Anda di halaman 1dari 38

MODUL 2: PEMODELAN TRANSPOR SEDIMEN PASIR

Oleh: Valen Rangga G., S.Si

Pendahuluan

Pada modul 2 ini mengambil daerah di Pelabuhan Torsminde di pantai barat


Jutland, Denmark

Gambar 1 Peta daerah Laut Utara (North Sea)

Latar Belakang
Dari tahun 1980 hingga 100 tahun ke depan, beberapa bagian dari pantai di
pelabuhan Torsminde telah dilindungi oleh beberapa struktur misalnya groin.

Gambar 2 Pelabuhan Torsminde, Denmark (dilihat dari selatan)


Masalah sedimentasi dan pendangkalan yang parah yang berpengaruh terhadap
pintu masuk pelabuhan serta perlunya alternatif layout pelabuhan membuat
dibutuhkannya investigasi awal untuk mengetahui bagaimana pola transpor
sedimen di daerah tersebut.

Tujuan
Tujuan dari pelatihan modul 2 ini adalah untuk melakukan setting model
sehingga dapat mensimulasikan perubahan kedalaman di daerah pelabuhan
Torsminde dengan hasil yang memuaskan

Pembuatan mesh
Pembuatan mesh umumnya membutuhkan beberapa modifikasi dari data set
yang telah ada, sehingga daripada menjelaskan kembali setiap klik untuk
masing-masing tahap, beberapa pertimbangan utama dan metode pembuatan
mesh dapat dilihat kembali pada Modul 1 Hidrodinamika sebelumnya.

Pada modul ke 2 untuk sedimen transpor pasir ini, beberapa file xyz yang
penting dan file mdf nya telah disiapkan pada contoh data sehingga waktu
yang tersisa bisa digunakan untuk mempelajari hal-hal yang lain dari modul
sedimen transpor pasir. File mesh juga telah disiapkan dimana dipilih mesh
yang kasar untuk mengurangi waktu simulasi yang dibutuhkan.
Ringkasan properti dari mesh batimetri yang telah dibuat ditunjukkan pada
tabel.

Gambar 3 Properti mesh batimetri

Gambar dibawah ini menunjukkan bagaimana kondisi mesh yang digunakan


sebagai contoh yang ditampilkan menggunakan Data Viewer dan MIKE
Animator.

Gambar 4 Mesh batimetri pelabuhan Torsminde dilihat menggunakan Data


Viewer

Gambar 5 Mesh batimetri pelabuhan Torsminde dilihat menggunakan MIKE


Animator

Membuat beberapa parameter input

Sebelum melakukan setting model untuk MIKE 21 Flow Model FM, data input
harus disusun terlebih dahulu dari data pengukuran.
Beberapa data hasil pengukuran yang telah disiapkan antara lain:
1. Data pengukuran tinggi muka air dari jetty untuk tahun 1997 1999
2. Hasil model gelombang di daerah Laut Utara (North Sea)
3. Hasil survei batimetri sebelum dan setelah badai di pintu masuk
pelabuhan, survei dilakukan masing-masing pada tanggal 16 dan 27
Oktober 1997
4. Survei pengukuran garis pantai di sepanjang pantai barat pada tahun
1998
5. Survei pengukuran garis pantai lokal pada tahun 1999
Data survei batimetri di mulut pelabuhan akan digunakan sebagai data kalibrasi
dari model transpor sedimen pasir sehingga nantinya akan dipilih waktu
simulasi dari tanggal 16 Oktober 1997 sampai 27 Oktober 1997 (11 hari)
Data-data pengukuran terdapat dalam folder Data ASCII.

Kondisi tinggi muka air di batas


Data pengukuran tinggi muka air di pelabuhan Torsminde telah tersedia.
Namun, tidak terdapat pengukuran tinggi muka air di daerah batas sehingga
variasi tinggi muka air di sepanjang batas tidak diketahui. Oleb sebab itu,
kondisi tinggi muka air di batas akan didefinisikan sebagai time series yang
konstan di sepanjang daerah batas (dfs0 file). Selain itu, kondisi tinggi muka air
di pelabuhan Torsminde akan diasumsikan sebagai kondisi tinggi muka air di

daeah batas di sepanjang waktu model. Hal ini dapat dilakukan karena domain
model yang berupa area terbuka dan relatif kecil luasnya.
Hasil pengukuran tinggi muka air dapat dilihat pada file Torsminde_level.txt
dimana hasil pengukurannya dinyatakan dalam satuan cm.

Gambar 6 File ASCII hasil pengukuran tinggi muka air di Torsminde


Buka Time Series Editor pada MIKE Zero (FileNewFile).

Gambar 7 Memulai Time Series Editor pada MIKE Zero

Pilih ASCII template. Buka file Torsminde_levels.txt. Ubah deskripsi waktunya


ke Non-Equidistant Calendar Axis dan klik OK.

Gambar 8 Time Series Editor : impor data


Kemudian pada properti data (EditProperties), ubah tipe datanya menjadi
Water Level.

Gambar 9 Properti Time Series


Simpan hasilnya dengan nama WaterLevels_nonEq.dfs0
File time series yang telah dibuat ternyata terdapat bagian kosongnya (gaps).
Contohnya, pada tanggal 1/7/1997 pengukuran terhenti pada pukul 17:30 dan
dimulai kembali pada pukul 09:00 di hari berikutnya.
Untuk mengisi bagian kosong tersebut dapat digunakan tool dari MIKE Zero
yaitu Interpolate Time Series
Buka MIKE Zero Toolbox pada MIKE Zero (File New MIKE Zero Toolbox).
Pilih Interpolate Time Series pada bagian Time Series.

Gambar 10 Memilih tool Interpolate Time Series pada MIKE Zero Toolbox
Klik New dan ikuti tampilan berikutnya. Pilih file WaterLevels_nonEq.dfs0
sebagai input. Pada tampilan berikutnya, tentukan parameter-parameter
interpolasi yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini. Pada nilai time step
tentukan nilainya 900 detik (15 menit)

Gambar 11 Menentukan parameter interpolasi pada tool Interpolate Time Series


Simpan hasilnya dengan nama WaterLevels_Eq.dfs0
Buka file tersebut pada Time Series Editor dan kalikan nilai data dengan 0.01
sehingga data yang tersedia sudah dalam satuan meter.

Gambar 12 Time Series Editor dengan data tinggi muka air yang telah diimpor

Untuk mendapatkan variasi nilai tinggi muka air yang lebih smooth (halus),
hasil pengukuran tinggi muka air di daerah Torsminde harus di low filter. Jika
tidak dilakukan filter, simulasi numerik bisa mengalami ketidakstabilan.
Untuk melakukan filter pada time series dapat digunakan salah satu tool dari
MIKE 21 yaitu Filtering of Time Series
Buka MIKE 21 Toolbox pada MIKE Zero (File New File)

Gambar 13 Memilih MIKE 21 Toolbox pada MIKE Zero


Pilih tool FFT Filtering of Time Series pada bagian Waves

Gambar 14 Memilih tool FFT Filtering of Time Series pada MIKE 21 Toolbox
Klik New dan ikuti tampilan berikutnya. Pilih file WaterLevels_Eq.dfs0 sebagai
input file. Pada tampilan berikutnya, tentukan rentang frekuensi seperti yang
ditunjukkan pada Gambar. Frekuensi maksimum yang diinginkan bernilai 5e005 Hz sesuai dengan 5.5 jam.

Gambar 15 Menentukan range frekuensi pada tool FFT Filtering of Time Series
Simpan hasilnya dengan nama Waterlevels_Torsminde.dfs0.
Sekarang file tinggi muka air sudah siap digunakan sebagai kondisi batas untuk
simulasi.

Kondisi Gelombang
Kondisi gelombang harus dihitung sebelum simulasi transport sedimen pasir
dilakukan. Kondisi gelombang pada modul ini diperoleh dari hasil simulasi
MIKE 21 Spectral Wave menggunakan kondisi batimetri awal di daerah tersebut.
Karena daerah model merupakan daerah terbuka dan relatif kecil, kondisi
gelombang dapat diasumsikan konstan di sepanjang batas barat.

Gambar 16 Time series dari tinggi signifikan gelombang dan arah gelombang
rata-rata sepanjang batas barat
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa di awal simulasi terdapat gelombang
yang cukup kecil yang berasal dari barat daya (SW). Setelah hampir 4 hari arah
gelombang berubah menjadi dari arah barat laut (NW) dan tinggi gelombang
bertambah.

Kondisi awal (modul hidrodinamika)


Kondisi awal tinggi muka air diasumsikan bernilai 0.0 m di seluruh daerah
model. Dengan menggunakan fungsi soft start, tinggi muka air akan
menyesuaikan diri dengan tinggi muka air hasil pengukuran di pelabuhan
Torsminde dalam waktu 1 jam.

Kondisi Angin (modul hidrodinamika)


Hasil pengukuran kondisi angin di pelabuhan Torsminde akan membentuk
kondisi angin time series yang konstan terhadap ruang.

Gambar 17 Kecepatan dan arah angin di Torsminde selama waktu simulasi


Hasil pengukuran angin dari pelabuhan Torsminde telah dimasukkan ke dalam
Time

Series

Editor

dan

disimpan

dengan

interval

jam

pada

file

Wind_Torsminde_3h.dfs0.

Data sedimen
Properti sedimen diasumsikan konstan di sepanjang daerah model. Nilai tengah
(median) dari besar butirannya adalah 0.3 mm dan sedimen tersortir dengan
baik dengan spreading index 1.45.
Sebelum melakukan simulasi transport sedimen pasir, tabel transport sedimen
harus dibuat terlebih dahulu. Tingkat keluasan nilai parameter dalam tabel
sebisa mungkin harus terpenuhi selama waktu simulasi.
Untuk membuat tabel transport sedimen, buka MIKE 21 Toolbox pada MIKE
Zero dan pilih Generation of Q3D Sediment Tables lalu pilih New.

Gambar 18 Memilih tool untuk membuat tabel transpor sedimen


Ikuti sesuai petunjuk, beri nama settingannya dan lanjutkan pada tampilan
selanjutnya yang berisi General Parameters dan Additional Parameters. Klik
next untuk masing-masing tampilan untuk menerima nilai defaultnya. Pada
tampilan parameter gelombang, ubah teori gelombang yang akan digunakan ke
Stokes orde pertama.

Gambar 19 Memilih teori gelombang pada tabel transpor sedimen

Pada tampilan berikutnya, nilai-nilai parameter akan didefinisikan pada tabel.

Gambar 20 Mendefinisikan parameter dari tabel transpor sedimen


Masukkan nilai-nilai parameter sesuai dengan gambar diatas, lalu klik next dan
beri judul pada tabel transport sedimen yang akan dibuat. Simpan setting dan
klik Execute pada tool untuk membuat tabel transport sedimennya. Dua file
ASCII akan dibuat dengan tipe file masing-masing adalah .lon dan .crs.
Karena untuk membuat tabel transport sedimen sangat bergantung pada
kemampuan komputasi, tabel transport sedimen untuk modul ini telah
disediakan.

Setting MIKE 21 Flow Model FM

Spesifikasi
Setting model sekarang sudah siap untuk dilakukan dengan menggunakan
mesh Torsminde, kedalaman sebelum badai, kondisi batas dan gaya-gaya
pembangkit seperti angin dan gelombang yang telah dibuat sebelumnya.

Beberapa parameter yang akan digunakan pada simulasi terangkum dalam


tabel dibawah ini.

Gambar 21 Rangkuman spesifikasi simulasi


Spesifikasi untuk parameter umum

Proyeksi koordinat yang telah digunakan pada mesh adalah UTM-32 dimana
terdapat 3 batas: batas utara dengan kode 2, batas barat dengan kode 3, dan
batas selatan dengan kode 4. Ubah nama masing-masing batas dengan
North, West, dan South pada bagian Boundary Names.

Gambar 22 MIKE 21 Flow Model FM : menentukan domain


Tentukan interval overall time step dengan nilai 1800 s dan jumlah time step
adalah 582 agar periode simulasi menjadi 11 hari.

Gambar 23 MIKE 21 Flow Model FM : periode simulasi


Pada modul ini, selain modul hidrodinamika, aktifkan juga modul Sand
Transport pada bagian Module Selection.

Gambar 24 MIKE 21 Flow Model FM : pemilihan modul

Spesifikasi modul hidrodinamika


Untuk persamaan perairan dangkal digunakan penyelesaian Low order, fast
algorithm untuk kedua deskritisasi waktu dan ruang.

Gambar 25 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : teknik penyelesaian


Time step minimum ditentukan bernilai 0.1 untuk memastikan bahwa nilai CFL
selalu lebih kecil daripada nilai CFL maksimumnya yaitu 1. Time step
maksimum ditentukan bernilai sama dengan time step overall yaitu 1800 s.

Pada contoh modul kali ini fungsi flood and dry diaktifkan karena variasi tinggi
muka air akan menyebabkan beberapa bagian dari pantai mengering selama
simulasi. Jika fungsi flood and dry tidak diaktifkan maka model akan blow up di
beberapa situasi di daerah yang mengering. Pada kali ini gunakan nilai default
untuk drying depth, flooding depth, dan wetting depth.

Gambar 26 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : flood and dry
Karena variasi densitas tidak diperhitungkan pada contoh kali ini, densitas akan
didefinisikan sebagai Barotropic pada bagian Density.

Gambar 27 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : penentuan densitas


Pada bagian Eddy Viscosity akan digunakan nilai default untuk koefisiennya
yaitu 0.28.

Gambar 28 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : viskositas eddy


Nilai pada bagian Bed Resistance akan didefinisikan sebagai peta Manning.
Angka Manning bernilai 40

1/3/s

di sebagian besar daerah, tetapi mengecil di

daerah batas selatan dan utara untuk mencegah ketidakstabilan selama waktu
simulasi.
Format dari nilai gesekan dasar ini adalah Varying in domain agar dapat
mendefinisikannya dalam bentuk file 2 dimensi.

Gambar 29 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : gesekan dasar


didefinsikan sebagai varying in domain
Bagian Wind Forcing juga dimasukkan sebagai file time series.

Formatnya harus ditentukan sebagai Varying in time, constant in domain agar


dapat mendefinsikan kondisi angin sebagai file time series.

Gambar 30 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : pengaruh angin


Tipe dari gesekan angin ditentukan sebagai Varying with wind speed dengan
menggunakan nilai default.
Nilai radiasi gelombang yang akan digunakan telah dihitung sebelum simulasi
dilakukan sehingga harus ditentukan tipenya sebagai Specified Wave Radiation
pada bagian Wave Radiation.

Gambar 31 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : radiasi gelombang

Pada kondisi awal digunakan nilai untuk tinggi muka air adalah 0.0 meter
dimana nilai ini akan menyesuaikan dengan nilai tinggi muka air hasil
pengukuran setelah 1 jam.

Gambar 32 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : kondisi awal


Pada contoh ini beberapa parameter tidak dimasukkan, antara lain:

Coriolis Force

Ice Coverage

Precipitation-Evaporation

Sources

Tidal Potential

Decoupling

Pada bagian Boundary Condition terdapat 3 batas yang akan digunakan yaitu
batas utara (North), batas barat (West), dan batas selatan (South). Untuk
masing-masing batas akan digunakan tipe batas yaitu Specified Level karena
hanya pengukuran tinggi muka air yang tersedia. Format kondisi batas harus

ditentukan sebagai Varying in time, constant along boundary agar dapat


mendefinisikan kondisi batas sebagai file time series (dfs0).

Gambar 33 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : kondisi batas


didefinisikan sebagai specified level
Pada batas utara dan selatan harus diaktifkan Include radiation stress
correction. Hal ini akan menyebabkan perubahan secara otomatis pada kondisi
tinggi muka air di batas akibat adanya pengaruh gelombang pecah. Sedangkan
pada batas barat koreksi tidak perlu dilakukan karena pengaruh gelombang
pada perairan dalam untuk contoh modul ini tidak diperhatikan.
Pada kolom soft start interval tentukan nilainya adalah 3600 s.
Pada bagian Output, klik New, dan definisikan output sebagai Area Series
dan tentukan nama filenya adalah HD_output.dfsu.

Gambar 34 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : tipe output dan
lokasi
Kurangi ukuran output dengan mengubah frekuensi output dari 1800 s
menjadi 3600 s dengan memasukkan nilai specified output frequency adalah
2 (3600/1800).
Pilih parameter-parameter yang ingin ditampilkan pada file output sesuai pada
gambar dibawah ini.

Gambar 35 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Hidrodinamika : parameter output

Spesifikasi modul transport sedimen pasir


Pada bagian Model Definition, pilih tipe model yaitu Waves and current
karena perhitungan
berdasarkan
Kemudian

transport sedimen pasir

perhitungan

pilih

file

simultan

tabel

dipersiapkan sebelumnya.

dari

transport

pada simulasi ini

interaksi

sedimen

gelombang

QsTable.lon

adalah

dan

arus.

yang

telah

Gambar 36 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir : definisi
model
Time step untuk perhitungan transport sedimen ditentukan pada bagian Time
Parameters. Nilai time step untuk simulasi transpor sedimen ditentukan
berdasarkan nilai time step overall pada modul hidrodinamika.
Karena simulasi transpor sedimen harus dimulai pada saat yang sama dengan
simulasi hidrodinamika, maka nilai start time step adalah 0. Sedangkan
frekuensi perhitungan transpor sedimen juga sama dengan perhitungan
hidrodinamika sehingga nilai time step factor adalah 1.

Gambar 37 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir : parameter
waktu
Properti sedimen didefinisikan pada bagian Sediment Properties dimana
digunakan nilai porositas default yaitu 0.4. Sedangkan nilai diameter butiran
didefinisikan bernilai sama di seluruh daerah model yaitu 0.3 mm dengan
grading coefficient 1.45. Hal yang harus diperhatikan adalah nilai parameter
sedimen ini harus terdapat pada tabel transpor sedimen yang telah digunakan
sebelumnya agar simulasi transpor sedimen tidak berhenti.

Gambar 38 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir : properti
sedimen

Pada simulasi ini sudah jelas bahwa kondisi arus diperoleh dari hasil simulasi
hidrodinamika. Sedangkan kondisi gelombang dapat didefinisikan pada bagian
Waves dengan tipe Wave Field sehingga dapat dipilih kondisi medan
gelombang dari simulasi gelombang sebelumnya.

Gambar 39 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir :


gelombang
Fokus utama dari simulasi ini adalah untuk memodelkan bagaimana perubahan
kedalaman selama periode badai. Pada bagian Morphology: Model Definition
pilih untuk memasukkan fungsi feedback on hydrodynamic, wave and sand
transport calculation agar diperoleh perubahan yang dinamis dari kondisi
batimetri yang berpengaruh pada perhitungan kedepannya. Tentukan nilai
maksimum perubahan kedalaman yaitu 2 meter/hari untuk menghindari
ketidakstabilan pada simulasi akibat perubahan yang tiba-tiba pada kondisi
batas.

Gambar 40 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir, Morfologi :
definisi model
Time step pada perubahan morfologi dasar adalah sama dengan time step pada
perhitungan transpor sedimen sehingga nilai speed-up factor adalah 1.
Nilai start time step pada bagian Morphology: Time parameter ditentukan
bernilai 0 agar perhitungan perubahan kedalaman batimetri mulai bersamaan
dengan perhitungan transpor sedimennya.

Gambar 41 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir, Morfologi :
parameter waktu

Pada bagian Morphology: Boundary Condition, ditentukan tipe untuk masingmasing kondisi batas adalah zero sediment flux gradient for outflow, zero bed
change for inflow sesuai pada gambar dibawah ini.

Gambar 42 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir, Morfologi :
kondisi batas
Pengaturan file ouput pada simulasi transpor sedimen kurang lebih sama
dengan pada simulasi hidrodinamika yaitu berupa Area Series dengan
frekuensi output 2 kali time step overall. Beri nama hasil outputnya dengan
nama ST_output.dfsu.

Gambar 43 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir : tipe
output dan lokasi
Pilih parameter yang akan dimasukkan pada hasil simulasi transpor sedimen
sesuai pada gambar dibawah ini.

Gambar 44 MIKE 21 Flow Model FM, Modul Transpor Sedimen Pasir : parameter
output
Happy Running!!!!

Daftar Pustaka:
DHI Water & Environment. 2012. MIKE 21 FM Hydrodynamic: Scientific

Document. New York.


DHI Water & Environment. 2012. MIKE 21 FM Sand Transport: Scientific

Document. New York.