Anda di halaman 1dari 9

BAB III

BESARAN DOSIS RADIASI

Yang dimaksud dengan dosis radiasi adalah jumlah radiasi yang terdapat dalam
medan radiasi atau jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh materi yang
dilaluinya. Besaran dosis radiasi dengan menyatakan jumlah radiasi yang terdapat dalam
medan radiasi antara lain paparan, fluks, dan intensitas, sedangkan Besaran dosis radiasi
dengan menyatakan jumlah energi radiasi yang ttau diterima oleh materi yang dilaluinya
adalah dosis serap . Dengan modifikasi dosis serap, dalam bidang keselamatan radiasi
,dosis radiasi dinyatakan dengan dosis ekivalen.

A. Besaran Dosis radiasi


1. Fluks
Fluks radiasi atau intensitas radiasi adalah jumlah radiasi yang bus satu
satuan luas per satuan waktu. Satuan yang sering digunakan (radiasi cm-2 s-1) Untuk
sumber radiasi yang isotropic, dan serapan medium Kan, maka hubungan kuat
sumber (S) dengan fluks radiasi (I) pada jarak r dituliskan sebagai berikut:

Berdasarkan persamaan (3-1), terlihat bahwa fluks radiasi berbanding terbalik


dengan kuadrat jarak, maka dapat diperoleh hubungan fluks radiasi pada r1 dan r2
berikut:

2. Paparan
Paparan dengan satuan roentgen (R) menyatakan jumlah radiasi gama
gelombang elektromagnetik dalam medan radiasi dengan jumlah muatan sejenis
yang ditimbulkan per kg udara kering. Satuan mi hanya untuk radiasi berupa
gelombang elektromagnetik, antara lain radiasi gama dan sinar-x. Menurut SI satuan
besaran paparan adalah C/kg udara, yang mana 1R = 2,58 x 10-4 C/kg.
Untuk sumber radiasi berupa radionukilda, maka didifinisikan suatu letapan
pancaran spesifik radiasi gama (F), yaitu laju paparan yang pada jarak 1 meter dan
sumber radionuklida dengan aktivitas A dan berbentuk titik, maka

Universitas Gadjah Mada

Nilai besaran fluks akan sebanding dengan besaran laju paparan, maka
berdasakan persamaan (3-2), dapat ditulis persamaan laju paparan pada jarak r,
serta hubungan laju paparan pada jarak r2 dengan laju paparan pada jarak r1, berikut

Pancaran spesifik gama tersebut dapat dibaca pada Tabel 3.1.


Tabel 3.1 Pancaran spesifik radiasi gama
No

Nuklida

(R jam -1 Ci -1)

Co 60

1,32

I 131

0,22

Cs 137

0,33

Ir 192

0,48

Sr 85

0,30

Jika data pancaran spesifik gama tidak diperoleh, tetapan gama dapat
dihitung dengan persamaan (3-5), untuk energi radiasi 0,1 - 10 MeV dengan tetapan
serapan energi oleh udara en= 3,5 x 10-9 m-1, dan udara 1,293 kg m-3.

dengan n fraksi pelepasan foton dengan energi E.


Dalam bidang proteksi radiasi tetapan F sering menggunakan satuan dosis
radiasi yang lain, dan sering disebut tetapan laju dosis radionuklida, Misalnya dengan
satuan Sv m2jam-1 GBq-1.

3. Dosis scrap
Dosis serap dengan satuan Gray (Gy) menyatakan jumlah energi radiasi yang
diserap atau diterima oldi materi yang dilaluinya dengan energi (J) yang diserap per
kg materi. Satuan dosis serap yang lain adalah rad atau 100 erg/gram. Hubungan
kedua satuan tersebut adalah1 Gy = 100 rad. Hubungan besaran paparan dengan
dosis serap dalam udara 1 C/kg = 34 Gy, sehingga hubungan besaran dosis serap
untuk materi tertentu (m), dapat dituliskan dalam persamaan berikut:

Universitas Gadjah Mada

4. Dosis ekivalen
Dalam bidang keselamatan manusia dinyatakan dengan dosis equivalent
man). Menurut SI satuan hubungannya 1 Sv = 100 rem. Dari sudut pandang biologi,
efek biologi juga tergantung pada distribusi spasial energi yang diserap di sepanjang
jejak radiasi, sehingga untuk energi yang radiasi, dosis radiasi yang diterima oleh
ekivalen dengan satuan rem (roungent dosis ekivalen adalah Sievert (Sv), yang sama
tetapi jenis radiasi yang berbeda dapat mengakibatkan efek biologi yang Untuk
maksud ini didifinisikan tetapan yang disebut dengan RBE biological effectivness),
yaitu perbandingan radiasi dan pesawat sinar-x yang menghasilkan efek biologi
tertentu dengan dosis radiasi yang dihasilkan efek biologi yang sama. Berdasarkan
tetapan tersebut dapat ditulis [gall dosis ekivalen dengan dosis serap berikut:
H(rem) = D(rad)x RBE

(3-7)

Tetapan RBE berkaitan dengan efek biologi tertentu sehingga lebih pada
radiology biologi. Dalam bidang Fisika kesehatan didifinisikan yang disebut dengan
factor kualitas (QF), yang tergantung pada besaran energi linear(Linear Energy
Transfer) pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Hubungan Faktor kualitas dengan alih energi linear
Alih Energi Linear
QF
(keV / micron dalam air)
< 3,5
1
3,5 7,0
12
7,0 23
25
23 53
5 10
53 175
10 20
Pada Tabel 3-2 dirinci factor kualitas untuk berbagai jenis radiasi. urut ICRP
60 tahun 1990, tetapan faktor kualitas tersebut disebut sebagai bobot radiasi (WR).
Hubungan besaran dosis ekivalen dengan dosis serap, selanjutnya dapat ditulis
sebagai berikut :

Universitas Gadjah Mada

Tabel 3.2. Hubungan Faktor Kualitas dengan jenis radiasi


Radiasi
QF
Sinar gama, dan radium
dalam keseimbangan, difilter
dengan 0,5 mm platinum
I
Sinar-x
1
Elektron, beta E> 0,003 MeV 1
Elektron, beta E<0,03
1,7
Netron termal
2
Netron cepat
10
Proton
10
AIfa
20
Ion berat
20
(Cember, 1988)

Masing-masing jaringan tubuh manusia mempunyai kepetaan yang berbeda


satu sama lain, oleh karenanya dosis masing-masing organ di bobot dengan factor
bobot organ (WT), yang menunjukkan tingkat kepekaan organ terhadap dosis radiasi.
Dosis ekivalen yang telah dibobot dengan factor bobot organ disebut dosis ekivalen
effektif (Heff)

Tabel 3.3 Faktor Bobot Organ


Organ

Faktor Bobot Organ

Gonad

0,25

Dada

0,15

Sumsum tulang merah

0,12

Paru-paru

0,12

Kelenjar gondok

0,03

Tulang (permukaan)

0,03

Lainnya

0,30

(BAPETEN, 1999)

Universitas Gadjah Mada

Dalam memperkirakan konstribusi dan lainnya pada Tabel 3-3, dosis rata-rata
dievaluasi untuk masing-masing dan 5 organ atau jaringan dan lainnya itu yang
terkena penyinaran paling tinggi. Tidak termasuk lensa mata, kulit dan tangan,
lengan, kaki dan tungkai. Faktor bobot 0,06 digunakan untuk masing-masing organ.
Desaran dosis ekivalen lain yang sering digunakan adalah dosis ekivalen
terikat (H50) , yaitu dosis yang diterima sesorang dalam jangka waktu 50 tahun.

B. Cara Menghitung Dosis Radiasi


Sumber radiasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu sumber radiasi yang berada
di dalam tubuh dan sumber radiasi di luar tubuh. Cara perhitungan dosis kedua jenis
sumber radiasi tersebut berbeda.
1. Cara menghitung dosis radiasi penyinaran dalam
Energi radiasi dialihkan ke medium yang di sepanjang jejaknya. Radiasi
dapat dibedakan berdasarkan pada daya tembusnya, yaitu yang daya tembusjya
pendek dan yang daya tembusnya panjang. Partikel bermuatan merupakanradiasi
yang berdaya tembus pendek, sehingga untuk perhitungan dosis radiasi
penyinaran dalam sering dianggap semua enrgi radiasi dialihkan ke materi,
sedangkan radiasi gama, dan sinar-x masuk dalam kelompok radiasi yang
berdaya tembus panjang, yang hanya sebagian energi radiasinya yang dialihkan
ke materi yang dilewatinya.
Salah satu cara menghitung dosi radiasi adalah denganan menggunakan
metode MIRD (Medical Internal radiation Dose Committee of society of Nuclear
Medicine), yang memperkenalkan istilah organ sumber dan organ sasaran., untuk
menghitung dosis serap digunakan tetapan yaitu bagian energi yang terserap
organ sasaran. Untuk radiasi bermuatan tetapan = 1, sedangkan untuk
elektromagnitik 1.
Radiasi alfa dan beta merupakan radiasi bermuatan, sehingga dosis serap
penyinaran dalam dan radionuklida pemancar beta dengan aktivitas tertentu
dapat sebagai berikut:

Universitas Gadjah Mada

Aktivitas zat radioaktif dalam organ akan berkurang akibat peluruhan dan
proses biologi, yang untuk menghitung pengurangannya didifinisikan tetapan
pengurangan effektif.

Untuk radionuklida pemancar alfa dapat dilakukan dengan cara yang


sama pada persamaan (3 - 12)
Untuk radiasi gama dan sinar-x, hanya sebagian energi yang dialihkan ke
Untuk menghitung dosis dapat dilakukan dengancara analitis, dengan zat
radioaktif tersebar merata dengan konsentrasi

cv

di seluruh volume organ.Untuk

organ bentuk bola, laju dosis di pusat bola dapat dituliskan sebagai berikut:

Secara umum laju dosis dapat dituliskan dalam bentuk

dengan g = factor geometri suatu titik tertentu,

Untuk menghitung dosis rata-rata di seluruh jaringan perlu dihitung nilai


factor geometri untuk seluruh titik dalam jaringan tersebut. Untuk bola, faktor
geometri rata-rata 3/4 kali factor geometri untuk pusat bola. Faktor geometri ratarata bentuk silinder dirinci pada Tabel 3.4.

Universitas Gadjah Mada

Tabel 3.4
Faktor geometri bentuk silinder mengandung zat radioaktif
pemancar gama tersebar merata.
Tinggi
Silinder
3
5
(cm)
2
17,50 22,10
5
22,30 31,80
10
25,17 38,10
20
22,70 40,50
30
25,90 41,00
40
25,90 41,30
60
26,00 41,60
80
26,00 41,60
100
26,00 41,60
(Wiryosimin, 1995)

Jari-jari silinder (cm)


10

15

20

25

30

35

30,30
47,70
61,30
68,90
71,30
72,40
73,00
73,30
73,30

34,00
56,40
76,10
89,80
94,60
96,50
97,80
98,40
98,50

36,20
61,60
86,50
100,00
112,00
116,00
118,00
119,00
119,00

37,50
65,20
93,40
117,00
126,00
131,00
134,00
135,00
136,00

38,60
67,90
98,40
126,00
137,00
143,00
148,00
150,00
150,00

39,30
70,50
103,00
133,00
146,00
153,00
159,00
161,00
162,00

2. Cara Menghitung Dosis Penyinaran Luar


Untuk menghitung laju dosis akibat penyinaran luar, dengancara
menghitung fluks atau paparan yang mengenai tubuh tersebut. Sehubungan
dosis radiasi berbandinglurus dengan fluks atau paparan maka dapat ditung nilai
dosis radiasi tersebut. Dalam subbab ini hanya akan dipelajani cara penghitungan
fluks radiasi untuk radiasi berupa gelombang elektromaknetik, yang merupakan
sumber radiasi ekstema yang penting.
Berbagai bentuk sumber radiasi sering dijumpai dalam bidang proteksi
yang disederhanakan menjadi beberapa bentuk sederhana, yaitu titik, luasan
(piringan). Cara menghitung fluks bentuk titik teakh dibicarakan di depan, berikut
untuk sumber radiasi bentuk garis dan piringan.
a. Fluks radiasi dan sumber bentuk garis
Untuk menghitung fluks bentuk garis, dilakukan dengan anggapan
bahwa ber radiasi bentuk garis adalah kumpulan dan saumber radiasi bentuk
titik, maka fluks pada titik di atas ujung garis yang diakibatkan oleh sumber
titik dalam garis tersebut dapat dituliskan sbb:

Universitas Gadjah Mada

SL

= kuat sumber paersatuan panjang sumber radiasi

= adalah sudut yang dibentuk oleh garis dan titik yang dimaksud ke
kedua ujung garis sumber radiasi

= panjang garis sumber radiasi

maka 0 = arctan(b/a)

Persamaan (3 -19) dengan anggapan tidak terjadi serapan oleh medium.


serapan medium diperhitungkan maka diperoleh persamaan.

Jika persamaan (3-20) diseslesaikan dengan mensubtitusi


dl = a (sec( ))2 d
maka akan diperoleh persamaan berikut

F(,x) adalah Fungsi integral Sievert.

b. Fluks radiasi dan sumber bentuk piringan


Sumber radiasi berbentuk piringan merupakan kumpulan sumber
radiasi bentuk titik yang membentuk piringan. Untuk mendapatkan fuiks
radiasi berasal dan sumber radiasi tersebut, sumber radiasi dibagi menjadi
benyak elemen luasan, yang masing-masing elemen luasan dapat dianggap
sebagai sumber titik.
Untuk menghitung fluks radiasi pada titik di atas titik tengah sumber
bentuk piringan berupa lingkaran berpusat pada titik tengah sumber tersebut
dengan tebal dr, sehingga jika serapan medium diabaikan fluks pada titik di
atas titik tengan sumber berbentuk piringan berjarak a, dapat dihitung sebagai
berikut:

Universitas Gadjah Mada

Jika persamaan (3-24) diselesaikan akan diperoleh persamaan

Jika medum ada serapan medium, maka

dengan mensubtitusi r = a tg dan y = a sec sehingga

Maka

Dengan

Untuk Kondisi yang lain dapat dikembangkan dengan menggunakan


persamaan (3 - 26).
Fluks radiasi berbanding lurus dengan dosis radiasi, sehingga dosis
radiasi dapat ditentukan berdasarkan nilai fluks tersebut.

Universitas Gadjah Mada