Anda di halaman 1dari 12

Referat

ENDOFTALMITIS

Oleh :
Elva Yeni
Hendra Boy
Nanda Juwita Amir
Ros Eva Nurhidayati
Pembimbing :
dr. AMIRUDDIN, SpM
Kepaniteraan Klinik Senior
Bagian Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
Pekanbaru
2013

BAB I
PENDAHULUAN
Endoftalmitis adalah peradangan berat yang terjadi di bola mata. Penyebab
endoftalmitis dapat berupa jamur dan kuman yang masuk bersama trauma tembus (eksogen)
atau sistemik melalui peredaran darah (endogen). Endoftalmitis merupakan penyakit yang
memerlukan perhatian khusus akhir-akhir ini karna bisa mengakibatkan timbulnya penyulit
yang gawat akibat suatu trauma tembus atau akibat pembedahan intra okular.1
Prognosis endoftalmitis dapat dilihat dari ada atau tidaknya hipopion. Apabila
hipopion telah terlihat maka itu artinya keadaan sudah lanjut dan prognosis lebih buruk.
1

Diagnosis dini dan cepat harus dibuat untuk mencegah prognosis yang buruk bahkan hingga
kebutaan.1
Penyulit endoftalmitis yaitu bila proses peradangan mengenai ketiga lapisan mata
(retina, koroid dan sklera) serta badan kaca yang mengakibatkan panoftalmitis. Prognosis
endoftalmitis dan panoftalmitis sangat buruk terutama jika disebabkan oleh jamur atau
parasit.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1

Anatomi Bola Mata


Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, yang biasanya terjadi

akibat infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang
supuratif didalam rongga mata dan struktur di dalamnya.1
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata dibagian
depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan
2 kelengkungan yang berbeda.1
Bola mata dibungkus 3 lapisan jaringan, yaitu :1
1. Tunika Fibrosa, pada bagian posterior disebut sklera
Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal yang memberikan bentuk pada mata,
merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian anterior disebut kornea
yang mempunyai 5 lapisan dan bersifat transparanyang memudahkan sinar masuk
kedalam bola mata. Dan diantara sklera dengan kornea terdapat perbatasan yang disebut
limbus.
2

2. Tunika Vaskulosa, atau dengan nama lain struktur uvea


Pada bagian anterior uvea terdapat iris yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah
sinar masuk melalui pupil kedalam bola mata, yaitu otot dilatator, sfingter iris dan otot
siliar. Selain iris pada bagian anterior uvea juga terdapat badan siliar yang terletak
dibelakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan
melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera. Bagian
posterior uvea disebut khoroid yang merupakan jaringan vaskular berpigmen. Khoroid
diperdarahi dari anyaman arteri ciliaris posterior brevis.

3. Tunika Nervosa
Lapisan terdalam bola mata ini disebut retina yang mempunyai susunan lapis sebanyak
10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinas
menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak.

Sumber : http://www.medscape.com
Mata juga terdiri dari tiga ruangan, yaitu bilik mata depan/anterior, bilik mata
belakang/posterior dan ruangan vitreus.2
1. Bilik mata anterior
Bilik mata anterior dibagian depan dibatasi oleh kornea dan bagian belakang oleh
permukaan depan iris dan lensa. Sedangkan dibagian tepinya dibatasi oleh sudut bilik
mata anterior. Bilik mata anterior memiliki kedalaman maksimal pada bagian tengah
yaitu 3 mm dan bagian terdangkalnya terletak pada insersi iris bagian perifer. Pada
manusia, volume bilik mata depan sekitar 0,20 ml.
2. Bilik mata posterior
Bilik mata posterior memiliki batas anterior, yaitu iris, batas pinggir yaitu processus
siliaris dan batas posterior capsula lensa serta zonula zinii. Volume bilik mata posterior
3

pada orang dewasa sekitar 0,06 ml. Aquos humor dihasilkan oleh epitel tak berpigmen
pada prosesus siliaris kebilik mata posterior yang kemudian akan mengalir melalui
pupil kebilik mata anterior.
3. Ruangan vitreus
Ruangan vitreus adalah ruangan terbesar pada mata. Ruangan ini disebelah anterior
dibatasi oleh lensa, zonula zinii dan badan siliar. Sedangkan dibagian posteriornya
dibatasi oleh retina dan syaraf optik.
Vitreus humor atau badan kaca menempati daerah belakang lensa. Struktur ini
merupakan gel transfaran yang terdiri atas air (lebih kurang 99%). Sedikit kolagen, dan
molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreus mengandung sangat sedikit sel
yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat. Berfungsi mengisi ruang untuk meneruskan
sinar dari lensa. Kebeningan badan vitreus disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan
sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhan badan vitreus sehingga memudahkan
melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskop.

Sumber : http://www.medscape.com
1.2

Anatomi badan kaca (korpus vitreum)


Korpus vitreus merupakan bagian yang terbesar dari isi bola mata yaitu sebesar 4/5 dari

isi bola mata. Korpus vitreus merupakan masa gelatinosa dengan volume 4,3 cc. korpus
vitreus bersifat transparan, tak berwarna, dengan konsistensi seperti gelatin (agar-agar) dan
avaskular. Korpus vitreus terdiri dari 99 % air dan 1 % kombinasi kolagen dan asam
hialuronat. Serabut kolagennya dapat mengikat air hingga sebanyak 200 kali beratnya.
Sedangkan asam hialuronatnya dapat mengikat air hingga 60 kali beratnya sendiri. Korpus
vitreus dikelilingi oleh membran hyaloid.3
Membran hyaloidea melekat pada kapsul posterior lensa, zonula, prs plana, retina, dan
pupil nervus II. Corpus vitreus berfungsi memberi bentuk bola mata dan merupakan salah
4

satu media refrakta (media bias). Pada bagian tengah badan kaca terdapat kanal hyaloid
cloquet yang berjalan dari depan papil N II menuju tepi belakang lensa. Ukuran kanal ini
adalah 1-2 mm. Corpus vitreus berhubungan dengan retina dan hanya terdapat perlekatan erat
dengan diskus optikus dan ora serrata. Asis vitreus adalah suatu area pada vitreus (3-4 mm)
yang melekat pada retina tepat dibelakang ora serata.3
Corpus vitreus memenuhi ruangan antara lensa mata, retina dan papil saraf optik.
Bagian luar (korteks) badan kaca bersentuhan dengan kapsul posterior lensa mata, epitel pars
plana, retina dan papil saraf. Korpus vitreum sangat erat dengan epitel pars plana dan retina
dekat ora serata. Badan kaca melekat tidak begitu erat dengan kapsul lensa mata dan papil
saraf optik pada orang dewasa.3
Korpus vitreum yang normal sangat jernih sehingga tidak tampak apabila diperiksa
dengan oftalmoskop direk maupun oftalmoskop indirek. Apabila terjadi perubahan dari
struktur korpus vitreum seperti misalnya pencairan sel, kondensasi, pengeratan, barulah
keadaan ini dapat dilihat dan inipun hanya dengan slitlamp dan bantuan lensa kontak.3
Fungsi dari korpus vitreus diduga untuk mencegah pelepasan retina( ablasi retina )
melalui sifat peredam kejut. Sebagian berisi O2 yang tinggi terutama pada daerah perifer
sekitar koroid.
1.3

Histologi Mata
Mata merupakan eksteroseptor jalur somatik aferen khusus yang dapat menerima

stimulus cahaya sehingga disebut organ fotosensories. Cahaya masuk melintasi kornea, lensa,
dan beberapa struktur refraksi di dalam orbita. Cahaya kemudian difokuskan oleh lensa
kebagian sarang mata yang sensitif terhadap cahaya atau disebut retina. Retina mengandung
sel-sel batang dan kerucut yang akan mengubah impuls cahaya menjadi impuls saraf lalu
diteruskan oleh saraf optik ke otak.4
Lapisan histologi dinding mata disusun oleh 3 lapisan yaitu :4
1. Tunika fibrosa yang terdiri atas sklera dan kornea
2. Tunika vaskularis yang terdiri atas koroid, badan siliaris, dan iris
3. Tunika neuralis yang terdiri atas retina

Sumber : http://www.medscape.com
Tunika fibrosa teridiri atas sklera dan kornea. Dimana sklera merupakan jaringan ikat
yang disusun oleh serat kolagen tipe 1 serta elastin. Susunan ini membentuk struktur dinding
bola mata yang kokoh, disokong oleh tekanan intraokular yang berasal dari humor aquos dan
humor vitreus. Bagian belakang sklera yang ditembus oleh serat saraf optik dinamakan
lamina kribosa.
Sedangkan kornea sendiri merupakan bagian tranparan yang tidak mengandung
pembuluh darah dan kaya akan ujung-ujung serat saraf. Kornea terdiri dari 5 lapisan yaitu
epitel kornea, membran bawman, stroma kornea, membran descemet, dan endotel kornea.4

Sumber : http://www.medscape.com
Tunika vaskulosa terdiri atas khoroid, badan siliaris dan iris. Dimana khoroid banyak
mengandung pembuluh darah dan sel berpigmen sehingga tampak berwarna hitam. Lapisan
ini tersusun dari jaringan penyambung jarang yang mengandung serat-serat kolagen dan
elastin, sel-sel fibroblas, pembuluh darah dan melanosit.4
Korpus siliaris merupakan perluasan khoroid kearah depan. Disusun oleh jaringan ikat
yang mengandung elastin, pembuluh darah, dan melanosit. Badan siliaris membentuk
tonjolan-tonjolan pendek yang disebut prosesus siliaris. Dari prosesus siliaris muncul benang
fibrilin yang akan berinsersi pada kapsula lensa disebut sebagai zonula zinii. Zonula zinii
berfungsi sebagai penggantung lensa dilapisi oleh 2 lapis epitel kuboid.4
6

Sumber : http://www.medscape.com
1.4

Definisi Endoftalmitis
Endoftalmitis adalah suatu peradangan yang terjadi pada seluruh jaringan intraokular.

Endoftalmitis mengenai dua dinding bola mata yaitu retina dan koroid namun tanpa
melibatkan sklera dan kapsula tenon.5
1.5

Epidemiologi
Angka kejadian endoftalmitis di Amerika Serikat akibat operasi terbuka bola mata

sebesar 5-14%, sedangkan yang disebabkan oleh trauma sekitar 10-30% dan akibat oleh
reaksi antibodi terhadap pemasangan lensa yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh
sebesar7-31%.5
Banyak hal yang dapat menyebabkan endoftalmitis, namun penyebab tersering adalah
post operasi intraokular (62%), cedera karna benda tajam (20%), komplikasi setelah operasi
glaukoma (10%), serta setelah melakukan operasi lain berupa keratoplasti, vitrectomi,
ataupun implantasi intraokular lensa, dan akibat bakteri dan jamur terjadi sekitar 2-8%.5
1.6

Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, endoftalmitis dapat dibedakan menjadi endoftalmitis yang

disebabkan oleh infeksi dan endoftalmitis yang disebabkan oleh imunologis atau auto imun
(non infeksi).5
Endoftalmitis yang disebabkan oleh infeksi dapat dibagi menjadi endoftalmitis
endogen dan endoftalmitis eksogen. Endoftalmitis endogen diakibatkan penyebaran bakteri,
jamur ataupun parasit dari fokus infeksi yang terdapat didalam tubuh, yang menyebar secara
hematogen ataupun akibat penyakit sistemik lainnya, seperti endokarditis.5
Endoftalmitis eksogen terjadi akibat trauma tembus atau adanya infeksi sekunder
akibat komplikasi yang terjadi pada tindakan membuka bola mata, reaksi terhadap benda
asing dan trauma tembus bola mata.5
Endoftlamitis fakoanafilatik adalah endoftalmitis unilateral ataupun bilateral yang
merupakan akibat reaksi uvea granulomatosa terhadap lensa yang ruptur. Endoftalmitis jenis
7

ini merupakan suatu penyakit autoimun terhadap jaringan tubuh sendiri yang diakibatkan
jaringan tubuh tidak mengenali jaringan lensa yang tidak terletak didalam kapsul. Terbentuk
antibodi didalam tubuh terhadap lensa sehingga terjadi reaksi antigen antibodi yang akan
menimbulkan endoftalmitis fakoanafilatik.5
1.7

Diagnosis Endoftalmitis
Diagnosis endoftalmitis dapat ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap meliputi

adanya riwayat tindakan bedah mata, trauma tembus bola mata disertai dengan atau tanpa
adanya penetrasi benda asing perlu diperhatikan karena adanya kemungkinan penyebab
eksogen. Mengenai penyebab endogen maka penderita perlu dianamnesis mengenai ada atau
tidaknya penyakit

sistemik yang dideritanya. Penyakit yang merupakan predisposisi

terjadinya endoftalmitis di antaranya adalah diabetes melitus, AIDS dan SLE yang dapat
dihubungkan dengan imunitas yang rendah. Sedangkan beberapa penyakit infeksi yang
menyebabkan endoftalmitis endogen akibat penyebaran secara hematogen dan meningitis,
endokarditis, infeksi saluran kemih, infeksi paru-paru dan pieonefritis. 6-8 Untuk endoftalmitis
fakoanafilaktik, dapat dinyatakan tentang adanya riwayat gejala subjektif katarak yang
diderita pasien sebelumnya. Adapun gejala yang dikeluhkan pasien (gejala subjektif) dan
gejala yang didapat melalui pemeriksaan fisik dapat mengarahkan pada diagnosis
endoftalmitis.5,7
Gejala subjektif.5-8

Mata merah dan nyeri pada bola mata


Penurunan tajam penglihatan
Fotofobia
Nyeri kepala
Mata terasa bengkak
Kelopak mata bengkak, kadang sulit dibuka

Gambar endoftalmitis Staphylococcus epidermidis pada pasien post operasi katarak.


Sumber : http://Endopthalmitis.com.pdf
Gejala objektif.5-8

Edema palpebra superior


Kemosis dan hiperemi konjungtiva
Edema kornea dan infiltrasi struma
Kornea keruh
Hipopion
Kekeruhan badan kaca (vitreus)
Injeksi silier dan injeksi konjungtiva
Keratik presipitat
Bilik mata depan keruh
Penurunan refleks fundus dengan gambaran warna yang agak pucat ataupun hilang

sama sekali
Pada endoftalmitis yang disebabkan jamur, di dalam badan kaca ditemukan masa
putih abu-abu, hipopion ringan, bentuk abses satelit di dalam badan kaca dengan
proyeksi sinar yang baik.

Pemeriksaan penunjang :5-7


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pemeriksaan darah lengkap, LED, gula darah puasa.


Foto rontgen thoraks
USG jantung
Kultur urin, darah, LCS, sputum dan tinja
Funduskopi untuk menilai ada tidaknya kekeruhan media refraksi
Ultrasonografi (B Scan)
Pengambilan sampel akueous dan vitreus antuk analisis mikrobiologi. Kultur untuk
menentukan mikroorganisme penyebab memerlukan waktu 48 jam sampai 14 hari.
Diagnosis endoftalmitis dipastikan dengan melakukan aspirasi 0,5-1 ml korpus
vitreum di bawah anestesi lokal melalui sklerotomi pars plana dengan menggunakan
9

jarum berukuran 20-23, kemudian aspirat diperiksa secara mikroskopik. Vitrektomi


juga diindikasikan untuk melakukan drainase abses dan memungkinkan visualisasi
fundud yang jelas.

1.8

Penatalaksanaan
Endoftalmitis di obati sesuai dengan mikroorganisme penyebab. Antibiotik atau

antifungi diberikan melalui periokular atau subkonjungtiva. Antibiotik topikal dan sistemik
ampisilin 2 gram/hari dan kloramfenikol 3 gram/hari sebagai antibiotik empiris yang harus
diberikan secepatnya. Antibiotik dapat diberikan secara tunggal ataupun kombinasi. Jika
penyebabnya jamur diberikan amfoterisin B 150 g subkonjungtiva.5
Tabel penggunaan dan dosis antibiotik empiris untuk endoftalmitis.6

10

Sikloplegik diberikan 3 kali sehari tetes mata untuk mengurangi rasa nyeri, stabilisasi
aliran darah pada mata, mencegah danmencegah atau melepaskan sinekia serta
mengistirahatkan iris dan dan badan siliar yang sedang mengalami infeksi.3,5
Terapi steroid untuk mengurangi infamasi yang disertai eksudasi dan untuk
mengurangi granulasi jaringan. Pemberian deksametason diduga dapat menghambat reaksi
inflamasi dan reaksi imun abnormal yang dapat menimbulkan kerusakan luas pada mata.
Deksametason dapat diberikan secara intravitreal dengan dosis 400 g dan 1 mg secara
intraoukular sebagai profilaksis.5,7 bila terapi tidak berhasil maka dilakukan eviserasi untuk
mencegah komplikasi lebih lanjut.10
1.9 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi jika proses peradangan mengenai ketiga lapisan mata
(retina, koroid dan sklera) dan vitreus dapat menyebabkan panoftalmitis. Panoftalmitis
merupakan

radang

supuratif

intraocular

disertai

dengan

radang

jaringan

ekstraokular atau kapsul tenon dan jaringan ikat jarang di dalam rongga orbita.
Penyebabnya terutama akibat perforasi operasi atau tukak yang disertai infeksi.
Pasien dengan panoftalmitis akan terlihat sakit, menggigil disertai demam, sakit
kepala berat, kadang-kadang muntah, disertai gejala endoftalmitis yang lebih
berat. Pada mata terlihat kornea yang sangat keruh dan berwarna kuning,
hipopion, badan kaca dengan massa purulen massif disertai refleks kuning di
dalamnya, konjungtiva kemotik, dan kelopak kemotik dan hiperemis . 5,9
1.10

Prognosis
Endoftalmitis endogen lebih buruk daripada endoftalmitis eksogen karena

berhubungan dengan tipe organisme, tingkat virulensi, daya tahan tubuh penderita dan
keterlambatan diagnosis. Endoftalmitis yang diterapi dengan vitrektomi 74% pasien
mendapat perbaikan visus sampai 6/30.7,8

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-4. Jakarta. FKUI. 2011. Halaman
175-178
2. Jaffe NS. History of catarct surgery. Opthalmology. 1996; 103: 5-16
3. Vaughan DG. Asbury T, Eva PR. Oftamologi Umum. Ed.14. Jakarta: widya Medika.
2000. 185
4. Jusuf A. Diktat kuliah tinjauan histologi organ penginderaan. Jakarta : bagian
histologi FKUI;2010
5. Zorab Z.A. et all. Intraocular Inflammation and Uveitis. 2009. San
Francisco:American Academy of Ophthalmology. P.293-320
6. Kresloff M.S, et all. Major Review Endophthalmitis. Department of Ophthalmology,
New Jersey Medical School, University of Medicine and Dentistry of New Jersey,
Newark, New Jersey, USA: Elsevier Science.1998. p.193-224 Diunduh dari :
http://www.v2020la.org/pub/PUBLICATIONS_BY_TOPICS/Endophthalmitis/Endop
hthalmitis.pdf. Diakses tanggal 7 Mei 2013
7. Veselinovic D, Veselinovic A. Endoftalmitis.

Serbia.

Di

unduh

dari:

http://publisher.medfak.ni.ac.rs/2009-html/1-broj/ENDOFTALMITIS-en.pdf. Diakses
tanggal 7 Mei 2013
8. James B, Chew C, Bron A. Lecture Note of Oftalmologi. Edisi kesembilan. Jakarta.
Erlangga. 2006. Hal 79
9. Ilyas S.H.Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta. Balai penerbit FKUI.
2008.p.99-100
10. A.Mark. Enucleation, Evisceration, and Exenteration Techniques in Duanes
Ophthalmology. 2006. Lipincott Williams and Wilkins.
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v5/v5c082.html.
Diakses tanggal 7 Mei 2013
12