Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN
Di antara kita pasti pernah menemukan lempeng logam keras yang dikenal

dengan magnet. benda tersebut dapat menarik potongan besi, paku, peniti, dan
berbagai benda lain yang terbuat dari besi. lempengan logam ini ternyata
dikelilingi oleh sebuah efek seperti efek halo (lingkaran cahaya di sekeliling
matahari atau bulan) yang dikenal dengan medan magnet. potongan besi atau
benda-benda lain yang terbuat dari besi akan tertarik oleh magnet saat bendabenda tersebut berada di dekat medan magnet.
Seperti yang telah diketahui bersama dalam pembahasan mengenai solid
state atau lebih dikenal sebagai zat padat, kita mengetahui adanya klasifikasi
bahan berdasarkan sifat kemagnetannya.
Dan sifat kemagnetan ini dibagi menjadi beberapa bagian secara garis besar,
yakni Diamagnetik (yang sebenarnya termasuk ke dalam material non magnetik),
Paramagnetik, Ferromagnetik, Ferrimagnetik, dan Antiferromagnetik.

Gambar 1 Klasifikasi unsur berdasarkan sifat kemagnetannya

Sebetulnya pada makalah ini akan difokuskan kepada satu pembahasan saja
yakni mengenai bahan antiferromagnetik. Namun sebelumnya alangkah baiknya
apabila diketahui secara umum terlebih dahulu mengenai perbedaan di setiap jenis
bahan magnet.

Parameter umum yang dapat dilihat dalam membedakan klasifikasi bahan


berdasarkan sifat kemagnetan ini adalah momen dipol magnetnya, serta
suseptibilitasnya. Berikut ini diberikan perbedaan momen dipol magnetik dari
berbagai bahan.

Gambar 2 Perbedaan suseptibilitas dan momen dipol magnet pada setiap jenis bahan
magnet

Gambar 2.1 kurva suseptibilitas terhadap suhu berbagai sifat bahan magnet
2

II.

KARAKTERISTIK BAHAN ANTIFERROMAGNETIK

Anti Ferromagnetik, yaitu bahan yang mempunyai susceptibilitas positif


yang kecil pada segala suhu dengan perubahan susceptibilitas suhu karena
keadaan khusus.

Gambar 4 Susunan momen dipol magnet serta kurva 1/ vs TN

Gambar 5 Kurva Magnetisasi Bahan Antiferomagnetik

Pada T < TN, bahan antiferromagnetik membentuk suatu struktur domaindomain momen magnet, sehingga suseptibilitasnya bergantung pada sejajar atau
tegak lurus medan magnet luar.
Bahan antiferromagnetik dapat digambarkan oleh struktur kristal dengan
kisi-kisi yang diisi oleh dua jenis atom dengan momen magnet yang berlawanan
arah (anti paralel). Jika tidak ada medan magnet luar, besarnya momen magnet
yang anti-paralel akan seimbang sehingga magnetisasi total sama dengan nol
(M=0). Berbagai senyawa oksida, sulfida dan klorida digolongkan dalam

antiferomagnetik, termasuk diantaranya adalah nikel-oksida (NiO), fero-sulfida


(FeS), MnF2, kobalt-klorida (CoCl2) serta MnO dll.

Gambar 6 Representasi skematik susunan antiparalel momen magnet untuk


antiferomagnetik Mangan Oksida (MnO)

Gambar 7 Kondisi momen dipol magnet saat ada medan magnet luar pada Bahan
Antiferomagnetik

Bahan antiferromagnetik pertama kali ditemukan pada tahun 1938 oleh


Bizette, Squire, dan Tsai ketika bekerja menggunakan Mangan Oksida yang
memiliki temperatur Curie dari 116 K hingga 120 K. Namun Neel dan Bitter telah
mempresentasikan lebih awal mengenai bahan antiferromagnetik secara teoritis,
dan Van Vleck pertama kali mendapatkan treament paling detail mengenai hal ini.
Bahan yang menunjukkan sifat antiferromagnetik, momen magnetik atom atau
molekul, biasanya terkait dengan spin elektron yang teratur dalam pola yang
reguler dengan tetangga spin (pada sublattices berbeda) menunjuk ke arah yang
berlawanan. Hal ini seperti ferromagnetik dan ferrimagnetik, suatu bentuk dari
keteraturan magnet. Umumnya, keteraturan antiferromagnetik berada pada suhu
yang cukup rendah, menghilang pada dan diatas suhu tertentu. Suhu Neel adalah

suhu yang menandai berubahan sifat magnet dari antiferromagnetik ke


paramagnetik. Diatas suhu Neel bahan biasanya bersifat paramagnetik.

III. TEMPERATUR NEEL


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa sifat antiferomagnetik ini
terjadi pada suhu tertentu, yang disebut dengan Temperatur Neel, dimana sifat
antiferromagnetik terjadi dibawah suhu Neel. Jika dipanaskan diatas temperatur
kritis (Temperatur Nel, TN), bahan antiferromagnetik dan bahan ferrimagnetik
akan berubah menjadi bahan paramagnetik. Bahan magnet jenis ini memiliki
temperature curie yang rendah sekitar 37C untuk menjadi paramagnetik.
Temperatur Nel ini analogis dengan temperatur Curie pada feromagnetik.
Bila

diketahui

berapa

besar

konstanta

Curie

pada

suatu

bahan

antiferomagnetik, maka dapat diperkirakan besar temperatur Nel bahan dengan


menggunakan pendekatan :

TN = C
dimana adalah sublattice tunggal. Konstanta Currie tersebut sendiri
merupakan nilai properties material yang menggambarkan kebergantungan
suseptibilitas magnetik dengan temperatur. Suseptibilitasnya tidak terbatas pada
=, namun memiliki puncak yang lemah.

Gambar 8. Kebergantungan suhu dan suseptibilitas magnetik pada paramagnetik,


feromagnetik, dan antiferomagnetik.

Gambar diatas menunjukkan bahwa setiap perhitungan suseptibilitas akan


bergantung pada suatu konstanta Curie. Dibawah temperatur Nel, spin
antiferomagnetik memiliki orientasi antiparalel, suseptibilitasnya maksimum pada
temperatur Nel disini terlihat jelas dalam grafik terhadap . Suseptibilitas
bahan antiferomagnetik dapat digambarkan dengan:

:Temperatur Nel paramagnetik


: Konstanta Curie

Jika dibandingkan dengan bahan feromagnetik, maka jelas bahwa < .


Pada < , bahan antiferomagnetik membentuk suatu struktur domain-domain
momen magnet, sehingga suseptibilitasnya bergantung pada sejajar atau tegak
lurus medan magnet luar. Bahan antiferomagnetik yang mengalami cacat kristal
akan mengalami medan magnet kecil dan suseptibilitasnya seperti bahan
paramagnetik tetapi harganya naik sampai dengan titik Curie kemudian turun lagi
menurut hukum Curie-Weiss.
Dibawah ini adalah tabel kristal antiferromagnetik :

Menghitung Suseptibilitas Dengan TN


Temperatur neel selain sebagai parameter apakah suatu bahan sudah bersifat
antiferromagnetik atau bukan, ternyata temperatur ini juga berguna untuk
menghitung suseptibilitas bahan antiferromagnetik.
Persamaan untuk mencari nilai suseptibilitas pada bahan feromagnetik yakni :

Gambar 9 Skema susunan spin spin pada bahan antiferromagnetik yang dibagi
menjadi sublattice A dan sublattice B

Berbeda dengan bahan feromagnetik, untuk antiferomagnetik konstanta


Curie pada sublattice A dan B adalah sama nilainya (=), sehingga

persamaan suseptibilitasnya menjadi:

Selain itu kita juga dapat menghitung nilai suseptibilitas antiferromagnetik dengan
hubungan temperatur Currie paramagnetik yaitu

: Temperatur Curie Paramagnetik


1 : Konstanta medan molekular intrasublattice
2 : Konstanta medan molekular intersublattice

akan diperoleh informasi bahwa, =2. Nilai

Dari

temperatur Curie <T dan itu dapat dilihat pada grafik suseptibilitas terhadap
temperatur untuk bahan antiferomagnetik, bahwa temperatur Curie bernilai minus.
Konstanta medan molekular sublattice diperoleh dari magnetisasi dari tiap
layer/sublattice, untuk kasus antiferomagnetik diketahui bahwa magnetisasi pada
sublattice A sama dengan magnetisasi pada sublattice B.
||=||=1/2
= 9,274 x 10-24 A m2 atau (J/T)
Pada kenyataannya nilai dari temperatur Curie Paramagnetik tidak sama dengan
temperatur Nel (T).

=1/2 (1+2)
=(12)=1/2 (12)
Pertama yang perlu kita ketahui yaitu 1>0 dan 2<0, dari pernyataan
tersebut dengan mengamati kedua persamaan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa <T. Dan satu hal lagi yang perlu diketahui juga bahwa dalam material
antiferomagnetik konstanta medan molecular intersublattice lebih besar dari
konstanta medan molecular intrasublattice (2>1).
Pada keadaan kristalin seringkali salah satu arah kristalografik ditemukan
pada daerah yang momen magnetik atomiknya memiliki energi yang lebih rendah
dari pada arah yang lainnya, yang sering kita sebut sebagai arah magnetisasi
sederhana (easy magnetization direction).

Pada suhu Neel, suseptibilitas sejajar dan tegak lurus magnetisasi memiliki
nilai sehingga suseptibilitas totalnya bernilai maksimum, seperti yang ditunjukkan
kurva dibawah ini.

Gambar 10 Grafik suseptibilitas terhadap suhu dan sketsa easy magnetization direction

Pada saat suhu Neel, nilai suseptibilitas bahan antiferromagnetik adalah


maksimum karena suseptibilitas pada bahan antiferromagnetik bergantung pada
arah sudut magnetisasi, terdapat dua arah orientasi suseptibilitas yang mungkin
terjadi pada kristal bahan anti ferromagnetik yaitu :

Medan tegak lurus magnetisasi : Suseptibilitas

bernilai

konstan

dibawah temperatur Neel.

Gambar 11 medan tegak lurus magnetisasi\

Untuk yang arah medan aplikasinya tegak lurus terhadap easy


magnetization direction, maka besar magnetisasi yang terjadi, yaitu:
=(+)sin=2sin
2sin=/2
==1/2
=1/|2|
Namun bila medan aplikasi membentuk sudut terhadap easy magnetization
direction, maka besar magnetisasi yang terjadi menjadi:

=.=cos

=.=sin
=cos+sin=(cos)2+(sin)2

Medan paralel terhadap magnetisasi : Suseptibilitas cenderung bernilai


nol pada 0 K, karena pada 0 K subkisi secara sempurna tidak sejajar (antialigned), dan tidak adanya fluktuasi termal.

Gambar 12 Medan paralel terhadap magnetisasi

suseptibilitas diperoleh dengan merata-ratakan semua kemungkinan orientasi.

Polycristaline antiferromagnetic
Pada polikristalin antiferomagnetik, nilai suseptibilitas tidak hanya
bergantung pada arah medan aplikasi, tetapi juga temperatur bahan. Nilai
suseptibilitas dengan medan aplikasi searah dan tegak lurus, sama dengan
menggunakan perhitungan pada suseptibilitas yang kristalin.

== pada =
= pada =0
Difraksi Neutron
Salah satu cara untuk menentukan momen magnetik secara klasik adalah
dengan menggunakan refleksi neutron atau difraksi neutron. Difraksi neutron
merupakan lenturan yang terjadi pada neutron yang dianggap sebagai gelombang
dengan riak gelombang yang diberikan oleh rumus de broglie, gejala yang terkait
dengan proses interferensi yang muncul bila neutron dihamburkan oleh atom
didalam zat padat, zat cair atau gas, juga disebut pelenturan neutron. Proses ini
memungkinkan suatu teknik untuk meneliti fenomena zat padat . prinsip kerjanya,
10

Sumber proton ditembakkan pada atom berat, terjadi reaksi inti yang
menghasilkan 20-30 neutron yang kemudian mengenai sampel.
Ada dua macam interaksi yang terjadi pada hamburan neutron oleh atom
yaitu interaksi antara neutron dengan inti atom dan interaksi antara momen
magnet elektron dengan momen magnet spin dan momen magnet orbital atom.
Interaksi yang kedua ini telah memberikan informasi yang berharga mengenai
bahan antiferomagnetik dan ferimagnetik. Interaksi neutron dengan inti atom
memberikan pola difraksi yang berlawanan dengan hasil difraksi sinar X. Sinar X
yang berinteraksi dengan elektron luar inti, tidak sesuai untuk menyelidiki unsurunsur ringan (seperti hidrogen), sedangkan neutron menghasilkan pola difraksi
atom-atom tersebut karena berinteraksi dengan inti. Interaksi neutron dengan
materi yang mungkin terjadi adalah

Hamburan neutron elastis: memberikan dua tipe puncak difraksi.

Hamburan inkoheren: besarnya hamburan tergantung pada orientasi antara


spin inti dengan spin neutron.

Hamburan neutron inelastis: hamburan koheren yang menghasilkan polapola difraksi dengan interferensi.

Neutron memiliki sifat-sifat yang menjadikannya sebagai "probe" yang ideal


untuk menginvestigasi karakteristik bahan/material. Sifat-sifat tersebut adalah:
1. Netral (muatan listrik Q = 0). Konsensekuensinya, neutron memiliki daya
tembus yang besar, tidak merusak materi yang dikenainya, dan dapat
digunakan pada sampel-sampel dengan kondisi lingkungan yang keras
(severe environments).
2. Neutron memiliki panjang gelombang (teorema dualisme partikelgelombang de Broglie). Panjang gelombang neutron (termal) berorde sama
dengan jarak antar atom. Konsenkuensinya, neutron dapat digunakan
untuk menentukan struktur kristal dan jarak antar bidang-bidang atom.
Karena netral, maka neutron hanya berinterkasi dengan inti atom dan tidak
terhalang oleh elektron-elektron atom. Dengan kata lain neutron dapat
"melihat" inti atom. Konsekuensinya, neutron sensitif terhadap atom-atom
ringan, mampu membedakan

isotop-isotop suatu atom, dan dapat

11

membedakan struktur molekul kompleks (menggunakan teknik variasi


kontras).
3. Energi neutron termal berorde relatif sama dengan energi-energi eksitasi
elementer pada zat padat. Konsekuensinya, neutron dapat digunakan untuk
mempelajari dinamika atom/kisi - lattice dynamics (phonon) maupun
dinamika molekul - molecular dynamics.
4. Neutron memiliki momen magnetik. Konsekuensinya, neutron dapat
digunakan untuk mempelajari struktur magnetik mikroskopik dan fluktuasi
magnetik.
5. Neutron memiliki spin. Konsekuensinya, berkas neutron dapat dipolarisir
sehingga dapat digunakan untuk mempelajari struktur magnetik kompleks
maupun dinamika magnetik (magnon).
Menentukan Momen Magnetik Dengan Refleksi Neutron
Salah satu cara untuk menentukan momen magnetik secara klasik adalah
dengan menggunakan refleksi neutron, contohnya adalah MnO yang memiliki
struktur seperti NaCl. Dengan cara ini akan diamati refleksi pancaran neutron yang
terjadi pada setiap kisi dengan sudut hamburan tertentu. Dari informasi-informasi
yang didapatkan, akan diperoleh besar konstanta kisi dan bentuk kisi dari bahan
magnetik tersebut. Selain itu pula dapat dibuat grafik intensitas terhadap sudut
hamburan dari setiap bidang kristal berdasarkan indeks millernya, seperti pada
gambar dibawah ini.

12

Gambar 13 Pola difraksi neutron dari MnO

Sebenarnya, dua perlakuan suhu yang diberikan salah satunya berada di


bawah temperatur Nel dan satunya lagi di atas temperatur Nel. Neutron akan
mengamati keadaan spin yang searah dan memberikan informasi sebagai besaran
konstanta kisi dalam skala amstrong. Pada suhu 80 K dapat diklasifikasikan
dengan hubungan unit sel berupa kubik dengan konstanta kisi sebesar 8,85 .
Sedangkan pada suhu 293 K refleksi memberi informasi bahwa unit sel berbentuk
fcc dengan konstanta kisi sebesar 4,43 .
Tetapi dengan X-ray, baik pada suhu 80 K dan 293 K diperoleh konstanta
kisi yang sama yaitu 4,43 . Sebagai kesimpulannya parameter kisi unit cell
sebenarnya bernilai 4,43 , tetapi pada suhu 80 K, ion Mn2+ tersusun secara
nonferomagnetik. Bila tersusun secara feromagnetik seharusnya terjadi nilai
refleksi yang sama.

Gambar 14. Perputaran ion Mn2+ dalam MnO sebagaimana yang ditentukan
oleh difraksi neutron

Dari gambar di atas dapat diperhatikan bahwa spin pada single plane [111]
adalah paralel, tetapi yang bersebelahan dengan daerah single plane tersebut adalah
antiparalel. Susunan spin tetap dengan hasil difraksi neutron dan dengan pengukuran
magnetik. Oleh karena itu bahan MnO merupakan antiferomagnetik. Spin
antiferomagnetik akan tersusun antiparalel dengan momen magnet total bernilai nol
pada suhu di bawah temperatur Nel.

13

Gambar 15. Urutan spin pada feromagnetik (>0) dan antiferomagnetik (<0)

Superexchange Pada Bahan Antiferomagnetik

Pada bahan antiferromagnetik terjadi peristiwa kopling momen magnetik


diantara atom atom atau ion ion yang berdekatan. Peristiwa kopling tersebut
menghasilkan terbentuknya orientasi spin yang antiparalel. Berikut ini adalah
peristiwa kopling pada bahan antiferromagnetik. Contohnya pada senyawa MnO.
Ikatan pada MnO merupakan ikatan ionik, Ion Mn2+ berisi lima elektron 3d, Ionion O2- memiliki kulit elektron yang terisi, hibridisasi hanya dapat ditempati oleh
donor elektron dari ion O2- kedalam orbital yang kosong dari ion Mn2+.. Maka,
karena semua orbital Mn berisi sebuah elektron spin-up, ikatan hanya terjadi jika
oksigen terdekatnya mendonorkan elektron spin-downnya.

Gambar 16 Peristiwa Kopling Bahan Antiferromagnetik

14

Gabungan momen magnetik antara atom-atom atau ion-ion yang berdekatan


dalam suatu golongan bahan tertentu akan menghasilkan pensejajaran anti
paralel. Gejala ini disebut anti-feromagnetik. Sifat tersebut antara lain terdapat
pada MnO, bahan keramik yang bersifat ionik yang memiliki ion-ion Mn2+ dan
O2-. Tidak ada momen magnetik netto yang dihasilkan oleh ion O2-, hal ini
disebabkan karena adanya aksi saling menghilangkan total pada kedua momen
spin dan orbital.
Tetapi ion Mn2+ memiliki momen magnetik netto yang terutama berasal dari
gerak spin. Ion-ion Mn2+ ini tersusun dalam struktur kristal sedemikian rupa
sehingga momen dari ion yang berdekatan adalah antiparalel.
Karena momen-momen magnetik yang berlawanan tersebut saling
menghilangkan, bahan MnO secara keseluruhan tidak memiliki momen magnetik.
IV.

APLIKASI BAHAN ANTIFEROMAGNETIK

4.1

Bahan antiferromagnetik Kromium (Cr)

Digunakan untuk mengeraskan baja, untuk pembuatan stainless steel,


dan untuk membentuk paduan

Digunakan dalam plating untuk menghasilkan permukaan yang indah


dan keras, serta untuk mencegah korosi.

Digunakan untuk memberi warna hijau pada kaca zamrud.

Digunakan sebagai katalis. seperti K2Cr2O7 merupakan agen oksidasi


dan digunakan dalam analisis kuantitatif dan juga dalam penyamakan
kulit

4.2

Merupakan suatu pigmen, khususnya krom kuning

Media Pengimpanan Magnetik


Penyimpanan magnetik bergantung pada orientasi balikan/putaran spin

dalam bahan magnetik, dan ini bergantung pada batas batas bahan. Namun para
peneliti telah menunjukkan bahwa merek dapat memanfaatkan berbagai jenis

15

bahan magnetik untuk mempercepat kecepatan tulis, meskipun perubahan dalam


orientasi magnetik mengambil jumlah waktu yang sama. Pada umumnya,
teknologi hard drive berdasarkan pembalikan orientasi pada bahan magnet. Ketika
medan aplikasi diberikan pada bahan magnet, maka spin elektron akan mulai
berputar. Kecepatan presesi dan waktu yang dibutuhkan untuk flip spin elektron
sebanding dengan kekuatan medan magnet. Medan aplikasi yang lebih besar
menyebabkan spin lebih cepat berputar untuk presesi. Namun demikian, medan
aplikasi yang terlalu besar dapat merusak keteraturan spin magnet (merusak
magnet).
Seperti yang telah diketahui, bahan antiferromagnetik memiliki dua kelompok
atom (spin). Spin spin tersebut memiliki besar yang sama tetapi memiliki arah
yang berbeda. Putaran/getaran spin pada antiferromagnetik berperilaku seperti
memiliki inersia, yang berarti walaupun medan aplikasi tidak ada lagi, spin masih
tetap berosilasi dan berputar. Dinamika material dapat diamati dengan
memvariasikan waktu antara pulsa magnetik dan pengukuran pulsa. Flip spin
memerlukan waktu beberapa picosecond, sedangkan spin terus berosilasi di
sekitar orientasi baru untuk sekitar 100 picoseconds ketika medan aplikasi
dihilangkan. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah diamati pada ferromagnets dan
hanya bisa terjadi jika spin memiliki semacam inersia dan waktu yang diperlukan
untuk spin melakukan flip. Kelebihan ini menyebabkan medan magnet aplikasi
hanya perlu diberikan untuk 100 femtosekon pertama yang akan menyebabkan
kecepatan menulis bisa jauh lebih cepat.

Gambar 17. Hard disk, salah satu contoh aplikasi bahan antiferomagnetik

4.3

Katup Spin

16

Salah satu kegunaan bahan antiferomagnetik adalah katup spin (spin value),
karena adanya fenomena yang dinamakan pertukaran anisotropik (exchange
anisotrophy) atau kopling exchange-bias. Exchange anisotrophy pertama kali
diteliti lebih dari 50 tahun yang lalu dalam sebuah partikel singgel dominan
(berdiameter 100 1000 A) Co (bahan feromagnetik) yang dilapisi dengan
antiferomagnetik CoO. Sampel Co atau CoO tersebut didinginkan pada medan nol
dan memiliki histeresis tergeser (shifted hysteresis loop). Secara keseluruhan,
koersivitas dinaikkan dan dibandingkan dengan sampel zero fieldcooled dan
magnitudenya berbeda untuk medan yang dinaikan dan diturunkan. Perbedaan
koersivitas dari medan maju dan balik diaplikasikan pada sistem exchange-bias
yang digunakan pada aplikasi katup-spin (spin-value) modern untuk meletakan
arah magnetisasi dari lapisan feromagnetik. Lapisan yang diletakan tersebut
dikopling kepada lapisan feromagnetik kedua yang dapat merubah orientasi
magnetisasinya dalam respon terhadap medan luar. Resistansi dari devais bernilai
kecil jika lapisan feromagneik disejajarkan pada arah yang sama dan bernilai
tinggi jika mereka disejajarkan pada arah berlawanan. Oleh karena itu, devais
tersebut dapat digunakan sebagai sensor medan magnetik sensitif atau aplikasi
media penyimpanan.

17

Gambar 18 Skema dari partikel core-shell


yang berisi inti feromagnetik Co dengan kulit
antiferomagnetik CoO disekelilingnya

Gambar 19. Exchange bias muncul ketika


sistem FM/AFM didinginkan dalam medan
magnet melalui suhu Nel antiferomagnetik.
Lapisan atas adalah bahan feromagnetik,
seperti Co dan lapisan bawah adalah bahan
antiferomagnetik, seperti CoO. Arah panah
menggambarkan momen magnetik pada ion
logam transisi baik dalam ferro dan
Gambar 20. Skema loop histeresis pada
sebuah sistem dengan pertukaran anisotropik

18

antiferromagnet. Lingkaran adalah anion,


seperti oksigen.

DAFTAR PUSTAKA

Nicola A Spaldin.2010. Magnetic Materials Fundamental and Applications 2nd


Edition. Cambrige : Cambridge University Press.
Risdiana.2012.Buku Diktat Bahan Magnet dan Superkonduktor.Bandung : Jurusan
Fisika Universitas Padjadjaran.
Ardianisdi.

2010.

Difraksi

Neutron.

Terdapat

di

//ardiannisworld.blogspot.com/2008/01/difraksi-neutron_31.html

http:
(diakses

pada tanggal 4 September 2014, pukul 13 : 00)


Callister, William D. 2010. Materials Science and Engineering An Introduction
Eight Edition. New York : John Wiley & Sons Inc.
Kittel, Charles. 2005. Introduction to Solid State Physics Eighth Edition. New York
: John Wiley & Sons Inc.

19