Anda di halaman 1dari 28

Refrat

PENCITRAAN PADA HEPAR, KANDUNG EMPEDU DAN PANKREAS

Oleh :
Justin Darren Raj

0810314259

Preseptor :
Dr. Sylvia Rachman Sp. Rad

Bagian Ilmu Radiologi


Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
RSUP DRM Djamil Padang
2013

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Hepar
Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh manusia.Hepar pada
manusia terletak pada bagian atas cavum abdominis, di bawah diafragma, di kedua
sisi kuadran atas, terbanyak dihipochondrium kanan, epigastrium, dan melebar ke
hipokondrium kiri.Beratnya 1200 1600 gram.Permukaan atas terletak bersentuhan
di bawah diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atas organ-organ
abdomen.Hepar difiksasi secara erat oleh tekanan intraabdominal dan permukaan
hepar sebagian ditutupi peritoneum yang merupakan Capsula Glissoni, kecuali di
daerah posterior-superior yang berdekatan dengan v.cava inferior dan mengadakan
kontak langsung dengan diafragma. Bagian yang tidak diliputi oleh peritoneum
disebut bare area.Terdapat refleksi peritoneum dari dinding abdomen anterior,
diafragma dan organ-organ abdomen ke hepar berupa ligamen.Hepar dikelilingi oleh
cavum toraks dan bahkan pada orang normal tidak dapat dipalpasi (bila teraba berarti
ada pembesaran hepar). Permukaan lobus kanan dpt mencapai sela iga IV/V tepat di
bawah aerola mammae.

1.1.1 Anatomi Hepar

Hepar terdiri atas lobus dextra, lobus sinistra, lobus caudatus, lobus
quadratus.Secara anatomis, pada sisi anterosuperior oleh lig.Falsiformis dibagi
menjadi lobus dekstra dan sinistra. Pada sisi posterior, lobus kaudatus terletak
diantara v .cava inferior dan fissura lig. Venosum . Lobus ini memiliki prosessus
kaudatus ( berupa ismus jaringan hepar ) yang menghubungkannya dengan lobus
dekstra. Lobus kuadratus terletak antara fossa vesika fellea dan fissura lig.Teres.

Gambar 1. Anatomi Hepar


Batas hepar

Batas atas sejajar dengan ruangan interkostal V kanan

Batas bawah menyerong ke atas dari iga IX kanan ke iga VIII kiri

Facies (permukaan) Hepar:


1. Facies diaphragmatika
a. berbentuk konveks
b. menempel dipermukaan bawah diaphragma dan dibagi lagi
menjadi facies anterior, superior, posterior dan dekstra
2. Facies visceralis (inferior)
a. agak datar dan melandai kebawah, kedepan dan ke sebelah kanan
dari facies posterior

b. Umumnya pembuluh darah besar dan duktus masuk keluar porta


hepatis yang terletak di facies visceralis, kecuali v. hepatika yang
muncul dari facies posterior
c. gambaran utamanya adalah struktur-struktur yang tersusun
membentuk huruf H.
Porta hepatis adalah hilus hepar dan dilengkapi oleh kedua lapisan omentum
minus yang pada sebelah kirinya terikat dengan ligamentum venosum.Porta ini
ditempati oleh duktus hepatika dekstra dan sinistra, a. hepatika dekstra dan sinistra
serta v. porta. Susunannya dari belakang ke depan adalah vena-arteri-duktus.
Duktus cystikus terletak pada sebelah kanan porta hepatis dan pada tempat ini
terdapat beberapa nodus limftikus.Nodus limfatikus ini bersama saraf menempel
diantara tepi bebas omentum minus.Di sebelah kanan porta terdapat vesika fellea
yang terletak dalam fossa.
Stabilitas
Hepar dipertahankan pada tempatnya oleh :

Vena hepatica dan vena cava inferior. Seluruh vena hepatica terletak
intra hepatika dan masuk kedalam vena cava inferior ketika melewati
sulkus di facies posterior hepar.

Perlekatan lig. Triangularis kiri dan lig. Teres.

Organ visera dibawahnya (gaster dan fleksura hepatika kolon).

Hepar dihubungkan dengan dinding abdomen dan diaphragma oleh 5 ligamen


yaitu :
1. Ligamentum falciformis : Menghubungkan hepar ke dinding ant. abd dan
terletak di antara umbilicus dan diafragma. Membagi hepar lobus dekstra
dan sinistra.

2. Ligamentum teres hepatis = round ligament : Merupakan bagian bawah


lig. falciformis ; merupakan sisa-sisa peninggalan v.umbilicalis yg telah
menetap.
3. Ligamentum

gastrohepatica

dan

ligamentum

hepatoduodenalis

:Merupakan bagian dari omentum minus yg terbentang dari curvatura


minor lambung dan duodenum sblh prox ke hepar.Di dalam ligamentum
ini terdapat Aa.hepatica, v.porta dan duct.choledocus communis. Ligamen
hepatoduodenale turut membentuk tepi anterior dari Foramen Wislow.
4. Ligamentum Coronaria Anterior kika dan Lig coronaria posterior ki-ka
:Merupakan refleksi peritoneum terbentang dari diafragma ke hepar.
5. Ligamentum triangularis ki-ka: Merupakan fusi dari ligamentum coronaria
anterior dan posterior dan tepi lateral kiri kanan dari hepar.
Hepar diproyeksikan pada dinding anterior abdomen setinggi xiphisternum.
Batas superior kiri adalah sic V, 7-8 cm dari linea mediana dan kekanan pada sic V
melengkung ke bawah membentuk batas kanan , dari iga 7 hingga 11 pada linea
midaksilaris.

1.1.2 Fisiologi Hepar

Hepar merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber


energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 25% oksigen darah. Ada
beberapa fungsiheparyaitu :
1. Fungsi hepar sebagai metabolisme karbohidrat
Pembentukan, perubahan dan pemecahan KH, lemak dan protein saling berkaitan 1
sama lain.Hepar mengubah pentosa dan heksosa yang diserap dari usus halus menjadi
glikogen, Mekanisme ini disebut glikogenesis. Glikogen lalu ditimbun di dalam hepar
kemudian heparakan memecahkan glikogen menjadi glukosa. Proses pemecahan
glikogen menjdi glukosa disebut glikogenolisis. Selanjutnya heparmengubah glukosa

melalui heksosa monophosphat shunt dan terbentuklah pentosa. Pembentukan


pentosa mempunyai beberapa tujuan: Menghasilkan energi, biosintesis dari
nukleotida, nucleic acid dan ATP, dan membentuk/ biosintesis senyawa 3 karbon
(3C) yaitu pyruvic acid (asam piruvat diperlukan dalam siklus krebs).
2. Fungsi hepar sebagai metabolisme lemak
Hepar tidak hanya membentuk/ mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan
katabolisis asam lemak Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen :
1.

Senyawa 4 karbon KETON BODIES

2.

Senyawa 2 karbon ACTIVE ACETATE (dipecah menjadi asam lemak dan

gliserol)
3.

Pembentukan cholesterol

4.

Pembentukan dan pemecahan fosfolipid

Hepar merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi kholesterol


.Dimana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan metabolisme lipid
3. Fungsi hepar sebagai metabolisme protein
Hepar mensintesis banyak macam protein dari asam amino. Dengan proses
deaminasi, hepar juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam amino.Dengan
proses transaminasi, hepar memproduksi asam amino dari bahan-bahan non nitrogen.
Hepar merupakan satu-satunya organ yg membentuk plasma albumin dan - globulin
dan organ utama bagi produksi urea.Urea merupakan end product metabolisme
protein. - globulin selain dibentuk di dalam hepar, juga dibentuk di limpa dan
sumsum tulang globulin hanya dibentuk di dalam hepar.
4. Fungsi hepar sehubungan dengan pembekuan darah
Hepar merupakan organ penting bagi sintesis protein-protein yang berkaitan dengan
koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor V, VII, IX, X.
Benda asing menusuk kena pembuluh darah yang beraksi adalah faktor ekstrinsik,

bila ada hubungan dengan katup jantung yang beraksi adalah faktor intrinsik.Fibrin
harus isomer biar kuat pembekuannya dan ditambah dengan faktor XIII, sedangakan
Vit K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin dan beberapa faktor koagulasi.
5. Fungsi hepar sebagai metabolisme vitamin
Semua vitamin disimpan di dalam hepar khususnya vitamin A, D, E, K
6. Fungsi hepar sebagai detoksikasi
Hepar adalah pusat detoksikasi tubuh, Proses detoksikasi terjadi pada proses oksidasi,
reduksi, metilasi, esterifikasi dan konjugasi terhadap berbagai macam bahan seperti
zat racun, obat over dosis.
7. Fungsi hepar sebagai fagositosis dan imunitas
Sel kupfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai bahan melalui
proses fagositosis. Selain itu sel kupfer juga ikut memproduksi - globulin sebagai
immune livers mechanism.
8.

Fungsi hemodinamik

Hepar menerima 25% dari cardiac output, aliran darah hepar yang normal 1500
cc/ menit atau 1000 1800 cc/ menit. Darah yang mengalir di dalam a.hepatica
25% dan di dalam v.porta 75% dari seluruh aliran darah ke hepar
9. Fungsi hepar sebagai kelenjar eksokrin
Hepar menghasilkan sekresi empedu sebanyak 1000 cc setiap hari.

Dalam cairan empedu terdapat:

pigmen empedu, sebagai hasil pemecahan Hb eritrosit dalam lien dan medulla
osseum (bilirubin yang tidak mengandung Fe akan masuk darah ke hepatosit)

garam empedu yang penating untuk pencernaan

protein

kolesterol

kristaloid dalam air

Hormon steroid yang mengikuti peredaran entahepatik. Hormon steroid


masuk hepatosit, mengalami perubahan atau tidak, kemudian masuk enzim
yagn disalurkan dalam intestinum. Di intestinum diserap masuk ke dalam
darah lagi untuk kembali hepatosit. Demikian pula peredaran untuk bilirubin

1.2 Kandung Empedu

1.2.1 Anatomi Kandung Empedu


Kandung Empedu merupakan kantung berbentuk labu yang melekat pada
bagian bawah lobulus kanan hepar; ujung buntunya atau fundus menonjol di bawah
pinggir inferior hepar.
Kandung Empedu berukuran 10x4 cm. Dengan bagian-bagiannya yaitu:
corpus, fundus, dan collum yang meneruskan sebagai duktus cysticus. Cairan empedu
yang dihasilkan oleh hepar berasal dari ducti biliferi akan berkumpul dalam ductus
hepaticus communis yang melanjutkan menjadi ductus cysticus yang bermuara dalam
Kandung Empedu. Cairan empedu yang dibutuhkan untnuk pencernaan akan
disalurkan melalui ductus choledochus dan bermuara dalam duodenum.

1.2.2 Histologi Kandung Empedu

Dinding kandung empedu terdiri atas

1. Tunica Mucosa

Bagian dinding ini mudah mengalami kerusakan post mortem, maka pembuatan
sediaan kandung empedu sangat sulit. Tunica mucosa melipat-lipat membentuk rugae
pada permukaan. Pada liatan yang besar akan terdapat lipatan-lipatan yang lebih
kecil. Lipatan-lipatan tersebut akan mendatar apabila kandung empedu berisi penuh.
Epitel
Terdiri atas selapis sel silindris tanpa sel piala.Sel-selnya mempunyai inti oval dengan
butir-butir kromatin halus.Inti terdapat di bagian basal sel. Pada permukaan sel
terdapat banyak microvilli.
Lamina Propria
Sebagai jaringan pengikat di bawah pitel.Tidak diketemukan kelenjar kecuali pada
collum yang berbentuk tubulo alveolar dengan sel-sel yang berbentuk kuboid jernih,
dengan inti gelap terdesak ke basal. Kelenjar ini menghasilkan mucus

2. Tunica Muscularis
Terdiri atas anyaman serabut-serabut otot polos yang berjalan sirkuler, longitudinal
dan menyerong dengan disertai serabut-serabut elastis.

3. Tunica Perimuscularis
Merupakan jaringan pengikat agak padat yang membungkus seluruh kandung empedu
dan melanjutkan diri kedalam jaringn interlobular hepar.Di dalamnya banyak
mengandung serabut-serabut elastis dengan beberapa fibroblast, sel lemak, sel
limfoid, pembuluh darah, pembuluh limfe dan serabut-serabut saraf.

4. Tunica Serosa
Bagian kandung empedu yang tidak menempel pada permukaan hepar dibungkus
oleh peritoneum yang melanjutkan diri membungkus hepar.Peritoneum yang
menutupi kandung empedu merupakan tunica serosa.

Kandung empedu pada collumnya melanjutkan diri sebagai ductus cysticus.Pada


permukaan dalamnya terlihat lipatan-lipatan yang disebut valvula spiralis heister yang
disebabkan karena penebalan sebagian dari tunica mucularis luarnya.

1.2.3 Fisiologi Kandung Empedu

Kandung empedu dipergunakan untuk menampung dan menyimpan empedu


yang dihasilkan oleh hepar terutama pada waktu pencernaan lemak.Cairan empedu
disalurkan

dari

kandung empedu

melalui

ductus

cholodochus

ke

dalam

duodenum.Hal ini disebabkan kontraksi otot-otot kandung empedu yang dipengaruhi


oleh hormon cholecystokinin yang ikeluarkan oleh tunica mucosa usus dibawa
melalui darah ke otot-otot kandung empedu.Terdapat pengangkutan aktif ion Na ke
dalam celah-celah antara sel epitel Kandung Empedu yang diikuti transpor air dari
cairan empedu ke dalam celah interseluler. Akibatnya cairan empedu akan lebih
pekat.Sekresi mukus oleh kelenjar-kelenmjar yang terdapat dalm collum.

1.3 Pankreas
Pankreas merupakan organ tubuh istimewa yang berfungsi ganda sebagai
kelenjar eksokrin dan endokrin.Sebagai kelenjar eksokrin pankreas membantu dan
berperan penting dalam sistem pencernaan dengan mensekresikan enzim-enzim
pankreas seperti amilase, lipase dan tripsin.Sebagai kelenjar endokrin, pankreas
dikenal dengan produksi hormon-hormon insulin dan glukagon yang berperan dalam
metabolisme glukosa.Fungsi endokrin pankreas dilakukan oleh pulau-pulau
Langerhans yang tersebar di antara bagian eksokrin pankreas (Guyton, 1976;
Greenspan dan Forsham, 1983; Sundler dan Hakanson, 1988).
Dari hasil penelitian Sundler dan Hakanson (1988) dengan menggunakan
elektron mikroskop dilaporkan bahwa pulau Langerhans berisi kurang lebih lima
jenis sel endokrin. Empat dari lima tipe tersebut adalah sel-sel , sel-sel , sel-sel
somatostatin dan PP, yang dapat diketahui melalui respon dari hormon yang

dikandungnya. Tipe sel kelima, disebut sel DI belum dapat diidentifikasi. Pada
pankreas manusia normal sel insulin berkisar 62% dari jumlah total sel di pulau
Langerhans, glukagon 15%, PP 14%, somatostatin 9% dan DI kurang dari 1%
(Sundler dan Hakanson, 1988). Pada babi jumlah sel glukagon berkisar antara 5-30%
dari total sel di pulau Langerhans (Delmann, 1993).
Pankreas merupakan organ penting dalam mengukur kadar glukosa darah.
Hormon yang berperan dalam pengaturan kadar glukosa darah tersebut adalah insulin
yang disekresikan oleh sel beta dan glikogen yang disekresikan oleh sel alfa. Adanya
senyawa kimia yang masuk kedalam tubuh dengan dosis tinggi dapat menghancurkan
sel-sel pulau langerhans. Kerusakan-kerusakan sel beta pulau langerhans ini akan
menyebabkan produksi insulin menurun. Dengan turunnya insulin maka akan
mengakibatkan hiperglikemia (Ganong, 1995).

1.3.1 Anatomi Pankreas


Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan tebal
sekitar 12,5 cm dan tebal + 2,5 cm (pada manusia). Pankreas terbentang dari atas
sampai ke lengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan oleh dua saluran ke
duodenum (usus 12 jari), terletak pada dinding posterior abdomen di belakang
peritoneum sehingga termasuk organ retroperitonial kecuali bagian kecil caudanya
yang terletak dalam ligamentum lienorenalis.Strukturnya lunak dan berlobulus.
1. Bagian Pankreas
Pankreas dapat dibagi ke dalam:
a. Caput Pancreatis, berbentuk seperti cakram dan terletak di dalam
bagian cekung duodenum. Sebagian caput meluas di kiri di belakang
arteri dan vena mesenterica superior serta dinamakan Processus
Uncinatus.
b. Collum Pancreatis merupakan bagian pancreas yang mengecil dan
menghubungkan caput dan corpus pancreatis. Collum pancreatis
terletak di depan pangkal vena portae hepatis dan tempat
dipercabangkannya arteria mesenterica superior dari aorta.

c. Corpus Pancreatis berjalan ke atas dan kiri, menyilang garis tengah.


Pada potongan melintang sedikit berbentuk segitiga.
d. Cauda Pancreatis berjalan ke depan menuju ligamentum lienorenalis
dan mengadakan hubungan dengan hilum lienale.

GAMBAR 3. Bagian-bagian Pankreas

2. Hubungan
a.

Ke anterior: Dari kanan ke kiri: colon transversum dan perlekatan mesocolon


transversum, bursa omentalis, dan gaster.

b.

Ke posterior: Dari kanan ke kiri: ductus choledochus, vena portae hepatis dan
vena lienalis, vena cava inferior, aorta, pangkal arteria mesenterica superior,
musculus psoas major sinistra, glandula suprarenalis sinistra, ren sinister, dan
hilum lienale.

3. Vaskularisasi
a. Arteriae
A.pancreaticoduodenalis superior (cabang A.gastroduodenalis )
A.pancreaticoduodenalis inferior (cabang A.mesenterica cranialis)

A.pancreatica magna dan A.pancretica caudalis dan inferiorcabang


A.lienalis
b. Venae
Venae yang sesuai dengan arteriaenya mengalirkan darah ke sistem porta.

4. Aliran Limfatik
Kelenjar

limfe

terletak

di

sepanjang

arteria

yang

mendarahi

kelenjar.Pembuluh eferen akhirnya mengalirkan cairan limfe ke nodi limfe coeliaci


dan mesenterica superiores.

5. Inervasi
Berasal dari serabut-serabut saraf simpatis (ganglion seliaca) dan parasimpatis
(vagus).

6. Ductus Pancreaticus
a. Ductus Pancreaticus Mayor (Wirsungi)
Mulai dari cauda dan berjalan di sepanjang kelenjar menuju ke caput,
menerima banyak cabang pada perjalanannya. Ductus ini bermuara ke pars
desendens duodenum di sekitar pertengahannya bergabung dengan ductus
choledochus membentuk papilla duodeni mayor Vateri. Kadang-kadang muara
ductus pancreaticus di duodenum terpisah dari ductus choledochus.
b. DuctusPancreaticus Minor (Santorini)
Mengalirkan getah pancreas dari bagian atas caput pancreas dan kemudian
bermuara ke duodenum sedikit di atas muara ductus pancreaticus pada papilla
duodeni minor.
c. Ductus Choleochus et Ductus Pancreaticus

Ductus choledochus bersama dengan ductus pancreaticus bermuara ke dalam


suatu rongga, yaitu ampulla hepatopancreatica (pada kuda). Ampulla ini
terdapat di dalam suatu tonjolan tunica mukosa duodenum, yaitu papilla
duodeni major. Pada ujung papilla itu terdapat muara ampulla. (Richard S.
Snell, 2000)

GAMBAR 4. Ductus Pancreaticus pada Pankreas

1.3.2

Histologi Pankreas
Pankreas berperansebagai kelenjar eksokrin dan endokrin.Kedua fungsi

tersebut dilakukan oleh sel-sel yang berbeda.


1. Eksokrin, terdiri dari sel asinar
2. Endokrin, terdiri dari sel-sel:
-

Sel , penghasil hormon glukagon

Sel , penghasil hormon insulin

Sel delta, penghasil hormon somatostasin

Sel F, penghasil hormon polipeptida pankreas

1.3.3. Fisiologi pankreas


1. Sebagai eksokrin, menghasilkan getah pankreas yang mengandung enzimenzim pencernaan seperti enzim amilase pankreas, enzim-enzim
proteolitik, dan lain-lain.
2. Sebagai endokrin, menghasilkan hormon insulin, glukagon, somatostatin,

dan polipeptida pankreas.

BAB 2
PENCITRAAN PADA HEPAR, KANDUMG EMPEDU DAN PANKREAS

2.1 Hepar

2.1.1 Ultrasound
Ultrasound (USG) sering merupakan pemeriksaan pertama yang diminta pada
pasien yang datang dengan nyeri kuadran kanan atas, tes fungsi hati yang abnormal,
atau dicurigai adanya keganasan. USG adalah alat skrining yang sangat baik . Ini
adalah kerana pemeriksaannya yang cepat, portabel, dan relatif murah dan tidak
melibatkan radiasi . Dengan penggunaan teknik warna Doppler, kelainan pembuluh
darah hati termasuk trombosis vena dan temuan hipertensi portal dapat diidentifikasi
.Hal ini sangat berguna dalam mengevaluasi patensi pembuluh pada pasien setelah
transplantasi hati.
Ultrasonografi memanfaatkan transmisi gelombang suara frekuensi tinggi
melalui tubuh.Sejenis transduser digunakan baik untuk memancarkan dan menerima
suara frekuensi yang sangat tinggi (3,5-12MHz ). Teknik ini menggunakan deteksi
radar -seperti objek melalui sinar, di managelombang suara frekuensi tinggimemantul
dari objek dan terdeteksi oleh transduser. Sinyal-sinyal ini diteruskan ke komputer ,
yang menampilkan gambar dua dimensidalam bidang apa pun yang ditentukan oleh
orientasi transduser. Istilah untukberbagai bayangan abu-abu yang terlihat dalam
gambar USG dikenal sebagaiechogenicity.
Aliran pembuluh darah dapat divisualisasikan oleh USG dengan pencitraan
Doppler , yang terdiri dari tigajenis : warna, spektral , atau Power Doppler Imaging .
Dalam pencitraan Doppler warna, sejenis pameran kode-warna menghasilkan peta
berwarna daripada pembuluh-pembuluh.Bayangan warna dan intensitas warna
mencerminkan arah aliran darah dan kecepatan, masing-masing.Pencitraan Doppler
spektral digambarkan seperti sesuatu bentuk sinewave di mana puncak
menggambarkan peningkatan kecepatan aliran dan jurang mewakili
penurunankecepatan aliran. Hal ini sering dikombinasikan dengan pencitraan warna
Doppler dan bersama-sama disebutpencitraan duplex .Bentuk alternatif pemetaan
pencitraan Doppler menggunakan warna adalah Power Doppler Imaging. Power
Doppler imaging lebih sensitif dibandingkan Doppler warna dalam mendeteksi

kecepatan aliran, tapi tidak bisa tidak menunjukkan arah aliran seperti warna Doppler
.

Gambar 5. Ultrasonografi Transverse hati normal, menunjukkan ciri-ciri


homogen parenkim, permukaan hemidiafragmatik hiperekoik, vena portal
linear, dan ductus empedu parallel (panah).

2.1.2 CT-Scan
Computed tomography ( CT ) yang sangat berguna untuk mengevaluasi hati
untuk kelainan difus dan kelainan fokal . Beberapa protokol telah dikembangkan
untuk mengoptimalkan deteksi dan karakterisasi lesi hepar.Hal ini penting untuk
memahami pemikiran dasar di balik teknik ini untuk menyesuaikan pemeriksaan bagi
seorang individu. CT-scan non-kontrasenhanced digunakan pada pasien yang telah
mengalami penurunan fungsi ginjal, bagi mereka yang memiliki alergi terhadap agen

kontrasintravena(IV), atauketika dicurigai terdapat lesi dengan densitas


tinggi.Kebanyakan pemeriksaan CT pada hepar melibatkan injeksi bahan kontras IV
bolus 100 sampai 150 mL dengan pencitraan dinamis yang dilakukan pada fase yang
berbeda. Keuntungan dari CT-scan adalah identifikasi lesi ekstrahepatik sebagai
sebagian dari pemeriksaan komprehensif.
CT-scan menggunakan sinar-x dan struktur berbentuk cincin yang
disebut gantry .Gantry berisi tabung x - ray , yang diarahkan ke deretan detektor di
sisi lain pada gantry . Pasien ditempatkan pada meja yang bertahap ( aksial CT ) atau
terus menerus( spiral CT ) bergeser melalui pembukaan gantry . Tabung sinar-x
berputar di sekitar pasien , memancarkan sinar terfokus pada pasien. Sinar yang
dilemahkan diterima oleh detektor.Sinyal ini ditransmisikan ke komputer, yang
merekonstruksi serangkaian gambar dua dimensi pada bidang transversalmelalui
tubuh, seperti memotong sepotong roti.
Pembuluh darah dapat ditunjukkan dengan menggunakan material kontras
iodinasi intravena yang disuntikkan, dan usus dapat ditunjukkan dengan agen kontras
oral. Gambar-gambar ini dapat direkonstruksi pada bidang lain, disebut rekonstruksi
multiplanar rekonstruksi, atau MPR , atau dalam tiga dimensi. Kebanyakan CT-scan
yang ada memiliki scanned sistem detektor tunggal yang memungkinkan akuisisi
gambar tunggal padawaktu dengan setiap rotasi gantry . CT scan yang lebih baru,
yang disebut multidetector CT scanner, atauMDCT scanner , mempekerjakan 4
sampai 16 detektor yang berdekatan , yang memungkinkan simultanakuisisi beberapa
gambar dengan satu rotasi gantry . MDCT scanner memindai dengan sangat cepat dan
memberikan peningkatkan kualitas gambar dengan dengan mengurangi artefak gerak
dan memungkinkan akuisisi bagian yang lebih tipis.Scanner baru juga sangat bagus
dalam memfasilitasi MPR dan 3-D scanning.

Gambar 6. CT scan menunjukkan hepar normal, pankreas (kepala panah), dan


saluran billiar, pada kedua dua hepar dan pankreas (panah).
2.1.3 MRI
Magnetic resonance imaging ( MRI ) pada hepar yang lebih kurang umum
digunakan daripada baik CT-Scan atau USG . MRI memiliki ketersediaan yang lebih
terbatas.MRI dapat menjadi metode tambahan untuk pasien yang alergi terhadap agen
kontras atau memiliki fungsi ginjal yang buruk atau ketika temuan pada CT yang
meragukan.MRI sangat berguna untuk memecahkan masalah apabila digunaka oleh
seseorang yang berpengalaman. MRI tampaknya sedikit lebih sensitif dan spesifik
dalam diagnosis lesi fokal daripada CT .
Pencitraan MRI memiliki resolusi kontras yang luar biasa, namun
secara historis diperlukan akuisisi data lama kali. Deteksi lesi parenkim general dan
karakterisasi, bersama-sama dengan MR angiography, atau MRA, telah lebih
ditingkatkan sangat dengan penggunaan agen kontras intravena imaging-specific,
biasanya gadolinium. Istilah untuk bayangan berbeda dalam gambar MRi adalah
intensitas sinyal. Arus diidentifikasi dengan perubahan intensitas sinyal dalam
pembuluh darah.

Gambar 7. Gambaran hepar normal pada MRI

2.1.4 CT-Portography
CT portography kadang-kadang digunakan sebelum hepatectomy parsial
untuk mencari tambahan lesi hati metastatik .Sebuah kateter angiografi ditempatkan
di arteri mesenterika superior atau arteri splenic dan kemudian pasien dipindahkan ke
ruang CT untuk pencitraan sewaktu injeksi bahan kontras. Karena metastasis tidak
diperfusi oleh darah vena portal, akan muncul gambaran filling defectnegatif .Teknik
ini sedikit lebih sensitif untuk identifikasi metastasis hati tambahan daripada CT hati
rutin.

Gambar 7. CT-Portography pada hepar

2.1.5 Kedokteran Nuklir


Pencitraan kedokteran nuklir tidak sering digunakan untuk mengevaluasi penyakit
hati , karena kemajuan di USG, CT, dan MRI. Pencitraan sulfur koloid hati/limpa
dilakukan pada pasien dengan sirosis dan dicurigai hipertensi portal . Area fokal
penurunan aktivitas dalam hati pada scan hati/limpa tidak spesifik dan mencakup

proses penempatan ruang. Lesi yang lebih kecil dari 2 cm mungkin terlewatkan . Sel
darah merah Technetium berlabel( RBC ) scanning dengan single photon emission
computed tomography( SPECT ) dapat membantu dalam evaluasi lesi lebih besar dari
2 cm. Pemeriksaan ini spesifik untuk mendeteksi hemangioma. Walaupun jarang
digunakan, galium scanning dapat menunjukkan peningkatan aktivitas di hati pada
hepatoma, beberapa metastasis, abses, dan limfoma .

Gambar 9. Pencitraan Kedokteran Nuklir SPECT pada hepar

2.2 Kandung Empedu


Terdapat beberapa modalitas pencitraan yang tersedia untuk menyelidiki
sistem bilier.Walaupun metode bervariasi dalam biaya dan invasi , semua modalitas
dapat berkontribusi untuk tujuan yang benar dalam diagnosis. Karena tidak semua
pemeriksaan diperlukan pada setiap pasien, evaluasi yang cermat terhadap kebutuhan
klinis diperlukan sebelum melanjutkan. Penting juga untuk menyesuaikan algoritma
diagnostik untuk keterampilan lokal dan peralatan.

2.2.1. Foto polos Abdomen


Foto polos abdomen (radiografiperut) sangat berguna dalam menemukan gas
atau kalsium dalam saluran empedu .Sekitar 10 % sampai 15 % dari batu empedu
merupakan jenis kalsifikasi dan mudah diidentifikasi pada foto polos.Kadang-kadang
mungkin ada akumulasi kalsium di dalam kantong empedu yang mensimulasikan
bahan kontras. Kadang-kadang, dinding kandung empedu terkalsifikasi( porselen
kandung empedu ), dan ini sangat penting karena dari asosiasi kelainan ini dengan
karsinoma kandung empedu.Gas dapat dilihat di pusat batu empedu dalam pola
segitiga (Mercedes-Benz tanda).Gas dalam saluran empedu menggambarkan koneksi
abnormal antara ususdan kantong empedu atau saluran empedu.Hal ini mungkin
disebabkan oleh penetrasi dari ulkus duodenum ke dalam saluran empedu atau oleh
erosi batu empedu ke dalam perut,duodenum, atau usus besar.Udara bilier terletak
lebih sentral di hati dibandingkan dengan udara vena portal, yang biasanya terletak
perifer. Biasanya, udara empedu adalah konsekuensianastomosis bedah usus pada
saluran empedu atau sphincterotomy sfingter OddiGas kadang-kadang terlihat di
saluran sebagai manifestasi dari cholangitis yang disebabkan oleh organisme
pembentuk gas .Gas dalam kandung empedu dan dindingnya (emphysematous
kolesistitis) adalah manifestasi dari infeksi serupa. Gas dalam vena portal , terlihat
perifer di hati , menyiratkan usus nekrotik , tetapi mungkin terjadi dengan kolesistitis
atau kolangitis yang akut

Gambar 10. Foto polos Abdomen menunjukkan adanya batu pada kandung
empedu dan batu mengandungi gas(Mercedes Benz sign)

2.2.2 Kolesistografi oral (OCG)


Kolesistografi oral ( OCG ) didasarkan pada fungsi hepatobiliary.
Pemeriksaan dilakukan dengan pasien menelan senyawa iodinasi yang diserap oleh
usus kecil, terkonjugasi, diekskresikan olehhati , dan terkonsentrasi di kantong
empedu oleh penyerapan air yang akan memberikan kesempatan untuk menemukan
batu empedu tidak terkalsifikasi yang akan berupa filling defect. Selain batu empedu,
kelainan intraluminal lainnya dari kantong empedu dapat dideteksi pada OCG.OCG
pada dasarnya telah digantikan oleh ultrasound.

Gambar 11.Gambar OCG. Foto pertama menunjukkan


KolesistogramOral yang normal, manakala pada foto kedua dan ketiga tampak
Kolelitiasis.

2.2.3 Ultrasonografi(USG)

Ultrasonografi adalah metode skrining yang lebih dipilih untuk empedu dan
penyakit kandung empedu karena biaya dan kenyamanan. Setelah 6 jam puasa,
pencitraan dapat dilakukan dengan pasien dalam posisi terlentang dan dekubitus.
Ikterus tidak mengganggu pemeriksaan.Kemampuan untuk mendeteksi dilatasi
empedu, penebalan dinding, dan batu dan mengevaluasi parenkim hati dan pankreas
sangat bermanfaat pada USG. USG dapat mendeteksi batu kecil daripada yang bisa
OCG .

Gambar 12.Gambar Kandung Empedu normal pada USG.

2.2.4 Koleskintigrafi
Scan hepatobiliary atau koleskintigrafi adalah studi dinamis patofisiologi
sistem bilier. Injeksi IV senyawa asam iminodiacetic technetium label
memungkinkan pencitraan dari kantong empedu , dan radioaktivitas dapat ditelusuri
sampai ke duodenum . Kurangnya mengisi kantong empedu merupakan indikasi dari
obstruksi duktus sistikus dan merupakan tanda yang sangat nyata dari kolesistitis
akut.Tertundanya pengisisan dari kandung empedu (dalam waktu 4 jam) terlihat pada

kolesistitis kronis. Sensitivitas dan specifisitas untuk diagnosis kolesistitis akut


sebanding dengan pemeriksaan USG . Koleskintigrafi juga telah dianjurkan sebagai
prosedur yang dapat mendeteksi obstruksi saluran empedu sebelum terjadinya dilatasi
dan terlihat oleh USG .Hal ini berguna untuk mendeteksi kebocoran empedu dan
untuk menunjukkan patensi anastomosis empedu-enterik.

Gambar 13. Koleskintigrafi


2.2.5 Kolangiografi
Kolangiografidapat dilakukan perkutan, endoskopi, atau langsung, baik
intraoperatif atau melalui tabung T. Endoskopik retrograde cholangiopancreatography
( ERCP ) memungkinkan injeksi langsung dengan bahan kontras ke dalam lumen
saluran empedu. Ini adalah penilaian khusus dalam mendeteksi batu pada saluran
empedu dan kelainan inflamasi dan neoplastic pada saluran empedu. Sfingterotomi,
biopsi, brushings mukosa, pengambilan batu dari saluran empedu, penyempitan
dilatasi, danpenempatan stent untuk meringankan obstruksi semua dimungkinkan
oleh ERCP .

Kolangiografi transhepatik perkutan dilakukan dengan menyuntikkan bahan kontras,


dengan bimbingan fluoroscopic, melalui jarum sempit yang ditempatkan ke dalam
parenkim hati dan menarik jarum perlahan-lahan, sambil melihat untuk kekeruhan
saluran empedu. Hal ini sangat berguna untuk alasan yang sama seperti ERCP dan
memiliki keuntungan yang memungkinkan operator untuk melakukan drainase bilier
jika diperlukan .Hal ini dilakukan untuk pasien dengan obstruksi bilier yang
membutuhkan drainase bilier sementara atau permanen. Biopsi massa, drainase
cairan, dan penempatan drainase eksternal dan internal ( choledochoduodenal ) stent
semuadapat dicapai perkutan. Operative cholangiography digunakan untuk
memvisualisasikan batu yang tidak bias dilpapasi pada saluran umum selama operasi
dan T - tube cholangiography digunakan untuk memvisualisasikan batu saluran
umum yang dipertahankan setelah operasi.

Gambar 14.Kolangiografi.Foto pertama menunjukkan klem pada duktus


sistikus dan foto kedua menunjukkan batu pada duktus koledukus.

2.2.6. CT-Scan
Computed tomography dapat mendeteksi batu empedu dan pelebaran saluran
empedu tetapi kurang sensitif dibandingkan ultrasonografi.CT berguna dalam
mengevaluasi parenkim hati danpankreas untuk neoplasma.Hal ini juga lebih sensitif

dibandingkan film polos abdomen dalam mendeteksi empedu dan gas vena portal.CT
berguna dalam diagnosis dan pementasan karsinoma kandung empedu.Penyakit
empedu dan kandung empedu dapat menjadi temuan insidental pada CT abdomen.

Gambar 15. CT-scan pada Empedu menunjukkan duktus billiaris


intrahepatic terdilatasi

2.2.7 MRI
Penggunaan magnetic resonance imaging pada pemeriksaan kandung empedu
dan saluran empedu relatif baru.MRI mungkin lebih baik daripada CT atau USG
untuk mendeteksi dilatasi bilier.Radiasi pengion tidak digunakan dalampemeriksaan
ini, yang merupakan pertimbangan penting dalam menggunakan pemeriksaan ini.

Gambar 16. MRI pada Empedu