Anda di halaman 1dari 9

Proposal penelitian

MK. Epidemiologi Gizi

Tanggal praktikum: 27 November 2014


Ruang kuliah
: RK. P23

PENGARUH KONSUMSI MAKANAN KEMASAN TERHADAP


STATUS GIZI OBESITAS PADA MAHASISWA

Oleh:
Atika Yuniarti

I14120127

Asisten Praktikum
Ridhati Utria
Kharisma Tamimi
Penanggung Jawab Praktikum:
Anna Vipta Resti Mauludyani, S.P, M.Gz

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN
Latar belakang
Obesitas adalah refleksi ketidakseimbangan konsumsi dan pengeluaran
energi, penyebabnya ada yang bersifat Eksogenetis dan Endogenous. Penyebab
Eksogenetis misalnya kegemaran makan secara berlebihan terutama makanan
tinggi kalori tanpa diimbangi oleh aktivitas fisik yang cukup sehingga surflus
energinya disimpan sebagai lemak tubuh (Anwar 2005).
Perkiraan 200 juta penduduk Indonesia pada tahun 2000, jumlah penduduk
yang overweight diperkirakan 76,7 juta (17,5%) dan penderita obesitas berjumlah
lebih dari 9,8 juta (4,7%). Kasus obesitas pada anak remaja diatas 18 tahun ini
ditemukan (10,2%) dibandingkan dengan remaja putra (3,1%). Hasil survey
menunjukkan bahwa pada tahun 2007 terjadi peningkatan obesitas sebesar 19,1%.
Menurut Riskesdas (2010), terjadi peningkatan secara nasional masalah gizi
penduduk diatas 18 tahun adalah berat badan lebih dan obesitas sebesar 21.7%.
Faktor penyebab terjadinya obesitas masih diteliti. Status sosial, genetik,
maupun lingkungan juga berperan dalam penyebab obesitas. Meningkatnya
obesitas juga tidak lepas dari perubahan gaya hidup seperti menurunnya aktivitas
fisik, kebiasaan mengkonsumsi makanan ringan berlebihan (makanan jajanan atau
makanan kemasan). Kebiasaan makan seseorang sangat mempengaruhi status gizi
seseorang (Surjadi 2013).
Makanan jajanan merupakan makanan dan minuman yang disiapkan oleh
pedagang kaki lima maupun tempat umum lainnya yang nantinya makanan
tersebut dapat langsung dikonsumsi dengan atau tanpa pengolahan terlebih
dahulu. Hampir semua kalangan mengkonsumsi makanan kemasan tidak terlepas
mahasiswa. Mahasiswa yang tinggal tidak bersama orangtua atau jauh dari rumah
cenderung lebih sering mengkonsumsi makanan kemasan, seperti misalnya mie
instan, cemilan atau kue-kue kering, dan makanan kecil lainnya. Kebiasaan makan
tersebut dapat mempengaruhi status gizi individu mahasiswa tersebut.
Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh
keseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan. Keseimbangan tersebut
dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu berat badan, tinggi badan/panjang
badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan panjang tungkai. Keseimbangan asupan
zat gizi dengan kebutuhan dapat terganggu kemudian akan timbul masalah
malnutrisi. Masalah yang akan muncul tidak hanya gizi buruk atau malnutrisi,
tetapi juga gizi lebih atau obesitas. Masalah obesitas pada remaja harus segera
ditelusuri lebih mendalam. Oleh karena itu penilitian pengaruh makanan kemasan
terhadap status gizi obesitas pada mahasiswa harus dilakukan agar kita dapat
mengetahui seberapa besar pengaruh makanan kemasan tersebut terhadap status
gizi obesitas.
Perumusan masalah
Penelitian ini memiliki rumusan masalah antara lain:
1. Apa saja faktor penyebab terjadinya obesitas pada mahasiswa?
2. Apakah makanan kemasan memiliki pengaruh besar terhadap status gizi
obesitas pada mahasiswa?

3. Bagaimana hubungan kebiasaan makan dengan status gizi obesitas pada


mahasiswa?
Tujuan
Penelitian pengaruh makanan kemasan tersebut terhadap status gizi
obesitas pada mahasiswa memiliki tujuan umum dan khusus.
Tujuan umum: Mengetahui seberapa besar pengaruh makanan kemasan
terhadap status gizi obesitas pada mahasiswa.
Tujuan khusus:
1. Mengidentifikasi kebiasaan makan pada mahasiswa.
2. Mengetahui status gizi mahasiswa
3. Mengidentifikasi hubungan kebiasaan makan terhadap status gizi
mahasiswa.
Hipotesis
Penelitian ini memiliki hipotesis sebagai berikut:
1. Penyebab obesitas pada mahasiswa antara lain adalah faktor lingkungan,
aktivitas fisik, serta kebiasaan makan sehari-hari.
2. Makanan kemasan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap status
gizi obesitas pada mahasiswa.
3. Adanya hubungan berbanding lurus terhadap kebiasaan makan mahasiswa
dengan status gizi obesitas pada mahasiswa.
Manfaat penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat bagi peneliti
Manfaat yang didapat bagi peneliti adalah mengetahui secara langsung
hubungan yang terdapat pada kebiasaan makan makanan kemasan
terhadap status gizi obesitas pada mahasiswa.
2. Manfaat bagi subjek
Manfaat yang didapat oleh subjek adalah subjek dapat mengetahui efek
intensitas konsumsi makanan kemasan terhadapat status gizi subjek.
3. Manfaat bagi masyarakat
Manfaat bagi masyarakat agar dapat mengurangi kejadian obesitas pada
masyarakat terutama di kalangan mahasiswa.

KERANGKA PEMIKIRAN
Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih
pangan apa yang akan dikonsumsi sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis,
psikologi, dan sosial budaya. Kebiasaan makan merupakan hasil dari proses
pembelajaraan sedari kecil. Kebiasaan makan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan
gizi, pendapatan, ketersediaan, dan lingkungan suatu individu. faktor lingkungan
yang dapat mempengaruhi kebiasaan makan adalah lingkungan budaya,

lingkungan alam, serta populasi sekitar tempat tinggal. Pengetahuan gizi


berhubungan langsung dengan pemilihan makanan untuk dikonsumsi.
Pengetahuan tentang gizi dapat diperoleh secara internal (dari dalam dirinya
sendiri) maupun eksternal (pengetahuan yang berasal dari orang lain) (Devi
2012).
Keempat faktor yang telah disebutkan tadi mempengaruhi tingkat
konsumsi makanan kemasan. Namun, tidak semua faktor tersebut secara langsung
mempengaruhi konsumsi makanan kemasan. Faktor kebiasaan makan dan faktor
lingkungan secara langsung dapat mempengaruhi tingkat konsumsi makanan
kemasan. Keempat faktor tersebut saling berhubungan satu sama lain. Faktor
kebiasaan makan makanan kemasan dapat timbul akibat pengaruh lingkungan
sekitar atau pergaulan. Faktor pengetahuan gizi juga berpengaruh besar terhadap
konsumsi makanan kemasan. Seseorang sebaiknya harus mengetahui jenis
makanan apa saja yang harus dikonsumsi, kandungan apa saja yang harus
diperhatikan dalam suatu makanan, serta kesehatan dari pengelolaan makanan
tersebut (Surjadi 2013).
Menurut Khomsan (2012), tingkat konsumsi makanan kemasan juga dapat
dilihat dari seberapa sering individu mengkonsumsi makanan kemasan (intensitas
konsumsi makanan kemasan). Semakin sering seseorang mengkonsumsi makanan
kemasan, semakin besar pula kemungkinan seseorang memiliki status gizi lebih
atau obesitas. Kelebihan berat badan merupakan suatu kondisi dimana
perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan.
Obesitas adalah kondisi dimana tubuh kelebihan lemak, baik diseluruh tubuh
maupun pada bagian-bagian tertentu. Masalah tersebut dapat terjadi akibat dari
kelebihan mengkonsumsi makanan kemasan tanpa diimbangi dengan olahraga
atau aktivitas fisik yang baik. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab dari
masalah obesitas pada mahasiswa.
Karakter individu
Pendapatan

Lingkungan

Pengetahuan gizi
Ketersediaan
makanan
Kebiasaan makan

X
X

Intensitas makan
makanan kemasan
Sering
Obesitas
Gambar 1 kerangka pemikiran penelitian pengaruh konsumsi makanan kemasan
terhadap status gizi obesitas pada mahasiswa

METODE PENELITIAN
Desain, tempat, dan waktu penelitian
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional bertujuan untuk melihat
hubungan antara variabel yang akan diteliti. Lokasi yang dipilih yaitu kampus
Institut Pertanian Bogor Dramaga. Pemilihan tempat dilakukan secara purpossive
dengan pertimbangan kebiasaan mahasiswa yang sering mengkonsumsi makanan
kemasan, mengingat banyak mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah (kost).
Waktu penelitian meliputi persiapan, pengumpulan, pengolahan, analisis, dan
penulisan laporan dilaksanakan bulan November 2014 hingga Januari 2014.
Jumlah dan cara pemilihan contoh
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor.
Contoh diambil dari seluruh fakultas yang berada di kampus Institut Pertanian
Bogor Dramaga, masing-masing dipilih secara purposive sampling dengan
pertimbangan akses yang mudah serta belum ada penelitian yang membahas
tentang konsumsi makanan kemasan di wilayah kampus Institut Pertanian Bogor
Dramaga. Jumlah contoh yang diambil setiap fakultas sebanyak 20 orang, dipilih
secara acak dengan kriteria (a) tidak tinggal bersama orangtua, (b) mahasiswa
berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, (c) merupakan mahasiswa aktif Institut
Pertanian Bogor, (d) memiliki IMT lebih (>23), (e) sehat jasmani dan rohani, serta
(f) bersedia untuk dijadikan contoh dalam penelitian. Dibawah ini merupakan
rumus besar sampel estimasi proporsi dan simpangan relatif.
z12 / 2 (1 P )
n
2P
P= Estimasi proposi
e= Simpangan relatif
z= nilai z pada derajat kepercayaan 1-a/2
Jenis dan cara pengumpulan data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang didapat langsung dari contoh dengen
teknik wawancara menggunakan kuesioner. Data primer dalam penelitian kali ini
meliputi berat badan, tinggi badan, karakteristik contoh, frekuensi makan, serta
kebiasaan konsumsi makanan. Data pengukuran obesitas (berat badan dan tinggi
badan) didapatkan dengan cara pengukuran berat badan serta tinggi badan
langsung menggunakan alat ukur berat badan dan tinggi badan. Berat badan
diukur menggunakan timbangan injak digital dengan cara contoh diukur dengan
posisi berdiri tegak diatas timbangan tanpa menggunakan alas kaki dan bendabenda yang dianggap dapat mengganggu proses pengukuran, seperti jam tangan
dan perhiasan.
Tinggi badan diukur dengan alat ukur tinggi badan dengan cara contoh
berdiri tegak diatas alat ukur, pandangan lurus kedepan. Besi pengukur diturunkan
dan dinaikan sesuai dengan tinggi badan contoh kemudian dilakukan pembacaan
pada skala tinggi badan dengan posisi mata sejajar. Data frekuensi dan kebiasaan
konsumsi makan didapatkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner
penelitain, Food Frequency Questionaire (FFQ) dan recall konsumsi 1x24 jam
dengan dua kali ulangan yang dilakukan pada satu kali hari biasa dan satu kali
hari libur. Data sekunder adalah data yang tidak secara langsung didapat dari
contoh. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal jurnal
yang terkait dengan obesitas serta kebiasaan makan untuk mendukung penelitian
ini. Tabel 1 dibawah ini merupakan jenis serta cara pengukuran data yang
digunakan dalam penelitian kali ini.
Jenis data
Primer

Sekunder

Tabel 1 Jenis dan cara pengukuran data


Contoh data
Cara pengukuran
Karakteristik
contoh; Kuesioner
jenis
kelamin,
usia,
pendidikan terakhir
Berat badan
Timbangan injak digital
Tinggi badan
Pengukur tinggi badan
Frekuensi dan kebiasaan Kuesioner FFQ dan recall
makan
1x24 jam dengan dua kali
ulangan (hari biasa dan
hari libur)
Jurnal dan skripsi terkait Jurnal dan skripsi online
konsumsi makan dan serta perpustakaan
obesitas
Jumlah mahasiswa per Data diambil dari Tata
fakultas
Usaha tiap fakultas
Pengolahan dan analisis data

Data yang telah didapat kemudian diolah. Pengolahan data dimulai dari
editing, coding, data entry, cleaning, dan analisis data. Pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan Microsoft Excel 2013 dan Statistical Program for Social
Science (SPSS for Windows versi 21). Data kebiasaan makan dan pola makan
diukur dengan kuesioner FFQ dan recall 1x24 jam dengan pengulangan dua kali.

Data hasil recall dikonversi dalam bentuk energi (kkal), protein (g), vitamin A
(RE), dan zat gizi lainnya dengan menggunakan program Nutrisurvey. Tingkat
kecukupan zat gizi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.
Tingkat kecukupan zat gizi =

x 100%

(Sumber: WNPG 2004)


Status gizi obesitas ditentukan dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh
(IMT) menurut umur. IMT dihitung dengan membagi berat badan (kg) dengan
tinggi badan kuadrat (m2). Berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui data
antropometri. Status gizi dikatakan obesitas apabila IMT contoh >25. Pengukuran
IMT menggunakan rumus sebagai berikut.
IMT=
(Sumber: PUGS 2005)
Uji yang dilakukan menggunakan uji hubungan Chi-square. Uji Chisquare digunakan untuk melihat hubungan antar variabel. Uji ini menggunakan
program Statistical Program for Social Science (SPSS for Windows versi 21).
Kecenderungan positif dari hasil uji Chi-square pada penelitian ini adalah semakin
sering mengkonsumsi makanan kemasan, maka contoh akan lebih beresiko
terkena obesitas yang dapat dilihat signifikansinya jika P<0.05. Besar persentase
obesitas pada contoh laki-laki dan perempuan dapat dianalisis dengan
menggunakan uji crosstabs.
Definisi operasional
Contoh adalah mahasiswa aktif IPB yang bersedia mengikuti penelitian sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan.
Konsumsi pangan adalah sesuatu yang dikonsumsi oleh contoh yang kemudian
diukur dengan metode recall 1x24 jam sebanyak dua kali ulangan.
Makanan kemasan adalah makanan jajanan yang dikemas sedemikian rupa agar
dapat memudahkan pembelinya, baik instan maupun yang harus melalui proses
pemasakan terlebih dahulu.
Obesitas adalah status gizi lebih seseorang yang ditunjukkan dengan IMT >25.
Status gizi adalah keadaan gizi contoh yang diukur berdasarkan data
antropometri.

DAFTAR PUSTAKA

[Riskesdas] Riset Kesehatan Dasar. 2010. Jakarta


Anwar S. 2005. Obesitas dalam Masyarakat. Jakarta (ID): Yudhistira
Devi. 2012. Gizi Anak Sekolah. Jakarta (ID): PT Kompas Media Nusantara
Khomsan A. 2006. Pangan dan gizi kesehatan. Jakarta (ID) : PT. Rajagrafindo
persada
Surjadi C. 2013. Globalisasi dan pola makan mahasiswa studi kasus di Jakarta.
CDK-205
40
(6):
416-419.
Dapat
diunduh
dari:
http://www.kalbemed.com/Portals/6/07_205Globalisasi%20dan%20Pola
%20Makan%20Mahasiswa-Studi%20Kasus%20di%20Jakarta.pdf
(13
september 2014).

Anda mungkin juga menyukai