Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Di dunia ini banyak terdapat bentuk mineral lempung yang masingmasing berbeda dalam susunan, struktur dan perilakunya. Semua mineral
lempung tersebut memiliki butiran yang sangat halus (biasanya lebih kecil dari
2u m), itulah sebabnya mengapa tanah dengan butiran yang sangat halus < 2u
dinamakan lempung. Pada umumnya lempung terdiri dari sebagian besar
dari mineral lempung, akan tetapi mineral lain, misalnya kuarsa juga terdapat
dengan butiran yang sangat halus. Karena mineral lempung memiliki butiran
yang sangat halus, maka mineral ini mempunyai permukaan yang cukup besar
per satuan massa.
Mineral lempung berukuran sangat kecil (kurang dari 2 m m) dan
merupakan partikel yang aktif asecara elektrokimiawi dan hanya dapat dilihat
secara mikroskop elektron. Walaupun berukuran kecil, mineral lempung telah
dipelajari dengan cukup mendalam karena kepentingan ekonomisnya terutama
dalam keramik, pengecoran logam, pemakaiannya dilapangan minyak dan
dalam mekanika tanah. Mineral lempung menunjukkan karakteristik daya
tarik-menarik dengan air menghasilkan plastisitas yang tidak ditunjukkan oleh
material lain walaupun mungkin material itu berukuran lempung. atau lebih
kecil. Sebagai contoh, kuarsa tanah yang halus tidak menunjukkan plastisitas
apabila dibasahi. Perlu dicatat bahwa setiap deposit lempung berbutir-halus
mengandung sekaligus mineral lempung dan berbagai ukuran partikel dari
material-material lainya yang dianggap sebagai pengisi (filler).
Pertukaran ion merupakan hal yang relatif sederhana dalam struktur
lempung. Dengan demikian pertukaran ion tersebut adalah aktif-kimiawi. Ini

misalnya akan merupakan sebuah persoalan dalam air yang terkena


pencemaran (banyak sekali ion di dalam larutan). Dalam keadaan tertentu,
dapat terjadi pertumbuhan mineral lempung yang berlangsung dengan cepat
(pembentukan lumpur dalam reservoar penjernih air, penyumbatan pipa-pipa
drainase).
I.2 Tujuan
I.2.1 Mengetahui perbedaan antara batu lempung dengan mineral lempung.
I.2.2 Mengetahui daerah penyebaran mineral lempung.
I.2.3 Mengetahui pemanfaatan atau kegunaan mineral lempung .

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Teori Singkat Batulempung


Batulempung menurut Pettijohn (1975) adalah batuan yang pada
umumnya bersifat plastis, berkomposisi hidrous alumunium silikat (2H2OAL2O3.
2SiO2) atau mineral lempung yang mempunyai ukuran butir halus (batulempung
adalah batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir kurang dari 0,002 atau
1/256 mm).
Ingram (1953), (vide Pettijohn, 1975) mendefinisikan batulempung
sebagai batuan yang berstrutur masif yang komposisinya lebih banyak dari lanau.
Sedangkan menurut William dkk., 1954, batulempung adalah batuan sedimen
klastik yang mempunyai ukuran butir lempung, termasuk di dalamnya butiran
yang mempunyai diameter kurang dari 1 atau 2 mikron dan secara dominan
disusun oleh silika.
Karena ukuran butirnya yang sangat halus maka sulit untuk mendeskripsi
batulempung secara megaskopis maupun mikroskopis, sehingga analisis kimia
merupakan informasi yang penting untuk mengetahui komposisi batulempng.
Komposisi dominan pada batulempung adalah silika (Pettijohn,1975), yang
merupakan bagian kelompok mineral lempung, yang pada umumnya berasal dari
feldspar. Unsur besi pada batu lempung hadir sebagai oksida, berupa pirit atau
markasit dan siderit. Jumlah oksida besi pada batu lempung biasanya tercermin
pada warna dari batuan tersebut. Selain mineral mineral tersebut di atas karbonat
juga sering dijumpai pada batulempung. Mineral karbonat pada batulempung

dapat berupa bahan-bahan organik, anorganik atau kombinasi dari keduanya


(Ehlers dan Blatt, 1980),antara lain:
1. Residual Clay
Merupakan hasil pelapukan yang masih insitu atau belum mengalami
transportasi. Ciri-ciri fisik dari batuan ini tergantung pada iklim, pengairan
dan batu induknya. Batulempung jenis ini dijumpai disekitar batu
induknya dan pada umumnya mempunyai mutu yang lebih baik
dibandingkan dengan transported clays (Sukandarrumidi, 1999).
2. Transported Clays
Batulempung yang sudah tertransportasi dapat berasal dari tiga sumber
yaitu:
1. Produk dari abrasi
2. Produk dari pelapukan yang tertransportasi
3. Pencampuran unsur kimia dan bio kimia
Batulempung ini selama proses pengendapan atau pengangkutan sangat
mungkin dikotori oleh mineral yang berukuran halus antara lain kuarsa,
oksida besi dan bahan organisme (Sukandarrumidi, 1999).
Karena ukurannya yang halus batulempung pada umumnya terbentuk pada
daerah yang mempunyai arus lemah. Batulempung ini terbentuk pada lingkungan
darat maupun laut, contoh di daerah dataran banjir, delta, danau, lagun dan laut
(Ehlers dan Blatt, 1980). Batulempung yang terbentuk pada daerah yang berbeda
mempunyai kenampakan fisik yang berbeda pula (Dixon, 1992). Batulempung
yang terbentuk di laut pada umumnya mempunyai perlapisan yang tebal,
mengandung fosil laut dalam, atau binatang yang hidup di laut dangkal yang
kemudian tenggelam setelah mati

Jadi batu lempung dapat tersusun oleh agregat atau mineral seperti pirit
yang berukuran lempung ( < 4m ), dan dapat juga sebagian komponen penyusun
batu lempung ini berupa mineral lempung. Berarti mineral lempung ini adalah
mineral yang berukuran lempung. Namun, mineral ini merupakan mineral silikat
hidros yang sangat melimpah di permukaan bumi. Khususnya, terkonsentrasi pada
kondisi geologi dimana interaksi air dan batuan cukup aktif. Struktur dan
komposisi kimianya merupakan suatu respon terhadap destabilisasi mineral yang
terbentuk pada kondisi temperatur-tekanan yang lebih tinggi. Lingkungan yang
biasanya mineral ini dapat dijumpai meliputi: tanah, lapukan batuan, sistem
geotermal, seri diagenesis terpendam, dll. Yang pasti, apapun asal-muasalnya,
mineral yang melimpah di permukaan bumi ini selalu berukuran halus (<4 m).
Partikel

pada

mineral

lempung

selalu

kecil

karena

sifat-sifat

kristalokimianya (ketersedian ruang antar lapis yang tidak sempurna, hidrasi yang
heterogen, dll), sehingga secara genetik akan cacat jika membentuk kristal yang
berukuran lebih besar. Namun, tiap jenis mineral lempung mempunyai kekuatan
untuk berkembang yang berbeda-beda. Mineral yang perkembangannya
mempunyai sedikit cacat mungkin akan berkembang hingga mencapai beberapa
puluh mikrometer, misalnya kaolin atau ilit.

II.2 Struktur komposisi mineral lempung


Mineral lempung merupakan pelapukan akibat reaksi kimia yang
menghasilkan susunan kelompok partikel berukuran koloid dengan diameter
butiran lebih kecil dari 0,002 mm. Menurut Holtz & Kovacs (1981) satuan
struktur dasar dari mineral lempung terdiri dari Silica Tetrahedron dan
Alumina Oktahedron.

Satuan-satuan dasar tersebut bersatu membentuk

struktur lembaran . Jenis-jenis mineral lempung tergantung dari kombinasi


susunan satuan struktur dasar atau tumpukan lembaran serta macam ikatan
antara masing-masing lembaran.

Susunan pada kebanyakan tanah lempung terdiri dari silika tetrahedra


dan alumunium okthedra ( gambar 2.1 ) .Silika Tetrahedron pada dasarnya
merupakan kombinasi dari satuan Silika Tetrahedron yang terdiri dari satu
atom silicon yang dikelilingi pada sudutnya oleh empat buah atom Oksigen.
Sedangkan

Aluminium Oktahedron merupakan kombinasi dari satuan yang terdiri


dari satu atom Alumina yang dikelilingi oleh atom Hidroksil pada keenam
sisinya. Silika dan aluminium secara parsial dapat digantikan oleh elemen
yang lain dalam kesatuannya, keadaan ini dikenal sebagai substansi isomorf.
Kombinasi dari susunan kesatuan dalam bentuk susunan lempeng terbentuk
oleh kombinasi

tumpukan dari susunan lempeng dasarnya dengan bentuk

yang berbeda-beda.

II.3 Jenis Jenis Mineral Lempung


II.3.1 Kaolinite
Kaolinite merupakan mineral dari kelompok kaolin, terdiri dari
susunan satu lembaran silika tetrahedra dengan lembaran aluminium
oktahedra, dengan satuan susunan setebal 7,2 (Gambar 2.1 a). Kedua
lembaran terikat bersama-sama, sedemikian rupa sehingga ujung dari
lembaran silika dan satu dari lepisan lembaran oktahedra membentuk
sebuah lapisan tunggal. Dalam kombinasi lembaran silika dan
aluminium, keduanya terikat oleh ikatan hidrogen (Gambar 2.1b). Pada
keadaan tertentu, partikel

kaolinite mungkin lebih

dari seratus

tumpukan yang sukar dipisahkan. Karena itu, mineral ini stabil dan air
tidak dapat masuk di antara lempengannya untuk menghasilkan
pengembangan atau penyusutan pada sel satuannya.

GAMBAR 2.1
(a) Diagram skematik struktur kaolinite (Lambe, 1953)
(b) Struktur atom kaolinite (Grim, 1959)

II.2.2 Montmorillonite
Montmorillonite, disebut juga dengan smectit, adalah mineral yang
dibentuk oleh dua buah lembaran silika dan satu lembaran aluminium
(gibbsite) (Gambar 2.2a). lembaran oktahedra terletak di antara dua
lembaran silika dengan ujung tetrahedra tercampur dengan hidroksil
dari lembaran oktahedra untuk membentuk satu lapisan

tunggal

(Gambar 2.2b). Dalam lembaran oktahedra terdapat substitusi parsial


aluminium oleh magnesium. Karena adanya gaya ikatan van der Waals
yang lemah di antara ujung lembaran silica dan terdapat kekurangan
muatan negatif dalam lembaran oktahedra, air dan ion-ion yang
berpindah-pindah dapat masuk dan memisahkan lapisannya. Jadi,
kristal montmorillonite sangat kecil, tapi pada waktu tertentu
mempunyai

gaya

tarik

yang

kuat

terhadap

air.

Tanah-tanah

yangmengandung montmorillonite sangat mudah mengembang oleh


tambahan kadar air, yang selanjutnya tekanan pengembangannya dapat
merusak struktur ringan dan perkerasan jalan raya.

GAMBAR 2.2
(a) Diagram skematik struktur montmorrilonite (Lambe, 1953)
(b) Struktur atom montmorrilonite (Grim, 1959)

II.3.3 Illite
Illite adalah bentuk mineral lempung yang terdiri dari mineralmineral kelompok illite. Bentuk susunan dasarnya terdiri dari sebuah
lembaran aluminium oktahedra yang terikat di antara dua lembaran silika
tetrahedra. Dalam lembaran oktahedra, terdapat substitusi parsial
aluminium oleh magnesium dan besi, dan dalam lembaran tetrahedra
terdapat pula substitusi silikon oleh aluminium (Gambar 2.3). Lembaranlembaran terikat besama - sama oleh ikatan lemah ion-ion kalium yang
terdapat di antara lembaran-lembarannya. Ikatan-ikatan dengan ion
kalium (K+) lebih lemah daripada ikatan hidrogen yang mengikat satuan
kristal kaolinite, tapi sangat lebih kuat daripada ikatan ionik yang
membentuk kristal montmorillonite. Susunan Illite tidak mengembang
oleh gerakan air di antara lembaran-lembarannya .

GAMBAR 2.3
Diagram skematik struktur illite ( Lambe, 1953 )

II.3.4 Halloysite
Halloysite, hampir sama dengan kaolinite, tetapi kesatuan yang
berturutan lebih acak ikatannya dan dapat dipisahkan oleh lapisan
tunggal molekul air. Jika lapisan tunggal air menghilang oleh karena
proses penguapan, mineral ini akan berkelakuan lain. Maka, sifat tanah
berbutir halus yang mengandung halloysite akan berubah secara tajam
jika tanah dipanasi sampai menghilangkan lapisan tunggal molekul
airnya. Sifat khusus lainnya adalah bahwa bentuk partikelnya
menyerupai silinder-silinder memanjang, tidak seperti kaolinite yang
berbentuk pelat-pelat

II.4 Ganesa Mineral Lempung


Ganesa mineral lempung secara umum dapat dibagi menjadi empat
macam yaitu :
a. Terjadi karena pengaruh pelapukan
Lempung terbentuk akibat proses pelapukan dari mineral mineral
penyusun batuan yang dipengaruhi oleh iklim ,jenis batuan ,relief muka
bumi ,tumbuh tumbuhan yang berada diatas batu tersebut.Faktor utama
yang menyebabkan terbentuknya mineral lempung dalam proses ini
adalah komposisi mineral batuan ,komposisi kimia dan daya larut air
tanah.
Pembentukan mineral lempung oleh pelapukan adalah akinat reaksi
ion ion hydrogen yang terdapat dalam air tanah dengan mineral silikat. H+
umumnya berasal dari asam karbonat yang terbentuk sebagai akibat
pembusukan ole bakteri terhadap zat organic dalam tanah

b. Terjadi karena pengaruh hidrotermal


Proses ini berlangsung akibat adanya proses injeksi larutan
hidrotermal yang bersifat asam merembes melalui celah celah rakahan

pada batuan yang dilaluinya sehingga mengakibatkan terjadinya reaksi


antar larutan tersebut dengan batuan itu.
Pada saat reaksi berlangsung ,komposisi larutan hidrotermal
tersebut menjadi berubah .Unsur unsure alkali akan dibawa kearah luar
,sehingga selama proses ini berlangsung akan terjadi daerah atau zona
yang berkembang dari asam ke basa dan pada umumnya berbentuk
melingkar sepanjang rekahan dimana larutan itu menginjeksi .

c. Terjadi karena akibat devitrivikasi dari tufa gelas yang diendapkan di


dalam air ( Lakustrin sampai neritik )
Pada proses ini lempung dapat terbentuk dari mekanisme
pengendapan debu vulkanik yang kaya akan gelas mengalami
devitrifikasi (Perubahan gellas vulkanik menjadi mineral lempung )
setelah diendapkan pada lingkungan danau atau laut.

d. Terjadi karena proses pengendapan kimia dalam suasana basa (alkali) dan
sangat silikan.
Menurut Millot (1970) ,montmorilonit dapat terbentuk tidak saja
dari tufa melainkan juga dari endapan sedimentasi dalam suasana basa
(alkali) yang sangat silikan.Mineral mineral yang terbentuksecara
sedimen yang tidak berasosiasi dengan tufa adalah attapulgit ,speolit dan
montmorillonit.

II.5 Kegunaan
Lempung kualitas yang baik digunakan terutama di tembikar, tetapi
juga ditambahkan ke lempung lain untuk meningkatkan plastisitas mereka.
Lempung bola tidak biasa seperti varietas lempung lainnya. Sepertiga dari
lempung bola digunakan setiap tahun digunakan untuk membuat ubin lantai

dan dinding. Hal ini juga digunakan untuk membuat sanitary ware, keramik
dan penggunaan lainnya.
Bentonit terbentuk dari abu vulkanik perubahan. Bentonite digunakan
dalam kandang hewan peliharaan untuk menyerap cairan. Hal ini digunakan
sebagai lumpur di dalam pengeboran juga digunakan dalam industri lainnya
seperti "pelletizing" bijih besi.
Lempung yang umum digunakan untuk membuat bahan bangunan
seperti batu bata, semen, dan agregat ringan.
Lempung api semua lempung (tidak termasuk lempung bentonit dan
bola) yang digunakan untuk membuat berbagai jenis barang tahan terhadap
panas ekstrim. Produk-produk ini disebut produk refraktori. Hampir semua
(81%) dari lempung api yang digunakan untuk membuat produk tahan api.
Fuller bumi terdiri dari mineral palygorskite (pada satu waktu mineral
ini disebut "atapulgit"). Bumi Fuller digunakan terutama sebagai bahan
penyerap (74%), tetapi juga untuk pestisida dan produk pestisida yang terkait
(6%).
Kaolinit merupakan lempung kaolin terdiri dari mineral. Ini
merupakan unsur penting dalam produksi kertas berkualitas tinggi dan
beberapa porselen tahan api.

BAB III
KESIMPULAN

Pada makalah diata dapat disimpulkan bawa :


1. Batu lempung adalah batuan yang pada umumnya bersifat plastis,
berkomposisi hidrous alumunium silikat (2H2OAL2O3. 2SiO2) atau
mineral lempung yang mempunyai ukuran butir halus (batulempung
adalah batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir kurang dari 0,002
atau 1/256 mm).
2. Mineral lempung adalah mineral yang berukuran kecil .
3. Partikel

pada

mineral

lempung

selalu

kecil

karena

sifat-sifat

kristalokimianya (ketersedian ruang antar lapis yang tidak sempurna,


hidrasi yang heterogen, dll)
4. Struktur komposisi mineral lempung dibagi menjadi dua yaitu silica
tetrahedral dan alumina octahedral
5. Jenis jenis mineral lempung seperti kaolinit,Montmorilonite, Illite dan
Halloysite
6. Lempung dapat dimanfaatkan untuk lumpur pengeboran ,pembuatan
tembikar dll.
7. Batulempung terbentuk pada lingkungan darat maupun laut, contoh di
daerah dataran banjir, delta, danau, lagun dan laut (Ehlers dan Blatt,
1980).

DAFTAR PUSTAKA

Doddy.2012.http://doddysetiagraha.blogspot.com/2012/09/lempung.html.diambil pada
12 november pukul 20.36