Anda di halaman 1dari 16

Laporan Skill Lab Family Folder Blok 26 :

Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas


Kecamatan Grogol Petamburan
Anesty Claresta (FF 35- Nim :102011223)
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
E-mail : a_resta21@yahoo.com

Pendahuluan
Kamis, 8 Juli 2013, saya berserta kelompok Family Folder 35 diberi tugas melakukan
kunjungan rumah salah satu pasien di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan dan juga
membuat family folder dari keluarga pasien tersebut. Family Folder merupakan dokumen
lengkap suatu keluarga terutama dalam hubungannya dengan derajat kesehatan. Sistem
family folder adalah pencatatan rekam medis dengan cara satu file untuk satu keluarga.
Makalah ini dibuat dengan tujuan mengkaji dan membahas penyakit yang diderita
oleh pasien dan keluarganya dan juga tatalaksana terhadap penyakit tersebut dengan
berbasiskan pendekatan kedokteran keluarga. Kedokteran keluarga adalah dokter praktek
umum yang dalam prakteknya melayani pasien menerapkan prinsip-prinsip kedokteran
keluarga. Kompetensi dokter keluarga tercermin dalam profile the five stars doctor.
Pelayanan kedokteran yang menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga meliputi:
komprehensif (pelayanan kedokteran yang menyeluruh/integral yaitu meliputi usaha promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan mengutamakan pencegahan, kontinyu (dalam
proses dan waktu), kolaboratif dan koordinatif dengan pasien dalam menentukan keputusan
untuk kepentingan pasien, berdasarkan evidence based medicine misalnya dengan cara
mengikuti seminar/pendidikan kedokteran berkelanjutan. Pasien yang dilayani adalah
pribadi/perorangan seutuhnya (bio-psiko-sosial) yang unik (berbeda satu dengan lainnya)
serta harus dipandang sebagai satu kesatuan dengan keluarganya dalam segala aspek
(keturunan,

ideology,

politik,

ekonomi,

social,

budaya,

agama,

keamanan

dan

lingkungannya).1
Prinsip pokok dari dokter keluarga adalah untuk dapat menyelenggarakan pelayanan
kedokteran menyeluruh. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai latar belakang pasien yang
menjadi tanggungannya. Untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan seperti itu diperlukan
adanya kunjungan rumah (home visit).1

Latar Belakang Masalah


Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang dapat
menyebabkan kematian di seluruh dunia.2 Pada tahun 1993, World Health Organization
(WHO) telah mencanangkan bahawa TBC merupakan kedaruratan global penyakit TBC
(global public health emergency).2 Penyebab utama TBC adalah Mycobacterium tuberculosis
dan infeksinya bersifat sistemis di mana ia boleh mengenai hampir seluruh organ tubuh lain
dengan lokasi terbanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi pertama yang
sering terjadi. Penyebab lain adalah Mycobacterium bovis dan Mycobacterium africanum.
Indonesia tiap tahun terdapat 557.000 kasus baru TBC. Jumlah tersebut berdasarkan
pada 250.000 kasus (115/100.000) merupakan penderita TBC menular. Dengan keadaan ini,
Indonesia menempati peringkat ketiga jumlah penderita TBC di dunia, setelah India
(1.762.000) dan China (1.459.000). TBC telah membunuh tiga juta orang pertahun.
Diperkirakan, kasus TBC meningkat 5-6 persen dari total kasus.3

Definisi
Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
yang bersifat kronik, berulang dan merupakan penyakit infeksi pulmo dan ekstrapulmo yang
dikarakteristikan dengan terbentuknya granuloma dengan kaseosa, fibrosis serta

kavitas.

Sedangkan, berdasarkan Guidenance for National Tuberculosis Programmes on Management


of Tuberculosis in Children, tuberculosis merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis yang ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan
yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated). 2
Basil ini akan masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi lalu masuk ke paru dan
menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan sistem limfatik atau secara langsung
menyebar ke organ target tersebut. Tuberkulosis paru merupakan bentuk TB yang sering
terjadi yaitu sekitar 80% dari kasus.3 Tuberkulosis ekstrapulmo dapat menyerang beberapa
organ selain paru.

Etiologi
Penyebab tuberkulosis paru adalah kuman Mycobacterium tuberculosis, yang
berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan
bertahun-tahun di lemari es).4 Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari
2

sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis menjadi aktif
lagi. Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup 14
jam di tempat gelap dan lembab.
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar
menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam
udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang
buruk dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan berharihari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhirup oleh orang sehat, ia akan
menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran
partikel < 5 mikrometer. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru
oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari
percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya. Bila kuman menetap di
jaringan paru, berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa masuk
ke organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang
tuberkulosis dan disebut sarang primer afek primer atau fokus ghon4.
Bila menjalar ke pleura maka akan menjadi efusi pleura. Kuman dapat juga masuk ke
saluran gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit terjadi limfadenopati regional
kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti otak, ginjal,
tulang. Proses ini berlangsung selama 3-8minggu. Kompleks primer ini selanjutnya dapat
menjadi sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat, sembuh dengan meninggalkan sedikit
bekas berupa gari-garis fibrotik, berkomplikasi dan menyebar.4

Klasifikasi
a.

Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk

pleura. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA) TB paru dibagi atas:


1. Tuberkulosis paru BTA (+)
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif.
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. Hasil pemeriksaan satu spesimen
dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif.

2. Tuberkulosis paru BTA (-)

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan
kelainan radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif.

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.


tuberculosis positif.

Ada beberapa tipe pasien berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya yaitu :

Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.

Kasus kambuh (relaps)


Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.

Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif
/ perburukan dan terdapat gejalaklinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
1) Infeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan dahulu
antibiotik selama 2 minggu, kemudian dievaluasi.
2) Infeksi jamur.2,3

3. TB paru kambuh

Kasus defaulted atau drop out


Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum
masa pengobatannya selesai.

Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif
pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan. Juga dikatakan gagal
apabila pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA
positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.

Kasus kronik / persisten


Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
4

b. Tuberkulosis Ekstra Paru


Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. Untuk
kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti
klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.2-4

Gejala Klinis

Gejala Umum : Batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih.

Gejala Lain Yang Sering Dijumpai :


1. Dahak bercampur darah.
2. Batuk darah.
3. Sesak napas dan rasa nyeri dada.
4. Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun.
5. Rasa kurang enak badan (malaise).
6. Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
7. Demam meriang lebih dari sebulan.2
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan anemis pada konjungtiva, gizi kurang atau

buruk (nampak kurus), demam, dan ronki basah. Dapat pula didapatkan tanda-tanda efusi
pleura.
Pada TBC paru, pemeriksaan sputum merupakan pemeriksaan sederhana namun
penting terutama hal ini dapat dikerjakan di puskesmas. Selain untuk menegakkan diagnosis,
juga dapat digunakan sebagai evaluasi pengobatan. Namun, kadang tidak mudah untuk
mendapatkan sputum, terutama jika pasien batuk non-produktif atau tidak batuk. Dalam hal
ini di anjurkan satu hari sebelum pemeriksaan sputum, penderita di anjurkan minum air putih
2 liter dan diajarkan refleks batuk. Dapat pula diberikan obat mukolitik ekspektoran.
Bila sputum sudah didapat, kuman BTA pun kadang-kadang sulit didapat. Kuman
baru didapat jika bronkus yang terlibat penyakit terbuka ke luar sehingga sputum yang
mengandung kuman BTA mudah ke luar. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 50% penderita
BTA (+), namun kuman tersebut tidak ditemukan di sputum mereka. Kriteria sputum BTA (+)
adalah minimal ditemukan 3 batang kuman BTA dalam 1 sediaan atau 5000 kuman dalam 1
mL sputum. 3
5

Pemeriksaan penunjang lain yang dapat membantu penegakan diagnosis TBC antara
lain pemeriksaan radiologi, laboratorium, tes tuberkulin. 12
Diagnosis TBC
Diagnosis TBC paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA
pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila
sedikitnya dua dari tiga SPS (Sewaktu, Pagi, Sewaktu) BTA hasilnya positif. Bila hanya 1
spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau
pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Hasil rontgen yang mendukung TBC, maka penderita di diagnosis sebagai penderita
TBC BTA positif. Hasil rontgen yang tidak mendukung TBC, maka dilakukan pemeriksaan
lain, misalnya biakan. Pada pemeriksaan sputum SPS, apabila didapatkan tiga spesimen dahak
negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya Kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama
1 - 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC, ulangi
pemeriksaan dahak SPS.3

Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif.

Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TBC. Bila hasil rontgen mendukung TBC, diagnosis sebagai
penderita TBC BTA negatif rontgen positif. Bila hasil rontgen tidak mendukung TBC,
penderita tersebut bukan TBC.Unit Pelayanan Kesehatan yang tidak memiliki fasilitas
rontgen, penderita dapat dirujuk untuk difoto rontgen dada.

Pembahasan Kasus
I.

Identitas Pasien:

Nama

: Ibu Sri Basuki

Umur

: 56 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

: SD (Tamat)

Alamat

: Jln. Madya Utara No.25 RT 10/08.


Jelambar, Jakarta Barat

Ibu Sri Basuki (56 tahun) datang ke Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan pada tanggal
7 Juli 2013 dengan keluhan batuk-batuk yang sudah berjalan berbulan-bulan dan juga belum
mendapat obat.
II.

Anamnesis: (Auto-anamnesis)

1. Identitas pasien
2. Keluhan utama: Batuk-batuk berdahak yang sudah berjalan 4 bulan tetapi belum
sembuh juga.
3. Keluhan tambahan : kurang nafsu makan, mudah lelah
4. Riwayat penyakit sekarang
Batuk-batuk yang bertambah parah sejak 4 bulan yang lalu. Batuk berdahak
dan tidak ada darah. Pada awal batuk keluar darah tetapi sekarang tidak. Demam dan
adanya keringat dingin pada malam hari disangkal. Pasien mengaku ada penurunan
nafsu makan. Pasien mengaku tidak merasakan sesak nafas dan nyeri dada. Menurut
pasien, ia tidak pernah kontak dengan penderita tbc sebelumnya dan

tidak ada

keluarga atau kerabat yang mengalami batuk yang sama. Pasien memiliki riwayat DM,
Hipertensi dan katarak pada matanya. Pasien rutin mengonsumsi obat-obatan untuk
mengatasi DM dan hipertensinya.
5. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan belum pernah menderita penyakit seperti keluhannya sekarang.
Waktu awal sakit batuk-batuk, pasien sudah pergi ke dokter dan diberi obat batuk.
Namun batuk-batuknya belum sembuh juga. Beberapa bulan kemudian pasien pergi ke
dokter kembali, namun hasilnya sama dan tidak disarankan untuk rontgent paru.
7

Pasien akhirnya pergi ke Poliklinik Rosella dan minta di rontgent paru. Hasilnya
terdapat lesi dan cavitasi pada apex paru kanan. Pasien datang ke dokter puskesmas
lagi untuk baca hasil. Dokter mendiagnosis Ibu Sri TB Paru dan disarankan untuk tes
sputum. Dari hasil pemeriksaan penunjang tersebut didapatkan hasil + BTA. Waktu
itu pasien meminta obat, tetapi obat di puskesmas tersebut habis.

III.

Riwayat Biologis Keluarga:

a. Keadaan kesehatan sekarang: Baik


Pasien dapat dikatakan baik karena pasien dapat bercakap cakap dengan baik dan
kesadaran serta daya ingatnya baik. Pasien tidak terlihat kesakitan, terlihat sedikit
lemas. Anggota keluarga lain pun tidak menderita penyakit.
b. Kebersihan perorangan: Kurang
Kebersihan pasien dapat dikatakan kurang karena yang terlihat dari hygiene tangan
dan kaki kurang bersih. Gigi geligi dan pakaian yang digunakan pun tampak kurang
bersih. Begitupun kebersihan anggota keluarga lainnya.
c. Penyakit yang sering diderita : Tidak ada
d. Penyakit keturunan

: Tidak ada

e. Penyakit kronis / menular

: Tidak ada

Di keluarga pasien tidak ditemukan adanya penyakit kronis / menular seperti


tuberkulosis dan lepra.
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita cacat fisik dan mental.
g. Pola makan

: Kurang

Pola makan pasien dan keluarganya dapat dinilai kurang karena pasien sendiri
mengaku tidak nafsu makan dan makan seadanya. Dan suami, juga anak-anak pasien
juga makan tidak teratur
h. Pola istirahat

: Baik

Pola istirahat pasien dikatakan baik karena pasien tidur cukup.


i. Jumlah anggota keluarga

IV.

: 4 orang

Psikologis Keluarga:

a. Kebiasaan buruk

: Ada

Suami dari pasien merupakan perokok dan sangat suka mengonsumsi kopi. Ia
mengaku merasa pusing jika tidak mengonsumsi rokok dan kopi.
b. Pengambilan keputusan

: Ibu

c. Ketergantungan obat

: Tidak ada

d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan,


dan poliklinik terdekat
e. Pola rekreasi

V.

: Kurang

Keadaan Rumah / Lingkungan:


a. Jenis bangunan

: Permanen

b. Lantai rumah

: Keramik

c. Luas rumah

: 4x6 m2

d. Penerangan

: Kurang

Penerangan langsung dari sinar matahari kurang karena kurangnya ventilasi


atau jendela rumah. Sehingga untuk menerangi ruangan sehari-hari pasien
harus menyalakan lampu terus menerus.
e. Kebersihan

: Kurang

Tampak banyak kotoran dan debu di lantai.


f. Ventilasi

: Kurang

Ventilasi untuk keluar masuk cahaya dan udara sangat kurang. Rumah terasa
lembab karena pada dinding-dinding ruangan terdapat rembesan air hujan yang
tidak kunjung mengering

VI.

g. Dapur

: Ada

h. Jamban keluarga

: Ada

i. Sumber Air minum

: Air tanah

j. Sumber Pencemaran air

: Tidak ada

k. Pemanfaatan pekarangan

: Tidak ada

l. Sistem pembuangan air limbah

: Ada

m. Tempat pembuangan sampah

: Ada

n. Sanitasi lingkungan

: Baik

Spiritual Keluarga :
a. Ketaatan beribadah

: Baik
9

b. Keyakinan tentang kesehatan

VII.

: Baik

Keadaan Sosial Keluarga :

a. Tingkat pendidikan

: Rendah

Karena pasien tamatan SD, suami tamatan SMP, anak anak pasien tamatan SMP dan
SMA.
b. Hubungan anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial

: Kurang

Keluarga pasien tidak ikut kegiatan organisasi di lingkungannya


e. Keadaan ekonomi

: Kurang

Ibu Sri sudah tidak bekerja selama 4 tahun. Dulunya iya adalah pedagang makanan di
sebuah ruko. Suami dari ibu Sri juga dulu bekerja sebagai kuli bangungan. Namun karena
sudah usia lanjut, ia tidak melanjutkan untuk bekerja
VIII.

a. Adat yang berpengaruh

: Adat jawa

b. Lain lain

: Tidak ada

IX.
No Nama

1.

2.

3.

4.

Kultural Keluarga:

Daftar Anggota Keluarga:

Hub dgn Umur


KK

Hasan

Kepala

Bisri

keluarga

(tahun)
66 tahun

Pendidikan

Pekerjaan

SMP

Pensiun

Agam

Keadaan

Keada

kesehatan

an gizi

Islam

Baik

Islam

Sakit

Ibu

Sri
Basuki
Saeful
Anfin
Yeni
Pratiwi

Istri

56 tahun

SD

Rumah
Tangga

Kuran
g
Kuran
g

Imunisasi

KB

Anak

27 tahun

SMP

Buruh

Islam

Baik

Baik

Anak

23 tahun

SMA

SPG

Islam

Baik

Baik

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: Pasien tampak compos mentis
Tanda-tanda vital:
1. Tekanan Darah: 140/90 mmHg
10

Pemeriksaan Fisik selanjutnya tidak dilakukan. Jika hendak dilakukan maka pemerikssaan
fisik yang diperlukan adalah :
Pemeriksaan Paru
Thoraks Anterior
1. Inspeksi
Warna kulit, Lesi kulit, bentuk thoraks anterior, jenis pernapasan, melihat pergerakan
dada saat statis dan dinamis.
Melihat apakah terdapat retraksi sela iga dan pelebaran sela iga.
Irama pernapasannya dan suara pernapasan abnormal (mengi, stridor).2
2. Palpasi
Meraba apakah terdapat benjolan, rasa nyeri tekan, meraba sela iga menyempit atau
melebar, pergerakan thoraks saat statis dan dinamis, dan melakukan pemeriksaan
vokal fremitus.
3. Perkusi
Apakah hasil perkusi sonor atau tidak pada paru-parunya, pemeriksaan batas paru-hati
dan paru-jantung.
4. Auskultasi
Jenis suara napas (trakeal, bronchial, bronchovesikuler, vesikuler), Suara napas
tambahan seperti ronkhi basah, ronkhi kering, wheezing.

Diagnosis penyakit: Tuberkulosis Paru


Diagnosis Keluarga: Keluarga Ibu Sri Basuki dalam kondisi sehat namun berisiko tertular
penyakit yang diderita ibu Mubariyah karena kondisi tempat tinggal yang sempit namun
dihuni banyak orang memungkinkan penularan terjadi.
Pemeriksaan Penunjang yang disarankan dan dugaannya :
I.

Darah Rutin
Hemoglobin, Hematokrit, Trombosit, Eritrosit dalam batas normal. Leukosit dan laju
endap darah meningkat

II.

Pemeriksaan Sputum

Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):


a. Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
b. Pagi ( keesokan harinya )

11

c. Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturutturut.
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan/ditampung dalam
pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah
pecah dan tidak bocor. Apabila ada fasilitas, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan apus pada
gelas objek (difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium.1
Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dapat dilakukan dengan cara :
a.

Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen
Mikroskopik fluoresens: pewarnaan auramin-rhodamin (khususnya untuk screening)
lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila:
1) 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negative : BTA positif
2) 1 kali positif, 2 kali negative : ulang BTA 3 kali kecuali bila ada fasilitas foto toraks,
kemudian
o bila 1 kali positif, 2 kali negatif : BTA positif
o bila 3 kali negatif : BTA negatif
Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi
WHO). Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) :
Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
1) Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang
ditemukan.
2) Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+).
3) Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+).
4) Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+).

b. Pemeriksaan biakan kuman: Kultur kuman dan pemeriksaan resistensi obat.


Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan metode konvensional ialah dengan cara :
1) Egg base media: Lowenstein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh.
2) Agar base media : Middle brook.
Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti, dan dapat
mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga Mycobacterium other than tuberculosis
(MOTT). Untuk mendeteksi MOTT dapat digunakan beberapa cara, baik dengan melihat
cepatnya pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji niasin maupun pencampuran
dengan cyanogen bromide serta melihat pigmen yang timbul.2
12

III.

Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral,

top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi
gambaran bermacam-macam bentuk (multiform).
Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :
1. Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen
superior lobus bawah.
2. Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular.
3. Bayangan bercak milier.
4. Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang).
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
1. Fibrotik
2. Kalsifikasi
3. Schwarte atau penebalan pleura
Gambaran ini sering ditemukan pada orang-orang lanjut usia karena lesi ini sering menetap
selama hidup pasien.3

IV.

Uji Tuberkulin (Tes Mantoux)


Uji tuberkulin yang positif menunjukkan adanya infeksi tuberkulosis. Di Indonesia

dengan prevalensi tuberculosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik
penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan
konversi, bula atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar sekali. Pada malnutrisi dan
infeksi HIV uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif.3

Anjuran Penatalaksanaan penyakit


1. Promotif: Pemberian penyuluhan tentang TBC paru dan cara menghindari
penularannya.5
2. Preventif:
mempertahankan daya tahan tubuh dengan gizi seimbang, menjaga kondisi udara
sekitar
Upaya mencuci tangan
Imunisasi pada anak-anak
Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
13

o Menutup saat batuk, tidak membuang sputum sembarangan


o Memakai masker pd penderita
Mengindari kontak dengan penderita : pisahkan peralatan makan, tidak tidur
bersama penderita.5
3. Kuratif:
Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Tahap awal (intensif)
-

Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

Sebagian besar pasien TBC BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.6

Tahap Lanjutan
-

Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama.

Tahap lanjutan penting

untuk membunuh kuman

persisten sehingga

mencegah terjadinya kekambuhan.


Karena pasien baru pertama kali menderita TB paru dan BTA + maka pasien tersebut
tergolong katergori 1 pd klasifikasi Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
-

Kasus baru dengan sputum BTA (+)

Kasus baru dengan sputum BTA (-) namun Rontgen (+)

Kasus baru dengan TB berat

14

Tabel 2. Dosis Kategori 1 Pengobatan TBC.6

TAHAP INTENSIF
SELAMA 2 BULAN

BB

TAHAP LANJUTAN
SELAMA 4 BULAN

Penderita
(Kg)

TIAP HARI

TIAP HARI
TABLET 2 FDC

3 X SEMINGGU
TABLET 2 FDC

R150+H75

R150+H150

TABLET 4 FDC
R150+H75+Z400+E275
30 -37

2 tablet

2 tablet

2 tablet

38 -54

3 tablet

3 tablet

3 tablet

55 -70

4 tablet

4 tablet

4 tablet

>71

5 tablet

5 tablet

5 tablet

4. Rehabilitatif:
Pemberian makanan cukup gizi dan cukup istirahat.5

Prognosis
a) Penyakit: Baik jika terapi adekuat, konsumsi makanan bergizi, dan cukup istirahat.
b) Keluarga: Kemungkinan tertular besar. Mengingat kondisi tempat tinggal yang sempit
namun dihuni banyak orang. Keluarga perlu diberi edukasi untuk selalu menjaga
kebersihan perorangan, lingkungan, dan makan-makanan bergizi.
c) Masyarakat: kemungkinan penularan ke orang lain besar, sebab rata-rata lokasi rumah
penduduk yang berdekatan, dalam gang-gang kecil dan sempit, memperbesar
kemungkinan kontak dengan droplet pasien.
Resume:
Ibu Sri Basuki (56 tahun) datang ke Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan dengan
keluhan batuk yang sudah kurang lebih 4 bulan. Telah dilakukan uji sputum dan rontgen paru
dan hasilnya adalah Ibu Sri Basuki menderita TB paru. Ibu Sri mengaku bahwa ia tidak
pernah kontak dengan penderita TB dan juga tidak ada keluarga dan kerabatnya yang sakit
batuk-batuk.
15

Ibu Sri tinggal dengan suami dan kedua anaknya dalam rumah yang luasnya 4x6 m 2. Rumah
yang ditinggali sudah memiliki jamban, kamar mandi, dan sanitasi yang baik, tetapi ventilasi
ruangan tidak memadai sehingga sinar matahari sangat kurang di dalam rumah.

Kesimpulan
Pasien dan keluarganya sudah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya
kesehatan, namun mereka masih memiliki kendala yaitu keadaan ekonomi yang kurang dan
keadaan rumah yang kurang memadai untuk mereka berempat.
Dukungan keluarganya dan lingkungan sangat membantu pasien untuk rutin berobat di
puskesmas.
Daftar Pustaka
1. Azrul A. Pengantar pelayanan dokter keluarga. Jakarta: IDI; 2005.h.15-33.
2. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis paru. Dalam : Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5 (3). Jakarta: Interna
Publishing; 2010. Hal. 2230-48.
3. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Cetakan ke-6. Jakarta. 2001
4. Price SA, Wilson LM. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit:
Tuberkulosis Paru. Jakarta : EGC; 2006.hal.852-923.
5. Mansyur M, et al. Pendekatan kedokteran keluarga pada penatalaksanaan TB. Majalah
kedokteran Indonesia. Vol 57, no 2 tahun 2007.
6. Istiantoro YH, Setiabudy R. Tuberkulostatik dan leprostatik. Dalam : Gunawan SG,
editor. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Balai penerbit FKUI;2007.hal.61333.

16