Anda di halaman 1dari 28

Etika Keperawatan: Permasalahan Etika Keperawatan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan berdampak besar
terhadap peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan yang
dilaksanakan oleh tenaga profesional, dalam melaksanakan tugasnya dapat bekerja
secara mandiri dan dapat pula bekerja sama dengan profesi lain.
Perawat dituntut untuk melaksanakan asuhan keperawatan untuk pasien/klien
baik secara individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan memandang
manusia secara biopsikososial spiritual yang komperhensif. Sebagai tenaga yang
profesional, dalam melaksanakan tugasnya diperlukan suatu sikap yang menjamin
terlaksananya tugas tersebut dengan baik dan bertanggungjawab secara moral.
Masalah, merupakan suatu bagian yang tak dapat dipisahkan dari segala segi
kehidupan. Tidak ada satupun benda ataupun subjek hidup yang bersih tanpa
masalah, namun ada yang tersembunyi namun ada juga yang lebih dominan oleh
masalahnya.
Begitupun dalam praktik keperawatan, terdapat beberapa isu yang bisa jadi
merupakan masalah dalam praktik keperawatan kita. Baik merupakan perbuatan
dari pihak yang tidak bertanggung jawab, ataupun segala hal yang terjadi
disebabkan oleh pertimbangan etis.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan Umum
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu kiranya kami menyusun
sebuah tulisan tentang bioetis medis, sebagai sesuatu yang hidup dan
terus dilakukan di lingkungan medis, yang seyoganya adalah dunia kita
sendiri.

Tujuan Khusus
Mengetahui secara lebih spesifik tentang bioetis medis dan isu
permasalahan praktik keperawatan

Mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa tentang


masalah praktik keperawatan
Memenuhi tugas pembuatan makalah pada mata ajar etika
keperawatan

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimana permasalahan keperawatan muncul dalam praktik


keperawatan?

Bagaimana peran undang-undang dan aturan pemerintah dalam


pelayanan praktik keperawatan?

Apa yang harus kita lakukan untuk mempertimbangkan permasalahan


etik dalam praktik keperawatan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Isu Bioetik Dalam Keperawatan
Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak & Gallo,
1997).Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik sebagaimana
tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik profesi
keperawatan.
Bioetik adalah etika yang menyangkut kehidupan dalam lingkungan tertentu atau
etika yang berkaitan dengan pendekatan terhadap asuhan kesehatan.

Dalam

pelaksanaanya, etika keperawatan mengacu pada bioetik yang terdiri dari tiga
pendekatan, yaitu: pendekatan teleologik, pendekatan deontologik, dan pendekatan
intiutionism
A. Kelalaian Perawat dalam menjalankan Tugas
Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, perawat bisa saja melakukan
kesalahan yang dapat merugikan klien sebagai penerima asuhan keperawatan,bahkan
bisa mengakibatkan kecacatan dan lebih parah lagi mengakibatkan kematian,
terutama bila pemberian asuhan keperawatan tidak sesuai dengan standar praktek
keperawatan. kejadian ini di kenal dengan malpraktek dan hal ini merupakan
kelalaian perawat dalam menjalankan tugas.

B. Bioetika keperawatan
Keperawatan merupakan salah satu profesi yang mempunyai bidang garap
pada kesejahteraan manusia yaitu dengan memberikan bantuan kepada individu yang
sehat maupun yang sakit untuk dapat menjalankan fungsi hidup sehari-harinya. Salah
satu yang mengatur hubungan antara perawat pasien adalah etika. Istilah etika dan
moral sering digunakan secara bergantian.
Etika dan moral merupakan sumber dalam merumuskan standar dan prinsipprinsip yang menjadi penuntun dalam berprilaku serta membuat keputusan untuk
melindungi hak-hak manusia. Etika diperlukan oleh semua profesi termasuk juga
keperawatan yang mendasari prinsip-prinsip suatu profesi dan tercermin dalam
standar praktek profesional. (Doheny et all, 1982).

Profesi keperawatan mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat, yang


berarti masyarakat memberi kepercayaan kepada profesi keperawatan untuk
memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Konsekwensi dari hal tersebut tentunya
setiap keputusan dari tindakan keperawatan harus mampu dipertanggungjawabkan
dan dipertanggunggugatkan dan setiap penganbilan keputusan tentunya tidak hanya
berdasarkan pada pertimbangan ilmiah semata tetapi juga dengan mempertimbangkan
etika.
Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi
perlaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang
dilakukan seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawanb
moral.(Nila Ismani, 2001).
Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak &
Gallo, 1997).Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada bioetik
sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan dan kode etik
profesi keperawatan.
Kemajuan ilmu dan teknologi terutama di bidang biologi dan kedokteran telah
menimbulkan berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian
besar belum teratasi ( catalano, 1991).
Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar
atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etika
merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi nyata
dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir
dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya.
Banyak pihak yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu
profesi dalam hubungannya dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI
atau IBI.
Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan
terhadap suatu standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang.
Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang dianggap penting
dan sering diartikan sebagai perilaku personal. Moral hampir sama dengan etika,
biasanya merujuk pada standar personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat

penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan praktek
professional.
Perawat atau bidan memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan
yang berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan
profesional. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat atau
bidan, dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau
teman. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat atau bidan mencoba dan
mencontoh perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan
masalah etika. Dalam hal ini, perawat atau bidan seringkali menggunakan dua
pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan pendekatan berdasarkan
asuhan keperawatan /kebidanan.
C. Pendekatan berdasarkan prinsip
Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk
menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994)
menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain:
a)

Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap


kapasitas otonomi setiap orang.

b) Menghindarkan berbuat suatu kesalahan.


c)

Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala
konsekuensinya.

d) Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi


Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab
konflik dalam bertindak. Contoh; seorang ibu yang memerlukan biaya untuk
pengobatan progresif bagi bayinya yang lahir tanpa otak dan secara medis dinyatakan
tidak akan pernah menikmati kehidupan bahagia yang paling sederhana sekalipun. Di
sini terlihat adanya kebutuhan untuk tetap menghargai otonomi si ibu akan pilihan
pengobatan bayinya, tetapi dilain pihak masyarakat berpendapat akan lebih adil bila
pengobatan diberikan kepada bayi yang masih memungkinkan mempunyai harapan
hidup yang besar. Hal ini tentu sangat mengecewakan karena tidak ada satu metoda
pun yang mudah dan aman untuk menetapkan prinsip-prinsip mana yang lebih
penting, bila terjadi konflik diantara kedua prinsip yang berlawanan. Umumnya,

pendekatan

berdasarkan

prinsip

dalam

bioetik,

hasilnya

terkadang

lebih

membingungkan. Hal ini dapat mengurangi perhatian perawat atau bidan terhadap
sesuatu yang penting dalam etika. Terutama kemajuan di bidang biologi dan
kedokteran, telah menimbulkan berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan
yang sebagian besar belum teratasi (cakalano, 1991). Kemajuan teknologi kesehatan
saat ini telah meningkatkan kemampuan bidang kesehatan dalam mengatasi kesehatan
dan memperpanjang usia. Jumlah golongan usia lanjut yang semakin banyak,
keterbatasan tenaga perawat, biaya perawatan yang semakin mahal, dan keterbatasan
sarana kesehatan, telah menimbulkan etika keperawatan bagi individu perawat.
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan dilema etik:
1)

Etik
Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia,
baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah tujuannya (
Pastur scalia, 1971 ).

2) Etik Keperawatan
Etik keperawatan adalah norma-norma yang dianut oleh perawat dalam bertingkah
laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu
pelayanan keperawatan yang bersifat professional. Prilaku etik akan dibentuk oleh
nilai-nilai dari pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan.
3) Kode Etik Keperawatan
kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip umum yang telah diterima oleh
suatu profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari
profesi yang memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek
keperawatan, baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman
sejawat, diri sendiri dan tim kesehatan lain, yang berfungsi untuk ;
a. Memberikan dasar dalam mengatur hubungan antara perawat, pasien,
tenaga kesehatan lain, masyarakat dan profesi keperawatan.
b. Memberikan dasar dalam menilai tindakan keperawatan.
c.

Membantu

masyarakat

untuk

melaksanakan praktek keperawatan.

mengetahui

pedoman

dalam

d. Menjadi dasar dalam membuat kurikulum pendidikan keperawatan (


Kozier& Erb, 1989 ).
4) Dilema Etik
Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan
moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan
suatu kondisi dimana setiap alternatif memiliki landasan moral atau prinsip.
Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat
nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga
timbul pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson &
Thompson (1985 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana
tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang
memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada
yang benar atau yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang
perawat tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional.

2.2 Masalah Etis Yang Langsung


1. Berkata jujur, dalam konteks ini ada yang disebut depresi membuat orang
percaya terhadap sesuatu hal yang tidak benar, menipu, berbohong. Contoh :
perawat memberi obat placebo.
Freel, konsep jujur (veracity) merupakan prinsip etis tetapi menjadi bersifat
mutlak karena alasan tertentu karena pasien tidak dapat menerima
kenyataan,.
Veatch & fry, hal ini yang sebenarnya dan tidak bohong, pasti akan
meninggal.
2. Abortus
Pro : penghentian kehamilan yang tidak diinginkan secara spontan atau
rekayasa.
Anti : pembunuhan manusia yang tidak bersalah.

Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup
di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari
20 minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan
pertama kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan
matinya janin dalam rahim.
Keguguran atau abortus disebabkan oleh banyak faktor, antara lain:
1. Kelainan sel telur ibu, biasanya terjadi di awal kehamilan.
2. Kelainan anatomi organ reproduksi ibu, misalnya mengalami kelainan
atau gangguan pada rahim.
3. Gangguan sirkulasi plasenta akibat ibu menderita suatu penyakit, atau
kelainan pembentukan plasenta.
4. Ibu menderita penyakit berat seperti infeksi yang disertai demam
tinggi, penyakit jantung atau paru yang kronik, keracunan, mengalami
kekurangan vitamin berat, dll.
5. Antagonis Rhesus ibu yang merusak darah janin.

Pandangan (megan, 1991)


lonservatif- salah dengan alasan apapun, berhubungan dengan moral
moderat- dapat dilakukan dengan pertimbangan moral yang kuat, fetus
belum jadi : pemerkosaan, kegagalan kontrasepsi.
Liberal- boleh dilakukan berdasarkan permintaan karena berpandangan,
fetus belum menjadi manusia.
Di Amerika, Inggis, Australia tidak diperbolehkan. Di Indonesia- melanggar
hukum KUHP PASAL 346-349 barang siapa melakukan dengan sengaja
yang menyebabkan keguguran atau matinya kandungan, dapat dikenai
penjara.
3. Eutanasia
Asal-usul kata eutanasia

Kata eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu "eu" (= baik) and "thanatos"
(maut, kematian) yang apabila digabungkan berarti "kematian yang baik".
Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah
Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-300 SM.
Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak akan menyarankan dan atau
memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah
dimintakan untuk itu".
Dalam sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak tahun 1300 hingga saat
"bunuh

diri"

ataupun

"membantu

pelaksanaan

bunuh

diri"

tidak

diperbolehkan.
Eutanasia dalam dunia modern
Sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan dan
pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828 undangundang anti eutanasia mulai diberlakukan di negara bagian New York, yang
pada beberapa tahun kemudian diberlakukan pula oleh beberapa negara
bagian.
Setelah masa Perang Saudara, beberapa advokat dan beberapa dokter
mendukung dilakukannya eutanasia secara sukarela.
Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada
tahun 1935 dan di Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya
pada pelaksanaan eutanasia agresif, walaupun demikian perjuangan untuk
melegalkan eutanasia tidak berhasil digolkan di Amerika maupun Inggris.
Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di Swiss sepanjang
pasien yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan daripadanya.
Pada era yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari
pasien yang sakit parah dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat
yang mengajukan permohonan eutanasia kepada dokter sebagai bentuk
"pembunuhan berdasarkan belas kasihan".
Pada tahun 1939, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan
kontroversial dalam suatu "program" eutanasia terhadap anak-anak di bawah

umur 3 tahun yang menderita keterbelakangan mental, cacat tubuh, ataupun


gangguan lainnya yang menjadikan hidup mereka tak berguna. Program ini
dikenal dengan nama Aksi T4 ("Action T4") yang kelak diberlakukan juga
terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun dan para jompo / lansia.
Eutanasia pada masa setelah perang dunia
Setelah dunia menyaksikan kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan
eutanasia, pada era tahun 1940 dan 1950 maka berkuranglah dukungan
terhadap eutanasia, terlebih-lebih lagi terhadap tindakan eutanasia yang
dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan oleh cacat
genetika.
Praktik-praktik eutanasia di dunia
Praktik-praktik eutanasia pernah yang dilaporkan dalam berbagai tindakan
masyarakat:

Di India pernah dipraktikkan suatu kebiasaan untuk melemparkan orangorang tua ke dalam sungai Gangga.

Di Sardinia, orang tua dipukul hingga mati oleh anak laki-laki tertuanya.

Uruguay mencantumkan kebebasan praktik eutanasia dalam undang-undang


yang telah berlaku sejak tahun 1933.

Di beberapa negara Eropa, praktik eutanasia bukan lagi kejahatan kecuali di


Norwegia yang sejak 1902 memperlakukannya sebagai kejahatan khusus.

Di Amerika Serikat, khususnya di semua negara bagian, eutanasia


dikategorikan sebagai kejahatan. Bunuh diri atau membiarkan dirinya dibunuh
adalah melanggar hukum di Amerika Serikat.

Satu-satunya negara yang dapat melakukan tindakan eutanasia bagi para


anggotanya adalah Belanda. Anggota yang telah diterima dengan persyaratan
tertentu dapat meminta tindakan eutanasia atas dirinya. Ada beberapa warga
Amerika Serikat yang menjadi anggotanya. Dalam praktik medis, biasanya
tidak pernah dilakukan eutanasia aktif, namun mungkin ada praktik-praktik
medis yang dapat digolongkan eutanasia pasif.

Eutanasia menurut hukum di berbagai negara


Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta
ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan di
beberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan
Denmark
Dalam ajaran Islam
Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen), Islam
mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati, namun hak tersebut
merupakan anugerah Allah kepada manusia. Hanya Allah yang dapat
menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66; 2: 243).
Oleh karena itu, bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak
ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh
diri. Kendati demikian, ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut, "Dan
belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS 2: 195),
dan dalam ayat lain disebutkan, "Janganlah engkau membunuh dirimu
sendiri," (QS 4: 29), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling
berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh
seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya
sendiri.
Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut
(eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan
sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan
meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif.
Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981,
dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya
eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing)
dalam alasan apapun juga

Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia 340, 345, dan 359 KUHP
yang juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan
eutanasia. Dengan demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita
memang tidak mengizinkan tindakan eutanasia oleh siapa pun.
Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal
Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa
5 Oktober 2004 menyatakan bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa
penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga saat ini tidak
sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif
yang masih berlaku yakni KUHP.
4. penghentian pemberian makanan, cairan
ANA menyatakan bahwa tindakan penghentian dan pemberian makan kepada
pasien oleh perawat secara hokum diperbolehkan, dengan pertimbangan
tindakan ini menguntungkan pasien (kozier Erz.1991)
5. transplantasi organ
Est Tansil, 1991: Tindakan transplantasi tidak menyalahi semua agama dan
kepercayaan kepada tuhan YME, asalkan penentuan saat mati dan
penyelenggaran jenazah terjamin dan tidak terjadi penyalahgunaan.
Masalah Etik dan Moral dalam Transplantasi
Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah (a) donor
hidup, (b) jenazah dan donor mati, (c) keluarga dan ahli waris, (d) resepien,
(e) dokter dan pelaksana lain, dan (f) masyarakat. Hubungan pihak pihak itu
dengan masalah etik dan moral dalam transplantasi akan dibicarakan dalam
uraian dibawah ini.
a. Donor Hidup
Adalah orang yang memberikan jaringan / organnya kepada orang lain (
resepien ). Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus
mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi, baik resiko di bidang medis,
pembedahan, maupun resiko untuk kehidupannya lebih lanjut sebagai

kekurangan jaringan / organ yang telah dipindahkan. Disamping itu, untuk


menjadi donor, sesorang tidak boleh mengalami tekanan psikologis.
Hubungan psikis dan emosi harus sudah dipikirkan oleh donor hidup tersebut
untuk mencegah timbulnya masalah.
b. Jenazah dan donor mati
Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau berniat dengan
sungguh sungguh untuk memberikan jaringan / organ tubuhnya kepada yang
memerlukan apabila ia telah meninggal kapan seorang donor itu dapat
dikatakan meninggal secara wajar, dan apabila sebelum meninggal, donor itu
sakit, sudah sejauh mana pertolongan dari dokter yang merawatnya. Semua itu
untuk mencegah adanya tuduhan dari keluarga donor atau pihak lain bahwa
tim pelaksana transplantasi telah melakukan upaya mempercepat kematian
seseorang hanya untuk mengejar organ yang akan ditransplantasikan
c. Keluarga donor dan ahli waris
Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk
menciptakan saling pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin
atau pun tekanan psikis dan emosi di kemudian hari. Dari keluarga resepien
sebenarnya hanya dituntut suatu penghargaan kepada donor dan keluarganya
dengan tulus. Alangkah baiknya apabila dibuat suatu ketentuan untuk
mencegah timbulnya rasa tidak puas kedua belah pihak.
d. Resipien
Adalah orang yang menerima jaringan / organ orang lain. Pada dasarnya,
seorang penderita mempunyai hak untuk mendapatkan perawatan yang dapat
memperpanjang hidup atau meringankan penderitaannya. Seorang resepien
harus benar benar mengerti semua hal yang dijelaskan oleh tim pelaksana
transplantasi. Melalui tindakan transplantasi diharapkan dapat memberikan
nilai yang besar bagi kehidupan resepien. Akan tetapi, ia harus menyadari
bahwa hasil transplantasi terbatas dan ada kemungkinan gagal. Juga perlu
didasari bahwa jika ia menerima untuk transplantasi berarti ia dalam
percobaan yang sangat berguna bagi kepentingan orang banyak di masa yang
akan datang.

e. Dokter dan tenaga pelaksana lain


Untuk melakukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat
parsetujuan dari donor, resepien, maupun keluarga kedua belah pihak. Ia
wajib menerangkan hal hal yang mungkin akan terjadi setelah dilakukan
transplantasi sehingga gangguan psikologis dan emosi di kemudian hari dapat
dihindarkan. Tanggung jawab tim pelaksana adalah menolong pasien dan
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk umat manusia. Dengan demikian,
dalam melaksanakan tugas, tim pelaksana hendaknya tidak dipengaruhi oleh
pertimbangan pertimbangan kepentingan pribadi.

f. Masyarakat
Secara

tidak

sengaja

masyarakat

turut

menentukan

perkembangan

transplantasi. Kerjasama tim pelaksana dengan cara cendekiawan, pemuka


masyarakat, atau pemuka agama diperlukan unutk mendidik masyarakat agar
lebih memahami maksud dan tujuan luhur usaha transplantasi. Dengan adanya
pengertian ini kemungkinan penyediaan organ yang segera diperlukan, atas
tujuan luhur, akan dapat diperoleh.
Transplantasi Ditinjau dari Aspek Hukum
Pada saat ini peraturan perundang undangan yang ada adalah Peraturan
Pemerintah No. 18 tahun 1981, tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat
Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia.
1. Prinsip-Prinsip Moral Dalam Praktek Keperawatan
Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan sesuatu sehingga
membentuk suatu sistem etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara spesifik
apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi tertentu.(
John Stone, 1989 ).
Fry (1991) menjelaskan bahwa dalam praktik keperawatan, ada beberapa konsep
penting yang harus termaktub dalam standar praktik keperawatan, diantaranya yaitu:
1.

Advokasi

Menurut ANA (1985) advokasi adalah melindungi klien atau masyarakat


terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak

kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun. Fry (1987)
sendiri mendefinisikan sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal yang
memiliki

dampak/penyebab

penting.

Sementara

itu

Gadow

(1983)

mengatakan bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan


yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas
untuk menentukan nasib sendiri.
Peran perawat sebagai advokat klien adalah memberi informasi dan
bantuan kepada klien atas keputusan yang telah dibuat klien. Hal ini berarti
perawat memberikan penjelasan/informasi sesuai kebutuhan klien. Menurut
Kohnke (1982), perawat dalam memberikan bantuan memiliki dua peran yaitu
peran aksi dan nonaksi.peran aksi berarti perawat memberikan keyakinan
kepada klien bahwa mereka memiliki hak dan tanggung jawab dalam
memnentukan pilihan atau keputusan sendiri tanpa tekanan pengaruh orang
lain. Sedangkan peran nonaksi mengandung arti bahwa sebagai advokat,
perawat harus menahan diri untuk tidak mempengaruhi klien. Dalam
menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus menghargai klien sebagai
individu yang memiliki berbagai karakteristik. Perawat harus memberikan
perlindungan terhadap martabat dan nilai manusiawi klien selama dalam
keadaan sakit.
2. Pesponsibilitas dan Akuntabilitas
Responsibilitas (tanggung jawab) adalah eksekusi terhadap tugas yang
berhubungan dengan peran tertentu dari perawat . perawat yang selalu
bertanggung jawab dalam melaksanakan tindakannya akan mendapatkan
kepercayaan dari klien atau profesi lain. Sehingga ia akan tetap kompeten
dalam pengetahuan dan keterampilan serta selalu menunjukan keinginan
untuk bekerja berdasarkan kode etik profesi.
Akuntabilitas

(tanggung

gugat)

mengandung

arti

dapat

mempertanggungjawabkan suatu tindakan yang dilakukan, dan menerima


konsikuensi dari tindakan tersebut (Kozier, erb, 1991). Mengandung dua
komponen utama yaitu tanggung jawab dan tanggung gugat (Fry, 1990) dan
dipandang dalam suatu tingkatan hierarki, dimulai dari tingkat individu,

institusi/profesional, serta sosial (Sulliva, decker, 1998) perawat bertanggung


gugat terhadap dirinya, profesi , klien, sesama karyawan, dan masyarakat.
Agar dapat bertanggung gugat, perawata harus bertindak profesional serta
sesuai dengan kode etik profesinya. Akunsibilatas dilakukan untuk
mengevaluasi efektifikasi perawat dalam melakukan praktik keperawatan.
3.

Loyalitas

Merupakan suatu konsep yang meliputi simpati, peduli dan berhubungan


dengan timbal balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan
dengan perawata.
Untul mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan
dengan pihak yang harmonis, loyalitas harus dipertahankan oleh setiap
perawat baik kepada klien, teman sejawat, institusi, maupun profesi. Untuk
mewujudkannya, Tabbner mengajukan berbagai argumerntasi:

Masalah klien tidak boleh didiskusikan dengan klien lain, karena


informasi klien harus didiskusikan secara profesional.

Perawat harus menhindari pembicaraab yang tidak manfaat.

Perawat harus menghargai dan memberikan bantuan kepada teman


sejawat

Perawat harus menunjukan loyalitasnya kepada profesi dengan


berprilaku secara tepat pada saat bertugas.

2.

Prinsip Etis Dalam Pelayanan Keperawatan

Lima prinsip penting dalam bidang keperawatan yang dikembangkan oleh Fry (1991)
meliputi :
1. Kemurahan Hati (Beneficence)
Inti dari prinsip ini adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan
yang menguntungkan klien dan menghindari perbuatan yang merugikan
atau membahayakan klien. Tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi,
resiko yang membahayakan klien dapat terjadi sehingga akan
menimbulkan konflik atau dilema. Untuk itu diperlukan sistem klarifikasi
nilai sebelum seseorang memutuskan suatu tindakan. Megan (1989)
mengelompokan tujuh proses penilaian ke dalam tiga kelompok yaitu:
a. Menghargai

Menjunjung dan menghargai nila/keyakinan dan perilaku


seseorang

Menegaskan di depan umum jika diperlukan


b. Memilih

Memilih dari berbagai alternative

Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya

Memilih secara bebas


c. Bertindak

Bertindak

Bertindak sebagai pola, konsistensi, dan repetisi (mengulang yang


telah disepakati)

2.

3.

4.

5.

Langkah-langkah di atas dapat digunakan perawat untuk membantu


pasien dalam mengambil keputusan melalui proses mengidentifikasi
bidang konflik, memilih dan menentukan berbagai alternatif, menetapkan
tujuan dan pada akhirnya melakukan tindakan.
Keadilan (Justice)
Beauchamp dan Childress memandang bahwa mereka yang sederajat
harus diperlakukan sederajat, sedangkan yang tidak sederajat
diperlakukan secara tidak sederajat, sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dengan kata lain ketika seseorang mempunyai kebutuhan kesehatan yang
besar, maka ia harus mendapatkan sumber kesehatan yang besar pula.
Kemandirian (Otonomi)
Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai
kebebasan untuk menentukan tindakan atau keputusan berdasarkan
rencana yang mereka pilih (Veatch dan Fry, 1987). Penerapan prinsip ini
dipengaruhi oleh banyak hal, seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit,
ekonomi, lingkungan rumah sakit, tersedianya informasi dan lain-lain.
Kejujuran (Veracity)
Menurut Veatch dan Fry (1987), prinsip ini didefinisikan dengan
menyatakan yang sebenarnya atau tidak bohong. Hasil penelitian
menjelaskan bahwa pada klien dalam keadaan terminal, klien ingin diberi
tahu tentang kondisinya secara jujur (Veatch, 1978). Kejujuran harus
dimiliki perawat saat berhubungan dengan klien, karena kejujuran
merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya antara perawat
dengan klien.
Ketaatan (Fidelity)
Prinsip ini didefinisikan oleh Veatch dan Fry sebagai tanggung jawab
untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Dalam konteks hubungan
perawat-klien meliputi tanggungjawab menjaga janji, mempertahankan
konfidensi, dan memberikan perhatian/kepedulian. Kesetiaan perawat
terhadap janji-janji tersebut mungkin tidak akan mengurangi penyakit
atau mencegah kematian klien, tetapi akan mempengaruhi kehidupan
serta kualitas kehidupan klien.

3. Dilema Etik

Dilemma dapat diartikan sebagai konflik antara nilai pribadi dengan kewajiban
professional (Ismani, 12001). Contoh kasus yang serinmg terjadi diantaranya:
a.

Atasan membutuhkan bantuan perawat dalam melaksanakn praktik aborsi terapeutik.


Hal ini bertentangan dengan nilai pribadinya. Namun demikian, perawat tetap
menjalankan tugasnya karena bagaimanapun juga, kesejahteraan pasien adalah hal
yang paling esensial, meskipun dalam dirinya terjadi konflik / dilemma.

b. Memperpanjang kehidupan pasien yang tidak respontif dengan menggunakan mesin


(ex : ventilator, dll).
c.

Perawat tidak memberikan transfuse darah karena keyakinan agama yang dianut oleh
pasien.
Dengan berubahnya lingkup praktik keperawatan dan IPTEK di bidang medis,
tanggung jawab keperawatan akan menjadi konflik dengan nilai-nilai pribadi perawat.
Untuk itu diperlukan sistem klarifikasi nilai yaitu suatu proses dimana individu
memperoleh jawaban atau nilai mereka sendiri terhadap beberapa situasi melalui
proses pengembangan nilai individu. Proses klarifikasi nilai ini lebih memperhatika
proses penilaiaan, bukan berdasarkan isi penilaiaannya. Louis Ranths dan Jhon
Dewey merumuskan proses penilaiaan ini dalam tujuh proses yang dikelompokkan
menjadi 3 bagian, yaitu :
-

Menghargai
1. Menjungjung dan memnghargai keyakinan dan perilaku seseorang.
2. Menegaskannya di depan umum bila diperlukan.

Memilih
3. Memilih dari berbagai alternative.
4. Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya.
5. Memilih secara bebas.

Bertindak
6. Bertindak
7. Bertindak sesuai pola, konsistensi, dan repetisi (mengulang yang telah
disepakati).

Dengan ketujuh langkah tersebut, perawat dapat menjelaskan nilai mereka sendiri
dan dapat mempertinggi pertumbuhan pribadinya. Langkah ini dapat diterapkan pada
situasi pasien yang berbeda-beda, dimana perawat dapat mebantu pasien dalam
mengidentifikasi bidang-bidang konflik, memilih dan menetukan berbagai alterbatif,
menetapkan tujuan, serta melakukan tindakan (Coletta, 1978).

4. Kerangka Proses Pemecahan Masalah Dilema Etik


Beberapa kerangka model pembuatan keputusan etis keperawatan dikembangkan
dengan mengacu pada kerangka pembuatan kepurusan etika medis (murphy dan
murphy, 1976; Borody, 1981). Beberapa kerangka disusun berdasarkan posisi
falsafah praktik keperawatan (Benjamin dan Curtis, 1986; Aroskar, 1980), sementara
model-model lain dikembangkan berdasarkan proses pemecahan masalah seperti
yang diajarkan di pendidikan keperawatan (Bergman, 1973; Curtin, 1987; Jameton,
1984; Thompson dan Thompson, 1985).
Berikut ini merupakan contoh kerangka model pembuatan keputusan:
Model Jameton yang ditulis oleh Fry:
Tahap 1, tinjau ulang situasi yang dihadapi
Tahap 2, kumpulkan informasi tambahan
Tahap 3, identifikasi aspek etis dari masalah yang dihadapi
Tahap 4, ketahui atau bedakan posisi pribadi dan posisi moral
profesional
Tahap 5, Identifikasi posisi moral dan keunikan individu yang berlainan
Tahap 6, identifikasi konflik-konflik nilai bila ada
Tahap 7, gali siapa yang harus membuat keputusan
Tahap 8, identifikasi rentang tindakan dan hasil yang diharapkan
Tahap 9,Tentukan tindakan dan laksanakan
Tahap 10, Evaluasi hasil dari keputusan/tindakan

Model keputusan bioetis ( Thompson & Thompson) keputusan bioetik ;


o Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan
yang diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.

o Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi.


o Mengidentifikasi Issue etik.
o Menentukan posisi moral pribadi dan professional.
o Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
o Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

5. Strategi Penyelesaian Masalah Etik


Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan
dokter tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat.Bila ini berlanjut
dapat menyebabkan masalah komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat
perawatan pada pasien dan kenyamanan kerja.(Mac Phail, 1988).
Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan
rounde ( Bioetics Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak
difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara
terbuka tentang kemungkinan terdapat permasalahan etis.
6.

Peran

Undang-Undang

Dan

Aturan

Pemerintah

Dalam

Praktik

Keperawatan
Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui kolaborasi dengan
sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai
lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan,
termasuk praktik keperawatan individual dan berkelompok (RUU keperawatan Pasal
1 ayat 2)
2.4 Pembuatan Keputusan Masalah Etis
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan (robert, h 35)
1) faktor agama dan adat-istiadat
2) faktor social
3) faktor IMTEK
4) faktor legislasi dan keputusan yuridis
5) faktor keuangan
6) faktor pekerjaan
teori dasar / prinsip-prinsip etis

Merupakan penuntun untuk membuat keputusan etis praktik prifesional,


Digunakan bila terjadi konflik antara prinsip-prinsip dan atura-aturan. Klasifikasi : 1.
teleology , 2. Deontologi dan 3. Intiuotiosom
Teori etik digunakan dalam pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara
prinsip dan aturan. Secara garis besar teori etik ini dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Teleologi
Menjelaskan fenomena berdasarkan akibat yang dihasilkan atau konsekuensi
yang dapat terjadi.

Menekankan pada pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan


ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia (Kelly, 1987).

Dapat dibedakan menjadi:


1) rute utilitarianisme, berprinsip bahwa manfaat atau nilai suatu tindakan
tergantung pada sejauh mana tindakan tersebut memberikan kebaikan atau
kebahagiaan pada manusia.
2)

Act utilitarianisme, tidak melibatkan aturan umum tetapi berupaya


menjelaskan pada suatu situasi tertentu dengan pertimbangan terhadap
tindakan apa yang dapat memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya dan
ketidakbaikan sekecil-kecilnya.

teleologi yunani, etos =akhir

teleology utilitarianisme, yaitu dasar yang dihasilkan / konsekuensi


yangterjadi.

Penekanan : pencapaian hasil akhir yang terjadi

Kelly,87 : pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal. Dan ketidak baikan


sekecil mungkin bagi manusia.

Teleology : rule utilitarianisme manfaa / nilai suatu tindakan bergantung


pada sejauhmana tindakan tersebut membawa Act utilitarianismebersifat
terbatas.

Teleology :

Rule utilitarianisme : manfaat / nilai suatu tindakan bergantung pada sejauhmana


tindakan tersebut memberikan kebaikan dan kebahagian kepada manusia.

Act utilitarianisme ; bersifat lebih terbatas. Tidak melibatkan aturan umum tetatpi
berupaya dan mempertimbangkan terhadap sesuatu tindakan dapat memberikan
kebaikan sebanyak-banyaknya atau ke tidak baikan sekecil-kecilnya. Contoh ;
bayi lahir cacat- lebih baik meninggal.
Teleologi berasal dari akar kata Yunani , telos, yang berarti akhir, tujuan,
maksud, dan , logos, perkataan. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan
segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Istilah teleologi
dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi
merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan,
rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana
hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum,
teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi,
atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi
merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan "kebijaksanaan"
objektif di luar manusia.
Etika Teleologis
Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik
buruknya suatu tindakan dilakukan. Perbedaan besar nampak antara teleologi
dengan deontologi. Secara sederhana, hal ini dapat kita lihat dari perbedaan
prinsip keduanya. Dalam deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan
salah. Namun, dalam teleologi bukan itu yang menjadi dasar, melainkan baik dan
jahat. Ketika hukum memegang peranan penting dalam deontologi, bukan berarti
teleologi mengacuhkannya. Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan
mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir. Yang lebih penting
adalah tujuan dan akibat. Betapapun salahnya sebuah tindakan menurut hukum,
tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik. Ajaran
teleologis dapat menimbulkan bahaya menghalalkan segala cara. Dengan
demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut
hukum. Hal ini membuktikan cara pandang teleologis tidak selamanya terpisah
dari deontologis. Perbincangan "baik" dan "jahat" harus diimbangi dengan

"benar" dan "salah".Lebih mendalam lagi, ajaran teleologis ini dapat


menciptakan hedonisme, ketika "yang baik" itu dipersempit menjadi "yang baik
bagi saya".
Teleologi adalah setiap filosofis yang menyatakan bahwa akun menyebabkan
akhir ada di alam , yang berarti bahwa desain dan tujuan analog dengan yang
ditemukan dalam tindakan manusia yang melekat juga di seluruh alam. Kata
berasal dari bahasa Yunani , telos, akar: - ". akhir, tujuan" , Kata sifat
"teleologis" memiliki penggunaan yang lebih luas, misalnya dalam diskusi di
mana teori-teori etika tertentu atau jenis program komputer (seperti " teleoreaktif "program) kadang-kadang digambarkan sebagai teleologis karena
melibatkan bertujuan gol.
Teleologi kemudian dieksplorasi oleh Plato dan Aristoteles , dengan Santo
Anselmus sekitar 1000 Masehi, dan kemudian oleh Immanuel Kant dalam
bukunya Critique Penghakiman . Itu penting untuk filsafat spekulatif Hegel .
Suatu hal, proses atau tindakan teleologis ketika demi akhir, yaitu, telos atau
menyebabkan akhir . Secara umum dapat dikatakan bahwa ada dua jenis
penyebab akhir, yang dapat disebut finalitas intrinsik dan ekstrinsik finalitas.

Suatu hal atau tindakan memiliki finalitas ekstrinsik bila demi sesuatu yang
eksternal pada dirinya sendiri. Misalnya, Aristoteles berpendapat bahwa
hewan adalah untuk kepentingan manusia, hal yang eksternal bagi mereka.
Manusia juga menunjukkan finalitas ekstrinsik ketika mereka mencari sesuatu
yang luar dirinya (misalnya, kebahagiaan seorang anak). Jika hal eksternal
tidak ada tindakan yang tidak akan menampilkan finalitas.

Suatu hal atau tindakan memiliki finalitas intrinsik bila demi sesuatu yang
tidak eksternal untuk dirinya sendiri. Sebagai contoh, orang mungkin
mencoba untuk menjadi bahagia hanya demi menjadi bahagia, dan bukan
demi apa pun di luar itu.

Dalam ilmu pengetahuan modern penjelasan teleologis yang sengaja dihindari,


karena apakah mereka benar atau salah diperdebatkan berada di luar kemampuan
persepsi dan pemahaman manusia untuk menghakimi. Beberapa disiplin ilmu,
terutama dalam biologi evolusi, masih cenderung menggunakan bahasa yang

muncul teleologis ketika mereka menggambarkan kecenderungan alami terhadap


kondisi akhir tertentu, tetapi argumen ini dapat selalu diulang di non-teleologis
bentuk.
1) Deontologi
Kant berpendapat bahwa benar atau salahnya tindakan bukan
ditentukan oleh hasil akhir atau konsekuensi dari suatu tindakan,
melainkan oleh nilai moral tindakan tersebut.
Kant berpendapat bahwa prinsip moral atau yang terkait dengan
tugas harus bersifat universal, tidak kondisional, dan imperatif.
Dua aturan yang diformulasikan oleh kant:
1)

Manusia harus selalu bertindak sehingga aturan yang


merupakan dasar berperilaku dapat menjadi suatu hukum
moral universal.

2)

Manusia tidak boleh memperlakukan orang lain secara


sederhana sebagai suatu makna, tetapi harus sebagai hasil
akhir terhadap dirinya sendiri.

Contoh penerapan deontologi:


a.

Perawat yang yakin bahwa klien harus diberi tahu yang


sebenarnya terjadi meskipun kenyataan tersebut menyyakitkan.

b.

Perawat menolak membantu pelaksanaan abortus karena


keyakinan agamnya yang melarang tindakan membunuh.
Teori ini secara lebih luas dikembangkan menjadi lima prinsip
penting: kemurahan hati, keadilan, otonomi, kejujuran, dan
ketaatan.

Etika deontologi deontologi atau (dari bahasa Yunani , Deon, "kewajiban,


kewajiban", dan-, -logia ) adalah sebuah pendekatan untuk etika bahwa
para hakim moralitas dari suatu tindakan berdasarkan kepatuhan tindakan untuk
aturan atau aturan. Deontologists melihat aturan dan tugas.
Kadang-kadang digambarkan sebagai "tugas" atau "kewajiban" atau "aturan" -.
Berbasis etika, karena aturan "mengikat Anda untuk tugas Anda" Istilah

"deontologi" pertama kali digunakan dengan cara ini pada tahun 1930, di CD
Broad 's buku, Lima Jenis Teori Etis.
Etika deontologi umumnya kontras dengan konsekuensialis atau teleologis teori
etika, menurut mana kebenaran dari suatu tindakan ditentukan oleh konsekuensikonsekuensinya. Namun, ada perbedaan antara etika deontologi dan absolutisme
moral . Deontologists yang juga moral yang absolutis percaya bahwa beberapa
tindakan yang salah tidak peduli apa konsekuensi mengikuti dari mereka.
Immanuel Kant , misalnya, berpendapat bahwa satu-satunya benar-benar baik
adalah baik akan, dan jadi faktor penentu tunggal apakah suatu tindakan secara
moral benar adalah kehendak, atau motif dari orang yang melakukannya. Jika
mereka bertindak atas pepatah yang buruk, misalnya "Saya akan berbohong",
maka tindakan mereka salah, bahkan jika beberapa konsekuensi yang baik datang
dari itu. Non-absolut deontologists, seperti WD Ross , berpendapat bahwa
konsekuensi dari suatu tindakan seperti berbohong mungkin kadang-kadang
membuat berbohong yang tepat untuk dilakukan. Kant dan teori Ross dibahas
lebih rinci di bawah. Jonathan Baron dan Mark Spranca menggunakan istilah
Nilai Dilindungi ketika mengacu pada nilai-nilai diatur oleh aturan deontologis.
Kata ini deontologi berasal dari kata Yunani untuk tugas (Deon) dan ilmu (atau
studi) (logo). Dalam filsafat moral kontemporer, deontologi adalah salah satu
jenis teori normatif tentang yang pilihan secara moral diperlukan, dilarang, atau
diperbolehkan. Dengan kata lain, deontologi jatuh dalam domain teori moral
yang membimbing dan menilai pilihan kita tentang apa yang harus kita lakukan
(teori deontic), berbeda dengan (aretaic [kebajikan] teori) yang - fundamental,
setidaknya - membimbing dan menilai apa jenis orang (dalam hal karakter) kita
dan harus. Dan dalam domain tersebut, deontologists - orang yang berlangganan
teori deontologi moralitas - berdiri dalam oposisi terhadap consequentialists.

Teori deontologi
Berbeda dengan teori konsekuensialis, teori deontologi menilai moralitas dari
pilihan dengan kriteria yang berbeda dari negara urusan pilihan-pilihan

membawa. Secara kasar, deontologists dari semua garis berpendapat bahwa


beberapa pilihan tidak bisa dibenarkan oleh efek mereka - bahwa tidak peduli
seberapa baik secara moral konsekuensi mereka, beberapa pilihan secara moral
dilarang. Pada rekening deontologis moralitas, agen tidak bisa membuat pilihan
yang salah tertentu, bahkan jika dengan melakukan sehingga jumlah pilihan yang
salah akan diminimalkan (karena agen lain akan dilarang untuk berkecimpung
dalam pilihan yang salah yang serupa). Untuk deontologists, apa yang membuat
pilihan yang tepat adalah sesuai dengan norma moral. Norma-norma tersebut
harus ditaati oleh masing-masing hanya agen moral; seperti norma-keepings
tidak dimaksimalkan oleh agen masing-masing. Dalam hal ini, untuk
deontologists, Kanan memiliki prioritas di atas yang Baik. Jika suatu tindakan
yang tidak sesuai dengan Hak, tidak dapat dilakukan, tidak peduli baik itu
mungkin menghasilkan (termasuk bahkan Baik yang terdiri dari bertindak sesuai
dengan Kanan). Fry, 1991. Deontologi ada 5 prinsip:
a)

Kemurahan hati

b)

Keadilan

c)

Otonomi

d)

Kejujuran

e)

Ketaatan

2) INTIUTIONISM
Pendekatan ini menyatakan pandangan atau sifat manusia dalam mengetahui hal
yang benar dan salah. Hal tersebut terlepas dari pemikiran rasional atau
irasionalnya suatu keadaan.
Contoh: seorang perawat sudah tentu mengtahui bahwa menyakiti pasien
merupakan tindakan yang tidak benar. Hal tersebut tidak perlu diajarkan lagi
kepada perawat karena sudah mengacu pada etika dari seorang perawat yang
diyakini dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk
dilakukan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak
& Gallo, 1997).Dalam pelaksanaannya etika keperawatan mengacu pada
bioetik sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi keperawatan
dan kode etik profesi keperawatan.
2.

Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan


penyebab konflik dalam bertindak.

3. dalam praktinya, seorang perawat harus memiliki prinsi-prinsip Autonomi,


Benefesience, Justice, Veracity, Avoiding Killing, Fedelity
4.

Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan


melakukan rounde ( Bioetics Rounds ) yang melibatkan perawat dengan
dokter. Rounde ini tidak difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis
tetapi untuk melakukan diskusi secara terbuka tentang kemungkinan
terdapat permasalahan etis.

5.

Perbedaan besar nampak antara teleologi dengan deontologi. Secara


sederhana, hal ini dapat kita lihat dari perbedaan prinsip keduanya. Dalam
deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan salah. Namun,
dalam teleologi bukan itu yang menjadi dasar, melainkan baik dan jahat.

3.2 Saran
1.

Isu bioetik dalam praktik keperawatan tentu saja bukan barang langka,
yang

bisa

didapatkan

oleh

calon

perawat

sekalipun.

Dengan

mempelajarinya secara rinci, dan dengan mengatahui akibat yang dapat


ditimbulkannya. Maka tidaklah bisa dikatakan seorang perawat yang baik,
apabila masih melakukan tindakan di luar batas yang diperbolehkan.
2.

Dengan adanya bahasan menganai isu bioetik seperti ini, kita akan
diingatkan batapa kejinya perbuatan yang melanggar aturan itu. Dan kita
juga diajarkan tentang bagaimana menyikapi segala bentuk dilema dalam
praktik keseharian kita. Semoga makalah ini dapat menjadi acuan, atau
referensi dalam pengajaran mata kuliah etika keperawatan.