Anda di halaman 1dari 4

MUSRENBANG REGIONAL

WILAYAH SULAWESI
halaman 2

TALKSHOW TATA RUANG


DI RRI PRO 3 FM
halaman 4

Peringatan Hari Tata Ruang yang jatuh pada 8 November.... halaman 3

RESENSI BUKU
SEJARAH PENATAAN RUANG
DI INDONESIA
halaman 4

NEWSLETTER

TATA RUANG PERTANAHAN


MEDIA INFORMASI BIDANG TATA RUANG DAN PERTANAHAN

EDISI 11 / DESEMBER 2014

KILAS BALIK: DINAMIKA ISU TATA RUANG DAN PERTANAHAN

Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia


satunya oleh Jepang. Mereka ingin ikut
membangun infrastrukturnya.

Ir. Oswar Mungkasa,


selakuSumber:
Direktur Tata
Ruang dan
Ilustrasi
Poros Maritim.
economy.okezone.com
Pertanahan (kiri), memimpin jalannya rapat pada sosialisasi

Menghadirkan kembali negara untuk


melindungi
segenap
bangsa
dan
memberikan rasa aman pada seluruh
warga negara merupakan esensi dari
Nawacita pertama yang menjadi prioritas
Presiden Jokowi. Salah satunya adalah
membangun kedaulatan maritim dengan
membentuk konsep Poros Maritim Dunia.
Presiden Jokowi ingin mengembalikan
kejayaan bahari Nusantara, menjaga
stabilitas keamanan kawasan, serta
membuka peluang kerja sama regional
dan internasional bagi kemakmuran
rakyat. Jokowi menegaskan bahwa
Indonesia akan menjadi Poros Maritim
Dunia, kekuatan yang mengarungi dua
samudra, sebagai bangsa bahari yang
sejahtera dan berwibawa.
Gagasan Indonesia membentuk Poros
Maritim Dunia dinilai mendapat tanggapan
positif. Ketertarikan itu ditunjukkan salah

Pada bulan November, disebutkan


bahwa ada tiga desa perbatasan diklaim
menjadi wilayah Malasyia. Hal ini tentu
menjadi salah satu potensi masalah yang
harus segera dituntaskan. Menteri Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi, Marwan Jafar menyatakan
desa di wilayah perbatasan Indonesia
dengan negara lain menjadi sasaran
prioritas pembangunan.
Kabar lain yang mengemuka pada bulan
ini yaitu pekerjaan perencanaan tata
ruang di Indonesia harus bersertifikat
perencana dari Ikatan Ahli Perencana
(IAP) dan Kementerian Agraria dan
Tata Ruang. Dengan demikian produkproduk rencana tata ruang di Indonesia
berkualitas dan berintegritas sehingga
dapat tercipta ruang hidup yang nyaman,
aman dan produktif. Hal tersebut dibahas
dalam dialog Menteri Agraria dan Tata
Ruang dengan IAP di Jakarta, pada tanggal
20 November 2014. Menteri Agraria dan
Tata Ruang (ATR) Ferry Mursyidan Baldan,
menyampaikan kesiapan Kementerian
ATR untuk bekerjasama dengan Badan
Sertifikasi Perencana IAP untuk sertifikasi
perencana dalam kegiatan perencanaan
di wilayah Kementeriannya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala


Badan Pertanahan Nasional (BPN) Ferry
Mursyidan Baldan menyatakan bahwa
Kementerian ATR ingin memastikan
bahwa tanah dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk rakyat. Untuk mendukung
hal itu, pemerintah tidak akan ragu-ragu
mencabut sertifikat tanah yang dipegang
oleh siapa pun jika pemanfaatan
lahannya justru merugikan masyarakat
banyak. Pemerintah juga siap menghadapi
berbagai langkah yang mungkin dilakukan
pemegang hak sebelumnya, termasuk jika
langkah hukum harus dilakukan.
Pembentukan bank tanah kembali
diwacanakan. Kebijakan ini akan diambil
oleh pemerintah untuk menjamin
ketersediaan
lahan
pembangunan
infrastruktur pada 2015-2019. Untuk
itu, kajian mendalam tentang jenis
peruntukan infrastruktur dan mekanisme
terus dilakukan. Bank tanah berkaitan
dengan jaminan ketersediaan lahan
pembangunan.
Oleh
karena
itu,
pemerintah harus mengkaji secara
mendalam luasan lahan yang dibutuhkan
untuk setiap jenis infrastruktur. Selain
itu, kebijakan bank tanah harus memiliki
payung hukum, mekanisme distribusi/
pemanfaatan, dan mekanisme peruntukan
yang jelas.

(dari berbagai sumber)

REDAKSI:
| Penanggung Jawab : Direktur Tata Ruang dan Pertanahan |
| Tim Redaksi : Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan | Editor : Astri Yulianti, Santi Yulianti, Gina Puspitasari | Desain Tata Letak : Indra Ade Saputra dan Astri Yulianti |

POTRET KEGIATAN:

Geopark dan Tata Ruang

Ir. Oswar Mungkasa, selaku Direktur Tata Ruang dan Pertanahan (kiri), memimpin jalannya rapat pada sosialisasi konsep
Geopark, di Bappenas, (12/11). Sumber: Dokumentasi TRP

Jakarta
[12/11].
Badan
Geologi,
Kementerian ESDM mensosialisasikan
konsep Geopark di dalam forum Badan
Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRN). Konsep ini menjadi salah satu
usulan pengembangan pemanfaatan
ruang di dalam penataan ruang nasional.
Melalui rapat ini diharapkan seluruh
anggota BKPRN memahami lebih dalam
konsep geopark dan mampu menyikapi
usulan pemanfaatan ruang yang semakin
beragam. Narasumber yang dihadirkan,
yaitu Penyelidik Bumi Utama, Badan
Geologi, Oki Oktariadi, dan dihadiri oleh
seluruh anggota BKPRN.
Oki menyampaikan bahwa Geopark
adalah sebuah daerah dengan batas
yang sudah ditetapkan dengan jelas
dan memiliki kawasan permukaan

yang cukup luas untuk pembangunan


ekonomi lokal. Geopark tidak hanya
berhubungan
dengan
keragaman
geologi, tapi juga arkeologi dan sosial
budaya masyarakat. Saat ini, Badan
Geologi telah menginventarisasi 180
lokasi keragaman geologi, dan 36 lokasi
di antaranya telah diverifikasi memiliki
nilai warisan geologi (heritage).
Di Sumatera, terdapat kaldera danau
Toba, lut tawar, granit Belitung, dan
danau vulkanik Gunung Tujuh. Di Jawa,
terdapat karst Sawarna, cuang taneuh
Pangandaran, dan vulcano Krakatau. Di
Kalimantan, terdapat delta Mahakam
dan danau Sentalu. Di Bali Nusa
Tenggara, terdapat kaldera Batur dan
gunung Rinjani. Di Sulawesi terdapat
tower karst Maros dan danau Tondano,

dan di Maluku, Papua, terdapat Raja


Ampat.
Pada
kesempatan
tersebut,
Oki
menyampaikan pula bahwa tujuan
akhir dari pengembangan geopark
bukan hanya memuliakan bumi dan
menyejahterakan masyarakat, tapi juga
menegakkan jati diri sebagai bangsa.
Dengan adanya geopark diharapkan
mampu
menimbulkan
kesadaran
masyarakat
akan
lingkungannya,
melakukan perlindungan, konservasi,
hingga memberikan kesejahteraan
pada masyarakat dan menimbulkan
share
value
(tanggungjawab
bersama dalam mengurus bumi).
Dalam pengembangannya, geopark
membutuhkan
keterlibatan
dari
berbagai pemangku kepentingan.
Dari sisi tata ruang, jika geopark ini
menyangkut kepentingan nasional,
maka
untuk
penguatan
perlu
pengaturan di dalam RTRWN dan
KSN di tingkat nasional. Untuk itu,
materi geopark sebaiknya menjadi
masukan
penyempurnaan
RTRWN
yang sedang dalam revisi. Dalam
operasionalisasinya perlu pengaturan
di tingkat daerah, misal masuk sebagai
Kawasan Strategis Provinsi dan Kawasan
Strategis Kabupaten/Kota. Namun dalam
pelaksanaannya, tantangan yang akan
dihadapi bukan dalam penetapan saja,
tapi dalam pemanfaatannya. [GP]

Musrenbang Regional Wilayah Sulawesi


Palu, (6/12). Dalam rangka penyusunan
Rencana
Pembangunan
Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015 - 2019,
Kementerian Perencanaan Pembangunan
Nasional/Bappenas menyelenggarakan
Musyawarah Perencanaan Pembangunan
(Musrenbang) Regional guna memperoleh
masukan dalam rangka penyempurnaan
rancangan awal Rancangan RPJMN 2015
-2019.
Penyelenggaraan kegiatan Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Regional
RPJMN 2015 - 2019 di Tahun 2014
terbagi dalam beberapa wilayah yaitu
Wilayah Jawa - Bali serta Kepulauan Nusa
Tenggara, Wilayah Kalimantan, Wilayah
Sulawesi, Wilayah Kepulauan Maluku dan
Papua.

Masyarakat Sipil, Asosiasi Pengusaha


Daerah, Muspida, dan Tokoh Masyarakat
setempat.
Acara terbagi dalam sesi pagi dan sesi
siang. Secara umum, sesi pagi dimulai
dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan
Indonesia Raya, dilanjutkan dengan
Laporan penyelenggaraan Musrenbang
Regional Rancangan RPJMN 2015 - 2019
yang disampaikan oleh Bapak Deputi
Pengembangan Regional dan Otonomi
Daerah, Bappenas, Dr.Ir. Imron Bulkin.
Selanjutnya, Gubernur Sulawesi Tengah
memberikan sambutan selamat datang.
Berikutnya,
diselenggarakan
dialog
Menteri PPN/Kepala Bapenas dengan
seluruh peserta dan terakhir dilakukan
konferensi pers dengan para wartawan.

Menteri
PPN/Kepala
Bappenas,
Andrinof Chaniago, berharap Wilayah
Sulawesi dapat meningkatkan kualitas
pembangunannya serta menjadi lokomotif
untuk pengembangan wilayah timur
Indonesia. Prioritas pembangunan wilayah
Sulawesi terutama menekankan pada
pembangunan pangan dan pertanian yang
dapat menjadi pemasok dan penopang
pangan nasional. Sejalan dengan visi
misi Presiden, maka pembangunan
kemaritiman perlu diperhaitkan. Dengan
kondisi alam yang sangat baik, industri
kreatif dan pariwisata memiliki potensi
yang tinggi untuk dikembangkan. Lebih
lanjut, dalam perspektif kewilayahan,
percepatan kemajuan di perdesaan sudah
menjadi komitmen bersama. [SY/GP]

Pelaksanaan
Musrenbang
Regional
RPJMN 2015 - 2019 yang pertama
dilaksanakan di ruang Nagana, Kantor
Bappeda Propinsi Sulawesi Tengah, (6/12).
Acara dihadiri oleh Menteri Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas,
Andrinof Chaniago; Gubernur Sulawesi
Tengah, Longki Djanggolah; serta para
pejabat eselon I dan II Kementerian
PPN/Bappenas,
perwakilan
pejabat
dari Kementerian PU dan Perumahan
Rakyat serta Kementerian Kelautan dan
Perikanan dan para narasumber dari
universitas
Hasanuddin,
Universitas
Gorontalo, Universitas Haluoleo, dan
Universitas Palu.

Adapun peserta yang hadir berasal dari


para pejabat di lingkungan Bappeda
Provinsi dan Satuan Kerja Perangkat
Daerah yang terkait dengan prioritas
pembangunan. Selain itu hadir pula
para Bupati dan Walikota di Provinsi
Sulawesi Tengah, perwakilan Organisasi

Para Pejabat Eselon I dan Eselon II Kementerian PPN/Bappenas berfoto bersama setelah kegiatan Musrenbang Regional wilayah Sulawesi
selesai, di Palu. (6/12). Sumber: Dokumentasi TRP

HARI TATA RUANG NASIONAL 2014


Penataan Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan

WAWASAN

nusantara yang aman, nyaman, produktif


dan berkelanjutan.
Pada Tahun 2014, tema yang diusung
adalah Penataan Ruang yang Partisipatif
dan Berkeadilan. Puncak Peringatan
Hari Tata Ruang Nasional 2014
diselenggarakan oleh Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional (BKPRN)
pada Minggu (09/11) yang bertempat
di Panggung Ramayana, Desa Wisata,
Komplek Taman Mini Indonesia Indah
(TMII).

Logo Peringatan Hari Tata Ruang Nasional 2014


pengembangan tata ruang daerah dan
Peringatan Hari Tata Ruang yang jatuh pada
kawasan tertentu, serta mengendalikan
8 November telah dilakukan di Indonesia
pemanfaatan ruang tersebut.
sejak 2008 dengan mengusung tema
yang terkait permasalahan-permasalahan
Tim ini berprestasi melahirkan UU
penataan ruang. Aspek penataan ruang di
No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Indonesia telah memiliki piranti regulasi
Ruang. Kajian konsep hukum tata
yang memadai dengan adanya UU No.
ruang Indonesia secara menyeluruh
26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
mengandung 4 (empat) konsep dasar,
Melalui peraturan tersebut, pemerintah
yaitu: (i) Ruang sebagai tempat
berupaya mendorong pemanfaatan ruang
sumber daya alam (kekayaan alam);
di Indonesia sesuai dengan kapasitas
(ii) Ruang sebagai konsep kewilayahan
daya dukungnya.
(yurisdiksi); (iii) Ruang sebagai sistem
Sejarah Singkat Penataan Ruang
Pada tahun 1960-an perencanaan
pembangunan masih dilandasi cara
berpikir dengan pendekatan daratan
yang dua dimensi. Pada tahun 1980an
mulai berkembang pendekatan spasial
tiga dimensi, yaitu mencakup darat,
laut, angkasa. Selain itu, pendekatan
yang digunakan juga telah bersifat
multi
dan
inter-disiplin
meliputi
ekonomi, lingkungan hidup, hankam,
serta terbangun atas berbagai faktor
yang inter-dependensi (memperhatikan
keterkaitan hulu-hilir, rural-urban, centerhinterland, dan lain-lain) dengan aspek
komprehensif-integral. Perubahan cara
pandang dari dua dimensi ke tiga dimensi
ini membutuhkan waktu yang panjang.
Pada Tahun 1989 dibentuklah Tim
Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang
Nasional (TKPTRN) berdasarkan Keppres
No. 57 Tahun 1989. Tim Koordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional
(atau dikenal sebagai Tim Tata Ruang
Nasional) ini dibentuk dengan tugas
antara lain untuk merumuskan kebijakan
dan mengoordinasikan langkah-langkah
penanganan
masalah
pemanfaatan
ruang serta menyusun strategi nasional
pengembangan
pola
tata
ruang
(SNPPTR)
secara
terpadu
melalui
pendekatan wilayah, sebagai dasar bagi

pendukung kehidupan (ekosistem); dan


(iv) Ruang sebagai perwujudan hak-hak
yang perwujudannya dilakukan oleh
sistem kelembagaan (institusi). Seiring
berkembangnya berbagai aspek dan
kondisi politik dan ekonomi Indonesia,
UU tersebut dirasa belum mengakomodir
beberapa hal sehingga dilakukan revisi
UU penataan ruang, yang kemudian
disahkan menjadi UU No. 26 Tahun 2007.
Dengan keluarnya UU tersebut, Tim Tata
Ruang yang sebelumnya dinamakan
BKTRN (2000) berubah menjadi Badan
Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRN) melalui Keppres No. 4 Tahun
2009.
Penataan Ruang Kini

Pada Tahun 2013, Presiden Republik


Indonesia menetapkan 8 November
sebagai Hari Tata Ruang Nasional melalui
Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun
2013 tentang Hari Tata Ruang Nasional.
Dasar pertimbangan terbitnya keppres ini
adalah wujud komitmen formal negara
untuk secara terus menerus meningkatkan
kesadaran dan peran serta masyarakat
di bidang penataan ruang. Selain itu,
peringatan ini juga menjadi momentum
meningkatkan keterpaduan antarwilayah,
antarsektor
dan
antarpemangku
kepentingan dalam penyelenggaraan
penataan ruang untuk mewujudkan ruang

LINK TERKAIT
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan,
Bappenas
Portal Tata Ruang dan Pertanahan
Sekretariat BKPRN

Deklarasi Pelopor Penataan Ruang Provinsi NTT di Komplek TMII,


Jakarta (9/11). Sumber: Dokumentasi TRP

Pada kegiatan tersebut, dilaksanakan pula


Deklarasi Pelopor Penataan Ruang yang
dibacakan oleh Pelopor Tata Ruang dari
Provinsi NTT. Muatan Deklarasi Pelopor
yang dibacakan meliputi beberapa hal
sebagai berikut: (i) Pelopor bersamasama Pemerintah untuk ikut serta
menyelenggarakan penataan ruang untuk
mewujudkan tata ruang yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan; (ii)
Pelopor turut berperan aktif melakukan
kegiatan yang cerdas, inovatif dan kreatif
untuk meningkatkan kualitas tata ruang
pada lingkungannya; (iii) Pelopor turut
menyebarluaskan penataan ruang kepada
generasi muda lainnya agar bersamasama ikut menata ruang bagi semuanya;
dan (iv) Pelopor mendukung program
penataan ruang yang partisipatif dan
berkeadilan untuk harmonisasi ruang
wilayah nusantara untuk kehidupan yang
lebih baik.
Adapun beberapa rangkaian kegiatan
dalam rangka memperingati Hari Tata
Ruang Nasional 2014 adalah sebagai
berikut: public lecture Urban Heritage
Conservation, temu kader pelopor Tata
Ruang Indonesia, malam apresiasi Kota
Hijau, festival Kota Hijau di beberapa
daerah, talkshow mengenai Penataan
Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan,
dan lain sebagainya. [OC/AY]

Potret Kegiatan TRP

Geopark dan Tata Ruang


Musrenbang Regional Wilayah Sulawesi
Talkshow Tata Ruang di RRI PRO3 FM
3

Penataan Ruang untuk Semua


Talkshow Hari Tata Ruang Nasional 2014: Penataan Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan,

Ir. Oswar Mungkasa, Direktur Tata Ruang dan Pertanahan (kiri), bersama Dedy
Permadi, Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah I (kanan).
Sumber: Dokumentasi TRP

Penataan ruang untuk semua, dari kita untuk


kita dan oleh kita. Jika ada yang melanggar
tata ruang, maka secara tidak langsung
melanggar kesepakatan yang telah menjadi
komitmen bersama. Demikian disampaikan
oleh Ir. Oswar Mungkasa, MURP, Direktur
Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian
PPN/Bappenas pada talkshow Penataan
Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan,
di RRI Pro3 FM. Talkshow yang diadakan
oleh Dirjen Penataan Ruang, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

bekerjasama dengan RRI Jakarta Pro 3 FM


ini merupakan rangkaian dari kegiatan
peringatan Hari Tata Ruang Nasional
2014, sekaligus merupakan bentuk dari
sosialisasi kebijakan-kebijakan terkait
Penataan Ruang. Pada talkshow di RRI
Pro3 FM tersebut menghadirkan dua
narasumber, yakni: Dedy Permadi, Direktur
Pembinaan Penataan Ruang Daerah
wilayah I, Kementerian Pekerjaan Umum
dan dan Perumahan Rakyat, dan Ir. Oswar
Mungkasa, Direktur Tata Ruang dan
Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas.
Oswar juga menjelaskan bahwa Tata
Ruang meliputi pemanfaatan dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Untuk
pengendalian pemanfaatan ruang sudah
ada PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil)
yang memiliki tugas untuk mengurusi
tindak pelanggaran pemanfaatan ruang.
Namun, PPNS yang baru tersedia hanya
sejumlah 500 orang di seluruh Indonesia,
sementara kebutuhan akan PPNS sekitar
2000 orang, hal ini pun terkendala

mekanisme rekrutmen karena setiap


tahun hanya mampu dilakukan rekrutmen
sejumlah maksimal 200 orang. Tata
Ruang telah memiliki dasar hukum UU 26
Tahun 2007, namun saat ini ada dua PR
yang harus dikerjakan, yakni penyusunan
regulasi yang terkait dengan ruang, yaitu
RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional
dan PP Tata Ruang Laut, tandasnya.
Dedy mengungkapkan bahwa Pemerintah
Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/
Kota memiliki kewajiban untuk melakukan
sosialisasi RTRW kepada masyarakat
di pelosok daerahnya masing-masing.
Lebih lanjut, masyarakat dihimbau untuk
berhati-hati jika berniat membeli tanah
di daerahnya. Bagi masyarakat yang
akan membeli tanah, disarankan untuk
mengecek RTRW di daerah masingmasing, sehingga tanah yang nanti
dikelola, peruntukkannya disesuaikan
dengan RTRW yang telah ada, ungkapnya.
[AY/ZH]

RESENSI BUKU:

SEJARAH PENATAAN RUANG DI


INDONESIA
Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 merupakan cikal bakal penataan ruang yang berkembang
di masa sekarang ini. Tata ruang yang dijelaskan pada Undang-Undang tersebut merupakan
wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik yang direncanakan maupun tidak.
Namun demikian, pada perkembangannya, Undang-Undang ini kemudian direvisi menjadi
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007.
Buku ini menjelaskan mengenai sejarah
penataan ruang mulai dari masa
pendudukan Belanda yang terdiri atas
beberapa bagian seperti: masa kolonial
sampai 1950-an, era 1950-an hingga masa
awal orde baru, selama masa orde baru,
dan selama masa reformasi. Perkembangan
penataan ruang di Indonesia dijelaskan
berdasarkan kurun waktu yang menjadi
tonggak sejarah. Pada buku ini pula
dibahas mengenai perkembangan sumber
daya manusia, kelembagaan, perundangan,
keterkaitan
dengan
pembangunan
perkotaan dan wilayah serta beberapa
kasus daerah di propinsi, kota, dan
kabupaten. Selain itu, dibahas pula secara

singkat mengenai perkembangan asosiasi


profesi maupun teori dan praktek dalam
penataan ruang. Dari sisi pembangunan
perkotaan, penjelasan diawali dengan
pendekatan
aspek
masyarakat,
pendekatan ruang beserta implikasi dan
prospeknya, perumahan dan penataan
ruang. Dari sisi pembangunan wilayah,
secara khusus dibahas dari sisi sektoral
seperti transportasi, lingkungan hidup
dan wilayah sungai. Disebutkan pula
dalam buku ini bahwa dinamika ekonomi
ternyata turut ikut serta merangsang
perkembangan
wilayah,
seperti
perkembangan kota yang pesat akibat
adanya perkembangan industri. [AY]

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami:

DIREKTORAT TATA RUANG DAN


PERTANAHAN,
BAPPENAS
Jalan Taman Suropati No. 2A
Gedung Madiun Lt. 3

T : 021 392 7412


F : 021 392 6601
E : trp@bappenas.go.id
W: www.trp.or.id
Portal : www.tataruangpertanahan.com

Judul Buku:

SEJARAH PENATAAN RUANG


INDONESIA 1948 - 2000

Penyusun: Dirjen Penataan


Ruang
Penerbit : Dirjen Penataan Ruang
Jumlah halaman: 574