Anda di halaman 1dari 43

PERDARAHAN ANTE PARTUM

A. Perdarahan Pada Kehamilan Muda


1. Abortus
Abortus adalah :

berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu)


pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22
minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk
hidup diluar kandungan. (pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal, hal 147)

a. Klasifikasi Abortus
1) Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa
intervensi medis maupun mekanis.
-

Abortus buatan menurut kaidah ilmu (Abortus provocatus


artificialis atau abortus therapeuticus). Indikasi abortus untuk
kepentingan ibu, misalnya : penyakit jantung, hipertensi
esensial, dan karsinoma serviks.

2) Abortus buatan, Abortus provocatus (disengaja, digugurkan),


yaitu :
-

Abortus buatan kriminal (Abortus provocatus criminalis)


adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang
sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh
hukum

atau

dilakukan

oleh

yang

(Obstetri Patologi, hal 2)


b. Gambaran Klinis
Secara klinis abortus dibedakan menjadi :

tidak

berwenang.

1) Abortus iminens (keguguran mengancam). Abortus ini baru


mengancam

dan

masih

ada

harapan

untuk

mempertahankannya, ostium uteri tertutup uterus sesuai umur


kehamilan.
2) Abortus insipiens (keguguran berlangsung). Abortus ini sedang
berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi, ostium terbuka,
teraba ketuban, berlangsung hanya beberapa jam saja.
3) Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap). Sebagian dari
buah kehamilan telah dilahirkan, tetapi sebagian (biasanya
jaringan plasenta) masih tertinggal di dalam rahim, ostium
terbuka teraba jaringan.
4) Abortus

kompletus

(keguguran

lengkap),

seluruh

buah

kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap, ostium tertutup


uterus lebih kecil dari umur kehamilan atau ostium terbuka
kavum uteri kosong.
5) Abortus tertunda (missed aboution), keadaan dimana janin telah
mati sebelum minggu ke-20, tetapi tertahan di dalam rahim
selama beberapa minggu setelah janin mati.
6) Abortus habitualis (keguguran berulang), abortus yang telah
berulang dan berturut-turut terjadi, sekurang-kurangnya 3 kali
berturut-turut. (Obstetri Patologi, hal 5).
7) Abortus tidak aman (unsafe abortion)
Upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksana
tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan
prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan
keselamatan jiwa pasien. (Pelayanan maternal dan neonatal,
hal. 148).

c. Penanganan
1) Penilaian awal
Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian
dari:
-

Keadaan umum pasien

Tanda-tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan,


tekanan sistolik < 90 mmHg, nadi > 112 x/menit)

Bila syok disertai dengan massa lunak di adneksa, nyeri


perut bawah, adanya cairan bebas dalam kavum pelvis;
pikirkan

kemungkinan

kehamilan

ektopik

yang

ter-

ganggu
-

Tanda-tanda infeksi atau sepsis (demam tinggi, sekret


berbau pervaginam, nyeri perut bawah, dinding perut
tegang, nyeri goyang porsio, dehidrasi, gelisah atau ping
san)

Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat


ditatalaksana pada fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk
(setelah dilakukan stabilisasi)

2) Penanganan spesifik
Abortus imminens
-

Tidak diperlukan pengobatan medik yang khusus atau tirah


baring secara total

Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara


berlebihan atau melakukan hubungan seksual

Bila perdarahan:
o Berhenti:

lakukan

asuhan

antenatal

terjadual

penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.

dan

o Terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan/


USG).

Lakukan

konfirmasi

kemungkinan

adanya

penyebab lain (hamil ektopik atau mola)


o Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas,
pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan
hasil pemeriksaan ginekologik
Abortus insipiens
-

Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi


Bila usia gestasi < 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan
peralatan Aspirasi Vakum Manual (AVM) setelah bagianbagian janin dikeluarkan
Bila usia gestasi > 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan
prosedur Dilatasi dan Kuretase (D&K)

Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan


atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan
tindakan pendahuluan dengan:
o Infus Oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai
dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40
tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus
hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi
o Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian
o Misoprostol 400 mg per oral dan apabila masih
diperlukan, dapat diulangi dengan dosis yang sama
setelah 4 jam dari dosis awal.

Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat


dikeluarkan dengan AVM atau D&K (hati-hati risiko perforasi)

Abortus inkomplit
-

Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi


setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis)

Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai


perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan
secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi
perdarahan:
o Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau
misoprostol 400 mg per oral
o Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil
konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan tergantung dari
usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan
bagian-bagian janin)

Bila tak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis


(ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)

Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 g dan metronidazol 500


mg setiap 8 jam

Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi di bawah 16


minggu, segera lakukan evakuasi dengan AVM

Bila pasien tampak ancmik, berikan sulfas ferosus 600 mg


per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfusi
darah (anemia berat).

Pada beberapa kasus, abortus inkomplit erat kaitannya dengan


abortus tidak aman, oleh sebab itu, perhatikan hal-hal berikut
ini:
-

Pastikan tidak ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi


uterus atau cedera intra-abdomen (mual/muntah, nyeri

punggung,

demam,

perut

kembung,

nyeri

perut

bawah, dinding perut tegang, nyeri ulang lepas)


-

Bersihkan ramuan tradisional, jamu, bahan kaustik, kayu


atau benda-benda lainnya dari regio genitalia

Berikan boster tetanus toksoid 0,5 ml bila tampak luka kotor


pada dinding vagina atau kanalis servisis dan pasien pernah
diimunisasi.

Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas, berikan serum


anti tetanus (ATS) 1500 Unit IM diikuti dengan pemberian
tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu

Konseling

untuk

kontrasepsi

pasca

keguguran

dan

pemantauan lanjut
Abortus Komplit
-

Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet Ergometrin


3x1 tablet/hari untuk 3 hari

Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet


Sulfas Ferosus 600 mo/hari selama 2 minggu disertai
dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu
sayuran segar. ikan, daging, telur). Untuk anemia berat,
berikan transfusi darah.

Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi


antibiotika, atau apabila khawatir akan khawatir akan infeksi
dapat diberi antibiotika profilaksis.

Abortus infeksiosa

Kasus ini berisiko tinggi untuk terjadi sepsis, apabila fasilitas


kesehatan

setempat

tidak

mempunyai

fasilitas

yang

memadai, rujuk pasien ke rumah sakit.


-

Sebelum merujuk pasien lakukan restorasi cairan yang


hilang dengan NS atau RL melalui infur dan berikan
antibiotika (misalnya: ampisilin 1 g dan metronidazol 500
mg).

Jika ada riwayat abortus tidak aman, beri ATS dan TT.

Pada

fasilitas

kesehatan

yang

lengkap,

dengan

perlindungan antibiotika berspektrum luas dan upaya


stabilisasi hingga kondisi pasien memadai, dapat dilakukan
pengosongan uterus sesegera mungkin (lakukan secara
hati-hati karena tingginya kejadian perforasi; pada kondisi
ini).
Tabel 1. Kombinasi antibiotika untuk abortus infeksiosa
Kombinasi antibiotika

Dosis oral

Catatan

Ampisilin

3 x 1 g oral

Berspektrum

dan Metronidazol

dan

mencakup untuk gonorrhoea

3 x 500 mg

dan bakteri anaerob

4 x 500 mg

Baik

dan

gonorrhoea dan bakteroides

Tetrasiklin dan Klindamisin

Trimethoprim
Sulfamethoksazol

2 x 300 mg
dan160 mg
dan
800 mg

fragilis
Spektrum

luas

untuk

cukup

dan

klamidia,

luas

harganya relatif murah

dan

Tabel 2. Antibiotika parenteral untuk abortus septik


Cara
Dosis
pemberian
IV
3x1 g

Antibiotika
Sulbenisilin
Gentamisin

2 x 80 mg

Metronidazol
Seftriaksone
Amoksisiklin

Klavulanik

Acid

IV

2x1 g
1x1g

IV

3 x 500mg

Klindamisin

3 x 600 mg

2. Kehamilan Ektopik Terganggu


Kehamilan ektopik ialah kehamilan di mana setelah fertilisasi,
implantasi terjadi di luar endometrium kavum uteri. Hampir 90%
kehamilan ektopik terjadi di tuba uterina. Kehamilan ektopik dapat
mengalami

abortus

atau

ruptura

apabila

massa

kehamilan

berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misalnya: tuba) dan


peristiwa ini disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu.
a. Penilaian Klinik
Diagnosis hamil ektopik sangat ditentukan dengan kondisi berikut
ini:
Kehamilan ektopik yang belum terganggu
Pada keadaan ini, juga ditemui gejala-gejala kehamilan muda atau
abortus imminens (terlambat haid, mual dan muntah, pembesaran
payudara,

hiperpigmentasi

areola

dan

garis

tengah

perut,

peningkatan rasa ingin berkemih, porsio livide, pelunakan serviks,


perdarahan bercak berulang).
Tanda-tanda tidak umum dari hasil pemeriksaan bimanual pada
tahapan ini adalah:

o Adanya massa lunak di adneksa (hati-hati saat melakukan


pemeriksaan karena dapat terjadi ruptur atau salah duga
dengan ovarium atau kista kecil)
o Nyeri goyang porsio
Kehamilan ektopik yang terganggu
Pada tahapan ini, selain gejala kehamilan muda dan abortus
imminens, pada umumnya juga ditemui kondisi gawat darurat dan
abdominal akut seperti:
o Pucat/anemis
o Kesadaran menurun dan lemah
o Syok (hipovolemik) sehingga isi dan tekanan denyut nadi
berkurang serta meningkatnya frekuensi nadi (di atas 112
x/menit)
o Perut kembung (adanya cairan bebas intra abdomen) dan nyeri
tekan
o Nyeri perut bawah yang makin hebat apabila tubuh digerakkan
o Nyeri goyang porsio
b. Penanganan
o Setelah diagnosis ditegakkan, segera lakukan persiapan untuk
tindakan operatif gawat darurat
o Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk
melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus
segera dihentikan.
o Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan
tubuh dengan lamtan kristaloid NS atau RL (500 ml dalam 15

menit pertama) atau 2 L dalam 2 jam pertama (termasuk


selama tindakan berlangsung)
o Bila darah pengganti belum tersedia, berikan auto transfusion
berikut ini:
-

Pastikan darah yang dihisap dari rongga abdomen telah


melalui alat pengisap dan wadah penampung yang steril

Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan


masukkan ke dalam kantung darah (blood bag). Apabila
kantung darah tidak tersedia, masukkan dalam botol
bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan
diberikan larutan sodium sitrat 10 ml untuk setiap 90 ml
darah.

Transfusikan darah melalui slang transfusi yang mempunyai


saringan pada bagian tabung tetesan.

o Tindakan pada tuba dapat berupa:


-

Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba


yang mengandung hasil konsepsi

Salpingostorni (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi


di mana tuba tersebut merupakan salah satu yang masih
ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen
tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut.
Risiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang
sempurna atau rekurensi (hamil ektopik ulangan).

o Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan


fungsi transportasi tuba yang disebabkan oleh proses infeksi
maka sebaiknya pasien diberi antibiotika kombinasi atau
tunggal dengan spektrum yang luas (lihat tabel antibiotika
kombinasi dan tunggal pada abortus septik)

Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan:


- Ketoprofen 100 mg supositoria
-

Tramadol 200 mg IV

Pethidin 50 mg IV (siapkan antidotum terhadap reaksi


hipersensitivitas)

o Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari.


o Konseling pasca tindakan
-

Kelanjutan fungsi reproduksi

Risiko hamil ektopik ulangan

Kontrasepsi yang sesuai

Asuhan mandiri selama di rumah

Jadwal kunjungan ulang

3. Mola Hidatidosa
Hamil mola adalah suatu kehamilan di mana setelah fertilisasi hasil
konsepsi tidak berkembang menjadi embrio letapi terjadi proliferasi
dari vili koriales disertai dengan degenerasi hidropik. Uterus melunak
dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi yang normal, tidak
dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti
rangkaian buah anggur. (Pelayanan Maternal & Neonatal, hal 156)
a. Penilaian Klinik
o Hampir sebagian besar kehamilan mola akan disertai dengan
pembesaran uterus dan peningkatan kadar HCG
-

Lakukan pengukuran kuantitatif kadar HCG spesifik (3 hCG


rapid test) bila tidak tersedia fasilitas pemeriksaan tersebut,
pengukuran dapat dilakukan dengan uji kehamilan berbasis
tera imunologik (hemaglutinasi atau aglutinasi lateks) di

mana kadar hormon tersebut diukur secara semikuantitatif


melalui pengenceran urin.
o Gejala klinik mirip dengan kehamilan muda dan abortus
imminens, tetapi gejala mual dan muntah lebih hebat, sering
disertai gejala seperti pre-eklampsia. Pemeriksaan dengan
ultrasonografi akan menunjukkan gambaran seperti sarang
tawon tanpa disertai adanya janin.
o Diagnosis pasti adalah dengan melihat jaringan mola, baik
melalui ekspulsi spontan maupun biopsi pasca perasat Hanifa
Wiknjosastro atau Acosta Sisson (siapkan tindakan darurat
apabila terjadi perdarahan pascabiopsi). (Pelayanan Maternal &
Neonatal, hal 157)
b. Masalah
o Perdarahan pada kehamilan muda yang disertai dengan gejala
mirip preeklampsia
o Risiko tinggi untuk terjadi keganasan (koriokarsinoma)
c. Penanganan
Penanganan Umum
o Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis
o Pemeriksaan ultrasonografi sangat membantu diagnosis. Pada
fasilitas kesehatan di mana sumberdaya sangat terbatas, dapat
dilakukan:
-

Evaluasi klinik dengan fokus pada:


Riwayat haid terakhir dan kehamilan
Perdarahan tidak teratur atau spotting
Pembesaran abnormal uterus
Pelunakan serviks dan korpus uteri

Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin

Pastikan tidak ada janin (ballotement) atau denyut jantung


janin sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa
Wiknjosastro atau Acosta Sisson

o Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera


o Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau
perforasi uterus)
o Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun pasca
evakuasi
Penanganan Khusus
o Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses
evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500
ml NS atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit
(sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan
efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara
cepat).
o Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih arnan dari Kuretase
Tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan
peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara
bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai.
o Kenali dan tangani komplikasi penyerta seperti tiritoksikosis
atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah prosedur
evakuasi
o Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari,
untuk anemia berat lakukan transfusi
o Kadar hCG di atas 100.000 IU/L praevakuasi dianggap sebagai
risiko tinggi untuk perubahan ke arah ganas, pertimbangkan

untuk memberikan methotrexate (MTX) 3-5 mg/kgBB atau 25


mg IM dosis tunggal.
o Lakukan pemantauan kadar HCG hingga minimal 1 tahun
pascaevakuasi. Kadar yang menetap atau meninggi setelah 8
minggu pasca evakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblas
aktif (di luar uterus atau invasif); berikan kemoterapi MTX dan
pantau (3-HCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2
minggu.
o Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan
kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomi
apabila ingin menghentikan fertilitas.
B. Perdarahan Kehamilan Lanjut
Prinsip Dasar
Perdarahan antepartum pada umumnya disebabkan oleh kelainan
implantasi plasenta (letak rendah dan previa), kelainan insersi tali pusat
atau pembuluh darah pada selaput amnion (casa previa) dan separasi
plasenta sebelum bayi lahir.

Penilaian Klinik
Tabel 3. Diagnosa dan Penatalaksanaan perdarahan pervaginam
Gejala dan
Faktor
tanda utama
predisposisi
Perdarahan tanpa nyeri dengan usia Grande
gestasi di atas 22 minggu.
multipara
Darah segar atau kehitaman
dengan bekuan.
Perdarahan dapat terjadi setelah miksi
atau defekasi, aktifitas fisik, kontraksi
Braxton Hicks, trauma atau koitus.

Penyulit
lainnya
Umumnya tidak ada nyeri
Bagian terendah janin tidak
masuk pintu atas panggul
(gangguan akomodasi).
Gawat janin.

Perdarahan dengan nyeri intermiten


atau menetap.
Warna darah kehitaman dan cair
tetapi mungkin terdapat bekuan bila
solusio relatif baru.
Bila ostium terbuka, terjadi
perdarahan dengan warna
merah segar.

Hipertensi
Versi luar
Trauma
abdomen
Polihidramnion
Gemelli
Defisiensi
nutritif

Syok yang tidak sesuai dengan Solusio


jumlah darah yang keluar plasenta
(tipe tersembunyi)
Anemia berat
Melemah atau hilangnya
gerak janin
Gawat janin atau hilangnya
denyut jantung janin
Uterus tegang dan nyeri

Nyeri hebat sebelum perdarahan dan


syok, yang kemudian hilang setelah
terjadi regangan hebat pada perut
bawah (kondisi ini tidak khas).

Pernah operasi
sesar
Partus lama atau kasep
Disproporsi
kepala/ fetopelvik
Kelainan letak/
presentasi.
Persalinan
traumatik.

Syok atau takhikardia


Hilangnya gerak dan denyut
jantung janin.
Bentuk uterus abnormal atau
konturnya tidak jelas.
Nyeri raba/tekan dinding perut dan bagian-bagian anak
mudah dipalpasi.

Ruptura
uteri

Perdarahan gusi.
Gambaran memar bawah kulit
Perdarahan dari tempat suntikan dan jarum infus.

Gangguan
pembekuan
darah

Perdarahan berwarna merah


Solusio plasenta.
segar.
Janin mati dalam
Uji pembekuan darah tidak
rahim.
menunjukkan adanya bekuan darah
Eklampsia.
setelah 7 menit.
Emboli air ketuban
Rendahnya faktor pembekuan darah,
fibrinogen, trombosit, fragmentasi selsel darah merah.

(Pelayanan Maternal dan Nenatal, Hal 161)

Diagnosis
Plasenta
previa

1. Plasenta Previa
Plasenta previa ialah placenta yang letaknya abnormal, yaitu pada
segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh
pembukaan jalan lahir. (Ilmu Kebidanan, hal. 365).
a. Klasifikasi Plasenta previa
(A) Plasenta previa totalis : apabila seluruh permukaan tertutup
oleh jaringan plasenta.
(B) Plasenta previa parsialis : apabila sebagian pembukaan
tertutup oleh jaringan plasenta
(C) Plasenta previa menginalis : apabila pinggir plasenta berada
tepat di pinggir pembukaan
(D) Plasenta letak rendah : plasenta yang letaknya abnormal pada
segmen bawah uterus.

b. Terapi Spesifik
Terapi ekspektatif
-

Tujuan terapi ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir


prematur penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan
dalam melalui kanalis servikalis. Upaya diagnosis dilakukan
secara non-invasif. Pemantauan klinis dilaksanakan secara
ketat dan baik.
Syarat-syarat terapi ekspektatif:
o kehamilan

preterm

dengan

perdarahan

sedikit

yang

kemudian berhenti
o belum ada tanda-tanda in partu
o keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam
batas normal),
o janin masih hidup.
-

Rawat inap tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.

Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi


plasenta, usia kehamilan profil biofisik, letak dan presentasi
janin.

Berikan tokolitik bila ada kontraksi:


o MgSO4 4 g IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam.
o Nifedipin 3 x 20 mg/hari.
o Betamethason 24 me IV dosis tunggal untuk pematangan
paru janin.

Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Tes,) dari
hasi amn osentesis

Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu, plasenta masih


berada

disekitar uteri internum, maka dugaan plasenta previa

menjadi

jelas,

sehingga

perlu

dilakukan

observasi

dan

konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat


darurat
-

Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu


masih lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan
(kecuali apabila rumah pasien di luar kota dan jarak untuk
mencapai rumah sakit lebih dari 2 jam) dengan pesan untuk
segera kembali ke rumah sakit apabila terjadi perdarahan
ulang.

Terapi aktif (Tindakan segera)


-

Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam


yang aktif dan banyak harus segera ditatalaksana secara aktif
tanpa memandang maturitas janin. (Pelayanan Maternal, hal.
165)

2. Solusio Plasenta
Solusio plasenta ialah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya
yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku
pada kehamilan dengan masa gestasi di atas 22 minggu atau beral
janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan
terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyehabkan
hematoma retroplasenter.
Hematoma dapat semakin membesar ke arah pinggir plasenta
sehingga jika amniokhorion sampai terlepas, perdarahan akan keluar
melalui

ostium

uteri

(perdarahan

keluar),

sebaliknya

apabila

amniokhorion tidak terlepas, perdarahan tertampung dalam uterus


(perdarahan tersembunyi).

Perdarahan keluar

1. Keadaan umum penderita relatif lebih


baik

Perdarahan tersembunyi

1. Keadaan penderita lebih jelek


2. Plasenta terlepas luas, uterus

2. Plasenta terlepas sebagian atau


inkomplit.

3. Jarang berhubungan dengan

keras/tegang

3. Sering berkaitan dengan


hipertensi.

hipertensi.

Tera

a.
pi Spesifik
Atasi syok

o Infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml


dalam 15 menit pertama dan 2 L dalam 2 jam pertama. (lihat
cara mengatasi Syok).
o Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor
pembekuan akibat koagulopati.
Atasi anemia

o Darah segar merupakan bahan terpilih untuk mengatasi anemia


karena di samping mengandung butir-butir darah merah, juga
mengandung unsur pembekuan darah.
o Bila restorasi cairan telah tercapai dengan baik tetapi pasien
masih dalam kondisi anemia berat, berikan packed cell.
b. Tindakan obstetrik
Persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3 jam, umumnya dapat
pervaginam.
Seksio sesarea
-

Seksio sesarea dilakukan apabila:


o janin hidup dan pembukaan belum lengkap,
o janin hidup, gawat janin tetapi persalinan pervaginam tidak
dapat dilaksanakan dengan segera,
o janin mati tetapi kondisi serviks tidak memungkinkan
persalinan pervaginam dapat berlangsung dalam waktu
yang singkat.

Persiapan

untuk

seksio

sesarea,

cukup

dilakukan

penanggulangan awal (stabilisasi dan tatalaksana komplikasi)


dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satusatunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan.
-

Hematoma miometrium tidak mengganggu kontraksi uterus.

Observasi

ketat

kemungkinan

(koagulopati).
Partus pervaginam
-

Partus pervaginam dilakukan apabila:

perdarahan

ulangan

o janin hidup, gawat janin, pembukaan lengkap dan bagian


terendah di dasar panggul,
o janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm.
-

Padakasus pertama, amniotomi (bila ketuban belum pecah)


kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forseps (atau
vakum).

Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (bila ketuban belum


pecah) kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosin dalam
dekstrose 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi
kontraksi uterus.

Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik


dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat
rendah

(perbaikan

baru

terjadi

dalam

2-4

hari

kemudian).
Perbedaan antara solusio plasenta dan plasenta previa
Perdarahan

Solusio Plasenta
- Dengan nyeri

Plasenta Previa
- Tanpa nyeri

Segera disusul partus

Keluar hanya sedikit


anak

Berulang
sebelum partus

- Keluar banyak
sukarBagian
terendah

Palpasi

Bagian

Bunyi jantung anak


Pemeriksaan dalam

ditentukan
Biasanya tidak ada
- Tidak teraba plasenta

masih tinggi
Biasanya jelas
Teraba
jaringan

Cekungan plasenta

- Ketuban menonjol
Ada impresi pada jaringan

plasenta
Tidak ada

Selaput ketuban

Plasenta karena hematom


Robek normal
Robek marginal

3.

Ruptura Uteri
Ruptura uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akibat
dilampauinya daya regang miometrium. Penyebab ruptura uteri adalah
disproporsi janin dan panggul, partus macet atau traumatik, Ruptura
uteri termasuk salah satu diagnosis banding apabila wanita dalam
persalinan lama mengeluh nyeri hebat pada perut bawah, dukuti
dengan syok dan perdarahan pervaginam. Robekan tersebut dapat
mencapai kandung kemih dan organ vital di sekitarnya-Risiko infeksi
sangat tinggi dan angka kematian bayi sangat tinggi pada kasus ini.
a. Penilaian Klinik
-

Perhatikan:
o Ruptura uteri pada uterus normal:
Partus macet merupakan penyebab utama.
Didahului oleh lingkaran konstriksi (Bandl's ring) hingga
umbilikus atau di atas-nya kemudian diikuti dengan nyeri
hebat pada perut bawah, hilangnya kontraksi dan bentuk
normal uterus gravidarum, perdarahan pervaginam dan
syok.
o Ruptura pada uterus bekas seksio sesarea.
Pada cara klasik, ruptura terjadi sebelum atau pada fase
laten persalinan
Pada insisi transversal SBR, umumnya terjadi saat fase
aktif atau kala II
Gejala nyeri yang khas, sering kali sulit dikenali terutama
apabila terjadi rupture uteri inkomplit. Perdarahan hanya
sedikit bertambah dari normal dan janin menunjukkan
bradikardia.

b. Penanganan

Berikan segera cairan isotonik (Ringer Laktat atau garam


fisiologis) 500 ml dalam 15-20 menit dan siapkan laparotomi.

Lakukan laparotomi untuk melahirkan anak dan plasenta.


Fasilitas pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke
rumah sakit rujukan.

Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan


memungkinkan, lakukan reparasi uterus (lihat Reparasi ruptura
uteri).

Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien


mengkhawatirkan, lakukan histerektomi.

Lakukan bilasan peritoneal dan pasang drain dari kavum


abdomen.

Antibiotika dan serum anti tetanus.


Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah
bercampur cairan ketuban berbau, hasil apusan atau biakan
darah) segera berikan antibiotika spektrum luas. Bila terdapat
tanda-tanda trauma alat genitalia atau luka yang kotor,
tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. Bila hasil
anamnesis tidak dapat memastikan perlindungan terhadap
tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/1M dan TT 0.5 ml
1M.

PRE EKLAMPSI

A. PER (Pre Eklampsi Ringan)


1. Tanda dan gejala

a. Tekanan darah (sistole : 140 mmHg) kenaikan 30 mmHg dengan interval


pemeriksaan 6 jam.
(diastole : 90 mmHg) kenaikan 15 mmHg dengan interval pemeriksaan 6 jam.

b. Kenaikan berat badan 1 kg/minggu


c. Protein urine 0,3 gr/
(Sumber : Manuaba, 1998, Ilmu kebidanan penyakit kandungan dan keluarga
berencana untuk bidan.EGC.hal 242)

2. Penanganan
a. < 37 minggu, tidak ada tanda perbaikan, melakukan pemeriksaan kehamilam
2x/minggu (dirawat jalan) :

pantau Tekanan darah, protein urin, reflek patella, dan kondisi janin, banyak
istirahat, diet biasa, tidak perlu obat-obatan

b. Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah sakit :


1. Diet biasa, pantau Tekanan darah 2x/hari, protein urin 1x/hari
2. Tidak perlu obat-obatan
3. Tidak perlu diuretik (kecuali jika terdapat odem paru, dekompensasi kordis /
gagal ginjal akut)

4. Jika Tekana darah (diastole turun sampai normal, dapat dipulangkan),


dengan :

a. Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda PEB (pre


explamsi berat)

b. Kontrol 3x/mg
c. Jika TD (diastol naik lagi rawat kembali)
5. Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetap dirawat
6. Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan
terminasi

7. Jika protein urin meningkat, tangani sebagai PEB (pre eklampsi berat).
c. Jika > 37 minggu, pertimbangkan terminasi

1. Jika servix matang Induxi Oxitosin / IV dengan 500 ml Dextrose 10 % IV


atau dengan prostaglandin

2. Jika servix belum matang, berikan prostaglandin, misoprestel / kateter foley,


atau terminasi perabdomen (SC).
(Saifuddin, AB. 2002. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, hal 211,
JNPKKR-POGI. Jakarta).)

B. PEB (Pre Ekplamsi Berat)


1. Tanda-tanda dan gejala :
a. Tekanan Darah 160/110 MmHg
b. Oliguria, urin < 400 cc/24 jam
c. Protein urin > 3 gr/liter
d. Keluhan subjektif (nyeri epigastric, gangguan penglihatan, nyeri kepala, odem
paru sianosis, gangguan kesadaran).

e. Pemeriksaan laboratorium :
1. Kadar enzim hati meningkat disertai ikteris
2. Pendarahan pada retina
3. Trombosit < 100.000/MM
(Sumber : Manuaba, 1998, hal 242) .

2. Penanganan pre eklampsi berat dan eklampsi


Penanganan PEB dan eklampsi sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung
dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsi.

a.

Penanganan kejang
1. Beri obat antikonvulsan

2. Perlengkapan penanganan kejang (masker oxygen, oxygen, sedotan)


3. Lindungi pasien dari trauma
4. Aspirasi mulut dan tenggorokan
5. Baringkan pasien pada sisi kiri atau posisi tredelenburg untuk mengurangi
risiko aspirasi

6. Oksigen diberikan 4-6 liter/menit


b. Penganan umum
1. Jika Tekanan darah (diastole > 110 MmHg) berikan anti hipertensi sampai
Tekanan darah (diastol 90-100 MmHg)

2. Pasang infus RL dengan jarum besar (16 gauge)


3. Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
4. Kateterisasi untuk memantau pengeluaran urin (protein urin)
5. Jika jumlah urin < 30 ml/jam :
1
a. Infus dipertahankan 1 8 jam
b. Pantau kemungkinan odem paru
6. Jangan tinggalkan pasien sendiri (ditakutkan terjadi kejang dan aspirasi yang
mengakibatkan kematian ibu dan janin)

7. Observasi (tanda-tanda vital, reflex patella, DJJ, setiap jam)


8. Auskultrasi paru untuk mencari tanda odem paru (jika ada krepitasi)
9. Jika terjadi odem paru berikan furasemid 40 mg/IV
10. lakukan penilaian atau uji pembekuan darah (jika darah tidak memebeku
dalam 7 menit kemungkinan terdapat koagulUpati) Sumber : Millenium,
2002, hal 212

c. Antikonvulsan untuk PEB dan Ekplamsi


1. Dosis awal :
a. MgSO4 4 gr, IV sebagai larutan 20% selama 5 menit
b. Diikuti dengan MgSO4 (50%) IM dengan 1 ml lignokain 2%

c. Pasien akan merasakan panas


2. Dosis pemeliharaan :
a. MgSO4 (50%) 5 g tambah lignokain 2% 1 ml IM setiap 4 jam
b. Lanjutkan sampai 24 jam post portum atau kejang terakhir
d. Sebelum pemberian MgSO4, periksa :
1. Frekwensi pernapasan > 16 kali permenit
2. Reflex patella
3. Urin > 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
e.

Stop pemberian MgSO4, jika :

1. frekwensi nafas 16 kali permenit


2. Reflex patella (-)
3. Urin < 30 ml/jam
f. Siapkan antidotum
1. Jika terjadi henti napas :
a. Bantu dengan ventilator
b. Beri kalsium glukonat 2 gr (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan
sampai pernapasan mulai lagi.

g. Sedativa (diazepam) pada PEB dan Exlampsi


1. pemberian intravena :
a. Dosis awal :
-

Dizepam 10 mg, IV pelan-pelan selama 2 menit

Jika kejang berulang, ulangi dosis awal

b. Dosis pemeliharaan :
-

Diazepam 40 mg tambah 500 ml (RL) perinfus

Depresi pernapasan mungkin terjadi jika dosis > 30 mg/jam

Jangan berikan > 100 mg/24 jam

2. Pemberian melalui rektum


a. Dosis awal : 20 mg dalam semprit 10 ml
b. Jika kejang berulang tambahkan 10 mg/jam
c. Dapat pula diberikan melalui kateter urin yang dimasukan kedalam
rektum
(Sumber : Millenium, 2002, 212)

h. Penanganan Eklampsi
Konsep pertolongan eklampsi :

1. Menghindari terjadinya
a. Kejang berulang
b. Mengurangi koma
c. Meningkatkan jumlah diuresis
2. Pada saat ditujuk dapat diberikan
a. Penenang (sedative) valium 20 mg valium
b. Pasang infus glukosa 5% dan dapat ditambah valium 10-20 mg
3. Disertai petugas untuk memberika pertolongan :
a. Menghindari gigitan lidah dengan memasang sidip
b. Resisutasi untuk melapangkan napas dan berikan O2
c. Menghindari terjadinya trauma tambahan

Perawatan di Rumah Sakit dilaksanakan :


1. Kamar isolasi

a. Menghindari rangsangan dari luar sinar atau keributan


b. Mengurangi menerima kunjungan
c. Yang merawat jumlahnya terbatas
2. Pengobatan medis
Banyak pengobaatan yang telah diperkenalkan untuk dapat menghindari
kejang berkelanjutan dan meningkatkan vitalitas janin dalam kandungan :

a. Sistem stroganof
1. Suntikan 100 mg luminal IM
2. jam kemudian suntikan 10 cc mgSO4 40%, IM
3. Kemudian setiap 3 jam berganti-ganti diberi luminal 50 mg dan 10 cc
mgSO4 40%, IM

b. Sodium pentotal
Sodium pentotal dapat menghilangkan kejang. Dosisnya 200-300 mg, IV
pelan-pelan

c. MgSO4
MgSO4 mempunyai efek :

1. Menurunkan Tekanan Darah


2. Mengurangi sensitivitas saraf pada sinapsis
3. Meningkatkan diuresis
4. Mematahkan sirkulasi iskemi plasenta, sehingga menurunkan gejala
klinis eklampsi
Dosis MgSO4 :

a. Secara IM (intra muskuler)

b.

8 gr, bokong kanan atau kiri

4 gr, interval 6 jam

Secara IV (intra vena)

100 cc MgSO4 40% IV pelan-pelan

Diikuti IM 5 gr

Antidotum diberikan jika terjadi tanda-tanda keracunan MgSO 4 dan henti


napas. Antidotum (kalsium klorida atau glukonat kalsikus 1 gr).

d. Diazepan atau valium


Dosis maksimal Diazeam 120 mg/hari
Metode pemberian Diazepam atau valium :

1. Pasang infus glukosa 5%


2. Inisial dosis diberikan 20 mg/IV
3. Dosis ikutan dalam glukosa 5% 10-20 mg (tetesan 20 kali permenit)
4. Observasi yang dilakukan :
-

kesadaran penderita

keadaan janin dan rahim

kejang-kejang

diuresis

Tekanan Darah, nadi, dan pernapasan

e. Litik koktil
Litik koktil terdiri dari petidin 100 mg, klorpromazin 100 mg dan
prometazin 50 mg dilarutkan dalam 500 cc glukosa 5%, IV (dengan
memperhatikan Tekanan Darah, nadi, kejang). Observasi dilakukan
setiap 5 menit, karena Tekan Darah dapat turun mendadak.

3.

Pengawasan dalam Pengobatan


Observasi tanda vital dilakukan setiap 30 menit

Pernapasan l

Suhu

Serangan kejang

Dalam keadaan koma :

Tidur telentang, kepala miring kesamping


Siapkan pengisapan lendir
Berikan O2 untuk ibu dan janinnya

Dalam serangan kejang : sediakan tong spatel untuk menghindari gigitan lidah

Ukur jumlah cairan yang masuk dan keluar melalui infus dan dauer kateter

Jumlah cairan yang masuk dalam 24 jam 2000 cc

Nutrisi penderita koma dengan : glukosa 10%, menghindari metabolisme lemak


dan protein, pemberian asam amino dengan amino aminofusin, pemberian B
komplek dan vitamin C

Pengobatan berhasil jika :

Diuresis bertambah

TD turun, nadi membaik

Kesadaran membaik

Kejang berkurang

Pengobatan gagal jika :

Kejang-kejang lebih dari 12 kali

Suhu meningkat > 390 c

Kesadaran makin menurun

Nadi meningkat(> 100 kali permenit)

4. Tindakan Kebidanan
Penderita PEB dan exlampsi tidak tahan terhadap pendarahan dan trauma

persalinan, sehingga perlu dipertimbangkan per abdominal (meminimalisasikan


persalinan dengan trauma)
Pemilihan persalinan tergantung dari beberapa faktor :

Paritas penderita

Umur anak terkecil

Umur penderita

Tempat pertolongan dilakukan di RS dengan fasilitas cukup

Keadaan servix (pembukaan, arah servix, ke elastisan servix)

Keadaan janin (ketuban belum pecah, jumlah air ketuban, warna air ketuban,
tanda-tanda asfiksia intra uteri)

Pemilihan metode persalinan

1. Pilihan per vaginan diutamakan :

Dapat didahului dengan indux persalinan

Bahaya persalinan ringan

Bila memenuhi syarat dapat dilakukan : pecahkan ketuban untuk


mempercepat pembukaan dan tindakan cunam mempercepat kala II

Persalinan plasenta dapat dipercepat dengan manual

Menghindari pendarahan dengan diberikan uterotonlika

2. Pertimbangan SC

Gagal induksi persalinan per vaginan

Gagal pengobatan konservatif

PRE EKLAMPSI BERAT DAN EKLAMPSI

Pemeriksaan :
Fisik ibu
TD (tekanan darah)
BB (berat badan)
Odem, protein urin
Janin
Gerakan janin
Jantung janin
Air ketuban
Konsultasi dokter
Konservatif
Kamar isolasi
Observasi (keseimbangan
cairan) infus 2000 cc/hari
Perobatan :
Stoganet
Penthofil, MgSO4
DZP, litikoktil
Evaluasi perobatan :
Diuresis
Kesadaran membaik
Kejang berkurang
Nadi dan TD turun
Keluhan berkurang

Dasar diagnosis klinis :


Kenaikan berat badan
Kenaikan TD
Protein urin
Oliguria
Kejang atau koma
Nyeri epigastrum dan kepala
Penglihatan rabun
Odem paru sianosis
Terapi
aktif
Gangguan
kesadaran
Indikasi vital
Gagal perobatan 2 kali 24
jam
Medis teknis :
Indux persalinan
Amniotomi
Kala II forcep

Seksio sesaria
Gagal indux
Indux obsetehi

Pengobatan konservatif berhasil


Pengawasan hamil intensif
Kehamilan mencapai aterm
Persalinan peraginan
Sumber : Manuaba, 1998, 252
HIPERTENSI

1. Pengertian
EKLAMPSI
BERAT
DAN
EKLAMPSI
Hipertensi merupakan kelainan vaskular yang terjadiPRE
sebelum
kehamilan
atau
timbul
dalam kehamilan atau pada masa nifas. Penyakit ini ditandai dengan hipertensi (odem,

protein urin, kejang, koma).

2. Klasifikasi Hipertensi dalam Kehamilan


1

Dx

Tekanan darah

Tanda-tanda lain

Hipertensi

Kenaikan diastol 15 mmHg atau > Protein urin (-)


90 mmHg (2 kali pengukuran Kehamilan < 20mg
dalam 1 jam) atau diastol > 110
mmHg

PER

Tekanan idem

Protein urin +

Diastol > 110 mmHg

Protein urin +

(pre eklampsi ringan)


3

PEB
(pre eklampsi berat)

Oligaria
Hipereflexia
Gangguan penglihatan
Nyeri epigastric
Kejang

3.

Exlampsi

Hipertensi

Kejang

Hipertensi Kronik
1 Hipertensi kronik

Hipertensi

Kehamilan < 20mg

Hipertensi kronik

Protein urin +

Super improset
pre eklampsi

Tanda-tanda lain dari


pre eklampsi

Sumber : Sastrawinata, S. 2004.Obstetri patologi ilmu kesehatan reproduksi, edisi k


e2, hal 68. EGC. Jakarta.
Pada kehamilan dengan penyakit jantung dibagi dalam 4 stadium :
Kelas I

Tanpa gejala pada kegiatan biasa, tanpa batasan aktivitas.

Kelas II

Waktu istirahat tidak terdapat gejala, ada batasan fisik, gejala payah jantung.
Cepat sesak nafas, nyeri dada, odem tungkai atau tangan

Kelas III

Gerakan terbatas, karena istirahat saja sudah menimbulkan gejala payah jantung

Kelas IV

Dalam keadaan istirahat sudah terjadi gejala payah jantung

Keluhan utama yang ditemukan :

Cepat lelah

Jantung berdebar-debar

Sesak nafas dapat disertai sianosis

Odem tungkai terasa berat pada kehamilan muda

Mengeluh tentang besarnya pertambahan rahim


Sumber : Manuaba, 1998, hal 272

Penanganan
Jika kehamilan < 37 mg pantau : tekanan darah, protein urin, kondisi janin setiap minggu

Jika tekanan darah naik, tangani sebagai pre eklampsi

Jika kondisi janin memburuk (IUGR) rawat pertimbangkan terminasi kehamilan


(Sumber : Prawirohardjo, 2002, hal 211)

Penanganan kehamilan < 37 mg tidak dapat tanda perbaikan, lakukan ANC 2 kali/mg
(rawat jalan) :

Pantau TD, protein urin, reflex, dan kondisi janin

Banyak istirahat

Diet biasa

Tidak perlu obat-obatan

HIPEREMESIS GRAVIDARUM
A. Pengertian
Mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu
dan keadaan umum menjadi buruk (Ilmu Kandungan, hal. 275).
B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh
penulis sebagai berikut :
1. Faktor pedisposisi yaitu primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan
ganda.
2. Faktor organik yaitu alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi,
perubahan metabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun.

3. Faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit ini,


rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap
kehamilan dan persalinan. (Ilmu Kandungan, hal. 276).
C. Patofisiologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terusmenerus

dapat

menyebabkan

dehidrasi,

hipotermia,

hipokloremia,

penurunan klorida urin, selanjutnya terjadi hemokonsentrasi yang


mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat
toksik. Pemakaian cadangan karbohidrat dan lemak menyebabkan
oksidasi lemak tidak sempurna hingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat
muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensi
muntali dan merusak hepar. Selaput lendir esofagus dan lambung dapat
robek

(sindrom

Mallory-Weiss)

sehingga

terjadi

perdarahan

gastrointestinal (Kapita Selekta Kedokteran, hal. 259).


D. Gejala dan Tanda
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan
hiperemesis gravidarum tidak ada; tetapi bila keadaan umum penderita
terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum.
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringanya gejala dapat dibagi ke
dalam 3 tingkatan.
Tingkat I.
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu
merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa
nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah
sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung.
Tingkat II.

Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah
mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik
dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi
turun, hemokonsentrasi,

oliguria dan

konstipasi.

Aseton dapat tercium

dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat
pula ditemukan dalam kencing.
Tingkat III.
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari
somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat; suhu meningkat dan tensi
menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai
ensefalopati Vernickc, dengan gejala: nistagmus, diplopia dan perubahan
mental. Keadaan ini adalah

akibat sangat kekurangan

zat makanan,

termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah


hati. (Ilmu Kandungan, hal. 277)
E.

Diagnosa
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan
adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga
mempengaruhi keadaan umum.
kehamilan
ventrikuli

muda dengan
dan

tumor

Namun demikian harus dipikirkan

penyakit pielonefritis,

serebri

yang

hepatitis,

ulkus

dapat pula I memberikan gejala

muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan
kekurangan| makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin,
sehingga pengobatan perhif segera diberikan (Ilmu Kandungan, hal. 278).
F. Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan
dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual
dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada
kehamilan

muda

dan

akan

hilang

setelah

kehamilan

bulan,

menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan, I dalam


jumlah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun
dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit
dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak
sebaiknya dihindarkanjf Makanan dan minuman seyogyanya disajikan
dalam keadaan panas atau sangap dingin. Defekasi yang teratur
hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan! karbohidrat
merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang
banyak mengandung gula.
1.

Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak
mengurang maka diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk
tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering diberikan
adalah phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan
B6. Anti histaminika juga dianjurkan, seperiti dramamin, avomin. Pada
keadaan

lebih

hidrokhlonae

berat
atau

diberikan

antiemetik

khlorpromasin.

seperti

Penanganan

disiklomin
hiperemesis

gravidarum yang berat perlu dikelola di rumah sakit.


2. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk.
Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar
penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak
diberikan makanan/minum dan selama 24 jam. Kadang-kadang
dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa
pengobatan.
3. Terapi psikologik
Perlu

diyakinkan

kepada

penderita

bahwa

penyakit

dapat

disembuhkan, hilangkan masa takut oleh karena kehamilan, kurangi


pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya
dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
4. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter
sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium, dan vitamin, khususnya
vitamin B kompleks dan vitamin C dan la ada kekurangan protein,

dapat diberikan pula asam amino secara intra vena. Dibuat daftar
kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Air kencing perlu I
diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlonda dan bilirubin.
Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari.
Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya
menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan
keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan
minuman, dan lambat laun minuman dapat ditambah dengan makanan
yang tidak cair. Dengan penanganan di atas, pada umumnya gejalagejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.
5. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan
mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila
keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria dan
perdarahan

merupakan

manifestasi

komplikasi

organik.

Dalam

keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan.


Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit f. diambil,
oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi
dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel
pada organ vital. (Ilmu Kandungan, hal. 278)