Anda di halaman 1dari 9

KULTUR CHLORELLA SKALA LABORATURIUM

Oleh

Naimatul Mubarokah

B0A013003

Dwi Retno Setia Ningrum

B0A013009

Nita Indra Purwaningsih

B0A013025

Tuti Alawiyah

B0A013027

Dara Pricilia Haprizal

B0A013039

Muhammad Rivaldi

B0A013046

Deva Febrian

B0A013049
Kelompok VII

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK BUDIDAYA PAKAN ALAMI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI D-III PENGELOLAAN SUMBERDAYA
PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2014

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan adalah

ketersediaan pakan, dimana penyediaan pakan merupakan faktor penting di


samping penyediaan induk. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang
cukup akan memperkecil persentase larva yang mati. Jenis pakan yang dapat
diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan
alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, sedangkan pakan buatan
adalah pakan yang diramu dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah
menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki.
Sasaran utama untuk memenuhi tersedianya pakan adalah memproduksi
pakan alami, karena pakan alami mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah
yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva selama
budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan,
memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan
yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk mangsanya serta memiliki
kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat
dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk memperoleh
persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan melakukan
kultur fitoplankton.
Salah satu jenis fitoplankton yang digunakan pada kegiatan pembenihan
ikan, yaitu Chlorella sp. Pembudidayaan plankton jenis Chlorella sptergantung
pada kondisi lingkungan perairannya, serta diperlukan paket teknologi budidaya
yang baik. Budidaya plankton berbeda di tiap-tiap Negara sesuai dengan kondisi
alamnya, misalnya Indonesia adalah Negara tropis dimana suhu airnya relatif
sama sepanjang tahun dibandingkan dengan Negara lain termasuk Jepang. Adanya
Chlorella sp yang melimpah dapat membuat pertambahan kelimpahan ikan juga.
Adanya mikroalga juga dapat meminimalisir jumlah biaya produksi dalam
budidaya ikan karena pakan yang digunakan merupakan pakan yang berharga
murah dan memiliki tingkat kendungan protein yang tinggi sehingga dapat
meningkatkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada ikan tersebut.

1.2

Tujuan
Tujuan praktikum Kultur Chlorella skala laboraturium adalah mengetahui

dan mampu melakukan kultur Chlorella skala laboraturium secara benar dan
mendapatkan biomassa sel yang optimal.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data sebagai berikut:

Gambar 1. Chlorella sp

3.2

Pembahasan
Chlorela

merupakan

mikroorganisme

yang

termasuk

dalam

filum

Chlorophyta atau yang sering kita kenal sebagai alga hijau.[1] Mikroalga jenis
Chlorella spp. berwarna hijau, pergerakannya tidak motil dan struktur tubuhnya
tidak memiliki flagel (Kawaroe et al, 2010). Selnya berbentuk bola berukuran
sedang dengan diameter 2-10 m, bergantung pada spesiesnya, dengan kloroplas
berbentuk seperti cangkir (Kawaroe et al, 2010). Alga hijau memiliki struktur
yang hampir sama dengan tumbuhan, salah satunya ialah dinding selnya.
Chlorella juga mempunyai dinding sel yang tersusun atas selulosa.
Chlorella sp. merupakan alga bersel tunggal dari golongan alga hijau
(Chloropyta) yang telah dimanfaatkan secara komersial karena gizinya yang tinggi
(Srihati, 1995). Chlorella sp. memiliki peranan dalam memenuhi kebutuhan
manusia diantaranya sebagai makanan tambahan atau suplemen karena kandungan
nutrisinya lengkap (Royan, 2010). Meningkatnya permintaan akan Chlorella sp.
merupakan peluang dilakukannya peningkatan kultur Chlorella sp. Menurut
Eyster (1978) menyatakan bahwa konsentrasi nutrien yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan Chlorella sp. Baik makronutrien dan mikronutrien ditetapkan
menjadi tiga yaitu konsentrasi minimum, maksimum, dan optimum. Eyster (1978)
mengemukakan bahwa nutrien yang dibutuhkan oleh Chlorella sp. Berupa
makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien terdiri dari, N, P, K, Si dan Ca
sedangkan mikronutrien terdiri dari Fe, Mo, Cu, Mn, Zn dan Co. Unsur yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan Chlorella sp. antara lain N (0,14-0,7 g/l) dan P
(0,015-0,62 g/l). Kebutuhan unsur makro nutrien dan mikro nutrien dalam kultur
Chlorella sp. Harus tercukupi untuk pertumbuhan yang optimal terutama unsur N
dan P yang berfungsi untuk pembentukan klorofil dan keperluan fotosintesis
(Sumarlinah, 2000).
Pemanfaatan Chlorella dilakukan menggunakan teknik kultur. Keberhasilan
teknik kultur bergantung pada kesesuaian antara jenis mikroalga yang
dibudidayakan dan beberapa faktor lingkungan, salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah faktor derajat keasaman (pH) agar metabolisme sel mikroalga

tidak mengganggu. Derajat keasaman (pH) media menentukan kelarutan dan


ketersediaan ion mineral sehingga mempengaruhi penyerapan nutrien oleh sel.
Perubahan nilai pH yang drastis dapat mempengaruhi kerja enzim serta dapat
menghambat

proses

fotosintesis

dan

pertumbuhan

beberapa

mikroalga

(Chrismada, 1998).
Klasifikasi clorella sp adalah sebagai berikut :
Divisi

: Clorophyta

Kelas

: Clorophycea

Bangsa

: Clorococcales

Suku

: chorellaceae

Marga

: Clorella

Jenis

: clorella sp
Morfolopgi Clorella sp Clorella sp berbantuk bulat atau bulat telur,

berukuran 3-5 mokron. Memiliki kloroplas seperti cawan, dindingnya keras,


padat, dan garis tegahnya 5 mikron. Serta tidak bergerak aktif dan setiap selnya
terdapat inti dan cloroplas.
Ekologi clorella sp Clorella sp dapat hidup dimana mana, di media air
tawar, air payau, air laut. Kecuali di gurun pasir dan salju, sebagain besar banyak
hidup di perairan air tawar. Clorella sp dapat tunbuh debngan baik pada berbagain
yang banyak mengandun unsure hara, seperti N, P, K dan unsure mikro lainnya.
Clorella dapat tubuh baik dangan suhu optimal 240 C (Kawaroe et al, 2010).
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, pada acara kultur chlorella
sp. Pada pengamatan air sample dengan menggunakan mikroskop di ketahui
terdapat chlorella sp. dengan media tumbuh yaitu pupuk conway 1 ml dengan air
sebanyak 450 ml lalu di beri aerasi.
Cahaya matahari berperan penting untuk proses fotosintesis yang
dibutuhkan oleh Chlorella. Chlorellabanyak menyerap cahaya biru dan merah,
keduanya bila bergabung menjadi sinar ultraviolet yang memiliki daya
penyembuh dan daya pembersih. Suhu berperan di dalam memacu proses

metabolisme dan untuk Indonesia suhu yang optimum berkisar 25-300 C


bagi Chlorella. Peranan pH dalam budidaya sangat penting bila dikaitkan dengan
kontaminan. kontaminan itu sangat merugikan maka pH dapat diatur guna
mengatasinya, yaitu dengan mengatur pH menjadi asam tetapi Chlorella tidak
terpengaruh olehnya, pH diusahakan menjadi 4,5-5,6. Ketika pH asam maka
kontaminan

tidak

kehidupannya,

tahan

sehingga

hidup

tetapi Chlorella

pencegahan

sp.

kontaminan

tidak
dapat

terpengaruh
dikendalikan.

(Wirosaputro, 2002).
Sel Chlorella sp. Memiliki tingkat reproduksi yang tinggi, setiap sel
Chlorella sp. Mampu berkembang menjadi 10.000 sel dalam waktu 24 jam
(Sachlan, 1982). Inokulum adalah kultur mikrobia yang diinokulasikan kedalam
medium pada saat kultur mikrobia tersebut pada fase pertumbuhan. Pada
percobaan ini akan dicoba tentang penggunaan inokulum pada proses fermentasi
tempe. Dalam pertumbuhan tempe dikenal beberapa macam inokulum yang
digunakan. Inokulum yang sejak lama dikenal dan digunakan oleh para pengrajin
tempe adalah inokulum yang disebut usar (Wisaputro, 2002). Pertumbuhan
Chlorella sp . telah ditunjukkan untuk menyajikan faktor peluang potensial dalam
bentuk biomassa nilai tambah memberikan dimensi baru untuk pengolahan limbah
hewan . Hasilnya dalam penelitian ini menunjukkan bahwa budidaya alga mikro
dengan limbah hewan yang berbeda sebagai media pertumbuhan adalah metode
yang menjanjikan untuk produksi lipid.

IV. KESIMPULAN

Kesimpulan dari Praktikum ini adalah mahasiswa paham dan mampu


melakukan kultur Chlorella sp. yaitu dengan cara mencampur 450 ml air dan di
tambah media pupuk conway sebanyak 1 ml. Lalu di aerasi semingu kemudian
diambil 1 tetes air sampel untuk di amati menggunakan mikroskop.

DAFTAR REFERENSI
Chrismadha, T., Nofdianto, Rosidah, Y. Mardianti. 1998. Prosiding Hasil
Penelitian dan Pengembangan Limnologi. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Limnologi LIPI. Cibinong. p.350.
Eyster, C. 1978. Nutrient Concentration Requirements for Chlorella sorokiniana.
Available from the author or the Mobile college Library, Mobile, Alabama
36613. 78-81.
Kawaroe M, Prartono T, Sunuddin A, Sari DW, Augustine D. 2010. "Mikroalga:
potensi dan pemanfaatannya untuk produksi bio bahan bakar". Bogor: PT
Penerbit IPB Press.
Panggabean, Lily G. M. (1998). Mikroalgae: Alternatif Pangan dan Bahan
Industri di Masa Mendatang. Oseana Volume XXIII N0. 1: 19-26
Royan, M. R., Khomaruddin., M. D. Arifi dan Minto. 2010. Chlo-Juice (Jus
Chlorella) Sebagai Minuman Multivitamin Berkhasiat, Berkalsium, Dan
Berprotein Tingi Serta Sebagai Peluang Usaha Multiprofit. PKMK.
Universitas Airlangga. Surabaya. 16 hal.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Direktorat Jenderal Perikanan. Departemen
Pertanian. Jakarta. 150 hlm.
Srihat.1997. Pengaruh Berbagai Media Terhadap Kualitas Algae Bersel Tunggal
(Scenedesmus sp.) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.LIPI. Hal 877882.
Sumarlinah. 2000. Hubungan Komunitas Fitoplankton dan Unsur Hara N dan P
di Danau Sunter Selatan, Jakarta Utara. Skripsi. Program Studi Manajemen
Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
62 hal.
Wirosaputro, S. 2002. Chlorella Untuk Kesehatan Global Teknik Budidaya Dan
Pengolahan Buku II.Gajah Mada University Press. Yogyakarta.