Anda di halaman 1dari 8

NAMA

: Ayuk Susilowati

NIM

: 121610101019

LAPORAN ORAL DIAGNOSA KONSERVASI


Nama penderita

: Nn Fadillah

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Jalan Al-mubarok No. 62 Petung Bangsalsari Jember

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 14 tahun
Dari pemeriksaan subjektif diketahui bahwa pasien mengeluh pernah merasa

sakit pada gigi belakang kanan bawah. Gigi berlubang sejak 2 tahun yang lalu. Gigi
terasa sakit apabila minum dingin, saat 6 bulan yang lalu pernah terasa sakit selama 2
hari tanpa diketahui penyebabnya (tiba tiba sakit).
Dari riwayat medisnya diketahui bahwa penderita pernah mengalami sakit
tipes dan tidak alergi terhadap apapun baik obat, makanan ataupun bahan bahan
kedokteran gigi. Dari anamnesa di ketahui bahwa penderita merasakan sakit dan linu
saat gigi terkena rangsangan dingin, gigi juga terasa sakit saat digunakan untuk
mengunyah.
Dari pemeriksaan objektif yang di lakukan secara klinis diketahui bahwa
pemeriksaan ekstra oral tidak terdapat pembengkakan pada kelenjar submandibular
dan submental secara klinis, di dapat gigi karies profunda pada gigi 46, kondisi gigi
terdapat kalkulus pada semua gigi kecuali gigi 35 sedangkan gigi 24 dan 37 terdapat
karies superfisialis, gigi molar tiga belum erupsi baik pada rahang atas maupun
rahang bawah. Terdapat suatu

kondisi perforasi akibat gigi yang karies . Saat

dilakukan pemeriksaan tekanan gigi terasa sakit dan terdapat kegoyangan derajat 2
pada gigi 46. Gigi berubah warna dan tidak sakit saat dilakukan pemeriksaan perkusi
dan palpasi. Pemeriksaan intra oral tidak didapatkan pembengkakan, tidak terdapat
fraktur mahkota, dan tidak terdapat polip baik pada pulpa atau gingiva. Sedangkan
keadaan gingiva sekitar gigi adalah hiperemi. Saat dilakukan tes vitalitas jarum miller
pada gigi 46 akar distal jarum miller masuk sepanjang 22 mm sampai apical gigi.
Pemeriksan penunjang dilakukan untuk mengetahui kondisi jaringan keras
disekitar gigi. Dari gambaran radiografi di dapatkan gambaran ruang pulpa yang
normal, tidak terjadi atropi,ramifikasi,obliterasi, maupun klasifikasi. Kondisi akarnya
normal tidak bengkok, fraktur maupun lokasi. Tidak terdapat hipersementosis pada
akar gigi. Dari kondisi jaringan keras gigi tidak terdapat resorbsi ekternal maupun
internal, kondisi lamina duranya teputus sedangkan membran periodontalnya
mengalami penebalan. Dareah periapikal gigi terdapat suatu kondisi radiolusen
dengan batas diffuse.
Dari pemeriksaan yang telah dilakukan baik pemeriksaan subjektif, objektif
maupun radiografi telah didapatkan diagnose klinis berupa suspect nekrosis pulpa
totalis dan diagnose kelainan periapikal berupa abses periapikalis. Dikatakan suspect
karena tidak dilakukan pemeriksaan miller pada saluran akar mesial gigi 46.
Utuk rencana perawatan yang akan dilakukan harus di jelaskan kepada pasien
dengan sejelas jelasnya, termasuk resiko perawatan dan juga biaya yang harus di
keluarkan. Berikut adalah beberapa pertimbangan perawatan yang dapat di tanyakan
kepada pasien yang akan digunakan yaitu:
1. Ekstraksi apabila pasien tidak memiiliki waktu untuk multi visit, tidak
memiliki biaya dan tidak ingin giginya di pertahankan. Selanjutnya dapat
di tawarkan kepada pasien dengan melakukan perawatan pemasangan gigi
tiruan utuk mengganti gigi yang hilang dan memperbaiki oklusi.

2. Endo

perio

apabila

pasien

bersedia

multivisit,

pasien

mau

mempertahankan giginya dan pasien menyanggupi biaya perawatan yang


akan di keluarkan.
Endo perio adalah dimana dilakukan penggabungan perawatan dari bidang
konservasi dan juga perio. Dalam perawatan perio penderita dilakukan scalling pada
gigi yang terdapat kalkulus sedangkan di dalam bidang konservasi dilakukan
perawatan endo intrakanal pada gigi 46 namun sebelumnya

perlu dilakukan

pemeriksaan miller pada gigi 46 di akar mesialnya, untuk mengetahui apakah


kondisinya vital / nonvital.
Keadaan gigi 46 goyang derajat 2 hal ini tidak disebabkan oleh adanya
resorbsi tulang alveolar namun disebabkan dengan adanya abses pada apical gigi.
Abses tersebut akan membuat jaringan sekitarnya membentuk suatu dinding
pertahanan untuk mencegah perluasan infeksi, hal ini merupakan system pertahanan
tubuh namun, keadaan tersebut membuat pus mendorong gigi kearah kegoyangan.
Abses periapikal adalah kumpulan pus yang terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang
yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa atau periodontal.

Abses periapikal

umumnya berasal dari nekrosis jaringan pulpa. Jaringan yang terinfeksi menyebabkan
sebagian sel mati dan hancur kemudian meninggalkan rongga yang berisi jaringan
yang terinfeksi. Sel sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh melawan
infeksi bergerak ke dalam rongga tersebut dan memfagosit bakteri, apabila sel
pertahan tubuh tersebut tidak terlalu kuat untuk melawan infeksi bakteri. maka sel
tersebut akan mati. Sel darah putih

yang mati inilah yang menjadi salah satu

komposisi dari pus yang di dalam abses. Untuk perawatan dari abses tersebut bisa
melalui drainase dan irigasi. Apabila dalam perawatan abses, pus tidak terdrainase
secara tuntas dan masih tersisa, kemungkinan hal tersebut dapat menjadi prospek baru
untuk infeksi yang lebih lanjut. Abses tersebut masih bisa di sembuhkan selama
perawatan.

Sebelum dilakukan perawatan endo, terlebih dahulu gigi dilakukan perawatan


perio dengan scalling pada semua gigi yang terdapat kalkulus. Kemudian lihat
kondisi gingivanya apakah perlu dilakukan kuretase atau tidak.
Perawatan endo intrakanal merupakan pengangkatan seluruh jaringan pulpa
yang sudah mati seluruhnya. Pada pemeriksaan endo intrakanal tidak memerlukan
anastesi karena jaringan pulpa telah mati seluruhnya. Indikasi dari perawatan ini
adalah nekrosis pulpa totalis, perawatan ulang, adanya kelainan perapikal, mahkota
gigi masih dapat di restorasi, akar tidak mengalami resorbsi, dan kondisi ekonomi
pasien memungkinkan. Sedangkan kontra indikasinya adalah OH penderita jelek,
tidak mempunyai nilai estetik atau fungsional, terdapat fraktur dengan arah vertical,
mengganggu pertumbuhan gigi tetangga, ada resorbsi interna ataupun eksterna yang
melibatkan lebih dari sepertiga apikal.
Setelah di lakukan perawatan endo dilakukan restorasi mahkota pasak.
Mahkota pasak adalah restorasi mahkota gigi pasca perawatan saluran akar dengan
retensi intra radikuler berupa pasak (dowel) dan inti (core) tuang yang sesuai
individual (custom) . Gigi pasca perawatan saluran akar memerlukan retensi berupa
pasak (dowel) yang masuk ke dalam saluran akar dan inti (core) untuk mendukung
restorasinya.
Bahan dari restorasi ini dapat di pilih berdasarkan keinginan pasien dengan
pertimbangan kekuatan, efisiensi dan biaya yang harus di keluarkan. Berikut
beberapa pilihan restorasi yang dapat di pilih :
1. Porcelain fuse to metal merupakan restorasi yang menggabungkan sifat
baik dari logam dan porselen. Memiliki kekuatan dari logam dan sifat
estetik dari porselen. Indikasi pemilihan bahan porcelain fuse to metal
disesuaikan dengan kebutuhan gigi dan keinginan pasien. Gigi posterior
secara umum tidak membutuhkan restorasi dengan nilai estetika yang

tinggi, namun jika pasien mengiginkan restorasi yang kuat dan estetis
maka bahan ini dapat menjadi pilihan.
2. All porcelain memiliki sifat estetis yang bagus namun tidak terlalu kuat
seperti porcelain fuse to metal.
Harus diingat pula bahwa dalam perawatan endo ini juga memiliki beberapa
faktor keberhasilan dan kegagalan. Beberapa di antaranya yaitu faktor patologis,
paktor penderita, faktor anatomi, faktor peawatan dan kecelakaan prosedur
perawatan.
Faktor patologis meliputi keadaan patologis jaringan pulpa pemeriksaan dapat
dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat lesi di periapikalnya. Keberadaan ada
atau tidaknya lesi mempengaruhi prognosis perawatan. Penelitian menyebutkan
bahwa kasus dengan nekrosis pulpa memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak
terdapat lesi periapikal.
Kemudian keadaan patologis periapikal. Adanya granuloma atau kista dapat
mempengaruhi hasil dari perawatan saluran akar. Periksa keadaan periodontalnya,
kerusakan jaringan periodontal dapat mempengaruhi prognosis perawatan saluran
akar. Kemudian adanya resorbsi interna dan eksterna. Kesuksesan perawatan saluran
akar sendiri bergantung pada kemampuan menghentikan perkembangan resorbsi.
Adanya resorbsi interna menyebabkan prognosis yang buruk karena sulit untuk
menentukan gambaran radiografisnya.
Faktor penderita meliputi motivasi penderita, usia penderita, keadaan
kesehatan umum. Motivasi penderita berkaitan dengan kesadaran individu penderita
terhadap kesehatan gigi dan mulutnya. Usia berkaitan dengan kemungkinan
keberhasilan atau kegagalan dari perawatan yang di lakukan karena pada orang tua
perawatan lebih sulit di lakukan, hal ini disebabkan dengan adanya kalsifikasi pada
gigi yang dapat menyebabkan prognosisnya buruk. Namun hal ini bergantung pada
kasus dan perawatan yang di lakukan. Keadaan kesehatan umum, pasien yang

memiliki keadaan kesehatan umum yang buruk memiki resiko yang buruk terhadap
perawatan saluran akar.
Faktor perawatan akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perawatan
saluran akar yang lainnya juga bergantung pada : perbedaan operator

meliputi

pengetahuan dan aplikasi ilmu biologi serta pelatihan,kecakapan dan kemampuan


operator dalam memanipulasi dan menggunakan instrument instrument yang di
rancang khusus. Teknik teknik perawatan meliputi banyaknya teksnik instrumensasi,
teknik yang menghasilkan penutupan apical yang buruk akan menghasilkan prognosis
yang buruk pula. Selanjutnya adalah perluasan preparasi atau saluran akar. Tingkat
keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebihan
yang dapat menyebabkan iritasi dan penutupan apical yang buruk.
Faktor selanjutnya yaitu faktor anatomi gigi yang meliputi bentuk saluran akar
gigi,kelompok gigi, saluran lateral atau tambahan. Di dalam bentuk saluran akar gigi
lihat apakah ada pembengkokan, penyumbatan, saluran akar yang sempit atau bentuk
bentuk abnormal yang lainnya. Hal ini akan berpengaruh pada derajat kesulitan
perawatan saluran akar yang akanmemberi efek langsung pada prognosisnya.
Selanutnya adalah kelompok gigi. Evaluasi apakah termasuk kelompok gigi yang
memiliki saluran akar tunggal atau jamak.hal ini berhubungan dengan adanya
interpretasi dan visualisasi daerah apikal pada gambaran radiografi. Tulang kortikal
gigi-gigi anterior lebih tipis dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi
resorpsi pada apeks gigi anterior terlihat lebih jelas. Selain itu, superimposisi struktur
radiopak daerah periapikal untuk gigi-gigi anterior terjadi lebih sedikit, sehingga
interpretasi radiografinya mudah dilakukan. Radiografi standar lebih mudah didapat
pada gigi anterior, sehingga perubahan periapikal lebih mudah diobservasi
dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi posterior. Faktor penentu selanjutnya
adalah saluran lateral atau saluran tambahan Hubungan pulpa dengan ligamen
periodontal tidak terbatas melalui bagian apikal saja, tetapi juga melalui saluran
tambahan yang dapat ditemukan pada setiap permukaan akar. Sebagian besar

ditemukan pada setengah apikal akar dan daerah percabangan akar gigi molar yang
umumnya berjalan langsung dari saluran akar ke ligamen periodontal. Preparasi dan
pengisian saluran akar tanpa memperhitungkan adanya saluran tambahan, sering
menimbulkan rasa sakit yang hebat sesudah perawatan dan menjurus ke arah
kegagalan perawatan akhir.
Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil
akhir perawatan saluran akar, misalnya : terbentuknya large birai atau perforasi
lateral. Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan
dinding saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk mencapai ujung
saluran. Birai terbentuk karena penggunaan instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai
dengan urutan; penempatan instrument yang kurang dari panjang kerja atau
penggunaan instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam saluran akar yang
bengkok. Birai dan ferforasi lateral dapat memberikan pengaruh yang merugikan
pada prognosis selama kejadian ini menghalangi pembersihan, pembentukan dan
pengisian saluran akar yang memadai. Faktor selanjutnya adalah instumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar akan
mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan. Prognosisnya
bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum
dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak patahannya. Prognosis yang
baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi ditahap akhir preparasi serta
mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum
dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis pada
tahap awal preparasi. Yang terakhir adalah fraktur akar vertical. Fraktur akar vertikal
dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang berlebihan pada waktu
mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak. Adanya fraktur akar
vertikal memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil perawatan karena
menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal.