Anda di halaman 1dari 32

Laporan Akhir

Fisika Eksperimen I B
Refraktometer ABBE
(Modul 3)

Nama

: Luki Muhammad Azis

NPM

: 140310090016

Jadwal Praktikum

: Kamis, 7 April 2011

Waktu

: 15.00 - 17.00 WIB

Asisten

: Andre Hartanto

Laboratorium Fisika Menengah


Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
2011

Lembar Pengesahan
Refraktometer ABBE
(Modul 3)

Nama

: Luki Muhammad Azis

NPM

: 140310090016

Jadwal Praktikum

: Kamis, 7 April 2011

Waktu

: 15.00 - 17.00 WIB

Asisten

: Andre Hartanto

Jatinangor, 14 April 2011


Speaken

Lap. Awal

Lap. Akhir

Asisten

.....................................................

I.

Latar belakang
Mata makhluk hiup dapat melihat tidak lain adalah dikarenakan benda benda

tersebut memantulkan cahaya dan masuk ke dalam mata sehingga kita dapat melihat
benda benda di sekitar kita. Cahaya memiliki banyak sifat yang dapat kita amati
dalam kehidupan sehari hari. Pada percobaan kali ini kita akan mengamati peristiwa
pembiasan cahaya (refraksi). Pembiasan adalah peristiwa pembelokan arah cahaya
ketika melewati bidang batas anatara dua medium yang berbeda. Pembiasan cahay
terjadi dikarenakan oleh perbedaan kecepatan cahaya di setiap medium berbeda.
Kemampuan meium tersebut untuk memebiaskan cahaya disebut indeks bias. Untuk
dapat mengetahui indeks bias suatu carian, kita akan menggunakan refraktometer
ABBE.

II.

Identifikasi Masalah
1. Indeks bias zat cair
2. Cara kerja Refraktometer ABBE
3. Pembiasan pada prisma
4. Pengaruh suhu terhadap indeks bias.

III.

Tujuan percobaan

1. Mempelajari prinsip kerja Refraktometer ABBE


2. Mengukur indeks bias suatu cairan
3. Mengetahui pengaruh suhu terhadap indeks bias
4. Menentukan dispersi

IV.

Teori Dasar

4.1 Pembiasan dan Indeks Bias


Cahaya yang melalui bidang batas antara dua medium, akan mengalami
perubahan arah rambat atau pembelokan. Peristiwa perubahan arah rambat cahaya dapat
pada batas dua medium tersebut pada dasarnya disebabkan adanya perbedaan kecepatan
merambat cahaya pada satu medium dengan medium yang lain. Peristiwa inilah yang
disebut sebagai pembiasan cahaya (refraksi). Pembiasan cahaya berarti pembelokan
arah rambat cahaya saat melewati bidang batas dua medium bening yang berbeda indeks
biasnya.
Pada optika era optik geometris, refraksi cahaya yang dijabarkan dengan Hukum
Snellius, terjadi bersamaan dengan refleksi gelombang cahaya tersebut, seperti yang
dijelaskan oleh persamaan Fresnel pada masa transisi menuju era optik fisis. Tumbukan
antara gelombang cahaya dengan antarmuka dua medium menyebabkan kecepatan fasa
gelombang cahaya berubah. Panjang gelombang akan bertambah atau berkurang dengan
frekuensi yang sama, karena sifat gelombang cahaya yang transversal (bukan
longitudinal). Pengetahuan ini yang membawa kepada penemuan lensa dan refracting
telescope. Refraksi di era optik fisis dijabarkan sebagai fenomena perubahan arah
rambat gelombang yang tidak saja tergantung pada perubahan kecepatan, tetapi juga
terjadi karena faktor-faktor lain yang disebut difraksi dan dispersi.
Indeks bias pada medium didefinisikan sebagai perbandingan antara kecepatan
cahaya dalam ruang hampa udara dengan cepat rambat cahaya pada suatu medium.
Secara matematis, indeks bias dapat ditulis:

dimana:
n = indeks bias
c = kecepatan cahaya dalam ruang hampa (299,792,458 meter/detik)
vp = cepat rambat cahaya pada suatu medium
Indeks bias tidak pernah lebih kecil dari 1 atau (n 1).
Hukum Snellius adalah rumus matematika yang memerikan hubungan antara
sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas
antara dua medium isotropik berbeda, seperti udara dan gelas. Hukum Snellius
menyebutkan bahwa nisbah sinus sudut datang dan sudut bias adalah konstan, yang
tergantung pada medium. Perumusan lain yang ekivalen adalah nisbah sudut datang dan
sudut bias sama dengan nisbah kecepatan cahaya pada kedua medium, yang sama
dengan kebalikan nisbah indeks bias. Hukum Snellius disebut juga dengan hukum
pembiasan.

Pembiasan cahaya pada antarmuka antara dua medium dengan indeks bias berbeda,
dengan n2 > n1. Karena kecepatan cahaya lebih rendah di medium kedua (v2 < v1), sudut
bias 2 lebih kecil dari sudut datang 1; dengan kata lain, berkas di medium berindeks
lebih tinggi lebih dekat ke garis normal.
Perumusan matematis hukum Snellius adalah

atau

atau

Lambang 1,2 merujuk pada sudut datang dan sudut bias, v1 dan v2 pada kecepatan
cahaya sinar datang dan sinar bias. Lambang n1 merujuk pada indeks bias medium yang
dilalui sinar datang, sedangkan n2 adalah indeks bias medium yang dilalui sinar bias.
Hukum Snellius dapat digunakan untuk menghitung sudut datang atau sudut bias, dan
dalam eksperimen untuk menghitung indeks bias suatu bahan.

4.2 Refraktometer ABBE

Gambar 1. Refraktometer ABBE


Refraktometer merupakan alat untuk menentukkan indeks bias suatu medium.
Sedangkan Refraktometer ABBE merupakan alat pengukur indeks bias suatu zat cair
yang mempunyai indeks bias antara 1,3 dan 1,7.
Prinsip kerja alat ini berdasarkan sudut kritis, dimana sudut kritis diantara dua
medium adalah sudut datang sinar dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat
yang menghasilkan sudut bias sama dengan 90.

K1
K2
P

P
P
cermin
Gambar 2. Skema Refraktometer ABBE

Dari gambar skema refraktometer ABBE tersebut dapat kita ketahui bagian dari
refraktometer tersebut. Refraktometer ABBE ini terdiri dari sebuah teleskop, dua prisma
pembias P dan P dimana zat cair yang akan diukur indeks biasnya diletakkan antara
kedua prisma ini, dua prisma amici K1 dan K2, dan cermin datar sebagai pemantul.
System prisma K1 dan K2 terdiri dari masing-masing dari tiga prisma yang ditempelkan.
System ini dinamakan kompensator yang berfungsi untuk menjadikan sinar
polikromatik menjadi sinar monokromatik sebagai sumber cahaya.
Cahaya kuning yang datang dari lampu natrium akan dipantulkan oleh cermin
datar kemudian akan menuju prisma pembias pertama. Sinar pantul dari prisma pembias
pertama tersebut akan menjadi sinar datang yang baru bagi prisma pembias kedua yang
kemudian akan dipantulkan kembali ke prisma amici pertama dan kedua. Selanjutnya
sinar yang keluar dari prisma amici kedua akan diterima oleh teleskop, sehingga kita
dapat menentukkan harga indeks bias zat cair tersebut.

Dalam percobaan ini kita akan melihat garis batas antar gelap dan terang.
Dengan mengubah-ngubah kompensator sehingga garis batas dan gelap terlihat jelas
dan tidak terdapat warna lagi, dengan garis batas gelap dan terang yang sangat jelas ini
kita dapat menentukkan indeks bias dari zat cair yang ingin kita ketahui dengan melihat
skala yang terdapat pada refraktometer.

Mengukur indeks bias


Apabila suatu bahan dengan indeks bias n ditempatkan pada gelas prisma yang

indeks biasnya ng dan sudut biasnya A, dengan sudut prisma A sebesar 62. Untuk lebih
jelasnya kita dapat melihat gambar di bawah ini:

i
r

A
n

ng

A
ng

nu
Gambar 3. Jalannya cahaya pada prisma pembias
Dari Hukum Snellius: nu sin = ng sin

dimana nu = n udara = 1

sin = ng sin
Dengan menggunakan perhitungan geometri:
A + =180

A=r+

+ r + = 180

=Ar

adalah sudut kritis, dimana n < ng sehingga = 90

n sin 90 = ng sin
n = ng sin
n = ng sin (A - r)
n = ng sin A cos r - ng cos A sin r

cos r = (1 sin2r)1/2

n = ng sin A (1- Sin 2 r)1/2 cos A sin i


n = Sin A

ng sin r = sin i

n g sin 2 i cos A sin i


2

Polarisasi pada dielektrik


Suatu bahan dielektrik dengan konstanta bila berada pada medan listrik E

maka terjadi polarisasi dalam bahan. Polarisasi (P) pada satu partikel dalam bahan
adalah :
P=E ;

= Polarizabilitas

Maka bila ada N partikel dalam polarisasi total adalah :

P=NP=NE
Karena terjadi polarisasi maka terjadi pengeluaran partikel-partikel dalam bahan (D), yaitu :
D=E
E = o E + P

o = konstanta dielektrik pada vakum

E = o E + N E
= o + N

N
1
0
0

(*)

Polarisasi pada bahan dielektrik menyebabkan displacement pada muatanmuatannya. Hal ini disebabkan oleh adanya medan listrik luar E.
E = Eo exp I {t kx} dengan i =

Dari persamaan gerak muatan didapatkan :


d 2 y eE

m
dt 2

;e = muatan ( 1,6 X 10-19)

d 2 y eEo

exp(it )
m
dt 2
eEo 1
dy m it dt
eE
y 2 o exp(it )
I m

(1)

(2)

Polarizabilitas dari didefinisikan sebagai momen dipol per unit medan E


= (e y) / t

(3)

Substitusi (2) ke (3) didapat :


= - e2 / (m2)
Substitusi persamaan (4) ke persamaan (*), sehingga didapat :

n2 1

Ne 2
o m 2

Dengan mengetahui bahwa

n2 1

No M

maka :
N

Noe2
M o m 2

dengan : m = massa muatan bebas


= frekuensi gerak muatan

(4)

refraktifitas molekular rm diberikan :


rm

n2 1 M r
n1 2

dan refraksi spesifik :


rs

n2 1 1
n2 2

Dari persamaan tersebut diatas dapat diketahui bahwa indeks bias akan
bergantung pada temperatur.

Penentua Teori Dielektrik secara Mikro


Medan molekul (Em) adalah medan listrik yang menyebabkan polarisasi
molekul bahan dielektrik. Medan ini disebabkan oleh :
-

Semua sumber luar.

Semua molekul terpolarisasi dalam dielektrik kecuali pada suatu molekul yang
ditinjau.
Em = Ex + Ed + Es + E

Dimana:
Ex =

Medan listrik primer yang ditimbulkan oleh muatan plat paralel.

Ex = ( 1/o ) ; = Rapat muatan (C/m2)


Ed = Medan dipolarisasi yang disebabkan oleh polarisasi muatan pada
permukaan

diluar dielektrik.

Dimana Ed dapat dirumuskan:

Ed

Ed =

p ; p = rapat muatan polarisasi = P

Es = medan listrik akibat polarisasi muatan pada permukaan Cavity (rongga)


Es =

1
P
3 o

E = 0, karena arah dipole bersifat acak (random).


Em = Ex + Ed + Es
Em =

P
1

P
o o 3 o

Em = E

1
P
3 o

...(a)

Jadi polarisasi molekul dalam bahan adalah :


Pm = Em
Jika pada bahan terdapat N molekul
P = N Pm = N Em (b)

Substitusi (a) dan (b) :

P
P = N E
3 o

Dengan pengertian P = (K-1) o E dengan K = /o maka :


(K-1) o E = N E + {N/(3 o )} (K-1)o E
(K-1) o = [N +{ N/(3 o)} (K-1) o]
( K-1 ) o
=
[N + { N/(3 o)} (K-1)]
(3 o) (K-1)
=
N ( K+2 )

Dengan n2 = /o = K maka:
=

(3 o )(n 2 1)
(c)
N (n 2 2)

Refraksi molekuler (rm) didefinisikan efraksi dari gelombang elektromagnerik


pada 1 mol molekul tersebut, sehingga jumlah partikelnya sama dengan bilangan
Avogadro (No) = 6,027 X 1023 )
rm

N o
3 o

(d)

Substitusi (c) ke (d) yaitu:


rm

N o (3 o )(n 2 1)
3 o N (n 2 2)

Dengan No / N = M /
M = berat molekul
P = rapat massa

M
rm =

(n 2 1)

(n 2 2)

Refraksi Spesifik ( rs ) didefinisikan refraksi molekuler persatuan berat molekul.


rs = rm / M
rs =

maka :

(n 2 1)
(n 2 2)

Polarisasi pada bahan dielektrik menyebabkan displacement pada muatanmuatannya. Hal ini disebabkan oleh adanya medan listrik luar E.
E = Eo exp I {t kx} dengan i =

Dari persamaan gerak muatan didapatkan :


d 2 y eE

m
dt 2

;e = muatan ( 1,6 X 10-19)

d 2 y eEo

exp(it )
m
dt 2
eEo 1
dy m it dt
eE
y 2 o exp(it )
I m

(e)

(f)

Polarizabilitas dari didefinisikan sebagai moment dipole per unit medan E


= (e y) / t

(g)

Substitusi (f) ke (g) didapat :


= - e2 / (m2)

(h)

Substitusi persamaan (h) ke persamaan (3) di keterangan sebelumnya, sehingga


didapat :
n2 = 1 {( Ne2) / (om2 )
Dengan mengetahui bahwa No/N = M/ maka :
n2 = 1 { (No e2)/(Mom2) }
m = massa muatan bebas
= frekuensi gerak muatan
Sistem Osilator
Sebuah atom terdiri dari inti dan elektron yang mengelilinginya. Untuk
mengabsorbsi elektron dari satu lintasan ke lintasan lain diperlukan energi luar yang
sebanding dengan selisih tingkat energi atom.
Sistem atom ini bisa dianggap sebagai suatu sistem osilator apabila pada atom
diberikan medan listrik E, elektron-elektron akan bergerak harmonik ke frekuensi

tertentu. Dalam hal ini terjadinya pencapaian pada frekuensi tertentu tersebut adalah
terjadinya resonansi dengan frekuensi anguler resonansi yaitu o.
Dengan pendekatan dari persamaan (e) dan (g) didapat

e 2
1

2
2
m ( o ) (i )

= ( e2 / m ) [ 1 / { (o2-2) + ( i) } ]

; i = -1

Untuk mencari besar dari harga :


= ( e2 / m ) [ (o2 - 2)2 + ( )2

(i)

Substitusikan (i) ke (3)


n2 = 1 + [(Ne2 ) / (mo)] [ (o2 2 )2 + ( ) 2
Dimana = 2/

; = perioda
n2 = 1 + [(Ne2 ) / (mo)] [ (o2 2 )2 + ( 2 4 (1/)2 ) ]
n2 = 1 + [(Ne2 ) / (mo)] [ (o2 2 )2 + ( 42 2 ) ]

Dimana = faktor redaman


Penentuan dispersi nf - nc
Dengan mencatat pembacaan skala d dan kompensator, dapat digunakan untuk
menentukan dispersi suatu zat yaitu selisih indeks bias garis korona dan garis flinta
dari hidrogen. Selain dengan grafik, dapat pula ditentukan dengan rumus empiris :

(Air)

nf - nc = 4.10-7d3 3,7.10-5 d2 + 9.10-5 d + 0,0465

(Minyak)

nf - nc = 4.10-7d3 3,5.10-5 d2 + 8.10-5 d + 0,0435

n Dispersi nf - nc
Dengan mencatat pembacaan skala d dan kompensator, dapat digunakan untuk

menentukan dispersi suatu zat yaitu selisih indeks bias garis korona dan garis flinta dari
hydrogen (nf-nc) . Selain dengan grafik, dapat pula ditentukan dengan rumus empiris :

n f nc Ad 3 Bd 2 Cd D

Harga-harga A, B, C, dan D dapat dilihat dalam table berikut :

Koefisien

Air

Minyak

0,000000431

0,000000385

- 0,000038789

- 0,000034480

0,000087686

0,000083965

0,046535811

0,043503590

Koreksi
Temperatur prisma dalam refraktormeter tidak sama, maka perlu adanya

koreksi untuk harga-harga nd dengan persamaan :


nd kor = nd + R 10-5
dengan :
0,04525

R 29 ,5 D(T1 20 ) 0,094
nd (T2 20 )d
D

Dimana :

nd kor

= indeks bias hasil koreksi

nd

= indeks bias yang dikoreksi

R 10-5

= nilai koreksi

= Konstanta yang terdapat pada persamaan penentuan


dispersi

T1

= temperatur prisma Refraktometer ABBE

T2

= temperatur prisma kompensator

V.

Percobaan

5.1 Alat dan Bahan

Refraktometer ABBE beserta grafik nf-nc


Refraktometer ABBE berfungsi sebagai alat untuk mengukur indeks bias suatu
zat cair. Grafik nf-nc berfungsi sebagai acuan untuk menentukan nilai nf-nc
setelah diketahui harga drumer (d) dan indeks biasnya (nd).

Lampu natrium beserta power supply 110 V.


Berfungsi sebagai sumber cahaya dan sumber tegangan untuk menyalakan
lampu.

Bejana air beserta pompa, pemanas dan pipa-pipa penghubung


Berfungsi sebagai alat yang digunakan sebagai sarana percobaan.

Termometer
Berfungsi sebagai alat untuk mengukur suhu.

Minyak dan air


Berfungsi sebagai zat cair yang akan diukur indeks biasnya.

5.2 Prosedur Percobaan


A. Persiapan
1. Menyalakan lampu natrium dengan menggunakan sumber tegangan 110V,
selama 5 menit.
2. Memasang termometer pada refraktometer.
3. Menghubungkan pipa-pipa pada Refraktometer ABBE (seperti pada gambar
dibawah). Pipa dari pompa dihubungkan pada lubang masukan pada
Refraktometer ABBE. Lubang 3 dan 4 dihubungkan dengan pipa ke bejana.
Memasang termometer pada Refraktometer ABBE.

P
4

1
B. Pengambilan Data

Output ke
bejana

Input dari
pompa
P
3

a. Menentukan indeks bias minyak pada suhu kamar


1. Membuka prisma dengan hati-hati, kemudian meneteskan satu tetes minyak
diatas prisma. Menutup dan menguncikan hingga teguh.
2. Mengatur cermin pemantul cahaya agar garis silang terlihat dengan jelas.
3. Mengatur tombol kompensator sehingga tampak batas terang dan gelap
terletak pada perpotongan garis silang.
4. Mengatur tombol alhidad sehingga batas bayangan terang dan gelap terletak
pada perpotongan garis silang.
5. Mencatat skala yang terlihat pada kaca benggala yang menunjukkan harga
indeks bias minyak (nd) dan skala yang terlihat pada kompensator yang
menunjukkan harga drumer (d).
6. Mencatat suhu ruangan dan suhu refraktometer.
7. Menentukan nilai nf-nc dengan bantuan grafik.

b. Menentukan indeks bias air suling pada berbagai suhu


1. Mengeringkan minyak pada prisma dengan tisu halus, hati-hati jangan terlalu
keras. Meneteskan satu tetes air suling pada prisma tersebut.
2. Menutup kembali prisma tersebut.
3. Menyalakan heater dan pompa.
4. Pada suhu 25C melakukan percobaan 2 s/d 5 pada prosedur a. Mengamati
suhu input dan outputnya.
5. Melakukan percobaan 4 untuk variasi suhu antara 25oC s.d. 60oC.
6. Menentukan nilai nf-nc pada masing-masing variasi suhu.

VI.

Data dan Analisa

6.1.Data Percobaan
1. Menentukan Indeks bias minyak pada suhu kamar
Tabel data indeks bias minyak pada suhu kamar
No.

nd

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1,5
1,5
1,51
1,5
1,51
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5

45
44
46
45
46
46
45
45
45
46

T
ruang
27
27
27
27
27
27
27
27
27
27

T ref

nf nc

28
28
28
28
28
28
28
28
28
28

0,0124
0,0135
0,0125
0,0124
0,0125
0,0124
0,0126
0,0128
0,0128
0,0124

2. Menentukan Indeks Bias air suling pada berbagai suhu


Tabel data indeks bias air suling pada berbagai suhu.
No

Percobaan
d
Ke
(drummer)
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2

53
53
53
54
54
60
58
60
60
58
54

nd
(bias
air)

T air
(input)

T
refrak

nf-nc

1,33
1,33
1,33
1,331
1,331
1,331
1,331
1,33
1,33
1,33
1,329

25
25
25
30
30
30
35
35
35
40
40

26
27
28
31
32
32
37
38
39
41
42

0,0066
0,0066
0,0066
0,0063
0,0063
0,0052
0,0053
0,0052
0,0052
0,0052
0,0064

3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

52
54
56
52
59
59
60
55
54
59
55
55
55

1,33
1,329
1,331
1,329
1,328
1,328
1,328
1,327
1,327
1,329
1,327
1,327
1,327

40
45
45
45
50
50
50
55
55
55
60
60
60

43
46
47
47
51
51
52
55
56
56
60
60
60

0,007
0,0064
0,0058
0,007
0,0051
0,0051
0,0051
0,0057
0,0057
0,0064
0,0057
0,0057
0,0057

6.2 Perhitungan dan Analisis

A. Menghitung nilai terbaik indeks bias minyak pada suhu kamar


1. Persamaan untuk mencari indeks bias terbaik yaitu,
n

Maka,

nd

nd
i 1

n
nd = 1,50 1,50 1,510 1,50 1,510 1,50 1,50 1,50 1,50 1,50 15,02 1,5022
10
10

2. Menghitung indeks bias koreksi untuk minyak beserta KSR


Persamaan untuk mencari indeks bias koreksi yaitu,
n dkor n d R 10 5

0,04525

R 29 ,5 D(T1 20 ) 0,094
n d (T2 20 )d
D

Contoh
Untuk data pertama, nd = 1,50
d = 45
D = 0,043503590
T1=T air=27C
T2= Trefrak = 28C

0,04525

R 29,5(0,043503590)(27 20) 0,094


1,50 (28 20)45 -6,578034
0,043503590

5
n dkor n d R 10
n dkor 1,50 (-6,578034 ) 10 5
n dkor 1,49993

Menghitung kesalahan relatif indeks bias minyak:

KSR

n dkor nlit
100%
nlit

KSR

1,49993 1,5
100%
1,5

KSR 0,00385%
KP 100% KSR
KP 99,99561%
Memakai cara yang sama maka didapat data seperti dibawah ini:
No

Nd

T air

T
R
refrak
1
1,5
45
27
28
-6,578
2
1,5
44
27
28
-6,2322
3
1,51
46
27
28
-7,2698
4
1,5
45
27
28
-6,578
5
1,51
46
27
28
-7,2698
6
1,5
46
27
28
-6,9238
7
1,5
45
27
28
-6,578
8
1,5
45
27
28
-6,578
9
1,5
45
27
28
-6,578
10
1,5
46
27
28
-6,9238
Tabel perhitungan nd koreksi beserta KSR dan KP

nd kor
1,49993
1,49994
1,50993
1,49993
1,50993
1,49993
1,49993
1,49993
1,49993
1,49993

KSR
(%)
0,004385
0,004155
0,66182
0,004385
0,66182
0,004616
0,004385
0,004385
0,004385
0,004616

KP
(%)
99,9956
99,9959
99,3382
99,9956
99,3382
99,9954
99,9956
99,9956
99,9956
99,9954

3. Menghitung nilai nf-nc berdasarkan teori dan membandingkannya


dengan hasil percobaan
Persamaan untuk mencari nilai nf-nc hitung yaitu,
n f nc Ad 3 Bd 2 Cd D

Harga-harga A, B, C, dan D dapat dilihat dalam tabel berikut :


Koefisien Minyak
3,9E-07
A
-3E-05
B
8,4E-05
C
0,0435
D
Tabel Nilai koefisien A, B, C, dan D pada minyak

Contoh : Untuk data ke-1, nd = 1,50; d = 45

n f nc (0,000000385)(453 ) (0,000034480)(452 ) (0,000083965)(45)


(0,043503590)
n f n c 0,0125431

Memakai cara yang sama maka didapat data seperti pada tabel dibawah ini:
No

nf - nc lit

1
45
0,0124
2
44
0,0135
3
46
0,0125
4
45
0,0124
5
46
0,0125
6
46
0,0124
7
45
0,0126
8
45
0,0128
9
45
0,0128
10
46
0,0124
Tabel perhitungan nf-nc hitung

nf-nc
hitung
0,0125431
0,0132406
0,0118807
0,0125431
0,0118807
0,0118807
0,0125431
0,0125431
0,0125431
0,0118807

B. Air Suling
1. Menghitung nilai terbaik indeks bias Indeks bias air suling pada
berbagai suhu.
Persamaan untuk mencari d (drummer) terbaik yaitu,
n

d i 1
n bias terbaik yaitu,
Persamaan untuk mencari indeks
n

nd

nd
n
Persamaan untuk mencari suhu refraktometer
terbaik yaitu,
i 1

TR i 1
Persamaan untuk mencari nf-ncnterbaik yaitu,
n

nf nc

nf nc i 1
Contoh : Untuk data-1 T air = 25oC n

53 53 53 159

53
3
3
1,33 1,33 1,33 3,99
nd

1,33
3
3
26 27 28 81
Tref
27
3
3
d

nf nc

0,0066 0,0066 0,0066 0,0198

0,0066
3
3

Data hasil drummer (d), nd, T refraktometer dan nf-nc diambil sebanyak
tiga kali dan dirata-ratakan setiap kenaikan 5C. Maka didapatkan
No

Nd

T air

T
nf-nc
refrak
1
53
1,33
25
27
0,0066
2
56
1,331
30
31,6667 0,00593
3
59,3333 1,33033
35
38
0,00523
4
54,6667 1,32967
40
42
0,0062
5
54
1,32967
45
46,6667 0,0064
6
59,3333 1,328
50
51,3333 0,0051
7
56
1,32767
55
55,6667 0,00593
8
55
1,327
60
60
0,0057
Tabel Perhitungan nilai rata-rata data percobaan

2. Membuat grafik indeks bias air terhadap suhu dan persamaan


grafiknya. dari prosedur b .
Persamaan untuk mencari nilai at dan bt yaitu,
N

at

i 1

N ( XiYi) Xi Yi
i 1

i 1
2

i 1

i 1

Xi Yi Xi ( XiYi)
2

bt

i 1

i 1

N Xi Xi
N Xi 2 Xi
i 1
i 1
sebelumnya

i 1 terbaik
1
idan
Dari pengolahan
didapatkan nilai nd
T air sebagai
N

berikut,
No
1
2
3
4
5
6
7
8

T air =
X
25
30
35
40
45
50
55
60
340

nd = Y

X2

XY

1,33
1,331
1,33033
1,32967
1,32967
1,328
1,32767
1,327
10,6333

625
900
1225
1600
2025
2500
3025
3600
15500

33,25
39,93
46,5617
53,1867
59,835
66,4
73,0217
79,62
451,805

Tabel Perhitungan nilai X2 dan XY untuk metode least square

Sehingga didapatkan nilai at dan bt


at

i 1

i 1

i 1
2

N ( XiYi) Xi Yi

N
N

2
N
N Xi
N NXi
Xi 2 i 1Yi Xii 1 (XiYi)

(8)(451,805) (340)(10,6333)
0,0001
(8)(15500) (340) 2

bt

i 1

i 1

i 1

i 1

N Xi 2 Xi
i 1
i 1
N

(15540)(10,6333) (340)(451,805)
1,3337
(8)(15500) (340) 2

3. Menghitung indeks bias koreksi beserta KSRnya

Persamaan untuk mencari indeks bias koreksi yaitu,


n dkor n d R 10 5

0,04525

R 29 ,5 D(T1 20 ) 0,094
n d (T2 20 )d
D

Contoh
Untuk data ke-1, nd = 1,33
d = 53
D = 0,046535811
T1=T air=25oC
T2= Trefrak = 27oC

0,04525

R 29,5(0,046535811)(25 20) 0,094


1,33(27 20)45 -5,608
0,046535811

5
n dkor n d R 10
n dkor 1,33 (-5,608 ) 10 5
n dkor 1,32994

Menghitung kesalahan relatif indeks bias air:

KSR

ndkor nlit
100%
nlit

KSR

1,32994 1,33
100%
1,33

KSR 0,00422%
KP 100% KSR
KP 99,99578%
Memakai cara yang sama maka didapat data seperti dibawah ini:
No
Nd
D
T air T refrak
R
1
1,33
53
25
27
-5,608
2
1,331
56
30
31,6667
-8,2966
3
1,33
59,3333
35
38
-15,345
4
1,33
54,6667
40
42
-12,937
5
1,33
54
45
46,6667
-14,044
6
1,328 59,3333
50
51,3333
-20,965
7
1,328
56
55
55,6667
-18,659
8
1,327
55
60
60
-18,425
Perhitungan nd koreksi air suling beserta KSR dan KP

nd kor
1,32994
1,33092
1,33018
1,32954
1,32953
1,32779
1,32748
1,32682

KSR (%)
0,00422
0,06895
0,01353
0,03479
0,03562
0,16614
0,18947
0,23942

4. Menghitung nilai nf-nc berdasarkan teori dan membandingkannya


dengan hasil percobaan
Persamaan untuk mencari nilai nf-nc hitung yaitu,

n f nc Ad 3 Bd 2 Cd D
Harga-harga A, B, C, dan D dapat dilihat dalam tabel berikut :
koefisien
Air
4,3E-07
A
-4E-05
B
C

8,8E-05

0,04654
D
Tabel Nilai koefisien A, B, C dan D untuk air suling

KP (%)
99,99578
99,93105
99,98647
99,96521
99,96438
99,83386
99,81053
99,76058

Contoh : Untuk data ke-1, nd = 1,33; d = 53

n f nc (0,000000431
)(53) 3 ) (0,000038789)(532 ) (0,000087686)(53)
(0,046535811
n f nc 0,00639085 5

Memakai cara yang sama maka didapat data seperti pada tabel dibawah ini:
T air
D
nf - nc lit nf-nc hitung
25
53
0,0066
0,00639086
30
56
0,00593
0,00549442
35
59,3333 0,00523
0,00521115
40
54,6667
0,0062
0,00582228
45
54
0,0064
0,00602912
50
59,3333
0,0051
0,00521115
55
56
0,00593
0,00549442
60
55
0,0057
0,00572944
Tabel Perhitungan nf-nc hitung

Analisa Data
Pada praktikum kali ini, hasil yang bisa dilihat adalah pada KSR nya, dimana
data yang didapatkan memiliki KSR yang sangat kecil. Yang menjadi masalah adalah
pengaruh suhu terhadap indeks bias. Secara logika seharusnya suhu berpengaruh
terhadap indeks bias. Karena suhu akan membuat suatu zat atau medium menjadi
memuai. Tetapi dalam percobaan kali ini, suhu tidak berpengaruh begitu signifikan.
Biarpun semakin besar suhunya, perubahan nf-nc yang dalam hal ini adalah indeks bias
tidak begitu jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu yang sangat
lambat, sehingga perubahan pada cairan yang akan di lihat indeks biasnya pun berubah
secara lambat.
Hal yang bisa mempengaruhi praktikan pun terletak pada pembacaan skala
drumer pada kertas grafik nf-nc. Dikarenakan grafik tersebut sanagat kecil dan sedikit
susah untuk membacanya

Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan. Telah dapat mengukur indeks bias cairan
dimana
Indeks bias minyak terbaik : 1,502
Indeks bias air suling terbaik : 1,327 1,331 (tergantung perubahan suhu)
Pengaruh suhu terhadap indeks bias seharusnya berpengaruh, dikarenakan suhu
yang meningkat menyebabkan suatu zat memui. Otomatis jika suatu zat memuia maka
padatan atau molekul molekul dalam zat tersebut akan merenggang yang
meneybabkan perubahan indeks bias. Tetapi sampai saat ini, belum ada percobaan yang
membuktikan bahwa suhu benar-benar berpengaruh pada indeks bias.
Dispersi nf nc dapat terlihat dengan diagram yang sebelumnya telah disediakan
dalam praktikum. Tetapi nf nc pun dapat dicari dengan menggunakan rumus empiris
(Air)

nf - nc = 4.10-7d3 3,7.10-5 d2 + 9.10-5 d + 0,0465

(Minyak)

nf - nc = 4.10-7d3 3,5.10-5 d2 + 8.10-5 d + 0,0435

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli,Douglas C.2001. Fisika Jilid 2. Erlangga : Jakarta


Halliday Resnick. 1988. Fisika Untuk Universitas Jilid 2. Jakarta Pusat: Erlangga.
Sears Zemansky. 1987. Fisika Untuk Universitas Jilid 2: OPTIKA. Jakarta : BinaCipta.