Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dengan meningkatnya mobilitas disektor lalu lintas dan faktor kelalaian
manusia sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang
dapat menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja,
olah raga dan rumah tangga.
Patah tulang antebrachii sering terjadi pada bagian distal yang umumnya
disebabkan oleh gaya pematah langsung sewaktu jatuh dengan posisi tangan
hiperekstensi. Hal ini dapat diterangkan oleh karena adanya mekanisme refleks
jatuh di mana lengan menahan badan dengan posisi siku agak menekuk seperti
gaya jatuhnya atlit atau penerjun payung.
Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak
perubahan letak fragmen tulang. Menurut Lane and Cooper, fraktur atau patah
tulang adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete
yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan
atau tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen.
Fraktur bisa mengenai berbagai bagian tubuh, salah satunya dapat terjadi
fraktur di daerah lengan bawah seperti fraktur Galeazzi, fraktur distal radius yang
terbagi lagi menjadi fraktur Colles, fraktur Smith, dan fraktur Barton. Khusus
untuk fraktur Colles, fraktur jenis ini termasuk fraktur yang juga cukup sering
terjadi terutama mengenai dewasa dengan 8-15% kasus dari seluruh fraktur.

BAB 2
LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn.M

MR : 05.40.36

Usia

: 11 tahun

Ruangan : RBP

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Ds.Ie Tarek, Simpang Kramat

Tanggal Masuk

: 02 Januari 2014

Tanggal keluar

: 05 Januari 2014

Masuk Pukul

: 18.45 Wib

Pekerjaan

: Siswa

Agama

: Islam

2.2 ANAMNESA
1. Keluhan Utama

: nyeri dan sulit menggerakkan tangan kiri

2. Keluhan Tambahan

: tulang menonjol keluar dari pergelangan tangan

3. Riwayat Penyakit Sekarang


pasien datang dengan keluhan nyeri di pergelangan tangan kiri dan luka
terbuka disertai tulang menonjol keluar. Dari keterangan keluarga, Os jatuh
dari pohon kelapa 30 menit SMRS dengan ketinggian 7m. Os jatuh
dengan posisi lengan kiri terjulur menekan batu dibawahnya. Penurunan
kesadaran (-), pusing (-), muntah (-), trauma pada kepala (-), trauma pada
leher (-), trauma pada dada dan perut (-), BAB/BAK (+).

4. Riwayat Penyakit Dahulu :


-

Riwayat trauma sebelumnya disangkal

Riwayat alergi obat di sangkal oleh pasien

Riwayat asma disangkal

Riwayat Penyakit jantung disangkal

Riwayat Hipertensi disangkal

Riwayat Diabetes Melitus disangkal

Riwayat mengkonsumsi obat disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat alergi obat di sangkal oleh pasien

Riwayat asma disangkal

Riwayat Penyakit jantung disangkal

Riwayat Hipertensi disangkal

Riwayat Diabetes Melitus disangkal

2.3 PEMERIKSAAN UMUM


1. Primary Survey
A: Clear
B: Spontan, RR 22 x/menit
C: TD 110/70mmHg, FN 88 x/menit
D: GCS 15 (E4V5M6), compos mentis
2. Status Generalis
a. Kepala

: Normocephal

b. Mata

Konjungtiva/Sklera

: Conjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-,

Kornea

: Jernih pada kedua mata kanan dan kiri

Pupil

: Isokor +/+, refleks cahaya +/+

c. THT

Telinga

: Lubang telinga lapang , cairan (-), darah(-)

Bibir

: Vulnus(-), hematom (-)

Hidung

: Deformitas (-/-), sekret (-/-)

Tenggorokan

: Hiperemis (-), Tonsil T0 T0

d. Leher

: trakea terletak di tengah, tidak ada deviasi, tidak

ada luka
e. Thoraks

Bentuk

: Tidak ada kelainan, jejas (-)

Pergerakan

: Pergerakan hemithorax kiri dan kanan simetris

dalam keadaan statis dan dinamis


f. Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba, tidak kuat angkat

Perkusi

- Batas kanan atas

: ICS II LPS dextra

- Batas kiri atas

`: ICS II LPS sinistra

- Batas kanan bawah : ICS IV LPS dextra


- Batas kiri bawah

: ICS VI LMC sinistra 2 cm lateral

Auskultasi

: Bunyi jantung I II murni reguler, murmur (-),


` gallop (-)

g. Paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris, statis dan dinamis

Palpasi

: Fremitus vokal : kanan = kiri

Perkusi

: Perkusi sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikular pada lapang paru kanan dan


kiri, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

h. Abdomen
Inspeksi

: Perut datar, jejas (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Palpasi

: Defans muscular (-), nyeri tekan epigastrium (-)

Hepar

: Tidak teraba pembesaran

Lien

: Tidak teraba pembesaran

Perkusi

: Tympani, Nyeri ketuk (-)

3. Status Lokalis (Regio Antebrachii distal sinistra)


Look

: Terpasang kain dibebat tekan kiri (deformitas)


Tampak tulang menonjol keluar dari pergelangan tangan

Feel

: Nyeri tekan (+), CRT<2, akral hangat, NVD:

Neuro

- Motorik : N. radialis baik (dibuktikan dengan ekstensi jari I, II, III,


IV dan V, abduksi jari I), N. medianus baik(dibuktikan dengan
fleksi jari I, II, III, IV dan V, ekstensi jari IV dan V, abduksi jari I,

oposisi jari I), N. ulnaris baik (dibuktikan dengan fleksi, ekstensi dan
abduksi jari II, III, IV dan V, adduksi jari I, II, III, IV dan V)
- Sensorik :Nyeri (+), dibuktikan dengan menggunakan jarum. Taktil
(+), dibuktikan dengan sentuhan halus menggunakan kapas.
Membedakan dua titik (+), dibuktikan dengan menggunakan clip
yang dibentuk seperti huruf V dengan jarak 0,5 cm.

Vaskular

:a. radialis dan a. ulnaris teraba (irama teratur, isi adekuat)

Move

: Range of movement terbatas pada wrist joint

Pronasi

: Nyeri dan tidak bisa

Supinasi

: Nyeri dan tidak bisa

Fleksi

: Nyeri dan tidak bisa

Ekstensi

: Nyeri dan tidak bisa

Aktif

: Nyeri dan tidak bisa

Pasif

: Nyeri dan tidak bisa

Pemeriksaan Penunjang pada tanggal 2/1/2014


Hasil pemeriksaan laboratorium darah
Pemeriksaan
Bleeding time
Clothing time
Darah rutin :
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin (Hb)
Hematokrit (Ht)
Trombosit
LED

Nilai normal
1-5 menit
5-11 menit

Hasil
2 menit
9 menit

4-11x103 /mm3
P : 4,5- 5,5 106 /mm3
L : 13 18
L : 37 47
150.000 400.000
L < 15 mm/jam

3900
4,53
11,1
37
294.000
10

Resume
Nyeri pada tangan kiri pasca jatuh dari pohon kelapa 1 jam SMRS dengan
ketinggian 7m, disertai luka terbuka dengan tulang menonjol di bagian
pergelangan tangan kiri. Keadaan umum tampak sakit sedang dengan kesadaran
compos mentis. Tekanan darah 110/70 , nadi 88x/mnt, pernapasan 22 x/mnt, suhu
36,2o, status lokalis tampak luka terbuka dan tulang menonjol keluar. Tangan kiri
kaku tidak bisa digerakan.
2.4 DIAGNOSIS
Open fraktur os radius ulna sinistra 1/3 distal (fr. Colles wrist joint sinistra)
2.5 PENATALAKSANAAN
1. Telah dilakukan heacting situasi di IGD RSUD Cut Meutia pada tanggal
2/1/14
2. Pada tgl 3/1/14 dilakukan debridement + reposisi + immobilisasi dengan
backslab
foto antebrachii AP lateral sinistra tanggal 2/1/14

Laporan Operasi (tanggal 3 Januari 2014)


Ahli Bedah

: Dr. Syafruddin Sp.B

Ahli Anestesi

: Dr. Kurnian Sp. An

Cara Pembiusan

: General Anestesi

Diagnosis

: Fraktur Colles

Macam Operasi

: Debridement + Reposisi + immobilisasi by backslab

Laporan Kasus :
Pasien terlentang dengan General anestesi
Insisi pada antebrachii tepatnya di regio wrist joint sinistra
Didapatkan fraktur 1/3 distal radius ulna
Dilakukan debridement dicuci berulang kali dengan perhidrol dan alkohol 70%
Dilakukan reposisi
Cek stabilitas distal radial ulna joint
Jahit lapis demi lapis
Kulit subkutis
Dilakukan immobilisasi by backslab dan diperban elastis
Operasi selesai
Instruksi Pasca operasi
RL 20 tetes/menit
Inj. Fosfomisin/12 jam
Inj. Kalnex/12 jam
Inj. Ketorolac/ 8jam
Inj. Tramadol kp (GV setiap hari)

Follow up
Tanggal
3/1/14

Subjektif
Os demam post
op (+), muntah
(+), nyeri di
tempat op (+),
perban basah
(+), perdarahan
(-), BAB/BAK
(dbn)

Objektif
KU: lemah
Kes: CM
TD: 100/60
HR: 90/i
RR: 23/i
Suhu: 38,5C

Analisis
Fr.colles

Perencanaan
IVFD RL 30 tetes/ I
Injeksi
Ranitidin/12 jam
Fosfomisin/12
jam
Kalnex/12 jam
Ketorolac/8jam
Ondansetron/12
jam
Paracetamol 3 x
500 mg

4/1/14

Demam (-),
nyeri berkurang,
luka bagus (+),
mual muntah (-),
BAB/BAK (dbn)

KU: lemah
Kes: CM
TD: 110/70
HR: 84/i
RR: 22/i
Suhu: 37,6C

Fr.colles

IVFD RL 20 tetes/ I
Injeksi
Ranitidin/12 jam
Fosfomisin/12
jam
Kalnex/12 jam
Ketorolac/8jam
Paracetamol 3 x
500 mg

5/1/14

Os demam(-),
nyeri semakin
berkurang(+),
nafsu makan(+),
luka kering (+)
BAB/BAK (dbn)

KU:stabil
Kes: CM
TD: 100/60
HR: 92/i
RR: 22/i
Suhu: 37C

Fr.colles

Os boleh PBJ
kontrol ke poli bedah/
minggu
gips dipertahankan
sampai 3 minggu.
R/oral (+)
Paracetamol 3x500mg
Amoksilin 2x250mg
Vit.C 2x50mg

2.6 KOMPLIKASI
Tidak ditemukan adanya komplikasi.

2.7 PROGNOSIS
Ad vitam

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

Ad fungtional

: dubia ad bonam

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi Antebrakhii Distal

Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya


kira-kira 1,5-2 inchi distal radius. Pada tempat ini ditemukan bagian distal tulang
radius yang relatif lemah karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan
tulang spongiosa dekat sendi. Dorsal radius bentuknya cembung dengan
permukaan beralur-alur untuk tempat lewatnya tendon ekstensor. Bagian volarnya
cekung dan ditutupi oleh otot pronator quadratus. Sisi lateral radius distal
memanjang ke bawah membentuk prosesus styloideus radius dengan posisi yang
lebih rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian ini merupakan tempat insersi
otot brakhioradialis.
Pada antebrakhii distal ini ditemui 2 sendi yaitu sendi radioulna distal dan
sendi radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan radiocarpalia melekat pada batas
permukaan sendi. Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen
antara lain:
1. Ligamentum carpal volar (yang paling kuat)
2. Ligamentum carpal dorsal
3. Ligamentum carpal dorsal dan volar
4. Ligamentum collateral
Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang lunatum
dan navikulare ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian distal ke arah medial.
Bagian distal sendi radiokarpal diperkuat dengan simpai di sebelah volar dan
dorsal, dan ligament radiokarpal kolateral ulnar dan radial. Antara radius dan ulna
selain terdapat ligament dan simpai yang memperkuat hubungan tersebut, terdapat
pula diskus artikularis, yang melekat dengan semacam meniskus yang berbentuk

segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral ulna. Ligamen kolateral ulna
bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis bersama ligament
radioulnar dorsal dan volar, yang kesemuanya menghubungkan radius dan ulna,
disebut kompleks rawan fibroid triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage
complex) (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensi pergelangan tangan serta
gerakan deviasi radius dan ulna. Gerakan fleksi dan ekstensi dapat mencapai 90
derajat oleh karena adanya dua sendi yang bergerak yaitu sendi radiolunatum dan
sendi lunatum-kapitatum dan sendi lain di korpus. Gerakan pada sendi radioulnar
distal adalah gerak rotasi. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998)

Gambar 1a. Sudut normal sendi radiokarpal di bagian ventral (tampak lateral)
Gambar 1b. Sudut normal yang dibentuk oleh ulna terhadap sendi radiokarpal

Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada bagian


palmar (ventral) seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur yang melibatkan
angulasi ventral umumnya berhasil baik dalam fungsi, tidak seperti fraktur yang
melibatkan angulasi dorsal sendi radiokarpal yang pemulihan fungsinya tidak
begitu baik bila reduksinya tidak sempurna. Gambar 1b memperlihatkan sudut

normal yang dibentuk tulang ulna terhadap sendi radiokarpal, yaitu 15 - 30


derajat. Evaluasi terhadap angulasi penting dalam perawatan fraktur lengan bawah
bagian

distal,

karena

kegagalan

atau

reduksi

inkomplit

yang

tidak

memperhitungkan angulasi akan menyebabkan hambatan pada gerakan tangan


oleh ulna. (Simon & Koenigsknecht, 1987)

3.2 Definisi
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Bila trauma terjadi
pada atau dekat persendian, mungkin terdapat fraktur pada tulang disertai
dislokasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Dislokasi adalah keadaan tulang
yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis. Kebanyakan
fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan
membengkok, memutar dan tarikan.
Fraktur Colles adalah fraktur radius bagian distal (sampai 1 inchi dari
ujung distal) dengan angulasi ke posterior, dislokasi ke posterior, dan deviasi

fragmen distal ke radial; dapat bersifat kominutiva dan dapat disertai fraktur
prosesus stiloid ulna. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan
bila dilihat dari samping menyerupai bentuk garpu( dinner-fork deformity).
Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur
radius distalis pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles
(Armis, 2000). Cedera yang digambarkan oleh Abraham Colles pada tahun 1814
adalah fraktur melintang pada radius tepat di atas pergelangan tangan, dengan
pergeseran dorsal fragmen distal. Sejak saat itu fraktur jenis ini diberi nama
sebagai fraktur Colles sesuai dengan nama Abraham Colles. Biasanya penderita
jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi terbuka dan
pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan
menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari
permukaan persendian pergelangan tangan.

Fraktur Colles
3.3 Epidemiologi
Fraktur distal radius terutama fraktur Colles lebih sering ditemukan pada
wanita, dan jarang ditemui sebelum umur 50 tahun (Clancey, 1984; Cooney,
1982). Secara umum insidennya kira-kira 8 15% dari seluruh fraktur dan

diterapi di ruang gawat darurat. Dari suatu survey epidemiologi yang dilakukan di
Swedia, didapatkan angka 74,5% dari seluruh fraktur pada lengan bawah
merupakan fraktur distal radius (Cooney,1980). Umur di atas 50 tahun pria dan
wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50 tahun, insiden pada pria dan wanita
lebih kurang sama di mana fraktur Colles lebih kurang 60% dari seluruh fraktur
radius (Cooney,1980). Sisi kanan lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian ratarata pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai adalah antara umur 50 59 tahun
(Dias dkk, 1980; Sarmiento dkk, 1980).

3.4 Patofisiologi
Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya
merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah volar
atau dorsal. Jatuh pada permukaan tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi
fragmen fraktur sebelah distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk
lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai garpu, seperti yang
terjadi pada fraktur Colles.

Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles dapat timbul


setelah penderita terjatuh dengan tangan posisi terkedang dan meyangga badan
(Appley, 1995 ; Salter, 1981). Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul
diserap oleh jaringan lunak dan persendian tangan, kemudian baru diteruskan ke

distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah
yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.
Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan
dalam posisi terbuka dan pronasi. Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat,
gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal dan mungkin akan
menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari
permukaan persendian pergelangan tangan Sehingga tulang yang kemungkinan
mengalami fratur

pada posisi tersebut adalah radius distal

Dengan posisi tangan pada saat jatuh seperti gambar di atas, maka gaya
yang kuat akan berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan seperti yang
telah disebutkan sebelumnya bahwa yang mungkin mengalami fraktur adalah
distal radius sebab dilihat dari struktur jaringannya saja tulang daerah tersebut
memang rawan patah.
3.5 Diagnosis Klinis
Biasanya penderita mengeluh deformitas pada pergelangan tangan dengan
adanya riwayat trauma sebelumnya. Pada penemuan klinis untuk fraktur distal
radius terutama fraktur Colles akan memberikan gambaran klinis yang klasik
berupa dinner fork deformity atau silver fork deformity, yaitu bagian distal

fragmen fraktur beranjak ke arah dorsal dan radial, bagian distal ulna menonjol ke
arah volar, sementara tangan biasanya dalam posisi pronasi, dan gerakan aktif
pada pergelangan tangan tidak dapat dilakukan. Selain itu juga didapatkan
kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah yang
terkena, nyeri bila pergelangan tangan digerakkan.

3.6 Pemeriksaan Radiologi


Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan
kesulitan. Secara klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles.
Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat
berdasarkan tanda klinis patah tulang. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998)
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat
remuknya

fraktur

(Sjamsuhidayat

&

kominutif
de

Jong,

dan

mengetahui

1998).

Pada

letak

gambaran

persis

patahannya

radiologis

dapat

diklasifikasikan stabil dan instabil. Dikatakan stabil apabila hanya terjadi satu
garis patahan, dan instabil bila patahannya kominutif dan crushing dari tulang
cancellous.
Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2 foto
tulang yang bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto antero-posterior (AP) dan lateral.
Bila kedua proyeksi ini tidak dapat dibuat karena keadaan pasien yang tidak
mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi tegak lurus satu sama lain. Perlu diingat
bahwa bila hanya 1 proyeksi yang dibuat, ada kemungkinan fraktur tidak dapat
dilihat. Proyeksi tambahan oblik biasanya juga dibutuhkan untuk menilai trauma
pada persendian. Pada fraktur ekstremitas, daerah yang difoto harus cukup luas
dengan mencakup setidaknya satu persendian. Namun, pemeriksaan radiologis
tulang yang berada di antara dua sendi sebaiknya mencakup keseluruhan panjang
tulang mulai dari persendian proksimal hingga persendian distal tulang tersebut.
Untuk melihat fraktur pada tulang radius bagian distal, khususnya fraktur Colles,
dibuat foto proyeksi AP dan lateral.

Pemeriksaan foto Roentgen pada kasus curiga fraktur digunakan untuk:


a. Mendiagnosis adanya fraktur dengan memperhatikan lokasinya, tipe (jenis
fraktur), dan kedudukan fragmen. Bila dekat atau pada persendian, maka
dapat diperhatikan adanya dislokasi, fraktur epifisis, dan pelebaran sela sendi
karena efusi ke dalam rongga sendi.
b. Menentukan struktur tulang apakah tulang dasarnya normal atau patologis.
c. Memperlihatkan posisi ujung tulang sebelum dan sesudah terapi fraktur. Foto
roentgen dilakukan segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen.
Bila dilakukan reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen
intramedular(kadang-kadang pen menembus tulang) ataupun plate and
screw(kadang-kadang screw lepas).
d. Pemeriksaan periodik untuk menilai penyembuhan fraktur
-

Pembentukan callus

Konsolidasi

Remodeling: terutama pada anak-anak

Adanya komplikasi

Dinner Fork Deformity


PemeriksaanCT-Scan
Ct-scan bersifat lebih sensitif daripada radiografi konvensional untuk
mendeteksi kerusakan tulang karena dapat menampilkan potongan aksial, koronal
dan sagital dari objek. Selain itu ct scan digunakan jika ingin memperlihatkan
gambaran yang cukup pada sendi radiokarpal dan jaringan lunak, yang tidak dapat
dilihat jelas pada radiografi konvensional

Ct Scan penampang sagital menunjukkan adanya fraktur kominutif os.Radius

MRI (Magnetic Resonance Imaging)


MRI digunakan jika ingin melihat lebih jelas jaringan lunak khusunya
adanya cedera ligamen dan triangular fibrocartilage complex (TFCC) atau dapat
juga digunakan jika curiga terdapat fraktur yang tidak dapat diperlihatkan pada
radiografi konvensional. MRI tidak rutin digunakan pada evaluasi awal fraktur
radius distal akut pada trauma tangan. Namun bagaimanapun, pencitraan ini
berguna untuk melilai kelainan tulang, ligamen, dan jaringan lunak yang berkaitan
dengan fraktur radius distal. MRI rutin digunakan untuk menilai integritas
ligamentum intercarpal, kompleks rawan fibroid triangularis, dan nervus
medianus pada carpal tunnel.
3.7 Diagnosis Banding
1)

Fraktur Smith
Fraktur Smith adalah fraktur radius bagian distal dengan angulasi atau

dislokasi fragmen distal ke voler. Fraktur Smith dikenal sebagai kebalikan dari
fraktur Colles. Jika fraktur Colles terjadi karena jatuh pada permukaan tangan
pada bagian volar, maka fraktur Smith terjadi karena seseorang jatuh pada
permukaan tangan bagian dorsal, sehingga terjadi dislokasi fragmen distal ke arah
volar. Gambaran klinisnya dikenal sebagai garden spade deformity.

2)

Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi adalah fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi

ulna bagian distal. Terjadinya fraktur ini biasanya akibat trauma langsung sisi
lateral ketika jatuh.

3)

Fraktur Barton
Fraktur Barton adalah fraktur oblik dari tulang radius distal intraartikuler,

dengan patahan distal radius terdislokasi ke arah volar (fraktur Barton volar) atau
ke arah dorsal (fraktur Barton dorsal). Fraktur Barton merupakan dislokasi sendi
radiocarpal.

DD

Fraktur Colles

Definisi
Manifestasi Klinis
Deformitas pada fraktur ini Fraktur
metafisis
berbentuk seperti sendok makan
distal radius dengan
(dinner fork deformity). Pasien
jarak _+ 2,5 cm dari
terjatuh dalam keadaan tangan
permukaan
sendi
terbuka dan pronasi, tubuh beserta
distal radius
lengan berputar ke ke dalam Dislokasi
fragmen
(endorotasi). Tangan terbuka yang
distalnya ke arah
terfiksasi di tanah berputar keluar
posterior/dorsal
(eksorotasi/supinasi).
Subluksasi
sendi
radioulnar distal
Avulsi
prosesus
stiloideus ulna.

Fraktur Smith

Fraktur
Galeazzi

Fraktur Barton

Fraktur Smith merupakan fraktur


dislokasi ke arah anterior (volar),
karena itu sering disebut reverse
Colles fracture. Fraktur ini biasa
terjadi pada orang muda. Pasien
jatuh dengan tangan menahan
badan sedang posisi tangan dalam
keadaan
volar
fleksi
pada
pergelangan tangan dan pronasi.
Garis patahan biasanya transversal,
kadang-kadang intraartikular.
Fraktur
Galeazzi
merupakan
fraktur radius distal disertai
dislokasi sendi radius ulna distal.
Saat pasien jatuh dengan tangan
terbuka yang menahan badan,
terjadi pula rotasi lengan bawah
dalam posisi pronasi waktu
menahan berat badan yang
memberi gaya supinasi.
Fraktur oblik dari tulang radius
distal intraartikuler, dengan
patahan distal terdislokasi ke
arah volar atau ke arah dorsal.
Fraktur Barton merupakan
dislokasi sendi radiocarpal

Penonjolan
dorsal
fragmen
proksimal,
fragmen distal di sisi
volar pergelangan, dan
deviasi ke radial (garden
spade deformity).

Tampak tangan bagian


distal
dalam
posisi
angulasi ke dorsal. Pada
pergelangan
tangan
dapat diraba tonjolan
ujung distal ulna.

Tangan ini akibat


terjatuh
dengan
tangan terentang

3.8

Penatalaksanaan

Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat

dalam slab gips yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan
tangan dan dibalut kuat dalam posisinya.

Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang

dengan erat dan traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan
ekstensi pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian
didorong ke tempatnya dengan menekan kuat-kuat pada dorsum sambil
memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar dan pronasi.

Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi memuaskan, dipasang


slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher metakarpal
dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan pada
posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi ulnar yang ekstrim harus
dihindari; cukup 20 derajat saja pada tiap arah.
Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari
segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami
sianosis atau nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.

Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke depan, (c)
deviasiulnar. Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang
basah, (f) slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras.
Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang baru; pergeseran
ulang sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya,
sekalipun manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.

Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan
secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut
kainkrepsementara.

(a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien
secara teratur

Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan
gips; untuk keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen
proksimal yang mentransfiksi radius dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi
dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga. (Apley & Solomon, 1995)
Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap
menyebabkan komplikasi jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles
tipe IA atau IB dan tipe IIA yang boleh ditangani oleh dokter IGD.
Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan diserahkan pada ahli
orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu diketahui,
sebagai berikut :

Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan


dorsal sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen

Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23


derajat di sebelah palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak

Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut ini


dapat dengan mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang
lama sampai terjadi proses penyembuhan kecuali difiksasi.
Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka

beberapa hal berikut dapat dilakukan :


1.

Lakukan tindakan di bawah anestesi regional

2.

Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese finger

traps dan siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi. Beban seberat
8-10 pon digantungkan pada siku selama 5-10 menit atau sampai fragmen
disimpaksi.
3.

Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan

menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal
menggunakan jari-jari lainnya. Bila posisi yang benar telah didapatkan, maka
beban dapat diturunkan.
4.

Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi

terhadap pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat deviasi


ulna.
5.

Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan

pemasangan anteroposterior long arms splint


6.

Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa

telah tercapai posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada saraf medianusnya

7.

Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam

untuk mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya
dilakukan sedini mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua
minggu pasca trauma. Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-6 minggu,
sedangkan untuk fraktur yang bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.

Reduksi pada fraktur Colles

BAB 4
KESIMPULAN

Fraktur radius distal merupakan 15% dari seluruh kejadian fraktur pada
dewasa. Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur
radius distalis pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles
(Armis, 2000). Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha
menahan badan dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah
metafisis radius distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana
garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.
Kita dapat mengenali fraktur ini seperti halnya Colles jauh sebelum
radiografi diciptakan dengan sebutan deformitas garpu makan malam, yaitu
penonjolan punggung pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien
dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila
pergelangan tangan digerakkan. (Apley & Solomon, 1995) Selain itu juga
didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan didaerah
yang kena.
Indikasi operasi:
Kominusi Dorsal lebih dari 50% dari dorsal ke palmar distance
Kominusi metafiseal Palmar
Initial dorsal tilt lebih dari 20
Pergeseran initial (fragment translation) lebih dari 1 cm
Pemendekan Initial lebih dari 5 mm
Disrupsi Intra-artikuler
Disertai Fraktur ulna
Osteoporosis massif

Komplikasi
Umumnya akan selalu ada komplikasi, komplikasi yang mungkin terjadi:
1. Dini

Kompresi / trauma a. ulnaris dan medianus

Kerusakan tendon

Edema post reposisi

Redislokasi
2. Lanjut

Arthrodosis dan nyeri kronis

Shoulder hand syndrome

Defek kosmetik (penonjolan styloideus radii)

Malunion/ non union

Stiff hand

Volksman ischemic contraktur

Suddeck atropi

Perawatan Pasca reduksi tertutup


Imobilisasi dengan forearm splint selama 3 minggu.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah:Sistem Muskuloskeletal.


Edisi 2. Jakarta:EGC.2004.Hal 840-70
Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta:Balai Penerbit FKUI.
2009. Hal 31-43
Patel, Pradip R. Lecture Notes Radiologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
2007. Hal 222-30
Rasjad,

Chairuddin.

Pengantar

Ilmu

Bedah

Ortopedi.

Edisi

2.

Makassar:Bintang Lamumpatue. 2003. Hal 355-419


Grainger, R.G. Diagnostic Radiology. 2th Edition. Elsevier.1999. Page 1474-9
Hartanto,

Huriawati,dkk.

Kamus

kedokteran

dorlan.

Jakarta:EGC.2002.Hal:876-77
http://radiology.rsna.org/content/219/1/11/F10.expansion.html
http://emedicine.medscape.com/article/398406.html

Edisi

29.