Anda di halaman 1dari 34

GEOLOGI JAWA TENGAH:

Geologi Cekungan Serayu

Oleh
C.Prasetyadi
Jurusan T. Geologi- UPN Veteran Yogyakarta

PENDAHULUAN
Jawa Tengah berdasarkan geologi dan posisi tektoniknya memiliki
keunikan dibandingkan dengan Jawa Barat dan Jawa Timur. Keunikan
tersebut antara lain:
1. Terdapatnya singkapan paling luas batuan dasar Pra-Tersier
yang menjadi pemisah antara Sub-cekungan Serayu Selatan
(Banyumas-Kebumen) dan Sub-cekungan Serayu Utara
(Karangkobar-Cipluk).
2. Terdapat singkapan urutan batuan lengkap mulai dari PraTersier, Paleogen hingga Neogen.
3. Tidak hadirnya fisiografi Zona Pegunungan Selatan dan
kelurusan gunung api kuarter lebih ke utara.
4. Pertemuan 2 sesar utama (sesar Pamanukan-Cilacap dan sesar
Kebumen-Muria) (Satyana, 2007).
5. Banyak terdapat rembesan hidrokarbon yang menunjukkan
sistem minyakbumi aktif tetapi belum ada catatan produksi
yang ekonomis.
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai geologi minyakbumi daerah
Jawa Tengah maka perlu diadakan fieldtrip dengan lintasan mulai
dari pengamatan singkapan batuan dasar Komplek Luk-Ulo dan
Batuan Sedimen Eosen Formasi Bulukuning (daerah Banjarnegara)
hingga Batuan Volkaniklastik Neogen (Daerah Cipluk).

RINGKASAN GEOLOGI JAWA TENGAH


1. Fisiografi:

Gambar-1. Fisiografi Jawa Tengah (Van Bemmelen (1949).

Van Bemmelen (1949) membagi fisiografi Jawa menjadi 7 (tujuh)


zona berturut-turut mulai dari utara ke selatan sebagai berikut
(Gambar-1)
Gunungapi kuarter
Dataran alluvial jawa utara
Antiklinorium Rembang-Madura
Antiklinorium Kendeng-Serayu Utara-Bogor
Kubah dan Punggungan pada zona depresi tengah
Zona depresi tengah Jawa dan zona Randublatung
Pegunungan Selatan
Fisografi Jawa Tengah menurut van Bemmellen (1949) mempunyai
luasan dan mencakup daerah yang berbeda. Jawa Tengah sendiri
secara fisiografi dapat dibagi menjadi beberapa bagian dari utara ke
selatan adalah sebagai berikut:
1. Zona Utara: Pegunungan Serayu Selatan (meliputi daerah dari
barat-timur; Purwokerto, Banjarnegara dan Wonosobo).
2. Zona Selatan:
Bagian timur: Tinggian Kulonprogo,
Bagian tengah:
- Kebumen High, Banyumas
- Kebumen Low
Bagian barat terdapat beberapa tinggian dan rendahan;
- Majenang High
- Gabon High
- Besuki High
- Karangbolong
- Citandui Low
- Kroya Low
- Majenang Depression
- Wangon Depression

2. Stratigrafi :

Rangkuman stratigrafi wilayah Jawa Tengah secara skematis disajikan


dalam Gambar-2 & -3 , terdiri dari stratigrafi Serayu Utara (daerah
Bumiayu, daerah Karangkobar, daerah baratdaya Semarang) dan
stratigrafi Serayu Selatan (daerah Banyumas, dan daerah Kebumen).

GEOLOGI DAERAH NANGGULAN

dan foram hadir bersama-sama, membuktikan keterdapatan


batuan Eosen di wilayah Asia Timur Jauh. Nanggulan juga
merupakan lokasi-tipe bagi sejumlah spesies moluska dan
foram besar, antara lain Nummulites djokdjakartae
(MARTIN), Nummulites nanggoelina (VERBEEK), Discocyclina
papyracea var. javana (VERBEEK).

1. Letak
Daerah Nanggulan terletak sekitar 20 km sebelah barat kota
Yogyakarta. Secara administratif daerah ini termasuk Desa
Kenteng, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, DIY.
Daerah singkapan batuan Eosen berada di sisi timur
Perbukitan Menoreh, atau Kubah Kulonprogro (Van
Bemmelen, 1949), meliputi daerah seluas (3x4) km2. Batuan
Eosen yang tersingkap merupakan bagian sayap barat antiklin
Nanggulan yang berarah hampir utara-selatan.

Salah satu kajian mutakhir batuan Paleogen Nanggulan


dibuat oleh Lunt dan Sugiatno (2003b) berdasarkan hasil
penelitian lapangan di daerah Nanggulan dan sekitarnya
berkaitan dengan kegiatan eksplorasi minyak dan gasbumi
oleh Coparex b.v. di wilayah Blok Banyumas. Berdasarkan
data biostratigrafi foram plankton dan nanno fosil beserta
informasi litologinya mereka membagi dengan lebih
terperinci batuan Eosen Nanggulan menjadi 6 sub-satuan
(Gambar-1):

2. Penelitian Terdahulu
Di daerah Luk Ulo, Karangsambung dan Perbukitan Jiwo,
Bayat batuan Paleogen tersingkap bersama-sama dengan
batuan Pra-Tersier sedangkan di daerah Nanggulan batuan
Pra-Tersier tidak tersingkap sehingga singkapan batuan
tertua yang dijumpai terdiri dari batuan Eosen. Meskipun
demikian singkapan batuan Eosen di Nanggulan merupakan
singkapan batuan Paleogen yang paling banyak diteliti
dibandingkan ditempat lain di Pulau Jawa terutama karena di
Nanggulan kandungan fosilnya sangat kaya. Nanggulan
dianggap sebagai daerah di Hindia Timur (East Indies)
dimana dijumpai fosil fauna Paleogen yang paling beragam
dan paling baik terawetkan di Asia Tenggara. Di daerah
Nanggulan dapat dikenali fauna moluska berumur Eosen yang
terdiri dari 106 gastropoda, 23 lamellibranchiata, tiga
scaphopoda, dan empat foraminifera (Rutten, 1927; Martin,
1915; dalam Lunt dan Sugiatno, 2003b). Kekayaan daerah
Nanggulan akan fauna Eosen yang unik, dimana fosil moluska

3. Litologi
Penelitian lapangan batuan Eosen di daerah Nanggulan yang
dilakukan oleh Prasetyadi (2007) dilakukan dalam dua tahap.
Tahap pertama dilakukan dalam partisipasi dengan kegiatan
penelitian lapangan bagian dari kegiatan eksplorasi minyak
dan gasbumi PSC Coparex b.v di wilayah Blok Banyumas
antara tahun 1998 sampai 2001. Diantara kegiatan ini
termasuk pemboran inti pada tahun 1998 di daerah pusat
antiklin Nanggulan dengan kedalaman 130 meter di daerah
Kenteng, Nanggulan. Tahap kedua penelitian lapangan
dilakukan secara mandiri pada tahun 2004 dan 2005 di
lintasan-lintasan Kali Songo, Kali Watu Puru, dan Kali Putih
dengan tujuan utama melakukan pengambilan sampel
batupasir untuk analisis provenans (Gambar-2).

Gambar-1: Sub-satuan Formasi Nanggulan (Lunt dan


Sugiatno, 2003b).

Gambar-2: Peta lokasi pengamatan di daerah Nanggulan


(Prasetyadi 2007).

Bagian bawah singkapan batuan Eosen di daerah


Nanggulan dijumpai di Kali Songo bagian timur yang
merupakan bagian inti antiklin Nanggulan. Litologinya
terutama terdiri dari batupasir kuarsa, berbutir halus sampai
sedang. Di bagian bawah perlapisan batupasir ini terdapat
yang berukuran butir lebih kasar sampai konglomerat.
Komponen konglomerat ini terdiri dari kuarsit, sedikit rijang,
marmer, dan sekis (Lokasi NG-1). Di atas batupasir dan
konglomerat ini dijumpai batupasir halus dan batulempung
lanauan serta lapisan batubara. Pada batulempung
lanauannya dijumpai fosil moluska (Gambar-3). Pemboran
inti yang dilakukan Coparex b.v sedalam 130 meter dengan
lokasi di sekitar singkapan ini memperlihatkan batupasirnya
secara umum mirip dengan batupasir yang tersingkap.
Disamping kuarsa, batupasir ini mengandung felspar,
fragmen batuan, dan sedikit mineral opak.

Gambar-3: (A, B, C dan D) singkapan satuan batupasir Songo


Beds di K. Songo, (E dan F) fotomikrograf (E, nikol sejajar; F,
nikol silang) sayatan tipis sisipan batulanaunya (Prasetyadi,
2007).

Hasil pemboran inti juga menunjukkan adanya perulangan


antara perlapisan yang banyak mengandung serpih dengan
batupasir. Bagian paling bawah inti pemboran dimulai dengan
perlapisan yang terdiri dari serpih dengan sisipan batupasir.
Perlapisan serpih ini muncul kembali pada kedalaman 100 m,
40 m, dan 20 m. Lapisan batubara, seperti yang terdapat
juga sebagai singkapan, dijumpai pada kedalaman 88 m dan
52 m. Bagian bawah yang umumnya terdiri dari batupasir
kuarsa, batulempung lanauan mengandung fosil moluska dan
lapisan batubara ini disebut Satuan 1e oleh Oppernoorth,
atau Axinaea Beds oleh Gerth. Lunt dan Sugiatno (2003)
menyebutnya sebagai Songo Beds. Bagian atas Songo Beds ini
dicirikan oleh batupasir kerikilan dan batupasir kuarsa
berlapis-tipis seperti yang dijumpai di Kali Watupuru (Lokasi
NG-13, NG-14). Secara berangsur ke arah atas berubah
menjadi batulempung lanauan. Di dalam satuan batulempung
lanauan ini dijumpai konkresi oksida besi dan batulempung,
batupasir laminasi dan berstruktur silang siur serta lapisan
yang kaya fosil foram besar (Nummulites dan Discocyclina)
(Gambar-4).
Pada sayatan tipis batupasir-batupasir ini terdiri dari
matrik lempung tufan dan gampingan, dengan butiran
umumnya terdiri dari kuarsa, dan sedikit felspar, pecahan
batuan beku serta mineral opak (Gambar-5). Satuan
batulempung lanauan ini disebut Satuan 2e oleh
Oppernoorth atau merupakan bagian dari Djokdjakarta dan
Discocyclina Beds menurut Gerth. Karena singkapan
terbaiknya dijumpai di Kali Watu Puru, Lunt dan Sugiatno
menyebutnya sebagai Watu Puru Beds. Satuan yang
merupakan bagian atas dari Watu Puru Beds dijumpai di hulu
Kali Seputih dan terdiri dari napal kaya foram plankton
(Lokasi NGB-2). Di atas lapisan napal ini dijumpai perlapisan
yang terdiri dari batulempung tufan dan batupasir yang oleh
Oppernoorth disebut sebagai Satuan 3e atau disebut oleh

Lunt dan Sugiatno (2003b) sebagai Jetis Beds (Lokasi NGB-6)


(Gambar-6). Bagian paling atas singkapan batuan Eosen di
daerah Nanggulan terdiri dari napal, masif, kaya foram
plankton. Singkapannya terdapat di tebing barat jalan raya
Desa Jetis (Lokasi NGB-7). Satuan napal ini, disebut
Tegalsari Marl oleh Lunt dan Sugiatno (2003b) (Gambar-7),
ditumpangi secara tidak selaras oleh satuan breksi volkanik
yang oleh Rahardjo dkk. (1985) disebut sebagai Formasi
Kebobutak.

Gambar-4: Singkapan litologi Watupuru Beds di Kali


Watupuru: (A) perlapisan sejajar batupasir kuarsa, bagian
bawah Watupuru Beds; (B) perselingan batupasir dengan
batulanau mengandung konkresi oksida besi, (C) struktur
laminasi sejajar pada batulanau, (D) konkresi yang banyak
terdapat dalam batulanau, (E) Fosil moluska dalam
batulempung pasiran, dan (F) sisipan lapisan Discocyclina
(Prasetyadi 2007).

Gambar-5: IV.49. Fotomikrograf sayatan tipis dari litologi


Watupuru Beds: (A dan B) batugamping pasiran mengandung
kuarsa, felspar, dan fragmen batuan, (C dan D) batugamping
Discocyclina sp. mengandung kuarsa dan glaukonit, (E dan F)
batupasir tufan mengandung kuarsa dan fragmen batuan
beku volkanik (semua fotomikrograf pada nikol silang,
kecuali E, nikol sejajar) (Prasetyadi 2007).

Tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam zonasi


biostratigrafi sampel-sampel yang berasal mulai dari
pemboran inti yang paling dalam sampai di bagian atas dari
Jetis Beds, dan kisaran ini mewakili sebagian besar
singkapan batuan Eosen di daerah Nanggulan. Lunt dan
Sugiatno (2003b) mengidentifikasi tiga genus utama
Morozovella, Acarinina dan Truncorotaloides yang hadir
secara konsisten di dalam kumpulan fauna planktonik. Ke
arah atas kehadiran mereka semakin melimpah. Kehadiran
ketiga genus tersebut secara menerus menunjukkan semua
satuan, mulai dari Songo Beds sampai Jetis Beds, berumur
Eosen Tengah (Zona P12-P14). Umur Eosen Tengah juga
ditunjukkan oleh hasil analisis fosil nanno, ditandai oleh
kehadiran Discoaster barbadiensis dan D. saipanensis,
sedangkan
kehadiran
Reticulofenestra
umbilica
menunjukkan umur tidak lebih tua dari Zona NP16 (atau
CP14), atau Eosen Tengah Akhir.
Berdasarkan
bukti
palynologi,
Lelono
(2000)
menetapkan umur Formasi Nanggulan adalah Eosen Tengah
sampai Eosen Akhir berdasarkan kehadiran bentuk-bentuk
Longapertites vaneendenbergi, Proxapertites operculatus,
Proxapertites cursus dan Cicatricosisporites eocenicus dan
bersama-sama dengan bentuk-bentuk lain yang berasal dari
tanaman
seperti
Beaupreadites
matsuokae,
Palmaepollenites spp., Cupanieidites cf. C. flaccidiformis,
Ixonanthes, Lakiapollis ovatus, dan Polygalacidites clarus.

Gambar-6 IV.50. (A) singkapan serpih berselingan batupasir


tufan dari Jetis Beds, di Desa Jetis, dan (B) singkapan napal
Tegalsari Marl, tepi jalan raya Desa Jetis (Prasetyadi 2007).
3.1 Umur

Gambar-7: Peta geologi daerah Nanggulan (Prasetyadi 2007).

3.2 Lingkungan Pengendapan


Urutan batuan Eosen di daerah Nanggulan menunjukkan
penghalusan ke arah atas yang mencirikan suatu endapan
transgresif. Bagian bawah urutannya didominasi oleh
batupasir, sisipan batulempung pasiran kaya kandungan fosil
moluska,
sisipan
lapisan
batubara
dan
batupasir
konglomeratan.
Struktur sedimen laminasi sejajar dan silang-siur
secara setempat-setempat dijumpai di dalam lapisan
batupasir. Secara umum asosiasi litologi bagian bawah ini
menunjukkan lingkungan pengendapan transisi dimana masih
terdapat pengaruh endapan rawa yang berupa batubara.
Kehadiran fosil moluska menunjukkan lingkungan yang tidak
jauh dari batimetri sub-litoral. Adanya dominasi batupasir
bersilang-siur, kadangkala berbioturbasi, konglomeratan,
sisipan batulempung dan serpih yang terjadi secara berulang
seperti yang teramati pada log pemboran inti ditafsirkan
sebagai endapan yang diendapkan dilingkungan delta plain
yang beragradasi (Lunt dan Sugiatno, 2003b). Ke arah bagian
atas, yang dicirikan oleh dominasi batulempung pasiran,
gampingan,
kadangkala tufan, ada yang mengandung
glaukonit dan kaya akan fosil foram besar menunjukkan
lingkungan laut dangkal. Di bagian atas kandungan fauna
plankton semakin melimpah mencerminkan lingkungan laut
yang lebih dalam dan terbuka. Hadirnya komponen tufan
dalam Watu Puru Beds dan Jetis Beds menunjukkan adanya
kontribusi kegiatan volkanik selama pengendapannya. Bagian
paling atas yang dicirikan oleh satuan napal Tegalsari
menunjukkan lingkungan laut dalam dimana endapannya
telah terbebas dari material pasiran.
Stratigrafi dan peta geologi untuk daerah Nanggulan
dikembangkan dari hasil modifikasi dari Lunt dan Sugiatno
(2003b) dan berdasarkan pengamatan lapangan serta analisis
batuan

di beberapa lintasan pengamatan detail didaerah Kali Watupuru, Kali Songo dan Kali Seputih (Gambar-7 dan Gambar-8

Gambar-8: Penampang geologi daerah Nanggulan (letak penampang lihat Gambar-7).

Anggota Tuff, dimana Harloff (1933) menyebutnya sebagai


Eerste Merger Tuff Horizon

STRATIGRAFI MANDALA SERAYU SELATAN


Batuan Pra Tersier :
Merupakan batuan tertua yang tersingkap di Zone Pegunungan
Serayu Selatan mempunyai umur Kapur Tengah s/d Paleosen
dikenal sebagai Komplek Melange Luk Ulo (Sukendar Asikin
1974). Kelompok batuan ini disimpulkan sebagai kompleks
melange yang terdiri dari graywacke,
sekis, lava basalt
berstruktur bantal, gabro, batugamping merah, rijang,
lempung hitam yang bersifat serpihan. Semuanya merupakan
campuran yang bersifat tektonik
Formasi Karangsambung :
Merupakan kumpulan endapan olisthostrom, terjadi akibat
pelongsoran karena gaya berat di bawah permukaan laut,
melibatkan endapan sedimen yang belum mampat,
berlangsung pada lereng parit di bawah pengaruh endapan
turbidit.Merupakan sedimen pond dan diendapkan di atas
bancuh Luk-Ulo, terdiri dari konglomerat polimik, lempung
abu-abu, serpih dan beberapa lensa batugamping
foraminifera besar. Hubungan tidak selaras dengan batuan
Pra Tersier.
Formasi Totogan :
Harloff (1933) dan Tjia HD (1966) menamakan sebagai Tufa
Napalan I, sedangkan Suyanto &Roskamil (1974) menyebutnya
sebagai lempung breksi.Litologinya berupa breksi dengan
komponen batulempung,batupasir, batugamping, napal dan
tufa. Mempunyai umur Oligosen - Miosen Awal, dan
berkedudukkan selaras di atas Formasi Karangsambung
Formasi Waturanda :
Formasi ini terdiri dari batuan - batuan batupasir vulkanik
dan breksi vulkanik,berumur Miosen Awal - Miosen Tengah,
selaras di atas Formasi Totogan. Formasi ini mempunyai

Formasi Penosogan :
Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Waturanda,
litologinya terdiri dari perselingan batupasir, batulempung,
tufa, napal dan kalkarenit. Ketebalan formasi ini 1000 meter,
mempunyai umur Miosen Awal - Miosen Tengah
Formasi Halang :
Menindih selaras di atas Formasi Penosogan, dengan litologi
terdiri dari perselingan batupasir, batulempung, napal, tufa
dan sisipan breksi.Merupakan kumpulan sedimen turbidit
bersifat distal sampai proksimal, pada bagian bawah dan
tengah kipas bawah laut, berumur Miosen Awal - Pliosen.
Anggota Breksi Halang, Sukendar Asikin menamakan sebagai
Formasi Breksi II dan berjemari dengan Formasi Penosogan.
Namun Sukendar Asikin (1974) meralat bahwasanya Anggota
Breksi ini menjemari dengan Formasi Halang.
Formasi Peniron :
Peneliti terdahulu menamakan sebagai Horizon Breksi III.
Formasi Peniron menindih selaras di atas Formasi Halang dan
merupakan sedimen turbidit termuda yang diendapkan di
Zone Pegunungan Serayu Selatan. Litologinya terdiri dari
breksi aneka bahan (polimik) dengan komponen andesit,
batulempung, batupasir dengan masa dasar batupasir sisipan
tufa, batupasir, napal dan batulempung.
Batuan Vulkanik Muda :
Mempunyai hubungan yang tidak selaras dengan semua
batuan yang lebih tua di bawahnya. Litologi terdiri dari breksi
dengan sisipan batupasir tufan, dengan komponen andesit
dan batupasir => merupakan aliran lahar pd lingkungan darat.
Berdasar pada ukuran komponen yang membesar ke

utara=>menunjukkan arah sumber di utara => Gunung


Sumbing berumur Plistosen.

STRATIGRAFI SERAYU UTARA


a. SATUAN EOSEN
Satuan ini merupakan satuan batuan Tertua yang
tersingkap di daerah Karangkobar dan sekitarnya,
singkapannya terpisah-pisah pada 4 (empat) lokasi, dimana
pada setiap singkapannya memperlihatkan kontak sesar
naik dengan batuan yang lebih muda disekitarnya. Satuan
ini dicirikan oleh adanya napal abu-abu, mengandung
fosil Globigerina, batugamping pasiran warna abu-abu,
batulempung, pecahan batuan beku Granite, kuarsa
menjadi satu satuan yang tersemenkan dalam kalsium
karbonat.
Van Bemmelen (1949) belum memberikan
tingkatan stratigrafinya, dan Marks (1957) menyebutnya
sebagai Eosen pada Pegunungan Serayu Utara.
b. Formasi Sigugur
Satuan ini diendapkan secara tidak selaras diatas satuan
batuan berumur Eosen.
Ciri-cirinya adalah dengan
dijumpainya konglomerat dengan fragmen batugamping
abu-abu dan batugamping terumbu yang mengandung fosil
Spiroclypeus,
Cycloclypeus,
dan
Lepidocyclina,
penyebarannya Sangat terbatas sekali.
Berdasarkan
fosil tersebut didapatkan umur relatif Miosen Awal (Te).
Kearah barat Formasi Sigugur disebut sebagai Lower
Pemali Member yang berkebang Sejas Oligo-Miosen,
sedangkan ke arah timar disebut sebagai Lutut Beds
yang disusun oleh konglomerat ber-fragmen batugamping
Camerina dan Discoclyclina, dan batupasir. Konglo-merat
tersebut disisipi batupasir kuarsa gampingan dan
batulempung, berdasarkan kandungan fosilnya Lutut
Beds berumur Miosen Awal (Te).
8

c. Formasi Merawu
Satuan batuan ini diendapkan selaras diatas F. Sigugur,
disusun
oleh
konglomerat,
batupasir
gampingan,
batulempung napalan yang menyerpih serta lapisan tufan
halus. Konglomerat berfragmen kuarsa dan batugamping
berfosil Lepidocyclina, dan batulempung napalannya
mengandung Globigerina. Bagian atas satuan ini tidak
dijumpai konglomerat, dan disusun oleh lapisan - lapisan
batupasir berlapis tipis, batupasir gampingan, dan
batulempung napalan, dengan struktur sedimen sole
mark berupa jejak-jejak cacing pada alas batupasir,
ripple mark. Umur bagian atas Formasi
Merawu ditentukan oleh hadirnya fosil Catacycloclypeus
MARTIN yang menunjukkan Miosen Tengah (Tf), secara
keseluruhan berumur Miosen Awal Miosen Tengah.
Ketebalan absolut formasi ini sulit ditentukan karena telah
mengalami perlipatan sangat kuat.
Lokasi tipe dari
formasi ini di Sungai Merawu, sebelah barat dan tenggara
lembar peta 66.
d. Formasi Penyatan
Formasi ini diendapkan selaras di atas F. Merawu, di
lapangan sulit memisahkan antara F. Penyatan dan F.
Merawu.
Satuan
ini
dipisahkan
berdasarkan
ketidakhadiran lapisan kuarsa klastik, serta bertambahnya
lapisan volkanik andesit sehingga menhasilkan endapan
batuan yang bersifat atau berkomposisi tufaan.
Bemmelen (1937) membagi tiga bagian formasi ini yakni ;
bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian
bawah dicirikan hadirnya batupasir, tufa napalan,
breksi tufaan berframen kasar sampai halus mengandung
Globigerina dan foraminifera kecil lainnya,
sebagian
terubah karena proses hidrotermal dengan dijumpai
mineral klorit, serisit, dan zeolit. Bagian tengah, hadirnya
aliran lava basaltik andesitik, berkomposisi sebagian
besar terdiri dari gelas, dan dijumpai lensa-lensa napal

Globigerina diantara aliran lava. Konstitusi utama bagian


tengah formasi ini adalah breksi, aglomerat, dan batupasir
tufaan yang resisten terhadap proses erosi cenderung
membentuk pematang-pematang.
Di sebelah barat
berfasies volkanik dan pusat erupsi kemungkinan berada
disebe-lah selatan. Bagian atas dicirikan dengan ketidak
hadiran komponen atau lapisan napal tufaan berfosil
Globigerina ,
batulempung,
breksi andesit tufaan.
Berdasarkan posisi stratigrafi formasi ini berumur Miosen
Tengah Miosen Akhir (Tf-g).
e. Formasi Bodas
Formasi ini selaras diatas Formasi Penyatan, dimulai
dengan endapan batugamping bioklastik yang dikenal
dengan Basal Limestone Horison dari Bodas Series
(Bemmelen, 1937).
Kemudian diatasnya berkembang
menjadi dua fasies, yaitu fasies laut dan fasies
volkanik, percampuran kedua fasies dapat dijumpai di
sebelah utara Banjarnegara. Secara tidak selaras fasies
laut menutupi F. Penyatan bagian atas, fasies laut berupa
batugamping napalan diendapkan monoton di bawah seri
napal abu-abu. Satuan napal mengandung fosil moluska
dan terdapat interkalasi dari breksi andesit. Ketebalan
2500 3000 meter. Bagian atas fasies ini ditu-tupi Formasi
Ligung yang berumur Pliosen Akhir.
Formasi Bodas
berumur Miosen Akhir hingga Pliosen Awal yang
ditentukan berdasarkan fosil Terebratulina exarata
(Martin),
Soleriela
ambligoriata
(CHUSMAN),
Cycloclypeus BEMMELEN. Sedang fasies volkanik dapat
dijumpai di Pegunungan Maung yang berada di sebelah
utara Banjarnegara,
disusun oleh breksi andesit dan
batupasir tufaan dengan sisa tumbuhan.
Ketebalan
fasies ini 800 meter. Di Pegunungan Maung fasies laut
muncul kembali berupa napal Globigerina hijau dengan
ketebalan 200 meter, Satuan napal ini berselingan
dengan batupasir tufaan. Konglomerat polimik beru-kuran
kasar dengan unsur-unsur dari Neogen Awal dan Eosen.

f. Formasi Ligung
Formasi ini hanya tersingkap di bagian tengah sebelah
timur Cekungan Serayu
5 km sebelah timur Desa
Bodaskarangjati.
Bemmelen (1937) memperkirakan
bahwa formasi dapat dipisahkan menjadi empat satuan,
Kompleks Gunungapi Korakan diperkirakan merupakan
pusat erupsi yang menghasilkan aglomerat, intrusi tunggal
batuan beku Andesit hornblenda disebut fase Intrusi
Korakan Formasi Ligung.
Endapan-endapan utamanya
berupa batulempung tufaan dan batupasir serta
interkalasi lapisan tipis konglomerat yang diendapkan pada
bagian atas dan Anggota breksi tua. Satuan ini juga
disebut
sebagai
Transitional Member of Ligung
Formation ,
tersingkap memanjang barat timur
sepanjang 25 km, lebar 3 km ke arah selatan dan
barat dari Komplek G. Korakan.
Penyebaran singkapan
dari Younger Breccia Member of Ligung Formation
merupakan yang terluas dari ke empat satuan yang dapat
dibedakan dari formasi ini. Endapan satuan ini disusun
oleh aglomerat andesit
dan breksi yang tersingkap
disepanjang bagian timur Sungai Serayu. Bemmelen (1949)
menyatakan bahwa Anggota Breksi Tua Formasi Ligung
terletak secara pseudo-conformably di atas perlaisan
Formasi Bodas yang lebih tua,
satuan ini disusun oleh
breksi andesit dan aglomerat kasar,
ketebalannya 600
m dekat Komplek G.Korakan dan berkurang sesuai
dengan pertambahan jaraknya terhadap Gunungapi
Korakan. Umur Formasi Ligung diperkirakan Pliosen
Akhir hingga Pleistosen Tengah, dimana umur ini
ditentukan berdasarkan korelasi terhadap Formasi Damar
yang memiliki kandungan fosil air tawar.
Zona Kendeng di di Jawa Tengah terdiri dari Cekungan Serayu
Utara dan Cekungan Serayu Selatan. Berkembangnya dua
cekungan ini tidak lepas dari hadirnya tinggian struktur yang

Gambar-2. Rangkuman skematis stratigrafi wilayah Jawa Tengah.

terdapat didaerah Karangsambung (Luk-Ulo), Tinggaian ini


diperkirakan hadir sejak Paleosen seperti yang ditunjukkan
oleh perkembangan stratigrafinya. Terdapatnya batuan Eosen
Formasi Bulukuning di Karangsambung bagian utara
menjelaskan bahwa daerah Karangsambung memiliki
paleogeografi yang lebih dangkal dibandingkan dengan
sekitarnya (Formasi Karangsambung). Kondisi ini menerus
hingga Miosen Awal sampai saat terendapkannya Formasi
Waturanda yang tidak menerus ke bagian utara di Cekungan
Serayu utara, dimana Formasi Waturanda berubah fasies
menjadi Formasi Rambatan yang merupakan sedimen trubidit
volkaniklastik halus. Perkembangan struktur dan stratigrafi ini
dijelaskan dalam Lampiran-3.

13
3

3. Struktur:
Pulau Jawa dikontrol oleh sejumlah struktur utama yang
mencerminkan
evolusi
tektoniknya
(Pulunggono
&
Martodjoyo, 1994) (Gambar-4). Struktur utama Pulau Jawa
terdiri dari struktur Meratus yang berarah TimurlautBaratdaya, struktur Sumatra berarah Baratlaut-Tenggara,
struktur Sunda berarah Utara-Selatan dan struktur Jawa
berarah Barat-Timur.
Jawa Tengah dikontrol oleh struktur-struktur berarah
Timurlaut-Baratdaya dan Baratlaut-Tenggara seperti pada
Gambar-5. Selain itu di Jawa Tengah juga dikenali
terdapatnya dua struktur sesar utama yang mengapit bagian
barat dan timur Jawa Tengah. Sesar utama bagian timur
disebut sesar Kebumen-Muria dan bagian barat disebut sesar
Pamanukan-Cilacap, kedua sesar tersebut dianggap sebagai
faktor yang membuat Jawa Tengah secara fisiografi berbeda
dengan Jawa Barat dan Jawa Timur (Satyana, 2007) (Gambar6).
Keberadaan sesar Kebumen-Muria didukung oleh data geologi
bawah permukaan. Smyth et al (2005), menyebut sesar ini
sebagai sesar Progo-Muria dan merupakan batas batuan dasar
Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gambar-3. Stratigrafi wilayah Jawa Tengah


(Lundin, dalam Satyana, 2007).

Gambar-4. Pola struktur utama Pulau Jawa


(Pulunggono & Martodjoyo, 1994).

Gambar-5. Pola umum struktur permukaan Jawa


(Angelier & Mechler, 1977).

Gambar-6. Strutur utama Jawa Tengah dan kinematikanya


(Satyana, 2007).

Gambar-7. Konfigurasi batuan dasar Jawa bagian timur (Smyth, 2005).

4. Volkanisme:
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur busur vulkanik tersier
memiliki tiga tahap kegiatan yang berbeda. Berdasarkan
pengelompokan usia radiometrik (Bellon et al. 1990)
(Gambar-8 & -9) dan keterdapatan startigrafi vulkanik ,
dapat disusun sebagai berikut :
1. Awal fase gunung berapi aktif dari sekitar 50-19 jtl
(pertengahan Eosen sampai pertengahan Miosen
Awal).
2. Masa relatif tenang dari sekitar 19 jtl untuk sekitar 11
jtl (akhir Miosen Tengah).
3. Peningkatan besar-besaran aktivitas gunung berapi di
sekitar 11 jtl, dengan jalur vulkanik bergeser sekitar
50 kilometer keutara ke posisi sekarang.
4. Pada 3 jtl merupakan vulkanisme perubahan seri baru
gunung berapi aktif di sepanjang busur utama, akan
tetapi juga lebih kaya K-gunung berapi dari busur tren
(misalnya Gunung Muria [1,1-0,4 jtl], lepas pantai ke
utara di Pulau Bawean [ 0,8-0,3 jtl], dan Gunung
Lasem [1,6-1,1 jtl, tapi tidak dominan K).
Data sumur DSDP (Deep Sea Drilling Project) di barat
Samudera Hindia dan selatan Jawa mendukung data hasil
akhir kedua, ketiga dan tahap terakhir diatas. Sumur DSDP ini
mengandung tuff berumur 11 tahun jtl dan lebih muda,
dengan peningkatan piroklastik Pliosen Akhir atau bagian
bawah Kuarter (sekitar 2-3 MYBP). Dilokasi tersebut di atas
lempeng samudera bergerak kearah utara menghalangi
rekaman aktivitas gunung berapi Jawa jauh sebelum 11 jtl.
Misalnya pada 19 jtl, ketika "Old Andesite" fase berakhir,
lokasi DSDP akan menjadi sekitar 400 kilometer lebih jauh ke
selatan dari busur vulkanik. Perhatikan bahwa antara
peristiwa vulkanik utama ini masih ada beberapa latar
belakang terus vulkanik, seperti yang terlihat oleh tuff hadir
dilapisan Miosen Tengah di selatan Jawa.

5. Potensi Hidrokarbon:
Tektonik Jawa tengah sangat unik mempengaruhi kondisi
geologi minyakbuminya (Gambar-10). Cekungan backarc dan
forearc yang berkembang baik di Sumatra, diJawa Tengah
tergannggu oleh deformasi yang diakibatkan oleh dua sesar
mendatar berlawanan, yang mengakibatkan perubahan besar
pada cekungan backarc dan forearcnya.
Pengangkatan
dibagian selatan dikompensasi oleh penurunan yang cepat
dibagian utara sehingga berkembang dua area cekungan yaitu
utara (North Serayu) dan wilayah selatan (South Serayu/
Banyumas).
Gambar-8. Busur magmatik Tersier (Soeria-Atmadja et al, 1994).

Gambar-9. Lokasi gunungapi Oligo-Miosen di Jawa bagian timur.


(Smyth, 2005).

Di Cekungan Serayu Utara (Jawa Tengah Utara)


Pengangkatan Selatan Jawa Tengah di Miosen Tengah-akhir
ini diimbangi oleh penurunan yang cepat dari dasar cekungan
Serayu Utara (van Bemmelen, 1949). Sejarah yang rinci
sedimentasi dan tektonik Cekungan Serayu Utara dibahas di
Satyana dan Armandita (2004). Pengangkatan relif topografi
tidak hanya menyebabkan pergerakan peluncuran gravitasi
dari selatan ke utara, tetapi juga menyebabkan bagian sisi
utara dari cekungan mengalami penurunan ke bawah ke arah
gravitasi bagian terdalam. Dalam Mio-Pliosen, seri
batugamping dari formasi
Bodas diendapkan secara
transgressively dan tidak selaras dengan seri Miosen yang
lebih tua. Kemudian kuatanya penurunan,yang memicu
terangkatnya Cekungan Serayu bagian selatan pada Mio Pliosen yang berada pada selatan jawa.. Struktur berkaitan
gravitasi tektonik seperti toe thrusting berkembangkan
verging ke utara. Lapisan batuan yang berumur Eosen hingga
Miosen akhir dari formasi Worowari, Lutut, dan formasi
Sigugur nonmarine ke laut dangkal, dan Merawu dan Hilir
Penyatan turbidites telah terdeformasi sebagai toe thrust
anticline dan fault-progation. Hal ini merupakan mekanisme
deformasi yang serupa dengan jebakan hidrokarbon di
Cekungan Lower Kutei-North Makassar dimana pengangkatan
dari updip daerah Kutei Basin selama Miosen akhir hingga
resen membentuk jebakan-jebakan di Lower Kutei-North

Makassar. Dengan sedimen ponded di sinkilin yang terbentuk


diantara thrusted. Semua elemen dan proses sistem minyak
bumi dapat dibentuk dalam sistem ini. Sumber hidrokarbon
dapat disediakan oleh batulempung dari formasi Worowari
dan batulempung napalan dari formasi Merawu Beds.
Berdasarkan integrasi data minyak bumi dan model geokimia,
batuan source rock yang mungkin terdapat pada cekungan
Jawa Tengah bagian utara adalah source rock yang umurnya
equivalen dengan Formasi Ngimbang di jawa timur (Subroto
et al., 2006), oleh karena itu BatulempungWorowari yang
berumur Eosen memiliki potensi untuk menjadi Source Rock
di daerah ini. Kebanyakan organik materi yang terkandung
dalam sedimen menunjukkan Tipe III kerogen, terutama
vitrinite dan beberapa dari bahan oxidies amorphous.
Reservoir dapat dibentuk oleh batu pasir kuarsa
dan
batupasir tuffaceous dari formasi lapisan lutut dan Merawu,
dan batugamping terumbu dari formasi Sigugur. Potensi seal
adalah batulempung yang terletak diantara Formasi Merawu
dan Penyatan. Kematangan dari
batuan induk dapat
diperoleh sebagai hasil penurunan cekungan dan penimbunan
sedimen post late-miosen diendapkan.
Dihasilkannya hidrokarbon dapat terperangkap pada toe
thrust anticline yang terbentuk di formasi Lutut dan Merawu
atau terumbu dari formasi sigugur melalui sesar yang
dibentuk oleh system toe thrust. Jumlah seepages di
permukaan mengindikasikan adanya kehadiran petroleum
sistem di wilayah ini. Petroleum sistem pada dasarnya belum
terbukti tidak ada sumur yang dibor di thrust front setelah
sumur cipluk yang dibor pada akhir 1800an. Pada tahun 1889
Belanda menemukan Cipluk field pada bagian utara dari
thrust front. Cipluk dianggap petroleum sistem yang aktif.
Di Cekungan Serayu Selatan (Jawa Tengah Selatan)
Cekungan Serayu Selatan (juga sering disebut Banyumas
Basin) dibentuk dibagian forearc. Bagian utara cekungan
mengalami penurunan, yang diakibatkan oleh pengangkatan
dari Serayu Range. Endapan turbidite vulkanik klastik yang

diendapkan dalam cekungan membentuk tampilan struktur


diapiric. Pada Lepas pantai Jawa Tengah selatan, terdapat
dua cekungan yang berkembang di puncak barat dan timur
yang terangkat di zona segitiga yang disebut masing-masing
bagian kedalaman Barat dan Kedalaman Timur. Rembesan
Minyak dan gas terjadi di Cekungan Serayu Selatan
menunjukkan bahwa sebuah sistem minyak bumi aktif di
daerah ini. Studi baru-baru ini oleh Subroto et al. (2006)
memberikan evaluasi cekungan minyak bumi yang terbaru.
Dua batuan induk utama telah diidentifikasi : tipe kerogen III
/ II setara dengan Formasi Nanggulan berumur Eosen tengahakhir dan kerogen tipe II / III setara dengan Formasi Pemali
yang berumur awal-Miosen tengah. Kitchen Area terletak di
daerah selatan lepas pantai. Hydrocarbon play di area ini
terbentuk pada umur Miosen tengah. Pada reef Kalipucang,
yang berkembang di bagian tinggian-tinggian basement
berumur Oligosen Akhir hasil dari penggangkatan Serayu
Range, sedangkan batuan tudung (seal) dibentuk dari
batulempung dan napal formasi Pemali. Perangkap terbentuk
pada oligo-Miosen yaitu pada volcaniclastic Formasi Gabon
dan Formasi Rambatan yang berumur Miosen (Plio-Pleistosen
inverted anticlines) Beberapa sampel minyak dianalisis untuk
Biomakers. Terungkapnya bahwa minyak dapat diklasifikasikan ke dalam tiga golongan : yang pertama adalah yang
bersumber dari lingkungan darat, yang kedua adalah dari
lingkungan laut, dan yang ketiga menunjukkan lingkungan
lakustrin. data isotop mendukungan klasifikasi ini.
Karakteristik dari minyak bumi tersebut kemudian digunakan
untuk menyimpulkan identifikasi batuan induk (s). Didasarkan
pada integrasi data minyak bumi dan model geokimia, yang
memungkinkan batuan induk dari Cekungan Jawa Tengah
Selatan adalah Formasi Pemali. Baru-baru ini telah dibor oleh
Lundin di Banyumas Blok, yaitu Jati-1 (2005-2006) gagal untuk
menemukan hidrokarbon yang komersial dari Batuan yang
berumur Oligosen / Eosen. Sumur dihadapi banyak masalah
mekanik overpressure, tektonik kompleks tidak tergambar
pada seismik, dan sangat tebalnya endapan Miosen klastik,

dengan hasil bahwa sumur tidak mencapai reservoir utama


yang targetkan. Namun, Jati-1 diuji beberapa jumlah gas dan
kondensat dari Miosen pasir, membuktikan pergerakan
hidrokarbon di cekungan ini.

24

Gambar-9. Peta sebaran keterdapatan hidrokarbon di Jawa (Satyana, 2007)

Sistem minyakbumi di daerah Jawa Tengah dirangkum


kedalam Gambar-11 (Santoso et al, 2007).

25

Gambar-10. Rangkuman sistem minyakbumi daerah Jawa Tengah (Santoso et al, 2007).

OBSERVASI STOP SITE


Rincian Khusus Stop Site: Daerah Bulukuning
Daerah ini dipilih sebagai stop site pertama karena
terdapatnya singkapan batuan-dasar Pre-Tersier Komplek
Melange Luk ulo beserta batuan Eosen. Batuan Eosen di
daerah ini merupakan batuan Eosen yang baru ditemukan
berdasarkan penemuan fosil Nummulites sp yang terdapat
didalam sisipan batugampingnya (Prasetyadi, 2007),
sebelumnya batuan ini dipetakan oleh peneliti terdahulu
(Ketner et al, 1976; Condon et al, 1996) sebagai bagian dari
batuan mlange Pre-Tersier (Gambar-11).
Berdasarkan penemuan ini maka sekuen batuan sedimen yang
dijumpai di daerah ini dapat dianggap sebagai suatu satuan
litostratigrafi (formasi) tersendiri karena baik dari segi umur
maupun ciri litologinya berbeda dengan Komplek Melange Luk
Ulo yang terdapat di sekitarnya sehingga diusulkan satuan ini
sebagai formasi baru yang disebut
sebagai Formasi
Bulukuning (Prasetyadi, 2007; 2008).
Nama Bulukuning diambil dari nama dusun dimana sebagian
besar satuan batuannya tersingkap. Dusun Bulukuning
terletak di wilayah Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara,
Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.
Formasi Bulukuning ini sama dengan satuan batuan sedimen
yang dipetakan oleh Ketner dkk.(1976) sebagai Pre-Eocene
sedimentary sequence, dan oleh Condon dkk.(1996) sebagai
batuan sedimen berumur Kapur. Oleh para peneliti terdahulu
tersebut batuan sedimen ini dianggap sebagai batuan
sedimen Pra-Eosen ataupun sedimen Kapur karena tidak
ditemukannya fosil yang dapat dijadikan sebagai petunjuk
umurnya.
Umurnya hanya diperkirakan berdasarkan
hubungannya dengan Komplek Melange Luk Ulo yang berumur
Kapur yang mengepungnya.

Lintasan K. Poh (yang akan dilintasi dalam fieldtrip ini)


merupakan lokasi-tipe formasi ini. Penentuan K. Poh sebagai
lokasi-tipe didasarkan atas diketemukannya fosil foram besar
berumur Eosen Bawah di lokasi ini sebagai satu-satunya bukti
umur untuk formasi ini. K. Poh, yang terletak pada koordinat
1093351,2 BT dan 72839,4 LS, merupakan sungai
musiman, dengan arah aliran dari selatan ke utara, dan
merupakan anak cabang bagian selatan K. Sapi yang
merupakan sungai utama di daerah ini. Stratotipe formasi ini
merupakan stratotipe gabungan dari dua tipe penampang,
penampang K. Poh dan K. Lebakmenak yang berlokasi pada
koordinat 1093529,9 BT dan 72906,0 LS. Penampang
bagian bawah di K. Poh (Gambar-12) dimana kontak bagian
bawahnya, yang merupakan kontak sesar, dengan Komplek
Melange Luk Ulo dapat diamati. Sedangkan penampang
bagian atas terdapat di K. Lebakmenak dimana kontak bagian
atasnya, yang juga merupakan kontak sesar, dapat diamati
(Gambar-13).
Urutan litologinya dari bawah ke atas terdiri dari batupasir
berlapis, serpih dengan lensa-lensa konglomerat dan sisipan
batugamping. Hasil pengamatan petrografis memperlihatkan
keseluruhan
sekuen
batuan
sedimen
ini
telah
termetamorfkan. Batupasir yang mendominasi bagian bawah
sekuennya merupakan batupasir berwarna abu-abu sampai
putih kecoklatan, keras, berlapis dengan tebal antara 5-25
cm, perlapisannya menipis ke arah atas, berbutir halus
sampai sedang, bentuk butir umumnya menyudut tanggung,
komposisinya terdiri dari kuarsa, felspar, fragmen batuan,
dan sedikit rijang. Kebanyakan batupasirnya memiliki semen
silikaan, meskipun ada pula yang memiliki semen karbonatan
seperti yang dijumpai di lokasi K. Jlaran, dan di K. Poh. Pada
sayatan tipis, menurut klasifikasi Gilbert (1954), batupasir ini
termasuk
jenis
sublitharenite-litharenite.
Gejala
metamorfisme pada batupasir ini ditunjukkan dengan
hadirnya mineral mika pada matriknya sementara kontak
antara butiran fragmennya menunjukkan kontak interlocking

(Gambar-14). Pada umumnya struktur sedimen batupasir ini


berupa perlapisan sejajar. Sisipan batugamping dan batupasir
gampingan merupakan perlapisan dengan tebal antara 0.3
2.5 m, berwarna abu-abu sampai abu-abu kehitaman. Pada
sayatan tipis batugamping ini menunjukkan gejala foliasi,
rekahannya ada yang membentuk stilolit, mengandung pirit.
Pada salah satu lapisan batugamping yang mengandung foram
besar, kondisi fosil nampak memipih searah dengan foliasinya
disamping ada yang terpotong oleh rekahan-rekahan. Serpih
hitam mendominasi bagian atas sekuen. Serpih ini keras,
memiliki struktur fissility yang menonjol, yang didalamnya
terdapat lensa-lensa konglomerat polimik. Seperti halnya
batupasir,
serpih
ini
juga
menunjukkan
gejala
termetamorfkan ditandai oleh munculnya serabut-serabut
halus mineral mika yang membentuk struktur foliasi
(Gambar-15). Lensa-lensa konglomerat polimik memiliki
kontak yang tegas dengan serpih yang melingkupinya
(Gambar-16), berdiameter mulai dari 0.5 m sampai 5 m,
Sebagian besar komponen konglomerat, yang berukuran 2-12
cm, terdiri dari fragmen-fragmen urat kuarsa, batusabak,
basalt, sedikit sekis, dan rijang, kemasnya terbuka, dan
sebagian ada yang menunjukan perlapisan kacau. Sisipan
batugamping dijumpai pada lokasi KS-12 (pada koordinat
1093358,6 BT dan 72900,6 LS) dengan ketebalan 3
meter, banyak terdapat urat-urat kalsit dan mengandung fosil
foram besar (Nummulites sp.) (Gambar-17). Pada tempattempat tertentu satuan batuan ini terpotong oleh sesar-sesar
kecil.
Bagian atas dan bawah formasi ini merupakan kontak sesar
naik dengan batuan Komplek Melange Luk Ulo. Kontak bagian
atasnya berupa kontak sesar naik miring ke selatan antara
serpih hitam dengan bongkahan basalt Melange Luk Ulo yang
teramati dengan baik di lokasi KS-36 (pada koordinat
1093550,3 BT dan 72927,6 LS) (Gambar-18). Secara
struktur satuan metasedimen berumur Eosen Awal ini
umumnya miring ke selatan, dengan kemiringan 17-30, dan

tebal terukur mencapai sekitar 350 m. Hasil pengamatan


lapangan di daerah Bulukuning ini disajikan dalam Peta
Geologi Daerah Bulukuning (Gambar-19).
Di lintasan K. Poh, untuk pertama kalinya dtemukan fosil
foram besar disalah satu perlapisan batugampingnya
(Prasetyadi, 2007) (lihat Gambar-17). Tidak seperti fosil
foram besar Eosen yang dijumpai dari daerah lain (Bayat,
Nanggulan, dan Karangsambung) yang umumnya terdapat di
dalam batugamping berwarna putih dengan ukuran fosil 0.5
1.5 cm dan dalam jumlah yang melimpah, fosil foram besar di
K. Poh ini terdapat dalam lapisan batugamping dengan tebal
2.5 m, berwarna hitam, keras, dalam jumlah tidak melimpah,
dan berukuran lebih kecil (0.3-0.5 cm). Dibandingkan dengan
foram besar berumur Eosen Tengah dari Bayat, Nanggulan
dan Karangsambung, foram besar K. Poh umumnya memiliki
jumlah kamar pada sayatan vertikal lebih sedikit (5-6 buah),
dan yang khas adalah terdapatnya grannulate Nummulites
yang berumur lebih tua (Eosen Awal) (Lunt, 2005; komunikasi
personal). Tidak semua foram besar yang dijumpai dapat
diidentifikasi mengingat sulitnya mendapatkan sayatan
vertical dan sayatan horisontal yang melewati kamar awalnya
karena kondisi batugampingnya yang telah mengalami
metamorfosa. Spesies foram besar K. Poh yang dapat
diidentifikasi terdiri dari Assilina exponens, Assilina
granulosa, Nummulites pengaronensis, dan Nummulites sp
(grannulate). Himpunan foram besar ini berdasarkan
Klasifikasi Huruf Tersier (Adams, 1970) menunjukkan umur
Ta2 atau Eosen Awal (Tabel-1).
Stratigrafi Baru Daerah Luk-Ulo Karangsambung
Penelitian mutakhir (Prasetyadi, 2007) menghasilkan peta
geologi dan stratigrafi baru daerah Luk-Ulo, Karangsambung
(Gambar-20 dan 21) yang disusun berdasarkan hasil
penelitian lapangan di lintasan-lintasan terpilih di daerah
Komplek Melange Luk-Ulo dan sekitarnya. Di bagian utara
data lapangan terutama berasal dari pengamatan di daerah

Bulukuning dan Larangan, di bagian barat berdasarkan


pengamatan Binangun; di bagian timur dari daerah K. Gua,
Lamuk dan di bagian selatan terutama berasal dari hasil
penelitian di daerah Karangsambung. Stratigrafi baru ini
memunculkan tiga satuan batuan baru yang diusulkan sebagai
Formasi Bulukuning berumur Eosen Awal, Komplek Larangan
berumur Eosen Akhir, dan Anggota Breksi Mondo Formasi
Totogan berumur Oligosen Awal. Hadirnya Formasi
Bulukuning yang berumur Eosen Awal menunjukkan bahwa
pada saat formasi ini diendapkan proses subduksi yang
menghasilkan Komplek Melange Luk Ulo sudah tidak aktif dan
daerah bagian utara berubah menjadi cekungan laut dangkal
dimana Formasi Bulukuning diendapkan, sementara di bagian
yang lain, terutama di bagaian selatan, masih terdapat
daerah bekas palung subduksi Kapur yang berupa cekungan
sempit dan dalam dimana Formasi Karangsambung dan
Komplek Larangan diendapkan. Kenampakan terdeformasi
dari Komplek Larangan dan Formasi Karangsambung serta
kondisi Formasi Bulukuning yang merupakan satuan batuan
metasedimen menunjukkan bahwa setelah pengendapan
Formasi Karangsambung dan Komplek Larangan di daerah Luk
Ulo terjadi proses deformasi kompresional yang cukup
signifikan. Deformasi ini diinterpretasikan terjadi pada Eosen
Akhir-Oligosen Awal, sebelum periode terjadinya OAF.

Tabel-1: Foram besar di Kali Poh.

Gambar-11: Peta geologi daerah Luk Ulo Utara (Ketner dkk., 1976)

Gambar-12. Penampang terukur Kali Poh: Stratotipe Formasi Bulukuning


(bagian bawah), dicirikan oleh satuan batupasir dan serpih; satuan
batupasir kontak sesar dengan Komplek Melange Luk-Ulo.

Gambar-14. (A, B, dan C) singkapan meta-batupasir Formasi Bulukuning;


(D, E, dan F) fotomikrograf (nikol silang) sayatan tipisnya, lintasan K. Poh.

Gambar-13. Penampang terukur Kali Lebakmenak: Stratotipe Formasi


Bulukuning (bagian atas) memperlihatkan urutan satuan batupasir dan
serpih, satuan batupasir kontak sesar dengan Komplek Melange Luk-Ulo.

Gambar-15. (A) singkapan meta-serpih Formasi Bulukuning, (B dan C)


fotomikrograf (B, nikol sejajar; C, nikol silang) sayatan tipisnya,
lintasan K. Poh.

Gambar-16. (A dan B) singkapan lensa meta-konglomerat dalam metaserpih dan, (C) fotomikrograf (nikol silang) sayatan tipis meta-konglomerat
Formasi Bulukuning, lintasan K. Poh.

Gambar-18. Kontak sesar naik antara meta-serpih Formasi Bulukuning dan


basalt Komplek Melange Luk Ulo.

Gambar-17. (A, B, dan C) singkapan batugamping Nummulites Formasi


Bulukuning termetamorfkan, dan (D) fotomikrograf (nikol silang) sayatan
tipisnya, lintasan K. Poh.

Gambar-20. Stratigrafi Paleogen baru Luk Ulo yang diusulkan


(Prasetyadi, 2007).
Gambar-21. Peta geologi daerah Luk Ulo, Karangsambung yang baru, integrasi dengan penelitian terdahulu
(Prasetyadi, 2007).

FOTO-FOTO LAPANGAN

REFERENSI
Asikin, S., 1974, Evolusi geologi Jawa Tengah dan sekitarnya
ditinjau dari segi tektonik dunia yang baru. Lap. Tidak
dipublikasikan, disertasi, Dept. Teknik Geologi ITB, 103 hal.
Baumann, P., de Genevraye, P., Samuel, L., Mudjito, Sajekti,
S., 1973. Contribution to the geological knowledge of
Southwest
Java,
Proceedings
Indonesian
Petroleum
Association, the 2nd Annual Convention, p. 105-108.

Harsolumakso, A.H., M.E.Suparka, D.Noeradi, R.Kapid,


Y.Zaim, N.A.Magetsari, C.I.Abdullah, 1996, Status olistostrom
di daerah Luk Ulo, Jawa Tengah: suatu tinjauan stratigrafi,
umur dan deformasi. Kumpulan makalah seminar Nasional.
Lunt, P., Netherwood, R., and Huffman, O.F., 1998, IPA field
trip to Central Java,IPA Jakarta.
Katili, J.A., 1975. Volcanism and plate tectonics in the
Indonesian island arcs, Tectonophysics, 26, p. 165-188.

Bolliger, W., and De Ruiter, P.A.C., 1975, Geology of the


South Central Java offshore, Proceedings IPA, 4th Annual
Convention, Jakarta.

Ketner, K.B., M.Kastowo, Subroto et al., 1976, Pre-Eocene


rocks of Java, Indonesia, US Geological Survey Journal of
Research 4, 605-614.

Burgon, G., Lunt, P., and Allan, T., 2002. Indonesian


Petroleum Association Field Trip to Eastern Java, Indonesian
Petroleum Association.

Lokier, S.W., 2000. Volcaniclastic controls on carbonate


sedimentation within the Gunung Sewu area, south area,
South Central Java, Indonesia, Abstract, Proceeding of the
1st FOSI-IAGI Regional Seminar: Tectonics and Sedimentation
of Indonesia and 50th Anniversary Memorial of R.W. van
Bemmelens Book The Geology of Indonesia, p. 50.

Condon, W.H., Pardyanto, L., Ketner, K.B., Amin, T.C,


Gafoer, S., and Samodra, H., 1996, Geological map of the
Banjarnegara and Pekalongan sheet, Java, P3G, Bandung.
Hamilton, W., 1979. Tectonics of the Indonesian Region,
USGS Professional Paper 1078, US Govt. Print. Off.,
Washington DC, 345 ps.
Haq, B.U., Hardenbol, J., and Vail, P.R., 1987. Chronology of
fluctuating sea levels since the Triassic, Science, v. 235, p.
1156-1167.
Harsolumakso, A.H., M.E.Suparka, D.Noeradi, R.Kapid,
Y.Zaim, N.A.Magetsari, C.I.Abdullah, 1995, Karateristik
Struktur Melange di Daerah Luk Ulo, Kebumen, Jawa Tengah,
Prosiding Seminar Sehari Geoteknologi dalam Industrialisasi,
PPPG-LIPI, Bandung.

Pambudi, S. and Budiadi, E., 1999. Sedimentation model of


Jonggrangan Fm-Sentolo Fm in Gunung Kucir-West Gunung
Dlanggung area, Kulon Progo, Yogyakarta, Abstract,
Proceeding of the 1st FOSIIAGI Regional Seminar: Tectonics
and Sedimentation of Indonesia and 50th Anniversary
Memorial of R.W. van Bemmelens Book - The Geology of
Indonesia, p. 48-49.
Parkinson, C.D., K.Miyazaki, K.Wakita, A.J.Barber, and
D.A.Carswell, 1988, An overview and tectonic synthesis of the
pre-Tertiary very-high-pressure metamorphic and associated
rocks of Java, Sulawesi and Kalimantan, Indonesia, The Island
Arc (1988) 7, 000-000.

Prasetyadi, C., 2007, Evolution of Paleogene tectonic of


Eastern Java, unpublished ITB dissertation. ITB, Bandung.
Prasetyadi, C., Harsolumakso, A.H., Sapiie, B., and Setiawan,
J., 2002, Tectonic significance of pre-Tertiary rocks of Jiwo
Hill, Bayat and Luk Ulo, Karangsambung areas in Central
Java: A comparative review, Proceeding: 31st annual
convention of IAGI, p. 680-700.
Prasetyadi, C., Suparka, E.R., Harsolumakso, A.H., and
Sapiie, B., 2005, Eastern Java basement rock study:
Prelimenary results of recent field study in Karangsambung
and Bayat areas, Proceedings JCS 2005-HAGI-IAGI-PERHAPI,
Surabaya.
Prasetyadi, C., Suparka, E.R., Harsolumakso, A.H., and
Sapiie, B., 2006a, An overview of Paleogene stratigraphy of
the Karangsambung area, Central Java: Discovery of a new
type of Eocene rock, Proceedings Jakarta 2006 Internat.
Geosci. Conference and Exhibition, Jakarta.
Prasetyadi, C., Suparka, E.R., Harsolumakso, A.H., and
Sapiie, B., 2006b, The Larangan Complex: A newly found
Eocene tectonic melange rock in Karangsambung area,
Central Java, Indonesia, Extended abstract Internat.
Sedimentological Congress, Fukuoka
Satyana, A.H., 2002. Oligo-Miocene reefs: East Javas giant
fields, Proceedings Giant Field and New Exploration Concepts
Seminar, IAGI, Jakarta 17 October 2002.
Satyana, A.H. and Darwis, A., 2001. Recent significant
discoveries within Oligo-Miocene carbonates of the East Java
Basin: integrating the petroleum geology: Proceedings
Indonesian Association of Geologists (IAGI) 30th Annual
Convention and Geosea 10th Regional Congress, p. 42-46.

Satyana, A.H. and Djumlati, 2003. Oligo-Miocene carbonates


of the East Java Basin : Facies definition leading to recent
significant discoveries, American Assoc. of Petroleum
Geologists, International Conference at Barcelona.
Smyth, H., Hall, R., Hamilton, J., and Kinny, P., 2003,
Volcanic origin of quartz-rich sediments in East Java,
Proceeding IPA, 29th Annual Convention.
Smyth, H., Hall, R., Hamilton, J., and Kinny, P., 2005, East
Java: Cenozoic basins, volcanoes, and ancient basement,
Proceedings 30th IPA convention and exhibition, Jakarta.
Soeria-Atmadja, R., Maury, R.C., Bellon, H., Pringgoprawiro,
H., Polves, M., and Priadi, B., 1994. Tertiary magmatic belts
in Java, Journal of Southeast Asian Earth Sciences, v. 9, No.
, p. 13-27.
Sujanto, F.X. and Sumantri, Y.R., 1977. Preliminary study on
the Tertiary depositional patterns of Java, Proceedings
Indonesian Petroleum Association, the 6th Annual
Convention., p. 183-213.
Sumarso and Ismoyowati, T., 1975. Contribution to the
stratigraphy of the Jiwo Hills and their southern surroundings
(Central
Java),
Proceedings
Indonesian
Petroleum
Association, the 4th Annual Convention, p.19-26.
Surono, Toha, B., Sudarno, I., 1992. Peta Geologi Lembar
Surakarta-Giritontro, Jawa Tengah, Skala 1 : 100.000,
Geological Research and Development Centre, Bandung.
Van Bemmelen, R.W., 1970. The Geology of Indonesia, Govt.
Printing Office, The Hague, v. 1A, 732 ps.
Wakita, K., Munasri, and B.Widoyoko, 1994, Cretaceous
radiolarians from the Luk-Ulo Melange Complex in the

Karangsambung area, Central Java, Indonesia, J. of SE Asian


Earth Sci., Vol.9, No.1/2, pp. 29-43.
Wilson, M.E.J., 2000. Tectonic and volcanic influences on the
development and diachronous termination of a Tertiary
tropical carbonate platform, Journal of Sedimentary
Research, v. 70, No. 2, p. 310-324.