Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MATA KULIAH STUDI KASUS PERPAJAKAN

Nama

: Fatah Manohara

NPM

: F201420011

Dosen

: Drs. Chairil Anwar Pohan, M.Si, MBA

Apabila PT. X adalah Bentuk Usaha Tetap :

Pada Kasus tersebut dapat terbagi menjadi beberapa bagian yaitu koreksi Direktorat
Jenderal Pajak atas biaya :

Biaya Service & Agremeent Fee

Biaya Marketing Research

Berdasarkan UU PPh Pasal 5 ayat 3 diatur ketentuan sebagai berikut :

Dalam menentukan besarnya laba suatu bentuk usaha tetap :

a. biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang
berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap, yang besarnya ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak;

b. pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperbolehkan dibebankan sebagai biaya adalah :
1) royalti atau imbalan lainnya sehubungan penggunaan harta, paten, atau hak hak lainnya;
2) imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya;
3) bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan;

c. pembayaran sebagaimana tersebut pada huruf b yang diterima atau diperoleh dari kantor pusat
tidak dianggap sebagai Obyek Pajak, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan."
Berdasarkan peraturan pelaksanaan KEP-62/PJ/1995 tentang Jenis Dan Besarnya Biaya
Administrasi Kantor Pusat Yang Diperbolehkan Untuk Dibebankan Sebagai Biaya Suatu Bentuk
Usaha Tetap adalah sebagai berikut:

Biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto
yang diterima atau diperoleh suatu bentuk usaha tetap di Indonesia adalah biaya administrasi
yang dikeluarkan oleh kantor pusat yang berkaitan dan dalam rangka untuk menunjang usaha
atau kegiatan bentuk usaha tetap yang bersangkutan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan. Besarnya biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk
dikurangkan dari penghasilan bruto di Indonesia setinggi-tingginya adalah sebanding dengan
besarnya peredaran usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap di Indonesia terhadap seluruh
peredaran usaha atau kegiatan perusahaan di seluruh dunia. Bentuk usaha tetap di Indonesia yang
mengurangkan biaya administrasi kantor pusat, wajib menyampaikan laporan keuangan
konsolidasi atau kombinasi dari kantor pusat yang meliputi seluruh usaha dan/atau kegiatan
perusahaan di seluruh dunia untuk tahun pajak yang bersangkutan sebagai lampiran Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Laporan Keuangan konsolidasi atau kombinasi harus
sudah diaudit oleh akuntan publik dan mengungkapkan rincian peredaran usaha atau kegiatan
perusahaan serta jenis dan besarnya biaya administrasi yang dibebankan kepada masing-masing
bentuk usaha tetap di negara tempat perusahaan yang bersangkutan melakukan usaha atau
kegiatan.

Menurut dasar hukum di atas, Direktur Jenderal Pajak memiliki kewenangan untuk
menetapkan besarnya biaya administrasi kantor pusat yang dapat dibebankan dengan melakukan
analisa kewajaran atas transaksi yang terjadi apabila memenuhi kaidah sebagaimana dimaksud di
atas.

Apabila PT. X adalah Perseroan Terbatas (Bukan BUT) :

Pada Kasus tersebut saya menemukan bahwa Wajib Pajak yang mengajukan banding
pada pengadilan pajak adalah berbentuk Perseroan Terbatas dengan yaitu PT. X. Hal ini berarti
terdapat kemungkinan bahwa Perseroan Terbatas tersebut didirikan di Indonesia terlebih majelis
hakim menggunakan UU nomor 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas dalam hal pembagian
Dividen. Undang- Undang Pajak Penghasilan sebagaimana perubahan terakhir pada pasal 5 ayat
3 dan hanya mengatur mengenai pembebanan biaya tertentu pada Bentuk Usaha Tetap. Sehingga
apabila hal tersebut terjadi walaupun secara substansi modal, manajemen, maupun teknologi
berada sepenuhnya di tangan Kantor Pusat, Chuo Senko Adv. Co., Ltd., Japan Tim Pemeriksa
Direktorat Jenderal Pajak tidak dapat mengenakan ketentuan di atas sebagai dasar melakukan
koreksi. Bentuk Usaha Tetap sendiri didefinisikan :

Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang
tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

Terlepas dari masalah BUT atau bukan BUT tersebut di atas, terdapat pokok masalah
yang sama yaitu mengenai hubungan istimewa. Hubungan istimewa diatur dalam Pasal 18 ayat 4
UU Pajak Penghasilan :

Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sampai dengan ayat (3d), Pasal 9

ayat (1) huruf f, dan Pasal 10 ayat (1) dianggap ada apabila:
a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah
25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain; hubungan antara Wajib Pajak
dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak
atau lebih; atau hubungan di antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir;
b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di
bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
c. terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus
dan/atau ke samping satu derajat.

Hubungan tersebut tidak disanggah Wajib Pajak sehingga Tim Pemeriksa dapat menggunakan
ketentuan-ketentuan dan peraturan mengenai transaksi dengan Hubungan Istimewa. Hal tersebut
diatur pada:
Pasal 9 ayat (1) huruf f :

Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak
yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang
dilakukan
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-04/PJ.7/1993 tentang Petunjuk
Penanganan Kasus-. Kasus Transfer Pricing

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan antisipasi terhadap dinamika
perkembangan bentuk transaksi bisnis dengan peraturan-peraturan yang cukup memadai. Dirasa
cukup memadai karena telah menentukan kaidah biaya-biaya tertentu yang tidak diperbolehkan
sehubungan dengan Bentuk Usaha Tetap dan biaya biaya tertentu baik BUT maupun Badan
apabila melakukan transaksi hubungan istimewa. Namun salah satu pasal yang penulis rasa
cukup efektif namun belum memiliki peraturan teknis adalah Pasal 18 ayat (3) dimana Direktur
Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan
serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi

Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan
kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa. Kata-kata
kelaziman usaha ini menjadi sangat subyektif dan praktiknya di lapangan tidak mudah untuk
mencari kesebandingan dengan usaha yang lain .Apabila merujuk dalam kasus sengketa banding
yang terjadi terkait
-

Biaya Marketing Research : perlu dilakukan analisa dan pembuktian lebih mendalam
kemanfaatan biaya dan kewajaran nilai biaya tersebut dalam rangka mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan PT. X di Indonesia. Apabila PT. X melakukan
ekspor produk atau jasa dan biaya tersebut dilakukan untuk mendapatkan penghasilan
atas pasar di negeri-negeri tempat PT.X mendapatkan penghasilan maka dapat
dibiayakan. Artinya Riset Pemasaran dilakukan untuk melakukan ekspansi maupun
penetrasi pasar di negara-negara tujuan dan hal tersebut telah terjadi dan dapat
dibuktikan. Pembuktian hal tersebut yang menentukan kekuatan Tim Pemeriksa dalam
melakukan koreksi dengan berdasarkan koridor peraturan yang ada. Selain pengujian
terhadap substansi riset, harus dilakukan pengujian bentuk bisnis utama perusahaan
pelaku riset(kantor pusat). Ketika induk perusahaan melakukan riset sedangkan hasil riset
tersebut dibebankan kepada PT. X di Indonesia tentunya atas pembebanan tersebut lebih
pantas menjadi bentuk hibah(foundation) dimana atas hasil riset tersebut belum dapat
diketahui kemanfaatan bagi manajemen PT. X dalam mengambil kebijaksanaan. Kecuali
memang Kantor Pusat merupakan perusahaan penjual jasa riset dan atas hasil risetnya
diserahkan kepada PT.X untuk meningkatkan penjualan.

Biaya Service & Agrement Fee : perlu dilakukan analisa dan pembuktian lebih mendalam
tentag kemanfaatan biaya Service & Agrement Fee. Pada tahun tersebut adakah
Corporate Guarantee , Jasa Manajemen, dan lainnya yang diberikan dan kemanfaatan
yang didapat PT. X terkait jaminan tersebut. PT. X dalam tahun berjalan mengalami
kerugian, apabila selama beberapa tahun terakhir selalu membebankan biaya di atas
namun perusahaan sering mengalami kerugian setiap tahunnya tentunya bukan hal yang
wajar. Tim Pemeriksa harus dapat membuktikan dahulu keberadaan atau realisasi biaya
tersebut kemudian melakukan analisa kewajaran biaya tersebut.

2. Saya tidak setuju ketika Tim Pemeriksa mengenakan istilah Dividen Terselubung atas
transaksi pemberian Biaya Service and Agrement Fee sesungguhnya sangat berisiko karena
istilah Dividen Terselubung tersebut tidak diatur (normanya) dalam batang tubuh UndangUndang Pajak Penghasilan sebagaimana perubahan terakhir. Istilah Dividen Terselubung baru
muncul pada penjelasan Undang-Undang Pajak Penghasilan sedangkan Dividen sebagai Objek
Pajak penghasilan diatur dalam batang tubuh Undang-Undang Pajak Penghasilan. Peraturan
teknis(turunan) mengenai Dividen Terselubung pun akan menjadi tidak efektif karena menurut
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Berdasarkan ketentuan ini, jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia
adalah sebagai berikut :
1)

UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2)

UU/Perppu;

3)

Peraturan Pemerintah;

4)

Peraturan Presiden;

5)

Peraturan Daerah.

Ketentuan dalam Undang-Undang ini sudah tidak berlaku sekarang namun berlaku pada Tahun
Pajak 2005. Sebenarnya Tim Pemeriksa dapat mengambil pemahaman lain atas koreksi Biaya
Service and Agrement Fee dengan pembuktian keberadaan dan kemanfaatan bagi PT. X.
Apabila menggunakan istilah Deviden Terselubung tentunya Majelis Hakim akan menggunakan
ketentuan-ketentuan mengenai Deviden dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas karena dalam Undang-undang tersebut diatur lebih mendetail mengenai
Dividen. Termasuk tidak mungkin ada RUPS, Kantor Pusat PT. X bukan pemegang saham, dan
laba bersih PT.X masih menunjukkan Rugi. Hal tersebut secara otomatis akan menggugurkan
pengenaan Deviden Terselubung oleh Tim Pemeriksa. Sehingga saya mendukung keputusan
Majelis Hakim atas dasar sebagaimana di atas. Supaya lebih konstruktif saya memberi solusi
dengan melakukan perubahan UU Pajak Penghasilan atau menerbitkan Perpunya jika ingin
memperkuat istilah Deviden Terselubung menjadi sebuah norma dalam batang tubuh undangundang.

Saya tidak setuju koreksi atas Biaya Marketing and Research karena Majelis Hakim tidak
mempertimbangkan maksud dan tujuan biaya tersebut. Padahal Majelis Hakim mengakui bahwa
tidak terdapat kepemilikan saham Kantor Pusat pada PT.X namun melakukan pembiaran atas
biaya tersebut yang justru ditanggung oleh PT. X.