Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KEGAWATDARURATAN
Tentang
Cidera Kepala Berat

Oleh Kelompok I :
Agustira Ningsih
Ayu Putri Kelana
Anggi Syahputra

Dosen Pembimbing:
Ns. Hafizun, S.Kep

PRODI S KEPERAWATAN
STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN

2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan
kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi
akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007). Diperkirakan 100.000 orang
meninggal setiap tahunnya dan lebih dari 700.000 mengalami cedera cukup
berat yang memerlukan perawatan dirumah sakit, dua pertiga berusia dibawah
30 tahun dengan jumlah laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah wanita,
lebih dari setengah semua pasien cedera kepala mempunyai signifikasi
terhadap cedera bagian tubuh lainya (Smeltzer and Bare, 2002 ).
Ada beberapa jenis cedera kepala antara lain adalah cedera kepala
ringan, cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Asuhan keperawatan
cedera kepala atau askep cidera kepala baik cedera kepala ringan, cedera
kepala sedang dan cedera kepala berat harus ditangani secara serius. Cedera
pada otak dapat mengakibatkan gangguan pada sistem syaraf pusat sehingga
dapat terjadi penurunan kesadaran. Berbagai pemeriksaan perlu dilakukan
untuk mendeteksi adanya trauma dari fungsi otak yang diakibatkan dari
cedera kepala.
Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi
korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat
sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya. Tindakan
resusitasi, anamnesis dan pemeriksaan fisik umum serta neurologis harus
dilakukan secara serentak. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi
kemungkinan terlewatinya evaluasi unsur vital. Tingkat keparahan cedera
kepala, menjadi ringan segera ditentukan saat pasien tiba di rumah sakit
(Sjahrir, 2004).
Maka dari itu, penulis tertarik untuk mengambil kasus kelolaan
kelompok dengan judul Asuhan Keperawatan Pada An. F dengan Cedera
Kepala Berat di Ruang ICU (Intensive Care Unit) Rumah Sakit Saras Husada
Purworejo Jawa Tengah.

B. Tujuan Penulisan
1.

Tujuan Umum
Setelah membahas tentang Asuhan Keperawatan Pada Klien
Cedera Kepala mahasiswa mampu memahami Asuhan Keperawatan
Pada Klien Cedera Kepala.

2.

Tujuan Khusus
Setelah membahas tentang Asuhan Keperawatan Cedera Kepala
mahasiswa mampu :
a. Memahami dan menjelaskan Konsep Penyakit Cedera Kepala.
b. Memahami dan menjelaskan Asuhan Keperawatan Cedera Kepala.
c. Memahami dan menjelaskan Asuhan Keperawatan Sesuai Kasus.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Cedera kepala adalah suatu gangguan trauma dari otak disertai/tanpa
perdarahan intestinal dalam substansi otak, tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas dari otak (Nugroho, 2011).
Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit
kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara
langsung maupun tidak langsung pada kepala (Suriadi dan Yuliani, 2001).
Menurut Brain Injury Assosiation of America (2001), cedera kepala
adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat congenital ataupun
degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar, yang
dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan
kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.
Cedera kepala adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma
baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Deficit neorologis terjadi karena
robekannya subtansia alba, iskemia, dan pengaruh massa karena hemorogik,
serta edema serebral disekitar jaringan otak (Batticaca, 2008).
Berdasarkan defenisi cedera kepala diatas maka penulis dapat menarik
suatu kesimpulan bahwa cedera kepala adalah suatu cedera yang disebabkan
oleh trauma benda tajam maupun benda tumpul yang menimbulkan perlukaan
pada kulit, tengkorak, dan jaringan otak yang disertai atau tanpa pendarahan.

Gambar 1. Gambaran Umum Cedera Kepala

B. Klasifikasi
Cedera kepala dapat dilasifikasikan sebagai berikut :
1.

Berdasarkan Mekanisme
a. Trauma Tumpul : adalah trauma yang terjadi akibat kecelakaan
kendaraan bermotor, kecelakaan saat olahraga, kecelakaan saat
bekerja, jatuh, maupun cedera akibat kekerasaan (pukulan).
b. Trauma Tembus : adalah trauma yang terjadi karena tembakan
maupun tusukan benda-benda tajam/runcing.

2.

Berdasarkan Beratnya Cidera


The Traumatic Coma Data Bank mengklasifisikan berdasarkan
Glasgow Coma Scale ( Mansjoer, dkk, 2000) :
a. Cedera Kepala Ringan/Minor (Kelompok Risiko Rendah) yaitu,
GCS 14-15, pasien sadar dan berorientasi, kehilangan kesadaran atau
amnesia < dari 30 menit, tidak ada intoksikasi alkohol atau obat
terlarang, klien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing, tidak
terdapat fraktur tengkorak, kontusio, hematom , tidak ada kriteria
cedera sedang sampai berat.
b. Cedera Kepala Sedang (Kelompok Risiko Sedang) yaitu GCS 9-13
(konfusi,

letargi

dan

stupor),

pasien

tampak

kebingungan,

mengantuk, namun masih bisa mengikuti perintah sederhana, hilang


kesadaran atau amnesia > 30 menit tetapi < 24 jam, konkusi,
amnesia paska trauma, muntah, tanda kemungkinan fraktur kranium
(tanda battle, mata rabun, hemotimpanum, otorhea atau rinorhea
cairan serebrospinal).
c. Cedera Kepala Berat (Kelompok Risiko Berat) yaitu GCS 3-8
(koma), penurunan derajat kesadaran secara progresif, kehilangan
kesadaran atau amnesia > 24 jam, tanda neurologis fokal, cedera
kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi cranium.
C. Etiologi
Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, perkelahian,
jatuh, cedera olah raga, kecelakaan kerja, cedera kepala terbuka sering
disebabkan oleh pisau atau peluru (Corwin, 2000).

D. Patofisiologi dan Pathway


Adanya cedera kepala dapat menyebabkan kerusakan struktur,
misalnya kerusakan pada parenkim otak, kerusakan pembuluh darah,
perdarahan, edema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis
tripospat, perubahan permeabilitas vaskuler.
Patofisiologi cedera kepala dapat terbagi atas dua proses yaitu cedera
kepala primer dan cedera kepala sekunder, cedera kepala primer merupakan
suatu proses biomekanik yang terjadi secara langsung saat kepala terbentur
dan dapat memberi dampak kerusakan jaringan otat. Pada cedera kepala
sekunder terjadi akibat dari cedera kepala primer, misalnya akibat dari
hipoksemia, iskemia dan perdarahan.
Perdarahan cerebral menimbulkan hematoma misalnya pada epidural
hematoma, berkumpulnya antara periosteun tengkorak dengan durameter,
subdura hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter
dengan subaraknoid dan intra cerebral, hematoma adalah berkumpulnya darah
didalam jaringan cerebral. Kematian pada penderita cedera kepala terjadi
karena hipotensi karena gangguan autoregulasi, ketika terjadi autoregulasi
menimbulkan perfusi jaringan cerebral dan berakhir pada iskemia jaringan
otak (Tarwoto, 2007).

Gambar 2. Pathway Cedera Kepala Berat

E. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari cedera kepala tergantung dari berat ringannya
cedera kepala, yaitu:
1. Perubahan kesadaran adalah merupakan indikator yang paling sensitive
yang dapat dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow Coma Scale).
2. Peningkatan TIK yang mempunyai trias Klasik seperti: nyeri kepala
karena regangan dura dan pembuluh darah; papil edema yang disebabkan
oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus; muntah seringkali
proyektil.
F. Komplikasi
1.

Perdarahan intra cranial

2.

Kejang

3.

Parese saraf cranial

4.

Meningitis atau abses otak

5.

Infeksi

6.

Edema cerebri

7.

Kebocoran cairan serobospinal

G. Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, urine, kimia darah, analisa


gas darah.

2.

CT-Scan (dengan atau tanpa kontras: mengidentifikasi luasnya lesi,


perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak.

3.

MRI : digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras


radioaktif.

4.

Cerebral Angiography: menunjukkan anomali sirkulasi cerebral, seperti


perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan
trauma.

5.

X-Ray : mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan


struktur garis (perdarahan, edema), fragmen tulang. Ronsent Tengkorak
maupun thorak.

6.

CSF, Lumbal Punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan


subarachnoid.

7.

ABGs : Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernafasan


(oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial.

8.

Kadar Elektrolit:Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai


akibat peningkatan tekanan intrakranial (Musliha, 2010).

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medik cedera kepala yang utama adalah mencegah
terjadinya cedera otak sekunder. Cedera otak sekunder disebabkan oleh faktor
sistemik seperti hipotensi atau hipoksia atau oleh karena kompresi jaringan
otak (Tunner, 2000). Pengatasan nyeri yang adekuat juga direkomendasikan
pada pendertia cedera kepala (Turner, 2000).
Penatalaksanaan umum adalah:
1.

Nilai fungsi saluran nafas dan respirasi

2.

Stabilisasi vertebrata servikalis pada semua kasus trauma

3.

Berikan oksigenasi

4.

Awasi tekanan darah

5.

Kenali tanda-tanda shock akibat hipovelemik atau neurogenik

6.

Atasi shock

7.

Awasi kemungkinan munculnya kejang.

Penatalaksanaan lainnya:
1. Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral,
dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
2. Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk mengurangi
vasodilatasi.
3. Pemberian analgetika
4. Pengobatan anti oedema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20%
atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
5. Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin).
6. Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila terjadi muntah-muntah
tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus dextrosa 5% ,

aminofusin, aminofel (18 jam pertama dan terjadinya kecelakaan), 2-3


hari kemudian diberikana makanan lunak.
Pada trauma berat, hari-hari pertama (2-3 hari), tidak terlalu banyak
cairan. Dextrosa 5% untuk 8 jam pertama, ringer dextrose untuk 8 jam kedua
dan dextrosa 5% untuk 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran
rendah, makanan diberikan melalui ngt (2500-3000 tktp). Pemberian protein
tergantung nilai urea.
Tindakan terhadap peningktatan TIK yaitu:
1.

Pemantauan TIK dengan ketat

2.

Oksigenisasi adekuat

3.

Pemberian manitol

4.

Penggunaan steroid

5.

Peningkatan kepala tempat tidur

6.

Bedah neuro.
Tindakan pendukung lain yaitu:

1.

Dukungan ventilasi

2.

Pencegahan kejang

3.

Pemeliharaan cairan, elektrolit dan keseimbangan nutrisi

4.

Terapi anti konvulsan

5.

Klorpromazin untuk menenangkan klien

6.

Pemasangan selang nasogastrik (Mansjoer, dkk, 2000).

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Kegawatdaruratan :
A. Primary Survey
a.

Airway dan cervical control


Hal pertama yang dinilai adalah kelancaran airway. Meliputi
pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda
asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur
larinks atau trachea. Dalam hal ini dapat dilakukan chin lift atau jaw
thrust. Selama memeriksa dan memperbaiki jalan nafas, harus
diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi dari
leher.

b.

Breathing dan ventilation


Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik.
Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran
oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh. Ventilasi yang
baik meliputi:fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diafragma.

c.

Circulation dan hemorrhage control


1) Volume darah dan Curah jantung
Kaji perdarahan klien. Suatu keadaan hipotensi harus
dianggap disebabkan oleh hipovelemia. 3 observasi yang dalam
hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan
hemodinamik yaitu kesadaran, warna kulit dan nadi.
2) Kontrol Perdarahan

d.

Disability
Penilaian neurologis secara cepat yaitu tingkat kesadaran, ukuran
dan reaksi pupil.

e.

Exposure dan Environment control


Dilakukan pemeriksaan fisik head toe toe untuk memeriksa jejas.

10

B. Secondary Survey
a. Fokus assessment
b. Head to toe assessment
1.

Pengkajian
Data Dasar Pengkajian Klien (Doenges, 2000). Data tergantung
pada tipe, lokasi dan keperahan, cedera dan mungkin dipersulit oleh
cedera tambahan pada organ-organ vital.

Aktivitas/istirahat
Gejala

: Merasa lelah, lemah, kaku, hilang keseimbangan.

Tanda

: Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, puandreplegia,


ataksia, cara berjalan tidak tegang.

Sirkulasi
Gejala

: Perubahan

tekanan

darah

(hipertensi)

bradikardi,

takikardi.

Integritas Ego
Gejal

: Perubahan tingkah laku dan kepribadian.

Tanda

: Cemas, mudah tersinggung, angitasi, bingung, depresi


dan impulsif.

Makanan/cairan
Gejala

: Mual, muntah dan mengalami perubahan selera.

Tanda

: Muntah, gangguan menelan.

Eliminasi
Gejala

: Inkontinensia, kandung kemih atau usus atau mengalami


gangguan fungsi.

Neurosensori
Gejala

: Kehilangan kesadaran sementara, amnesia, vertigo,


sinkope, kehilangan pendengaran, gangguan pengecapan
dan

penciuman,

perubahan

penglihatan

seperti

ketajaman.
Tanda

: Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan


status mental, konsentrasi, pengaruh emosi atau tingkah
laku dan memoris.

11

Nyeri/kenyamanan
Gejala

: Sakit kepala.

Tanda

: Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan


nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat, merintih.

Pernafasan
Tanda

: Perubahan pola pernafasan (apnoe yang diselingi oleh


hiperventilasi nafas berbunyi)

Keamanan
Gejala

: Trauma baru/trauma karena kecelakaan.

Tanda

: Fraktur/dislokasi,

gangguan

penglihatan,

gangguan

rentang gerak, tonus otot hilang, kekuatan secara umum


mengalami paralisis, demam, gangguan dalam regulasi
suhu tubuh.

Interaksi sosial
Tanda

: Apasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara


berulang-ulang, disartria.

2.

Diagnosa dan Intervensi


a.

Gangguan perfusi jaringan cerebral b.d peningkatan intracranial


ditandai dengan
DS :

Mengatakan kejang

DO :

Perubahan tingkat kesadaran

Gangguan atau kehilangan memori

Defisit sensori

Perubahan tanda vital

Perubahan pola istirahat

Retensi urine

Gangguan berkemih

Nyeri akut atau kronis

Demam

Mual , muntah
12

Intervensi
1) Ubah posisi klien secara bertahap
Rasional

: Klien dengan paraplegia beresiko menglami

luka tekan (dekubitus). Perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai


respons klien mencegah terjadinya luka tekan akibat tekanan yang
lama karena jaringan tersebut akan kekurangan nutrisi dan oksigen
dibawa oleh darah.
2) Jaga suasana tenang
Rasional

: Suasana tenang akan memberikan rasa nyama

pda klien dan mencegah ketegangan


3) Kurangi cahaya ruangan
Rasional

: Cahaya merupakan salah satu rangsangan yang

beresiko terhadap peningkatan TIK


b.

Gangguan ferfusi jaringan serebral b.d desak ruang sekunder dari


kompresi korteks cerebri
DS :
DO :
- GCS 12 (blackout, post trepanasi)
- TD : 67/42 mmHg
- N : 76x / menit
- Pupil anisocor
Intervensi
1) Kaji faktor penyebab dari situasi kemungkinan penyebab
peningkatan TIK
Rasional
intervensi,

mengkaji

deteksi
status

dini

untuk

neurologis

memprioritaskan

untuk menentukan

perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan.


2) Memonitor TTV tiap 4 jam
Rasional

: suatu keadaan normal bila sirkulasi cerebral

terpelihara dengan baik atau fluktuasi ditandai dengan tekanan


darah sistemik, penurunan dari autoregulator

13

kebanyakan

merupakan tanda penurunan difusi local vaskularisasi darah


cerebral.
3) Pertahankan kepala atau leher pada posisi yang netral, usahakan
dengan sedikit bantal. Hindari penggunaan bantal yang tinggi
pada kepala.
Rasional

: perubahan kepala pada satu sisi dapat

menimbulkan penekanan pada vena jigularis dan menghambat


aliran darah otak (menghambat drainase pada vena cerebral)
untuk itu dapat meningkatkan tekanan intracranial.
c.

pola nafas tidak efektif b.d depresi pusat pernapasan ditandai dengan
sulit bernafas dan sesak nafas
DS:
-

Kien mengatakan sulit bernapas dan sesak napas

DO :
- Gangguan visual
- Penurunan karbondioksida
- Takikardia
- Tidak dapat istirhat
- Somnolen
-

Irritabilitas

- Hipoksia
- Bingung
- Dispnea
- Perubahan warna kulit (pucat , sianosis)
- Hipoksemia
Intervensi :
1) berikan posisi nyaman, biasanya dengan peninggian kepala
tempat tidur. Balik ke posisi yang sakit. Dorong klien untuk
duduk sebanyak mungkin.
Rasional

Meningkatkan

inspirasi

maksimal,

meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak


sakit

14

2) Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea,


atau perubahan tanda-tanda vital.
Rasional

: Distress pernapasan dan perubahan pada

tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri
atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan
hipoksia.
3) Jelaskan pada klien tentang etiologi/ faktor pencetus adanya sesak
atau kolaps paru
Rasional

: Pengetahuan apa yang diharapkan dapat

mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien


terhadap rencana terapeutik
d.

Kekurangan volume cairan yang b.d penurunan kesadaran dan


disfungsi hormonal ditandai dengan
DS :
DO:
- Perubahan turgor kulit
- Perubahan tanda vital
- Akral dingin
- Penurunan BB mendadak
- Perubahan nilai metabolism
Intervensi
1) Pantau keseimbangan cairan
Rasioanal

Kerusakan otak dapat menghasilkan

disfungsi hormonal dan metabolic


2) Pemeriksaan serial elektrolit darah atau urine dan osmolaritas
Rasional : Hal ini dapat dihubungkan dengan gangguan
regulasi natrium. Retensi natrium dapat terjadi beberapa hari,
diikuti dengan dieresis natrium. Peningkatan letargi, konfusi, dan
kejang akibat ketidakseimbangan elektrolit.
3) Evaluasi elektrolit
Rasional : Fungsi elektrolit dievaluasi dengan memantau
elektrolit, glukosa serum, serta intake dan output.

15

e.

imobilitas fisik b.d gangguan neurovascular


DS :
DO :
- Kelemahan
- Parestesia
- Paralisis
- Ketidakmampuan
- Kerusakan koordinasi
- Keterbatasan rentang gerak
- Penurunan kekuatan otot
Intervensi
1) Kaji fungsi motorik dan sensorik dengan mengobservasi setiap
ekstermitas
Rasional

: Lobus frontal dan oxipital berisi saraf-saraf

yang mengatur fungsi motorik dan sensorik dan dapat dipengaruhi


oleh iskemia atau peningkatan tekanan.
2) Ubah posisi klien tiap 2 jam
Rasional

: Mencegah terjadinya luka tekan akibat tidur

terlalu lama pada satu posisi sehingga jaringan yang tertekan akan
kehilangan nutrisi yang dibawa darah melalui oksigen.
3) Lakukan latihan secara teratur dan letakan telapak kaki klien
dilantai saat duduk dikursi atau papan penyangga saat di tempat
tidur.
Rasional

: Mencegah deformitas dan komplikasi seperti

footdrop

16

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cedera kepala atau cedera otak merupakan suatu gangguan traumatik
dari fungsi otak yang di sertai atau tanpa di sertai perdarahan innterstiil dalm
substansi otak tanpa di ikuti terputusnya kontinuitas otak. (Arif Muttaqin,
2008, hal 270-271)
Penyebab dari cedera kepala adalah adanya trauma pada kepala
meliputi trauma oleh benda/serpihan tulang yang menembus jaringan otak,
efek dari kekuatan atau energi yang diteruskan ke otak dan efek percepatan
dan perlambatan (ekselerasi-deselarasi) pada otak.
B. Saran
Setelah pembuatan makalah ini sukses diharapkan agar mahasiswa
giat membaca makalah ini, dan mencari ilmu yang lebih banyak diluar dari
makalah ini terkait tentang meteri dalam pembahasan, dan tidak hanya
berpatokan dengan satu sumber ilmu (materi terkait), sehingga dalam
tindakan keperawatan dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien
dengan cedera kepala.
Saran yang disampaikan kepada Mahasiswa Keperawatan adalah :
1. Dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan cedera
kepala.
2. Dapat menilai batasan GCS.
3. Lebih teliti dalam memberikan intervensi keperawatan kepada klien
dengan cedera kepala.
4. Dapat memberikan pendidikan kesehatan terhadap keluarga maupun
klien, baik di rumah sakit maupun di rumah.

17

DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan, Jakarta : Salema Medika
Batticaca Fransisca B, 2008, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan, Jakarta : Salemba Medika
Pierce A. Grace & Neil R. Borley, 2006, Ilmu Bedah, Jakarta : Erlangga
Lecture Notes, 2005, Neurologi, Lionel Ginsberg : Erlangga
http://id.scribd.com/doc/85827418/Laporan-Kasus-Cedera-Kepala (di unduh pada
tanggal 21 November 2012)
http://asuhan-keperawatan-yuli.blogspot.com/2009/11/laporan-pendahuluancedera-kepala.html (di unduh pada tanggal 26 November 2012)
http://semaraputraadjoezt.wordpress.com/2012/09/12/asuhan-keperawatan-padaklien-dengan-cedera-kepala-ringan/ (di unduh pada tanggal 26 November
2012)

18

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang ........................................................................................................ 1

B.

Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A.

Pengertian ............................................................................................................... 3

B.

Klasifikasi ............................................................................................................... 4

C.

Etiologi.................................................................................................................... 4

D.

Patofisiologi dan Pathway....................................................................................... 5

E.

Manifestasi Klinik ................................................................................................... 7

F.

Komplikasi .............................................................................................................. 7

G.

Pemeriksaan Penunjang .......................................................................................... 7

H.

Penatalaksanaan ...................................................................................................... 8

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A.

Primary Survey ..................................................................................................... 10

B.

Secondary Survey ................................................................................................. 11

BAB IV PENUTUP
A.

Kesimpulan ........................................................................................................... 17

B.

Saran ..................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA

19ii

KATA PENGANTAR
Dengan kebesaran Allah SWT. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, nikmat, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah "Cidera Kepala Berat".
Adapun makalah "Cidera Kepala Berat" ini telah penulis usahakan dapat
disusun dengan sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak,
sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. Untuk itu
penulis tidak lupa untuk menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaikbaiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar
penulis dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah "Cidera Kepala Berat" ini bermanfaat,
dan pelajaran-pelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah
dan manfaatnya oleh para pembaca.

Pariaman,

November 2014

Penulis

20
i