Anda di halaman 1dari 10

jPharmaceutical Care dan Farmasi Klinik

Farmasi klinik adalah suatu disiplin ilmu kesehatan di mana


farmasis memberikan asuhan (care; bukan hanya jasa
pelayanan klinis) kepada pasien dengan tujuan untuk
mengoptimalkan terapi obat dan mempromosikan
kesehatan, wellness dan prevensi penyakit.
Clinical Pharmacy is a health science discipline in which
pharmacists provide patient care that optimizes medication
therapy and promotes health, wellness, and disease
prevention : seehttp://www.ac

Definisi Dan Lingkup Farmasi Klinik


Posted on Mei 25, 2010

0
a. Definisi Farmasi Klinik
Pelayanan Farmasi klinik adalah pelayanan Farmasi yang diberikan sebagai bagian dari perawatan
penderita melalui interaksi dengan profesi kesehatan lainnya yang secara langsung terkait dengan
perawatan penderita.
Ruang lingkupnya meliputi pengkajian order obat, pengambilan sejarah pengobatan penderita,
partisipasi dalam kunjungan ke ruangan perawatan penderita, pembuatan Profil Pengobatan
Penderita (P3), Pemantauan Terapi Obat (PTO) pendidikan dan konseling bagi penderita, pelayanan
informasi obat bagi profesi kesehatan, peranan dalam program jaminan mutu, Evaluasi Penggunaan
Obat (EPO), pemantauan reaksi obat yang merugikan (MESO), pelayanan Total Parenteral Nutrition.
b. Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan informasi obat meliputi kegiatan :
1. Memberikan dan menyampaikan informasi kepada konsumen secara aktif dan pasif.
2. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap
muka.
3. Membuat buletin, leaflet atau tatap muka.
4. Menyediakan informasi bagi PFT (Panitia Farmasi Terapi) sehubungan dengan penyusunan
Formularium Rumah Sakit.
5. Bersama dengan pelayanan kesehatan Rumah Sakit melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien
rawat jalan atau rawat inap.
6. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga Farmasi dan tenaga kesehatan lainnya.
7. Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian.
8. Melakukan kegiatan kefarmasian yaitu segala sesuai yang berhubungan dengan obat-obatan baik
pengadaan, penyimpanan maupun pendistribusiannya.
c. Pelayanan Konseling Penderita
Instalasi Farmasi Rumah Sakit mengadakan pelayanan konseling penderita yang merupakan suatu
proses sistemik untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan

pengambilan dan penggunaan obat. Kegiatan pelayanan ini diutamakan untuk pasien rawat jalan,
karena pasien bertanggungjawab atas obatnya sendiri.
Langkah-langkah pelaksanaan pelayanan konseling obat meliputi :
1. Menghilangkan barrier (penghalang) yang ada dalam berkomunikasi antara
Apoteker dan penderita yaitu :
a) Barrier risk (ruangan yang kurang nyaman, kondisi fisik pasien yang sedang sakit)
b) Barrier psikologis (tingkat pendidikan pasien, adanya rasa takut pada pasien)
c) Barrier komunikasi (verbal dan non verbal)
2. Menggunakan Metode Konseling yaitu :
a) Three Primer Question
1) Menanyakan 3 pertanyaan kunci menyangkut obat yang dikatakan oleh Apoteker kepada pasien
misalnya.
2) Bagaimana penjelasan dokter tentang obat anda ?
3) Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara pakai obat anda?
4) Bagaimana penjelasan Dokter tentang harapan memakai obat ini.
b) Show and Tell
Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat.
c) Final Verification
1) Meminta pasien untuk mengulang instruksi.
2) Untuk meyakinkan bahwa yang disampaikan apoteker tidak ada yang terlewatkan.
3) Koreksi bila ada kesalahan.
3. Memahami Kondisi Pasien, Penyakit dan Obatnya.
4. Mencari dan mengikuti terus perkembangan dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan
kesehatan (penyakit dan obatnya), sehingga dapat mendukung pelaksanaan konseling yang selalu up
to date.
d. Pemantauan Reaksi Obat Yang Merugikan
Kegiatan pemantauan reaksi obat yang merugikan merupakan bagian dari kegiatan Tim Farmasi dan
Terapi, yang lebih dikenal dengan istilah monitoring efek samping obat (MESO). Laporan efek
samping obat umumnya berasal dari ruang perawatan, laporan tersebut dikirim kepada tim MESO
panitia Farmasi dan terapi untuk diverifikasi, dianalisa dan dievaluasi.
Kegiatan MESO dilaporkan oleh panitia MESO nasional untuk dilakukan tindak lanjutnya (berupa
regulasi, feedback kepada pelapor.

DRUG RELATED PROBLEM


2.1. Definisi
Terapi dengan menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau
mempertahankan hidup pasien. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara: mengobati penyakit pasien,
mengurangi atau meniadakan gejala sakit, menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta
mencegah penyakit atau gejalanya. Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam pemberian
obat yaitu kemungkinan terjadinya hasil pengobatan tidak seperti yang diharapkan (Drug Related
Problem).
Drug Related Problem (DRP) dapat didefinisikan sebagai kejadian tidak di inginkan yang menimpa
pasien yang berhubungan dengan terapi obat dan secara nyata maupun potensial berpengaruh
terhadap perkembangan pasien yang diinginkan.

2.2. Komponen DRP


Suatu kejadian dapat disebut DRP bila memenuhi dua komponen berikut :
1. Kejadian tidak diinginkan yang dialami pasien
Kejadian ini dapat berupa keluhan medis, gejala, diagnosis penyakit, ketidakmampuan (disability)

atau sindrom; dapat merupakan efek dari kondisi psikologis, fisiologis, sosiokultural atau ekonomi.
2. hubungan antara kejadian tersebut dengan terapi obat
Bentuk hubungan ini dapat berupa konsekuensi dari terapi obat maupun kejadian yang memerlukan
terapi obat sebagai solusi maupun preventif.
Sebagai pengemban tugas pelayanan kefarmasian, seorang farmasis memiliki tanggung jawab
terhadap adanya DRP yaitu dalam hal:
1. Mengidentifikasi masalah
2. Menyelesaikan masalah
3. Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya DRP

2.3. Klasifikasi DRP


2.3.1. Indikasi
Pasien mengalami masalah medis yang memerlukan terapi obat (indikasi untuk penggunaan obat),
tetapi tidak menerima obat untuk indikasi tersebut.
a. Pasien memerlukan obat tambahan
Keadaan yang ditemukan pada DRP adalah suatu keadaan ketika pasien menderita penyakit
sekunder yang mengakibatkan keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya, sehingga
memerlukan terapi tambahan. Penyebab utama perlunya terapi tambahan antara lain ialah untuk
mengatasi kondisi sakit pasien yang tidak mendapatkan pengobatan, untuk menambahkan efek
terapi yang sinergis, dan terapi untuk tujuan preventif atau profilaktif. Misalnya, penggunaan obat
AINS biasanya dikombinasikan dengan obat antihistamin 2 dengan tujuan untuk mencegah terjadinya
iritasi lambung.
b. Pasien menerima obat yang tidak diperlukan
Pada kategori ini termasuk juga penyalahgunaan obat, swamedikasi yang tidak benar, polifarmasi
dan duplikasi. Merupakan tanggungjawab farmasi agar pasien tidak menggunakan obat yang tidak
memiliki indikasi yang tepat. DRP kategori ini dapat menimbulkan implikasi negatif pada pasien
berupa toksisitas atau efek samping, dan membengkaknya biaya yang dikeluarkan diluar yang
seharusnya. Misalnya, pasien yang menderita batuk dan flu mengkonsumsi obat batuk dan analgesikantipiretik terpisah padahal dalam obat batuk tersebut sudah mengandung paracetamol.

2.3.2. Efektivitas
a. Pasien menerima regimen terapi yang salah
Terapi multi obat (polifarmasi)
Polifarmasi merupakan penggunaan obat yang berlebihan oleh pasien dan penulisan obat berlebihan
oleh dokter dimana pasien menerima rata-rata 8-10 jenis obat sekaligus sekali kunjungan dokter atau
pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis

obat. Jumlah obat yang diberikan lebih dari yang diperlukan untuk pengobatan penyakit dapat
menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti pemberian puyer pada anak dengan batuk pilek
yang berisi :
- Amoksisillin
- Parasetamol
- Gliseril Guaiakolat
- Deksametason
- CTM
- Luminal
Dari hal tersebut terlihat adanya polifarmasi, seorang farmasis bisa menkonfirmasikan atau
mendiskusikan terlebih dahulu kepada dokter sehingga penggunaan yang tidak perlu seperti
deksametason dan luminal sebaiknya tidak diberikan untuk mencegah terjadinya regimen terapi yang
salah.
Frekuensi pemberian
Banyak obat harus diberikan pada jangka waktu yang sering untuk memelihara konsentrasi darah
dan jaringan. Namun, beberapa obat yang dikonsumsi 3 atau 4 kali sehari biasanya benar-benar
manjur apabila dikonsumsi sekali dalam sehari.
Contohnya
- frekwensi pemberian amoksisilin 4 kali sehari yang seharusnya 3 kali sehari.
- cara pemberian yang tidak tepat misalnya pemberian asetosal atau aspirin sebelum makan, yang
seharusnya diberikan sesudah makan karena dapat mengiritasi lambung.
Durasi dari terapi
Contohnya penggunaan antibiotik harus diminum sampai habis selama satu kurum pengobatan,
meskipun gejala klinik sudah mereda atau menghilang sama sekali. Interval waktu minum obat juga
harus tepat, bila 4 kali sehari berarti tiap enam jam, untuk antibiotik hal ini sangat penting agar kadar
obat dalam darah berada diatas kadar minimal yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit.
b. Pasien menerima obat yang benar tetapi dosisnya terlalu rendah
Pasien menerima obat dalam jumlah lebih kecil dibandingkan dosis terapinya. Hal ini dapat menjadi
masalah karena menyebabkan tidak efektifnya terapi sehingga pasien tidak sembuh, atau bahkan
dapat memperburuk kondisi kesehatannya. Hal-hal yang menyebabkan pasien menerima obat dalam
jumlah yang terlalu sedikit antara lain ialah kesalahan dosis pada peresepan obat, frekuensi dan
durasi obat yang tidak tepat dapat menyebabkan jumlah obat yang diterima lebih sedikit dari yang
seharusnya, penyimpanan juga berpengaruh terhadap beberapa jenis sediaan obat, selain itu cara
pemberian yang tidak benar juga dapat mengurangi jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh pasien.
Ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan kejadian tersebut yaitu antara lain obat
diresepkan dengan metode fixed model (hanya merujuk pada dosis lazim) tanpa mempertimbangkan

lebih lanjut usia, berat badan, jenis kelamin dan kondisi penyakit pasien sehingga terjadi kesalahan
dosis pada peresepan. Adanya asumsi dari tenaga kesehatan yang lebih menekankan keamanan
obat dan meminimalisir efek toksik terkadang sampai mengorbankan sisi efektivitas terapi.
Ketidakpatuhan pasien yang menyebabkan konsumsi obat tidak tepat jumlah, antara lain disebabkan
karena faktor ekonomi pasien tidak mampu menebus semua obat yang diresepkan, dan pasien tidak
paham cara menggunakan obat yang tepat. Misalnya pemberian antibiotik selama tiga hari pada
penyakit ISFA Pneumonia.

2.3.3 Keamanan
a. Pasien menerima obat dalam dosis terlalu tinggi
Pasien menerima obat dalam jumlah dosis terlalu tinggi dibandingkan dosis terapinya. Hal ini tentu
berbahaya karena dapat terjadi peningkatan resiko efek toksik dan bisa jadi membahayakan Hal-hal
yang menyebabkan pasien menerima obat dalam jumlah dosis terlalu tinggi antara lain ialah
kesalahan dosis pada peresepan obat, frekuensi dan durasi minum obat yang tidak tepat. Misalnya,
penggunaan fenitoin dengan kloramfenikol secara bersamaan, menyebabkan interaksi farmakokinetik
yaitu inhibisi metabolisme fenitoin oleh kloramfenikol sehingga kadar fenitoin dalam darah meningkat.
b. Pasien mengalami efek obat yang tidak diinginkan (Adverse drug reaction)
Dalam terapinya pasien mungkin menderita ADR yang dapat disebabkan karena obat tidak sesuai
dengan kondisi pasien, cara pemberian obat yang tidak benar baik dari frekuensi pemberian maupun
durasi terapi, adanya interaksi obat, dan perubahan dosis yang terlalu cepat pada pemberian obatobat tertentu.
ADR merupakan respon terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak diharapkan serta terjadi pada
dosis lazim yang dipakai oleh manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi.
Pada umumnya ADR dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :
1. Reaksi tipe A
Reaksi tipe A mencakup kerja farmakologis primer atau sekunder yang berlebihan atau perluasan
yang tidak diharapkan dari kerja obat seperti diuretik mengimbas hipokalemia atau propanolol
mengimbas pemblok jantung. Reaksi ini seringkali bergantung dosis dan mungkin disebabkan oleh
suatu penyakit bersamaan, interaksi obat-obat atau obat-makanan. Reaksi tipe A dapat terjadi pada
setiap orang.
2. Reaksi tipe B
Reaksi tipe B merupakan reaksi idiosinkratik atau reaksi imunologi. Reaksi alergi mencakup tipe
berikut :
a. Tipe I, anafilaktik (reaksi alergi mendadak bersifat sistemik) atau segera (hipersensitivitas)
b. Tipe II, sitotoksik
c. Tipe III, serum

d. Tipe IV, reaksi alergi tertunda misalnya penggunaan fenitoin dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan Steven Johnson syndrome.

3. Reaksi Tipe C (berkelanjutan)


Reaksi tipe C disebabkan penggunaan obat yang lama misalnya analgesik, nefropati.
4. Reaksi Tipe D
Reaksi tipe D adalah reaksi tertunda, misalnya teratogenesis dan karsinogenesis.
5. Reaksi Tipe E
Reaksi tipe E, penghentian penggunaan misalnya timbul kembali karena ketidakcukupan
adrenokortikal.

2.3.4. Kepatuhan
Kepatuhan adalah tingkat ketepatan perilaku seorang individu dengan nasehat medis atau
kesehatan. Kepatuhan pasien untuk minum obat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Persepsi tentang kesehatan
b. Pengalaman mengobati sendiri
c. Pengalaman dengan terapi sebelumnya
d. Lingkungan (teman, keluarga)
e. Adanya efek samping obat
f. Keadaan ekonomi
g. Interaksi dengan tenaga kesehatan (dokter, apoteker, perawat).
Akibat dari ketidakpatuhan (non-compliance) pasien untuk mengikuti aturan selama pengobatan
dapat berupa kegagalan terapi dan toksisitas. Ketidakpatuhan seolah-olah diartikan akibat kelalaian
dari pasien, dan hanya pasienlah yang bertanggung jawab terhadap hal-hal yang terjadi akibat
ketidakpatuhannya. Padahal penyebab ketidakpatuhan bukan semata-mata hanya kelalaian pasien
dalam mengikuti terapi yang telah ditentukan, namun banyak faktor pendorongnya, yaitu :

a. Obat tidak tersedia


Tidak tersedianya obat yang dibutuhkan pasien diapotek terdekat menyebabkan pasien enggan untuk
menebus obat keapotek lain.
b. Regimen yang kompleks
Jenis sediaan obat terlalu beragam, misalnya pada saat bersamaan pasien mendapat sirup, tablet,
tablet hisap, dan obat inhaslasi, hal ini dapat menyebabkan pasien enggan minum obat.
c. Usia lanjut
Misalnya, banyak pasien geriatrik menggunakan lima atau eman obat-obatan beberapa kali dalam

sehari pada waktu yang berbeda. Kesamaan penampilan seperti ukuran, warna, atau bentuk obatobat tertentu dapat berkontribusi pada kebingungan. Beberapa pasien geriatrik dapat mengalami
hilang daya ingat yang membuat ketidak patuhan lebih mungkin.
d. Lamanya terapi
Pemberian obat dalam jangka panjang misalnya pada penderita TBC, DM, arthritis, hipertensi dapat
mempengaruhi kepatuhan pasien, dimana pasien merasa bosan dalam penggunaan obat tersebut
yang menyebabkan efek terapi tidak tercapai.
e. Hilangnya gejala
Pasien dapat merasa lebih baik setelah menggunaan obat dan merasa bahwa ia tidak perlu lebih
lama menggunakan obatnya setelah reda. Misalnya, ketika seorang pasien tidak menghabiskan
obatnya selama terapi antibiotik setelah ia merasa bahwa infeksi telah terkendali. Hal ini
meningkatkan kemungkinan terjadinya kembali infeksi, sehingga pasien wajib diberi nasehat untuk
menggunakan seluruh obat selama terapi antibiotik.
f. Takut akan efek samping,
Timbulnya efek samping setelah meminum obat, seperti : ruam kulit dan nyeri lambung atau
timbulnya efek ikutan seperti urin menjadi merah karena minum obat rimpafisin dapat menyebabkan
pasien tidak mau menggunakan obat.
g. Rasa obat yang tidak enak
Masalah rasa obat-obatan paling umum dihadapi dengan penggunaan cairan oral oleh anak-anak,
misalnya dalam formulasi obat cair oral bagi anak-anak penambahan penawar rasa dan zat warna
dilakukan untuk daya tarik, sehingga mempermudah pemberian obat dan meningkatkan kepatuhan.
h. Tidak mampu membeli obat
Ketidakpatuhan sering terjadi dengan penggunaan obat yang relatif mahal, pasien akan lebih enggan
mematuhi instruksi penggunaan obat yang lebih mahal.
i. Pasien lupa dalam pengobatan.
j. Kurangnya pengetahuan terhadap kondisi penyakit, pentingnya terapi dan petunjuk penggunaan
obat.
Pasien biasanya mengetahui relatif sedikit tentang kesakitan mereka, apalagi manfaat dan masalah
terapi yang diakibatkan oleh obat. Biasanya pasien menetapkan pikiran sendiri berkenaan dengan
kondisi dan pengharapan yang berkaitan dengan efek terapi obat. Jika terapi tidak memenuhi
harapan, mereka cenderung tidak patuh. Oleh karena itu diperlukan edukasi pada pasien tentang
kondisi penyakitnya, manfaat serta keterbatasan terapi obat.
Dari beberapa faktor pendorong terjadinya ketidakpatuhan, apoteker memiliki peran untuk
meningkatkan kepatuhan pasien dengan memberikan informasi tentang pentingnya pengobatan pada
keadaan penyakit pasien. Selain itu, diperlukan juga komunikasi yang efektif antara dokter dan
apoteker sehingga upaya penyembuhan kondisi penyakit pasien dapat berjalan dengan baik.

2.3.5. Pemilihan Obat


Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan dengan benar. Obat
yang dipilih untuk mengobati setiap kondisi harus yang paling tepat dari yang tersedia. Banyak reaksi
merugikan dapat dicegah, jika dokter serta pasien melakukan pertimbangan dan pengendalian yang
baik. Pasien yang bijak tidak menghendaki pengobatan yang berlebihan. Pasien akan bekerjasama
dengan dokter untuk menyeimbangkan dengan tepat keseriusan penyakit dan bahaya obat. Dengan
demikian obat yang dipilih haruslah yang memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.

2.3.6 Interaksi Obat


Interaksi obat adalah peristiwa dimana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan
bersamaan atau hampir bersamaan. Efek obat dapat bertambah kuat atau berkurang karena interaksi
ini akibat yang dikehendaki dari interaksi ini ada dua kemungkinan yakni meningkatkan efek toksik
atau efek samping atau berkurangnya efek klinik yang diharapkan. Interaksi obat dapat terjadi
sebagai berikut:
1. Obat-Makanan
Interaksi obat-makanan perlu mendapat perhatian dalam kegiatan pemantauan terapi obat. Ada 2
jenis yang mungkin terjadi:
a. Perubahan parameter farmakokinetik (absorpsi dan eliminasi). Misalnya, obat antibiotik tidak boleh
dicampur dengan susu karena akan membenuk ikatan sehingga obat tdak dapat diabsorbsi dan
menurunkan efektifitas.
b. Perubahan dalam efikasi terapi obat (misalnya, makanan protein tinggi meningkatkan kecepatan
metabolisme teophillin). Sebagai tambahan, banyak obat diberikan pada saat lambung kosong.
Sebaliknya, terapi obat dapat mengubah absorpsi secara merugikan dari penggunaan suatu bahan
gizi.
2. Obat-Uji Laboratorium
Interaksi obat-uji laboratorium terjadi apabila obat mempengaruhi akurasi uji diagnostik. Interaksi ini
dapat terjadi melalui gangguan kimia. Misalnya, laksatif antrakuinon dapat mempengaruhi uji urin
untuk urobilinogen atau oleh perubahan zat yang diukur. Apabila mengevaluasi status kesehatan
pasien apoteker harus mempertimbangkan efek terapi obat pada hasil uji diagnostik.
3. Obat-Penyakit
Interaksi obat-penyakit juga merupakan masalah yang perlu dipantau. Apoteker harus mengevaluasi
pengaruh efek merugikan suatu obat pada kondisi medik pasien. Dalam pustaka medik, interaksi
obat-penyakit sering disebut sebagai kontraindikasi absolut dan relatif. Misalnya, penggunaan
kloramfenikol dapat menyebabkan anemia aplastik, dan penggunaan antibiotik aminoglikosida dapat
menyebabkan nefrotoksik.

4. Obat-Obat
Interaksi antara obat-obat merupakan masalah yang perlu dihindari. Semua obat termasuk obat non
resep harus dikaji untuk interaksi obat. Apoteker perlu mengetahui interaksi obat-obat yang secara
klinik signifikan. Suatu interaksi dianggap signifikan secara klinik jika hal itu mempunyai kemungkinan
menyebabkan kerugian atau bahaya pada pasien. Interaksi antar obat dapat berakibat merugikan
atau menguntungkan. Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan
toksisitas dan/atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi, terutama bila menyangkut obat
dengan batas keamanan yang sempit.
Mekanisme interaksi obat, yakni :
a. Interaksi farmasetik (inkompatibilitas)
Inkompatibilitas ini terjadi di luar tubuh (sebelum obat diberikan) antara obat yang tidak dapat
dicampur (inkompatibel). Pencampuran obat demikian menyebabkan terjadinya interaksi langsung
secara fisik atau kimiawi yang hasilnya mungkin terlihat sebagai pembentukan endapan, perubahan
warna dan lain-lain, atau mungkin juga tidak terlihat. Interaksi ini biasanya berakibat inaktifasi obat.
Bagi tenaga kesehatan, interaksi farmasetik yang penting adalah interaksi antar obat suntik dan
interaksi antara obat suntik dengan cairan infus.
b. Interaksi farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik terjadi bila salah satu obat mempengaruhi absorpsi, distribusi, metabolisme
atau ekskresi obat kedua sehingga kadar plasma obat kedua meningkat atau menurun. Akibatnya,
terjadi peningkatan toksisitas atau penurunan efektivitas obat tersebut. Interaksi farmakokinetik tidak
dapat diekstrapolasikan ke obat lain yang segolongan dengan obat yang berinteraksi, sekalipun
struktur kimianya mirip, karena antara obat segolongan terdapat variasi sifat-sifat fisiko kimia yang
menyebabkan variasi sifat-sifat farmakokinetiknya. Misalnya, penggunaan ketokonazol dan
paracetamol secara bersamaan, menyebabkan inhibisi metabolisme paracetamol oleh ketokonazol
sehingga kadar paracetamol meningkat.
c. Interaksi farmakodinamik.
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, tempat
kerja atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi efek yang aditif, sinergistik atau antagonistik.
Interaksi farmakodinamik merupakan sebagian besar dari interaksi obat yang penting dalam klinik.
Berbeda dengan interaksi farmakokinetik, interaksi farmakodinamik seringkali dapat diekstrapolasikan
ke obat lain yang segolongan dengan obat yang berinteraksi, karena penggolongan obat memang
berdasarkan persamaan efek farmakodinamiknya. Misalnya, penggunaan warfarin dan aspirin dapat
meningkatkan terjadinya perdarahan.
DIPOSKAN OLEH ONE84_GANTENG DI 21.54

TIDAK ADA KOMENTAR:


POSKAN KOMENTAR
Posting Lebih BaruBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

PENGIKUT

ARSIP BLOG

2009 (2)
o Juli (2)
DRUG RELATED PROBLEM
A. BAHASA LATIN, SINGKATAN DAN ARTINYA No Singka...

MENGENAI SAYA

ONE84_GANTENG
LIHAT PROFIL