Anda di halaman 1dari 9

RESUME ETIKA BISNIS DAN PROFESI

PRINSIP DAN KODE ETIK DALAM BISNIS

Oleh :
Novinari Budi Ekawati
NIM : 32.12.1445

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
BANYUWANGI

BAB VI

A. PENGERTIAN PROFESI
Definisi yang sangat luas, profesi adalah sebuah pekerjaan yang secara
khusus dipilih, dilakukan dengan konsisten, kontinu ditekuni, sehingga orang bisa
menyebut kalau dia memang berprofesi di bidang tersebut.
Definisi lebih sempit, profesi adalah pekerjaan yang ditandai oleh pendidikan
dan keterampilan khusus. Sedangkan definisi yang lebih khusus lagi, profesi
ditandai oleh tiga unsur penting yaitu pekerjaan, pendidikan atau keterampilan
khusus, dan adanya komitmen moral/nilai-nilai etis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
Profesi : bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
(keterampilan, kejujuran, dan sebagainya tertentu
Menurut Sonny Keraf (1998) :
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan
mengandalkan keahlian dan keterampilan tinggi dan dengan melibatkan pribadi
(moral) yang mendalam
Ciri-ciri Profesi :
1. Profesi adalah suatu pekerjaan mulia.
2. Untuk menekuni profesi ini diperlukan pengetahuan, keahlian dan
keterampilan tinggi.
3. Pengetahuan, keahlian dan keterampilan diperoleh melalui pendidikan formal,
pelatihan dan praktik/pengalaman langsung.
4. Memerlukan komitmen moral (kode etik) yang ketat.
5. Profesi ini berdampak luas bagi kepentingan masyarakat umum.
6. Profesi ini mampu memberikan penghasilan/nafkah bagi penyandang profesi
untuk hidup layak.
7. Ada organisasi profesi sebagai wadah untuk bertukar pikiran,
mengembangkan program pelatihan dan pendidikan berkelanjutan, serta
menyempurnakan, menegakkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik di
antara anggota profesi tersebut.
8. Ada ijin dari pemerintah untuk menekuni profesi ini.
B. BISNIS SEBAGAI PROFESI
Bisnis adalah suatu profesi karena dalam bisnis terdapat banyak pekerjaan,
menuntut ilmu untuk mengelola dan para manajemen dituntut bermoral tinggi dan
harus dikelola secara profesional.
Bisnis dianggap sebagai profesi karena telah sesuai dengan definisi dan ciriciri suatu profesi, yaitu :
1. Profesi adalah pekerjaan dan di dalam bisnis terdapat banyak jenis
pekerjaan.
2. Sebagian besar jenis pekerjaan di dalam perusahaan.
3. Profesi menuntut penerapan kaidah moral/etika yang sangat ketat.
4. Tuntutan kaidah moral yang tinggi menjadi keharusan dalam bisnis.

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

C. PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS


1. Menurut Caux Round :
a. Tanggung Jawab Bisnis dari stakeholders ke stakeholders
b. Dampak Ekonomis dan Sosial dari Bisnis
c. Perilaku Bisnis dari hukum yang tersurat ke semangat saling percaya.
d. Sikap menghormati aturan
e. Dukungan bagi perdagangan multilateral
f. Sikap hormat bagi lingkungan alam.
g. Menghindari operasi-operasi yang tidak etis
2. Menurut Weiss :
a. martabat/hak
b. Kewajiban
c. Kewajaran
d. Keadilan
3. Menurut Sonny Keraf :
a. Prinsip Otonomi yaitu sikap dan kemampuan manusia untuk
mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang
apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.
b. Prinsip Kejujuran terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa
ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan
berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam
pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran
dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang
sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu
perusahaan.
c. Prinsip Keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama
sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional
obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.
d. Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principle) menuntut
agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua
pihak.
e. Prinsip Integritas Moral terutama dihayati sebagai tuntutan internal
dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis
dengan tetap menjaga nama baik pimpinan atau orang-orangnya
maupun perusahaannya.
D. ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
Isu Lingkugan Hidup:
Masalah etika tidak hanya dipahami sebatas pengaruh perilaku manusia
terhadap manusia lainnya, tetapi juga mempelajari hubungan dan keterkaitan
antara manusia dengan alam dan pengaruh tindakan manusia terhadap kerusakan
lingkungan. Dari pertumbuhan ekonomi secara global, saat ini telah memunculkan
enam persoalan lingkungan hidup yaitu :
1. Akumulasi bahan beracun
2. Efek rumah kaca
3. Perusakan lapisan ozon
4. Hujan asam
5. Deforestasi dan penggurunan
6. Serta kematian bentuk-bentuk kehidupan (keanekaragaman hayati)

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

Contoh Kasus :
Hujan Asam (Acid Rain )
Perlombaan pendirian pabrik-pabrik di banyak kawasan industri oleh hampir
semua negara demi memacu pertumbuhan ekonomi tanpa disertai program
pengendalian limbah asap telah mengakibatkan banyaknya volume asap hitam
pekat yang terus menerus dimuntahkan dari cerobong-cerobong pabrik tersebut.
Asap tebal hitam pekat ini kemudian menyatu dengan udara dan awan yang pada
gilirannya menurunkan hujan asam (Acid Rain) ke bumi sekitar awan tersebut.
Sejak beberapa dekade terakhir ini, terutama di kawasan industri padat negaranegara maju seperti AS, Kanada, Jerman, Belanda dan sebagainya. Hujan asap ini
ternyata berbahaya bagi kehidupan di bumi. Bila ini terus berlangsung, maka
hujan asam itu dapat merusak hutan, mencemari air, bahkan merusak gedunggedung.
E. PARADIGMA ETIKA LINGKUNGAN
Berbagai isu lingkungan hidup tidak dapat lagi diabaikan bila ingin
memahami dan menyadari bahwa perilaku manusia juga berpengaruh terhadap
keberadaan bumi beserta seluruh isinya, bukan hanya menentukan keberadaam
umat manusia saja. Sehubungan dengan hal ini, ada beberapa paradigma (cara
pandang/pola pikir) yang berkembang dalam memahami etika dalam kaitannya
dengan isu lingkungan hidup.
1. Etika kepentingan generasi mendatang, yang memandang bahwa suatu
keputusan dan tindakan hendaknya jangan hanya memikirkan kepentingan
umat manusia pada generasi saat ini saja, tetapi juga kepentingan umat
manusia pada generasi-generasi mendatang.
2. Etika lingkungan biosentris, yang memandang perilaku etis bukan saja dari
sudut pandang manusia, tetapi juga dari sudut pandang nonmanusia (flora,
fauna, dan benda bumi nonorganisme) sebagai satu kesatuan sistem
lingkungan.
3. Etika ekosistem, menganggap Sang Pencipta (Tuhan) dan seluruh ciptaannya
(bumi dan seluruh isinya, sistem tata surya, sistem galaksi, dan sistem alam
jagat raya) dianggap sebagai moral patients.
F. KODE ETIK DI TEMPAT KERJA
I. Kode Etik Sumber Daya manusia :
Enam dimensi program etik agar kode etik dapat dipenuhi :
1. Kode etik formal, yaitu kode etik yang dirumuskan/ditetapkan secara
resmi oleh suatu organisasi profesi, suatu lembaga/entitas tertentu dan
sebagainya.
2. Kode Etika, yaitu entitas yang mengembangkan kebijakan, mengevaluasi
tindakan, menginvestigasi, dan menghakimi pelanggaran-pelanggaran
etika.
3. Sistem komunikasi etika, yaitu cara untuk mensosialisasikan kode etik dan
perubahannya, termasuk isu-isu dan cara mengatasinya yang bersifat dua
arah.
4. Pejabat etika, yaitu pihak yang mengkoordinasikan kebijakan, memberikan
pendidikan, dan menyelidiki tuduhan adanya pelanggaran etika.

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

5. Program pelatihan etika, yaitu program yang bertujuan untuk


meningkatkan kesadaran dan membantu karyawan dalam merespon
masalah-masalah etika
6. Proses penetapan disiplin, yaitu dalam hal terjadi perilaku tidak etis.
II. Kode Etik Pemasaran :
American Marketing Association (AMA)
1. Tanggung
jawab
(responsibilities),
pelaku
pemasaran
harus
bertanggungjawab atas konsekuensi aktivitas mereka dan selalu berusaha
agar keputusan, rekomendasi dan fungsi tindakan mereka
mengidentifikasi, melayani, dan memuaskan masyarakat (publik) yang
relevan yaitu para pelanggan, organisasi dan masyarakat.
2. Kejujuran dan kewajaran (honesty and fairness), pelaku pemasaran harus
menjaga dan mengembangkan integritas, kehormatan dan martabat profesi
pemasaran.
3. Rights and duties of parties (Hak (Rights) dan Kewajiaban (Duties), pihakpihak).
4. Organizational relationships (Hubungan Organisasi)
III. Kode Etik Akuntansi :
Insitute of Management Accountants
1. Kompetensi
Artinya, akuntan harus memelihara pengetahuan dan keahlian yang
sepantasnya, mengikuti hukum, peraturan dan standar teknis, dan
membuat laporan yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi yang
dapat dipercaya dan relevan. Praktisi manajemen akuntansi dan
manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk :
a. Menjaga tingkat kompetensi profesional sesuai dengan pembangunan
berkelanjutan, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
b. Melakukan tugas sesuai dengan hukum, peraturan dan standar teknis
yang berlaku.
c. Mampu menyiapkan laporan yang lengkap, jelas, dengan informasi
yang relevan serta dapat diandalkan.
2. Kerahasiaan
Mengharuskan seorang akuntan manajemen untuk tidak mengungkapkan
informasi rahasia kecuali ada otorisasi dan hukum yang mengharuskan
untuk melakukan hal tersebut. Praktisi manajemen akuntansi dan
manajemen keuangan memiliki tanggung jawab untuk :
a. Mampu menahan diri dari mengungkapkan informasi rahasia yang
diperoleh dalam pekerjaan, kecuali ada izin dari atasan atau atas dasar
kewajiban hukum.
b. Menginformasikan kepada bawahan mengenai kerahasiaan informasi
yang diperoleh, agar dapat menghindari bocornya rahasia perusahaan.
Hal ini dilakukan juga untuk menjaga pemeliharaan kerahasiaan.
c. Menghindari diri dari mengungkapkan informasi yang diperoleh untuk
kepentingan pribadi maupun kelompok secara ilegal melalui pihak
ketiga.

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

3. Integritas
Mengharuskan untuk menghindari conflicts of interest, menghindari
kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka terhadap kemampuan mereka
dalam menjunjung etika. Praktisi manajemen akuntansi dan manajemen
keuangan memiliki tanggung jawab untuk :
a. Menghindari adanya konflik akrual dan menyarankan semua pihak
agar terhindar dari potensi konflik.
b. Menahan diri dari agar tidak terlibat dalam kegiatan apapun yang akan
mengurangi kemampuan mereka dalam menjalankan tugas secara etis.
c. Menolak berbagai hadiah, bantuan, atau bentuk sogokan lain yang
dapat mempengaruhi tindakan mereka.
d. Menahan diri dari aktivitas negatif yang dapat menghalangi dalam
pencapaian tujuan organisasi.
e. Mampu mengenali dan mengatasi keterbatasan profesional atau
kendala lain yang dapat menghalangi penilaian tanggung jawab kinerja
dari suatu kegiatan.
f. Mengkomunikasikan informasi yang tidak menguntungkan serta yang
menguntungkan dalam penilaian profesional.
g. Menahan diri agar tidak terlibat dalam aktivitas apapun yang akan
mendiskreditkan profesi.
4. Objektivitas
Mengharuskan para akuntan untuk mengkomunikasikan informasi secara
wajar dan objektif, mengungkapan secara penuh (fully disclose) semua
informasi relevan yang diharapkan dapat mempengaruhi pemahaman user
terhadap pelaporan, komentar dan rekomendasi yang ditampilkan. Praktisi
manajemen akuntansi dan manajemen keuangan memiliki tanggung jawab
untuk :
a. Mengkomunikasikan atau menyebarkan informasi yang cukup dan
objektif.
b. Mengungkapkan semua informasi relevan yang diharapkan dapat
memberikan pemahaman akan laporan atau rekomendasi yang
disampaikan.
5. Resolusi atas Etis
Dalam menerapkan standar kode etik, praktisi akuntansi manajemen dan
manajemen keuangan mungkin menghadapi masalah dalam
mengidentifikasikan perilaku tidak etis atau di dalam memecahkan suatu
konflik etis.
IV. Kode Etik Keuangan :
Association for Investment Management and Research (AIMR)
1. Bertindak berdasarkan integritas, kompetensi, martabat dan bertindak etis
dalam berhubungan dengan publik dan seterusnya.
2. Menjalankan dan mendorong pihak lain untuk bertindak etis dan professional.
3. Berusaha keras untuk memeliharan dan meningkatkan kompetensi dan
kompetensi pihak lain.
4. Menerapkan kehati-hatian dan menjalankan penilaian yang bersifat
independen.

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

Standar-standar perilaku professional juga meliputi :


1. Tanggung jawab fundamental
2. Hubungan dan tanggung jawab atas profesi
3. Hubungan dan tanggung jawab pada atasan
4. Hubungan dan tanggung jawab pada pelanggan dan calon pelanggan
5. Hubungan dan tanggung jawab kepada publik
V. Kode Etik Teknologi Informasi :
Association for Computing Machinary
Komitmen terhadap kode etik professional diharapkan bagi setiap anggota
(anggota yang mempunyai hak suara, anggota asosiasi dan anggota mahasiswa)
dari Association for Computing Machinary. Kode ini mencakup 24 keharusan
yang dirumuskan sebagai pernyataan tentang tanggung jawab pribadi,
mengidentifikasi unsur-unsur seperti komitmen.
VI. Kode Etik Fungsi Lainnya :
Setiap elemen di dalam perusahaan akan berinteraksi satu dengan yang
lainnya yang akan memengaruhi perusahaan secara keseluruhan, sekecil apapun
peran yang dimainkan oleh setiap elemen tersebut. Misalnya bagian produksi di
suatu perusahaan. Walaupun bagian produksi tidak berhubungan langsung dengan
pelanggan, namun kualitas produk yang dihasilkan sangat menentukan kinerja
fungsi pemasaran.
G. PERBANDINGAN KODE ETIK
American
Association for
Institute of
Association for
Marketing
Investment
Management
Computing Machine
Association
Management and
Accountants
(ACM)
(AMA)
Research (AIMR)
Tanggung jawab dan
Kompetensi
Tanggung jawab Kompetensi
komitmen
Integritas,
Jujur dan dapat
Kejujuran dan
Integritas
Martabat(dignity) dipercaya
Kewajaran
Hak dan
Kewajiban

Kerahasiaan,
Objektivitas

Hubungan
organisasi

Resolusi atas
konflik etis

Kerahasiaan,
Kerahasiaan,
Objektivitas,
Menghormati hak
Independensi
kekayaan intelektual
Kehati-hatian;
Adil dan tidak
Larangan
diskriminatif;
menggunakan
Menghormati privasi
informasi nonpublik orang lain

Sehubungan dengan hal tersebut dibawah ini akan diulas beberapa konsep
yang biasa muncul dalam pedoman kode etis suatu profesi :
1. Integritas
Banyak yang mengitepretasikan integritas sama dengan kejujuran, meski
sebenarnya konsep integritas lebih luas dari konsep kejujuran. Kejujuran hanya
merupakan salah satu unsur yang membangun integritas seseorang. Menurut
Cloud, Pengertian integritas bukan hanya sekedar berarti jujur, tetapi juga
menyiratkan adanya sifat utuh, tidak terbagi, menyatu, kokoh, serta konsisten.

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

2. Whistleblowing
Menurut Sonny Keraf, Whistleblowing dalam konteks etika adalah tindakan
yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang karyawan untuk
membocorkan kecurangan entah yang dilakukan oleh perusahaan atau atasannya
kepada pihak lain.
3. Kompetensi
Dalam arti luas, kompetensi mencakup penguasaan ilmu atau pengetahuan
dan keterampilan atau skill yang mencukupi, serta mempunyai sikap dan perilaku
yang sesuai untuk melaksanakan pekerjaan atau profesinya. Bila kompetensi
mencakup ketiga unsur ini, pegetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku, maka
orang yang kompeten sama artinya dengan orang yang professional.
4. Objektifitas dan Independensi
Objektif berarti sesuai tujuan, sesuai sasaran, tidak berat sebelah, selalu
didasarkan atas fakta, atau bukti yang mendukung. Konsep ini menyiratkan bahwa
segala sesuatu diungkapkan apa adanya, tidak menyembunyikan sesuatu, jujur dan
wajar. Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah
pengaruh atau tekanan pihak tertentu dalam mengambil keputusan atau tindakan.

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445

SUMBER
Buku Etika Bisnis dan Profesi oleh Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana
https://www.academia.edu/7198074/PRINSIP_DAN_KODE_ETIK_DALAM_BISNIS

Novinari Budi Ekawati 32.12.1445