Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Data statistik menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia
(65%) tinggal di desa. Artinya, mayoritas orang Indonesia adalah orang desa. Tapi
yang terjadi selama ini, desa cenderung diabaikan. Pembangunan hanya terjadi di
perkotaan, yang tidak secara langsung memberikan dampak kepada masyarakat
desa. Pembangunan tidak melibatkan mereka secara positif dan hanya
menempatkan masyarakat desa hanya sebagai objek
Desa, atau sebutan-sebutan lain yang sangat beragam di Indonesia, pada
awalnya merupakan organisasi komunitas lokal yang mempunyai batas-ba-tas
wilayah, dihuni oleh sejumlah penduduk, dan mempunyai adat-istiadat untuk
mengelola dirinya sendiri disebut dengan self-governing community(Eko, 2008).
Desa pada umumnya mempunyai pemerintahan sendiri yang dikelola secara
otonom tanpa ikatan hirarkhis-struktural dengan struktur yang lebih tinggi. Di
Sumatera Barat, misalnya, nagari adalah sebuah republik kecil yang mempunyai
pemerintahan sendiri secara otonom dan berbasis pada masyarakat. Desa masuk
dalam entitas khusus yang diatur dalam UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA. Adanya undang
undang khusus ini menunjukkan posisi desa sebagai bagian penting dalam tata
kenegaraan di Indonesia.
Undang-undang no 6 tahun 2014 ini menegaskan peran dan kedudukan
desa yang sungguh sangat penting dalam menjalankan tugas dan wewenang untuk
mengurus pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat. Dalam pasal 18 disebutkan bahwa kewenangan Desa
meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan
Pembangunan

Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan

masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat
Desa.

Kewenangan merupakan hal yang penting dalam otonomi, yaitu


kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dalam
undang-undang ini disebutkan, bahwa pemerintah desa adalah penyelenggara
urusan pemerintahan desa, pelaksana pembangunan desa, pelaku pembinaan
kemasyarakatan desa, dan pelaku pemberdayaan terhadap masyarakat desa
berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika serta
kepentingan masya rakat setempat. Esensi dari undang-undang ini sangat cocok
dengan apa yang sudah diterapkan di Malinau dalam program Gerakan Desa
Membangun (GERDEMA). Dalam konsep GERDEMA, masyarakat ditempatkan
sebagai kekuatan utama dalam pembangunan. Prinsip dasar GERDEMA adalah
memberi kepercayaan penuh kepada masyarakat, dalam hal ini pemerintah desa,
untuk mengelola dan mengurus rumah tangga desa untuk kesejahteraan rakyatnya.
Semangatnya sangat jelas, yaitu pemerintahan desa adalah otonom berdasarkan
Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
Bhinneka Tunggal Ika. Praktik otonomi inilah yang sebenarnya menunjukkan
semangat pembangunan yang sering disuarakan oleh para pemimpin dan
kebanyakan orang, yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Maka dari dalam makalah yang berjudul Pelaksanaan Kewenangan Desa
dalam Rangka mewujudkan Otonomi Desa (Implementasi Gerakan Desa
Membangun di kabupaten Malinau),saya akan membahas mengenai implementasi
pelaksanaan gerakan desa membangun yang merupakan salah satu kewenangan
pemerintah desa di kabupaten Malinau sebagai bentuk pelaksanaan otonomi desa,
dan sejauh mana program tersebut telah berjalan, sukses atau tidak.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana implementasi program Gerakan Desa Membangun di kabupaten
Malinau sebagai wujud otonomi desa?
1.3 Tujuan Penulisan
Mengetahui implementasi pelaksanaan Gerakan Desa Membangun di Kabupaten
Malinau sebagai wujud otonomi desa.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Otonomi Daerah
Menurut asal katanya dalam Widjaya (2002 : 76) menyatakan bahwa :
Otonomi berasal dari bahasa yunani yaitu auto dan nomous yang berarti hak
untuk mengatur kepentingan sendiri dan urusan intern daerah atau organisasinya
menurut hokum sendiri dalam negeri, yaitu dalam hukum tata negara, otonomi
dalam batas tertentu dapat dimiliki wilayah-wilayah dari suatu negara.Pengertian
otonomi tersebut sangat mudah untuk dipahami menurut asal katanya
mengandung makna hak untuk mengatur pemerintahan sendiri.
Pengertian sederhana tentang otonomi daerah itu dijabarkan secara lebih
jelas dalam paparan Widjaya (2002 : 76) yaitu: Dalam bahasa Inggris, otonomi
atau autonomy berasal dari dua kata yaitu auto yang berarti sendiri dan nomoi
adalah undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi berarti mengatur
sendiri, sedangkan dalam bidang pemerintahan, otonomi diartikan mengatur dan
mengurus rumah tangga sendiri. Berdasarkan dua pengertian tentang otonomi
daerah tersebut semakin memperjelas pemahaman terhadap makna otonomi
daerah.
Jadi dalam makalah ini yang dimaksud dengan otonomi daerah adalah
kewenangan yang dimiliki oleh setiap daerah untuk mengatur dan mengelola
rumah tangganya sendiri sesuai kemampuan daerah dan peraturan perundangundangannya.
2.2 Desa
Menurut Undang Undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa, desa adalah
desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang
untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat
setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional

yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan
asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem
Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (PP 72/2005)
Desa, atau sebutan-sebutan lain yang sangat beragam di Indonesia, pada
awalnya merupakan organisasi komunitas lokal yang mempunyai batas-ba-tas
wilayah, dihuni oleh sejumlah penduduk, dan mempunyai adat-istiadat untuk
mengelola dirinya sendiri disebut denganself-governing community (Eko, 2008)
Dalam sistem pemerintahan yang diatur dalam Undang- Undang Nomor
32 Tahun 2004, digambarkan bahwa desa merupakan bagian dari struktur
pemerintahan daerah yang terbawah atau terendah yang berposisi sebagai daerah
otonom (dalam makna kewenangan mengatur dan mengurus rumah tangga
desanya).
2.3 Teori implementasi
Teori Merilee S. Grindle (1980 )
Keberhasilan implementasi menurut Merilee S. Grindle ( 1980 ) dipengaruhi oleh
dua variabel besar, yakni isi kebijakan dan lingkungan implementasi.variabel isi
kebijakan ini mencakup:

Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target groups termuat


dalam isi kebijakan.

Jenis manfaat yang diterima oleh target group.

Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan.

Apakah letak sebuah program sudah tepat.

Apakah sebuah kebijakan telah menyebutkan implementornya dengan


rinci, dan

Apakah sebuah program didukung oleh sumberdaya yang memadai.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pelaksanaan Kewenangan Desa dalam Rangka Mewujudkan Otonomi Desa
Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan tegas
menempatkan pemerintahan desa sebagai penyelenggara kepentingan rakyat.
Sebuah formulasi hukum yang tepat untuk memosisikan pemerintahan desa pada
tempat yang tepat. Namun, harus dicermati pula peraturan di bawahnya yang
menjadi pedoman pelaksanaan undang-undang tersebut. Dalam pasal 18
disebutkan

bahwa

kewenangan

Desa

meliputi

kewenangan

di

bidang

penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan

Desa,

pembinaan

Desa

kemasyarakatan

Desa,

dan

pemberdayaan

masyarakat

berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat Desa.
Kewenangan inilah hal yang penting dalam otonomi, kewenangan desa
merupakan hak yang dimiliki desa untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri. Di berbagai daerah banyak permasalahan yang muncul terkait
kewenangan. Selain itu kondisi daerah pun juga terkadang menjadi hambatan
dalam pelaksanaan kewenangan desa.
Dengan disahkannya UU desa yang baru pada tahun 2014 ini maka
kewenangan desa dalam mengelola desanya sendiri menjadi semakin kiat karena
telah ada UU khusus yang mrngaturnya. Maka dari itu banyak desa atau daerah
yang mulai melakukan inovasi kebijakan pembangunan yang mana hal tersebut
tentunya harus disesuaikan dengan potensi desa masing masing. Hal inilah yang
mulai diterapkan di desa- desa kabupaten Malinau. Dengan mengeluarkan
program GERDEMA (Gerakan Desa Membangun). GERDEMA juga merupakan
suara dan cermin ketulusan hati dan itikad positif seorang pemimpin yang percaya
kepada rakyatnya. Percaya dengan menyerahkan urusan dan kewenangan kepada
masyarakat atau pemerintah desa untuk mengubah nasib mereka sendiri, dengan
tangan mereka sendiri.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Malinau ini merupakan cerminan


pelaksanaan kewenangan desa dalam rangka mewujudkan otonomi desa.
3.2 Program Gerakan Desa Membangun
GERDEMA (Gerakan Desa Membangun) tergolong sebuah inovasi karena
belum pernah dilakukan sebelumnya oleh pemerintahan manapun. Itulah
sebabnya, pada 2013 lalu, konsep GERDEMA di Malinau termasuk dalam
penerima penghargaan Innovative Government Award dari Kementerian Dalam
Negeri. GERDEMA memang berbeda dibanding konsep pembangunan selama ini.
GERDEMA menjadikan desa sebagai pusat aktivitas pemerintahan, kegiatan
pembangunan, dan pelayanan publik. Pemerintah Kabupaten Malinau membangun
dan membentuk sumber daya manusia desa, menyerahkan berbagai urusan kepada
desa dan menyediakan dana untuk dikelola desa dengan nominal sebesar Rp1,2
miliar pada 2014. Pemda juga memberikan kesempatan secara luas kepada desa
untuk menggali sumber pendapatan asli desa untuk kepentingan desa mereka.
Prinsip dasar GERDEMA bertumpu pada kekuatan rakyat, yaitu
bertumbuhnya gerakan masyarakat, yang lahir dari masyarakat desa. Wujud dari
harapan dan kehendak rakyat yang diformulasikan dalam langkah kebijakan
strategis desa.
Gerakan Itu Berasal dari Rakyat
Masyarakat terlibat langsung melakukan evaluasi, pemetaan, dan
mengartikulasikan potensi serta permasalahan di desa untuk ditetapkan sebagai
materi perencanaan melalui mekanisme kerja Lembaga Pemberdayaan dan
Partisipasi Pembangunan Masyarakat Desa (LP3MD). Masyarakat Desa dalam
filosofi pembangunan nasional merupakan objek pembangunan, sehingga
sesungguhnya mereka menjadi titik awal yang baik untuk memulai sebuah upaya
untuk mewujudkan pembangunan nasional. Benang merah dari sasaran
pembangunan yang akan dilaksanakan haruslah konsisten berkorelasi kuat dengan
proses untuk mencapai tujuan. Prinsip dasarnya adalah bahwa yang ingin kita
capai harus menjadi bagian dari proses. Rakyat adalah objek dari pembangunan
dan oleh karenanya harus menjadi titik awal dari semua gerak dan proses yang

akan dilakukan dan terpelihara secara baik dalam mekanisme perencanaan dan
pelaksanaannya.
Gerakan Itu Dilakukan oleh Rakyat
Apa yang direncanakan dan ditetapkan sebagai kegiatan pembangunan
desa, semuanya dilakukan oleh seluruh masyarakat desa. Mereka memahami
konteks masalahnya, maka dengan mudah mereka memahami kekuatan dan
kelemahannya. Mereka juga akan mudah menanganinya sebagai upaya
pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, tentu akan sangat mudah pula
untuk menggugah semangat mereka melibatkan diri dan lebih mudah bagi mereka
untuk turut berpartisipasi secara langsung dan aktif dalam pelaksanaannya.
Gerakan Itu Menghasilkan Manfaat untuk Masyarakat Desa
Seluruh perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat desa sendiri. Mereka sangat paham dan
mengerti terhadap kebutuhan dasarnya, sehingga perencanaan yang dilakukan
tentu di arahkan untuk menangani dan mengeksplorasi kebutuhan mereka.
Semuanya pasti dapat dinikmati secara langsung oleh rakyat Kabupaten Malinau
sendiri. Setiap desa memiliki kebutuhan yang beragam dan sering kali tidak sama
antara satu desa dengan desa lainnya. Maka, hasil pembangunan tidak bisa diukur
dengan indikator sama. Masyarakat setempatlah yang dapat mengukur tingkat
keberhasilan pembangunan yang sudah mereka jalankan. Mereka tahu dan
merasakan sendiri, sehingga jika ada kekeliruan mereka bisa langsung
memperbaikinya pada perencanaan pembangunan berikutnya.
Ukuran keberhasilan GERDEMA di Malinau yaitu terpenuhinya kebutuhan
dan keinginan warga sebenarnya, keinginan warga desa sangat sederhana, yaitu
pemenuhan kebutuhan dasar. Secara umum, penentuan strategi pembangunan
harus berdasarkan pada tingkat kepuasan dasar masyarakat, yaitu:

Rasa bangga

Rasa senang

Rasa nyaman

Rasa keindahan

Rasa sehat (kesehatan)

Rasa pintar (pendidikan)

Rasa tertib (keamanan).

Nilai-nilai utama yang menciptakan dan memperkuat kepemimpinan GERDEMA


adalah:
1. Nilai Kecerdasan Spiritual
Mengandung makna kesempurnaan akal budi seseorang dan kepedulian
antar sesama manusia serta alam sekitarnya berdasarkan keyakinan akan adanya
Tuhan Yang Maha Esa. Nilai kerohanian dilandasi oleh keyakinan dan
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mengajarkan hakikat
kebenaran, cinta kasih, damai sejahtera, dan keilahian.GERDEMA merupakan
aktivitas masyarakat yang memerlukan arahan dan binaan dari pemimpin yang
memiliki kecerdasan spiritual. Sebuah kecerdasan yang harus diimplementasikan
sebagaimana yang tersirat dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha
Esa. Kesadaran akan kebesaran Tuhan inilah yang sesungguhnya menjadi
kekuatan membangun kapasitas diri seseorang. Seorang pemimpin harus sadar
sepenuhnya bahwa apa yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Tuhan.
Dengan demikian, gerak dan langkah pembangunan akan menjadi lebih positif,
kuat, dan terarah kepada harapan dan tujuan yang ingin diwujudkan secara
bersama.
2. Nilai Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional menyangkut tingkat kesempurnaan hati dan
kepedulian terhadap sesama manusia dan alam sekitarnya. Nilai ini menjadi
kekuatan yang sangat besar dan penting pada
diri seorang pemimpin untuk membangun komunikasi antar personal. Kecerdasan
emosional memiliki dampak yang sangat besar dalam memengaruhi tingkat
kinerja.
Oleh karena itu, kondisi emosional ini sangat penting untuk dimiliki,
dibangun, dan dikuasai dengan baik oleh para pemimpin dan bahkan segenap
anggota. Tingkat kecerdasan emosional akan menciptakan perilaku bijak dan
mendorong semangat produktif setiap individu dalam organisasi. Terlebih

terhadap masyarakat yang berbudaya dan beradab, setiap pemimpin mutlak harus
memiliki kekuatan emosional yang baik dan humanis, karena hanya dengan
kekuatan kecerdasan emosional

yang baiklah akan lahir dan mampu

menggerakkan spontanitas serta ketulusan dari masyarakatuntuk berpartisipasi


dalam pembangunan.
3. Nilai Kecedasan Intelektual
Aktivitas suatu organisasi sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh tingkat
intelektualitas anggota organisasi tersebut. Sama halnya dengan masyarakat yang
level aktivitasnya sangat ditentukan oleh kemampuan inteletual yang dimilikinya.
Kemampuan rekayasa dan desain struktur, bahkan terbentuknya suatu tatanan
serta sistem sosial yang baik, sangat ditentukan oleh kapasitas intelektual dalam
organisasi dan masyarakat. Kecerdasan intelektual ini juga sangat penting dalam
mewujudkan keberhasilan GERDEMA.

Kondisi ketidakmampuan intelektual

inilah yang selama ini menjadi keraguan dan ketidakyakinan pemerintah tingkat
atas kepada desa untuk menjalankan program pembangunan. Apalagi untuk
memberikan kepercayaan berupa tanggung jawab pengelolaan dana dalam jumlah
besar. Kondisi masyarakat yang tidak mampu ini sebenarnya sudah berlangsung
lama. Walaupun sangat sadar akan kondisi ini, kita tidak pernah berupaya secara
serius untuk mengatasai permasalahan ketidakmampuan ini dengan cara yang
tepat.
Hal inilah yang dengan tegas dan serius dilakukan dalam GERDEMA,
yaitu semangat pemberdayaan untuk memampukan masyarakat desa. Pemerintah
daerah melalui Satuan Kerja Perngkat Daerah dan lembaga terkait serta Satuan
Tugas (satgas) GERDEMA, memberikan pembinaan, bimbingan, dan berbagai
kemampuan teknis administratif dan kepemerintahan serta keterampilan lainnya
agar masyarakat desa menguasai dan mampu melaksanakan tugas pembangunan,
agar mereka lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
GERDEMA
masyarakat.

berprinsip

bahwa

pembangunan

Pemerintah harus memberikan

harus

melibatkan

kepercayaan kepada

rakyat.

Pemerintah Kabupaten Malinau berjuang keras untuk membantu masyarakat dan


pemerintahan desa melalui pendampingan secara sistematis. Seperti mengerti
tentang pemerintahan, mengerti tentang fungsi dan tanggung jawab tugas pokok,

mengerti hakikat pembangunan dan menjalankan pemerintahan desa sebagai


pemegang amanat dalam menangani kepentingan rakyat sebagaimana disyaratkan
oleh Undang-Undang Desa, agar mereka siap menerima kepercayaan itu. Terbukti
dalam waktu yang relatif singkat, GERDEMA dapat berjalan dengan baik dan
terus meningkat. Setiap waktu terbentuk pola kesadaran dan kemampuan desa
dalam menjalankan pemerintahan desa.
4. Nilai Kecerdasan Ekonomi
Aspek kecerdasan ekonomi ini adalah kemampuan dalam memaksimalkan
dan mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, sekecil apapun, agar bernilai
strategis dalam organisasi.
Kecerdasan mengelola ekonomi menjadi hal yang amat mendasar karena menjadi
satu strategi dasar dalam aspek kehidupan umat manusia.
kecerdasan ini berkaitan dengan:
1. Keberanian dalam mengambil langkah strategis untuk mengelola secara
mandiri potensi ekonomi dengan kekuatan bangsa sendiri.
2. Rendahnya pemikiran kreatif dan inovatif, sehingga banyak peluang besar yang
terlewat atau tidak diberdayakan secara optimal.
3. Kebijakan yang tidak mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Otonomi yang dijalankan masih setengah hati. Isunya memang otonomi yang
seluasluasnya, namun pada praktiknya tidak demikian. Masih terlalu banyak
regulasi

yang

dikeluarkan

dan

dikendalikan

oleh

pusat.

Begitu

pula

pembiayaannya. Masih terlalu banyak yang dikelola oleh berbagai instansi dan
kementerian pusat.
5. Nilai Kecerdasan Nasionalis Kebangsaan
Aspek kecerdasan nasionalis kebangsaan ini berkaitan dengan kesadaran
hidup berbangsa dan bernegara. Seorang pemimpin haruslah menunjukkan jati diri
sebagai seorang yang berjiwa nasionalis. Pemimpin dengan kecerdasan ini akan
sangat penting
perannya dalam mewujudkan tujuan GERDEMA.
Dalam GERDEMA, terdapat tiga belas nilai
keberhasilan, yaitu:
1. Kepemimpinan

2. Demokrasi
3. Keterbukaan
4. Keberpihakan
5. Toleransi
6. Efisien
7. Efektif
8. Partisipasi
9. Swadaya
10. Pertanggungjawaban
11. Pemberdayaan
12. Inovasi
13. Produktivitas
Dengan demikian, GERDEMA bukan hanya melulu menghasilkan pembangunan
secara fisik, melainkan juga membentuk nilai hakiki yang berkaitan pada hal-hal
di bawah ini:

Nilai persatuan semakin kokoh

Perilaku toleransi menjadi norma hidup yang konsisten

Perilaku saling menghormati harus menjadi gaya hidup

Gotong royong menjadi perilaku dalam pembangunan

Semua itu akan menjadi modal utama bangsa kita dalam mempertahankan
keutuhan dan kedaulatan negara. Ketahanan masyarakat yang kuat menjadi titik
awal dari ketahanan nasional yang kokoh. Menjadi tanggung jawab kita untuk
meletakan landasan kepemerintahan yang kuat.

Ketika GERDEMA akan dijalankan, kondisi kemiskinan di Malinau


merupakan masalah terbesar, jumlahnya mencapai 26%, hampir dua kali lipat
lebih tinggi dari persentase jumlah kemiskinan nasional. Dengan modal
kesungguhan, tekad maka
pemerintah Kabupaten Malinau mencanangkan Gerakan Desa
Membangun (GERDEMA) sebagai jawaban atas kondisi tersebut.

GERDEMA
pembangunan.

merupakan

konsepsi

dari

peran

masyarakat

dalam

GERDEMA merupakan suara hati masyarakat.

GERDEMA merupakan tekad dari masyarakat untuk mengubah hidup


mereka menjadi lebih baik dan memenuhi standar hidup yang layak.

GERDEMA merupakan kekuatan, peluang, dan harapan masyarakat desa


untuk Berubah Maju dan Sejahtera.

GERDEMA juga merupakan suara dan cermin ketulusan hati dan itikad positif
seorang pemimpin yang percaya kepada rakyatnya. Percaya dengan menyerahkan
urusan dan kewenangan kepada masyarakat atau pemerintah desa untuk
mengubah nasib mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri.
Dengan tekad tersebut di atas, maka desa di Kabupaten Malinau adalah desa yang
memiliki kapasitas dan kompetensi yang kuat untuk menjalankan roda
pemerintahan. Mereka juga mampu melakukan kegiatan pembangunan dan
pelayanan umum kepada seluruh masyarakat desanya. Sebagai bagian dari sistem
pemerintahan di Indonesia, maka desa harus kuat dalam menjalankan fungsifungsi kepemerintahan secara konsisten, bertanggung jawab, dan peduli serta
tanggap menangani berbagai persoalan pembangunan dan kemasyarakatan.

Perbandingan Kondisi Masyarakat dan Desa Sebelum dan Setelah


Pelaksanaan Model GERDEMA Tahun 2012
No
1

Indikator
Perencana
an desa

Sebelum
GERDEMA
a. Pelaksanaan
Musrenbang tidak
berjalan efektif
karena minimnya
keterlibatan
masyarakat serta
sifatnya yang lebih
top down
b. Tidak adanya
dokumen
perencanaan yang
jelas baik
RPJMDes maupun
RKPDes
c. Tidak satu pun
desa yg memiliki
RPJMDes

Setelah GERDEMA
a. Pelaksanaan PraMusrenbangdes/FP3D dan
Musrenbangdes berjalan
lebih efektif dengan
keterlibatan seluruh unsur
masyarakat dengan
pendampingan LP3MD, serta
hadirnya SKPD dalam
pelaksanaan Musrenbangdes.
Program-program
tahun berjalan langsung bisa
diketahui oleh
masyarakat dan
permasalahan pembangunan
juga
bisa langsung direspon
SKPD.

Keterangan

Alokasi
dana yang
langsung
dikelola
desa

Kinerja
aparat
desa

b. Tersedianya dokumen
perencanaan desa
dengan baik, yaitu RPJMDes
dan RKPDes
dengan pendampingan SKPD
terkait dalam
penyusunannya.
c. Pada tahun 2012 (tahun
pertama pelaksanaan
GERDEMA) sebanyak
68,60% desa telah memiliki
RPJMDes dan sisanya,
31,40%, masih dalam proses
penyusunan.
Rp200500 juta/desa Rp1,2 Miliar1,3
Tahun
/tahun
Miliar/desa/tahun
pertama
pelaksanaan
GERDEMA
dialokasikan
Rp 0,91,2
Miliar/Desa
a. Penghasilan rendah a. Penghasilan cukup
(Rp800 ribu/
(Rp1,2juta/bulan belum
bulan)
termasuk honor penanggung
b. Disiplin rendah
jawab setiap
(aparat jarang
kegiatan)
ngantor). Hanya
b. Terjadi peningkatan
aparat di kota
disiplin aparat (hasil
saja yang aktif,
monitoring dan evaluasi
sedangkan daerah
(MONEV) sebanyak
pedalaman dan
61,68% aparat desa aktif
perbatasan,
bekerja di kantor,
berkantor di rumah
sebanyak 38,32% ak vitas
masingmasing.
di kantor masih
c. Peralatan
terbatas)
penunjang kerja
c. Peralatan penunjang kerja
masih
sudah memadai
seadanya. Hanya
(kendaraan bermotor, ke n
desa-desa di
ng, laptop, printer,
sekitar kota saja yang AC, dll.) Semua desa telah
memiliki
didukung oleh komputer
komputer.
dan printer serta kendaraan,
d. Pelayanan
baik motor maupun
masyarakat masih
untuk mendukung
seadanya karena tidak kinerjanya.
didukung
d. Pelayanan masyarakat
oleh penghasilan dan semakin baik karena
peralatan.
didukung oleh penghasilan

e. SDM aparatur
masih minim karena
frekuensi pelatihan
yang masih
terbatas (hanya
dilakukan oleh
BPMD).

Peran dan
hubungan
antar
lembaga
desa

a. Masing-masing
lembaga berjalan
sendiri-sendiri karena
pelaksanaan
pembangunan
bersifat top down
b. Fungsi lembaga
desa dak berjalan
sebagaimana mes
nya.
c. Frekuensi rapat
koordinasi
antar lembaga desa
hanya pada
saat Musrenbangdes
saja (satu
kali setahun) karena
model
pembangunan yang
lebih top
down.

Partisipasi Par spasi masih


masyaraka terbatas karena
t
minimnya dukungan

yang cukup dan


peralatan yang memadai.
e. SDM aparatur semakin
baik dengan seringnya
dilaksanakan pelatihan, baik
di kabupaten,
kecamatan maupun desa
(setiap tahun
diadakan pelatihan untuk
aparat desa, baik yang
dilaksanakan Bappeda,
BPMD, bagian keuangan,
bagian hukum dan bagian
Tapem)
a. Pemerintah desa dan
lembaga desa saling
bersinergi karena
pelaksanaan pembangunan
yang bott om up, yang
mengharuskan seluruh
unsur saling bekerja sama
sejak perencanaan,
pelaksanaan, dan
pengawasan.
b. Fungsi lembaga desa dapat
berjalan dengan baik
karena fungsi masing-masing
lembaga sudah
diatur dalam pedoman
GERDEMA dan Peraturan
Bupa Nomor 3 Tahun 2013
Tentang Pedoman
Penyusunan APBDes.
c. Frekuensi rapat koordinasi
lebih sering dilakukan
(hasil MONEV sebanyak
23,41% desa menyatakan
bahwa rapat koordinasi antar
lembaga dilakukan
secara ru n; 64,36%
menyatakan melakukan rapat
koordinasi sesuai kebutuhan,
dan sisanya 12,23%
belum melakukan rapat
koordinasi)
Par sipasi masyarakat
semakin meningkat karena
dukungan dana yang

dalam
pelaksana
an
pembangu
nan

dana dan
masih adanya
intervensi pemerintah
kabupaten dalam
perencanaan dan
pelaksanaan,
sehingga
programprogram
yang disusun
bukanlah
kebutuhan
sesungguhnya dari
masyarakat desa.

meningkat dan dak adanya


intervensi pemerintah
kabupaten, baik dalam
perencanaan maupun
pelaksanaan.
Programprogram
yang disusun benar-benar
berdasarkan
kebutuhan masyarakat
sehingga masyarakat merasa
memiliki dan berperan aktif
melaksanakan program
tersebut. Hasil MONEV
menyatakan bahwa 74,05%
masyarakat telah terlibat
dalam pelaksanaan model
GERDEMA.

Sumber: Laporan Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan GERDEMA Tahun 2012

BAB IV
SIMPULAN
Kewenangan merupakan hal yang penting dalam otonomi, yaitu
kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dalam
undang-undang ini disebutkan, bahwa pemerintah desa adalah penyelenggara
urusan pemerintahan desa, pelaksana pembangunan desa, pelaku pembinaan
kemasyarakatan desa, dan pelaku pemberdayaan terhadap masyarakat desa
berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika serta
kepentingan masya rakat setempat. Esensi dari undang-undang ini sangat cocok
dengan apa yang sudah diterapkan di Malinau dalam program Gerakan Desa
Membangun (GERDEMA). Dalam konsep GERDEMA, masyarakat ditempatkan
sebagai kekuatan utama dalam pembangunan. Prinsip dasar GERDEMA adalah
memberi kepercayaan penuh kepada masyarakat, dalam hal ini pemerintah desa,
untuk mengelola dan mengurus rumah tangga desa untuk kesejahteraan rakyatnya.
GERDEMA juga merupakan suara dan cermin ketulusan hati dan itikad
positif seorang pemimpin yang percaya kepada rakyatnya. Percaya dengan
menyerahkan urusan dan kewenangan kepada masyarakat atau pemerintah desa
untuk mengubah nasib mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri. Dengan
tekad tersebut di atas, maka desa di Kabupaten Malinau adalah desa yang
memiliki kapasitas dan kompetensi yang kuat untuk menjalankan roda
pemerintahan. Mereka juga mampu melakukan kegiatan pembangunan dan
pelayanan umum kepada seluruh masyarakat desanya. Sebagai bagian dari sistem
pemerintahan di Indonesia, maka desa harus kuat dalam menjalankan fungsifungsi kepemerintahan secara konsisten, bertanggung jawab, dan peduli serta
tanggap menangani berbagai persoalan pembangunan dan kemasyarakatan.

DAFTAR PUSTAKA
Wijaya, H.A.W. 2002. Otonomi Daerah Dan Daerah Otonom. Jakarta :
Raja Grafindo Persada
Eko, Sutoro dkk. 2005. Prakarsa Desentralisasi & Otonomi Desa.
Yogyakarta
T, P Yansen. 2014. Revolusi dari Desa: Saatnya dalam Pembangunan
Percaya Kepada Rakyat. Jakarta: Kompas Gramedia
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN
2014 TENTANG DESA
Innesa Destifani dkk. PELAKSANAAN KEWENANGAN DESA
DALAM RANGKA MEWUJUDKAN OTONOMI DESA (Studi pada Desa
Sumber, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora)
Publik (JAP), Vol. 1, No. 6, Hal. 1239-1246

dalam Jurnal Administrasi

Pelaksanaan Kewenangan Desa dalam Rangka mewujudkan Otonomi Desa


(Analisis Program Gerakan Desa Membangun di kabupaten Malinau),
MATA KULIAH FORMULASI KEBIJAKAN PUBLIK

Oleh :
Aisyah Mayliawati D0112003

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2014