Anda di halaman 1dari 5

Artikel

Penilaian Bercak Darah


Cut Risya Firlana, Dini Darayani Husni Putri, Rahmat Alfi Syahri
Dokter Muda Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
Pembimbing: dr. H. Taufik Suryadi, Sp.F.

Pendahuluan
Pada kasus kriminal, khususnya
pembunuhan, banyak tindak kekerasan yang
terjadi di dalamnya. Barang bukti yang
sering tertinggal pada kasus-kasus kriminal
adalah darah, baik darah korban mau pun
darah pelakunya.1
Perdarahan dapat terjadi pada
perlukaan misalnya luka robek, luka sayat,
luka tusuk atau cara lain luka terbentuk,
dapat meninggalkan bercak darah di TKP
(tempat kejadian perkara), pakaian, dan
kulit. Penyakit alami dengan perdarahan
organ internal dapat mengakibatkan muntah
darah, seperti pada perdarahan ulkus
lambung, batuk darah, kanker paru, atau
TBC. Semua noda darah ini dapat
memberikan informasi tentang keadaan
pembentukan bercak darah melalui analisis
bentuk, pola, dan distribusi.8
Darah pada tempat kejadian perkara
(TKP) dapat berbentuk genangan, tetesan,
usapan, maupun bercak darah. Pemeriksaan
darah yang tertinggal di tempat kejadian
perkara dapat memberikan informasi yang
berguna bagi proses penyidikan.2 Pola dan
distribusi bercak darah dapat memberikan
informasi yang memperkirakan bagaimana
bercak darah tersebut terjadi.8
Bercak dari tetesan darah (drops)
timbul sebagai akibat dari gaya gravitasi.
Darah yang keluar dari perlukaan memiliki
massa tertentu dan akan terjatuh sebagai
bulatan berbentuk elips karena gaya
gravitasi. Besarnya bercak darah tergantung

pada volume darah yang menetes dan sifatsifat permukaan di lokasi darah menetes,
sedangkan genangan darah (pools) berasal
dari aliran darah yang mengalir tanpa
tekanan dan menggenang di TKP karena
faktor media dan gaya gravitasi3,4.
Ilmu forensik mengenai analisis
percikan darah menyatakan bahwa jatuhnya
darah tegak lurus ke lantai dan dalam jarak
0-2 kaki akan membentuk percikan bulat
dengan pinggir yang bergerigi. Percikan
darah akan mengering setelah kontak
dengan udara luar dalam waktu 3-5 menit.2
Ketika bercak darah ditemukan di
TKP, analisa utama yaitu mencari tahu
pemilik becak darah tersebut. Tugas pertama
adalah menentukan bahwa bercak tersebut
benar darah dan merupakan darah manusia.
Jika darah manusia, tugas selanjutnya adalah
individualisasi yaitu mencari tahu pemilik
darah tersebut8. Konfirmasi darah dapat
dilakukan dengan pemeriksaan haemoglobin
pada bercak darah. Selanjutnya, konfirmasi
darah manusia dapat dilakukan dengan
pemeriksaan DNA. 8
Pemeriksaan Visual Bercak Darah pada
TKP
Penilaian
visual
yang
dapat
dilakukan oleh dokter di TKP dapat berupa
penentuan lama bercak darah, asal bercak
darah, aspek medikolegal bercak darah.
Genangan atau bercak darah yang masih
baru, bentuknya cair dengan bau amis,
dalam waktu 12-36 jam akan mongering.
1

Warna darah berubah menjadi merah gelap


walam waktu 2 jam, berubah menjadi coklat
dalam waktu 10-12 hari.5 Bercak darah segar
di kain putih tampak merah terang namun
secara bertahap menjadi coklat kemerahan
dalam waktu sekitar 24 jam dan coklat gelap
sampai hitam dalam beberapa hari.
Kemudian warna ini dapat bertahan
seterusnya. Hal ini terjadi karena adanya
perubahan hemoglobin ke methaemoglobin
dan hematin8.
Penilaian sumber bercak darah,
bercak darah yang berasal dari vena (pada
luka yang dangkal) berwarna merah gelap,
sedangkan yang berasal dari arteri (pada
luka yang dalam) dapat berwarna merah
terang. Darah yang berasal dari arteri dapat
memberikan bercak kecil-kecil menyemprot
pada lokasi yang lebih jauh dari lokasi
sumber perdarahan, sedangkan yang berasal
dari vena biasanya akan membentuk
genangan. 5
Darah yang berasal dari saluran
pernapasan atau paru-paru dapat berwarna
merah terang dan berbuih, jika telah
mengering, tampak seperti gambaran sarang
tawon. Darah yang berasal dari saluran
pencernaan
dapat
berwarna
merah
kecoklatan
sebagai
akibat
dari
bercampurnya darah dengan asam lambung.5
Distribusi darah yang terdapat di
lantai dapat diduga aspek medikolegal kasus
bunuh diri adanya genangan darah atau
bercak
darah
ditemukan
setempat.
Sedangkan kasus pembunuhan tampak
genangan dan bercak darah yang tidak
beraturan, tampak tanda-tanda bahwa
korban sebelumnya berusaha menghindar
atau tampak bekas diseret. 5
Dari distribusi bercak darah pada
pakaian dapat diperkirakan posisi korban
sewaktu terjadinya perdarahan. Pada korban
yang bunuh diri dengan cara memotong
leher pada posisi tegak atau pada kasus

pembunuhan disaat korbannya sedang


berdiri, maka bercak/ aliran darah dapat
tampak mengalir dari atas ke bawah. 5
Analisis Pola Bercak Darah
Analisis pola bercak darah adalah
interpretasi pola bercak darah yang terdapat
pada tempat kejadian perkara untuk
memperkirakan kejadian yang menyebabkan
timbulnya bercak darah tersebut. Analisis
pola bercak darah tidak hanya menyediakan
informasi tentang apa yang telah terjadi,
namun juga apa yang tidak terjadi pada
TKP. Informasi ini dapat membantu para
penyidik untuk merekonstruksi ulang adegan
kriminal dan mencocokkan pernyataan dari
saksi dan tersangka6.
Darah dapat keluar dari tubuh korban
dengan berbagai macam cara, tergantung
pada cedera/ perlukaan yang terjadi. Darah
dapat mengalir (flow), terpercik (drip),
menyemprot (spray), menyembur (spurt),
bercucuran (gush), atau hanya merembes
(ooze) dari perlukaan6.
Bercak darah dapat terbentuk
dengan ukuran dan bentuk yang berbeda.
Ketika darah menetes secara pasif dari
sebuah objek, seperti dari ujung hidung atau
ujung jari tangan yang berdarah, bercak
darah menyebar dengan ukuran sampai
massa darah mengatasi tegangan permukaan
darah dan berbentuk bebas. Ukuran rata-rata
bercak tersebut sekitar 0.05. Jika menyentuh
permukaan horizontal dengan sudut tegak
lurus (90 derajat) bercak darah akan
terbentuk bulat. Jika permukaannya halus,
keras, dan tidak berpori seperti genteng
kaca, maka, bercak berbentuk bulat dan rapi.
Namun, jika permukaannya kasar, seperti
kayu atau beton, maka bercak akan
cenderung putus-putus. 8
Ketika tetesan darah menyentuh
permukaan dengan sudut kurang dari 90
derajat maka bercak darah yang terbentuk
oval , dan permukaan dengan sudut menurun
2

maka bercak darah yang terbentuk menjadi


lebih panjang dan sempit seperti bentuk
tetesan air mata atau tanda seru ( ! ) dengan
bercak darah mengecil di salah satu ujung.
Pola ini menunjukkan arah dan jarak dari
sumber perdarahan. Tetesan darah yang
berukuran sama jatuh dari ketinggian yang
berbeda akan menghasilkan bercak darah
dengan diameter yang sedikit lebih besar
hingga ketinggian 6 kaki ( 1.8 meter ), lebih
dari itu tidak ada perubahan diameter. 8
Noda darah dibagi menjadi 3 jenis
dasar dalam ilmu forensik: passive stain,
transfer stain, dan projected atau impact
stain. Noda darah yang termasuk ke dalam
passive stain adalah bercak darah (drops),
aliran darah (flows), dan genangan darah
(pools); khususnya disebabkan oleh gaya
gravitasi. Transfer stain dihasilkan dari
benda/objek yang kontak dengan noda darah
yang
telah
ada
sebelumnya
dan
meninggalkan bekas; contohnya seperti
tapak sepatu yang menginjak genangan
darah dan meninggalkan bekasnya di lantai
atau contoh lainnya adalah bekas
gesekan/usapan darah di dinding atau lantai
dari tubuh korban yang diseret. Impact stain
dihasilkan dari darah yang terproyeksikan ke
udara dan biasanya akan terlihat sebagai
bekas percikan darah, cipratan, atau dapat
juga berbentuk semburan darah (berasal dari
arteri). Karakteristik dari percikan darah
tersebut bergantung pada kecepatan pada
saat darah meninggalkan tubuh dan jenis
perlukaan yang ditimbulkan pada tubuh
korban6.

Pola di atas terbentuk ketika darah


menetes ke atas genangan darah yang ada di
lantai, menyebabkan tetesan-tetesan kecil
terpercik dari genangan tersebut ke
permukaan
vertikal
yang
ada
di
sampingnya7.

Pola di atas dihasilkan dari percikan


darah dari objek yang bergerak, dalam hal
ini dari kanan ke kiri7.

Pola di atas dihasilkan dari sebuah


objek yang jatuh atau menghantam
genangan darah di bawahnya dan darah
terpercik ke permukaan vertikal yang ada di
depannya7.
Jejak bercak darah terbentuk ketika
darah yang menetes dari orang yang terluka
atau orang yang memegang senjata yang
terdapat darah, bergerak di atas permukaan.
Bercak darah yang terbentuk
dapat
menunjukkan arah pergerakan. 8
Beberapa bercak darah terbentuk
tidak secara pasif saja namun juga bisa
karena dispersi adanya tekanan yang kuat,
seperti bersin, gerakan cepat dari tangan
yang berdarah, atau pukulan ke kepala yang
berdarah. Adanya gaya tersebut dapat
terbentuk bercak darah dengan diameter
yang lebih kecil daripada tetesan darah
pasif. Pada keaadan dengan kecepatan
tinggi, bercak darah yang terbentuk dengan
diameter kurang dari 1 mm dan dengan
jarak bercak darah dari sumber perlukaan

yang tidak lebih dari 3 kaki ( 0.9 meter) dari


sumber perdarahan. Bentuk ini terjadi
karena massa darah kecil dan efek hambatan
udara. Adanya semprotan aerosol dengan
kecepatan tinggi dan bercak darah pada
objek dengan jarak 3 meter adalah khas dari
luka tembak di kulit yang terbuka. 8
Dampak dari percikan dengan
kecepatan rendah, seperti dari pukulan maka
jumlah bercak darah lebih sedikit namun
diameter bercak darah lebih lebar. Semakin
besar kekuatan maka semakin banyak
bercak darah yang terbentuk dan semakin
jauh jaraknya dari sumber perdarahan.
Bagaimanapun,
tetesan
darah
yang
melayang di udara, secara pasif akan jatuh
dengan jarak tidak lebih dari 3 kaki dari
sumber perdarahan. Pemeriksaan ukuran
bercak darah memberikan indikasi apakah
bercak tersebut menetes bebas di udara
ataukah ada kekuatan eksternal yang
mempengaruhi, bersifat lemah, sedang atau
dengan kecepatan tinggi. 8
Ketika pembuluh darah arteri
terputus, luka tersebut terbuka dan tidak
tertutup oleh pakaian, darah bisa
menyemprot dari luka karena pengaruh
tekanan darah arteri. Efeknya menyebabkan
volume darah yang menyemprot dapat lebih
banyak daripada tetesan darah. Percikan
darah dapat mengarah ke permukaan yang
berdekatan dan kemudian berubah menjadi
percikan darah. Ketika korban masih dalam
posisi berdiri, tekanan darah sistolik/
diastolik berfluktuasi sehingga dapat
menghasilkan proyeksi bercak darah dengan
pola zig-zag. Volume darah yang mengalir
keluar dari luka dan jatuh ke tanah dengan
pola yang sama dari proyeksi percikan
darah. 8
Pola bercak darah pada pakaian
karena tetesan darah dari luka dan dibawah
pengaruh gravitasi, seperti hidung berdarah
atau tusukan di tenggorokan, dapat
menunjukkan dampak tindakan, dan posisi
korban saat pendarahan itu terjadi. Demikian
4

pula aliran darah di seluruh tubuh atau


dipakaian di bawah pengaruh gravitasi
mencerminkan posisi tubuh. Bercak darah
pada tubuh dan pakaian yang memiliki nilai
pembuktian harus dicatat di tempat kejadian
karena transportasi/pemindahan dari tubuh
korban dapat menyebabkan perubahan
warna bercak darah sehingga dapat
menutupi pola asli. Hal ini mungkin dapat
disarankan untuk mengambil pakaian di
tempat kejadian lalu menyimpannya sebagai
barang bukti. Pola bercak darah di tempat
kejadian harus didokumentasikan dengan
fotografi dengan atau tanpa diukur, ada
sketsa dan catatan. 8
Tujuan Analisis Pola Bercak Darah
Bercak
darah
sebagai
bukti
seringkali dihubungkan dengan tindak
kriminal kekerasan seperti pembantaian,
pembunuhan, penculikan; atau bahkan
bunuh diri dan kecelakaan lalu lintas. Satu
dari sekian banyak fungsi analisis bercak
darah adalah untuk mendukung dan
menguatkan pernyataan saksi dengan
penemuan posmortem dan hasil pemeriksaan
laboratorium6.

I. Daftar Pustaka
1. Newton, D.E. 2007. Forensic Chemistry:
Facts on File.
2. Interpreting
Bloodstain
Patterns.
Diunduh dari http://www.crimesceneforensics.com/Blood_Stains.html
3. James, S.H; Edel, C.F. 2000. Bloodstain
Pattern Interpretation. Dalam: Eckert,
William G., penyunting. Introduction to
Forensic Sciences. New York: Elsevier.
H.176-209.
4. Interpreting
Bloodstain
Patterns.
Diunduh dari http://www.crimesceneforensics.com/Blood_Stains.html
5. Tjiptoamartono, A.L. 2008. Pemeriksaan
di Tempat Kejadian Perkara, Dalam:
Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik
dalam Proses Penyidikan edisi revisi.
Jakarta: Sagung Seto.
6. http://www.crime-sceneinvestigator.net/SimplifiedGuideBloodst
ainPatterns.pdf.
7. https://dps.mn.gov/divisions/bca/bcadivisions/forensicscience/Pages/forensic-programs-crimescene-bpa.aspx.
8. Anonymous. Blood And Other Stains,
Lecture Notes in Forensic Medicine
Derrick Pounder, University of Dundee.