Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1

Topik

: Manipulasi Resin Akrilik Aktivasi Panas (Heat Cured)

Grup

: A2a

Tgl. Pratikum : Selasa, 20 Maret 2012


Pembimbing : Sri Yogyarti,drg., MS

Penyusun:
1. Ivan Indra Kusuma

( 020810264 )

2. Like Aprilia Karunia S.

( 021111018 )

3. Prevy Anirtha Savitri

( 021111019 )

4. Maretha Siwinata P.A

( 021111020 )

5. Aditya Dana Iswara

( 021111021 )

6. Ririh Setyo Khrisnanthi

( 021111022 )

7. Niken Probowati

( 021111023 )

8. Iklima Rizkia Bahfie

( 021111025 )

9. Annisa Fardhani

( 021111026 )

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2012
0

1. TUJUAN
1.1 Pada akhir praktikum mahasiswa dapat memanipulasi resin akrilik
aktivasi panas dengan cara dan alat yang tepat
1.2 Mahasiswa dapat mengamati tahap yang terjadi pada pencampuran
polimer dan monomer yaitu sandy stage, stringy stage, dough stage,
rubbery stage dan stiff stage.
2. METODE PRAKTIKUM
2.1 Bahan
a. Bubuk polimer dan cairan monomer
b. Cairan CMS ( Cold Mould Seal )
2.2 Alat
a. Mold
b. Stopwatch
c. Injeksi
d. Kuas kecil
e. Kuvet logam
f. Timbangan
g. Press kuvet
h. Plastik
i. Pisau malam
j. Pot porselin
k. Alat untuk merebus
2.3 Cara Kerja
2.3.1 Pengisian cetakan ( mould ) dengan adonan resin akrilik (
packing )
a. Bahan resin akrilik dan peralatan untuk packing disiapkan
di atas meja praktikum.
b. Permukaan mould dan sekitarnya diolesi dengan CMS
memakai kuas dan ditunggu sampai kering.
c. Cairan monomer diukur menggunakan

gelas

ukur

sebanyak 2ml, kemudian dituangkan ke dalam pot


porselin.
d. Bubuk polimer ditimbang sebanyak 4gr, kemudian
dimasukkan ke dalam pot porselin secara perlahan-lahan
sampai polimer terbasahi oleh monomer.
e. Awal waktu pengadukan dihitung/dicatat dengan stop
watch, campuran polimer dan monomer diaduk dengan
pisau malam bagian yang tumpul sampai homogen
kemudian pot porselin ditutup.
1

f. Mengamati tahapan sandy, stringy, dough ,rubbery ,dan


stiff dengan membuka tutup pot porselin.
g. Mencatat waktu masing-masing tahap
h. Pada percobaan pertama, adonan resin akrilik dimasukkan
ke dalam cetakan yang ada pada kuvet bawah setelah
stringy stage tercapai. Pada percobaan kedua, adonan resin
akrilik dimasukkan ke dalam cetakan yang ada pada kuvet
bawah setelah dough stage tercapai. Dan pada percobaan
ketiga, adonan resin akrilik dimasukkan ke dalam cetakan
yang ada pada kuvet bawah setelah rubbery stage tercapai.

i. Permukaan adonan resin akrilik ditutup dengan plastik,


kemudian kuvet atas dipasang dan dilakukan pengepresan
pada proses hidrolik. Setelah pengepresan, kuvet dibuka,
plastik diangkat dan kelebihan resin akrilik dipotong
dengan menggunakan pisau model tepat pada tepi cetakan.

j. Pengepresan kedua dilakukan, masih menggunakan plastik


dan kelebihan resin akan dipotong lagi.

k. Pada pengepresan terakhir tidak menggunakan plastik,


kuvet atas dan bawah harus rapat kemudian dipindahkan
pada handpress.

2.3.2

Proses kuring

Gambar : Proses awal kuring; kuvet dalam keadaan dipress


direndam dalam air (suhu kamar).

Proses kuring resin akrilik dilakukan sesuai dengan aturan


pabrik, untuk merk QC20 :
a. Memasak air pada dandang di atas kompor sampai
mendidih (suhu 100C)
b. Kuvet yang telah diisi akrilik dan dalam keadaan dipress
langsung dimasukkan pada air mendidih 100C selama 20
menit.
c. Kemudian api kompor dimatikan
2.3.3

Deflasking
Setelah proses kuring, kuvet diberi air dingin secara perlahan
sampai dingin (suhu kamar). Kemudian kuvet dibuka, sampel
diambil secara hati-hati dengan menggunakan pisau malam.

3. HASIL PRAKTIKUM

Gambar hasil praktikum Resin Akrilik Heat cured (dari kiri : Hasil
percobaan I (Stringy), percobaan II Dough), dan percobaan III (Rubberry).
3.1 Tabel Hasil Praktikum Resin Akrilik Heat cured
Percobaan

Percobaan I

Percobaan II

Percobaan III

(Stringy)

(Dough/Normal)

(Rubberry)

Perbandingan
Kelenturan
Porus
Flow
Warna
Mencapai Tahap
Stiff

Paling Tinggi
Paling banyak
Paling Tinggi
Paling pucat

Paling Rendah
Hampir tidak ada
Sedang
Sedang

Sedang
Ada, tapi sedikit
Paling sedikit
Paling gelap

Paling cepat

Paling lama

Sedang

3.2 Tabel perbandingan waktu mencapai tahap-tahap polimerisasi Resin


Akrilik Heat cured pada percobaan I, II, dan III

Tahap
Sandy

Stringy

Dough

Rubberry

Stiff

Percobaan I

30 detik

5 menit

9 menit

15 menit

30 menit

Percobaan II

30 detik

25 menit

40 menit

Percobaan III

30 detik

20 menit

35 menit

Percobaan

2 menit 12 19 menit 12
detik

detik

5 menit

15 menit

4. TINJAUAN PUSTAKA
4.1 Komposisi
Resin akrilik aktivasi panas (heat cured) terdiri dari: (Van
Noort,R., 2007)
A. Bubuk
- Polimer (poli metil metakrilat)
- Initiator : diisobutylizonitrile/benzoil peroksida (0,2 0,5 %)
- Pigmen : garam cadmium / besi / zat warna organik. Zat warna
anorganik biasa digunakan karena bersifat lebih
permanen dan tahan lama dibanding zat warna
organik. Zat warna anorganik yang sering digunakan
adalah mercuric sulfide (merah), cadmium sulfide
(kuning) atau ferric oxide (coklat) ditambahkan
dengan kadar yang rendah. Zat warna tersebut
diberikan untuk menyesuaikan warna basis gigi tiruan
dengan warna jaringan lunak.
- Plasticizer : dibutil phthalate
- Opacifiers : zinc / Titanium oksida
- Dyed synthetic fibers : nylon/acrylic
- Organic particles : glass fibers/zirconium silicate
B. Cairan
- Monomer (metil metakrilat)
- Stabilizer :

sekitar 0,006 % hidroquinon untuk mencegah


berlangsungnya polimerisasi selama penyimpanan.

- Bahan untuk memacu ikatan silang, seperti etilen glikol


dimetakrilat (1-2 %)
- Plasticizer : dibutyl phtalate atau butyl/octyl methyl methacrylate
Cairan monomer sangat mudah menguap dan terbakar. Sehingga
penyimpanannya harus menggunakan botol kaca gelap dan
dijauhkan dari api. Penggunaan botol kaca gelap bertujuan untuk

menghindari proses polimerisasi langsung dengan cahaya. (Van


Noort,R., 2007)
Resin akrilik pada umumnya mengandung benzoyl peroxide.
Ketika dipanaskan di atas 60C, molekul benzoyl peroxide
mengalami dekomposisi dan menghasilkan spesies netral yang
mengandung electron tidak berpasangan. Spesies ini disebut radikal
bebas. Setiap radikal bebas bereaksi cepat dengan molekul monomer
yang tersedia untuk memulai rantai pertumbuhan polimerisasi.
(Anusavice KJ, 2003)
Pada akrilik aktivasi panas, dekomposisi benzoyl peroxide
disebabkan oleh panas,oleh sebab itu panas disebut activator. Pada
akrilik aktivasi panas polimerisasi yang terjadi yaitu polimerisasi
tambahan. Proses polimerisasi tambahan dimulai ketika penambahan
monomer ke dalam rantai polimer. Di dalam teori, rantai dapat
tumbuh tanpa batas sampai seluruh rantai monomer habis.
Polimerisasi tambahan dapat menghasilkan makromolekul dalam
bentuk yang tidak terbatas. Tidak ada perubahan komposisi selama
proses polimerisasi karena monomer dan polimer tetap pada rumus
empiris yang sama. (Anusavice KJ,2003)
Pada polimerisasi tambahan melibatkan tiga proses yaitu inisiasi,
propagasi, dan terminasi. Inisiasi adalah pembentukan spesies aktif
yang dapat menginisiasi polimerisasi. Propagasi adalah pembentukan
polimer dengan massa molekul tinggi. Terminasi adalah deaktivasi
untuk mengahasilkan polimer yang stabil. (Taba,p.2010)
Inisiasi,untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator
dan adisi molekul monomer pada salah satu radikal bebas yang
terbentuk. Propagasi terjadi pada saat radikal bebas yang terbentuk
pada tahap inisiasi berubah menjadi makromolekul dimana memiliki
ikatan rangkap.Terminasi dapat terjadi melalui reaksi antara radikal
polimer yang sedang terjadi dengan radikal mula mula-mula yang
terbentuk dari inisiator.

4.2 Manipulasi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat manipulasi resin
akrilik polimerisasi panas yaitu :
a. Perbandingan polimer dan monomer
Perbandingan yang umum digunakan adalah 3,5:1 satuan volume
atau 2,5:1 satuan berat. Bila monomer terlalu sedikit maka tidak
semua polimer dapat dibasahi oleh monomer sehingga akrilik yang
telah selesai berpolimerisasi akan bergranul. Sebaliknya, pemberian
monomer yang terlalu banyak dapat menyebabkan kontraksi yang
terjadi pada adonan resin akrilik besar.
b. Pencampuran
Polimer dan monomer dengan perbandingan yang benar dicampur
dalam tempat yang tertutup lalu dibiarkan beberapa menit hingga
mencapai fase dough. Pada saat pencampuran ada lima tahap yang
terjadi yaitu :
1.

Sandy stage
Merupakan tahap per tama saat polimer dan monomer
dicampur dan apabila diamati maka adonan masih seper ti
pasir, sedikit kasar dan berbutir serta konsistensinya basah.
( Hatrick, 2003 )

2.

Stringy stage
Pada tahap stringy, polimer menyerap cairan monomer.
Beberapa rantai polimer terdispersi dalam monomer cair.
Rantai

polimer

melepaskan

jalinan

ikatan

sehingga

meningkatkan kekentalan adukan. Ciri tahap stringy yaitu


adonan akan melekat dan berserat ketika ditarik. (Hatrick,
2003)
Adonan pada tahap stringy memiliki konsistensi yang
rendah. Sehingga pada saat dilakukan pengepresan, hasil
cetakan

tidak

padat

dan

terjadi

porositas.

Porositas

mempengaruhi sifat fisik, kebersihan serta nilai estetik dari


protesa tersebut. Shrinkage porosity kelihatan sebagai
8

gelembung yang tidak beraturan bentuk di seluruh permukaan


gigi tiruan sedangkan gaseous porosity terlihat berupa
gelembung kecil halus yang uniform.
Hasil pengepresan tahap stringy juga lebih lentur.
Kekuatannya dipengaruhi oleh derajat polimerisasinya.
Polimerisasi dalam waktu singkat menghasilkan monomer
sisa lebih tinggi. Monomer sisa yang tinggi berpotensi untuk
menyebabkan iritasi jaringan mulut, inflamasi dan alergi,
selain itu juga dapat mempengaruhi sifat fisik resin akrilik
yang dihasilkan karena monomer sisa akan bertindak sebagai
plasticizer yang menyebabkan resin akrilik menjadi fleksibel
dan kekuatannya menurun. (Anusavice KJ, 2003) Pada tahap
stringy proses polimerisasi belum berjalan sepenuhnya.
Pembuatan basis menggunakan akrilik seharusnya dilakukan
pada saat tahapan dough.
Karena proses polimerisasi yang belum berjalan
sempurna,warna hasil pengepresan juga lebih pudar dan jika
dipegang masih ada bubuk sisa polimernya. Tapi polimerisasi
yang belum sempurna itu menyebabkan campuran adonan
bubuk polimer dengan larutan monomer lebih cair. Sehingga
flow campuran lebih bagus.
3.

Dough stage
Pada tahap ini jumlah rantai polimer yang memasuki
larutan meningkat dan terjadi larutan monomer dan polimer
yang terlarut. Namun terdapat sejumlah polimer yang belum
larut. Proses hingga fase dough berakhir lebih kurang 3
menit. Bila fase dough berakhir campuran sudah tidak bisa
dimanipulsi. Ciri dough stage yaitu adonan halus, homogen,
mudah diangkat dan tidak melekat lagi, tahap ini merupakan
waktu yang tepat untuk memasukkan adonan ke dalam
mould. (Van Noort, R., 2007)
Waktu dough tergantung pada :

a. Ukuran partikel polimer, partikel yang lebih kecil lebih


cepat larut dan lebih cepat tercapai konsistensi dough.
b. Berat molekul polimer, lebih kecil berat molekul lebih
cepat terbentuk konsistensi dough.
c. Terdapatnya

plastisizer

yang

akan

mempercepat

terbentuknya dough.
d. Suhu
e. Perbandingan polimer dan monomer, bila tinggi, waktu
dough lebih singkat.
4.

Rubbery stage
Karakteristik rubbery stage yaitu adonan bersifat
seperti karet (terasa kenyal dan memantul bila ditekan atau
diregangkan) dan tidak dapat dibentuk dengan kompresi
konvensional.

5.

Stiff
Merupakan tahap dimana adonan akan tampak kering
dan berubah menjadi keras akibat adanya penguapan
monomer bebas.

c. Pengisian
Sebelum pengisian, dinding mould diberi bahan separator untuk
mencegah merembesnya cairan ke bahan mould dan berpolimerisasi
sehingga menghasilkan permukaan yang kasar, merekat dengan
bahan tanam gips dan mencegah air dari gips masuk ke dalam resin
akrilik.
Pengisian adonan ke dalam mould harus diperhatikan agar terisi
penuh dan saat dipres terdapat tekanan yang cukup pada mould.
Setelah pengisian adonan ke dalam mould penuh kemudian
dilakukan pres pertama sebesar 1000 psi ditunggu selama 5 menit
agar mould terisi padat dan kelebihan resin dibuang kemudian
dilakukan pres terakhir dengan tekanan 2200 psi ditunggu selama 5
menit. Selanjutnya kuvet dipasang mur dan dilakukan proses kuring.

10

d. Kuring
Kuvet beserta press dipanaskan pada suhu 70C selama 7 jam,
selanjutnya 100C dibiarkan selama 3 jam. (Mc Cabe,2008) Namun
waktu proses kuring juga dapat ditentukan oleh pabrik berdasarkan
merk monomer dan polimer yang digunakan.
5. PEMBAHASAN
5.1 Latar Belakang
Bahan resin akrilik merupakan salah satu bahan untuk pembuatan
basis gigi tiruan lepasan. Resin akrilik sering digunakan karena proses
pembuatannya mudah, harga relatif murah, mudah direparasi dan bernilai
estetis. Polimer (powder) dan monomer (liquid) merupakan komposisi
pembuatan resin akrilik heat cured.
Tahapan pembentukan resin akrilik heat cured yaitu tahap mixing,
pengepresan, curing dan deflasking. Campuran polimer dan monomer
akan melalui beberapa tahap yaitu sandy stage, stringy stage, dough
stage, rubbery stage, dan stiff stage.
Pada praktikum ini kami melakukan beberapa percobaan manipulasi
resin akrilik heat cured dengan 3 jenis tahapan campuran polimer dan
monomer yang berbeda saat melakukan proses pengepresan. Hal tersebut
dilakukan dengan tujuan mengetahui sifat akrilik yang dihasilkan dari
percobaan-percobaan tersebut dan dapat melakukan manipulasi resin
akrilik heat cured dengan tepat.
5.2 Hubungan Hasil Praktikum dengan Teori
Dibandingkan percobaan yang lainnya, percobaan I (tahap Stringy)
lebih cepat

berpolimerisasi ke tahap Stiff. Hal itu disebabkan oleh

adanya pengaruh udara yang lebih besar dibandingkan yang lainnya atau
lebih tepatnya waktu pelaksanaan praktikum pada percobaan I, meja
yang dipakai untuk praktikum dekat dengan sumber udara yang ada di
ruang

praktikum

tersebut,

yaitu

Air

Conditioner

(AC)

yang

11

mengeluarkan udara dingin yang dapat menyebabkan proses polimerisasi


yang lebih cepat.
Dibandingkan dengan percobaan lainnya, percobaan II(tahap Dough)
paling lambat mencapai atau berpolimerisasi ke tahap dough. Hal itu
disebabkan karena cairan monomer yang terlalu banyak karena
menyebabkan kontraksi yang lebih besar (21% satuan volume) daripada
yang seharusnya (7% volume) sehingga membutuhkan waktu lebih lama
ke fase dough, lalu pada tahap dough, adonan memiliki flow yang bagus
dan bersifat plastis, sehingga hasil cetakan sempurna, dengan porositas
rendah .(Christo B.S, 2011)
Percobaan III (tahap Rubbery) menghasilkan akrilik dengan porus
yang banyaknya lebih rendah dari percobaan 1(tahap stringy). Proses
polimerisasi bahan resin akrilik tidak pernah terjadi dengan sempurna,
meskipun proses kuring bahan resin akrilik telah dilakukan dengan
mengikuti aturan-aturan yang telah ditentukan, namun masih juga
terdapat sejumlah monomer yang belum bereaksi dengan bubuk polimer.
Warna akrilik pada percobaan III (tahap rubbery) lebih gelap dan tidak
transparan. Kekuatan akrilik rubbery stage seharusnya cukup kuat tetapi
tidak lebih kuat dari dough stage. Hal tersebut terjadi karena adanya
porus yang disebabkan flow tahap rubbery yang kurang mengalir. Namun
hasil akrilik pada percobaan III (tahap rubbery) lebih kuat dibandingkan
dengan percobaan II (tahap dough). Hal ini disebabkan karena adonan
pada fase rubbery yang digunakan adalah fase rubbery awal dimana
konsistensinya sama seperti dough akhir. Sehingga hasil percobaan III
(tahap rubbery) cenderung lebih baik dari percobaan II (tahap dough)
yang merupakan fase proporsional untuk aplikasi akrilik.
6. SIMPULAN

Resin akrilik aktivasi panas (heat cured) terdiri dari bubuk polimer
(poli metil metakrilat) dengan cairan monomer (metil metakrilat)

Perbandingan yang umum digunakan adalah 3,5:1 satuan volume atau


2,5:1 satuan berat. Bila monomer terlalu sedikit maka tidak semua

12

polimer dapat dibasahi oleh monomer sehingga akrilik yang telah


selesai berpolimerisasi akan bergranul. Sebaliknya, pemberian
monomer yang terlalu banyak dapat menyebabkan kontraksi yang
terjadi pada adonan resin akrilik besar..

Pada saat pencampuran ada lima tahap yang terjadi yaitu :


1. Sandy stage
2. Stringy stage
3. Dough stage
4. Rubbery stage
5. Stiff

Proses polimerisasi pada resin akrilik heat cured dipengaruhi oleh


suhu ruangan, apabila campuran polimer dan monomer ditempatkan
pada ruang terbuka, maka akan lebih cepat terjadi polimerisasi karena
cairan monomer menguap ke udara. Perbandingan polimer dan
monomer juga mempengaruhi proses polimerisasi.

Akrilik yang paling baik adalah akrilik yang dihasilkan oleh adonan
dough stage.
Daftar Pustaka

Anusavice KJ. 2003. Science of Dental Materials 11th ed. London: W.B. Saunders
Company. p 730-731; 155-160.
Christo B.S . 2011. Perbedaan Kekuatan Transversal Bahan Basis Gigi Tiruan
Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Ketebalan Yang Berbeda dengan dan
Tanpa Penambahan Serat Kaca. Tesis dipublikasikan. Medan: FKG USU
Medan.
Hatrick CD, Eackle WS, Bird WF. 2010. Dental Material: Clinical Application
for Dental Assistants and Dental Hygienists 2nd ed. Saunders. Elsevier
Science Limited. Philadelphia, London. p 220-222.
Mc Cabe, JF., Walls A. 2008. Applied Dental Materials 9th ed. Wiley, John and
Sons Incorporated.

13

Phillips, Ralph W, and Eugene W skinner: The Science Of Dental Materials.


London: W.B. Saunders Company. p 179-181.
Taba, P. 2010. Polimerisasi Adisi.
Van Noort, Richard. 2007. Introduction to Dental Materials 3rd ed. London: WB
Saunders Company. p 216-217.
Watri, Desi. 2011. Pengaruh Penambahan Serat Kaca pada Bahan Basis Gigitiruan
Resin Akrilik Polimerisasi Panas terhadap Kekuatan Impak dan Transversal.
Tesis dipublikasikan. Medan: FKG USU Medan.

14