Anda di halaman 1dari 15

JURNAL PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI II

PENETAPAN KADAR KININ DI URIN SETELAH


MENGKONSUMSI TABLET KININ DENGAN METODE
FLUORESENSI, ALAT DENGAN
SPEKTROFOTODENSITOMETRI-MODE
FLUORESENSI

OLEH :
KELOMPOK IX
GOLONGAN I
Ni Wayan Nita Lestari

(1208505029)

I Gusti Putu Putra Purnama

(1208505030)

Luh Ade Dyah Tantri Lestari

(1208505032)

I Made Sugiarta

(1208505033)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

PENETAPAN KADAR KININ DI URIN SETELAH MENGKONSUMSI


TABLET KININ DENGAN METODE FLUORESENSI, ALAT DENGAN
SPEKTROFOTODENSITOMETRI-MODE FLUORESENSI

I. TUJUAN
1.1 Menetapkan kadar kinin di urin setelah mengonsumsi tablet kinin dengan
metode fluoresensi (alat dengan spektrofotodensitometri-mode fluoresensi).
1.2 Mengetahui tingkat validitas dari metode penetapan kadar kinin yang
dilakukan.

II. DASAR TEORI


2.1 Kinin
Kinin merupakan senyawa golongan alkaloid yang diperoleh dari kulit kayu
kina (Cinchona succirubra) yang berkhasiat sebagai antimalaria (Griffith, 2007).
Kinin basa memiliki nama kimia yaitu (8a,9R)-60-Methoxycinchonan-9-ol trihydrate
dan nama lainnya ialah Chinina, chininum dan quinine.

Kinin memiliki rumus

molekul C20H24N2O2 dengan berat molekul 324,417 g/mol (Budavari, 2001). Struktur
kinin terdiri dari dua bagian, yakni inti kinolin dan kinuklidin. Kinin memiliki
konfigurasi 8S, 9R. Kinin adalah levorotatory stereoisomer dari kinidin (Moffat et al,
2005).

Gambar 2.1 Struktur Kimia Kinin (Moffat et al, 2005).


Kinin berbentuk serbuk bergranul atau mikrokristalin, berwarna putih atau
praktis putih, tidak berbau, rasanya sangat pahit, menggelap jika terpapar cahaya, dan
sedikit mengembang di udara kering. Kelarutan kinin dalam air sebesar 1:1900,
dalam air panas 1:760, dalam alkohol 1:0,8, dalam benzen 1:80, dalam kloroform 1:

1,2, dalam eter kering 1:250, dalam gliserol 1:2. Kinin tidak larut dalam petroleum
eter. Kinin memiliki pKa 4,1;8,5 dalam suhu 20oC (Moffat et al, 2011).
Identifikasi kinin dengan kromatografi lapis tipis dapat menggunakan
berbagai sistem fase gerak dengan harga Rf yang dihasilkan, yakni sebagai berikut:
Sistem
TA
TB
TC
TD

Fase gerak
Perbandingan
Rf
Methanol : larutan amonia kuat
100 : 1,5
51
Sikloheksana : toluen : dietilamin
75:15:10
2
Kloroform : methanol
90:10
11
Kloroform : aseton
80:20
Etil asetat : methanol : larutan
TE
85:10:05
45
amonia kuat
Tabel 2.1 Harga Rf Kinin dalam berbagai fase gerak (Moffat et al, 2005).
Pada 0,05 M H2SO4, kinin memiliki dua panjang gelombang eksitasi yaitu ex
= 250 dan 350 nm dan panjang gelombang intensitas emisi fluoresensi maksimum,
em atau fl, adalah 450 nm (Cheon et al., 2012).

2.2 KLT-Spektrofotodensitometri
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi planar yang
terdiri dari fase diam dan fase gerak. (Gandjar dan Rohman, 2009). Fase diam pada
KLT biasanya berupa penjerap, berukuran kecil, karena semakin kecil ukuran ratarata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam maka
pemisahan, efisiensi dan resolusinya akan semakin baik. Sedangkan fase gerak pada
KLT dapat dipilih dari literatur dan dengan mencoba-coba. Fase gerak dalam KLT
harus memiliki kepolaran yang baik, kemurnian tinggi dan daya elusi yang mudah
diatur. Dalam KLT pemisahan didasarkan pada penyerapan, pembagian atau
gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan zat
penyerap dan jenis pelarut (Gandjar dan Rohman, 2009). Nilai Rf dapat dihitung
dengan :

Jarak yang ditempuh oleh komponen


Rf =
Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan KLT
biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT (atau secara in
situ). yang biasanya dilakukan pada analit dengan kadar kecil. Densitometer dapat
bekerja secara serapan atau flouresensi,

dimana kebanyakan densitometer

mempunyai sumber cahaya yang diarahkan menuju monokromator (untuk memilih


rentang panjang gelombang yang cocok antara 200-800), sistem untuk memfokuskan
sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder (Gandjar dan Rohman, 2009).
Prinsip kerja spektrofotodensitometri berdasarkan interaksi antara radiasi
elektromagnetik dari sinar UV-Vis dengan analit yang merupakan noda pada plat.
Radiasi elektromagnetik yang datang pada plat diabsorpsi oleh analit, ditransmisi atau
diteruskan jika plat yang digunakan transparan. Radiasi elektromagnetik yang
diabsorpsi oleh analit atau indikator plat dapat diemisikan berupa flouresensi dan
fosforesensi (Sherma and Fried 1994). Sumber radiasi pada spektrodensitometri ada
tiga macam tergantung pada rentang panjang gelombang dan prinsip penentuan.
Lampu deuterium dipakai untuk pengukuran pada daerah ultraviolet (190-400 nm)
dan lampu tungsten digunakan untuk pengukuran pada daerah sinar tampak (400-800
nm) sedangkan untuk penetuan secara fluoresensi digunakan lampu busur merkuri
bertekanan tinggi (Deinstrop and Hanhn, 2007).
2.3 Fluoresensi
Fluoresensi adalah pemancaran kembali sinar oleh molekul obat yang telah
menyerap energi sinar dan terjadi dalam waktu yang singkat setelah penyerapan (10-8
detik). Intensitas fluoresensi (F) sebanding dengan banyaknya sinar yang diserap oleh
molekul analit sehingga absorptivitas suatu senyawa berkaitan dengan intensitas
fluoresensinya. Molekul-molekul seperti hidrokarbon jenuh yang tidak menyerap
sinar UV-Vis tidak akan berfluoresensi. Senyawa-senyawa yang berfluoresensi pasti
menyerap sinar UV karena peristiwa fluoresensi didahului oleh penyerapan/absorpsi.
Teknik analisis berdasarkan deteksi fluoresensi memiliki keunggulan dibandingkan
teknik lainnya yaitu sensitifitas dan selektifitas yang tinggi (Gandjar dan Rohman,
2012).

III. ALAT DAN BAHAN


3.1 Alat
- Gelas beker
- Neraca analitik
- Pipet ukur 1 mL, 5 mL, 10 mL
- Bulb filler
- Tabung reaksi
- Plat Silika Gel G60 10 x 10 cm
- Chamber
- Pipet kapiler
- Oven
- Spektrofotodensitometer
- Sentrifugator
- Sendok tanduk
- Kertas perkamen
- Kertas saring
- Batang pengaduk
- Labu ukur 5 mL, 10 mL
- Pipet tetes
- Botol vial
- Mortir dan stamper
- Sudip
3.2 Bahan
a. Tablet Kina
b. Metanol (CH3OH)
c. Urin
d. Amonia pekat (NH3)
e. Kloroform (CHCl3)
f. Asam Sulfat (H2SO4) 0,1 N
g. Isopropanol

VI. PROSEDUR KERJA


4.1

Pembuatan Larutan

4.1.1 Larutan Stok Baku Kinin Sulfat (1 mg/mL)


Serbuk kinin sulfat baku ditimbang dengan seksama sebanyak 10 mg. Serbuk
dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL Ditambahkan metanol hingga tanda batas 10
mL, digojog hingga homogen.

4.1.2 Preparasi Larutan Blanko


Disiapkan urin sebanyak 2 mL ke dalam tabung reaksi yang diberi label 1.

4.1.3 Preparasi Larutan Uji


Dibuat 4 seri larutan uji dengan konsentrasi 125ng/L, 250ng/L, 500ng/L,
750ng/L
A.

Perhitungan
Diketahui:
-

Konsentrasi Baku Sekunder I = 1000ng/L

Konsentrasi yang dibuat = 125ng/L, 250ng/L, 500ng/L,


750ng/L

Volume Larutan Uji = 2 mL

Ditanya:
-

Volume Stok Baku Kinin Sulfat (1 mg/mL) yang diambil

Perhitungan:
1. Untuk C = 125ng/L
Cbaku sekunder

Clarutan uji

Vlarutan uji

1000ng/L

125 ng/ L

Clarutan uji Vlarutan uji

C baku sekunder
V1

125 ng/ L 2 mL
1000 ng/ L

2 mL

V1

= 0,25 mL

2. Untuk C = 250ng/L
Cbaku sekunder

Clarutan uji

Vlarutan uji

1000ng/L

250ng/L

2 mL

Clarutan uji Vlarutan uji


C baku sekunder
2 mL
250 ng/L
5000 ng/ L

V1

V1

= 0,5 mL

3. Untuk C = 500ng/L
Cbaku sekunder

Clarutan uji

Vlarutan uji

1000ng/L

500ng/L

2 mL

Clarutan uji Vlarutan uji


C baku sekunder
500ng/ L 2 mL
1000 ng/ L

V1

V1

= 1 mL

4. Untuk C = 750ng/L
Cbaku sekunder

Clarutan uji

1000 ng/ L

750 ng/ L

Vlarutan uji

2 mL

Clarutan uji Vlarutan uji


C baku sekunder
750ng/ L 2 mL
1000 ng/ L

V1

V1

= 1,5 mL

B. Pembuatan Larutan Uji


Disiapkan sebanyak 3 tabung reaksi yang berbeda. Tabung diberi label 2, 3,4
dan 5. Komposisi tiap tabung adalah sebagai berikut.

V baku

V urin yang

Kandungan

sekunder I

ditambah

Kinin Sulfat

(mL)

(mL)

(ng)

125

0,25

1,75

250

250

0,5

1,5

500

500

1000

750

1,5

0,5

1500

No.

Konsentrasi

Tabung

(ng/L)

4.1.4 Preparasi Sampel


Ditimbang dan digerus 1 tablet kinin sulfat (200mg), ditimbang serbuk kinin
sulfat hingga diperoleh kadar dalam serbuk 10mg dimasukan dalam labu ukur 10
ml dan disaring.
Pembuatan Sampel I
Diketahui:
-

Konsentrasi Sampel = 1 mg/mL = 1000g/ml = 1000ng/L

Konsentrasi Sampel dibuat = 125 ng/L

Volume sampel = 2 mL

Ditanya:
-

Volume Sampel 1mg/ml yang diambil..?

Csampel

Csampel1

Vsampel1

1000 ng/L

125 ng/L

2 mL

125 ng/L x 2 ml
1000 ng/L

V1

= 0,25 ml

Larutan Sampel kinin sulfat 1mg/ml dipipet sebanyak 0,25 mL dan


dimasukkan ke labu ukur 2 mL. Kemudian ditambahkan urin hingga tanda
batas 2 mL, lalu dihomogenkan.

Pembuatan Sampel II
Diketahui:
-

Konsentrasi Sampel = 1 mg/mL = 1000g/ml = 1000ng/L

Konsentrasi yang dibuat = 250ng/L

Volume sampel = 2 mL

Ditanya:
-

Volume Sampel 1 mg/mL yang diambil

Csampel

Csampel1

Vsampel1

10000 ng/L

250 ng/L

2 mL

V1

250 ng/L x 2 ml
1000 ng/L
= 0,5 ml

Larutan Sampel kinin sulfat 1 mg/ml dipipet sebanyak 0,5 mL dan


dimasukkan ke labu ukur 2 mL. Kemudian ditambahkan urine hingga tanda
batas 2 mL, lalu dihomogenkan.

4.2

Ekstraksi Cair-cair
Larutan uji dan larutan sampel diberi amonia secukupnya hingga mencapai pH

9-10. pH ditentukan menggunakan indikator pH. Ditambahkan campuran pelarut


kloroform dan isopropanol (3 : 1) sebayak 4 mL. Tabung larutan uji dan sampel
divortex dengan kecepatan 2500 rpm selama 30 menit agar terbentuk emulsi
sempurna. Tabung larutan uji dan sampel disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm

selama 30 menit. Fase kloroform diambil dari masing-masing tabung, dan diuapkan
pada suhu 60C. Residu dilarutkan dalam 25 L metanol.

4.3

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofotodensitometri


Sistem KLT

: TA.

Fase diam

: Silika G60 ukuran 10 cm x 10 cm

Fase gerak

: metanol : larutan amonia pekat (100 : 1,5)v/v

Plat dicuci dengan metanol, kemudian diaktivasi pada oven dengan suhu 120 C
selama 30 menit. Chamber dijenuhkan dengan fase gerak. Disiapkan tepi atas dan
tepi bawah pada plat silika. Larutan kontrol, larutan uji dan larutan sampel ditotolkan
pada plat silika G60. Plat dielusi dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan fase
gerak. Plat diangkat dan dikeringkan pada suhu 60C selama 10 menit. Bercak
diamati dengan spektrofotodensitometer. Masing-masing noda diukur luasnya dengan
spektrofotodensitometer pada panjang gelombang absorbsi maksimum terjadi eksitasi
(255 nm). Plat KLT kemudian disemprot dengan larutan asam sulfat 0,1 N.
Dilakukan pengukuran spektrum emisi pada panjang gelombang 254 nm. Kemudian
dilakukan analisis terhadap hasil scan yang didapat.

IV. SKEMA KERJA


5.1

Pembuatan Larutan-larutan

5.1.1 Stok Baku Kinin Sulfat (1mg/mL)


Ditimbang 10 mg serbuk kinin sulfat dalam labu ukur 10 mL.

Ditambahkan 5 mL metanol ke dalam labu ukur yang telah berisi serbuk


kinin sulfat.

Digojog labu ukur kemudian ditambahkan metanol hingga tanda batas 10


mL dan digojog kembali hingga homogen.

5.1.2 Blanko
Dipipet urin sebanyak 2 mL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.

Tabung reaksi diberi label nomor 1.


5.1.3 Larutan Uji
Disiapkan 4 tabung reaksi, diberi label 2,3,4 dan 5

Tabung 2 :
1,75 mL urin + 0,25
mL Stok kinin

Tabung 3 :
1,5 mL urin + 0,5
mL Stok kinin

Tabung 4 :
1 mL urin + 1 mL
Stok kinin

Tabung 5 :
1,5 mL urin + 0,5
mL Stok kinin

5.1.4 Sampel
Ditimbang dan digerus 1 tablet kinin sulfat (200mg)

Ditimbang serbuk kinin sulfat hingga diperoleh kadar dalam serbuk


10mg

Dimasukan dalam labu ukur 10 ml dan ditambahkan metanol ad 10, dan


digojog hingga homogen

Sampel I: Larutan Sampel kinin sulfat 1mg/ml dipipet sebanyak 0,25 mL


dan dimasukkan ke labu ukur 2 mL

Kemudian ditambahkan urine hingga tanda batas 2 mL, lalu


dihomogenkan.

Sampel II : Larutan Sampel kinin sulfat 1mg/ml dipipet sebanyak 0,5 mL


dan dimasukkan ke labu ukur 2 mL

Kemudian ditambahkan urine hingga tanda batas 2 mL, lalu


dihomogenkan

5.2

Ekstraksi Cair-cair

Ditambahkan amonia sebanyak 0,1 mL ke dalam tabung 1 s.d. 6,


ditambahkan larutan kloroform:isopropanol (3:1) sebanyak 4ml

Divortex dengan kecepatan 2500 rpm selama 30 menit

Disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 30 menit, kemudian


diambil fase organik dari masing-masing tabung.

Fase organik diuapkan pada suhu 60oC hingga diperoleh residu.

Residu dilarutkan dengan 25L metanol.

5.3

KLT dan Spektrofotodensitometri


Disiapkan plat silika G60 dengan ukuran 10x10 cm.

Diberikan tanda pada tepi atas dan bawah plat.

Plat dipanaskan dalam oven pada suhu 120oC selama 30 menit sehingga
plat teraktivasi.

Chamber dijenuhkan dengan fase gerak berupa larutan metanol:amonia


kuat (100:1,5).
Ditotolkan larutan sampel, larutan uji, larutan standar, serta larutan
blanko pada plat yang telah teraktivasi.

Dielusi plat di dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan fase gerak
metanol:amonia kuat (100:1,5) sampai tanda batas.

Plat diangkat dan dikeringkan selama 10 menit di dalam oven bersuhu


60oC.

Plat disemprotkan dengan larutan H2SO4 0,1 N lalu dikeringkan dalam


oven bersuhu 60oC selama 10 menit.

Bercak/spot yang diperoleh diamati dengan spektrofotodensitometer.


Masing-masing spot diukur luas areanya pada panjang gelombang
eksitasi 255 nm.

Dilakukan pengukuran spektrum emisi pada panjang gelombang 255 nm


dan analisis terhadap hasil scan di spektrofotodensitometer.

DAFTAR PUSTAKA

Budavari, S. 2001. The Merck Index. Encyclopedia of Chemicals, Drugs, and


Biologicals. Thirteenth Edition. Whitehouse: Merck & Co., Inc. Page 1170.
Cheon, T. M, B. S Cheong, H. G. Cho, J.H. Kim, and K.S. Kim. 2012. Quinine
Assay with Home-Built UV-LEDFluorometer: Quantitative Analysis, PhotoBleaching, Fluorescence Quenching, and Urine Analysis. Journal of the
Korean Chemical Society. Vol. 56, No. 5: 577-581
Cheon,J., Sangno,L.,Crooks, S.M.& Song, J. 2012. An investigation of mobile
learning readiness in higher education based on the theory of planned
behavior. Computers & Education. 59,1054--1064.
Deinstrop and E. Hanhn. 2007. Applied Thin-Layer Chomatography. German: Wiley
VCH.
Gandjar, I. G. & Rohman, A. 2012. Analisis Obat secara Spektroskopi dan
Kromatografi, 315-317. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gandjar, I. G. dan A. Rohman. 2009. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Griffith KS. Lewis LS. Mali S et al. 2007. Treatment Malaria in the United State A
Systematic Review JAMA. Vol 297, p 2264-2277.
Moffat, A. C., M. D. Osselton, dan B. Widdop. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and
Poisons. London: Pharmaceutical Press.
Sherma, J and B. Fried. 1996. Handbook of Thin-Layer Chromatography. Third
Edition. New York: Marcel Dekker Inc. p.147-149.
Wonorahardjo dan Surjani. 2013. Metode-Metode Pemisahan Kimia Sebuah
Pengantar. Jakarta: Akademia Permata