8metil-8-azabisiklo [3,2,1] oktan. Alkaloid tropan ditemukan pada angiospermae, yaitu famili Solanaceae
(Atropa, Brugmansia, Datura, Scopolia, Physalis), Erythroxylaceae (Erythroxylem), Proteaceae (Belladena
dan Darlingia) dan Convoovulaceae (Convovulus dan Calystegia). Alkaloid tropan secara sporadis
ditemukan pada tanaman Bruguiera, Phyllanthus, dan Cochlearia. Karakter alkaloid yang mengandung
inti tropan adalah jika direaksikan dengan asam nitrat, kemudian residunya dilarutkan dalam aseton
maka akan muncul warna ungu gelap. Hal ini disebabkan karena munculnya larutan etanol dalam KOH (
Reaksi Vitalli Morin). Contoh alkaloid tropan adalah dihasilkan oleh Atropa belladone dan kokain yang
dihasilkan oleh Erythroxylem coca.
3. Alkaloid Quinolin
Alkaloid yang memiliki struktur inti quinolin dihasilkan dari tanaman cinchona (kina). Alkaloid yang
tergolong quinolin diantaranya quinin, quinidin, cinchonin, dan cinchonidin. Alkaloid cinchona saat ini
merupakan satu-satunya kelompok alkaloid quinolin yang memiliki efek terapeutik. Cinchonin yang
merupakan isomer dari cinchonidin merupakan alkaloid orang tua dari semua seri alkaloid quinin.
Quinin dan isomernya yaitu quinidin merupakan 6-metoksicinchonin.
4. Alkaloid Isoquinolin
Obat-obat penting yang berasal dari alkaloid isoquinolin adalah ipekak, emetin, hidrastin, sanguinaria,
kurare, tubokurarin, berberin, dan opium. Meskipun alkaloid isoquinolin memiliki struktur yang
kompleks tetapi biosintetsisnya sangat sederhana. Alkaloid isoquinolin merupakan hasil kondensasi
derivat feniletilamin dengan derivat fenilasetaldehid dimana kedua senyawa ini merupakan derivat dari
fenilalanin dan tirosin.
5. Alkaloid Indol
Obat-obat penting yang mengandung gugus indol adalah rauwolfia (reserpin), catharanthus atau vinca
(vinblastin dan vincristin ), nux vomica (strihnin dan brusin), physostigma (fisostigmin), dan ergot
(ergotamin dan ergonovin). Terdapat tiga kerangka monoterpenoid yang membentuk kompleks indol
yaitu kerangka tipe Aspidosperma, Corynanthe, dan Iboga. Penamaan tipe kerangka ini berdasarkan

tanaman yang banyak mengandung alkaloid dengan inti monoterpen.

6. Alkaloid Imidazol
Cincin imidazol (glioxalin) adalah cincin utama dari pilokarpin yang dihasilkan oleh tanaman Pilocarpus
jaborandi. Pilokarpin adalah basa tersier yang mengandung gugus lakton dan imidazol. Ditinjau dari
strukturnya, alkaloid ini mungkin dibentuk dari histidin atau suatu metabolit yang ekivalen.
7. Alkaloid steroid
Alkaloid steroid dikarakterisasi dengan adanya inti siklopentanofenantren. Alkaloid ini biasanya dibentuk
dari kolesterol dan memiliki prekursor yang sama dengan kolesterol. Alkaloid steroid yang penting
adalah veratrum.
8. Alkaloid Amin
Alkaloid dalam kelompok ini tidak memiliki atom nitrogen dalam cincin heterosiklik. Kebanyakan
merupakan derivat dari feniletilamin dan asam amino umum seperti fenilalanin dan tirosin. Contoh
alkaloid ini adalah efedrin dan kolkisin.
9. Basa Purin
Purin adalah inti heterosiklik yang mengandung anggota 6 cincin pirimidin yang bergabung dengan
anggota 5 cincin imidazol. Purin sendiri tidak ada di alam tetapi derivatnya signifikan secara biologis.
Alkaloid basa purin yang penting adalah kafein, teobromin, dan teofilin.
(Swastini, Dewa Ayu.2007).
1.2.2 Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi adalah cara pemisahan zat berkhasiat dan zat lain yang ada dalam sediaan, dengan jalan
penyarian berfraksi, atau penyerapan, atau penukaran ion pada zat padat berpori, menggunakan cairan
atau gas yang mengalir. Zat yang diperoleh dapat digunakan untuk percobaan identifikasi atau
penetapan kadar. Kromatografi yang sering digunakan adalah kromatografi kolom, kromatografi kertas,
kromatografi lapis tipis, dan kromatografi gas. Sebagai bahan penyerap selain kertas digunakan juga zat
penyerap berpori, misalnya aluminiumoksida yang diaktifkan, asam silikat atau silika gel kiselgur dan
harsa sintetik. Bahan tersebut dapat digunakan sebagai penyerap tunggal atau campurannya atau
sebagai penyangga bahan lain. Kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis umumnya lebih berguna
untuk percobaan identifikais karena cara ini khas dan mudah dilakukan untuk zat dengan jumLah sedikit.
Kromatografi gas memerlikan alat yang lebih rumit, tetapi cara tersebut sangat berguan untuk
percobaan identifikasi dan penetapan kadar. (Materia Medika Indonesia Jilid V, hal 523)
1. Kromatografi Kolom
Kromatografi Penyerapan
Zat penyerap ( misalnya aluminium oksida yang telah diaktifakan, silika gel, kiselgut terkalsinasi, dan
kiselgur kromatografi murni ) dalam keadaan kering atau setelah dicampur dengan sejumLah cairan
dimapatkan kedalam tabung kaca atau tabung kuarsa denan ukuran tertentu dan mempunyai lubang

pengalir keluar dengan ukuran tertentu.


SejumLah sediaan yang diperiksa dilarutkan dalam sedikit pelarut ditambahkan pada puncak kolom dan
dibiarkan mengalir dalam zat penyerap. Zat berkhasiat diserap dari larutan oleh bahan penyerap secara
sempurna berupa pita sempit pada puncak kolom. Dengan mengalirkan pelarut lebih lanjut, dengan atau
tanpa tekanan udara, masing-masing zat bergerak turun dengan kecepatan khas hingga terjadi
pemisahan dalam kolom yang disebut kromatogram. Kecepatan bergerak zat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, misalnya daya serap zat penyerap, sifat pelarut dan suhu dari sistem komatografi.
Kromatografi Pembagian
Pada kromatografi pembagian, zat yang harus dipisahkan terbagia atas dua cairan yang tidak bercampur.
Salah satu cairannya yaitu fase tidak gerak atau fase yang lebih polar biasanya diserap oleh zat penyerap
padat, karena itu memberikan daerah permukaan yang sangat luas keada pelarut yang mengalir atau
fase gerak atau fase yang kurang polar dan menghasilkan pemisahan yang baik yang tidak dapat dicapai
pada pengocokan. Kromatografi pembagian dilakuakn dengan cara mirip dengan kromatografi
penyerapan. Dalam hal tertentu lebih baik zat yang diperiksa yang telah dilarutkan dalam fase tidak
bergerak ditambahkan pada sedikit zat penyerap, kemudian campuran ini dipindahkan pada puncak
kolom. (Materia Medika Indonesia Jilid V, hal 523).
2. Kromatografi Kertas
Pada kromatografi kertas sebagai penyerap digunakan sehelai kertas dengan susunan serabut atau tebal
yang cocok. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut tunggal dengan proses yang
analog dengan kromatografi penyerapan atau menggunakan dua pelarut yang tidak dapat bercampur
dengan proses analaog dengan kromatografi pembagian. Pada kromatografi pembagian fase bergerak
merambat perlahan-lahan melalui fase tidak bergerak yang membungkus serabut kertas atau yang
membentuk kompleks dengan serabut kertas. Perbandingan jarak perambatan suatu zat terhadap jarak
perambatan fase bergerak dihitung dari titik penetesan larutan zat dinyatakan sebagai Rf zat tersebut.
Perbandingan jarak perambatan suatu zat dengan jarak perambatan zat pembanding kimia dinyatakan
sebagai Rr. Letak bercak yang diperoleh dari zat yang dikromatografi dapat ditetapkan dengan cara
berikut :
a. Pengamaatan langsung, jika tampak dengan cahaya biasa atau dengan sinar ultra violet
b. Pengamatan dengan cahaya biasa atau dengan sinar ultraviolet setelah kertas disemprot dengan
pereaksi yang dapat memberikan warna pada bercak.
c. menggunakan pencacah geiger-muler atau otora diografik jika ada zat radioaktif.
d. menempatkan pita atau potongan kertas pada medium perbiakan yang telah ditanami untuk melihat
hasil stimulasi atau pertumbuahan bakteri.
Alat yang digunakan berupa bejana kromatogarfi raltahan korosi , bak pelarut, batang kaca anti sifon
dan kertas kromatografi. (Materia Medika Indonesia Jilid V, hal 525).
3. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi lapis tipis digunakan untuk pemisahan zat secara cepat dengan menggunakan zat
penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada lempeng kaca. Lempeng yang dilapis,
dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan didasarkan pada penyerapan

pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap pembagian atau gabungannya
tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. KLT
dengan penyerap penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. Harga Rf yang
diperoleh pada KLT tidak tetap jika dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas
karena itu pada lempeng yang sama disamping kromatogram dari zat yang diperiksa perlu dibuat
kromatogram dari zat pembanding kimia lebih baik dengan kadar yang berbeda-beda. Perkiraan
identifikasi diperoleh dengan pengamatan 2 bercak dengan harga Rf dan ukuran yang lebih kurang
sama. Ukuran dan intensitas bercak dapat digunakan untuk memperkirakan kadar. Penetapan kadar
yang lebih teliti dapat digunakan dengan cara densito metri atau dengan mengambil bercak dengan hatihati dari lempeng, kemudian disari dengan pelarut yang cocok, dan ditetapkan dengan cara
spektrofotometri. Pada KLT 2 dimensi lempeng yang telah dievaluasi diputar 900 dan dievaluasi lagi
umumnya menggunakan bejana lain yang berisi pelarut lain. Alat yang digunakan adalah lempeng kaca,
baki lempeng, rak penyimpanan, zat penyerap, alat pembuat lapisan, bejana kromatografi, sablon, pipet
mikro, alat penyemprot pereaksi, pelarut, dan lampu ultraviolet. (Materia Medika Indonesia Jilid V, hal
528).
4. Kromatografi Gas
Kromatografi gas adalah satu cara pemisahan kromatografi dimana sebagai fase bergerak digunakan gas
yang disebut gas pembawa. Jika sebagai fase tidak bergerak digunakan zat padat yang disebut
kromatografi gas padat dan jika sebagai fase tidak bergerak digunakan cairan disebut kromatografi gas
cairan. Alat yang digunakan antara lain : tempat penyuntikan yang terletak dimuka kolom kromatografi,
kolom kromatografi dari kaca atau baja tahan karat berisi bahan padat penyangga halus yang cocok dan
dilapisi dengan fase tidak bergerak, detektor yang dihubungkan dengan alat pencatat. (Materia Medika
Indonesia Jilid V, hal 531).
1.2.3 Alat dan Bahan.
A. Identifikasi Umum dan Kimia Alkaloida
Alat :
1. Erlenmeyer
2. Beaker glass
3. Gelas ukur
4. Batang pengaduk
5. Sendok tanduk
6. Corong pisah
7. Tabung reaksi
8. Pipet tetes
9. Penangas air
10. Kertas perkamen
11. Kertas saring
12. Penjepit kayu
Bahan :

1. Simplisia Coffea Semen, Cacica papaya Flos, Nicotiana tabacum Folium, Chinae Cortex, dan Piperis
nigri Fructus.
2. HCL 2N
3. Amonia P
4. Eter P
5. Kloroform
6. Natrium Sulfat Anhidrat P
7. Mayer LP
8. Wagner LP
9. Dragendroff LP
10. Marme LP
11. Harger LP
12. Asam Sulfat P
13. Asam Nitrat P
14. Erdman LP
15. Kristal Kadminium Sulfat
16. Asam Sulfat Encer
17. Air
18. Arang jerap
B. Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis
Alat :
1. Chamber
2. Plat KLT silica gel GF 254
3. Pipet Kapiler
4. Kertas saring
Bahan :
1. Chinae Cortex
2. Toluena-eter-dietilamina (55:35:10) v/v
3. 35 mg Kinina
4. Amoni 25 %
5. Kloroform
6. Metanol
7. Asam Sulfat pekat

B A B II
DATA PENGAMATAN HASIL PRAKTIKUM
Data pengamatan hasil praktikum terlampir.

B A B III

PEMBAHASAN
Pada praktikum identifikasi glikosida ini, dilakukan uji identifikasi glikosida secara kimia maupun secara
kromatografi.
3.1 Identifikasi Umum
Pada identifikasi umum dilakukan 2 macam percobaan, yaitu reaksi pengendapan dan reaksi warna.
Namun, terlebih dahulu harus dilakukan penyiapan larutan percobaan. Adapun bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah simplisia Coffea Semen, Carica papaya Flos, Nicotiana tabacum Folium,
Chinae Cortex, dan Piperis nigri Fructus. Mula-mula serbuk simplisia ditimbang sebanyak 250 mg,
kemudian ditambahkan 0,5 mL HCl 2N dan 4,5 mL air. Penambahan HCl 2 N bertujuan untuk menarik
alkaloid dari dalam simplisia. Alkaloid bersifat basa, sehingga dengan penambahan asam seperti HCl
akan terbentuk garam. Sedangkan fungsi penambahan air adalah untuk melarutkan garam alkaloid yang
terbentuk (Depkes RI, 1979). Setelah itu dilakukan pemanasan selama 2 menit di atas penangas air,
kemudian didinginkan lalu disaring. Pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk memecah ikatan antara
alkaloid dengan asam klorida sehingga diperoleh alkaloid yang bukan dalam bentuk garamnya.
kemudian didinginkan dan disaring lalu diambil filtratnya.
Coffea Semen terbentuk larutan berwarna coklat muda.
Carica papaya Flos terbentuk larutan berwarna orange.
Nicotiana tabacum Folium terbentuk larutan berwarna coklat kemerahan.
Chinae Cortex terbentuk larutan berwarna kuning jernih.
Piperis nigri Fructus terbentuk larutan berwarna orange.
Filtrat kemudian dipindahkan ke gelas arloji dan ditetesi dengan 2 tetes larutan Mayer LP.
Coffea Semen terbentuk larutan berwarna coklat muda dan tidak menggumpal.
Carica papaya Flos terbentuk larutan berwarna kuning muda dan tidak terbentuk endapan.
Nicotiana tabacum Folium terbentuk larutan berwarna kuning muda dan tidak terbentuk endapan .
Chinae Cortex terbentuk larutan berwarna putih kekuningan dan terbentuk endapan.
Piperis nigri Fructus terbentuk larutan berwarna coklat muda dan terbentuk sedikit endapan.
Berdasarkan uji di atas, diketahui bahwa Chinae Cortex mengandung alkaloid. Hal ini ditandai dengan
terbentuknya endapan. Berdasarkan pustaka, simplisia Chinae Cortex mengandung alkaloid quinolin.
(Buku ajar Farmakognosi. 2009).
Sisa filtrat kemudian digojog dalam corong pisah dan ditambahkan 3 mL amonia P untuk membuat
suasana basa dan 5 mL campuran (3 bagian eter, yaitu x 5 ml = 3,75 mL dan 1 bagian kloroform, yaitu
x 5 ml = 1,25). Penambahan dua pelarut ini bertujuan untuk melarutkan fase organik yaitu campuran
klorofom dan eter serta fase non organik yaitu air. Karena kedua fase ini memiliki massa jenis yang
berbeda, maka fase organik dan fase non organik pada filtrat akan terpisah, dimana fase organik filtrat
berada pada bagian bawah larutan, sedangkan air sebagai fase organik berada pada bagian atas larutan.
Fase organik mengandung alkaloid karena alkaloid memiliki sifat nonpolar sehingga larut dalam
kloroform. Setelah itu fase organik ditambahkan Na2SO4 anhidrat yang bersifat higroskopis, sehingga
mampu mengikat air yang tersisa pada filtrat. Kemudian, larutan disaring dan filtrat dibagi 2 untuk reaksi
pengendapan dan reaksi warna.

a. Reaksi Pengendapan
Pada reaksi pengendapan, filtrat diuapkan terlebih dahulu di atas penangas air untuk menghilangkan
atau menguapkan pelarut yang telah bercampur dengan alkaloid. Kemudian, sisa filtrat yang telah
diuapkan dilarutkan dalam HCl 2N. Penambahan HCl berfungsi untuk membentuk garam alkaloid
sehingga alkaloid dapat tertarik dari larutannya. Alkaloid dalam bentuk garamnya inilah yang nantinya
akan bereaksi dengan reagent atau larutan pereaksi dan membentuk endapan. Adapun larutan pereaksi
yang digunakan antara lain:
Gol II : Wagner LP.
Gol III : Mayer LP dan Dragendroff LP.
Gol IV : Harger LP.
Tabel 1 : Hasil Uji Reaksi Pengendapan
Nama Simplisia Larutan Pereaksi
Wagner LP Mayer LP Dragendroff LP Harger LP
Coffea Semen - - Carica papaya Flos - - - Nicotiana tabacum Folium - - Chinae Cortex - - - Piperis nigri Fructus - - Ket:
: Terbentuk endapan
- : Tidak terbentuk endapan
Berdasarkan percobaan reaksi pengendapan di atas, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat simplisia yang
mengandung alkaloid karena tidak terbentuk endapan dari sekurang-kurangnya dua larutan
pereaksi.(Depkes RI,1977). Hal ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa Chinae Cortex
mengandung alkaloid qinolin. Berdasarkan pustaka, disebutkan bahwa reaksi pengendapan dengan
pereaksi golongan II jika bereaksi dengan alkaloid akan membentuk endapan. Reaksi pengendapan
dengan pereaksi golongan III jika bereaksi dengan alkaloid akan membentuk senyawa adisi yang tidak
larut. Reaksi pengendapan dengan pereaksi golongan IV jika bereaksi dengan alkaloid akan membentuk
ikatan asam organik.(Depkes RI, 1980). Tidak terbentuknya endapan disebabkan karena rusaknya
larutan pereaksi atau kesalahan dalam proses pengerjaan, misalnya pada proses penguapan dan
penambahan HCl 2N.
b. Reaksi Warna
Pada reaksi ini, sebelum ditetesi dengan larutan pereaksi, sampel terlebih dahulu diupkan di atas
penangas air dengan menggunakan cawan porselen. Hal ini juga bertujuan untuk menguapkan pelarut

yang telah bercampur dengan alkaloid. Pada uji warna ini, digunakan 3 pereaksi, yaitu asam sulfat P,
asam nitrat P, dan Erdman LP. Dari percobaan di atas, diperoleh hasil :
Tabel 2 : Hasil Uji Reaksi Warna
Nama Simplisia Larutan percobaan
asam sulfat P asam nitrat P Erdman LP
Coffea Semen Coklat jernih Kuning jernih Coklat jernih
Carica papaya Flos Coklat muda Hijau muda Tetap bening
Nicotiana tabacum Folium Agak kekuningan Putih kekuningan Tetap bening
Chinae Cortex Agak kuning Tetap bening Tetap bening
Piperis nigri Fructus Kuning Hijau kekuningan kekuningan
Dari hasil percobaan, diperoleh hasil uji negatif ( - ) pada simplisia Carica papaya Folium, Nicotiana
tabacum Folium, dan Chinae Cortex karena ada yang tidak mengalami perubahan warna setelah ditetesi
dengan larutan percobaan tertentu. Adapun penyimpangan hasil uji warna ini disebabkan oleh
ketidaktelitian praktikan dalam penambahan reagent atau larutan percobaan pada filtrat dan mungkin
juga disebabkan oleh proses penyarian filtrat yang kurang teliti.
Sedangkan diperoleh hasil uji positif (+) pada Coffea Semen dan Piperis nigri Fructus karena terjadi
perubahan warna oleh penambahan ketiga larutan percobaan. Adanya perubahan warna disebabkan
oleh adanya interaksi antara alkaloid yang bersifat basa dengan larutan percobaan yang bersifat asam
sehingga menimbulkan reaksi asam-basa dan memicu timbulnya warna tertentu.
3.2 Identifikasi Kimia
3.2.1 Piperina
Pada identifikasi kimia terhadap serbuk piper nigrum dilakukan dengan cara 1-3 tetes sari kloroform dari
serbuk piper nigrum yang diteteskan pada objek gelas kemudian ditambahkan dengan 1 tetes asam
sulfat pekat terjadi warna coklat tua, karena merupakan senyawa amida basa lemah yang dapat
membentuk garam dengan asam mineral kuat. Uji positif karena setelah diamati dibawah mikroskop
dengan pembesaran lemah (12,5 x 10) membentuk kristal kadminium sulfat, yang berupa kristal
berbentuk jarum, berwarna kuning.
3.2.2 Kinina
Pada uji ini, digunakan 200 mg serbuk Chinae Cortex dimaserasi dengan 20 mL air dan 2 tetes Asam
Sulfat encer selama 1 jam, diperoleh maserat berwarna coklat muda, disaring. Maserasi bertujuan
menarik alkaloid untuk bereaksi dengan asam membentuk garam yang larut dalam air, sedangkan
penambahan Asam Sulfat encer bertujuan untuk menarik alkaloid karena alkaloid bersifat basa lemah
dan bila direaksikan dengan asam maka akan terbentuk garam yang larut dalam air sehingga garam
alkaloid dapat terpisah menuju fase cair dan dapat diisolasi. Setelah filtrat ditambahkan Asam Sulfat
encer, didihkan dan ditambahkan arang jerap untuk mengabsorpsi pengotor, kemudian diamati pada
lampu UV, terjadi flourosensi biru. Flourosensi ini terjadi karena larutan menyerap cahaya pada panjang
gelombang 366 nm. Dari hasil percobaan menunjukkan hasil positif untuk kinina karena alkaloid kinina
mampu menyerap gelombang cahaya unutk membentuk flourosensi berwana biru. Hal ini menandakan

bahwa simplisia Chinae Cortex memiliki kandungan alkaloid kinina.

Gambar 1. Dilihat di bawah UV 254 nm

Gambar 2. Dilihat di bawah UV 366 nm


3.3 Identifikasi Alkaloid dengan Menggunakan Metode Kromatografi Lapis Tipis
Selain identifikasi alkaloid secara kimia, pemeriksaan alkaloid secara kromatografi lapis tipis juga
dilakukan. Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan secara fisiko-kimia, dimana pada dasarnya
prinsip kerja dari kromatografi melawan gradient gravitasi bumi yang menyebabkan larutan dalam
percobaan akan bergerak ke atas melalui fase diamnya.
Fase diam yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Silika gel GF254, dan fase geraknya Toluena eter
dietilamina (55 : 35 : 10). Toluen yang digunakan 2,75 ml, eter 1,75 ml, dietil amina 0,5 ml. Dimana
sebagai pembanding digunakan 35 mg kinina. Silika gel GF254 artinya silika gel yang terdapat pada plat
KLT yaitu gypsum dengan fluoresensi pada panjang gelombang () 254 nm. Bahan yang digunakan
adalah golongan kinolin yaitu serbuk Chinae cortex.
Langkah pertama, 250 mg serbuk Chinae cortex dibasahi dengan 5 tetes amonia 25% untuk menciptakan
suasana basa sehingga alkaloid lebih mudah disari. Kemudian ditambahkan dengan kloroform dan
digojog. Penambahan kloroform bertujuan untuk menarik zat zat pengotor (Anonim b, 1979). Filtrat
selanjutnya diuapkan sampai kering, dan ditambahkan dengan 0,5 ml metanol. Metanol dalam hal ini
berfungsi sebagai pelarut. Larutan yang diperoleh ditotolkan sebanyak 5 10 mikroliter dengan pipet
kapiler. Tujuan digunakan pipet kapiler adalah untuk memperkecil luas permukaan penotolan, sehingga
elusi yang terjadi dapat lebih sempurna. Setelah pengembangan selesai, lempeng KLT dipanaskan pada
suhu 1000 C selama 10 menit. Setelah pengembangan selama 1 jam, diamati di bawah sinar UV254,
terbentuk spot antara lain :
Spot 1 berwarna lembayung gelap dengan jarak 1,5 cm
= = 0,1875
Spot 2 berwarna biru muda dengan jarak 3 cm
= = 0,375
Spot 3 berwarna biru tua dengan jarak 4 cm
= = 0,5

Spot 4 berwarna lembayung gelap dengan jarak 5 cm


= = 0,625
Spot 5 berwarna lembayung gelap dengan jarak 6 cm
= = 0,75
Setelah disemprot dengan 10 mL campuran methanol asam sulfat pekat (9:1) v/v dan dipanaskan pada
suhu 1050C dan dilihat pada UV366 terbentuk 8 spot, antara lain :
Spot 1 berwarna lembayung gelap dengan jarak 1 cm
= = 0,125
Spot 2 berwarna lembayung gelap dengan jarak 2 cm
= = 0,25

Spot 3 berwarna biru muda dengan jarak 2,5 cm


= = 0,313

Spot 4 berwarna ungu dengan jarak 3 cm


= = 0,375
Spot 5 berwarna biru muda dengan jarak 4 cm
= = 0,5
Spot 6 berwarna kuning dengan jarak 6 cm
= = 0,625
Spot 7 berwarna kuning dengan jarak 6 cm
= = 0,75
Spot 8 berwarna hijau dengan jarak 6,5 cm
= = 0,835
Berdasarkan percobaan pada simplisia Chinae Cortex diperoleh hasil uji positif mengandung alkaloid
yang ditandai dengan adanya pemadaman fluoresensi di bawah UV254 nm. Pada UV 366 nm setelah
disemprot campuran Metanol- Asam Sulfat Pekat (9:1) v/v tidak terbentuk warna biru tua yang menyala.

Gambar 3. Dilihat di bawah UV 254 nm

Gambar 4. Dilihat di bawah UV 366 nm

KESIMPULAN
1. Pada uji identifikasi umum terhadap simplisia Coffea Semen, Carica Papaya Flos, Nicotiana Tabacum
Folium, Chinae Cortex, Piperis Nigri Fructus negatif mengandung alkaloid.
2. Pada reaksi pengendapan suatu serbuk simplisia mengandung alkaloid sekurang-kurangnya jika
terbentuk endapan dengan dua larutan pereaksi.
3. Pada uji warna suatu simplisia mengandung alkaloid jika menghasilkan perubahan warna dengan
beberapa larutan pereaksi Wagner LP, Mayer LP, Dragendroff LP, dan Harger LP, diperoleh hasil uji
negatif ( - ) pada simplisia Carica Papaya Folium, Nicotiana tabacum Folium, dan Chinae Cortex.
Sedangkan diperoleh hasil uji positif (+) pada Coffea Semen dan Piperis nigri Fructus.
4. Uji piperina menghasilkan reaksi positif mengandung alkaloid dengan terbentuknya kristal kadminum
sulfat berupa kristal berbentuk jarum, berwarna kuning.
5. Uji kinina menunjukkan hasil positif mengandung alkaloid yang ditunjukkan dengan terbentuknya

flourosensi berwana biru. Hal ini menandakan bahwa simplisia Chinae Cortex memiliki kandungan
alkaloid kinina.
6. Uji identifikasi alkaloid dengan menggunanakan metode KLT pada simplisia Chinae Cortex
menunjukkan hasil uji positif mengandung alkloida yang ditandai dengan adanya pemadaman
fluoresensi di bwah UV 254 nm. Sedangkan pada UV 366 nm setelah disemprot campuran MetanolAsam Sulfat Pekat (9:1) v/v tidak terbentuk warna biru tua yang menyala.
isolasi alkaloid
Keyword : ekstraksi, kromatografi, senyawa alkaloid, isolasi alkaloid, biji jintan hitam

Metode ekstraksi dan kromatografi lazim digunakan dalam mengisolasi senyawa alkaloid dari
bahan alam. Dalam penelitian ini, dikembangkan metode isolasi alkaloid yang baru
menggunakan kafein dan papaverin HCl sebagai model. Sebelum masuk ke isolasi alkaloid,
dilakukan reaksi pengendapan yang selektif menggunakan larutan garam bismut. Kation
dipisahkan dari endapan dengan menambahkan natrium-ethylendiamintetraacetic pada pH yang
optimum. Metode ini dioptimasi dengan cara menentukan jumlah kation yang bereaksi dengan
alkaloid dan menentukan pH yang optimum. Pengendapan tiap 1 mol kafein membutuhkan 6 mol
kation bismut dan 1 mol papaverin HCl membutuhkan 9 mol kation bismut dan pH optimum dari
reaksi adalah 2. Efektivitas isolasi dengan metode ini mencapai lebih dari 90%. Metode ini
diterapkan untuk mengisolasi alkaloid dari biji jintan hitam (Nigella sativa L.) dan diperoleh
alkaloid 0,13%.
sumber:
PENERAPAN METODE ISOLASI ALKALOID MELALUI PEMBENTUKAN KOMPLEKS
BISMUT DALAM ISOLASI ALKALOID DARI BIJI JINTAN HITAM (NIGELLA SATIVA
L.)
Oleh : LUTHFI ADHITAMA NURWAN (NIM 10704062), S1 - Department of Pharmacy
Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2009-04-17 14:56:39
Diposkan oleh handani90anien di 22:46 Tidak ada komentar:
fungsi si senyawa alkaloid
ternyata banyak banget fungsi dari senyawa alkaloid ini, misalkan:
dari yang paling sederhana, bumbu dapur, diperoleh dari turunan piperidin
1. antispasmodik, didapatkan dari senyawa propil-piperidin
2. sedatif, dari senyawa propil-piperidin atau hiosiamin & skopolamin
3. anthelmintik, dari senyawa as. nikotinat (tumb. Areca catechu)
4. analgetik narkotik, dari senyawa kokain
5. antimalaria, dari senyawa kinina (tumb. Cinchona succirubra)
6. antibiotik, dari senyawa viridicatin
7. analgetik untuk nyeri hebat, dari senyawa morfin
8. emetik ekspektorn, dari senyawa amatina
9. antipiretik, dari senyawa beberin

10. relaksan otot, dri senyawa vinblastina


11. antihipertensi, dari senyawa germidina
12. stimulan SSP, dari senyawa d-norpseudo efedrin, theobromin yang juga berfungsi sbg diuretik
13. bronkodilator, dari senyawa theofilina
14. simpatomimetik, dari senyawa efedrin
15. insektisida,dari senyawa seradina
16. adstringen pada radang selaput lendir, dari senyawa hidrastina (tumb. Hydrastis canadensy)
dan lainya yang masih banyak lagi yang belum aku sebutkan
Diposkan oleh handani90anien di 21:35 Tidak ada komentar:
klasifikasi alkaloid, yang ternyata banyak
KLASIFIKASI
ALKALOID
yang
ternyata
banyak
Alkaloid biasanya diklasifikasikan menurut kesamaan sumber asal molekulnya (precursors),didasari
dengan metabolisme pathway (metabolic pathway) yang dipakai untuk membentuk molekul itu. Kalau
biosintesis dari sebuah alkaloid tidak diketahui, alkaloid digolongkan menurut nama senyawanya,
termasuk nama senyawa yang tidak mengandung nitrogen (karena struktur molekulnya terdapat dalam
produk akhir. sebagai contoh: alkaloid opium kadang disebut "phenanthrenes"), atau menurut nama
tumbuhan atau binatang dimana senyawa itu diisolasi. Jika setelah alkaloid itu dikaji, penggolongan
sebuah alkaloid dirubah menurut hasil pengkajian itu, biasanya mengambil nama amine penting-secarabiologi
yang
mencolok
dalam
proses
sintesisnya.
Klasifikasi
alkaloida
dapat
dilakukan
berdasarkan
beberapa
cara:
Berdasar
jenis
cincin
heterosiklik
nitrogen
yang merupakan bagian dari stuktur molekul. Berdasarkan hal tersebut, alkaloida dapat dibedakan atas
beberapa jenis seperti alkaloida pirolidin,piperidin, isokuinolin, kuinolin, dan alkaloida indol
1. Golongan Piridina: piperine, coniine, trigonelline, arecoline, arecaidine, guvacine, cytisine, lobeline,
nikotina,
anabasine,
sparteine,
pelletierine.
2.
Golongan
Pyrrolidine:
hygrine,
cuscohygrine,
nikotina
3.
Golongan
Tropane:
atropine,
kokaina,
ecgonine,
scopolamine,
catuabine
4. Golongan Kuinolina: kuinina, kuinidina, dihidrokuinina, dihidrokuinidina, strychnine, brucine,
veratrine,
cevadine
5. Golongan Isokuinolina: alkaloid-alkaloid opium (papaverine, narcotine, narceine), sanguinarine,
hydrastine,
berberine,
emetine,
berbamine,
oxyacanthine
6.
Alkaloid
Fenantrena:
alkaloid-alkaloid
opium
(morfin,
codeine,
thebaine)
7.
Golongan
Phenethylamine:
mescaline,
ephedrine,
dopamin
8.
Golongan
Indola:
o
Tryptamines:
serotonin,
DMT,
5-MeO-DMT,
bufotenine,
psilocybin
o
Ergolines
(alkaloid-alkaloid
dari
ergot
):
ergine,
ergotamine,
lysergic
acid
o
Beta-carboline:
harmine,
harmaline,
tetrahydroharmine
o
Yohimbans:
reserpine,
yohimbine

o
Alkaloid
Vinca:
vinblastine,
vincristine
o
Alkaloid
Kratom
(Mitragyna
speciosa):
mitragynine,
7-hydroxymitragynine
o
Alkaloid
Tabernanthe
iboga:
ibogaine,
voacangine,
coronaridine
o
Alkaloid
Strychnos
nux-vomica:
strychnine,
brucine
9.
Golongan
Purine:
o
Xantina:
Kafein,
teobromina,
theophylline
10.
Golongan
Terpenoid:
o
Alkaloid
Aconitum:
aconitine
o Alkaloid Steroid (yang bertulang punggung steroid pada struktur yang bernitrogen):
Solanum (contoh: kentang dan alkaloid tomat) (solanidine, solanine, chaconine)
Alkaloid Veratrum (veratramine, cyclopamine, cycloposine, jervine, muldamine)[2]

Alkaloid
Salamander
berapi
(samandarin)

lainnya:
conessine
11.
Senyawa
ammonium
quaternary
s:
muscarine,
choline,
neurine
12. Lain-lainnya:
capsaicin,
cynarin,
phytolaccine,
phytolaccotoxin
(www.google.co.id)
Berdasar
jenis
tumbuhan
darimana
alkaloida
ditemukan.
Cara ini digunakan untuk menyatakan jenis alkaloida yang pertama-tama ditemukan pada suatu jenis
tumbuhan. Berdasarkan cara ini, alkaloida dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu:
1.
Alkaloida
tembakau,
2.
Alkaloida
amaryllidiaceae,
3.
Alkaloida
erythrine
dan
lainnya.
Tapi cara ini punya kelemahan: beberapa alkaloida yang berasal dari suatu tumbuhan tertentu dapat
mempunyai
struktur
yang
beda
Berdasar
asal-usul
biogenetik.
Cara ini sangat berguna untuk menjelaskan hubungan antara berbagai alkaloida yang diklasifikasikan
berdasar berbagai jenis cincin heterosiklik. Dari biosintesa alkaloida, menunjukkan bahwa alkaloida
berasal
dari
hanya
beberapa
asam
amino
tertentu
saja.
Dapat
dibedakan:
1.
Alkaloida
alisiklik
(berasal
dari
asam-asam
amino
ornitrin
&
lisin)
2. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin (berasal dari fenilalanin, tirosin & 3,4-dihidrofenilalanin)
3.
Alkaloida
aromatik
jenis
indol
(berasal
dari
triptopan)
Menurut Hegnauer, merupakan system klasifikasi yang paling banyak diterima.
1.
Alkaloida
sesungguhnya
Alkaloida ini merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas, hampir
tanpa terkecuali bersifat basa, umumnya mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklik, diturunkan
dari asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik. Ada pengecualian
aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki
cincin heterosiklik dan alkaloid quartener, yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.
2.
Protoalkaloida
Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana dimana nitrogen dan asam amino tidak terdapat

dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang
bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok ini. Contoh, adalah meskalin,
ephedin
dan
N,N-dimetiltriptamin.
3.
Pseudoalkaloida
Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino. Senyawa biasanya bersifat basa. Ada dua
seri alkaloid yang penting dalam khas ini, yaitu alkaloid steroidal (contoh: konessin) dan purin (kaffein)

Lenny, Sovia: Senyawa Flavonoida, Fenil Propanoida dan Alkaloida. Universitas Sumatera Utara.
Sumatera
Utara.
(2006)
www.
Google.co.id
www.nadjeeb.wordpress.com
Diposkan oleh handani90anien di 20:58 Tidak ada komentar:

Jumat, 26 Maret 2010


fungsi alkaloid pada tumbuhan itu sendiri

Fungsi alkaloid ini bermacam-macam diantaranya:


sebagai racun untuk melindungi tanaman dari serangga dan binatang,
sebagai hasil akhir dari reaksi detoksifikasi yang merupakan hasil metabolit akhir dari komponen yang
membahayakan bagi tanaman,
sebagai faktor pertumbuhan tanaman dan cadangan makanan.
Diposkan oleh handani90anien di 21:49 Tidak ada komentar:
sejarahnya alkaloid, yang ternyata setua peradaban manusia, wuih
Sejarah alkaloid hampir setua peradaban manusia. Manusia telah menggunakan obat-obatan yang
mengandung alkaloid dalam minuman, kedokteran, teh, tuan atau tapal, dan racun selama 4000 tahun.
Tidak ada usaha untuk mengisolasi komponen aktif dari ramuan obat-obatan hingga permulaan abad ke
sembilan belas.
Obat-obatan pertama yang diketemukan secara kimia adalah opium, getah kering Apium Papaver

somniferum. Opium telah digunakan dalam obat-obatan selama berabad-abad dan sifat-sifatnya sebagai
analgesik maupun narkotik telah diketahui. Pada tahun 1803, Derosne mengisolasi alkaloid semi murni
dari opium dan diberi nama narkotin. Seturner pada tahun 1805 mengadakan penelitian lebih lanjut
terhadap opium dapat berhasil mengisolasi morfin.
Dalam tahun 1817-1820 di Laboratorium Pelletier dan Caventon di Fakultas Farmasi di Paris,
melanjutkan penelitian di bidang kimia alkaloid yang menakjubkan. Daintara alkaloid yang diperoleh
dalam waktu singkat tersebut adalah Stikhnin, Emetin, Brusin, Piperin, kaffein, Quinin, Sinkhonin, dan
Kolkhisin. Pada tahun 1826, Pelletier dan Caventon juga memperoleh Koniin suatu alkaloid yang
memiliki sejarah cukup terkenal. Alkaloid tersebut tidak hanya yang bertanggung jawab atas kematian
Socrates akibat dari hisapan udara yang beracun, tetapi karena struktur molekulnya yang sederhana.
Koniin merupakan alkaloid pertama yang ditentukan sifat-sifatnya (1870) dan yang pertama disintesis
(1886). Selama tahun 1884 telah ditemukan paling sedikit 25 alkaloid hanya dari Chinchona.
Kompleksitas alkaloid merupakan penghalang elusidasi struktur molekul selama abad ke sembilan belas
bahkan pada awal abad ke dua puluh. Sebagai contoh adalah Stikhnin yang ditemukan pertama kali oleh
Pelletier dan Caventon pada tahun 1819 dan struktur akhirnya dapat ditentukan oleh Robinson dan
kawan-kawan pada tahun 1946 setelah melakukan pekerjaan kimia yang ekstra sukar selama hampir
140 tahun.
Diposkan oleh handani90anien di 21:42 Tidak ada komentar:
alkaloid lagie, tambahan nie
Semua Alkaloida mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan
ditemukan dialam punya keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tapi ada juga yang
berguna dalam pengobatan, misalnya kuinin, morfin, stiknin adalah alkaloida yang terkenal dan punya
efek sifiologis dan psikologis. Alkaloida dapat ditemukan pada beberapa bagian tumbuhan seperti biji,
daun, ranting dan kulit batang. Alkaloida umumnya ditemukan dalam kadar kecil dan harus dipisahkan
dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan. ( Sovia Lenny; USU 2006)
Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama kali dipakai oleh Carl
Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai
senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal,
misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang
tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang
jelas untuknya. (www.google.co.id)
Diposkan oleh handani90anien di 21:33 Tidak ada komentar:

Kamis, 25 Maret 2010


alkaloid adalah
Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan terdapat
di tetumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Asam amino, peptida,
protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid.

Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid
termasuk digolongan ini.[1]
ALKALOID
A. Definisi Alkaloid
Alkaloid adalah senyawa yang mengandung substansi dasar nitrogen basa, biasanya dalam
bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid terdistribusi secara luas pada tanaman. Diperkirakan
sekitar 15 20%vascular tanaman mengandung lakaloid. Banyak alkaloid merupakan turunan
asam amino lisin, ornitin, fenilalanin, asam nikotin, dan asam antranilat. Asam amino
disintesis dalam tanaman dengan proses dekarboksilasi menjadi amina, amina kemudian
dirubah menjadi aldehida oleh amina oksida. Alkaloid biasanya pahit dan sangat beracun.
Alkaloid ini diklasifikasikan lagi berdasarkan tipe dasar kimia pada nitrogen yang terkandung
dalam bentuk heterosiklik. Klasifikasi alkaloid tersebut meliputi pirrolizidine alkaloids,
peperidine alkaloids, pyridine alkaloids, indole alkaloids, quinolizidine alkaloids, steroid
alkaloids, policyclic diterpene alkaloids, indolizidine alkaloids, tryptamine alkaloids, tropane
alkaloids, fescue alkaloid dan miscellaneous alkaloid. Peranan alkaloid dalam jaringan
tanaman tidak pasti, mereka telah dikenal sebagai produk metabolik atau substansi.

B. Sumber dan Sejarah Alkaloid


Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan
hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi
asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid.
Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa) pertama kali dipakai oleh
Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut
berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu
sudah dikenal, misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal sekitar
10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga
sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya.

C. Sifat-Sifat Alkaloid
1. Mengandung atom nitrogen yang umumnya berasal dari asam amino.
2. Umumnya berupa Kristal atau serbuk amorf.
3. Alkaloid yang berbentuk cair yaitu konini, nikotin dan spartein.
4. Dalam tumbuhan berada dalam bentuk bebas, dalam bentuk N-oksida atau dalam bentuk
garamnya.
5. Umumnya mempunyai rasa yang pahit.
6. Alkaloid dalam bentuk bebas tidak larut dalam air, tetapi larut dalam kloroform, eter dan
pelarut organik lainnya yang bersifat relative non polar.
7. Alkaloid dalam bentuk garamnya mudah larut dalam air.
8. Alkaloid bebas bersifat basa karena adanya pasangan elektron bebas pada atom N-nya.
9. Alkaloid dapat membentuk endapan dengan bentuk iodide dari Hg, Au dan logam berat
lainnya (dasar untuk identifikasi alkaloid).
D. Penggolongan Alkaloida
Alkaloida tidak mempunyai tatanan sistematik, oleh karena itu, suatu alkaloida dinyatakan dengan nama
trivial, misalnya kuinin, morfin dan strikhnin. Hampir semua nama trivial ini berakhiran in yang
mencirikan alkaloida.
Klasifikasi alkaloida dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara, yaitu :
1. Berdasarkan jenis cincin heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari struktur molekul.
Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida dapat dibedakan atas beberapa jenis sperti alkaloida
pirolidin, alkaloida piperidin, alkaloida isokuinolin, alkaloida kuinolin, dan alkaloida indol.

2. Berdasarkan jenis tumbuhan darimana alkaloida ditemukan. Cara ini digunakan untuk
menyatakan jenis alkaloida yang pertama-tama ditemukan pada suatu jenis tumbuhan.
Berdasarkan cara ini, alkaloida dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu aklakoida tembakau,
alkaloida amaryllidaceae, alkaloida erythrine dan sebagainya. Cara ini mempunyai kelemahan,
yaitu : beberapa alkaloida yang berasal dari tumbuhan tertentu dapat mempunyai struktur yang
berbeda-beda.
3. Berdasarkan asal-usul biogenetik. Cara ini sangat berguna untuk menjelaskan hubungan
antara berbagai alkaloida yang diklasifikasikan berdasarkan berbagai jenis cincin heterosiklik.
Dari biosintesa alkaloida, menunjukkan bahwa alkaloida berasal hanya dari beberapa asam
amino tertentu saja. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida dapat dibedakan
atas tiga jenis utama, yaitu :
a. Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam-asam amino ornitin dan lisin.
b. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenilalanin, tirosin dan 3,4
dihidrofenilalanin.
c. Alkaloida aromatik jenis indol yang berasal dari triptofan.
4. Sistem klasifikasi berdasarkan Hegnauer yang paling banyak diterima, dimana alkaloida
dikelompokkan atas :
a. Alkaloida sesungguhnya
Alkaloida ini merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas,
hamper tanpa terkecuali bersifat basa, umumnya mengandung nitrogen dalam cincin
heterosiklik, diturunkan dari asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam
asam organik. Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam
aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cincin heterosiklik dan alkaloida
quartener yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.

b. Protoalkaloida
Protoalkaloida merupakan amin yang relative sederhana dimana nitrogen asam amino tidak
terdapat dalam cincin heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh berdasarkan biosintesa dari asam
amino yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok ini.
c. Pseudoalkaloida
Pseudoalkaloida tidak diturunkan dari prekusor asam amino.
ini biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida yang penting dalam kelompok ini yaitu
steroidal dan purin.
Berikut ini adalah pengelompokan alkaloid berdasarkan struktur cincin
atau struktur intinya yang khas, dimana pengelompokkan dengan cara ini
juga secara luas digunakan :
1. Inti Piridin-Piperidin, misalnya lobelin, nikotin, konini dan trigonelin

2. Inti Tropan, misalnya hiosiamin, atropine, kokain.

3. Inti Kuinolin, misalnya kinin, kinidin

4. Inti Isokuinolin, misalnya papaverin, narsein

5. Inti Indol, misalnya ergometrin dan viblastin.

6. Inti Imidazol, misalnya pilokarpin.

7. Inti Steroid, misalnya solanidin dan konesin.

8. Inti Purin, misalnya kofein.

9. Amin Alkaloid, misalnya efedrin dan kolsikin

E. Metode Isolasi Alkaloida


Satu-satunya sifat kimia alkaloid yang paling penting adalah kebasaannya. Metode pemurnian dan
pencirian ialah umumnya mengandalkan sifat ini, dan pendekatan khusus harus dikembangkan untuk
beberapa alkaloid misalnya rutaekarpina, kolkhisina, risinina) yang tidak
bersifat basa.
Umumnya isolasi bahan bakal sediaan galenik yang mengandung alkaloid dilakukan dengan beberapa
cara, yaitu :
1. Dengan menarik menggunakan pelarut-pelarut organik berdasarkan azas Keller. Yaitu
alkaloida disekat pada pH tertentu dengan pelarut organik.
Prinsip pengerjaan dengan azas Keller yaitu alkaloida yang terdapat dalam suatu bakal sebagai
bentuk garam, dibebaskan dari ikatan garam tersebut menjadi alkaloida yang bebas. Untuk itu
ditambahkan basa lain yang lebih kuat daripada basa alkaloida tadi. Alkaloida yang bebas tadi
diekstraksi dengan menggunakan pelarut pelarut organic misalnya Kloroform. Tidak dilakukan
ekstraksi dengan air karena dengan air maka yang masuk kedalam air yakni garamgaram alkaoida
dan zat-zat pengotor yang larut dalam air, misalnya glikosida-glikosida, zat warna, zat penyamak
dan sebagainya. Yang masuk kedalam kloroform disamping alkaloida juga lemaklemak, harsa dan
minyak atsiri. Maka setelai alkaloida diekstraksi dengan kloroform maka harus dimurnikan lagi
dengan pereaksi tertentu. Diekstraksi lagi dengan kloroform. Diuapkan, lalu didapatkan sisa
alkaloid baik dalam bentuk hablur maupun amorf. Ini tidak berate bahwa alkaloida yang diperoleh
dalam bentuk murni, alkaloida yang telah diekstaksi ditentukan legi lebih lanjut. Penentuan untuk
tiap alkaloida berbeda untuk tiap jenisnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada ekstraksi dengan azas Keller, adalah :
a. Basa yang ditambahkan harus lebih kuat daripada alkaloida yang akan dibebaskan dari
ikatan garamnya, berdasarkan reaksi pendesakan.
b. Basa yang dipakai tidak boleh terlalu kuat karena alkaloida pada umumnya kurang
stabil. Pada pH tinggi ada kemungkinan akan terurai, terutama dalam keadaan bebas, terlebih
bila alkaloida tersebut dalam bentuk ester, misalnya : Alkaloid Secale, Hyoscyamin dan Atropin.
c. Setelah bebas, alkaloida ditarik dengan pelarut organik tertentu, tergantung
kelarutannya dalam pelarut organik tersebut.

Alkaloid biasanya diperoleh dengan cara mengekstraksi bahan tumbuhan memakai air
yang diasamkan yang melarutkan alkaloid sebagai garam, atau bahan tumbuhan dapat
dibasakan dengan natrium karbonat dan sebagainya dan basa bebas diekstaksi dengan
pelarut organik seperti kloroform, eter dan sebagainya. Radas untuk ekstraksi sinabung
dan pemekatan khusunya digunakan untuk alkaloid yang tidak tahan panas. Beberapa
alkaloid menguap seperti nikotina dapat dimurnikan dengan cara penyulingan uap dari
larutan yang diabasakan. Larutan dalam air yang bersifat asam dan
mengandung alkaloid dapat dibasakan dan alkaloid diekstaksi dengan pelarut organik ,
sehingga senyawa netral dan asam yang mudah larut dalam air tertinggal dalam air. Cara
lain yang berguna untuk memperoleh alkaloid dari larutan asam adalah dengan
penjerapan menggunakan pereaksi Lloyd. Kemudian alkaloid dielusi dengan dammar
XAD- 2 lalu diendapkan dengan pereaksi Mayer atau Garam Reinecke dan kemudian
endapan dapat dipisahkan dengan cara kromatografi pertukaran ion. Masalah yang timbul
pada beberapa kasus adalah bahwa alkaloid berada dalam bentuk terikat yang tidak dapat
dibebaskan pada kondisi ekstraksi biasa. Senyawa pengkompleksnya barangkali
polisakarida atau glikoprotein yang dapat melepaskan alkaloid jika diperlakukan dengan
asam.
2. Pemurnian alkaloida dapat dilakukan dengan cara modern yaitu dengan pertukaran ion.
3. Menyekat melalui kolom kromatografi dengan kromatografi partisi.
Cara kedua dan ketiga merupakan cara yang paling umum dan cocok untuk memisahkan
campuran alkaloid. Tata kerja untuk mengisolasi dan mengidentifikasi alkaloid yang
terdapat dalam bahan tumbuhan yang jumlahnya dalam skala milligram menggunakan

gabungan kromatografi kolom memakai alumina dan kromatografi kertas.


F. Identifikasi Alkaloida
1. Berdasarkan sifat spesifik.
Alkaloid dalam larutan HCl dengan pereaksi Mayer dan Bouchardhat membentuk endapan
yang larut dalam alkohol berlebih. Protein juga memberikan endapan, tetapi tidak larut
dalam dalam alcohol berlebih.
2. Berdasarkan bentuk basa dan garam-nya / Pengocokan
Alkaloid sebagai basanya tidak larut dalam air, sebagai garamnya larut baik dalam air.
Sebaiknya pelarut yang digunakan adalah pelarut organik : eter dan kloroform. Pengocokan
dilakukan pada pH: 2, 7, 10 dan 14.
Sebelum pengocokan, larutan harus dibasakan dulu, biasanya menggunakan natrium
hidroksida, amonia pekat, kadang-kadang digunakan natrium karbonat dan kalsium
hidroksida.
3. Reaksi Gugus Fungsionil
a. Gugus Amin Sekunder
Reaksi SIMON : larutan alkaloida + 1% asetaldehid + larutan na.
nitroprussida = biru-ungu.
Hasil cepat ditunjukkan oleh Conilin, Pelletierin dan Cystisin.
Hasil lambat ditunjukkan oleh Efedrin, Beta eucain, Emetin, Colchisin dan Physostigmin.
b. Gugus Metoksi
Larutan dalam Asam Sulfat + Kalium Permanganat = terjadi formaldehid, dinyatakan
dengan reaksi SCHIFF. Kelebihan Kalium Permanganat dihilangkan dengan Asam Oksalat.

Hasil positif untuk Brucin, Narkotin, koden, Chiksin, Kotarnin, Papaverin, Kinidin,
Emetin, Tebain, dan lain-lain.
c. Gugus Alkohol Sekunder
Reaksi SANCHES : Alkaloida + Larutan 0,3% Vanilin dalam HCl pekat, dipanaskan diatas
tangas air = merah-ungu.
Hasil positif untuk Morfin, Heroin, Veratrin, Kodein, Pronin, Dionin, dan Parakonidin.
d.Gugus Formilen
Reaksi WEBER & TOLLENS :
Alkaloida + larutan Floroglusin 1% dalam Asam Sulfat (1:1), panaskan = merah.
Reaksi LABAT :
Alkaloida + Asam Gallat + asam Sulfat pekat, dipanaskan diatas tangas air = hijau-biru.
Hasil positif untuk Berberin, Hidrastin, Kotarnin, Narsein,
Hidrastinin, narkotin, dan Piperin.
e. Gugus Benzoil
Reaksi bau : Esterifikasi dengan alcohol + Asam Sulfat pekat = bau ester.
Hasil positif untuk Kokain, Tropakain, Alipin, Stivakain, Beta eukain, dan lain-lain.
f. Reaksi GUERRT
Alkaloida didiazotasikan lalu + Beta Naftol = merah-ungu.
Hasil positif untuk kokain, Atropin, Alipin, Efedrin, tropakain, Stovakain, Beta eukain, dan
lain-lain.
g. Reduksi Semu
Alkaloida klorida + kalomel + sedikit air = hitam

Tereduksi menjadi logam raksa. Raksa (II) klorida yang terbentuk terikat dengan alkaloid
Sebagai kompleks.
Hasil positif untuk kokain, Tropakain, Pilokarpin, Novokain,
Pantokain, alipin, dan lain-lain.
h. Gugus Kromofor
Reaksi KING :
Alkaloida + 4 volume Diazo A + 1 volume Diazo B + natrium Hidroksida = merah
intensif.
Hasil positif untuk Morfin, Kodein, Tebain dan lain-lain.
Reaksi SANCHEZ :
Alkaloida + p-nitrodiazobenzol (p-nitroanilin + Natrium Nitrit + Natrium Hidrolsida) =
ungu kemudian jingga.
Hasil positif untuk alkaloida opium kecuali Tebain, Emetin, Kinin, kinidin setelah
dimasak dengan Asam Sulfat 75%.
4. Pereaksi untuk analisa lainnya (7)
a. Iodium-asam hidroklorida
Merupakan pereaksi untuk golongan Xanthin. Digunakan untuk pereaksi penyemprot pada
lempeng KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dimana akan memberikan hasil dengan noda
ungu-biru sampai coklat merah.
b. Iodoplatinat
Pereaksi untuk alkaloid, juga sebagai pereaksi penyemprot pada lempeng KLT dimana
hasilnya alkaloid akan tampak sebagai noda ungu sampai biru-kelabu.

c. Pereaksi Meyer (Larutan kalium Tetraiodomerkurat)


Merupakan pereaksi pengendap untuk alkaloid.
G. Kegunaan Alkaloida
Alkaloida telah dikenal selama bertahun-tahun dan telah menarik perhatian terutama karena
pengaruh fisiologisnya terhadap binatang menyusui dan pemakainnya di bidang farmasi,
tetapi fungsinya dalam tumbuhan hampir sama sekali kabur. Beberapa pendapat mengenai
kemungkinan perannya ialah sebagai berikut :
1. Salah satu pendapat yang dikemukakan pertama kali, sekarang tidak dianut lagi, ialah
bahwa alkaloid berfungsi sebagai hasil buangan nitrogen seperti urea dan asam urat hewan.
2. Beberapa alkaloid mungkin bertindak sebagai tendon penyimpanan nitrogen meskipun
banyak alkaloid ditimbun dan tidak mengalami metabolisme lebih lanjut meskipun sangat
kekurangan nitrogen.
3. Pada beberapa kasus, alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan parasit atau
pemangsa tumbuhan. Meskipun dalam beberapa peristiwa bukti yang mendukung fungsi ini tidak
dikemukakan, ini barangkali merupakan konsep yang direka-reka dan bersifat manusia sentries.
4. Alkaloid dapat berlaku sebagai pengatur tumbuh karena segi struktur, beberapa alkaloid
menyerupai pengatur tumbuh. Beberapa alkaloid merangsang perkecambahan, yang lainnya
menghambat.
5. Semula disarankan oleh Liebig bahwa alkaloid, karena sebagian bersifat basa, dapat mengganti basa
mineral dalam mempertahankan kesetimbangan ion dalam tumbuhan. Sejalan dengan saran ini,
pengamatan menunjukkan bahwa pelolohan nikotina ke dalam biakan akar tembakau
meningkatkan ambilan nitrat. Alkaloid dapat pula berfungsi dengan cara pertukaran dengan
kation tanah.