Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karsinoma lidah adalah tumor agresif dengan prognosis buruk. Dalam
onkologi sel skuamosa kanker kepala dan leher sering dianggap bersama-sama
karena mereka berbagi banyak kesamaan - di kejadian, jenis kanker, faktor
predisposisi, fitur patologis, pengobatan dan prognosis. Sampai dengan 30% dari
pasien dengan satu kepala primer dan tumor leher akan memiliki rongga mulut
kedua primer malignancy. Rongga mulut terdiri dari dua bagian: bagian depanyang merupakan ruang antara bibir dan pipi dan gigi dan gusi, dan mulut yang
tepat-yang bersifat internal ke gigi. Rongga mulut mengacu pada seluruh isi
bidang ini - termasuk pipi, gusi, lidah, gigi, dan langit-langit. Fungsi daerah ini
termasuk konsumsi dan fase pertama dari pencernaan makanan (kerusakan
mekanis oleh gigi melalui mengunyah), rasa, respirasi dan fungsi pidato (gerakan
rongga mulut dan komponennya bentuk suara yang dihasilkan oleh laring dalam
kata-kata). Lidah adalah organ berupa otot yang saat istirahat, mengisi sebagian
besar rongga mulut.

Ini memiliki banyak peran termasuk rasa, mengunyah

(pengunyahan), menelan (deglutition), berbicara dan membersihkan rongga


mulut.Peran utama adalah untuk mendorong bolus makanan ke belakang dan ke
faring untuk memulai menelan dan membentuk kata-kata untuk mengaktifkan
komunikasi. Ini muncul dari lantai mulut, sebagian di orofaring, dan terdiri dari
otot tertutup oleh selaput lendir.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kanker lidah adalah suatu neoplasma malignat yang timbul dari jaringan epitel
mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (cell epitel gepeng
berlapis) dan terjadi akibat ransangan menahun, juga beberapa penyakit-penyakit tertentu
(premalignant). Kanker ganas ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping
itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan hematogen.
Kanker lidah adalah suatu neoplasma maligna yang timbul dari jaringanepitel
mukosa lidah dengan selnya berbentuk squamous cell carcinoma (cell epitelgepeng
berlapis), juga beberapa penyakit-penyakit tertentu (premaligna). Kankerganas ini dapat
menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapatmelakukan metastase secara
limfogen dan hematogen.
Jadi dapat disimpulkan tumor lidah adalah suatu tumor yang terjadi
padapermukaan dasar mulut yang timbul dari epitel yang menutupi lidah.

B. Epidemiologi
Kanker yang paling sering ditemukan diantara kanker rongga mulut lainnya.
Menurut data dari RS. Kanker Universitas Kedokteran Zhongshan, Kanker lidah
menempati 39,95% dari kaker rongga mulut, atau 0,94% dari kanker selruh tubuh.
Rasio pria : wanita adalah 1,2-1,8 : 1. Laporan dari luar negeri mengatakan kanker
lidah umumnya menempati 2,3-5% dari kanker seluruh tubuh, tapi pada orang india
mencapai 14%. Dari registrasi insiden tumor kota Shanghai tahun 1984-1986 insiden
kanker lidah pria adalah 0,6/100.000 penduduk ; wanita adalah 0,5/100.000 penduduk.
Proporsi kanker lidah diantara kanker rongga mulut menunjukan tren bertambah,
tahun 1980-an telah naik 1,2 kali disbanding tahun 1970-an, disbanding tahun 1950-60an
telah naik 5,8 kali ; proporsi pasien kanker lidah wanita naik mencolok, juga mengarah ke
usia lebih muda. Di China, usia median kejadian kanker lidah pada usia sebelum 50
tahun, lebih awal dibanding Eropa Amerika.
C. Etiologi
Faktor risiko untuk pengembangan dasar karsinoma lidah termasuk alkohol kronis
dan penggunaan tembakau, lanjut usia, lokasi geografis, dan sejarah keluarga atas kanker
saluran aerodigestive. Paparan Lingkungan untuk polisiklik hidrokarbon aromatik, asbes,
dan asap pengelasan dapat meningkatkan resiko kanker faring. Kekurangan gizi dan agen
infeksi (terutama papillomavirus dan jamur) juga mungkin memainkan peran penting.
Factor yang berkaitan antara lain :
a. Karsinogen kimia
Nikotin dalam tembakau berefek karsinogenik perokok mudah terkena kanker
lidah setelah kanker lidah disembuhkan masih teeap merokok, ,maka peluang timbulnya
kanker primer kedua sangat meningkat bir dapat menjadi zat pelarut karsinogen memacu
karsinogen masuk kemukosa lidah

angka kejadian diluar negeri 15.5 X lebih besar dibandingkan dengan bukan perokok dan
peminum bir.

b. Factor karsinogen fisika


Kebiasaan hygene oral buruk,rudapaksa radiasi, rudapaksa mekanik, seperti
penyangga gigi, gigi palsu yang tidak pas, kaies dentist, gigi yang cacat spur dan benda
asing lain bergesekan dengn lidah menimbulkan ransformasi ganas; kesukkaan
mengunyah pinang mungkin menjadi factor pemacu karsinogen.
c. Factor karsinogen biologic
Infeksi treonema pallidum, HVP ( virus papilloma humanus ) dan timbulnya
kanker jenis lidah tertentu. Factor genetic, kerentanan individual, gangguan metabolic
nutrient, etnis juga berkaitan dengan timbulya kanker lidah. Pasien karsinoma nasofaring
pasca radioterapi memiliki insiden kanker lidah meningkat
D. Manifestasi klinis
Kanker lidah predileksi timbul di 1/3 tengah margo lateral lidah, paling jarang ke
apeks lidah. Derajat kegana nsan kanker lidah lebih tinggi dari rongga mulut umumnya,
riwayat penyakit pendek progresi cepat. Manifestasi tipikalnya adalah
1. Benjolan di lidah : kemudia timbul lesi ulseratif
2. Nyeri : disebabkan oleh invasi tumor atau ifeksi nekrosis, dapat disertai otalgia radatif
3. Gerakan lidah terbatas : manifestasinya berupa bicara tidak jelas, gangguan menelan, liur
meleleh, karena tumor mrnginvasi dasar mulut (otot ekstralingual), frenulum linguae.
Lesi stadium lanjut tumor menginfiltrasi lebih luas sehingga lidah terfiksasi, tumor
nekrosis, ulserasi, berdarah. Lebih lanjut dapat mengenai m. pterigodeus medialis,
kelenjar mandibular dan os. Mandibular, timbul kesulitan membuka mulut.
4. Gangguan nutrisi fisik : berat badan menurun
5. Limfadenopati leher : sekitar 30 40 % pasien kanker lidah ketika datang berobat sudah
menderita metastasis kelenjar limfe regional, umumnya adalah limfadenopati leher

ipsilateral. Kanker lidah yang primer nya di dorsum lidah, apeks lidah atau menginvasi
garis tengah dapat mengalami metastasis kelenjar limfe bilateral.

E. Patologi & Patofisiologi


a. Patologi
Jenis patologik kanker lidah umumnya timbul pada epitel mukosa normal
karpuslinguae, sebagian bertransformasi ganas dari leukoplakia atau eritroplakia. Kanker
lidah dinilai dari tampilan penebalan mukosa setempat.
Tipe umum kanker kidah topical terdapat tipe kembang kol, tipe ulserasif, tipe
infiltrative dan tipe nodular. Pengamatan dibawah mikroskop menunjukan kebanyakan
kanker lidah adalah karsinoma sel skuamosa berdiferensiasi baik. Menurut data dari RS
kanker universitas kedokteran zhongshan dari 662 kasus kanker lidah, 95,5 % adalah sel
skuamosa, lainnya adalah adenokarsinoma dari kelenjar liur kecil dll.
b. Patofiologi
Unsur-unsur penyebab kanker (onkogen) dapat digolongkan ke dalam tiga
kelompok besar, yaitu energi radiasi, senyawa kimia dan virus.
1. Energi radiasi
Sinar ultraviolet, sinar-x dan sinar gamma merupakan unsur mutagenik dan
karsinogenik. Radiasi ultraviolet dapat menyebabkan terbentuknya dimmer pirimidin.
Kerusakan

pada

karsinogenisitas

DNA

akibat

diperkirakan

energi

radiasi.

menjadi mekanisme
Selain

itu,

sinar

dasar timbulnya

radiasi menyebabkan

terbentuknya radikal bebas di dalam jaringan. Radikal bebas yang terbentuk dapat
berinteraksi dengan DNA

dan makromolekul lainnya sehingga terjadi kerusakan

molekular.
2. Senyawa kimia
Sejumlah

besar

senyawa

kimia

bersifat

karsinogenik.

Kontak

dengan

senyawa kimia dapat terjadi akibat pekerjaan seseorang, makanan, atau gaya hidup.
Adanya interaksi senyawa kimia karsinogen dengan DNA dapat mengakibatkan
kerusakan pada DNA. Kerusakan ini ada yang masih dapat diperbaiki dan ada
yang tidak. Kerusakan pada DNA yang tidak dapat diperbaiki dianggap sebagai
penyebab timbulnya proses karsinogenesis.

3. Virus
Virus onkogenik mengandung DNA atau RNA sebagai genomnya. Adanya
infeksi virus pada suatu sel dapat mengakibatkan transformasi maligna, hanya saja
bagaiamana protein virus dapat menyebabkan transformasi masih belum diketahui
secara pasti. Berdasarkan beberapa penelitian, DNA merupakan makromolekul yang
penting dalam proses karsinogenesis, hal ini didasari dari:
a. Sel kanker memproduksi sel kanker, dimana adanya perubahan esensial
menyebabkan timbulnya sel kanker diteruskan dari sel induk kepada

yang
sel

turunan, berhubungan dengan peranan DNA.


b. Adanya karsinogen akan merusak DNA, sehingga menyebabkan mutasi pada DNA.
c. Banyak sel tumor yang memperlihatkan kromosom yang abnormal.
d. DNA sel kanker dapat menyebabkan transformasi sel normal menjadi sel
kanker.
Rokok telah terbukti sebagai karsinogen pada percobaan terhadap binatang
karena mengandung banyak radikal bebas dan epoxides yang berbahaya. Pengaruh
yang ditimbulkan oleh rokok berupa perubahan mukosa saluran aerodigestivus. Hal
ini berhubungan dengan kerusakan gen p53, dimana jika terjadi mutasi, hilang atau
rusaknya gen p53 maka resiko untuk terjadinya kanker akibat rokok akan meningkat.
Peningkatan angka kejadian keganasan berhubungan erat dengan penggunaan alkohol
dan rokok. Resiko untuk terjadinya kanker kepala dan leher pada orang perokok dan
peminum alkohol 17 kali lebih besar daripada yang tidak perokok atau peminum
alkohol.
Menurut Hanh dkk, terdapat 6 faktor yang menyebabkan perkembangan untuk sel :
1. Berproliferasi autonom
2. Menghambat sinyal growth inhibition
3. Kemampuan menghindari apoptosis
4. Immortal
5. Angiogenesis
6. Menginvasi jaringan lain dan metastasis

Patogenesis tumor ganas merupakan prosesyang biasanya memakan waktu yang


cukup lama. Pada tahap awal terjadi inisiasi karena ada inisiator yang memulai
pertumbuhan sel yang abnormal. Inisiator ini dibawa oleh zat karsinogenik. Bersamaan
dengan atau setelah inisiasi, terjadi promosi yang dipicu oleh promoter sehingga
terbentuk sel yang polimorfis dan anaplastik. Selanjutnya terjadi progresi yang ditandai
dengan invasi sel-sel ganas ke membrane basalis.
Faktor

utama

ketidakmampuan DNA

yang

menyebabkan

inisiasi

keganasan

untuk memperbaiki

sistem

yang

adalah

mendeteksi

akibat
adanya

transformasi sel akibat paparan onkogen. Kerusakan pada DNA meliputi hilangnya atau
bertambahnya kromosom, penyusunan ulang kromosom, dan penghapusan kode
kromosom. Penghapusan atau penggandaan bagian-bagian

kromosom memungkinkan

untuk ditempati oleh onkogen atau gen supresor tumor. Sedangkan penyusunan
ulang kromosom dapat berubah menjadi aktivasi karsinogenik.
Perubahan genetik pada karsinoma sel skuamosa kepala dan leher belum
diketahui secara pasti. Califano dkk mengemukakan hilangnya kromosom 9p21 atau
3p menyebabkan

perubahan

dini

pada

mukosa

kepala

dan

leher

sehingga

mengakibatkan munculnya karsinoma sel skuamosa. Namun, teori lain menyatakan


bahwa hilangnya kromosom 17p pada gen supresor tumor juga turut berperan
tethadap

keganasan

kepala dan leher. Selain itu, hilangnya kromosom 3p21 men

yebabkan perubahan hyperplasia dan displasia, sedangkan hilangnya kromosom 6p,


8p, 11q, 14q, dan 4q26-28 menyebabkan terjadinya invasi ke jaringan sekitar.

Pertumbuhan dan penyebaran


Kanker lidah ebih ganas disbanding kanker rongga mulut lainnya. Pada stadium dini
dapat menginvasi lapisan otot kanker margo lateral lidah ke posterior dapat menginvasi
arkus palate lingual. Kanker penter lidah umumnya ekspansi kae dasar mulut dan dapat
mengenai os.mandibula. kanker lidah stadium lanjut dapat melintasi garis tengah bahkan
mengenai seluruh lidah
Metastasis
8

Kanker lidah mudah bermetastasis ke kelenjar limpe regional. Literature melaporkn


angka sampai 84%, data dari rumah sakit kanker universitas kedokteran zongsan adalah
34,9%. Kelenjar limfe yang terkena sesuai urutannya adalah kelenjar limfe leher area II,
area Ia, area III, area Ib, dan area IV.
Angka metastasis jauh kanker lidah sekitar 5%, umumnya ke paru dan hati.

F. Klasifikasi
Dewasa ini menggunakan metode klasifikasi stadium yang disepakati antar ikatan
antikanker amerika serikat ( AJCC ) dan perhimpunan antikanker internasional ( UICC )
Edisi tahun 2002
T : kanker primer
TX : tumor primer tak dapat dinilai
T0 : lesi primer tersembunyi
Tis : karsinoma in situ
T1 : diameter tumor terbesar < 2 cm
T2 : diameter tumor terbesar > 2 cm, < 4 cm
T3 : diameter tumor terbesar > 4 cm
T4a : tumor mengenai korteks tulang, otot lidah porfunda atau otot luar lidah, sinus
malsilaris, kulit wajah.
T4b : tumor menginvasi celah posterior gigi molar, plat pterigoid, basis kranial, arteri
karotis interna.
N : kelenjar limfe regional
NX : metastasis kelenjar limfe regional tak dapat dinilai
N0 : tak ada metastasis kelenjar limfe regional
N1 : metastasis satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter terbesar < 3 cm
9

N2 : metastasis kelenjar limfe


N2a : metastasis kelenjar limfe ipsilateral, diameter terbesar > 3cm, < 6 cm
N2b : metastasis banyak kelenjar limfe bilateral, diameter terbesar < 6cm
N2c : metastasis kelenjar limfe terbesar > 6cm
N3 : metastasis kelenjar limfe berdiameter terbesar > 6cm
M : metastasis jauh
MX : metastasis jauh tak dapat dinilai
M0 : taka da metastasis jauh
M1 : ada metastasis jauh

Klasifikasi stadium patologik pTNM


pN0

: pemeriksaan patologik pembersihan kelenjar limfe per area leher 6 buah


keatas, atau pembersihan kelenjar limfe seluruh leher 10 buah keatas
semuanya negative

pN : klasifikasi stadium harus mengukur ukuran lesi metastasik, bukan hanya ukuran
kelenjar limfe

Penggolongan stadium klinis :


stadium 0 : TisN0M0
stadium 1 : TisN0M0
stadium 2 : T2N0M0
stadium 3 : T3N0M0, T1 T3, N1M0.
Stadium 4 : T4, N apapun, M0/ T apapun, N2, M0/ T apapun, M apapun.

10

11

G. Komplikasi
Tumor ganas pada lidah yang tidak ditangani segera akan melakukan penyebaran ke
jaringan di dalam rongga mulut dan leher yang lebih dalam. Akhirnya, menyebar ke
kelenjar getah bening di sekitarnya. Pada tingkat lanjutan ini, penderita akan mengalami
komplikasi akibat dari penyebaran itu. Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul antara
lai:
1. Perdarahan
2. Sumbatan jalan nafas
3. Gangguan fonasi suara
4. Glossitis
5. Penurunan berat badan akibat kurangnya nafsu makan

H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Biopsi langsung
Merupakan metode baku untuk memperoleh jaringan dari lesi dirongga mulut dan
orofaring.
2.

Sitologi
Pemeriksaan sitologi eksfoliatifa dari spesimen kerokan atau inprint dari tumor
primer dikerjakan pada lesi yang berupa bercak/superficial. Bila hasilnya :
Klas I- III : lakukan ulangan sitologi 3 bulan lagi.Bila 2x ulangan sitologi tetap klas
I- III maka perlu dibiopsi
Klas IV-V : lakukan biopsy

3. Panendoskopi
Dilakukan untuk menentukan perluasan lesi yang besar dan terletak disebelah
posterior dan untuk menyingkirkan adanya tumor primer simultan.
4. Ultrasound yaitu dipakai untuk menilai massa superficial.
5. CT Scan dan Megnetic Resonance Imaging (MRI) yaitu digunakan untuk lesi lebih
dalam dan menilai struktur lebih dalam pada tumor dan menunjukkan apakah terdapat
metastase atau tidak.(Charlene J. Reeves, 2001, hal: 133)
6. Biru toluidine
12

Sebuah zat pewarna yang dibubuhkan in situ sebagai salah satu cara diagnostik
tambahan dalam mendeteksi karsinoma sel skuamosa yang akan memberi warna biru
pada sel kanker. Jaringan normal tidak mengisap warna, sedang lesi pra-ganas atau
non neoplasma tidak konstan mengisap warna.Menurut Mashberg tehnik memberi
warna rongga mulut sebagai berikut:
1. Kumur dengan larutan asam asetat 1% : 20 detik
2. Kumur dengan air : 20 detik, 2 x
3. Kumur dengan larutan toluidine blue 1% : 5-10 cc
4. Kumur lagi dengan larutan asam asetat 1% : 1 menit
5. Kumur dengan air.
Pembacaan hasil pemeriksaan dilakukan 24 jam kemudian, pemeriksaan ini
memiliki sensitivitas dan spesifisitas sebesar 90%.Adapun larutan toluidine biru
terdiri dari :
1.Toluidine chlorida : 1 gr
2. Asam asetat : 10 cc
3. Alkohol absolut : 4,2 cc
4.Aquadest: 100 cc
5. PET (Positron Emission Tomography)
Pemeriksan imaging dengan PET Pemeriksaan Positron Emission Tomography
menggunakan tirosin sebagai tracer memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup
tinggi untuk karsinoma.Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tumor <4mm. Untuk
staging memiliki sensitivitas 71% dan spesifisitas 99%, sedangkan untuk dteksi
kekambuhan memiliki sensitivias 92% dan spesifisitas 81%.

I. Prognosis
Prognosis kanker lidah terutama ditentukan oleh stadium penyakit. Data
dari RS. Kanker Universitas Zhongshan menunjukan stadium klinis I, II, III, IV
memiliki survival 5 tahun masing-massing 77,3%, 60,2%, 47,3%, 44,8%; secara
patologis semakin buruk derajat diferensiasinya semakin buruk prognosisnya;

13

Yang dengan metastasis kelenjar limfe angka survival 5 tahun hanya separuh dari
yang tanpa metastasis ; dari berbagai lokasi kanker lidah, kanker venter lidah
memiliki survival 5 tahun tertinngi.
Metode terapi gabungan efektif telah memperluas indikasi operasi kanker
lidah, memperbaiki penampilan dan fungsi pasien, meningkatkan survival pasien
stadium lanjut.

J. Penanganan
Metode terapi kanker lidah yang paling efektif adalah operasi reseksi dan
radioterapi. Kemoterapi adjuvan digabung dengan opersasi atau radioterapi memiliki
prospek perkembangan yang baik. Kanker lidah stadium dini direseksi, stadium
sedang dan lanjut cenderung dengan gabungan operasi, kemoterapi dan radiasi. Lesi
metastasik kelenjar limfe leher tiak peka terhadap radioterapi, maka terapi utamanya
operasi. Pilihan metode terapi kanker lidah harus secara tuntas menyembuhkan tumor,
juga mempertombangkan fungsi dan kosmetika rongga mulut, rahang dan wajah.
Penangana karsinoma in situ
1. Kanker lidah stadium T1 pilihan terapinya adalah operasi
2. Lesi stadium T2-T3, umumnya dengan operasi atau gabungan kemoterapi
adjuvant/radioterapi adjuvant ditambah operasi. Umumnya digunakan kemoterapi
induksi 2-3 segmen, lalu operasi.
3. Lesi T4, umumnya dengan gabungan kemoterapi, operasi dan/ atau radioterapi. RS
kanker universitas kedokteran zhongshan menggunakan koagulasi gelombang mikro
untuk terapi karsinoma in situ yang menginvasi dasar mulut, dapat menyembuhkan
tumor dan mempertahankan mandibular. Bila tumor menginvasi luas otot
ekstralingual dan struktur berdekatan, taka da indikasi bedah, kondisi umum pasien
baik, apat diradiasi luar, didukung kemoterapi, dapat meredakan gejala, mengecilkan
tumor sebagai tujuan paliatif.

14

Metode reseksi kanker lidah yang sering digunakan


1. Glosektomi parsial : sesuai untuk terapi lesi dangkal berdiamter < 2 cm dan tanpa
metastasis kelenjar limfe leher.
2. Hemiglosektomi : sesuai untuk kanker korpus linguae yang dapat menginvasi lapisan
otot, tapi lingkup lesi tidak melewati garis tengah dan sulkus terminalis dan belum
mencapai dasar mulut.
3. Operasi radial gabungan kanker lidah : sesuai untuk lesi berdiamter > 2 cm tapi belum
mencapai garis tengah, belum melewati sulkus terminalis, kanker menginasi os.
Mandibula, metastasis kelenjar limfe leher N1-N2 atau dicurigai.
Penanganan metastasis kelenjar limfe leher
Angka metastasis kelenjar limfe leher dari kanker lidah tinggi, dan terhadap
radioterapi tidak peka, maka operasi merupakan terapi utama. Ketika klinis timbul
lesi metastik N1-N2, harus dilakukan operasi pembersihan radikal ( RND ), pasca
operasi dapat diradiotrrapi untuk medan leher. Pasien stadium T2 pasca operasi
sekitar 40% dapat timbul metastasis leher, maka terapi preventif metastasis kelenjar
limfe leher semakin penting. Oleh karena itu kecuali kasus T1N0 pasien T2-T4
walaupun secara klinis belum teraba pembesaran kelenjar limfe, juga harus dilakukan
operasi pembersihan leher efektif (END). Terhadap pasien T3-T4 manapun harus
dilakukan RND sebagai bagian dari terapi lidah bedah pertama.

Radioterapi kanker lidah


1. Persiapan pra-radioterapi
Sebelum dilakukan radioterapi, harus dilakukan terlebih dahulu hygene
rongga mulut yang baik. Bersihkan gigi dan tambal karies, untuk mencegah dan
mengeliminasi sumber infeksi dental, mencegah timbulnya rudapaksa tulang
radiasi pasca radioterapi.

2. Model dan metode radioterapi :

15

(1) Yang utama adalah radiasi internal dengan implantasi dalam jaringan,
didukung radiasi intrakavital atau radiasi luar; lesi < 2cm, tidak peduli
lokasinya di ujung lidah, tepi lidah atau venter lidah, semua dapat
memakai brakiterapi implant jarum Ir-192.
Radiasi intertisial dengan radiasi gama dosis tinggi, umumnya dapat
dilkukan satu atau dua kali. Pasca terapi jaringan parut local sedikit, reaksi
sistemik lebih ringan, juga dapat mempertahaankan fungsi lidah.
Radioterapi intertisial murni hanya sesuai bagi lesi kecil dangkal, diluar
itu harus di tambah radiasi luar.
(2) Yang utama radiasi luar, didukung radiasi intrakavital atau radiasi intetnal
implant dalam jaringan. Sesuai tumor yang agak besar. Medan radiasi
kedua sisi mencakup submentale, sub mndibula, dan area porfunda
superior leher. Menggunakan radiasi sinar X, Co-60, berkas electron.
Dosis radioterapi 40-60 Gy/4-6 minggu, lalu diradiasi internal implant
intertisial.
(3) Radiasi luar murni : untuk pasien yang tak dapat diradiasi luar paliatif,
dosis total 70 Gy/7 minggu. Dosis yang diterima medulla spinalis dibatasi
kurang dari 40 gy, untuk mencegah myelitis radiasi.
Kemoterapi kanker lidah
Belakangan ini, kemoterapi induksi dalam terapi gabungan kanker lidah
semakin luas diguakan, obat yang sering digunakan adalah: DPP, BLM-A5, MTX dll.
Regimen kemoterapi relative banyak :

(1) BLM-A5 obat tunggal : BLM-A5 8mg injeksi intramuscular, sekali


setiap hari. Setelah 7 hari berturut-turut dimonitor hasilnya. Bila
efektif diubah menjadi setiap selang hari, 25-30 kali satu kuur,
istrirahat 10-14 hari kemudian dioperasi. Cara ini efek sampingnya
kecil, mudah dilaksanakan.
(2) Regimen DBF : DPP 50mg hari 1, 3, 5 ;
16

BLM-A5 8mg hari 1, 3, 5 ;


5FU 500mg berturut-turut 5 hari ; istirahat 10-14 hari lalu diulang,
total 2-3 segmen. Efektifitas terapi ini lebih baik.

17

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
A. Data Demografi
Nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nomor
register, tanggal masuk dan nama penanggung jawab pasien selama dirawat.
B. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Alasan spesifik untuk kunjungan ke klinik atau rumah sakit.
b) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama dari awitan paling awal sampai perkembangannya saat ini.
Terdapat komponen utama yaitu: rincian awitan, riwayat interval yang lengkap, status
saat ini, alas an untuk mencari bantuan saat ini.
c) Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di derita klie sebelumnya.
d) Riwayat penyakit keluarga
Apakah didalam keluarga ada salah satu anggota yang menderita tumor lidah.
e) Riwayat imunisasi
C. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional (Gordon)
a) Aktivitas
Kelemahan atau keletihan, perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
b) Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan
bising usus, distensi abdomen.
c) Makanan/cairan

18

Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia,


mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan,
perubahan kelembaban/turgor kulit.
d) Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, juling.
e) Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di
daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran.
f) Pernapasan
Merokok (tembakau, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan.
g) Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /berlebihan,
demam, ruam kulit.
h) Seksualitas
Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
i) Interaksi sosial
Ketidakadekuatan atau kelemahan sistem pendukung.
D. Pemeriksaan Fisik
Sistem pengkajian fisik, baik struktur internal dan eksternal mulut dan tenggorok
diinspeksi dan palpasi. Perlu untuk melepaskan gigi palsu dan lempeng parsial untuk
menjamin inspeksi menyeluruh terhadap gusi. Secara umum, pemeriksaan dapat
diselesaikan dengan penggunaan sumber lampu terang (penlight) dan depresor lidah.
Sarung tangan digunakan untuk mempalpasi lidah dan adanya abnormalitas.
a) Bibir
Pemeriksaan mulai dengan inspeksi terhadap bibir untuk kelembaban, hidrasi,
warna, tekstur, simetrisitas, dan adanya ulserasiatau fisura. Bibir harus lembab,
merah muda, lembut dan simetris.
b) Gusi
Gusi diinspeksi terhadap inflmasi, perdarahan, retraksi, dan perubahan warna. Bau
napas juga dicatat.
19

c) Lidah
Lidah dorsal diinspeksi untuk tekstur, warna, dan lesi. Papila tipis, lapisan
putih, dan besar berbentuk V pada bagian distal dorsal lidah. Selanjutnya dibagian
permukaan venteral lidah dan dasar mulut lidah. Adanya lesi pada mukosa yang
melibatkan vena superfissial pada permukaan bawah lidah terlihat. Spatel lidah
digunakan untuk menekan lidah guna mendapatkan visualisasi adekuat terhadap faring.
d) Rongga Oral
Pengkajian rongga oral sangat penting, karena banyak gangguan seperti kanker,
diabetes, dan kondisi imunosupresidari terapi obat atau AIDS dimanifestasikan oleh
perubahan

pada

rongga

oral.

Leher

diperiksa

terhadap

pembesaran

nodus

limpa.(Smeltzer, Suzanne C., 2002 : hal 1009)

2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, efek dari pembedahan
reseksi.
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral.
3) Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit
4) Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurology dan
kemampuan menelan.
5) Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan
6) Kurang pengetahuaan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan

3. Intervensi
Dx 1:

Nyeri berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan, pembedahan reseksi.


Tujuan : Nyeri hilang lebih berkurang, rasa nyaman terpenuhi
KH :Klien mengatakan nyeri berkurang sampai dengan hilang, Nadi 60 90
x/menit, klien merasa nyaman, tenang, dan rileks

20

Intervensi
a) Kaji letak dan karakteristik nyeri.
Rasional : untuk menentukan tindakan dalam mengatur nyeri.
b) Ubah posisi klien bila terjadi nyeri, arahkan ke posisi yang paling nyaman.
Rasional : posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri.
c) Observasi nyeri berkurang atau tidak.
Rasional : Mengetahui skala nyeri saat ini.
d) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi (teknik penggurang rasa nyeri non
farmakologi).
Rasional : Mengurangi rasa nyeri.
e) Diskusikan dengan keluarga tentang nyeri yang dialami klien.
Rasional : Keluarga berpartisipasi dalam pengobatan
f) Kolaborasi untuk mendapatkan obat analgetik
Rasional : untuk memblok syaraf yang menimbulkan nyeri
Dx 2:

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral.
Tujuan : kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil : BB dalam batas normal, nafsu makan meningkat, tidak
mual/muntah
Intervensi

a) Timbang BB tiap hari.


Rasional : untuk mengetahui terjadinya penurunan BB dan mengetahui tingkat
perubahan.
b) Diet makanan yang lunak (mis: bubur).
Rasional : untuk membantu perbaikan absorbsi usus.
c) Anjurkan klien untuk makan makanan dalam keadaan hangat.
Rasional : Keadaan hangat dapat meningkatkan nafsu makan.
d) Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi sering.
Rasional : Untuk memenuhi asupan makanan.
21

e) Berikan diet tinggi kalori, protein dan mineral serta rendah zat sisa.
Rasional : untuk memenuh kecukupa nutrisi klien
f) Kolaboration pemberian obat antipiretik.
Rasional : untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa mual dan muntah
Dx 3:

Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan penyakit


Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.
KH : suhu tubuh dalam batas normal, badan tidak terasa panas
Intervensi :

a) Kaji suhu dan tanda- tanda vital


Rasional : Memantau perubahan suhu tubuh
b) Pantau suhu klien, perhatikan menggigil.
Rasional : Suhu 38,-41,1C menunjukan proses penyakit infeksius.
c) Berikan kompres air hangat.
Rasional : Dapat membantu mengurangi demam.
d) Anjurkan pasien untuk banyak minum.
Rasional : Mempertahankan intake.
e) Anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
Rasional : Menurunkan suhu tubuh
f) Kolaborasi pemberian antipiretik
Rasional : Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus

Dx 4:

Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan neurologi


dan kemampuan menelan.
Tujuan : tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal.
Kriteria hasil : komunikasi lancar.
Intervensi :

a) Kaji kemampuan komunikasi klien.


22

Rasional : Mengetahui kemampuan komunikasi klien.


b) Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika klientidak
dapat berkomunikasi verbal
Rasional : Membantu dalam berkomunikasi.
c) Responsif terhadap bel panggilan dari klien
Rasional : Menjaga kepercayaan dari pasien.
Dx 5: Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan.
Tujuan: Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil:Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, color, dolor, tumor dan
fungsion laesa), TTV dalam batas normal.
Intervensi :
a) Monitor TTV.
Rasional : Suhu yang meningkat dapat menunjukkan terjadi infeksi
b) Kaji luka pada daerah tumor
Rasional : Mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus.
c) Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka
dengan antisep dan antiseptic.
Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran organisme infeksius.
d) Kolaborasi pemberian antibiotic.
Rasional : Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.
Dx 6:

Kurang pengetahuaan tentang proses penyakit dan rencana pengobatan


berhubungan dengan kurang informasi da pemahaman klien/keluarga.
Tujuan :Klien/keluarga mengetaui tentang proses penyakit
Kriteria Hasil :Klien/keluarga menyatakan pemahaman proses penyakit
Intervensi :

a) Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan


gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung.
23

Rasional : Mengetahui sejauh mana keluarga memahami penyakit tersebut.


b) Tentukan persepsi tentang proses penyakit.
Rasional : Menyamakan pola pikir.
c) Jelaskan tentang penyakit yang diderita klien.
Rasional : Memberikan informasi.
d) Diskusikan kembali dengan keluarga
Rasional : Mengetahui sejauhmana informasi yang diterima keluarga

24

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tumor ganas lidah adalah keganasan yang terdapat pada lidah. Bentuk yang paling
banyak ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa lidah. Karsinoma sel skuamosa lidah
merupakan salah satu bentuk karsinoma rongga mulut yang mempunyai presentase paling
banyak dari seluruh keganasan rongga mulut.
Hal ini jarang terjadi sebelum usia 40 dan insiden tertinggi penyakit ini dalam
dekade- dekade 6 dan 7 dengan perbandingan pria dan wanita 3:1. Faktor risiko untuk
pengembangan dasar karsinoma lidah termasuk alkohol kronis dan penggunaan tembakau,
usia lebih tua, lokasi geografis, dan sejarah keluarga atas kanker saluran aerodigestive.
Gejala-gejala kanker lidah antara lain adalah timbulnya ulkus (luka) seperti sariawan yang
tidak sembuh dengan pengobatan adekuat, mudah berdarah Bagian tengah ulkus relatif
lembut dan mudah berdarah. Perdarahan terjadi ketika tekanan diberikan pada tempat
kanker, saat mengunyah, minum atau menelan. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil
biopsi histopatologi jaringan lidah. Penanganan kanker lidah ini sebaiknya dilakukan secara
multidisipliner. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penanganan kanker lidah ini
ialah eradikasi dari tumor, pengembalian fungsi dari rongga mulut, serta aspek kosmetik
/penampilan penderita. Tumor ganas pada lidah yang tidak ditangani segera akan melakukan
penyebaran ke jaringan di dalam rongga mulut dan leher yang lebih dalam. Akhirnya,
menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya.
B. Saran
Untuk para mahasiswa keperawatan, harus memahami teori konsep mengenai kanker
lidah sehingga mampu membuat asuhan keperawatan yang tepat kepada klien.
Untuk instansi perpustakaan, sebaiknya menyediakan buku-buku yang lengkap mengenai
kanker khususnya kanker lidah ini sehingga mempermudah mengumpulkan materi yang
dibutuhkan untuk dijadikan referensi.

25

DAFTRA PUSTAKA
Yohannes, S. Tongue Carcinoma. Available from: www.emedicine.com Last update 10
Sep 2010
Berger MS, Prados MD. Textbook of neurooncology. Ed.1. Philadelphia. Elsevier saunders.
2005.
Zen ZY (ed). Onkologi Kepala dan Leher Praktis. Guangzhou. Penerbit Univ. Teknologi
Huanan.1996. (Chn)
ADAM, George L. 1997. Buku ajar penyakit THT. Jakarta : EGC
Sjamsuhidajat, R. 2004. Neoplasma dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC

26