Anda di halaman 1dari 5

Era globalisasi saat ini menghadapkan manusia pada situasi dimana

perubahan-perubahan sering terjadi secara cepat di berbagai aspek kehidupan


manusia. Kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berinovasi terhadap perubahanperubahan tersebut guna mencapai kemandirian merupakan suatu kebutuhan. Bangsa
Indonesia yang saat ini telah 69 tahun merdeka masih menjadi penonton di negerinya
sendiri. Padahal, di era tanpa batas saat ini, kualitas kemandirian manusia akan diuji
sebagai perubahan tersebut.
Era globalisasi juga berdampak pada persaingan yang semakin kompetitif.
Untuk bisa memenangkan persaingan, setiap negara tak terkecuali Indonesia yang
merupakan negara berkembang, harus memiliki sumber daya yang berkualitas.
Saat ini, bangsa Indonesia masih terlilit persoalan kemiskinan dan pengangguran. Hal
tersebut sangat mempengaruhi daya saing bangsa. Hal tersebut bisa dilihat dari
Human Development Index (2014) yang semakin menurun. Pada tahun 2014,
Indonesia berada di urutan 108 dari 187 negara. Indonesia bahkan jauh tertinggal dari
negara tetangga terdekat seperti Malaysia dan Singapore.
Indonesia memiliki jumlah pengangguran terdidik yang cukup tinggi.
Berdasarkan data BPS pada Februari 2012, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
untuk tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana masing-masing 7,5% dan 6,95%. TPT
pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi, yaitu TPT Sekolah
Menengah Atas sebesar 10,34% dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar
9,51%. Tetapi, jumlah pengangguran pada Februari 2014 mencapai 7,2 juta orang,
dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, dimana TPT
Februari 2014 sebesar 5,70% turun dari TPT Agustus 2013 sebesar 6,17% dan TPT
Februari 2013 sebesar 5,82%. Pada Februari 2014, TPT untuk pendidikan Sekolah
Menengah Atas menempati posisi tertinggi yaitu sebesar 9,10%, disusul oleh TPT
Sekolah Menengah Pertama sebesar 7,44%, sedangkan TPT terendah terdapat pada
tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 3,69%. Jika dibandingkan keadaan
Februari 2013, TPT pada semua tingkat pendidikan mengalami penurunan kecuali
pada tingkat pendidikan SD ke bawah dan Diploma.

Banyaknya lulusan terdidik yang menganggur bisa jadi disebabkan kualifikasi


yang tidak sesuai akibat rendahnya relevansi kurikulum dengan keahlian yang
dibutuhkan terutama untuk pengangguran lulusan SMA. Lulusan SMA dipersiapkan
untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, namun kenyataannya banyak lulusan SMA
yang tidak mampu melanjutkan sehingga akhirnya mereka harus menganggur karena
tidak dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Selain lulusan SMA, angka
pengangguran yang cukup tinggi juga terjadi di level sarjana. Hal tersebut menjadi
PR besar untuk kita semua sebagai bangsa Indonesia. Nampaknya, pemerintah
Indoensia segera berbenah dengan cara menambah dan mensosialisasikan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pencetak tenaga ahli dan wirausahawan tangguh
dan dan juga mengubah mindset para sarjana untuk menjadi seorang wirausahawan
yang mampu melahirkan inovasi-inovasi melalui risetnya sehingga kita menjadi salah
satu pemain utama dalam percaturan global.
SMK hadir sebagai solusi pemerintah mengentaskan pengangguran yang
jumlahnya terus bertambah. Saat ini pemerintah tengah giat-giatnya mempromosikan
SMK, bahkan sedang mengubah proporsi jumlah SMA SMK dari semula 70:30
menjadi 40:60. SMK dianggap mampu menyiapkan peserta didik yang kreatif,
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kompetensi yang sesuai
dengan tuntutan dunia kerja. Bahkan, hasil sebuah survei menunjukkan bahwa di
kota-kota di mana populasi SMK lebih tinggi dari SMA, maka daerah tersebut
memiliki pertumbuhan ekonomi dan produk domestik regional bruto yang lebih
tinggi. Namun melihat masih banyaknya lulusan SMK yang menganggur, kita harus
segera membenahi sistem pembelajaran SMK berbasis kompetensi sehingga bisa
menghasilkan inovasi dan juga mencetak jiwa kewirausahaan mereka. Sesuai logo
SMK BISA dengan ciri khas siap kerja, santun dan kompetitif di harapkan lulusan
SMK mampu bersaing di era globalisasi ini.
Kurikulum pendidikan kejuruan untuk SMK dirancang khusus dimana siswa
SMK tidak hanya mendapatkan pendidikan secara teori saja, namun dibekali
keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah lulus nanti, sehingga dalam mencari
bahkan menciptakan suatu lapangan kerja, lulusan harus sudah dipersiapkan secara

matang melalui pendidikan kejuruan. Dalam bukunya, Manusia, Teknologi dan


Pendidikan Menuju Peradaban baru, Sonhadji menuliskan bahwa pendidikan
kejuruan dapat berfungsi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, keselamatan, sosial,
penghormatan, dan aktualisasi diri (Teori Hirarkhi Maslow); kebutuhan akan faktor
penyehat dan faktor motivator (Teori Dua-faktor Herzberg); maupun kebutuhan akan
prestasi, kuasa (power), dan afilisasi (Teori McClelland).
Pekerjaan seseorang memiliki pengaruh langsung pada pemenuhan kebutuhan
diri dan prestise sosial. Pekerjaan memiliki porsi besar dalam kehidupan sehari-hari
seseorang, seperti pergaulan dengan orang lain, kepastian penghasilan, gaya hidup,
dan kualitas hidup dari suatu keluarga. Dengan adanya pekerjaan, seseorang
dihormati orang lain (Sonhadji, 2013).
Manusia selalu hidup bersama dengan manusia lain. Masyarakat dengan
berbagai karakteristik sosiokultural inilah yang juga dijadikan landasan bagi kegiatan
pendidikan pada suatu masyarakat tertentu. Bagi bangsa Indonesia, kondisi
sosiokultural bercirikan dua, yaitu secara horisontal ditandai oleh kesatuan-kesatuan
sosial sesuai dengan suku, agama adat istiadat dan kedaerahan. Secara vertikal
ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas,
menengah dan bawah. Fenomena-fenomena sosial dan struktur sosial yang ada pada
masyarakat Indonesia sangat berkaitan dengan pendidikan.
SMK menghadapi sebuah tantangan yang nyata dari waktu ke waktu.
Tantangan tersebut berakar dari kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat yang
semakin lama diabaikan secara prosedural. Selain itu juga konsep tentang pekerjaan
yang berguna secara sosial diartikan sebagai sarana untuk perbaikan diri secara
moral, seperti yang telah diketahui pada pendidikan kejuruan di negara maju
berkembang dari kebutuhan masyarakat dengan rasa sosialisme yang tinggi (Finch &
Calhoun, 1982).
Sebagai fungsi dan tanggung jawab atas pendidikan kita, pendidikan kejuruan
memiliki sifat individual dan mudah beradaptasi terhadap perubahan masyarakat.
Meskipun dimensi keseluruhan yang mencakup masyarakat, pendidikan dan
pertimbangan tenaga kerja pada dasarnya masyarakatlah yang selalu menyediakan

barang dan jasa yang dibutuhkan oleh negara. Pada akhirnya masyarakat sendiri yang
harus menyediakan pengaturan kerja yang produktif dan memuaskan melalui lembaga
sosial maupun individu yang dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Calhoun, Light, dan Keller (1997) menyebutkan bahwa pendidikan memiliki
dua fungsi pokok, yaitu fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes pendidikan
adalah mengajar matapelajaran spesifik bagi siswa, seperti membaca, menulis,
aritmatik, dan keterampilan akademik lainnya (berkaitan dengan hardskill).
Sedangkan fungsi laten, adalah mengajar keterampilan dan sikap sosial, seperti
disiplin-diri, kerjasama dengan orang lain, mentaati hukum, dan bekerja keras untuk
mencapai suatu tujuan (berkaitan dengan softskill). Lebih rinci lagi, Calhoun, Light,
dan Keller (1997) memaparkan tujuh fungsi sosial pendidikan, yaitu: (1) mengajar
keterampilan, (2) mentransmisikan budaya, (3) mendorong adaptasi lingkungan, (4)
membentuk kedisiplinan, (5) mendorong bekerja berkelompok, (6) meningkatkan
perilaku etik, dan (7) memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi.
Rogers, Burge, Korsching, dan Donnermeyer (1988) mendefinisikan
pendidikan sebagai proses dimana suatu budaya secara formal ditransmisikan kepada
para pelajar. Dalam pandangan inim pendidikan mengacu pada setiap bentuk
pembelajaran budaya yang berfungsi sebagai transmisi pengetahuan, pengemongan
manusia muda, mobilitas sosial, pembentukan jati diri, dan kreasi pengetahuan.
Berdasarkan pandangan-pandangan yang telah disebutkan oleh Calhoun,
Light, dan Keller, serta Rogers, Burge, Korsching, dan Donnermeyer, dapat
disimpulkan bahwa pendidikan merupakan transmisi budaya dari generasi satu ke
generasi berikutnya, yang memiliki fungsi manifes dan fungsi late, untuk
mewujudkan integrasi fungsional dan mempertahankan struktur sosial dalam suatu
masyarakat (Sonhadji, 2012).
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan, dasar
psikologis dan sosiologis kebijakan rasio SMA dengan SMK 40 : 60 adalah untuk
mengurangi tingkat pengangguran serta wujud persaingan negara Indonesia di bidang
SDM dengan mencetak lulusan yang lebih terampil. Dengan hadirnya SMK,
diharapkan lulusan dari SMK mampu bersaing di dunia kerja sesuai dengan

bidangnya. Ketika seseorang memiliki pekerjaan, maka kualitas hidupnya akan lebih
baik ketimbang dengan seseorang yang berstatus pengangguran. Selain itu, secara
historis pelatihan kerja cukup baik dalam memenuhi tuntutan industri yang semakin
berkembang. Dengan hadirnya jumlah SMK yang lebih banyak ketimbang SMA,
diharapkan dari SMK-SMK tersebut dapat menciptakan lulusan-lulusan yang
kemudian mampu bersaing menghadapi setiap teknologi yang terus maju sesuai
dengan keadaan sosial dan budaya (culture) di Indonesia.

Daftar Rujukan
Badan Pusat Statistik Indonesia. 2014. Keadaan Ketenagakerjaan Februari 2014,
(Online), (http://www.bps.go.id/brs_file/naker_05mei14.pdf) diakses 12
Oktober 2014.
Badan Pusat Statistik Indonesia. 2014. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II2014, (Online), (http://www.bps.go.id/brs_file/pdb_05agus14.pdf) diakses 12
Oktober 2014.
Calhoun, C.C., & Finch, A.V. 1982. Vocational Education: Concepts and Operations
(2nded.). Belmont, California: Wadworth Publishing Company
Calhoun, C., Light, D., & Keller, S. 1997. Sociology (7th ed.). New York: The
McGwa-Hill Companies, Inc.
Human Development Index. 2014. HDRO calculations based on data from UNDESA
(2013a), Barro and Lee (2013), UNESCO Institute for Statistics (2013b),
United Nations Statistics Division (2014), World Bank (2014) and IMF
(2014). (Online), (http://hdr.undp.org/en/content/human-development-indexhdi-table) diakses 12 Oktober 2014.
Rogers, E.M., Burdge, R.J., Korscing, P.F., & Donnermeyer, J.F. 1988. Social
Change in Rural Societies (3rd ed.). Engelwool Cliffs, N.J.: Prentice-Hall. Inc
Sonhadji, A,. 2012. Manusia, Teknologi, dan Budaya Menuju Peradaban Baru.
Malang: UM Press.