Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS SJSN

RIZAL ADHI KURNIAWAN


NPM. 12700109

A. Latar Belakang
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 diamanatkan bahwa tujuan negara adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Dalam Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, tujuan tersebut semakin dipertegas yaitu dengan mengembangkan sistem
jaminan sosial bagi kesejahteraan seluruh rakyat.
Sistem jaminan sosial nasional merupakan program negara yang bertujuan
memberikan kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dan Pasal 34
ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Selain itu, dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor X/MPR/2001,
Presiden ditugaskan untuk membentuk sistem jaminan sosial nasional dalam rangka
memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat yang lebih menyeluruh dan terpadu.
Sesungguhnya pembentukan Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial ini merupakan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), setelah Putusan Mahkamah Konstitusi
terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005, guna memberikan kepastian hukum bagi
pembentukan BPJS untuk melaksanakan program Jaminan Sosial di seluruh Indonesia.
Undang-Undang ini merupakan pelaksanaan dari Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52 UndangUndang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang
mengamanatkan pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan transformasi
kelembagaan PT Askes (Persero), PT Jamsostek (Persero), PT TASPEN (Persero), dan
PT ASABRI (Persero) menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Transformasi tersebut diikuti adanya pengalihan peserta, program, aset dan
liabilitas, pegawai, serta hak dan kewajiban. Dengan Undang-Undang ini dibentuk 2
(dua) BPJS, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan
menyelenggarakan

program

jaminan

kesehatan

dan

BPJS

Ketenagakerjaan

menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan


pensiun, dan jaminan kematian. Dengan terbentuknya kedua BPJS tersebut jangkauan
kepesertaan program jaminan sosial akan diperluas secara bertahap.
1

Namun sayangnya, pembentukan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial


menimbulkan banyak masalah. Sebagian berpendapat mendukung jalannya BPJS sebagai
jaminan terhadap hak-hak pekerja dan masyarakat miskin, namun terdapat juga
masyarakat yang tidak mendukung jalannya BPJS ini dikarenakan pemerintah belum siap
dalam pelaksanaan BPJS baik dari segi finansial maupun infrasktrukrural.

B. Masalah Infrastruktur dan Keuangan Pelaksanan BPJS


Pemerintah sendiri mengakui bahwa pelaksanaan BPJS masih belum dapat
dioptimalkan. Dikarenakan pelaksanaan BPJS memang harus bertahap, jika pada tahun
2011 baru dibentuk regulasinya melalui UU No.24 Tahun 2011, kemudian setahun
berselang pada 2012 dibentuk peraturan pelaksanaannya yaitu melalui Peraturan
Pemerintah (PP) No.101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan
Peraturan Presiden (Perpres) No.12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan (Jamkes).
Selanjutnya pemerintah pada tahun 2013 akan mengoptimalkan pada bidang
pembangunan struktur dan infrastruktur diseluruh Indonesia mulai dari pusat, daerah
hingga ke Kabupaten/Kota. kebutuhan tempat tidur di puskesmas plus, rumah sakit
rujukan, tenaga dokter dan lainnya.

Untuk memperluas kemampuan pelayanan,

Kementerian Kesehatan (Kemkes) sendiri akan diberikan anggaran tambahan sebesar Rp


1 triliun pada anggaran tahun 2013.
Modal awal pemerintah mungkin hanya sekitar Rp 1 triliun yang dipakai untuk
membangun infrastruktur, terutama kantor cabang BPJS di seluruh kabupaten/kota yang
berjumlah 500 lebih. Kantor cabang ini mendesak untuk mempermudah pelayanan
kepada peserta. Kantor cabang BPJS akan terdiri dari tiga kelas, yakni 1,2 dan 3.
Penentuan kelas pada kantor cabang ini berdasarkan kondisi tiap wilayah, penduduknya,
dan tenaga kerja.
Minimnya fasilitas kesehatan dan tenaganya di daerah juga menjadi kendala
utama operasional BPJS. Akan tetapi prinsip BPJS adalah tidak merugikan peserta
karena mereka mengiur setiap bulannya. Artinya jika ada pasien yang sakit namun di
daerahnya tidak memiliki fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatannya, BPJS wajib
memberikan uang kepada peserta tersebut.

C. Masalah Yuridis BPJS


Belum tuntas masalah keuangan dan infrasktruktur BPJS, pemerintah juga
dihadapkan pada masalah lainnya yaitu dalam hal uji materiil peraturan pelaksanaan UU
2

No.24 Tahun 2011. Serikat pekerja yang tergabung dalam Komite Aksi Jaminan Sosial
(KAJS) dan Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) mendesak agar pemerintah
merevisi Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran
(PBI) dan Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan (Jamkes).
Kedua peraturan pelaksana BPJS Kesehatan itu dinilai bertentangan dengan amanat UU
SJSN dan UU BPJS.
1.

Pertama, pemerintah dinilai melanggar pasal 7 ayat (1) UU BPJS, karena dalam
Perpres Jamkes BPJS disebut sebagai badan hukum. Padahal UU BPJS
mengamanatkan BPJS sebagai badan hukum publik.

2.

Kedua, dalam PP PBI, orang tak mampu didefenisikan sebagai orang yang
mempunyai pekerjaan dan upahnya hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar yang
layak tapi tak mampu membayar iuran BPJS bagi dirinya dan keluarganya. Mengacu
UU Ketenagakerjaan, orang tak mampu harus diartikan dengan orang yang punya
pekerjaan dengan penghasilan sama atau kurang dari ketentuan upah minimum yang
berlaku di wilayah setempat.

3.

Ketiga, pemerintah dirasa mempersulit fakir miskin dan orang tak mampu untuk
mendapat hak atas Jamkes tanpa diskriminasi. Pasalnya, KAJS dan MPBI melihat
pemerintah membuat ketentuan untuk mendefinisikan fakir miskin dan orang tak
mampu. Padahal, UU SJSN tak mengamanatkan agar pemerintah membuat
ketentuan itu. Hal ini semakin kentara ketika Menteri Keuangan mengurangi jumlah
penerima PBI dari 96,4 juta orang menjadi 86,4 juta orang. Serta bantuan iuran yang
besarannya

telah

disepakati

Rp

22.100/orang/bulan

berubah

menjadi

Rp15ribu/orang/bulan. Penetapan kriteria dan pendataan fakir miskin seharusnya


tugas serta tanggungjawab pemerintah sebagaimana amanat UU Fakir Miskin.
4.

Keempat, masalah pentahapan kepesertaan sebagaimana diatur dalam Perpres


Jamkes. UU SJSN dan UU BPJS sudah sangat tegas menyatakan bahwa BPJS
Kesehatan pada 1 Januari 2014 untuk memberikan pelayanan Jamkes bagi seluruh
rakyat Indonesia.

5.

Kelima, Perpres Jamkes tak mengatur soal penggabungan peserta Jamkesda dalam
BPJS Kesehatan. Jika hal itu tak dilakukan, pemerintah telah melanggar prinsip
portabilitas yang diatur dalam UU SJSN dan UU BPJS. Jika peserta Jamkesda
dialihkan menjadi peserta PBI, maka pemerintah dapat meminta Pemda untuk
mengalihkan dana Jamkesda itu menjadi dana untuk memperbaiki atau menambah
fasilitas BPJS Kesehatan sampai tingkat desa.
3

6.

Keenam, Perpres Jamkes tak mengatur iuran peserta BPJS Jamkes. Padahal,
ketentuan tentang iuran BPJS Jamkes adalah bagian yang terintegrasi dengan
pelayanan Jamkes yang diatur dalam bagian kedua (Jamkes) dari Bab VI tentang
Program Jaminan Sosial (Jamsos) dalam UU BPJS.

7.

Ketujuh, Perpres Jamkes mengatur tentang koordinasi manfaat antara BPJS


Kesehatan dengan penyelenggaraan program asuransi tambahan. Padahal, ketentuan
itu

tidak

diperintahkan

tersebutdiperkirakan

oleh

peluang

UU

BPJS

SJSN.

untuk

tak

Dengan
fokus

adanya
dalam

ketentuan
menjalankan

kewajibannya melayani seluruh peserta BPJS akan terbuka.


8.

Kedelapan, PP PBI tak mengatur kewajiban Menteri Keuangan untuk membayar


iuran peserta PBI kepada BPJS secara rutin tiap bulan. Dengan tak diaturnya
ketentuan itu, dikhawatirkan pelaksanaan BPJS Kesehatan akan mengalami
gangguan. Pasalnya, tak menutup kemungkinan dalam perjalanannya nanti Menteri
Keuangan telat menunaikan kewajibannya membayar iuran PBI kepada BPJS.

9.

Kesembilan, sistem jaminan sosial nasional yang akan diselenggarakan didasarkan


pada prinsip dana amanat. Yaitu iuran dan hasil pengembangannya merupakan dana
titipan dari peserta untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan peserta
jaminan sosial.

D. Masalah Premi BPJS


Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam program Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial Kesehatan. BPJS masih tersandera oleh perbedaan tentang besaran premi yang
akan ditanggung oleh negara. Sebelumnya, Pemerintah telah menetapkan 84,6 juta jiwa
penduduk yang akan menjadi PBI. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) masih memiliki kemampuan untuk
membayarkan premi sebesar Rp 22.200 kepada setiap penduduk per bulan. Namun
rancangan tersebut belum disetujui Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Bagi Kemenkeu sendiri APBN hanya mampu membayarkan premi kepada 84,6
juta penduduk sebesar Rp15.200 dalam program BPJS I. Kemenkeu beralasan, besaran
tersebut ditentukan oleh banyak faktor mulai dari teknis aktuaria seperti tingkat utilisasi,
biaya kapitasi dan pergeseran jenis penyakit. Dan pastinya, akan berpengaruh kepada
APBN. Akan tetapi angka tersebut tak mutlak akan berlaku sepanjang masa.
perjalanannnya nanti, Kemenkeu harus mengevaluasi pelaksanaan PBI itu. Sehingga
kedepan, besaran iuran akan terus mengalami perbaikan.
4

Namun berapapun besaran iuran yang nanti akan ditetapkan oleh pemerintah untuk
BPJS I, tetap harus mengedepankan azas kehati-hatian atau prudensial. Ini mengingat
beban pemerintah yang sudah cukup besar. Kehati-hatian dalam menentukan besaran
iuran dan plafon penting agar program tersebut sampai kepada pihak yang berhak. Untuk
itu, penentuan PBI harus berdasarkan pada data yang empiris dan akurat.

E. Kesenjangan Dokter
Kesenjangan distribusi dokter di wilayah Indonesia akan menghambat pelaksanaan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Menteri Kesehatan (Menkes) mengatakan
pemerintah daerah (pemda) harus turut mengambil andil mengatasi distribusi dokter yang
tidak merata tersebut.
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan khususnya pengobatan diperkirakan akan
meningkat saat sistem ini diberlakukan. Ada sebagian daerah yang kelebihan tenaga
dokter, ada juga yang kekurangan. Distribusinya tidak merata hingga ke daerah terpencil
dan menumpuk di kota-kota besar. Rasio dokter di beberapa provinsi bahkan melebihi
rata-rata nasional saat ini yaitu 33/100.000 penduduk.
Rasio dokter di DI Yogyakarta sudah mencapai 69/100.000 penduduk. Sementara
itu di Kota Semarang rasionya mencapai 119/100.000 penduduk. DKI Jakarta memiliki
rasio sebaran dokter yang tinggi yaitu 74/100.000 penduduk dan Sulawesi Utara
74/100.000 penduduk. Beberapa provinsi dengan rasio sebaran dokter terendah antara
lain adalah Sulawesi Barat sebesar 8/100.000 penduduk, Nusa Tenggara Timur (NTT)
9/100.000 penduduk, Nusa Tenggara Barat (NTB) 12/100.000 penduduk, Maluku dan
Maluku Utara 13/100.000 penduduk. Adapun Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah dan
Sulawesi Tenggara 14/100.000 penduduk, Lampung 15/100.000 penduduk, dan Papua
16/100.000 penduduk.
Provinsi sesungguhnya memiliki posisi strategis untuk menempatkan tenaga
kesehatan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) 38/2007 tentang pembagian urusan
pemerintah. Rasio sebaran dokter terhadap penduduk berdasarkan standar Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) pemerintah menargetkan 40/100.000 atau 1 dokter umum
melayani 2.500 penduduk.

Produksi dokter setiap tahun di Indonesia diperkirakan

mencapai 7.000 orang sehingga dari sisi jumlah seharusnya sudah tercapai.
Pemerintah daerah (Pemda) harus mengalokasikan anggaran sekurang-kurangnya
sebanyak 10% untuk pembangunan kesehatan. Kewajiban mengalokasikan anggaran

sebesar 10% dari total Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tertuang dalam
Undang-Undang (UU) nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
Pemda juga wajib ikut serta dalam proses pembangunan kesehatan yang dilakukan
bersama dengan pusat. Salah satu kewajiban Pemda adalah menyediakan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat. Anggaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun ini
mencapai sekitar Rp34,5 Triliun dimana 83% diberikan ke daerah dan 17% untuk di
pusat.

F. Kesimpulan
Meskipun pembentukan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial dinilai baik oleh
pemerintah dan berpihak kepada rakyat, akan tetapi masih banyak kendala yang harus
pemerintah perhatikan demi kelancaran penyelenggaraan BPJS ini. Sebenarnya
pemerintah sudah sangat serius dan terencana dalam penyelenggraan BPJS ini, hal ini
dibuktikan dengan adanya tahapan yang hendak pemerintah capai dimulai dari
pembentukan regulasinya di tahun 2011, dilanjutkan dengan pembentukan peraturan
pelaksanaannya di tahun 2012, pembaharuan struktur dan infrastruktur ditahun 2013
sampai dengan pelaksanaan BPJS di awal Januari 2014.
Pemerintah harus menguji kembali materiil BPJS agar nantinya tidak mencederai
hak-hak rakyat, hal ini dikarenakan masih banyakanya pasal didalam peraturan BPJS
yang masih ambigu dan kontradiktif serta multitafsir. Selain itu berkaitan dengan
pengunaan anggaran yang bersumber dari APBN/APBD juga harus diperiksa dan
dicermati kembali, agara nantinya APBN/APBD tersebut dapat digunakan sesuai dengan
sasarannya.