Anda di halaman 1dari 61

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan anugerah
yang telah diberikan kepada penyusunan, sehingga Buku Pedoman Pelayanan Keperawatan
PKU Muhammadiyah Wonosobo ini dapat selesai disusun.
Buku panduan ini merupakan panduan kerja bagi semua pihak yang terkait dengan unit
pelayanan anestesi dalam tata cara pelaksanaan pelayanan keperawatan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Wonosobo.
Dalam panduan ini diuraikan tentang latar belakang, ruang lingkup dan tatalaksana pelayanan
keperawatan yang diberikan kepada pasien di rumah sakit ini.
Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas bantuan
semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Pedoman Pelayanan Keperawatan
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Wonosobo.
Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

Wonosobo,

Desember 2012

Penyusun

iv

BAB I
PENDAHULUAN
Perawat merawat orang sakit dan cedera di rumah sakit, tempat mereka bekerja untuk
memperbaiki kesehatan dan memperingan penderitaan. Banyak orang dipulangkan ke rumah
dari rumah sakit ketika mereka masih membutuhkan asuhan keperawatan, sehingga perawat
sering memberikan perawatan di rumah yang hampir sama dengan perawatan yang mereka
berikan pada pasien di rumah sakit. Di klinik dan pusat kesehatan di komunitas yang
mempunyai sedikit dokter, perawat mendiagnosis dan mengobati penyakit umum,
meresepkan dan memberikan medikasi, bahkan melakukan pembedahan minor. Perawat juga
makin meningkat pekerjaannya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan mencegah
penyakit di seluruh komunitas.
Terdapat banyak peran dalam keperawatan. Perawat merawat pasien, melakukan
prosedur yang diprogramkan oleh dokter dan berkolaborasi dengan dokter dan anggota tim
kesehatan lain, mengkaji pasien dan mengatasi masalah mereka. Perawat mengoordinasikan
pekerjaan orang lain yang terlibat dalam perawatan pasien, termasuk keluarga pasien, yang
dapat melakukan banyak perawatan untuk pasien. Perawat juga melindungi pasien, bekerja
untuk mencegah infeksi dan menjamin lingkungan yang aman dan sehat dalam rumah sakit.

BAB II
PERAN PERAWAT DALAM TIM PERAWATAN KESEHATAN
A. Merawat Pasien
Perawat merawat pasien selama 24 jam sehari. Mereka membantu pasien untuk
melakukan apa yang akan pasien lakukan. Perawat memperhatikan pasien yang mereka
rawat, untuk menjamin bahwa pasien dapat bernapas dengan baik, melihat bahwa pasien
mendapat cukup cairan dan cukup nutrisi, membantu pasien istirahat dan tidur,
meyakinkan bahwa pasien merasa nyaman, memerhatikan kebutuhan pasien untuk
eliminasi produk sisa dari tubuh dan membantu pasien menghindari konsekuensi bahaya
dari imobilisasi, seperti sendi kaku dan dekubitus.
Perawat dapat memutuskan bahwa, dengan tujuan untuk mencegah dekubitus,
pasien perlu dibalik setiap dua jam sekali. Namun, perawat dapat berkonsultasi dengan
dokter terlebih dahulu mengenai hal ini jika terdapat kemungkinan bahwa pengubahan
posisi pasien dapat menyebabkan beberapa masalah lain. Karenanya perawat
menggunakan

pemahaman

tentang

kondisi medis,

serta pengetahuan tentang

keperawatan dalam memutuskan perawatan pasien.


Perawat tidak hanya memerhatikan pasien tetapi juga memberikan kenyamanan
dan dukungan pada pasien dan keluarganya. Ketika pasien tidak dapat pulih, perawat
membantu untuk meyakinkan bahwa kematian adalah kedamaian.
B. Bekerja Sama Dengan Dokter Untuk Mengobati Pasien
Ketika pasien sakit atau cedera, secara umum dokter mengkaji pasien,
mendiagnosis masalah pasien dan memutuskan tindakan yang diperlukan untuk
mengobati masalah atau meredakan gejala pasien. Dokter akan melakukan beberapa
tindakan seperti pembedahan. Perawat adalah orang yang memberikan paling banyak
tindakan. Jika pasien memerlukan terapi intravena, biasanya perawat memasang jalur
intravena dan memberi pasien cairan dan obat yang ditentukan. Jika pasien memerlukan
injeksi, maka perawat yang memberikannya. Perawat mengganti balutan pasien dan
memantau penyembuhan lukanya. Perawat memberikan medikasi untuk nyeri. Perawat
juga memantau kemajuan pasien untuk meyakinkan bahwa pemulihan tanpa komplikasi.
Karena perawat yang lebih sering kontak dengan pasien, maka perawat lebih sering
menemukan masalah pada pasien sebelum orang lain menemukannya.

C. Mengkoordinasi Perawatan Pasien


Dalam melakukan perawatan pasien, perawat berkolaborasi dengan anggota tim
perawatan kesehatan lain. Perawat bekerja dengan dokter, serta perawat lain, ahli terapi
sik, dan profesional lain yang terlibat dalam perawatan pasien. Perawat juga
merencanakan dan mengawasi perawatan yang diberikan oleh asisten keperawatan,
memeriksa pekerjaan staf rumah tangga yang ditugaskan untuk membersihkan ruangan
pasien, dan menjamin bahwa pasien mendapatkan cukup makanan sehat.
Keluarga pasien mempelajari bagaimana memberikan perawatan dasar dari
perawat, yang juga membantu mereka bila perlu. Hal ini meliputi mempelajari
bagaimana menggunakan cara tradisional tentang penyembuhan dengan perawatan
kesehatan modern. Perawat mendukung keluarga dalam memberikan perawatan dasar
untuk orang sakit. Perawat mempunyai tanggung jawab akhir untuk kualitas perawatan
pasien yang diterima pasien selama tinggal di rumah sakit. Dalam mengoordinasikan
pekerjaan orang lain, perawat selalu menempatkan pasien sebagai pusat perhatian.
D. Melindungi Pasien
Ketika seseorang sakit dan lemah, ia lebih rentan terhadap infeksi dan cedera.
Salah satu tanggung jawab utama perawat yaitu melindungi pasien dengan menjamin
bahwa lingkungan pasien aman dan sehat. Perawat juga mengkaji apakah ruangan yang
ditempati pasien bersih, pasien dalam keadaan bersih, air telah direbus atau aman, jarum
dan materi lain yang digunakan untuk prosedur steril, bahan yang telah kotor disimpan
jauh dari pasien, dan jarum serta objek tajam lain ditempatkan dalam wadah yang aman
setelah penggunaan. Perawat mencuci tangan dengan cermat sebelum dan setelah
perawatan pasien dan antar pasien.Perawat melindungi martabat pasien dan mencoba
untuk mengamankan pasien dari rasa malu atau memalukan. Ketika pakaian pasien harus
dilepas, perawat berusaha untuk menjamin privasi pasien. Perawat juga meyakinkan
bahwa pasien aman secara sik, tidak dapat jatuh dari atas tempat tidur, atau jatuh ketika
mencoba berjalan, atau terpeleset di lantai basah. Perawat mencoba untuk melindungi
pasien terhadap apapun yang dapat membahayakan.

BAB III
PEMANTAUAN PASIEN DAN PENCATATAN ASUHAN KEPERAWATAN
A. Dapatkan Informasi Latar Belakang
Sebelum perawat memasuki ruangan pasien, periksa catatan untuk melihat apa
yang telah dilakukan hari ini, apa masalah pemberi perawatan lain yang telah dicatat, dan
apakah ada informasi baru lainnya tentang pasien. Bila mungkin, bicarakan hal ini
dengan perawat yang telah selesai tugas.
B. Amati Pasien
1. Dengarkan pernapasan pasien, lihat warna kulitnya, dan lihat apakah pasien dalam
keadaan sadar.
2. Dengan segera ukur tanda vital pasien bila perawat melihat ada tanda bahwa pasien
mengalami masalah pernapasan, apakah pernapasan terlalu cepat, atau warna
kulitnya pucat atau kemerahan, atau apakah pasien tampak mengalami kegawatan.
Laporkan masalah pada perawat yang bertanggung jawab atau dokter.
3. Jangan membangunkan pasien untuk pengkajian atau perawatan kecuali pernapasan
atau warna kulit pasien menunjukkan ada masalah. Bila pernapasan, warna kulit,
atau posisi pasien di tempat tidur menunjukkan ketidaksadaran bukan keadaan tidur,
coba

untuk

membangunkan

pasien.

Jika

petugas/perawat

tidak

berhasil

membangunkan pasien, panggil bantuan. Pada saat yang sama, pastikan bahwa jalan
napas pasien terbuka, jika perlu buka jalan napas dengan mengangkat rahang bawah
pasien.
C. Bicara Dengan Pasien
1. Jika pasien sadar, tanyakan bagaimana keadaannya dan apakah pasien merasa
nyaman.
2. Tanyakan adanya nyeri yang dirasakan.
3. Tanyakan apakah tindakan atau medikasi yang diberikan membantu.
4. Tanyakan apakah pasien telah makan dan minum
5. Tanyakan tentang eliminasi urinarius dan fekal.
6. Perhatikan masalah yang disebutkan pasien.

D. Memeriksa Pasien
Periksa pasien dengan singkat dari kepala sampai kaki, perhatikan adanya
perubahan atau abnormalitas. Perhatikan pada masalah yang membawa pasien kerumah
sakit.
E. Memeriksa Peralatan Yang Digunakan
Pemeriksaan yang dilakukan akan bergantung pada masalah pasien dan peralatan
yang digunakan untuk masalah tersebut. Mungkin berupa sistemoksigen, slang
nasogastrik, kateter menetap, atau jalur intravena.
1. Bila pasien mendapatkan oksigen
Yakinkan bahwa kanula atau kateter dipasang dengan tepat. Periksa bahwa oksigen
dilembapkan dan diberikan dalam jumlah liter per menit sesuai program. Periksa
juga bahwa oksigen di dalam tabung dalam jumlah cukup.
2. Bila pasien terpasang jalur intravena
a. Pastikan jalur intravena terbuka dan larutan yang tepat mengalir dalam
kecepatan yang benar.
b. Periksa area masuknya kateter ke dalam kulit untuk adanya kemerahan, panas,
atau tanda cairan yang mungkin bocor dari vena ke dalam jaringan.
c. Bila kulit bengkak atau pucat pada sisi tersebut dan pasien merasa nyeri,
mungkin cairan telah masuk ke dalam jaringan dan jalur intravena harus dilepas
dan dipasang lagi.
3. Bila pasien menggunakan kateter Foley
a. Periksa haluaran urine.
b. Perhatikan apakah urine jernih, berkabut, kemerahan, atau gelap dan pekat.
Periksa catatan asupan dan haluaran untuk membantu menganalisis status cairan
pasien.
c. Yakinkan bahwa slang kateter Foley tidak terpelintir.
d. Kantong Foley tidak boleh berada di lantai.
F. Mengkaji Lingkungan Pasien
Tindakan ini adalah tanggung jawab perawat untuk melihat apakah lingkungan bersih
dan aman.
1. Periksa seluruh kebersihan ruangan dan lantai. Pastikan bahwa lantai dalam keadaan
kering.
5

2. Periksa tempat tidur pasien dan area sekitarnya. Pastikan bahwa seprai bersih dan
halus serta area sekitar tempat tidur bersih dan rapi.
3. Peralatan makan yang kotor dan tisu kotor dapat menjadi sumber infeksi.
4. Periksa bahwa area toilet bersih. Bila mungkin, lihat apakah pasien mempunyai
sabun dan handuk untuk mandi.
5. Periksa apakah pasien mempunyai apa yang diperlukannya. Bila pasien dapat
minum air, yakinkan bahwa tersedia air bersih di samping tempat tidur.
G. Mengukur Tanda Vital Pasien
Salah satu aspek paling penting dari pengkajian pasien adalah mengukur tanda-tanda
vital. Tanda-tanda vital pasien adalah suhu, nadi, pernapasan (respirasi) dan tekanan
darah. Perubahan pada tanda-tanda vital ini dapat menunjukkan perubahan pada kondisi
pasien. Tanda-tanda vital harus diperiksa pada saat pasien masuk dan pada interval
reguler setelah masuk setiap 4 jam sekali. Tanda vital juga harus diperiksa sebelum dan
setelah prosedur invasif, sebelum dan setelah memberikan medikasi yang dapat
memengaruhi tekanan darah atau pernapasan, sebelum dan setelah prosedur keperawatan
yang dapat memengaruhi tanda-tanda vital.
1. Suhu
Suhu tubuh adalah panas tubuh yang diukur dalam derajat. Suhu rata-rata orang
dewasa diukur secara oral antara 36,7C dan 37C.
Suhu lebih tinggi dari rata-rata disebut demam atau hipertermia. Tanda demam
meliputi:
a. peningkatan nadi
b. peningkatan pernapasan
c. menggigil
d. kulit dingin
e. perasaan kedinginan (menggigil).
Selama perjalanan demam, tanda klinis meliputi:
a. kulit hangat saat disentuh
b. peningkatan kontinu frekuensi nadi dan pernapasan
c. rasa haus
d. dehidrasi
e. kehilangan nafsu makan
6

f. perasaan umum tidak enak


g. mengantuk, gelisah dan pada kasus berat, delirium.
Ketika demam mulai turun, pasien masih merasa hangat dan kemerahan serta
berkeringat, pasien juga mengalami dehidrasi tetapi tidak merasa menggigil. Suhu
tubuh yang lebih rendah dari rata-rata disebut hipotermia. Tanda klinis meliputi:
a. menggigil berat
b. pucat, dingin, kulit mengkilat
c. tekanan darah rendah (hipotensi)
d. penurunan haluaran urine
e. disorientasi
f. pada kasus berat, mengantuk dan koma
2. Mengukur nadi pasien
Nadi orang dewasa normal biasanya 60 - 80 kali per menit, tetapi rentangnya 60 100. Nadi lebih cepat pada wanita daripada pria. Lebih cepat pada anak daripada
orang dewasa. Nadi meningkat karena latihan dan stres, dan ketika pasien demam.
Nadi juga lebih cepat ketika pasien kehilangan darah. Beberapa medikasi
menurunkan frekuensi nadi dan obat lain meningkatkannya. Mengukur nadi pasien
penting untuk mengetahui apakah ada dalam rentang normal, dan apakah nadi ini
teratur atau tidak.
Kebanyakan nadi diukur pada sisi dalam pergelangan tangan, ini disebut nadi
radialis. Nadi juga dapat diukur pada banyak tempat lain di tubuh. Bila perawat tidak
dapat mengukur pada nadi radialis karena pasien menggunakan balutan di tempat
tersebut, atau perawat perlu mengkaji nadi pada bagian tertentu tubuh, gunakan
tempat lain. Nadi yang diambil dari tempat yang jauh dari jantung disebut nadi
perifer. Untuk mengukur nadi perifer pasien, apakah pada pergelangan tangan atau
tempat lain, perawat memerlukan jam dengan detik.
a. Gunakan jari telunjuk dan ujung jari tengah atau ketiga ujung jari tengah dan
berikan tekanan sedang di atas titik nadi, sampai denyutan terasa. Jangan
menggunakan ibu jari karena
b. Hitung jumlah denyutan selama satu menit penuh. Setelah itu, bila nadi normal,
hitung selama 30 detik dan kalikan dua.
c. Perhatikan apakah nadi lemah, normal, atau terlalu kuat (menonjol).
d. Perhatikan apakah nadi teratur atau tidak.
7

e. Bila nadi lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya pada pasien tersebut, atau
nadi tidak teratur atau sangat kuat atau lemah, laporkan hal ini pada perawat
atau dokter yang bertanggung jawab.
3. Memeriksa pernapasan pasien
Frekuensi pernapasan normal atau respirasi, pada orang dewasa dalam keadaan
istirahat adalah 12 (atau lebih umum 15) sampai 20 kali/menit. Frekuensi lebih
tinggi pada bayi. Juga lebih tinggi pada individu yang melakukan latihan atau stres,
dan ketika suhu luar lebih tinggi. Infeksi dan gangguan pernapasan meningkatkan
frekuensi pernapasan juga. Beberapa medikasi seperti narkotik menurunkan
respirasi. Ketika individu berbaring telentang, mereka bernapas sedikit lebih dalam.
Penting untuk memeriksa pernapasan ketika pasien beristirahat. Paling baik pada
pasien yang tidak menyadari bahwa pernapasannya sedang diperiksa, sehingga ia
bernapas secara normal.
a. Untuk memeriksa frekuensi pernapasan, hitung jumlah pernapasan selama
sedikitnya satu menit.
b. Untuk memeriksa irama, perhatikan apakah ruang di antara pernapasan teratur
atau tidak
c. Untuk memeriksa kedalaman pernapasan, perhatikan gerakan dada pasien atau
tempatkan tangan pada dada pasien untuk merasakan gerakan. Ketika pasien
bernapas, iga bergerak ke atas dan ke bawah sehingga paru dapat berekspansi,
ketika pasien menghembuskan napas, iga bergerak kedalam seolah paru ditekan.
Bila ada banyak gerakan dada, pernapasan dalam, bila gerakan sangat sedikit,
pernapasan dangkal.
d. Perhatikan jumlah upaya pasien untuk bernapas, dan dengar-kan bunyi
pernapasannya. Pernapasan normal adalah tidak bersuara dan mudah. Kadang
pasien dengan jelas bekerja keras untuk bernapas, terutama ketika ia berbaring
datar. Bila pasien sukar bernapas, perawat akan melihat kekencangan otot leher
dan bahu. Kadang akan terlihat bahwa kulit telah tertarik ke atas sternum atau di
bawah iga (disebut pengisapan ke dalam atau retraksi).
e. Dengarkan adanya mengi, yaitu bunyi bersiul atau berdesah. Mengi adalah
tanda infeksi serius, asma, atau adanya penghambatan jalan napas.

f. Tuliskan apa yang ditemukan tentang pernapasan pasien. Bila terlihat ada
perubahan pada pasien, beri tahu perawat yang bertanggung jawab atau dokter
dengan segera.
4. Mengukur tekanan darah
Tekanan darah adalah suatu ukuran tekanan yang dibuat darah saat bergerak melalui
arteri tubuh. Terdapat dua jenis tekanan darah yaitu tekanan sistolik dan tekanan
diastolik.
Tekanan sistolik adalah tekanan paling tinggi yang dihasilkan ketika ventrikel kiri
jantung berkontraksi. Ini adalah tekanan gelombang darah yang memasuki arteri.
Tekanan diastolik adalah tekanan paling rendah yang dihasilkan ketika ventrikel kiri
relaksasi. Ini adalah tekanan yang selalu ada dalam arteri.
Tekanan darah diukur dalam milimeter air raksa (mm Hg) dan biasanya diberikan
sebagai tekanan sistolik diikuti dengan tekanan diastolik, dengan garis miring di
antaranya.
Tekanan darah normal orang dewasa dalam rentang dari 110/60 mm Hg - 140/90
mm Hg, dan rata-rata adalah 120/80 mm Hg.
H. Merencanakan Asuhan Keperawatan
Setelah memeriksa bagaimana keadaan pasien (status), rencanakan perawatan yang akan
diberikan hari ini. Rencana perawatan akan mencakup:
1. Prosedur yang diprogramkan dokter
2. Tindakan keperawatan untuk memberikan kenyamanan dan meningkatkan
pemulihan
I. Mencatat Status Pasien Dan Asuhan Keperawatan
Mencatat informasi adalah bagian penting dari asuhan keperawatan. Setelah perawat
memeriksa pasien dan memberikan perawatan, perawat perlu mencatat tiga tipe
informasi, yaitu :
1. Informasi penting tentang status pasien
2. Perawatan yang anda berikan pada pasien
3. Respons pasien terhadap perawatan Anda
Alasan utama penulisan informasi tentang pasien adalah agar pemberi perawatan yang
bertugas selanjutnya, mengetahui apa yang telah terjadi. Pemberi perawatan berikutnya
9

perlu mengetahui bagaimana keadaan pasien sebelumnya, untuk melihat apakah ada
perubahan pada kondisi pasien.
J. Evaluasi Perawatan Yang Diberikan
Setelah merawat pasien, selalu kembali melihat apakah asuhan keperawatan telah efektif.
Sebagai contoh, bila perawat memberi pasien medikasi untuk nyeri, kembali untuk
melihat apakah pasien merasa lebih nyaman. Jika tindakan keperawatan belum efektif,
mungkin memerlukan rencana dan melaksanakan tindakan lain untuk membantu pasien.

10

BAB IV
PERAWATAN PASIEN SEHARI-HARI
A. Higiene
Higiene penting untuk membantu pasien tetap bersih dan untuk merawat kulit,
mulut, rambut, mata, telinga, dan kuku. Perawat perlu melihat apakah pasien dapat
membersihkan diri mereka sendiri atau tidak. Jika tidak perawat dapat membantu pasien
bila mungkin. Penting untuk menanyakan pasien apa yang biasanya mereka lakukan dan
bagaimana mereka menginginkan bantuan.
Perbedaan budaya dan agama dapat membedakan praktik higiene. Higiene adalah
sangat pribadi dan masing-masing individu mempunyai ide yang berbeda tentang apa
yang mereka ingin lakukan. Jika memungkinkan, perawat harus membantu pasien
memenuhi kebutuhan pribadinya dari pada melakukan standar rutin.
B. Mandi
Kesehatan kulit adalah penting. Kulit melindungi jaringan dari cedera dengan
mencegah kuman (mikroorganisme) memasuki tubuh. Ketika kulit tergores atau luka,
mikroorganisme dapat masuk dan pasien rentan terhadap infeksi. Ketika kulit kering atau
bersisik, kulit dapat pecah. Bila pasien mengalami ruam atau gatal lain, akan mudah
untuk menggores kulit. Dengan demikian penting untuk selalu memeriksa kulit pasien.
Menghindari cedera kulit dan memperbaiki kesehatan kulit bila mungkin, melalui nutrisi,
losion dan yang paling penting adalah mandi. Mandi menghilangkan mikroorganisme
dari kulit serta sekresi tubuh, menghilangkan bau tidak enak, memperbaiki sirkulasi
darah ke kulit dan membuat pasien merasa lebih rileks dan segar.
Perawat atau anggota keluarga mungkin perlu membantu pasien berjalan ke kamar
mandi atau kembali dari kamar mandi. Sediakan kursi di kamar mandi, pada kasus pasien
perlu duduk dan istirahat. Perawat atau anggota keluarga harus ada untuk membantu
pasien mengguyur atau mengeringkan, bila perlu, atau mengganti pakaian bersih setelah
mandi.
C. Perawatan Mulut
Perawatan mulut yang baik memerlukan dua kali sikat gigi sehari, masase gusi dan
pembilasan mulut. Pasien di rumah sakit mungkin mampu bangun dan menyikat gigi
mereka dan mencuci mulut mereka. Bila perawat membawa sikat gigi dan sebaskom air,
11

pasien dapat duduk di tempat tidur dan menyikat gigi mereka di atasnya. Namun, kadang
pasien terlalu lemah untuk melakukan perawatan mulut mereka, sebagai akibatnya, mulut
menjadi terlalu kering atau teriritasi atau menimbulkan bau tidak enak.
Perawat perlu memeriksa mulut pasien setiap hari dan membantu pasien untuk
melakukan perawatan mulut. Biasanya perawatan mulut dilakukan setiap hari.
Melakukan perawatan mulut dengan sering penting terutama untuk pasien yang puasa.
Saat perawat melakukan perawatan mulut, selalu perhatikan adanya perdarahan atau
ulserasi dan tanyakan pasien tentang adanya nyeri. Tipe perawatan mulut yang diberikan
perawat akan bergantung pada bahan yang tersedia. Bila mungkin, gigi dan gusi harus
disikat dengan perlahan memakai sikat halus. Bila tidak tersedia sikat gigi, pasien dapat
mengunyah serat-serat pada ujung batang, dengan menggunakannya sebagai sikat, atau
bungkuskan kain handuk atau kasa pada ujung batang atau jari dan gunakan sebagai sikat
gigi. Pasta gigi membantu tetapi tidak perlu. Anda dapat membuat bubuk gigi dengan
mencampur garam dan bikarbonat soda dalam jumlah yang sama.
Bila pasien menggunakan gigi palsu dan mereka tidak dapat membersihkannya,
minta mereka untuk melepaskan gigi tersebut setiap malam. Sikatlah gigi palsu dengan
menggunakan sikat gigi dan pasta gigi atau bubuk pembersih gigi, bilas dan tempatkan
dalam wadah dan letakkan di meja tempat tidur pasien. Bahkan membantu
membersihkan mulut pasien dengan larutan garam atau air bersih akan membantu
mencegah mukosa kering dan infeksi serta membuat pasien merasa lebih nyaman. Bila
membran mulut tampak kering atau kotor, berikan minyak dan jus lemon, jika tersedia,
pada sebuah bantalan kasa atau kain bersih, dan usapkan pada membran. Sedikit minyak
pada bibir akan membantu mencegah kekeringan dan bibir pecah-pecah yang sering
menimbulkan rasa sakit.
D. Perawatan Mulut Untuk Pasien Tidak Sadar
Perawatan mulut penting terutama untuk pasien tidak sadar. Tindakan kewaspadaan
khusus perlu dilakukan.
1. Jika mungkin, posisikan pasien miring mendekati tepi tempat tidur.
2. Cuci tangan terlebih dahulu.
3. Tempatkan baskom kecil di bawah dagu pasien dengan handuk di bawah baskom
untuk menyerap tetesan air.
4. Buka mulut pasien secara perlahan dengan spatel lidah atau alat lain, seperti sendok.

12

5. Bersihkan gigi dan membran, kemudian bilas mulut dengan menyemprotkan sedikit
air ke dalam mulut dengan spuit. Atau gunakan bantalan kasa atau kain yang
dilembapkan untuk membilas mulut.
6. Setelah membersihkan mulut pasien, cuci tangan.
E. Perawatan Rambut
Rambut perlu disikat atau disisir setiap hari untuk tetap sehat. Banyak pasien mampu
bangun dari tempat tidur dan menyisir rambut mereka, atau menyisirnya di tempat tidur.
Bila pasien tidak dapat menyisir atau menyikat rambutnya, perawat atau anggota
keluarga perlu melakukannya, setidaknya sekali sehari. Pencucian rambut umumnya
bergantung pada berminyaknya rambut dan kebiasaan pasien. Pasien yang lama di rumah
sakit, perlu melakukan pencucian rambut. Pasien yang mampu mandi sendiri dapat juga
mencuci rambut mereka. Pasien lain mungkin mampu duduk di kursi di depan bak cuci.
Perawat atau kerabat pasien kemudian dapat mencucikan rambut mereka. Beberapa
pasien tidak mampu bangun ataupun mencuci rambut sehingga perawat perlu
melakukannya di tempat tidur. Minta pasien untuk bergerak mendekati tepi tempat tidur,
dan sediakan sampo dan dua baskom air. Tempatkan satu handuk di bawah kepala dan
bahu pasien untuk mencegah tempat tidur basah. Basahi rambut, berikan sampo dan cuci,
masase kulit kepala dengan jari-jemari. Kemudian bilas rambut, keringkan dengan
handuk bersih, dan sisir untuk mencegah kekusutan.
F. Mencukur Pasien Pria
Biasanya pasien pria yang terlalu lemah untuk mencukur wajah mereka akan
merasa lebih nyaman bila perawat atau anggota keluarganya melakukan hal ini ketika
dibutuhkan.
1. Untuk mencegah infeksi, paling baik menggunakan satu alatpencukur untuk satu
pasien. Bila keluarga pasien dapat menye-diakan alat pencukur, minta mereka untuk
membawakannya.
2. Cuci tangan terlebih dahulu sebelum memulai pencukuran.
3. Lembapkan wajah pasien dengan waslap basah air hangat. Kemudian berikan sabun
atau losion pencukur pada satu sisi wajahnya.
4. Cukur dengan perlahan, ikuti arah rambut.

13

5. Sambil mencukur pasien, hati-hati mencukur bagian yang menonjol seperti dekat
mulut dan hidung. Area ini paling baik dicukur dengan tekanan pendek sambil
dengan hati-hati meregangan kulit agar mendatar dengan tangan kiri.
6. Ketika selesai, bilas wajah pasien dengan air hangat dan cuci tangan.
G. Perawatan Mata
Biasanya mata manusia tidak memerlukan perawatan khusus karena mata itu
sendiri secara kontinu dibersihkan oleh cairan dalam mata, dan bulu mata serta kelopak
mata mencegah partikel masuk ke dalam mata. Namun, pasien yang mengalami cedera
atau pembedahan mata, pasien yang mengalami infeksi mata, atau pasien tidak sadar
memerlukan perawatan khusus terhadap mata. Pada infeksi atau cedera, mata cenderung
mengeluarkan rabas dan cairan yang dikeluarkan mungkin terakumulasi dan mengering
di bulu mata seperti krusta. Pasien tidak sadar tidak dapat mengedipkan mata dan mata
mereka menjadi kering dan teriritasi. Rabas dari mata juga dapat terbentuk.
1. Lunakkan dan bersihkan rabas yang telah mengering pada kelopak atau bulu mata,
dengan menggunakan bola kapas steril atau kain bersih yang dilembapkan dengan
air atau larutan salin. Usap dari bagian dalam kelopak mata ke arah luar
2. Bila pasien tidak sadar dan tidak dapat menutup kelopak mata atau berkedip, tetes
mata dapat digunakan untuk mempertahankan mata cukup basah. Atau memasang
tameng mata untuk melindungi mata.
3. Bila pasien menggunakan kacamata, bersihkan dengan hati-hati menggunakan air
hangat dan tisu atau kain lembut untuk menghindari goresan pada lensa. Bila
kacamata tidak digunakan, tempatkan di tempat yang aman agar tidak pecah.
H. Perawatan Telinga
Normalnya, telinga sangat sedikit memerlukan pembersihan. Namun, pasien dengan
serumen yang terlalu banyak, telinganya perlu dibersihkan sehingga dokter atau perawat
dapat melihat bagian dalam telinga. Ketika merawat pasien, periksa telinga untuk adanya
rabas, pembentukan serumen telinga, atau inamasi. Usap telinga ke arah luar dengan
waslap bersih dan keluarkan kelebihan serumen. Perawat dapat menghilangkan serumen
dengan menarik daun telinga ke bawah. Jika serumen masih tidak dapat dikeluarkan,
mungkin perlu dilakukan irigasi saluran telinga.
1. Cuci tangan

14

2. Isi spuit atau pipet pengisap dengan larutan pengirigasi, dan dengan perlahan tarik
daun telinga ke atas dan ke belakang untuk meluruskan saluran telinga sehingga
larutan dapat mengalir melalui seluruh saluran.
3. Masukkan ujung spuit atau pipet pengisap ke dalam telinga dan dengan sangat
perlahan arahkan larutan ke dalam saluran. Biarkan cairan menetes ke luar dan
yakinkan spuit tidak menghalangi tetesan tersebut.
4. Selanjutnya usap bagian luar telinga dan minta pasien memalingkan kepala ke salah
satu sisi dengan telinga kebawah, sehingga seluruh larutan akan mengalir keluar.
5. Tempatkan handuk di bawah telinga untuk mencegah tempat tidur basah.
I. Perawatan Kuku
Beberapa pasien mungkin memerlukan bantuan dalam membersihkan atau memotong
kuku jari tangan dan kaki. Dengan menggunakan pemotong atau gunting kuku yang
tajam, potong kuku lurus menyilang dan kemudian gunakan kikir kuku, jika ada, untuk
menghaluskan tepi guntingan kuku. Bila perawat telah memotong semua kuku, dengan
perlahan bersihkan bagian bawahnya. Jika pasien mengalami diabetes atau masalah
sirkulasi, atau jari mengalami infeksi, perawat harus sangat hati-hati untuk tidak
mencederai jaringan tersebut. Apabila kuku jari kaki pasien tebal dan keras, mungkin
perlu merendam kaki di dalam baskom sebelum memotong kukunya. Periksa baik jari
kaki maupun tangan apakah ada tanda inamasi.
J. Perawatan Tungkai Dan Kaki
Selalu periksa tungkai bawah dan kaki pasien, khususnya pasien geriatrik atau
pasien diabetes atau yang mengalami masalah sirkulasi. Pasien mungkin mengalami
sensasi dan sirkulasi buruk tetapi mungkin tidak mengetahuinya. Pasien kemungkinan
tidak mengetahui bahwa ia mengalami sakit atau luka pada kaki atau jari kakinya.
Perhatikan dan raba tungkai bawah dan kaki. Bila kulit tungkai bawah kecokelatan dan
tebal, atau bila kemerahan dan mengilap, pasien mungkin mengalami masalah sirkulasi.
Periksa adanya dan kekuatan denyut nadi pada kaki. Periksa warna dan suhu kaki dan
jari kaki. Periksa adanya pembengkakan kaki, pergelangan kaki, dan tungkai bawah.
Perhatikan antara jari kaki dan pada dasar kaki. Bila ada luka/ulkus, dapatkan program
pengobatan. Kalus dapat dilunakkan dengan merendam kaki dalam air hangat, kemudian
memotong kalus tersebut. Bila pasien mempunyai kulit kering, basahi kaki atau rendam

15

dalam air hangat. Keringkan dengan seksama bagian di antara jari. Berikan losion atau
minyak, masase dengan seksama. Jangan menggunakan losion di antara jari kaki.
Beri tahu pasien bagaimana merawat adanya deformitas, luka, ulkus, atau sirku-lasi
atau sensasi buruk pada kaki dan tungkai. Pasien atau anggota keluarga harus memeriksa
kaki setiap hari dan menjaga kaki tetap bersih dan kering. Ketika pasien pulang ke
rumah, ia tidak boleh bertelanjang kaki. Bila ada luka bakar, lepuh atau luka, pasien
harus diperiksa oleh petugas perawatan kesehatan.
K. Masase Punggung
Masase punggung adalah salah satu tindakan memberi kenyamanan yang dapat
dilakukan untuk pasien. Tindakan ini meredakan ketegangan, merilekskan pasien dan
meningkatkan sirkulasi. Karena efeknya pada sirkulasi, masase punggung terutama
bermanfaat untuk mencegah luka tekan (dekubitus) pada pasien tirah baring. Tindakan
ini juga memungkinkan perawat untuk memeriksa kulit pasien dan melihat area
kemerahan yang kemudian dapat menjadi dekubitus. Bila kulit kemerahan, masase dapat
menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Waktu terbaik untuk memberi masase punggung
adalah setelah mandi atau sebelum pasien tidur. Losion dapat digunakan untuk
melembutkan kulit selama masase. Alkohol bersifat menyegarkan, tetapi umumnya tidak
dianjurkan karena alkohol mengeringkan kulit.
1. Pertama cuci tangan.
2. Tuangkan losion ke tangan dan hangatkan dengan menggenggamnya selama
beberapa detik sebelum memulai masase.
3. Masase bagian tengah punggung bawah pasien dengan menggunakan gerakan
sirkular.
4. Kemudian tekan ke arah atas dan masase area di atas belahan bahu kiri dan kanan,
sekali lagi dengan menggunakan gerakan sirkular. Kemudian tekan ke arah bawah
dan akhiri dengan menggunakan masa sekrista iliaka, otot besar dari bokong kanan
dan kiri.
5. Ulangi proses ini selama 3 - 5 menit, dan kemudian bersihkan losion yang tersisa di
kulit dengan handuk

16

L. Mencegah Dan Mengatasi Dekubitus


Dekubitus atau luka tekan adalah salah satu komplikasi dari tirah baring. Dekubitus
biasanya terbentuk pada bagian tulang tubuh seperti siku dan panggul, lutut dan sakrum
atau tulang besar pada bagian belakang pelvis. Pertama-tama area ini tampak kemerahan,
kemudian terbentuk luka terbuka. Jika ulkus tidak diatasi, kerusakan berlanjut dan
jaringan di bawah kulit terkena, kemudian bahkan otot dan tulang terkena. Dekubitus
yang tidak diatasi akan mudah terinfeksi. Pasien yang dapat berjalan kemungkinan
mengalami dekubitus lebih kecil. Penting untuk mengubah dan membalik posisi pasien,
melatih sendi-sendinya, dan membuat pasien bangun dan berjalan sesegera mungkin.
Cara untuk menghindari dekubitus:
1. Bantu pasien mengganti posisi setiap 1 - 2 jam
2. Pertahankan pasien mendapat nutrisi yang baik. Lihat bahwa pasien mendapat
kalori, protein, dan vitamin C yang cukup.
3. Pertahankan pasien tetap bersih. Bila kulit tidak bersih, bakteri akan terkumpul dan
membuat dekubitus terjadi lebih cepat.
4. Pertahankan kulit kering. Kelembapan karena urine dan keringat mempercepat
terjadinya dekubitus.
5. Pertahankan linen tempat tidur bersih dan bebas kusut. Ini akan mengurangi
gesekan, yang juga menimbulkan dekubitus.
6. Bila perlu, gunakan busa karet atau matras lembut. Ini akan mengurangi tekanan
pada bagian tulang tubuh seperti bagian belakang pelvis (sakrum).
Setiap kali perawat memberi perawatan pada pasien yang tirah baring atau
mengalami keterbatasan mobilitas, periksa bagian tulang tubuh apakah ada tanda
dekubitus, sehingga Anda dapat memulai tindakan. Tanda awal meliputi kulit merah atau
pucat atau bengkak setempat dan rasa kesemutan atau terbakar. Dorong pasien untuk
mengubah posisi sesering mungkin bila ada tanda ini, dan latih area tersebut untuk
merangsang sirkulasi darah.
Cara mengatasi dekubitus antara lain :
1. Bila terjadi dekubitus, harus dibersihkan dan dibalut dengan hati-hati. Dekubitus
dapat dibersihkan dengan larutan salin atau hidrogen peroksida, dan pemberian
salep. Bila luka ini tidak terinfeksi, harus ditutup dengan balutan yang menghambat
udara mengenai lukadan mempertahankan kelembapan tubuh. Biarkan balutan tetap
terpasang selama beberapa hari untuk mencegah infeksi dan meningkatkan
penyembuhan. Jika dekubitus ini telah terinfeksi, berikan salep atau larutan
17

antibiotik. Jika dekubitus mengalami keropeng atau krusta kering di atasnya, bagian
ini harus dilunakkan dengan larutan salin sebelum dapat dilepaskan. Bila bagian ini
melunak, lepaskan dengan menggunakan gunting dan pinset. Bersihkan luka dengan
larutan salin dan berikan salep.
2. Reposisi pasien sedikitnya setiap 2 jam untuk mempertahankan tidak ada tekanan
pada titik luka.
3. Jika dekubitus terjadi di pelvis pasien, pertahankan tempat tidur datar atau kepala
ditinggikan tidak lebih dari 30, untuk mencegah gesekan dan menambah tekanan
pada area pelvik.
M. Membantu Pasien Memenuhi Kebutuhan Tidur Dan Istirahat
Orang yang sedang sakit, sering membutuhkan istirahat dan tidur lebih banyak dari
pada saat mereka normal karena tubuh sedang bekerja keras menyediakan energi untuk
pemulihan. Sayangnya, banyak aspek penyakit juga membuat sulit dalam memenuhi
kebutuhan tidur dan istirahat. Seseorang yang sesak napas atau mengalami bendungan
paru sering mengalami kesulitan tidur. Pasien yang mengalami nyeri sering terbangun
karena nyeri tersebut. Pasien yang cemas juga akan sulit untuk tertidur. Berada di tempat
yang asing seperti rumah sakit menyebabkan sulit tidur. Rumah sakit cenderung bising
pada waktu pasien biasanya tenang. Untuk menyiapkan pasien tidur, yakinkan mereka
mendapat cukup selimut agar menjadi hangat dan pakaian mereka nyaman. Bantu
mereka ke kamar mandi untuk berkemih sebelum waktu tidur, sehingga mereka tidak
perlu bangun pada malam hari. Berikan medikasi nyeri 30 menit sebelum waktu tidur
sehingga nyeri tidak membangunkan mereka. Kecuali bila pasien mengalami nyeri hebat
sehingga harus mendapat medikasi selama malam hari untuk mengendalikan nyeri,
usahakan untuk menghindari pemberian medikasi tersebut lagi sampai pagi hari.
Memberi pasien masase punggung tepat sebelum mereka tidur akan selalu membantu.
Staf dan kerabat harus mempertahankan area pasien setenang mungkin. Percakapan staf
di dekat pasien harus diminimalkan. Cahaya di ruangan harus redup atau dimatikan.
Percakapan di kantor perawat harus dilakukan dengan sangat pelan. Hindari percakapan
keras atau kebisingan. Yakinkan bahwa semua radio dimatikan selama jam tidur.

18

N. Menjamin Keselamatan Pasien


Pasien di rumah sakit dapat dengan mudah jatuh karena mereka lemah dan rasa
perlindungan mereka mungkin tidak sebaik biasanya. Untuk mencegah jatuh, lantai di
ruang pasien, kamar mandi dan koridor harus dipertahankan bersih dan kering. Pasien
mungkin dengan mudah tergelincir di lantai basah. Beberapa pasien mungkin
membutuhkan pengikatan untuk mencegah mereka jatuh dari tempat tidur. Minta anggota
keluarga untuk mengawasi pasien dan mencegah mereka menyakiti diri sendiri. Beri tahu
mereka untuk mencari bantuan jika diperlukan. Kadang perawat perlu membatasi
gerakan pasien dengan pengikatan. Biasakan untuk menggunakan sedikit mungkin alat
restriktif. Berlakukan semua tindakan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran infeksi.
Pertahankan pasien bersih, pertahankan pakaian tidur bersih, pertahankan semua
permukaan bersih, pertahankan lantai bersih, dan pertahankan kamar mandi bersih.
Yakinkan udara bersirkulasi. Jangan membiarkan pakaian kotor basah atau linen berada
di ruangan pasien. Bantu keluarga untuk memahami pentingnya kebersihan dalam
mencegah infeksi.

19

BAB V
MELINDUNGI PASIEN DARI INFEKSI
Tanggung jawab penting perawat adalah mencegah penyebaran infeksi di rumah sakit.
Pasien dapat terinfeksi oleh kuman (mikroorganisme). Mikroorganisme dibawa oleh staf yang
tidak mencuci tangan mereka dengan baik atau yang seragamnya terkontaminasi, oleh debu
atau droplet udara yang membawa infeksi, oleh pengunjung yang membawa penyakit, oleh
pasien yang menderita penyakit tertentu, atau melalui material atau alat yang tidak steril.
Karena pasien telah sakit atau baru mengalami pembedahan, pasien sangat mudah terinfeksi.
Pencegahan penyebaran infeksi sangat penting di rumah sakit.
A. Mencegah Infeksi
Cara paling mudah untuk mencegah

penyebaran

infeksi adalah membunuh

mirkoorganisme ketika mereka ada di tangan, alat dan perabot, seperti, tempat
tidur pasien. Cara efektif untuk membunuh mirkoorganisme antara lain :
1. Antisepsis - membunuh atau menghentikan pertumbuhan mikro-organisme.
2. Dekontaminasi - membuat objek lebih aman untuk dipegang sebelum pembersihan.
3. Pembersihan - menghilangkan kotoran dan mikroorganisme dari kulit dan objek,
dengan menggunakan sabun dan air.
4. Disinfeksi kadar tinggi - membunuh kebanyakan mikroorganisme pada objek.
5. Sterilisasi - membunuh semua mikroorganisme pada objek, misalnya, peralatan
bedah.
Metode tambahan untuk mencegah infeksi meliputi:
1. Pakaian pelindung
2. Pembuangan yang aman limbah tubuh dan benda-benda terinfeksi, misalnya,
balutan.
Untuk mencegah penyebaran infeksi di rumah sakit, perawat dan pemberi perawatan
kesehatan yang lain mengikuti praktik medis dan asepsis bedah. Teknik bersih (asepsis
medis) mengurangi jumlah mikroorganisme yang ada dan mencegahnya masuk ke
pasien. Teknik pembedahan (asepsis bedah) mencakup mempertahankan objek dan area
yang bebas mikroorganisme untuk meyakinkan bahwa prosedur pembedahan steril.

20

B. Teknik Bersih
Untuk teknik bersih, ikuti pedoman berikut:
1. Bersihkan luka dari sisi luka bagian dalam ke arah luar. Ganti balutan atau balutan
yang kotor dan buang dengan benar.Gunakan salin normal untuk mencuci luka yang
bersih. Gunakan Betadine dan Chlorhexidine untuk membersihkan kulit. Gunakan
sabun dan air untuk mencuci luka kotor.
2. Cegah penyebaran mikroorganisme dalam droplet. Dorong pasien menutup mulut
mereka dengan menggunakan tisu atau sapu tangan bila batuk atau bersin.
3. Jangan pernah mengizinkan pasien menggunakan alat pribadi bersama orang lain.
Pertahankan tempat tidur bersih dan kering. Tidak boleh ada air dan botol terbuka di
atasnya.
4. Bersihkan dan desinfeksi objek kotor yang akan digunakan ulang.
5. Jangan membiarkan linen kotor dan artikel lain menyentuh seragam petugas.
6. Kosongkan pengisap dan botol drainase sebelum botol ini penuh.
7. Jangan menyebarkan debu dengan mengibaskan linen. Jangan menempatkan alat
atau bahan di lantai.
8. Gunakan sarung tangan bersih jika ada, ketika memegang cairan tubuh. Cuci tangan
setelah melepas sarung tangan.
9. Gunakan gown atau pakaian pelindung, jika ada, kapan pun petugas melakukan
prosedur kotor.
10. Ketika area pasien kotor, pertama bersihkan area yang paling tidak kotor. Bersihkan
area yang paling kotor terakhir.
11. Tuangkan cairan ke wastafel dekat kran sehingga tidak menimbulkan cipratan.
12. Tempatkan jarum dan spuit sekali pakai serta benda tajam lain dalam wadah tahan
tusuk untuk pembuangan.
13. Cuci tangan Anda dengan sering.
a. Cuci tangan sebelum dan setelah makan, menyiapkan makanan dan memberi
makan.
b. Cuci tangan setelah pergi kekamar mandi.
c. Cuci tangan setelah mengeluarkan ingus, batuk, atau bersin ke tangan Anda.
d. Cuci tangan sebelum dan setelah prosedur keperawatan khusus.
e. Cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan luka.
f. Cuci tangan setelah memegang linen kotor dan limbah.
g. Cuci tangan sebelum dan setelah memakai sarung tangan.
21

h. Cuci tangan setelah kontak dengan pasien.


i. Cuci tangan setelah memegang balutan terkontaminasiatau peralatan seperti
pispot.
C. Teknik Mencuci Tangan
Prinsip-prinsip berikut penting untuk pencucian tangan yang efektif:
1. Selalu melepas perhiasan sebelum mencuci tangan.
2. Menggunakan sabun dan air mengalir, jika ada.
3. Basahi tangan dan pergelangan, pertahankan tangan lebih rendah dari siku. Hal ini
memungkinkan air mengalir keujung jari tangan dan menghindari kontaminasi
lengan
4. Gosokkan dengan keras hingga berbusa dan gerakan melingkar selama 30 detik
untuk mencuci telapak, punggung tangan, jari, di antara jari, buku jari, pergelangan
dan lengan bawah.
5. Jika tangan terlihat kotor, gosok selama 1 - 4 menit.
6. Bersihkan bagian bawah kuku
7. Jika menggunakan sabun padat, setelah mencuci, bilas sabun dengan air.
8. Bila ada air mengalir, cuci tangan secara seksama. Jangan memasukkan tangan ke
dalam baskom untuk mencuci. Ini akan mengontaminasi tangan.
9. Keringkan tangan dengan cermat dengan handuk kering bersih atau keringkan
dengan udara.
10. Gunakan sudut handuk bersih untuk mematikan air jika kran dioperasikan dengan
tangan, bukan dioperasikan dengan kaki atau siku.
D. Perawatan Alat
Pembersihan juga perlu untuk objek yang digunakan pada perawatan pasien.
Sebelum mencuci alat bedah yang digunakan, jarum dan spuit yang dapat dipakai ulang,
dan sarung tangan harus didekontaminasi. Larutan pemutih klorin 0,5% paling baik
digunakan untuk dekontaminasi karena dengan cepat membunuh HIV/AIDS dan virus
hepatitis B. Namun, kekuatan larutan pemutih klorin 0,5% untuk membunuh
mikroorganisme cepat hilang. Siapkan larutan baru setiap hari. Ganti sesegera mungkin
bila tampak kotor. Larutan ini juga baik untuk membersihkan tetesan darah. Jika tidak
tersedia pemutih klorin, alkohol atau larutan fenolik juga dapat digunakan.

22

Ketika perawat mencuci objek kotor, pertama kali cuci dengan menggunakan air
dingin untuk melepaskan material organik seperti mukus dan darah. Kemudian cuci
objek dalam air bersabun yang panas. Gunakan sikat untuk membersihkan lekuk dan
sudut yang sulit dicapai. Kemudian, bilas sabun dan keringkan.
Untuk mendesinfeksi objek, gunakan preparat kimia (desinfektan), seperti
fenolatau senyawa iodin.
Sterilisasi, atau destruksi semua mikroorganisme, dapat dilakukan dengan
pemanasan (autoklaf atau pressure cooker), atau air mendidih. Pemasakan dalam air
mendidih adalah cara sterilisasi yang paling praktis dan tidak mahal.
E. Teknik Steril
Teknik steril (asepsis bedah) digunakan dalam ruang operasi dan ruang bersalin.
Perawat juga harus menggunakan teknik steril pada tempat tidur pasien untuk prosedur
invasif, seperti:
1. Memasukkan jarum intravena
2. Mengisap jalan napas pasien
3. Memasukkan kateter urinarius
4. Mengganti balutan luka
Daerah steril biasanya dibatasi dengan duk steril atau lapisan tebal kertas berlilin
atau kemasan terbuka tempat bahan-bahan steril dikemas. Daerah steril ditempatkan di
atas permukaan bersih, dingin, halus, kering seperti troli. (Troli yang digunakan untuk
teknik aseptik tidak boleh digunakan untuk tujuan lain). Teknik steril digunakan untuk
menghentikan pertumbuhan mikroorganisme kedalam tubuh dan untuk mencegah
penyebaran infeksi.
F. Kewaspadaan Universal
Kewaspadaan universal dianjurkan untuk darah dan semua cairan tubuh serta ekskresi.
Kewaspadaan ini untuk mencegah penyebaran patogen melalui darah. Patogen ini
meliputi virus hepatitis B, hepatitis C, dan Human Immunodeciency Virus (HIV).
Terapkan kewaspadaan universal pada semua pasien
1. Kewaspadaan universal yang paling penting adalah mencuci tangan.
2. Hati-hati terhadap objek tajam. Gunakan satu tangan untuk menutup jarum bersih.
Tempatkan tutup pada permukaan datar dan selipkan jarum ke dalamnya. Jangan
menutup ulang jarum yang akan dibuang. Jangan melepaskan jarum yang digunakan
23

dari spuit sekali pakai dengan tangan. Jangan menekuk, memotong atau bahkan
melepaskan jarum yang telah digunakan dengan tangan.
3. Untuk mencegah cedera tusukan jarum, tempatkan spuit sekali pakai yang
digunakan dan jarum, pisau bedah dan benda tajam lain dalam wadah tahan tusukan.
4. Hati-hati untuk menghindari cedera ketika menggunakan jarum, pisau bedah dan alat
tajam lain, membersihkan alat yang telah dipakai dan membuang jarum dan alat
tajam yang telah digunakan.
5. Gunakan sarung tangan ketika ada kontak dengan darah atau cairan tubuh lain yang
mengandung darah. Gunakan gown jika ada kemungkinan bahwa droplet darah atau
cairan tubuh akan terciprat. Gunakan masker dan kacamata pelindung ketika droplet
darah atau cairan tubuh lain dapat terciprat ke mata, hidung atau mulut. Gunakan
mouth piece atau kantung resusitasi ketika memberikan resusitasi.
6. Pegang linen kotor sesedikit mungkin. Tempatkan linen yang kotor dengan darah
atau cairan tubuh dalam kantung tahan bocor.
7. Gunakan desinfektan untuk mendekontaminasi permukaan kerja ketika ada tetesan
darah atau cairan tubuh lain.
G. Teknik Isolasi
Tujuan isolasi adalah untuk melindungi pasien lain di rumah sakit, pengunjung dan
staf, sambil juga memberikan perawatan yang tepat pada pasien terinfeksi. Idealnya,
tempatkan pasien yang menularkan penyakit, dalam kamar terpisah dengan pintu
tertutup. Siapa pun yang masuk ruangan tersebut harus menggunakan gown, masker dan
sarung tangan. Tempatkan tanda pada pintu untuk menginformasikan siapa pun yang
masuk bahwa pasien ini diisolasi. Jangan menghindari pasien yang diisolasi. Simpan
segala sesuatu yang diperlukan pasien dalam ruangan untuk mencegah masuk atau keluar
ruangan yang tidak diperlukan.
Alat makan yang digunakan pasien harus dicuci secara terpisah. Pasien harus
mempunyai toilet terpisah atau pispot atau urinal terpisah. Cuci alat ini secara terpisah.
Tempatkan benda-benda terkontaminasi dari ruangan pasien dalam wadah atau kantung
berlapis plastik. Beri label sebagai barang infeksius.
Pendidikan Pasien
Dengan cermat jelaskan pada pasien dan keluarga mengapa pembatasan
diperlukan. Yakinkan bahwa seseorang tidak merasa secara emosional terisolasi atau
dipandang sebagai seseorang yang buruk.
24

H. Merawat Pasien Dengan Penyakit Menular


1. Pasien Tuberkulosis
Pasien tuberkulosis paru (TB) harus ditempatkan di ruangan pribadi atau bangsal
terpisah atau bangsal yang jauh dari pasien lain. Pasien yang positif HIV tidak boleh
kontak dengan pasien TB karena mereka rentan secara khusus terhadap infeksi TB.
Ruangan pasien TB harus mendapat ventilasi yang baik. Pintu ke arah koridor harus
ditutup dan jendela ke luar terbuka. Ini akan mengurangi kesempatan infeksi melalui
udara. Pasien TB dan pasien yang dicurigai mengalami TB harus menggunakan
masker ketika berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Cara terbaik untuk mencegah penyebaran TB adalah dengan diagnosis cepat dan
pengobatan terhadap kasus infeksius. Semua pasien tuberkulosis harus menjalani
kemoterapi program singkat untuk penyakit tersebut. Pasien infeksius biasanya
menjadi tidak infeksius dalam kira-kira 2-4 minggu.
Bayi harus dipisahkan dari ibu yang infeksius selama 2-4 minggu, setelah itu ia tidak
akan menular lagi.
Ajarkan pasien dan keluarga bahwa TB dapat disembuhkan selama pasien meminum
obat seluruhnya dengan teratur. Program pengobatan biasanya berakhir 6-9 bulan.
Untuk menjamin bahwa pasien mengonsumsi medikasi mereka dengan teratur,
pengawasan langsung oleh petugas kesehatan diperlukan selama sedikitnya 2 bulan
pertama pengobatan.
Jelaskan kepada pasien bahwa bila mereka berhenti minum obat, mereka berisiko
mengalami resistansi terhadap obat TB. Mereka juga akan menjadi infeksius
kembali.
2. Pasien lepra
Terapi untuk pasien ini umumnya rawat jalan. Dalam satu minggu dimulainya
standar terapi obat multipel, pasien lepra tidak menular. Tidak ada kewaspadaan
yang perlu dilakukan untuk melindungi pasien atau staf lain. Juga tidak terdapat
risiko terhadap bayi dari ibu yang mengidap lepra. Anak-anak yang mendapat vaksin
BCG untuk tuberkulosis juga terlindungi terhadap lepra.
3. Pasien yang menderita Human Immunodeciency Virus (HIV) dan Acquired
Immune Deciency Syndrome (AIDS)
HIV yang merupakan virus penyebab sindrom desiensi imun didapat atau AIDS,
dapat ditularkan melalui :
a. Koitus vagina atau anal yang tidak terlindungi
25

b. Adanya kontak dengan darah, semen, atau cairan vaginatanpa perlindungan


c. Transfusi darah atau produk darah dari donor
d. Dari ibu ke bayi selama kehamilan atau persalinan atau melalui air susu ibu.
Virus AIDS sangat berbahaya, tetapi juga sangat rapuh dan cepat mati. AIDS tidak
disebarkan melalui kontak biasa atau dengan batuk, bersin, atau sentuhan, dengan
menggunakan alat makan bersama atau melalui makanan atau air. Cara paling umum
penyebaran infeksi ini adalah melalui hubungan seksual. Individu yang terinfeksi
virus ini mungkin tidak mengalami gejala penyakit selama beberapa tahun tetapi
dapat menginfeksi orang lain.Kebanyakan orang dengan HIV akhirnya akan
mengalami sindrom desiensi imun didapat atau AIDS. Gejala ini meliputi:
a. Imunitas sangat menurun terhadap penyakit lain
b. Berkeringat malam terus menerus tanpa sebab yang jelas
c. Keletihan
d. Penurunan berat badan
e. Pembesaran kelenjar limfa
f. Diare persisten
g. Ruam kulit atau lesi kulit biru keunguan
h. Lapisan putih keabuan yang tebal pada lidah, membran mukosa atau tenggorok
i. Batuk kronis dan infeksi paru atau bagian tubuh lain yang berulang
j. Infeksi oportunistik, ini adalah infeksi dari mikroorganisme yang umum
ditemukan di tubuh tetapi tidak menyebabkan masalah bila sistem imun
berfungsi dengan benar.
Perawatan pasien AIDS memerlukan kewaspadaan universal, seperti pasien dengan
patogen melalui darah lainnya. Darah merupakan rute paling mungkin untuk
penularan virus ini di rumah sakit. Hal ini terjadi melalui cedera tusukan jarum atau
melalui cedera dengan alat tajam lain yang terkontaminasi dengan darah orang
terinfeksi. Virus ini tidak menembus kulit utuh. Virus ini dapat masuk jika luka
terbuka terpajan darah yang terinfeksi atau cairan tubuh lain. Virus ini juga dapat
masuk melalui cipratan darah terinfeksi ke dalam membran mukosa. Untuk
mencegah penularan virus ini, secara khusus berhati-hati dengan jarum sekali pakai
dan alat tajam lainnya.
Banyak orang dapat hidup lebih lama dengan penyakit tersebut. Penting untuk
mengajarkan pada pasien AIDS dan keluarga mereka untuk merawat pasien. Nutrisi
yang baik dan istirahat serta tidur yang cukup sangatlah penting. Latihan sik baik
26

untuk pasien. Namun, pasien harus menghindari pemajanan terhadap infeksi lain
yang tidak perlu. Mereka harus mencuci tangan mereka dengan sabun dan air setelah
mengganti seprai yang kotor atau setelah kontak dengan cairan tubuh. Jika pakaian
atau seprai kotor oleh darah atau diare, pisahkan dari cucian lain.
Bila anggota keluarga mempunyai luka terbuka,l uka ini harus ditutup, dan orang
lain harus mencuci pakaian dan linen pasien. Jangan menggunakan bersama sikat
gigi, pencukur, atau jarum.
4. Pasien dengan penyakit infeksi
Pasien hepatitis A, demam tifoid, kolera dan ensefalitis perlu dipisahkan dari
ruangan hanya jika mereka tidak dapat mengontrol urine mereka (mengalami
inkontinensia). Pasien meningitis perlu diisolasi selama 24 jam pertama. Gunakan
gown atau pakaian pelindung. Gunakan sarung tangan bila menyentuh materi
terinfeksi. Cucilah tangan setelah melakukan kontak dengan pasien.

27

BAB VI
PEMBERIAN OBAT YANG AMAN
Menyiapkan dan memberikan obat yang diprogramkan dokter dengan aman merupakan
tanggung jawab perawat. Bila tidak diberikan dengan tepat, obat dapat membahayakan atau
bahkan fatal. Sebelum memberikan medikasi apapun perawat perlu mengetahui hal-hal
berikut :
1. Dosis obat yang aman untuk diberikan
2. Dosis obat yang telah diresepkan untuk pasien
3. Metode pemberian
4. Kerja obat dan efek yang diharapkan
5. Kemungkinan efek samping (efek yang tidak diinginkan)
Juga penting untuk mengetahui apakah pasien alergi terhadap suatu obat. Tanyakan
pada pasien tentang adanya reaksi buruk yang mereka alami setelah minum obat pada masa
lalu. Ketika memberikan medikasi, perawat perlu menyadari tentang interaksi yang mungkin
antara obat yang berbeda pada pasien. Interaksi obat kadang dapat membahayakan pasien.
Melindungi pasien dari bahaya adalah tanggung jawab perawat.
A. Prinsip 5 Benar Pemberian Obat
1. Dosis Yang Benar
a. Obat cair
Kadang obat cair diberikan dalam vial atau ampul. Vial adalah botol plastik atau
kaca yang mengandung satu atau lebih dosis obat. Ampul adalah wadah kaca
atau plastik steril kecil yang mengandung satu dosis obat. Biasanya wadah ini
mempunyai leher kecil dengan tanda berwarna untuk menunjukkan di mana
leher dapat dengan mudah dipatahkan dan obat diambil.
b. Pil atau kapsul
Bila obat berbentuk pil atau kapsul, perhatikan pada wadah untuk melihat
seberapa banyak obat pada setiap pil. Bila obat tidak dikemas secara terpisah
dalam jumlah yang diperlukan, hitung jumlah penggunaannya. Jumlah pil yang
benar adalah dosis yang diinginkan dibagi dengan jumlah obat dalam setiap pil.
Dosis orang dewasa dari kebanyakan obat adalah standar, tetapi dosis anak tidak
standar. Dosis anak normalnya berdasarkan berat badannya dalam kilogram.

28

2. Rute Yang Benar


Terdapat banyak rute untuk pemberian obat:
a. Melalui mulut (per oral), dalam bentuk pil, kapsul, atau cair
b. Melalui injeksi (parenteral), ke dalam jaringan tubuh dengan jarum dan spuit
c. Di area tertentu (secara topikal), diberikan pada kulit atau membran mukosa
d. Dalam mata atau telinga
e. Ke dalam rektum (per rektal), dalam bentuk supositoria atau dengan
memasukkan beberapa cairan
3. Obat Yang Benar
Pedoman untuk memberikan medikasi antara lain yaitu :
a. Periksa kartu medikasi pasien atau catatan dengan program dokter. Yakinkan
bahwa apa yang ada dalam kartu adalah apa yang diprogramkan dokter.
b. Bandingkan label pada botol obat atau label kemasan dengan kartu atau catatan
medikasi pasien. Yakinkan bahwa obat yang dipegang benar.
c. Setelah menyiapkan obat, periksa ulang label sebelum membawa obat ke dalam
ruangan pasien.
4. Pasien Yang Benar
Yakinkan bahwa perawat memberikan obat yang benar pada pasien yang benar.
Banyak pasien mempunyai nama belakang yang sama. Karenanya perawat harus :
a. Memeriksa kartu/catatan medikasi, dicocokan dengan nama di tempat tidur atau
identikasi pasien lain
b. Minta pasien menyebutkan namanya.
5. Waktu yang tepat
Banyak obat diprogramkan untuk waktu tertentu dalam satu hari. Insulin, sebagai
contoh, normalnya diberikan sebelum makan. Antibiotik biasanya diprogramkan
setiap 6, 8, atau 12 jam, sepanjang siang dan malam hari (selama 24 jam), bukan
hanya selama jam terjaga. Obat ini harus diberikan selama waktu 24 jam untuk
mempertahankan kadar obat cukup tinggi dalam tubuh pasien. Diuretik biasanya
diberikan pada pagi hari bukan malam hari, sehingga tidur pasien tidak terganggu
karena sering berkemih.
B. Pemberian Obat Oral
Cara termudah, teraman, dan ternyaman untuk memberikan obat adalah melalui
mulut. Bila perawat mengetahui bahwa sulit bagi pasien untuk menelan, maka perawat
29

dapat menggerus tablet menjadi puyer. Kemudian campur puyer dengan makanan lunak
yang dapat ditelan pasien. Tidak semua obat dapat digerus. Misalnya, obat dengan
lapisan pelindung atau bentuk reaksi lambat tidak boleh digerus.
Tulis obat yang telah diminum pasien. Tuliskan nama obat, dosis, metode
pemberian, waktu pemberian dan setiap informasi penting pasien seperti frekuensi nadi
Obat oral untuk anak
Banyak obat diberikan pada anak dalam bentuk tetes, spuit atau cangkir. Penting untuk
mengukur obat dalam jumlah sedikit dengan akurat. Untuk volume kurang dari 1 ml,
gunakan spuit tuberkulin atau spuit lain, tanpa jarum terpasang. Anda dapat memasukkan
obat langsung ke dalam mulut anak dari spuit, atau meneteskannya dari cangkir kecil.
Anak kecil dan beberapa anak yang lebih besar mengalami kesulitan menelan pil. Jika
preparat cair tidak tersedia, gerus tablet dan campurkan dengan makanan lunak. Berikan
obat pada anak sambil mereka duduk, sehingga mereka tidak tersedak.
C. Menginjeksikan Obat
Obat dapat diinjeksikan (diberikan secara parenteral) ke dalam kulit, di bawah
kulit, ke dalam otot, atau ke dalam vena. Obat yang diberikan dengan salah satu cara
tersebut diserap lebih cepat daripada obat yang diminum. Karenanya secara khusus
penting untuk meyakinkan bahwa perawat memberikan obat yang benar pada orang yang
benar dalam jumlah yang benar.
Untuk memberikan obat secara parenteral, perawat menggunakan vial atau ampul,
spuit dan jarum. Spuit mempunyai tiga bagian yaitu ujung yang berhubungan dengan
jarum, bagian luar atau barrel, di mana skala tercetak, biasanya dalam mililiter, untuk
menunjukkan volume dalam spuit dan plunger , yang pas dengan bagian dalam barrel
dan digunakan untuk mendorong obat ke dalam jarum.
Untuk injeksi di bawah kulit, gunakan jarum yang pendek dengan diameter kecil
dan bevel yang panjang.Untuk injeksi ke dalam otot, gunakan jarum yang lebih panjang
dengan dimeter yang lebih besar dan bevel yang panjang. Gunakan bevel yang pendek
untuk injeksi ke dalam kulit atau ke dalam vena. Anak-anak dan dewasa yang berukuran
kecil biasanya membutuhkan jarum yang lebih pendek. Kaji pasien untuk memutuskan
ukuran yang tepat. Semua jarum yang dikemas disertai dengan tutup.

30

D. Injeksi Ke Dalam Kulit


Injeksi intradermal diberikan dalam lapisan dermal kulit, tepat di bawah lapisan
atas, yang disebut epidermis. Injeksi intradermal digunakan untuk tes alergi, tes
tuberkulin, dan banyak imunisasi. Tempat paling umum untuk tipe injeksi ini adalah
lengan bawah. Tempat lain meliputi dada atas dan punggung di bawah belikat bahu.
Vaksinasi BCG juga diberikan secara intradermal. Tempat paling umum adalah lengan
atas, lengan bawah dan bokong atau paha atas. Untuk memberikan injeksi BCG atau
injeksi intradermal lain:
1. Cuci tangan sebelum memulai.
2. Periksa nama pasien.
3. Beri tahu pasien bahwa injeksi akan menyebabkan benjolan kecil, seperti digigit
nyamuk atau lepuh kecil, tetapi akan cepat hilang. Pilih salah satu tempat yang tidak
ada perubahan warna atau ruam atau kerusakan kulit. Bersihkan tempat tersebut
dengan alkohol yang Anda punya, atau agens pembersih lain, dengan menggunakan
gerakan melingkar.
4. Tarik kulit pasien mendatar. Pegang spuit dengan sudut kira-kira 15, dan masukkan
jarum melalui epidermis ke dalam dermis.
5. Injeksikan cairan dengan perlahan sampai tampak benjolan. Hal ini menunjukkan
bahwa cairan berada dalam dermis.
6. Tarik jarum dengan cepat dan usap perlahan tempat tersebut dengan kapas alkohol
atau antiseptik.
E. Injeksi Di Bawah Kulit
Injeksi subkutan masuk kedalam jaringan lemak tepat di bawah kulit. Banyak obat
diinjeksikan secara subkutan, termasuk vaksin, obat praoperasi, narkotik, insulin dan
heparin. Tempat paling umum untuk injeksi subkutan adalah bagian belakang lengan atas
dan bagian depan paha, punggung atas dan bantalan lemak pada abdomen.
1. Cuci tangan
2. Sebelum memberikan obat, periksa nama pasien.
3. Ambil obat dengan spuit
4. Buang gelembung udara yang ada dalam spuit dengan mengetuk spuit tegak lurus
dan dengan perlahan dorong plunger sampai terlihat tetesan larutan dalam bevel atau
ujung jarum.
31

5. Cubit kulit pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan untuk meninggikan
jaringan sub-kutan dan membentuk lipatan lemak.
6. Dengan tangan kanan Anda, tempatkan jarum pada sudut 45atau 90 dan tarik
plunger dengan perlahan
7. Jika tidak ada darah masuk ke dalam spuit, berikan injeksi dengan perlahan dan
dengan mantap dorong plunger
8. Dengan cepat tarik jarum keluar dan tekan kulit tersebut.
9. Biasanya tidak ada perdarahan dari injeksi subkutan, namun bila ada tekan dengan
perlahan sampai berhenti.
F. Injeksi Ke Dalam Otot
Injeksi intramuskular (yaitu, injeksi ke dalam otot) diabsorpsi lebih cepat daripada
injeksi subkutan. Injeksi obat dalam jumlah besar (sampai 1-2 ml untuk anak dan 3 ml
untuk dewasa) dapat diberikan dengan cara ini karena otot dapat menyerap lebih banyak
cairan daripada jaringan lemak. Tempat yang disukai untuk injeksi intramuskular adalah
dorsogluteal di otot gluteus mediusdi posterior panggul, atau ventrogluteal di otot gluteus
mediusdi lateral panggul.
1. Sisi ventrogluteal
Injeksi ventrogluteal lebih mudah untuk dikenali dan aman digunakan. Tempat ini
menghindari saraf mayor dan pembuluh darah.
2. Sisi dorsogluteal
Bila menggunakan sisi dorsogluteal, perawat harus hati-hati untuk menghindari
saraf skiatik, karena injeksi tak disengaja pada saraf ini dapat menyebabkan paralisis
permanen atau parsial pada kaki
3. Otot deltoid
Otot lengan atas, otot deltoid, dapat juga digunakan untuk anak besar atau dewasa.
Namun, ingat bahwa perawat tidak dapat menginjeksikan cairan ke dalam lengan
sebanyak cairan yang dimasukkan ke dalam otot panggul.
G. Terapi Intravena (Drip)
Terapi intravena adalah menempatkan cairan steril melalui jarum langsung ke vena
pasien. Biasanya cairan steril mengandung elektrolit (natrium, kalsium, kalium), nutrien
(biasanya glukosa), vitamin atau obat. Terapi intravena (IV) digunakan untuk
32

memberikan cairan ketika pasien tidak dapat menelan, tidak sadar, dehidrasi atau syok,
untuk memberikan garam yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan
elektrolit, atau glukosa yang diperlukan untuk metabolisme, atau untuk memberikan
medikasi

33

BAB VII
MERAWAT ANAK DI RUMAH SAKIT
Ketika anak datang ke rumah sakit, mereka sering mengalami sakit atau cedera yang
serius. Mereka mempunyai masalah yang mengancam hidup. Setiap jam tanpa tindakan
menyebabkan mereka semakin dekat dengan kematian. Penting bagi perawat untuk
mengidentikasi anak-anak ini dan memberi mereka tindakan prioritas.
Gunakan tanda ABCD untuk menemukan anak mana yang memerlukan tindakan
segera, yaitu :
Airway (jalan napas)
Breathing (pernapasan)
Circulation (sirkulasi)
Neurological Danger signs (tanda bahayaneurologis)
A. Merawat Anak Yang Menderita Diare Dan Dehidrasi Berat
Perawat harus mengetahui bagaimana mengkaji derajat dehidrasi pada bayi atau
anak dengan cepat dan untuk memulai penanganan yang benar.
1. Tanda dehidrasi
a. kondisi umum gelisah atau mudah terangsang
b. haus
c. mata cekung
d. mulut dan lidah kering
e. nadi cepat
f. elastisitas (turgor) kulit buruk. Ketika kulit dicubit, lipatan kulit tetap dalam
keadaan tersebut selama beberapa detik bukan cepat kembali seperti semula.
g. pernapasan sangat cepat dan sangat dalam.
2. Pengobatan
a. Anak yang mengalami dehidrasi berat harus cepat diberi cairan intravena
(laktat Ringer, larutan Hartman atau jika tidak ada salin normal). Jika anak
dapat minum, ia juga harus diberi larutan garam rehidrasi oral (ORALIT)
sementara tetesan infus disiapkan. Jika anak tidak dapat minum, berikan
larutan ORALIT sesegera mungkin saat ia dapat minum tanpa kesulitan.
b. Ketika anak membaik dan dapat minum, berikan larutan ORALIT. Tanda
perbaikan

mencakup

berkemih,
34

perbaikan

kesadaran,

dan

frekuensi

pernapasan dan nadi lebih normal (kecuali anak mengalami infeksi atau gagal
jantung atau hidrasi berlebihan).
3. Pemberian makan anak dehidrasi
Bila anak tersebut adalah bayi muda, ibu harus memberikan ASI atau bayi dapat
diberi yogurt. Bayi yang lebih besar dan anak harus diberi makan enam kali sehari
segera setelah mereka dapat makan
Anak yang telah mengalami diare selama 14 hari atau lebih mungkin mengalami
infeksi serius. Penting untuk mendiagnosis infeksi dan mengatasinya dengan antibiotik.
Juga penting untuk memberi:
1. Cairan yang benar untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi
2. Diet nutrisi yang tidak menyebabkan diare memburuk
3. Vitamin suplemen dan mineral karena banyak anak yang mengalami diare malnutrisi
B. Merawat Anak Yang Menderita Malnutrisi Berat
Anak malnutrisi berat mengalami pelisutan (marasmus) dan/atau wajah bengkak,
tangan dan kaki (kwashiorkor). Pengobatannya sama untuk kedua tipe malnutrisi ini.
1. Pertama mencegah atau mengatasi gula darah rendah dan suhu tubuh rendah
(hipotermia)
a. Tes gula darah dengan strip tes glukosa. Jika dipastikan gula darah rendah,
berikan 50 ml larutan glukosa 10% atau air gula.Untuk membuat air gula
larutkan 5 gram (1 sendok teh penuh) gula dalam 50 ml (3 sendok makan) air.
Bila Anda tidak da-pat melakukan tes ini, asumsikan bahwa semua anak
malnutrisimemiliki gula darah rendah dan berikan mereka air gula.
b. Periksa suhu anak. Jika di bawah 35C suhu aksila atau 35,5C suhu rektal,
mulai rehidrasi, jika diperlukan dan beri makan anak. Tempatkan anak pada
dada ibu dan tutupi keduanya.
c. Periksa suhu anak setiap dua jam sampai meningkat suhunya di atas 36,5C.
Pertahankan anak terselimuti sepanjang waktu. Beri makan anak setiap 2 jam.
2. Mengoreksi ketidak seimbangan elektrolit anak
Semua anak malnutrisi memiliki terlalu banyak natrium (garam) dan terlalu sedikit
kalium

dan

magnesium.

Pembengkakan

(edema)

sebagian

akibat

dari

ketidakseimbangan ini. Berikan anak ekstra kalium dan magnesium dengan


memberianak larutan ORALIT yang dimodikasi, yang mencakup ekstra kalium dan
35

elektrolit lain. Siapkan makanan anak tanpa garam, dan berikan makanan tinggi
kalium seperti wortel dan pisang. Haluskan makanan sehingga lunak dan mudah
bagi anak untuk memakannya. Berikan air kelapa jika ada. Air kelapa adalah cairan
yang sangat baik untuk pasien dengan diare dan dehidrasi. Air ini aman untuk
diminum dan kaya vitamin dan mineral.
3. Mengobati infeksi
Jika anak menderita malnutrisi berat, tanda umum infeksi mungkin terlewatkan.
Karenanya, semua anak malnutrisi harus diatasi dengan antibiotik spektrum luas
atau antibiotik untuk infeksi khusus, seperti shigellosis. Juga mencegah penyakit
berat lain dengan memberi vaksin campak pada anak yang tidak diimunisasi.
4. Mengoreksi desiensi vitamin dan mineral
Anak dengan malnutrisi berat mengalami desiensi vitamin dan mineral. Beri anak
suplemen multivitamin untuk memperbaiki desiensi ini dan larutan ORALIT.
Berikan zat besi hanya bila anak telah mulai meningkat berat badannya. Jika anak
tidak mendapat vitamin A dalam sebulan terakhir, berikan vitamin tersebut.
5. Memberi makan anak dengan kewaspadaan
Beri makan pada anak sedikit dan sering. Anak harus mendapat 100 kalori/ kg (kkal)
berat badannya setiap hari dan 1 - 1,5 g protein untuk setiap kg berat badan setiap
hari. Jika anak menyusu, dorong untuk melanjutkan menyusu pada ibu.
6. Memberi stimulasi dan perawatan penuh kasih
Anak yang menderita malnutrisi berat akan lambat perkembangannya. Perawat dapat
membantu mengatasi keterlambatan ini dengan memberikan perawatan yang lembut,
penuh kasih, dan aktivitas bermain secepat mungkin anak cukup baik keadaannya,
dan dengan memberikan lingkungan yang ceria dan merangsang.
Beri tahu ibu bahwa ketika anak kembali ke rumah, ia perlu memperbaiki
perkembangannya melalui bermain dan memberi makanan sehat beberapa kali
sehari. Anak lebih dari enam bulan harus diberi makan sedikitnya lima kali sehari.
Beritahu ibu bahwa makanan yang baik yang diperlukan meliputi sereal dan umbiumbian, kacang-kacangan, makanan hewani seperti telur, susu, ikan atau daging,
sejumlah kecil lemak untuk memberi kalori tambahan, dan buah serta sayuran.

36

C. Merawat Anak Yang Menderita Meningitis Atau Malaria


1. Bila anak demam, cari sumber infeksi. Anak mungkin mengalami infeksi
telinga,infeksi saluran kemih, abses, dll. Bila anak mengalami ruam, ini dapat
menunjukkan demam dengue, penyakit meningokokus atau campak.
2. Cari tanda meningitis, seperti kaku leher dan mudah terangsang. Pada bayi tanda ini
juga mencakup menangis dengan nada tinggi, mengisap ASI buruk dan fontanel
menegang atau menonjol, yang merupakan bagian lunak di kepala. Konvulsi dapat
menyembunyikan tanda-tanda meningitis.
3. Bila Anda melihat tanda meningitis, siapkan untuk mulai tindakan intravena atau
antibiotik intramuskular. Jangan menunggu hasil laboratorium. Dengan cermat
perhatikan asupan cairan anak dan haluran urine. Kelebihan beban cairan pada anak
dapat mengakibatkan pembengkakan otak makin buruk.
4. Pada area dengan insidensi malaria umum terjadi, semua anak yang dihospitalisasi
harus dilakukan pembiakan darah untuk memeriksa parasit malaria. Seperti pada
malaria, anak mungkin juga mengalami anemia berat, gula darah rendah, pernapasan
dalam dan cepat (asidosis), ikterik, urine berwarna darah atau gagal ginjal. Anak
dengan salah satu dari komplikasi ini adalah sangat sakit. Mereka harus diatasi
dengan quinin intravena atau intramuskular dan dipantau. Periksa anak apakah ada
demam dan dehidrasi serta haluaran urine. Perhatikan tanda anemia.
D. Merawat Anak Yang Menderita Infeksi Pernapasan Akut
Tanda umum infeksi saluran pernapasan adalah batuk, sulit bernapas, sakit
tenggorok, hidung tersumbat dan masalah telinga. Demam juga umum terjadi. Semua
anak dengan batuk atau kesulitan bernapas harus diperiksa untuk mengetahui adanya
pneumonia.
1. Pneumonia
Dengan cermat perhatikan penampilan umum anak, usaha untuk bernapas dan
gerakan dada. Hitung frekuensi pernapasan anak selama 1 menit penuh. Perhatikan
gerakan pernapasan dimana pun pada dada atau abdomen anak. Anak yang tepat
berusia 12 bulan akan mempunyai pernapasan cepat bila ia bernapas 40 kali atau
lebih per menit.

37

2. Bukan pneumonia
Anak yang tidak mengalami chest indrawing dan tidak mengalami pernapasan cepat
diklasikasikan sebagai bukan pneumonia. Anak ini tidak perlu diberi antibiotik
kecuali ia mengalami infeksi telinga.
3. Pneumonia (tidak berat)
Anak dengan pernapasan cepat dan tidak ada chest indrawing diklasikasikan
sebagai menderita pneumonia (tidak berat). Anak harus diberi antibiotik dan
perawatan di rumah.
4. Pneumonia berat
Jika anak mengalami chest indrawing tetapi tidak sianosis dan dapat minum, anak
ini diklasikasikan menderita pneumonia berat. Anak ini harus tetap di rumah sakit
dan harus diberi antibiotik.
5. Penyakit sangat berat
Jika anak mengalami tanda bahaya berikut, ia mengalami penyakit sangat berat :
a. Sianosis
b. Ketidakmampuan untuk minum
c. Mengantuk abnormal atau kesulitan bangun
d. Stridor pada anak tenang
e. Malnutrisi berat
f. Konvulsi.
Anak dapat juga menunjukkan chest indrawing atau tarikan dinding dada kedalam.
Anak yang diklasikasi menderita penyakit sangat berat harus mendapat pengobatan
urgen oleh dokter ahli. Bila anak sianosis, atau frekuensi pernapasan di atas 70
kali/menit, atau gawat pernapasan, berikan osigen pada frekuensi 1-2 liter per menit.
E. Mengimunisasi Anak
Ketika anak datang ke rumah sakit, selalu tanyakan ibu mereka apakah anak telah
diimunisasi terhadap tuberkulosis, difteria, batuk rejan, tetanus, poliomielitis dan
campak. Bila anak belum mendapat semua imunisasi ini, berikan pada anak sebelum
mereka dipulangkan. Bila ibu belum diimunisasi, beri ibu vaksin tetanus.

38

BAB VIII
MERAWAT PASIEN MATERNITAS
A. Memeriksa Kondisi Risiko Dalam Kehamilan
Perhatikan pada kartu antenatal. Bicara pada pasien apakah ia mengalami kondisi risiko
seperti di bawah ini:
1. Usia sangat muda atau lebih dari 35 tahun
2. Tinggi badan sangat pendek
3. Kurang dari 2 tahun sejak kelahiran anak terakhir
4. Lebih dari 4 kali kehamilan sebelumnya
5. Sebelumnya mengalami kesulitan pelahiran
6. Sebelumnya melahirkan dengan seksio sesaria
7. Bayi lahir meninggal (stillbirh) atau keguguran di masa lalu
8. Bayi prematur atau sangat kecil di masa lalu
9. Perdarahan selama kehamilan lalu atau perdarahan selama kehamilan yang sekarang
10. Tekanan darah tinggi saat ini atau selama kehamilan sebelumnya
11. Kehamilan kembar saat ini atau sebelumnya
12. Abdomen lebih besar dari normal untuk usia kehamilan
13. Ibu mengalami masalah medis, seperti anemia berat, tuberkulosis, penyakit jantung,
diabetes, malaria, penyakit hati, penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, atau penyakit
menular seksual
14. Ibu malnutrisi
B. Tanda Bahaya Selama Kehamilan
Suatu tanda bahaya berarti bahwa wanita tersebut dapat mengalami masalah serius.
Wanita ini perlu perawatan segera dari bidan atau dokter. Tanda bahaya yang paling
sering selama kehamilan adalah:
1. Perdarahan dari vagina
2. Sakit kepala hebat, pusing dan penglihatan kabur
3. Wajah, tangan, dan kaki membengkak
4. Demam
5. Warna kulit tidak normal (pucat)
6. Nyeri abdomen atau nyeri tekan.

39

C. Tiga Kala Persalinan


Terdapat tiga kala persalinan:
1. Kala satu persalinan adalah ketika kontraksi menimbulkan nyeri dan teratur,
mendorong bayi turun dan membuka serviks.
2. Kala dua persalinan adalah ketika serviks terbuka penuh (dilatasi) dan bayi keluar.
Kala dua berakhir ketika bayi lahir.
3. Kala tiga persalinan adalah waktu setelah bayi dilahirkan ketika plasenta terpisah
dari uterus dan keluar. Kala tiga berakhir ketika plasenta keluar.
D. Memutuskan Apakah Persalinan Normal Atau Ada Tanda Risiko
Ketika wanita bersalin datang ke rumah sakit, pertama putuskan apakah ia dalam
persalinan normal atau ia mempunyai tanda-tanda risiko.
1. Tanda persalinan normal (kala satu persalinan)
a. Kontraksi makin lama, lebih kuat dan saling berdekatan.
b. Bayi mulai keluar setelah 12 jam persalinan atau kurang untuk wanita yang
pernah melahirkan bayi sebelumnya dan 24 jam atau kurang untuk bayi
pertama.
c. Sejumlah kecil mukus terwarnai darah dapat terlihat dua sampai tiga hari
sebelum mulai persalinan dan berlanjut selama persalinan.
d. Jika air ketuban pecah, warnanya jernih seperti air biasa.
e. Suhu tubuh ibu tetap di bawah 37,8C.
f. Tekanan darah ibu tetap normal dan tetap di bawah 140/90.
g. Tekanan darah ibu tidak tiba-tiba turun.
h. Nadi ibu ada antara 60 dan 100 kali/menit.
2. Tanda berisiko pada kala satu persalinan
Bila ibu mengalami tanda risiko berikut, ia perlu melahirkan bayi dengan pelayanan
obstetrik darurat esensial.
a. Persalinan terjadi sebelum bulan kedelapan kehamilan.
b. Ibu mengalami demam lebih dari 37,8C.
c. Nadi ibu lebih dari 100 kali/menit.
d. Ibu mempunyai kondisi serius yang disebut preeklampsia. Ketika ibu
mengalami preeklampsia, tekanan darahnya lebih tinggi dari 140/90 dan ia

40

mengalami pembengkakan pada wajah dan tangan, sakit kepala, dan masalah
penglihatan.
e. Ibu mengalami kekakuan (konvulsi).
f. Ketuban pecah tetapi persalinan tidak terjadi dalam 8 jam.
g. Meskipun kontraksi kuat, persalinan berakhir lebih dari 12 jam untuk wanita
dengan kehamilan sebelumnya, atau 24 jam untuk bayi pertama.
h. Ibu mengalami jumlah perdarahan yang tidak lazim. Ini meliputi bekuan darah,
darah segar atau lebih dari yang tampak.
i. Ibu merasa nyeri antara kontraksi dan uterus tetap keras.
j. Denyut jantung bayi lebih dari 160 kali/menit atau kurang dari 110 kali/menit.
k. Tali pusat keluar sebelum bayi lahir.
E. Memeriksa Ibu Dalam Persalinan
Ketika ibu tiba di rumah sakit dalam persalinan, periksa kondisi ibu dan bayi. Jika ada
tanda risiko persalinan abnormal, atur untuk ibu segera mendapatkan bantuan ahli
obstetrik.
1. Periksa posisi bayi. Kebanyakan bayi berposisi dengan kepala di bawah. Jika ibu ada
dalam persalinan aktif dan kepala bayi di atas di bawah iga atau jika posisi bayi
melintang, atur untuk menempatkan ibu pada fasilitas kesehatan yang mempunyai
pelayanan obstetrik darurat. Ibu mungkin memerlukan pembedahan untuk
melahirkan bayi tersebut
2. Periksa denyut jantung bayi. Denyut jantung bayi sehat antara 120 dan 160 kali/
menit selama persalinan. Denyut ini dapat berubah cepat atau lambat. Denyut harus
tetap dalam rentang 120 dan 160. Lanjutkan untuk memeriksa denyut jantung bayi
setiap setengah jam selama persalinan.
3. Periksa suhu ibu. Ukur suhu ibu ketika ia datang ke rumah sakit. Lanjutkan untuk
mengukur suhu sedikitnya setiap 4 jam. Jika ia merasa panas atau suhunya di atas
37,8C, ia mungkin mengalami infeksi. Dapatkan bantuan medis dan berikan ia
banyak cairan dan parasetamol untuk menurunkan demam.
4. Periksa tekanan darah ibu. Ukur tekanan darah ibu ketika ia datang ke rumah sakit.
Periksa setiap jam. Jika tekanan darahnya terus meningkat, periksa setiap 15 - 30
menit. Ingat, jika tekanan darah meningkat, hal ini merupakan tanda risiko. Tanda

41

risiko lain adalah tekanan darah diastolik (angka bawah) tiba-tiba turun 15 angka
atau lebih. Hal ini berarti ia mengalami perdarahan di dalam.
5. Periksa nadi ibu. Pada persalinan awal, nadi ibu harus antara 60 dan 100 kali/menit
di antara kontraksi. Jika nadinya di atas 100 di antara kontraksi, ia mungkin
mengalami infeksi, atau perdarahan di dalam, atau dehidrasi.
6. Tanyakan pada ibu apakah ketuban sudah pecah. Jika ketuban sudah pecah
mikroorganisme dapat bergerak masuk ke uterus. Untuk mencegah infeksi pada ibu
dan bayi:
a. Jangan melakukan pemeriksaan vagina
b. Jangan menempatkan apa pun ke dalam vagina ibu
c. Jangan membiarkan ibu duduk dalam air untuk mandi.
F. Mencegah Masalah Selama Kala Satu Persalinan
Asuhan keperawatan yang baik penting untuk mencegah masalah dalam persalinan
dan untuk memantau kesehatan ibu dan bayi.
1. Ganti seprai di bawah ibu jika basah atau kotor.
Ganti pakaian dan pembalut ketika sangat basah. Ketika mengganti seprai, periksa
apakah ibu mengalami pendarahan terlalu banyak, mengeluarkan bekuan darah, atau
mengeluarkan air yang berwarna cokelat, kuning atau hijau. Bila terlihat tanda risiko
ini, segera lakukan tindakan.
2. Yakinkan ibu minum sedikitnya satu gelas air setiap jam.
Jika ibu muntah dan tidak dapat minum segelas air sekaligus, minta ia minum
seteguk setelah setiap kontraksi. Minum minuman seperti air kelapa, teh dengan
madu atau gula, dan jus buah dicampur dengan air akan memberi tenaga untuk
persalinan. Biarkan ibu makan atau minum apa pun yang ia inginkan.
3. Yakinkan ibu berkemih sedikitnya sekali setiap dua jam.
Bila kandung kemih ibu sangat penuh, hal ini dapat menyebabkan masalah dalam
persalinan dan membuat persalinan menjadi lama.
4. Yakinkan ibu mengganti posisi setiap jam.
Ibu tidak boleh berbaring telentang. Posisi ini memilin pembuluh darah dan
membuat sirkulasi darah lebih sulit.
5. Periksa tanda kemajuan persalinan.
Tanda kemajuan persalinan meliputi:
a. Kontraksi makin lama, makin kuat, dan saling berdekatan
42

b. Ibu mengatakan kontraksi terasa lebih kuat


c. Uterus terasa lebih keras selama kontraksi
d. Jumlah mukus terwarnai darah meningkat
e. Ketuban pecah
f. Ketika ibu mengalami desakan mengejan yang kuat, kala dua persalinan
(kelahiran) mungkin mendekat atau sedang mulai
G. Membantu Membuat Kelahiran Lebih Aman Dan Lebih Mudah (Kala Dua
Persalinan)
Bidan atau dokter akan selalu membantu untuk melahirkan bayi. Perawat masih
mempunyai peran yang penting untuk dimainkan.
1. Atur agar ibu melahirkan di tempat yang melindungi privasinya. Suhu ruangan
setidaknya 25C sehingga bayitidak terlalu kedinginan.
2. Yakinkan bahwa alat steril ditempatkan di tempat bersih yang mudah dijangkau.
3. Bersihkan alat kelamin ibu secara lembut dan hati-hati, menggunakan air bersih atau
matang dan desinfektan.
4. Pertahankan alas ibu bersih dan pakaian yang sangat bersih di dekatnya pada
keadaan diperlukan selama kelahiran. Jika ada feses keluar ketika ibu mengejan,
bersihkan dengan kain bersih. Bila mungkin mandikan ibu.
5. Periksa tekanan darah ibu setiap 30 menit.
6. Bantu bidan untuk memutuskan apakah persalinan berjalan dengan normal. Selama
bayi terus bergerak turun dan ibu kuat, tidak perlu dikhawatirkan, meskipun
kemajuannya lambat. Yakinkan ibu terus minum air dan terus berkemih. Jika
genitalia tidak menonjol setelah 30 menit mengejan kuat, ini berarti kepala tidak
turun. Jika bayi tidak turun sama sekali setelah satu jam mengejan, ini merupakan
tanda kemungkinan ada masalah.
H. Tanda Risiko Selama Kelahiran (Kala Dua Persalinan)
1. Bayi tidak lahir setelah satu sampai dua jam kontraksi kuat atau mengejan yang baik.
2. Darah keluar memancar sebelum bayi lahir.
3. Air berwarna cokelat, kuning, atau hijau.
4. Denyut jantung bayi lebih dari 160 atau kurang dari 90 kali per menit.
5. Tali pusat melilit dengan ketat melingkari leher bayi.
43

6. Bayi terjebak pada bahunya.


7. Kaki dan tungkai bayi keluar lebih dulu (kelahiran presentasi bokong)
8. Bayi sangat kecil atau lebih dari 5 minggu lebih dini dari tanggal perkiraan lahir.
I. Asuhan Keperawatan Pada Kala Tiga Persalinan
Kala 3 dimulai ketika bayi dilahirkan dan berakhir ketika plasenta keluar.
1. Asuhan keperawatan ibu
Perhatikan tanda kapan plasenta terpisah dari uterus. Plasenta biasanya lepas
beberapa menit setelah kelahiran, tetapi mungkin sampai setengah jam. Tanda bahwa
plasenta telah lepas meliputi:
a. Sedikit pancaran darah keluar dari vagina.
b. Tali pusat lebih panjang
c. Uterus naik setinggi umbilikus atau di atas umbilikus. Bagian atas
uterus(fundus) terasa lebih bulat dan lebih keras.
Bila plasenta telah terpisah, ibu harus dapat mengejankan keluar ketika ia kontraksi.
Kadang bidan perlu menarik plasenta keluar dengan perlahan pada tali pusatnya.Ini
hanya dilakukan setelah plasenta benar-benar terlepas.
2. Asuhan keperawatan pada bayi
a. Keringkan bayi dan pertahankan hangat. Tidak perlu memandikan bayi. Bayi
akan cepat kehilangan panas tubuhnya jika ia tidak segera dikeringkan setelah
lahir. Pengeringan juga merangsang bayi bernapas. Setelah pengeringan,
bungkus bayi dalam kain kering atau tempatkan bayi pada sentuhan kulit ke
kulit payudara atau perut ibu. Kemudian tutupi bayi. Jangan lupa menutupi
kepala bayi.
b. Periksa kesehatan bayi.
1) Pernapasan: Bayi baru lahir harus mencoba bernapas dalam 1 - 2 menit
setelah lahir. Normalnya bayi baru lahir memerlukan lebih dari 60 kali
pernapasan per menit dalam 2 jam pertama setelah lahir.
2) Menangis: Menangis kuat berarti bahwa bayi bernapas dengan baik. Jangan
memukul atau menyakiti bayi untuk membuatnya menangis.
3) Denyut jantung: Jantung bayi baru lahir harus berdenyut antara 120 dan 160
kali/menit. Jika denyut jantung bayi kurang dari 100, dapatkan bantuan
segera.
4) Gerakan: Bayi sehat harus secara aktif menggerakkan lengan atau kakinya.
44

5) Warna: Banyak bayi biru ketika mereka lahir, tetapi dengan cepat berwarna
normal dalam 1 - 2 menit. Jika bayi tetap biru, ia memerlukan pertolongan.
c. Berikan bayi injeksi intramuskular vitamin K.
d. Bantu bayi memulai menyusu. Bayi harus menyusu ASI sesegera mungkin
setelah lahir. Air susu ibu adalah semua yang diperlukan bayi selama 4 6 bulan
pertama kehidupan. Cairan pertama yang keluar dari payudara ibu setelah
kelahiran (kolostrum) harus diberikan pada bayi. Kolostrum melindungi bayi
dari infeksi. Pertahankan bayi dengan ibunya. Bayiharus dibiarkan mengisap
sesering ia inginkan, siang dan malam hari. Makin banyak bayi menyusu, makin
banyak ASI yang diproduksi. Kedua payudara harus digunakan pada setiap kali
menyusui. Menyusui harus tetap berlanjut meskipun bayi sakit.
e. Berikan obat pada mata bayi untuk mencegah kebutaan. Pertama, usap dengan
perlahan mata bayi untuk membersihkan. Kemudian berikan salep mata
tetrasiklin 1%, salep eritromisin 0,5% atau 1% tetes nitrat perak pada setiap
mata bayi. Lakukan ini dalam jam pertama kelahiran.
I. Asuhan Keperawatan Dalam Enam Jam Pertama Setelah Kelahiran
1. Asuhan Keperawatan Ibu
a. Mencegah perdarahan hebat. Periksa uterus dengan segera setelah plasenta
keluar. Periksa sekali lagi setiap 15 menit selama 1 jam, dan kemudian setiap 30
menit selama 1 - 2 jam berikutnya. Puncak uterus (fundus) harus keras. Jika
lunak, dengan perlahan masase uterus sampai mengeras.
b. Periksa pembalut ibu dengan sering. Setelah kelahiran, normal apabila ibu
mengalami perdarahan seolah ia mengalami menstruasi normal. Jika perdarahan
yang dialami oleh ibu lebih dari ini, hal tersebut berbahaya. Laporkan segera hal
tersebut pada dokter atau bidan.
c. Pantau tekanan darah dan nadi ibu. Ukur tekanan darah ibu dan nadi setiap 15
menit selama 1 jam dan kemudian setiap jam selama 4 jam berikutnya.
Laporkan pada dokter atau bidan jika ada peningkatan nadi atau penurunan
tekanan darah.
d. Bantu ibu untuk membersihkan dirinya sendiri, dan ganti seprainya. Periksa area
genital ibu apakah ada robekan dan pembengkakan. Pastikan ibu berkemih.
2. Asuhan keperawatan bayi
a. Berikan keluarga waktu untuk bersama bayi.
45

b. Pertahankan bayi bersama ibu sebanyak mungkin.


c. Dorong ibu menyusui bayi sesering bayi menginginkannya. Pertahankan ujung
tali pusat kering dan bersih dan tutup dengan kasa steril. Jangan menempatkan
apapun pada puntung tali pusat.
d. Beri bayi BCG 0,05 cc di antara lapisan kulit (intradermal) sebelum pulang.
J. Yang Dilakukan Dalam Keadaan Darurat Sementara Menunggu Bantuan
1. Bayi mulai keluar sebelum bidan tiba.
Ketika kepala bayi hampir siap untuk lahir, bantu ibu untuk mengambil posisi yang
baik. Perintahkan ibu mengejan dengan perlahan. Kemudian ketika kepala akan
keluar beri tahu ibu untuk berhenti mengejan sehingga kepala bayi keluar dengan
perlahan. Sokong kepala bayi saat ia keluar. Setelah kepala lahir, periksa apakah tali
pusat melilit leher. Jika tali pusat melilit leher, dengan perlahan kendurkan dan
lepaskan dari kepala dan bahu bayi. Setelah kepala bayi lahir, bagian tubuh
berikutnya biasanya keluar dengan mudah. Lahirkan badan bayi. Bayi baru lahir
basah dan licin. Hati-hati untuk tidak menjatuhkan bayi.
2. Bayi tidak bernapas atau bernapas buruk.
Jika bayi tidak menangis, isap atau dengan perlahan bersihkan mulut dan hidung
bayi dengan kain bersih yang membungkus jari. Jika bayi masih tidak bernapas,
maka perlu membantu bayi dengan napas buatan.
Jika bayi meninggal, beri tahu ibu dengan lembut. Berikan bayi tersebut untuk
digendong. Jika anggota keluarga lain ingin melihat bayi, biarkan mereka bergabung
dengan ibu.
3. Ibu mengalami perdarahan dari vagina selama kehamilan.
Jika ibu mengalami perdarahan hebat (pembalut bersih basah dalam 5 menit) dan
bukan waktunya untuk melahirkan, dapatkan segera bantuan medis ahli untuknya.
Perdarahan vagina dalam kehamilan selalu merupakan tanda bahaya dan perdarahan
hebat selalu suatu kedaruratan. Ada banyak penyebab perdarahan vagina dalam
kehamilan. Salah satu penyebab yang paling sering dalam trimester pertama dan
kedua kehamilan adalah aborsi. Ketika aborsi dilakukan oleh orang yang tidak
terlatih, hal ini dapat sangat membahayakan.
4. Wanita yang mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan.
Jika wanita mengalami perdarahan lebih dari dua cangkir darah setelah melahirkan
(500 ml atau basah lebih dari satu pembalut dalam satu jam), lakukan tindakan cepat
46

untuk menyelamatkan jiwa ibu sambil menunggu bantuan. Pertama, masase uterus
sampai mengeras. Kemudian remas uterus di antara dua tangan sekeras mungkin
(kompresi bimanual), untuk menghentikan perdarahan. Cara lain yang sangat baik
untuk menghentikan perdarahan adalah menekan aorta (kompresi aorta). Baringkan
ibu pada permukaan keras. Buat kepalan tangan. Tempatkan kepalan tangan satu
atau dua jari di bawah umbilikus. Tekan dengan perlahan ke bawah sampai tulang
belakang. Dengan tangan Anda yang lain, periksa nadi femoralis di lipat paha.
Pertahankan tekanan kepalan ke bawah sampai tidak terasa nadi femoralis lagi.

47

BAB IX
MERAWAT PASIEN BEDAH
A. Menyiapkan Pasien Untuk Pembedahan
Sebelum pembedahan, dokter meminta uji dan pemeriksaan terhadap pasien
tersebut. Uji dan pemeriksaan tersebut memberikan informasi tentang masalah yang
memerlukan pembedahan. Informasi ini juga memberi tahu dokter tentang kesehatan
pasien dan risiko pembedahan. Perawat memainkan peran utama dalam menyiapkan
pasien untuk operasi.
1. Perawat memeriksa kesehatan pasien.
2. Perawat meyakinkan bahwa semua penyelidikan telah dilakukan.
3. Perawat menjelaskan pada pasien apa yang akan terjadi sebelum pembedahan dan
apa yang akan dirasakannya setelah pembedahan.
4. Perawat secara sik menyiapkan pasien untuk pembedahan.
5. Perawat menunjukkan kepada pasien apa yang harus dilakukan untuk membantu
pemulihan setelah pembedahan.
Pembedahan mengganggu hidup pasien. Pembedahan menimbulkan ansietas dan
rasa takut, nyeri dan ketidaknyamanan. Dengan memberikan informasi dan
menenangkan pasien, perawat dapat mengurangi rasa takut ini dan menyiapkan pikiran
pasien untuk pengalaman tersebut. Pasien yang dipersiapkan dengan baik akan
menghadapi pengalaman pembedahan yang lebih mudah.
1. Jika pasien ke rumah sakit sebelum pembedahan, jelaskan sesegera mungkin saat
pasien tiba, pengujian apa yang akan dilakukan dan mengapa harus dilakukan.
2. Pada hari sebelum pembedahan, jelaskan pada pasien cara menyiapkan pembedahan,
misalnya, pasien mungkin harus dilakukan enema sebelum pembedahan usus.
3. Jelaskan bahwa pasien tidak makan atau minum selama 8 - 12 jam sebelum
pembedahan. Karena di bawah pengaruh anestesia pasien dapat muntah atau
tersedak.
4. Minta pasien untuk mandi pada pagi hari, lepaskan semua perhiasan, tata rias, kaca
mata, gigi palsu, dll., sebelum pergike kamar operasi.
5. Jika pasien mempunyai anggota keluarga yang hadir, beritahu mereka, tempat
mereka dapat menunggu selama pem-bedahan.
6. Jelaskan pada pasien bagaimana situasi ruang operasi dan ruang pemulihan. Beri
tahu pasien bahwa anggota staf akan menggunakan gaun dan masker bedah. Beri
48

tahu pasien bahwa setelah pembedahan, ia akan di bawa ke ruang pemulihan untuk
pemantauan ketat. Pasien mungkin menggunakan masker oksigen, manset tekanan
darah pada lengannya danalat pemantau lain yang dipasangkan.
7. Ajarkan pasien untuk melakukan latihan batuk dan napas dalam. Ini diperlukan
setelah pembedahan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi.
a. Pertama, tunjukkan pasien cara napas dalam. Inspirasi dengan perlahan melalui
hidung sambil merasakan gerakan diafragma bergerak ke luar dan ke atas.
b. Kemudian minta pasien untuk duduk dan menunjukkan pada Anda cara pasien
dapat melakukan na-pas dalam. Setelah ini, minta pa-sien untuk bernapas dalam
dankemudian batuk.
B. Peran Perawat Selama Dan Segera Setelah Pembedahan
1. Sebelum pembedahan dimulai, perawat kamar operasi memeriksa kondisi pasien
(tanda-tanda vital, dll.) menyiapkan pasien untuk pembedahan dan membantu
menyiapkan daerah steril untuk pembedahan.
2. Selama operasi, perawat membuka bahan dan mengeluarkannya, mengatur slang
atau drain, dan mengurus medikasi intravena dan larutan. Perawat menghitung jarum
dan kasa yang digunakan selama operasi untuk meyakinkan tidak ada yang
tertinggal di bagian dalam tubuh pasien setelah pembedahan.
3. Setelah pembedahan, pasien biasanya masuk ruang pemulihan atau unit perawatan
intensif tempat perawat memeriksa bagaimana keadaan pasien dan merawatnya. Di
ruang pemulihan, pasien biasanya ditidurkan tanpa bantal di kepala. Posisi ini
mempertahankan jalan napas terbuka dan memungkinkan drainase mukus atau
muntah. Pasien yang mendapat anestesis pinal harus berbaring datar. Lengan atas
pasien di beri bantal di bawahnya, sehingga tidak menghentikan gerakan dada untuk
bernapas.
4. Perawat memperhatikan jalan napas pasien, frekuensi dan kedalaman pernapasan,
dan warna membran mukosa serta bantalan kuku. Tingkat kesadaran pasien, nadi,
tekanan darah dan suhu dipantau dan dicatat.
5. Pasien bangun dari anestesi dan mendapatkan kembali reeksnya pada kecepatan
yang berbeda. Untuk membantu mereka bangun, perawat dapat memanggil nama
pasien dan mengulangi memberi tahu mereka bahwa pembedahan telah selesai.
Orang tua harus ada di samping tempat tidur untuk menenangkan anak ketika ia
bangun. Saat tanda-tanda vital stabil dan mereka mulai bangun, perawat meminta
49

pasien untuk melakukan beberapa kali napas dalam setiap 5-10 menit. Posisi pasien
diubah setiap 10 - 15 menit.
C. Merawat Pasien Setelah Pembedahan
Pasien biasanya dibawa ke unit atau kamar rawat, ketika mereka sudah bangun,dengan
reeks telah kembali, dan pernapasan, nadi tekanan darah serta suhu tubuh stabil. Pada
kasus risiko tinggi atau pembedahan sangat rumit, pasien mungkin tetap di unit
perawatan intensif untuk mendapatkan asuhan keperawatan khusus. Bila kembali dari
pembedahan, perawat melihat program dokter dan memeriksa bagaimana keadaan
pasien.
1. Lihat jalan napas dan pernapasan pasien. Periksa warna bibir dan bantalan kuku.
Periksa warna kulit dan suhu. Jika warna kebiruan atau kulit dingin dan lembap,
pasien mungkin mengalami masalah pernapasan, tekanan darah atau sirkulasi.
2. Periksa tingkat kesadaran pasien. Pasien harus sadar penuh meskipun ia mungkin
merasa ngantuk.
3. Ukur tanda-tanda vital pasien. Jika mereka belum sepenuhnya stabil, ukur setiap 15
menit sampai stabil. Jika pasien mengalami nadi lemah, cepat, tekanan darah rendah,
pucat, kulit basah dan pernapasan cepat, mungkin ada perdarahan internal.
4. Periksa balutan pasien dan seprai di bawah pasien.
5. Periksa jumlah cairan yang dikonsumsi pasien dan haluaran cairan dengan cermat.
6. Periksa ulang kecepatan aliran dan kerja jalur IV setiap jam. Juga periksa tinggi
cairan IV dalam kantung atau botol dan slang drainase.
7. Tuliskan semua tanda-tanda vital pasien, kesadaran, warna kulit, drainase berdarah,
dan asupan cairan pada catatan pasien.
D. Membantu Pasien Bedah Untuk Pulih
1. Mengontrol nyeri pasca-operasi
Periksa tingkat dan lokasi nyeri pasien. Beri pasien pereda nyeri yang
diprogramkan oleh dokter, secara teratur atau sesuai jadwal. Nyeri adalah
ketidaknyamanan ekstrem bagi pasien. Nyeri juga memperlambat pemulihan dan
dapat menimbulkan komplikasi. Pada hari pertama pasca-pembedahan, obat nyeri
biasanya diberikan setiap 3-4 jam. Medikasi ini sering diberikan secara intravena.
Pada hari kedua atau ketiga pasien dapat menggunakan medikasi nyeri per oral.
2. Pastikan asupan cairan adekuat
50

Penting bahwa pasien mendapat cukup cairan. Periksa pasien terhadap adanya
tanda dehidrasi atau kelebihan beban cairan. Tanda-tanda dehidrasi adalah membran
mukosa kering, elastisitas kulit buruk (turgor), haus dan jumlah urine pekat sedikit.
Tanda kelebihan beban cairan adalah sulit bernapas, vena leher distensi, bunyi atau
ronki basah pada paru dan pembengkakan (edema). Sebelum meningkatkan pasien
untuk minum cairan per oral, periksa bising usus dengan mendengarkan melalui
stetoskop pada abdomen pasien. Bunyi gemuruh pada usus adalah tanda peristalsis.
Setelah cairan intravena berhenti, berikan sisipan sedikit air untuk memulainya.
Kemudian tingkatkan dengan cairan lain.
3. Memeriksa haluaran urine
Penting bahwa pasien berkemih. Pasien mungkin masih tetap menggunakan
kateter urinarius selama waktu setelah pembedahan. Asupan cairan kurang dan
kateterisasi kontinu dapat menimbulkan infeksi urinarius. Retensi urine dapat
menimbulkan masalah ginjal.
Jika pasien tidak berkemih dalam delapan jam pembedahan, informasikan
kepada dokter.
4. Miringkan dan latih pasien
Pasien perlu dimiringkan dari satu sisi ke sisi lain setiap 2 jam. Mereka harus
bangun dan berjalan sesegera mungkin setelah pembedahan. Minta mereka duduk
pada tepi tempat tidur sebentar, dengan kaki tergantung ke bawah. Kemudian bantu
mereka berjalan. Jika pasien tampak pucat atau kulit basah dan pusing ketika berdiri
atau berjalan, periksa tekanan darah dan nadi untuk meyakinkan bahwa tanda-tanda
vital pasien normal.
5. Mendorong batuk dan napas dalam
Pasien harus melakukan latihan batuk dan napas dalam setiap 2 jam setelah
pembedahan. Latihan ini dilanjutkan sampai pasien berdiri dan berjalan dengan
teratur. Jika pasien tidak dapat batuk, ia mungkin membutuhkan tindakan pengisapan
(suction).
6. Memberikan diet adekuat
Pasien akan meningkatkan diet dari cair ke lunak dan kemudian diet reguler.
Asupan cairan yang baik dan berjalan dini membantu mencegah infeksi saluran
kemih, konstipasi atau distensi abdomen, dan gas yang tertinggal di usus. Pasien
harus makan cukup makanan sehat untuk mendapatkan protein, kalori, dan vitamin
untuk menyembuhkan luka bedah dan tubuhnya.
51

7. Memeriksa fungsi usus


Periksa bahwa pasien dapat mengeluarkan produk sisa dari usus dan feses
lunak. Tanda konstipasi adalah bengkak pada abdomen, nyeri dan tidak ada feses
atau feses keras.
E. Mengamati Pasien Terhadap Munculnya Komplikasi
1. Pneumonia dan kolaps kantung udara kecil (alveoli) dalam paru (disebut atelektasis).
Tanda pneumonia atau atelektasis meliputi demam, napas pendek atau
pernapasan cepat, nyeri dada, batuk, sputum berdarah atau terinfeksi, dan penurunan
bunyi pernapasan atau bunyi ronki basah (krepitasi) yang terdengar di paru dengan
stetoskop. Kadang pasien juga mengalami warna kebiruan pada membran mukosa
dan bantalan kuku. Nyeri dada tiba-tiba dan napas pendek, warna kebiruan, gelisah,
dan tanda syok (tekanan darah rendah dan nadi sangat cepat) menunjukkan bekuan
darah atau emboli udara padasalah satu pembuluh darah di paru (embolisme
pulmonal).
2. Perdarahan
Tanda perdarahan dapat meliputi balutan dan seprai yang berdarah. Salah satu
tanda pertama kehilangan darah adalah peningkatan pernapasan. Tanda selanjutnya
meliputi nadi cepat dan lemah, penurunan tekanan darah, kulit dingin, basah, dan
pucat, dan penurunan jumlah urine.
3. Masalah urinarius
Tanda retensi urinarius adalah ketidakmampuan untuk berkemih atau berkemih
dalam jumlah kecil, kandung kemih meregang, dan ketidaknyamanan pada regio
kandung kemih. Tanda infeksi saluran perkemihan meliputi rasa terbakar ketika
berkemih, rasa desakan, nyeri pada abdomen bawah, urine berkabut dan kadang
demam.
4. Infeksi luka
Tanda infeksi meliputi kemerahan, nyeri tekan, rabas terinfeksi, bau luka tidak
enak, dan demam. Pasien juga mengalami nadi cepat dan pernapasan cepat. Untuk
mencegah infeksi, cuci tangan sebelum merawat luka pasien. Gunakan teknik steril
dan balutan steril jika mungkin. Ganti balutan di atas luka ketika balutan basah.
Bersihkan luka dengan laru-tan salin steril. Gunakan teknik steril dan instrumen
steril untuk mengangkat jahitan.

52

5. Memulangkan pasien
Tujuan tim kesehatan adalah mempersingkat waktu pasien tinggal di rumah
sakit dan kembali ke rumah semudah mungkin. Sebelum pulang, beri pasien dan
keluarga informasi tentang aktivitas dan latihan, higiene, perawatan luka,setiap
medikasi dan perjanjian tindak lanjut.

53

BAB X
MERAWAT PASIEN NYERI
A. Mengkaji Nyeri Pasien
1. Lokasi Nyeri
Nyeri dapat dirasakan pada salah satu tempat dan mudah diidentikasi. Nyeri
dapat dirasakan di banyak area tubuh, khususnya bila timbul dari organ internal.
Kadang kala nyeri dapat berpindah dari tempat cedera internal ke bagian tubuh yang
lain. Kadang nyeri disebabkan pada satu tempat dan dirasakan di tempat lain (nyeri
alih). Beberapa pasien merasa apa yang disebut nyeri fantom. Nyeri fantom adalah
nyeri pada bagian tubuh yang telah diamputasi. Nyeri ini dapat berlangsung setelah
luka sembuh. Untuk membantu pasien mengatakan di mana nyeri tersebut, perawat
dapat menggunakan gambar tubuh atau gambar orang. Minta pasien menunjukkan
tempat rasa sakit tersebut. Hal ini secara khusus membantu pada anak-anak.
2. Karakter Nyeri
Kadang dengan memberi pasien daftar sifat-sifat dapat membantu mereka
menggambarkan nyeri mereka. Kata-kata yang umumnya digunakan untuk
menggambarkan nyeri yaitu tajam, berdenyut-denyut, terbakar, kuat, menyengat,
intens, pedih, tumpul, mantap, sakit, menyebar, menusuk, menekan, digaruk, dll.
Bila pasien memilih kata-kata ini, ia dapat menunjuk salah satu kata yang tepat.
3. Mengidentikasi pasien nyeri
Kadang perawat mengetahui pasien merasa nyeri hanya dengan melihatnya.
Seseorang yang mengalami nyeri sering mengatupkan gigi mereka, memejamkan
mata, menggigit bibir bawah dan meringis. Mereka dapat mengalami penampilan
tersiksa dan mata dangkal. Seseorang yang mengalami nyeri sering memegang
bagian tubuh yang nyeri. Individu ini dapat menggosok bagian tubuh yang sakit.
Gerakan tubuh seperti berguling dan miring di tempa ttidur juga dapat menunjukkan
adanya nyeri.
B. Mengatasi Nyeri Pasien
1. Tunjukkan bahwa perawat mengenali nyeri pasien dan berespons dengan sikap
penuh perhatian.
2. Dengarkan dengan cermat apa yang dikatakan pasien ten-tang nyeri.
3. Bertindak untuk meredakan nyeri.
54

4. Beri peredaan nyeri sebelum nyeri menghebat.


C. Medikasi Nyeri
1. Analgesik narkotik
Narkotik meredakan nyeri dan memberikan rasa euforia. Narkotik seperti
morn memberikan peredaan nyeri maksimal. Morn adalah obat terbaik untuk
nyeri sangat hebat dan untuk sakit terminal, yang nyerinya dapat meningkat secara
terus-menerus. Petidin juga analgesik narkotik efektif yang dapat digunakan sebagai
alternatif morn. Tetapi kerja obat ini tidak bertahan lama seperti morn dan tidak
seefektif morn untuk pasien yang menderita nyeri hebat. Kodein adalah narkotik
yang dapat diberikan per oral untuk nyeri sedang. Parasetamol atau obat antiinamasi lain dan narkotik bekerja bersama dengan baik. Obat ini memberikan
peredaan nyeri lebih baik daripada obat yang diberikan tunggal. Dosis efektif
parasetamol atau aspirin untuk peredaan nyeri adalah antara 650 dan 1000 mg.
2. Analgesik non-narkotik
Obat

anti-inamasi

non-steroid

atau

non-narkotik

meliputi

aspirin,

asetaminofen, dan ibuprofen. Obat ini dapat bekerja sebagai pereda nyeri dan juga
menurunkan demam. Analgesik adjuvan adalah obat yang tidak dikembangkan untuk
pereda nyeri tetapi dapat mengurangi beberapa tipe nyeri, khususnya nyeri kronis.
Obat ini meliputi sedatif ringan atau tranquilizer. Obat ini dapat menurunkan spasme
otot serta ansietas dan ketegangan, yang dapat meningkatkan nyeri. Anti depresan
seperti amitriptilin hidroklorida juga dapat membantu mengatasi nyeri. Antikonvulsan seperti karbamazepin dapat mengontrol nyeri herpes zoster (shingles) dan
masalah saraf diabetik, seperti nyeri pada kaki.

55

BAB XI
MERAWAT PASIEN KEDARURATAN YANG MENGANCAM JIWA
A. Bersiap Untuk Keadaan Darurat
Perawat harus mempunyai akses cepat terhadap alat atau troli resusitasi yang mencakup
alat-alat berikut ini :
1. Spuit, jarum (berbagai ukuran), jarum buttery (jika mungkin), swab (kapas
alkohol), plester, dan beberapa ampul (bila mungkin)
2. Set tetes intravena (IV) dan kanula intravena
3. 4-5 liter cairan IV: laktat ringer atau hartmann, salin normal, dekstrosa 5%, plasma
4. Oksigen
5. Alat pengisap (suction) dan kateter
6. Slang saluran udara, laringoskop
7. Torniket
8. Kantung ambu (pediatrik dan dewasa) dan beberapa ukuran masker yang berbeda
9. Obat-obatan: obat berikut harus ada dalam troli atau siap tersedia dalam ruang
kedaruratan atau ruang kecelakaan suatu rumah sakit - 50% larutan dekstrosa,
adrenalin,

frusemid(Lasix),

diazepam

(Valium),

hidrokortison/deksametason,

fenergen, ergometrin, nalokson (Narcan), insulin, lignokain, antibisaular (bila ada),


atropin, aminolin, obat anti-malaria, aspirindan antibiotik.
B. Resusitasi A, B, C dan D
A Pastikan jalan napas
Pertama, periksa untuk melihat apakah jalan napas pasien terbuka. Jika pasien
dapat bicara, jalan napas berarti terbuka. Jika pasien tidak dapat bicara, lihat apakah
dinding dada mengembang. Dengarkan pertukaran yang terjadi dalam jalan napas
(pernapasan) dan coba raba pernapasan dengan tangan. Bila terlalu sedikit atau tidak ada
gerakan udara pada pasien sadar, pasien mungkin tersedak.
Obstruksi jalan napas: pasien sadar
Jika pasien sadar tersedak, lakukan manuver Heimlich. Berdiri di belakang pasien,
tempatkan lengan mengelilingi abdomen, di antara pergelangan tangan dan iga-iga, dan
genggam tangan satu dengan yang lain. Kemudian berikan tarikan cepat dan tiba-tiba
pada tangan dengan gerakan ke atas. Ulangi tindakan menekan ini 3 - 4 kali bila perlu.
Ini akan membantu melepaskan objek yang menyumbat jalan napas pasien.
56

Obstruksi jalan napas: pasien tidak sadar


Jika pasien yang tersedak tidak sadar, duduk di atas pasien (pasien harus berbaring
telentang), dan tempatkan tumit tangan di garis tengah tubuh pasien, di atas umbilikus
dan tepat di bawah sternum bagian bawah. Tempatkan tangan lain di atas tangan pertama
dan tekan ke dalam dan ke arah atas diafragma pasien dengan 5 kali dorongan cepat. Ini
akan melepaskan benda asing di jalan napas. Jika pasien adalah anak, gunakan prosedur
yang sama seperti orang dewasa. Ulangi dorongan ke atas 5 kali. Jika pasien adalah bayi,
baringkan bayi telungkup di lengan bawah, dengan kepala lebih rendah dari tubuh.
Sokong kepala dan dada bayi serta berikan 5 kali pukulan di antara belikat. Jika tindakan
ini tidak melepaskan benda asing yang menyumbat, tempatkan bayi pada posisi telentang
dengan kepala lebih rendah dari tubuh. Dengan menggunakan dua jari pertama dari salah
satu tangan, tekan di antara umbilikus dan tulang dada dengan gerakan cepat dan kuat
sebanyak 5 kali. Jika pasien tidak jelas apakah mengalami tersedak, perawat dapat
membuka jalan napas dengan mengekstensikan leher pasien. Untuk melakukan ini,
tengadahkan kepala ke belakang dengan satu tangan dan angkat rahang dengan tangan
yang lain. Jika pasien tidak sadar dan bernapas, tempatkan pasien pada posisi koma,
berbaring pada salah satu sisi dengan lutut dieksikan dan kepala dimiringkan ke salah
satu sisi. Tindakan ini akan mencegah lidah atau muntahan menyumbat jalan napas
B Memastikan bahwa pasien bernapas
Jika pasien berhenti bernapas, perawat perlu membantunya untuk bernapas setelah
perawat membersihkan jalan napas. Tanpa bernapas, pasien akan meninggal dalam empat
menit. Lakukan resusitasi mulut ke mulut atau kantung dan masker ambu. Baringkan
pasien dengan wajah menghadap ke atas, dengan perlahan angkat kepala ke belakang dan
tarik rahang kedepan. Bila pasien mungkin mengalami patah tulang belakang, angkat
rahang ke depan pada dagu dan jangan mengekstensikan leher.
C Memastikan bahwa jantung pasien berdenyut
Jika pasien bernapas, jantung berdenyut. Jika pasien tidak bernapas, periksa nadi karotis
(di leher) atau nadi femoralis (di bagian dalam paha atas sebelah lipatpaha). Ini adalah
nadi yang paling mudah untuk diraba. Pada bayi, raba nadi brakialis di lengan atas
bagian dalam, di antara siku dan bahu. Bila tidak ada nadi dan pasien tidak bernapas,
mulai resusitasi jantung paru (RJP).
D Gunakan infus untuk menjamin pasien mendapat hidrasi dan persiapan untuk
memberikan obat yang diprogramkan

57

Pasien mungkin mengalami syok jika suplai darah ke organ vital dalam tubuh terlalu
sedikit. Tanda syok adalah :
1. ansietas, gelisah atau ketakutan
2. ketidakmampuan berkonsentrasi
3. pernapasan cepat
4. haus, mual
5. dilatasi pupil
6. kulit pucat dan dingin
7. pengisian kapiler lambat
8. peningkatan nadi dan penurunan tekanan darah
Jika syok berlanjut, pasien mungkin mengalami koma atau meninggal karenakehilangan
cairan dan darah. Syok umum terjadi pada pasien yang mengalami cedera berat, luka
bakar berat,reaksi alergi hebat, overdosis obat, keracunan, dehidrasi berat, sepsis
(infeksihebat dalam aliran darah) atau serangan jantung masif. Memberikan cairan
padapasien dalam situasi darurat merupakan standar praktik.
C. Mengatasi Syok
1. Berikan tetesan intravena cepat dengan menggunakan salinnormal, Hartmann atau
plasma; gunakan larutan dekstrosa 5% bila tidak ada yang lain.
2. Baringkan pasien datar dan tinggikan kaki untuk membantu aliran balik vena ke
jantung dan meningkatkan tekanan darah. Jangan menggerakkan pasien bila
dicurigai ada cedera tulang belakang.
3. Lanjutkan tetesan intravena sampai tekanan darah pasien normal.
4. Pertahankan pasien hangat.
5. Berikan oksigen bila ada.
6. Pantau jalan napas, pernapasan, dan tanda-tanda vital pasien.

D. Mengatasi Perdarahan
Pada

pasien

yang

mengalami

perdarahan,

hentikan

perdarahan

dengan

menggunakan balutan tekan atau tekanan manual secara langsung di atas luka.
Tekanan hampir selalu akan menghentikan perdarahan. Tinggikan luka di atas
tinggi jantung, bila mungkin. Bila perlu, berikan tekanan langsung di atastitik tekanan
seperti di atas arteri besar (brakialis pada lengan bagian dalam atau femoralis pada paha
58

bagian atas/lipat paha). Kadang arteri atau vena yang mengalami perdarahan dapat
dengan jelas dilihat pada luka. Bila tekanan tidak menghentikan perdarahan, Anda dapat
mengklempembuluh darah dengan forsep arteri. Lakukan dengan sangat hati-hati
untuktidak salah mengklem struktur vital
E. Tegakkan Diagnosis Pasien
1. Kepala dan leher
Periksa kepala untuk adanya luka atau laserasi, drainase dari hidung atau telinga,
cedera mulut dan rahang. Perhatikan adanya pembengkakan atau cedera pada leher.
Cium pernapasan pasien untuk adanya bau tidak lazim. Lanjutkan untuk memantau
tanda-tanda vital dan mengkaji tingkat kesadaran pasien. Pertahankan pasien tidak
sadar berbaring miring. Bila ada cedera pada mata, tutup mata dengan tameng mata.
Periksa pupil pada kedua mata. Jika hidung mengalami perdarahan, dudukan pasien
bila mungkin dan tutup hidung selama 10 menit untuk menghentikan perdarahan.
2. Bahu dan lengan
Periksa bahu, lengan, dan tangan pasien. Minta pasien menggenggam tangan petugas
dan melepaskannya, bila ia mampu. Periksa rentang gerak siku. Jika ada fraktur,
lakukan pembebatan.
3. Dada
Periksa dada pasien. Dada harus mengembang dengan sama pada kedua sisi ketika
pasien bernapas. Perhatikan adanya luka dada yang melesak. Dengarkan bunyi napas
dari kedua paru dengan stetoskop, dan dengarkan bunyi jantung. Bunyi paru harus
sama pada kedua sisi. Palpasi klavikula, sternum, dan iga dan tanyakan apakah
tidakan ini menimbulkan nyeri.
Bila terdapat luka terbuka pada dada, tutup luka dengan balutan dan perban penahan
udara yang bersih. Bila pasien mengalami masalah pernapasan, plester salah satu sisi
tepi balutan sehingga ini akan bertindak sebagai katup.
4. Abdomen
Kaji abdomen terhadap adanya distensi dan cedera. Jika dicurigai adanya kerusakan
organ internal, atau bila abdomen mengalami nyeri tekan hebat atau sangat kaku,
lanjutkan cairan intravena. Jangan memberikan apapun per oral karena pembedahan
mungkin diperlukan.
5. Tulang belakang

59

Leher, tulang belakang, dan tubuh pasien tidak boleh dilengkungkan ketika
memindahkannya.
6. Ekstremitas bawah
Periksa dan raba (palpasi) area pelvik dan tulang. Perhatikan adanya cedera
tersembunyi. Periksa kaki dan tungkai untuk adanya deformitas, perdarahan, protrusi
tulang (penonjolan), pembengkakan atau perubahan warna. Periksa nadi pada kaki.
F. Tindakan Kedaruratan
Setelah konrmasi diagnosis, berikan tindakan kedaruratan. Jika tidak ada dokter,
mungkin perlu mengatur pengiriman pasien ke fasilitas kesehatan lain.
1. Terapi obat segera adalah penting untuk kondisi tertentu. Obat berikut harus
digunakan sesuai jadwal tindakan (atau protokol) yang ditetapkan untuk fasilitas
kesehatan.
a. Untuk konvulsi: Diazepam (Valium)
b. Untuk perdarahan pasca partum: Ergometrine
c. Untuk asma: Aminolin
d. Untuk overdosis obat narkotik: Narcan
e. Untuk pasien syok hebat atau mengalami reaksi alergik: Hidrokortison intravena
atau intramuskular (plus adrenalin bila syok disebabkan reaksi alergik)
f. Untuk reaksi alergik akut: Adrenalin dan fenergen
g. Untuk edema pulmonal dan gagal jantung: Frusemid (Lasix)
h. Untuk keracunan insektisida: Atropin
i. Untuk gula darah rendah: larutan dekstrosa 50%
j. Untuk hiperglikemia diabetik: Insulin
k. Untuk gigitan ular: Anti bisa gigitan ular
l. Untuk serangan jantung: Aspirin dan trombolitik, bila ada. Morn intravena
dapat diberikan untuk nyeri hebat
m. Untuk infeksi seperti tifoid, meningitis, septikemia, penyakit radang panggul,
pneumonia dan peritonitis: antibiotik
n. Untuk malaria: Obat anti malaria seperti quinin dan klorokuinin.
2. Untuk tindakan segera terhadap luka bakar, rendam bagian tubuh dalam air dingin
selama 30 menit pertama dan berikan medikasi nyeri.

60