Anda di halaman 1dari 41

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK SYARAF DAN PERILAKU


SAKIT KEPALA MENAHUN

Kelompok

B-09

Ketua

Rifqi akbar hidayat

(1102011235)

Sekretaris

Widya Paramita

(1102010287)

Anggota

Novita Fitri

(1102012201)

Nur Adillah Yasmin

(1102012202)

Nur Isnaeni Evry K

(1102012203)

Nurfitri Azhri Miranti

(1102012204)

Nurin Pascarini Jusaim

(1102012205)

Putri Maulina

(1102010217)

Rika Dwi Angriani

(1102012247)

Riris Rizani

(1102012248)

FAKULTAS KEDOKTERAN - UNIVERSITAS YARSI


2014-2015

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

SKENARIO 3
SAKIT KEPALA MENAHUN

Perempuan 35 tahun berkonsutasi dengan dokter keluarga dengan keluhan sakit kepala berulang
sejak 2 tahun lalu. Sakit kepala seperti tertimpa beban berat dan nyeri pada tengkuknya. Sakit
kepala ini disertai dengan insomnia. Sakit kepala berawal sejak pasien diceraikan oleh suaminya
2 tahun yang lalu dan harus berpisah dari kedua anaknya. Oleh dokter pasien disarankan untuk
berkonsultasi lebih lanjut ke neurolog dan psikiater. Neurolog mengatakan bahwa pasien
mengalami nyeri kepala tipe tegang,sedangkan psikiater menyimpulkan bahwa pasien
mengalami nyeri somatoform (psikogenik). Walaupun ia sudah bercerai, ia tetap bertanggung
jawab untuk membimbing anaknya sesuai dengan prinsip keluarga sakinah, mawaddah,
warahmah.

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

Kata-kata sulit
Somatoform
Insomnia
Nyeri kepala tipe tegang

: Gangguan dengan gejala fisik nyeri, mual, pusing dimana tidak


ditemukan penjelasan medis
:
Gangguan waktu tidur
: - Manifestasi dari reaksi tubuh terhadap stress,depresi,cemas
-

Sensasi nyeri atau rasa tidak nyaman didaerah kepala,kulit


kepala yang berhubungan dengan ketegangan otot
Nyeri kepala yang diasosiasikan dengan iritasi otot-otot
kranial itu sendiri.

Pertanyaan
1. Apa hubungan nyeri kepala tipe tegang dengan permasalahan pasien?
2. Apa hubungan sakit kepala dengan insomnia yang dialami pasien?
3. Bagaimana hubungan umur, jenis kelamin dengan keluhan penyakit pasien yang dirasakan?
4. Apa yang menyebabkan tekuknya nyeri?
5. Apa penyebab keluhan sakit kepala?
6. Apakah ada hubungannya nyeri kepala tipe tegang dan nyeri somatoform?
7. Bagaimana tatalaksana pasien dan pencegahannya apa?
8. Nyeri kepala tipe tegang mana?
9. Bagaimana prinsip keluarga samara?

Jawaban
1. Akibat gangguan psikis dari masalah keluarga
2. - Karena sakit kepala membuat pasien jadi susah tidur
- Kelainan neurologis yang mengiringi sakit kepala yang membuat pasien tidak bisa tidur
3. Umur
: 30 35th
jenis kelamin
: tidak spesifik
4. Karena kontraksi otot pericranial berkepanjangan
5. Faktor psikolog : stress, beban hidup
- Faktor genetik : turunan
6. Nyeri kepala tipe tegang disebabkan oleh nyeri kepala somatoform.
7. Dikasih analgetik, benzodiazepin
pencegahan : jangan terlalu banyak pikiran, mendekatkan diri kepada maha kuasa
8. Kronik
9. Setiap suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

Hipotesis
Permasalahan pasien

Data pasien : Wanita,35 tahun,mengalami nyeri kepala


berulang selama 2 tahun.

Tekanan dan beban psikis

Gangguan neurologis

Gangguan psikis Gangguan neurologis


Insomnia
Penanganan
oleh psikiater

Nyeri
Penanganan oleh neurologis

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan anatomi pusat dan jaras nyeri
2. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Kepala
2.1 Definisi
2.2 Epidemiologi
2.3 Klasifikasi
2.4 Etiologi
2.5 Patofisiologi
2.6 Manifestasi
2.7 Diagnosis dan Diagnosis banding
2.8 Tata Laksana
2.9 Komplikasi
2.10 Pencegahan
2.11 Prognosis
3. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Somatoform
2.1 Definisi
2.2 Klasifikasi
2.3 Etiologi
2.4 Patofisiologi
2.5 Manifestasi
2.6 Diagnosis dan Diagnosis banding
2.7 Tata Laksana
2.8 Komplikasi
2.9 Pencegahan
2.10 Prognosis
4. Memahami dan Menjelaskan keluarga sakkinah,mawaddah,warrahmah.

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

1. Memahami dan anatomi pusat dan jaras nyeri


Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan
jaringan aktual atau potensial (Corwin J.E. ). Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau
kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri
seperti serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan
mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk). Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik
seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri. (Taylor C. dkk).
Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan jaringan
dalam saraf sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf
bermielin A delta dan saraf tidak bermielin C ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus, dan
korteks serebri. Impuls listrik tersebut dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas
dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasi sepanjang saraf perifer dan disusun saraf
pusat. Rangsangan yang dapat membangkitkan nyeri dapat berupa rangsangan mekanik,
suhu (panas atau dingin) dan agen kimiawi yang dilepaskan karena trauma/inflamasi.
Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan system saraf untuk mengubah berbagai
stimuli mekanik, kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke system
saraf pusat.
Berdasarkan patofisiologinya nyeri terbagi dalam:
Nyeri nosiseptif atau nyeri inflamasi, yaitu nyeri yang timbul akibat adanya stimulus
mekanis terhadap nosiseptor.
Nyeri neuropatik, yaitu nyeri yang timbul akibat disfungsi primer pada system saraf
( neliola, et at, 2000 ).
Nyeri idiopatik, nyeri di mana kelainan patologik tidak dapat ditemukan.
Nyeri spikologik
Berdasarkan factor penyebab rasa nyeri ada yang sering dipakai dalam istilah nyeri
osteoneuromuskuler, yaitu :
Nociceptor mechanism.
Nerve or root compression.
Trauma ( deafferentation pain ).
Inappropiate function in the control of muscle contraction.
Psychosomatic mechanism.
Apabila elektroterapi ditujukan untuk menghambat mekanisme aktivasi nosiseptor baik pada
tingkat perifer maupun tingkat supra spinal. TENS sebagai salah satu cara/upaya dalam
aplikasi elektroterapi terhadap nyeri.
Nociceptor:
Sensor elemen yang dapat mengirim signal ke CNS akan halhal yang berpotensial
membahayakan. Sangat banyak dalam tubuh kita, serabut-serabut afferentnya terdiri dari:
A delta fibres, yaitu serabut saraf dengan selaput myelin yang tipis.
C fibres, serabut saraf tanpa myelin.
Tidak semua serabut-serabut tadi berfungsi sebagai nosiseptor, ada juga yang bereaksi
terhadap rangsang panas atau stimulasi mekanik. Sebaliknya nosiseptor tidak dijumpai pada
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

serabut-serabut sensory besar seperti A Alpha, A Beta atau group I, II. Serabut-serabut sensor
besar ini berfungsi pada propioception dan motor control.
Nociceptor sangat peka tehadap rangsang kimia (chemical stimuli). Pada tubuh kita terdapat
algesic chemical substance seperti: Bradykinine, potassium ion, sorotonin, prostaglandin
dan lain-lain.
Subtansi P, suatu neuropeptide yang dilepas dan ujung-ujung saraf tepi nosiseptif tipe C,
mengakibatkan peningkatan mikrosirkulasi local, ekstravasasi plasma. Phenomena ini
disebut sebagai neurogenic inflammation yang pada keadaan lajut menghasilkan
noxious/chemical stimuli, sehingga menimbulkan rasa sakit. Deregulasi Sistem Motorik
yang Menyebabkan Rasa Sakit.
Kita ketahui hypertonus otot dapat menyebabkan rasa sakit. Pada umumnya otot-otot yang
terlibat adalah postural system. Nosiseptif stimulus diterima oleh serabut-serabut afferent
ke spinal cord, menghasilkan kontraksi beberapa otot akibat spinal motor reflexes.
Nosiseptif stimuli ini dapat dijumpai di beberapa tempat seperti kulit visceral organ, bahkan
otot sendiri. Reflek ini sendiri sebenarnya bermanfaat bagi tubuh kita, misalnya withdrawal
reflex merupakan mekanisme survival dari organisme.
Disamping berfungsi tersebut, kita juga sadari bahwa kontraksi-kontraksi tadi dapat
meningkatkan rasa sakit, melalui nosiseptor di dalam otot dan tendon. Makin sering dan kuat
nosiseptor tersebut terstimulasi, makin kuat reflek aktifitas terhadap otot-otot tersebut. Hal
ini akan meningkatkan rasa sakit, sehingga menimbulkan keadaan vicious circle, kondisi
ini akan diperburuk lagi dengan adanya ischemia local, sebagai akibat dari kontrksi otot
yang kuat dan terus menerus atau mikrosirkulasi yang tidak adekuat sebagai akibat dari
disregulasi system simpatik.
Pada gambar 1, terlihat input serabut afferent dan organ visceral, kulit, sendi, tendons, otototot atau impuls dan otak yang turun ke spinal dapat mempengaruhi rangsangan (exitability)
dan alpha dan gamma motorneurons yang berakibat kontraksi otot (muscle stiffness),
misalnya meningkatkan input nosiseptif dari viscus abdominalis akan meningkatkan tonus
otot-otot abdomen. Atau input nosiseptif dari sendi kapsul dapat meningkatkan reflex
excitability dan beberapa otot-otot antagonis yang bersangkutan dengan pergerakan sendi
tersebut sehingga hal ini dapat memblok sendi tersebut, disebut juga sebagai neurogenic
block. Pengaruh yang paling besar berasal dari otak, stress dan emosi dapat mengakibatkan
descending excitatory pathways, sehingga merangsang peningkatan reflek dari otot-otot
postural.
Perasaan nyeri tergantung pada pengaktifan serangkaian sel-sel saraf, yang meliputi reseptor
nyeri afferent primer, sel-sel saraf penghubung (inter neuron) di medulla spinalis dan batang
otak, sel-sel di traktus ascenden, sel-sel saraf di thalamus dan sel-sel saraf di kortek serebri.
Bermacam-macam reseptor nyeri primer ditemukan dan memberikan persarafan di kulit,
sendi-sendi, otot-otot dan alat-alat dalam pengaktifan reseptor nyeri yang berbeda
menghasilkan kuatitas nyeri tertentu. Sel-sel saraf nyeri pada kornu dorsalis medulla spinalis
berperan pada reflek nyeri atau ikut mengatur pengaktifan sel-sel traktus ascenden. Sel-sel
saraf dari traktus spinothalamicus membantu memberi tanda perasaan nyeri, sedangkan
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

traktus lainnya lebih berperan pada pengaktifan system kontrol desenden atau pada
timbulnya mekanisme motivasi-afektif.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa thalamus lebih berperan dalam sensasi nyeri
dibandingkan daerah kortek serebri (willis WD, 1995). Meskipun demikian penelitianpenelitian lain membuktikan peranan yang cukup berarti dan kortek serebri dalam sensasi
nyeri. Struktur diensepalik dan telesepalik seperti thalamus bagian medial, hipotalamus,
amygdala dan system limbic diduga berperan pada berbagai reaksi motivasi dan afektif dari
nyeri.
Nyeri merupakan pengalaman individu yang melibatkan sensasi sensori dan emosional yang
tidan menyenangkan. Nyeri dapat dibagi 2. Pertama, nyeri nosiseptf yang terjadi akibat
aktifasi nosi reseptor A-d dan C sebagai respon terhadap rangsangan noxius (termal ,
mekanik , kimia). Kedua, neyri neuropatik merupakan nyeri yang timbul akibat
kerusakan/perubahan patologis pada system saraf perifer atau sentral. Pada kasus reumatik
nyeri yang ditimbulkan adalah mixed pain, yaitu kombinasi antara nyeri nosiseptif dan
neuropatik.
Penyebab Nyeri
Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus nyeri.
Stimulus nyeri dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia. Mekanik, spasme otot
merupakan penyebab nyeri yang umum karena dapat mengakibatkan terhentinya aliran
darah ke jaringan ( iskemia jaringan), meningkatkan metabolisme di jaringan dan juga
perangsangan langsung ke reseptor nyeri sensitif mekanik.
Jaras spesifik Nyeri

Traktus spinotalamikus Lateralis


o Axon dari neiron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu
posterius substantia grissea medulla spinalis dan segera bercabang menjadi
serabut yang naik dan yang turun
o Sesudah memasuiki satu atau dua segmen medulla spinalis membentuk tractus
posterolateral (lissaueri) , serabut ini segera bersinapsis dengan neuron orde
kedua yang terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa cornu posterius
o Axon dari neuron orde kedua berjalan menyilang garis tengah pada comissura
anterior substantia grissea dam substantia alba kemudian naik keatas pada sisi
kontra lateral sebagai anterius. Sewaktu berjalan keatas, serabut saraf baru
terus bertambah sesuai dengan banyaknya segmen medulla spinalis, demikian
rupa sehingga pada bagian atas cervical terdapat
Serabut sraf yang datang dari sacral terletak posterolateral
Serabut saraf yang datang dari cervical terletak anteromedial (serebut
saraf yang menghantarkan rasa sakit terletak didepan yang
menghantarkan sensasi suhu)
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

o Pada Medulla oblongata tractus tersebut terletak pada dataran lateral antara
nucleus olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N.Trigeminus. disini
ia bergabung dengan
Tractus spinothalamicus anterius
Tractus spinotectalis
Yang kemudian gabungan dari ketiganya disebut lemniscus spinalis
o Pada pons kemudian naik keatas dibagian belakang pons
o Pada mesencephalon kemudian lemniscus medialis berjalan pada tegmentum ,
lateralis dari lemniscus medialis
o Pada diencephalon serabut saraf dari tractus spinothalamicus lateralis akan
bersinapsis dengan neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari
keolompok ventral thalamus (bagian dari nucleus lateralis thalamus), dimana
disini akan terjadi penilaian kasar sensasi sakit dan suhu dan reaksi emosi
mulai timbul.
o Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula interna
dan corona radiata untuk berakhi pada gyrus postcentralis (brodmann 3 2 1) .
dari sini informasi rasa sakit dan suhu akan diteruskan ke area motorik dan
area asosiasi di cortex lobus parietalis.
o Cortex cerevri gyrus psotcentralis berfungsi untuk menafsirkan suhu dan sakit
sehingga akan muncul kesadaran terkait sensasi tersbut.
o Pembagian secara fisiologis
Sewaktu memasuki medulla spinalis , sinyal rasa nyeri9 melewati dua jalur ke
otak yaitu:
Traktus neospinotalamikus
Traktus neospinotalamisu bergfungsi utnuk menyalurkan nyeri
secara cepat. Terutama terdiri atas serabut A-Delta yang
tyerutama dilalui oleh rasa nyeri mekanik dan nyeri suhu akut.
Serabut perifer jalur ini berakhir pada lamina I kornu dorsalis.
Dan dari sini akan merangsang neuron orde dua dari tractus
neospinotalamicus. Neuron ini akan mengirimkan sinyal ke
serabut panjang yang terletak di dekat sisi lain medulla spinalis
dalam komisura anterior dan selanjutnya berbelok naik ke otak
dalam kolumna anterolateralis.
Hanya sebagian kecil saja serabut neopinotalamikus berakhir di
daerah retikularis batang otak, sisaya melewati batang otak dan
langsung berakir di kompleks ventrobasal thalami.
Nyeri cepat dapat dilokalisasi dengan mudah di dalam tubuh
Neurotransmiter A delta umumnya adalah glutamat
Traktus paleospinotalamikus
Jalur ini befungsi untuk menjalarkan nyeri lambat-kronik ,
sebagian serabutnya adalah tipe C, sebagian kecil A-delta.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Dalam jaras ini, serabut-serabut perifer berakhri pada lamina II


dan II kornu dorsalis yang secara bersama-sama disebut
substansi gelatinosa, serabut C terletak lebih lateral dari Adelta. Setelah itu akan berlanjut ke lamina V dan neuronneuronnya merangsang akson-akson panjang (yang juga
menjadi penghantar nyeri cepat) yang mula-mula melewati
komisura anterior ke sisi berlawanan dari medulla spinalis
,kemudian naik ke otak melalui jaras anterolateral
Neotransmiter nya adalah glutamat dan Substansi P, substansi P
bersifat lebih lambat dari Glutamat yang memungkinkan
glutamat untuk sampai terlebih dahulu. Yang menjelaskan
suatu fenomena rasa sakit ganda
Jaras paleospinotalamikus berakhir kebanyakan di
o Mucleus retikularis medula, pons dan mesensefalon
o Area tektal mesensefalon sampai kolukulus usperior
dan inferior
o Daerah periakuaduktus substansia grisea yang
mengelilingi aquaductus sylvii
Kemampuan lokalisasi rasa nyeri pada jalur lambat sangatlah
buruk dan kebanyakan hanya dapat dilokalisasi di bagian tubuh
yang luas
Formasio retikularis berfungsi untuk menimbulkan persepsio
nyeri yang disadari

2. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Kepala


2.1 Definisi
Sakit kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala
yang berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit. Neurology and neurosurgery
illustrated Kenneth).

2.3 Epidemiologi
Faktor resiko terjadinya sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur,
pemberian histamin atau nitrogliserin sublingual dan faktor genetik. Prevalensi sakit kepala di
USA menunjukkan 1 dari 6 orang (16,54%) atau 45 juta orang menderita sakit kepala kronik dan
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

20 juta dari 45 juta tersebut merupakan wanita. 75 % dari jumlah di atas adalah tipe tension
headache yang berdampak pada menurunnya konsentrasi belajar dan bekerja sebanyak 62,7 %.
Menurut IHS, migren sering terjadi pada pria dengan usia 12 tahun sedangkan pada wanita,
migren sering terjadi pada usia besar dari 12 tahun. HIS juga mengemukakan cluster headaache
80 90 % terjadi pada pria dan prevalensi sakit kepala akan meningkat setelah umur 15 tahun.
2.4 Etiologi
Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan:

vascular

jaringan saraf,

gigi geligi,

orbita,

hidung dan

sinus paranasal,

jaringan lunak di kepala, kulit, jaringan subkutan, otot, dan periosteum kepala.

Selain kelainan yang telah disebutkan diatas, sakit kepala dapat disebabkan oleh stress dan
perubahan lokasi (cuaca, tekanan, dll.).
2.5 Klasifikasi
Berdasarkan kausanya, digolongkan nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Nyeri
kepala primer adalah nyeri kepala yang tidak jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan
struktur atau sejenisnya. Sedangkan nyeri kepala sekunder, yaitu nyeri kepala lebih dari tiga
bulan yang mengalami pertambahan dalam derajat berat, frekuensi dan durasinya serta dapat
disertai munculnya deficit neurologis yang lain selain nyeri kepala.
Primer, tidak terdapat penyebab dasarnya. Diantaranya:
a. Migraine, adanya vasodilatasi arteri ekstrakranial dimana pada saat serangan terjadi
vasokonstriksi intra cranial
b. Nyeri kepala tipe tegang, karena kontraksi otot leher.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

a.
b.
c.
d.

Sekunder, disebabkan karena vasodilatasi akibat demam tinggi, peningkatan tekanan


darah, hipoksia, intoksikasi CO, dan keadaan patologis lainnya. Diantaranya:
Traction headache, karena trakdi atau kompresi dari struktur peka nyeri intracranial akibat
tumor, hematom, dsb.
Inflamasi, disebabkan stimulasi struktur peka nyeri intracranial akibat perdarahan
subarachnoid, meningitis, dural sinus phlebitis, juga ekstrakranial temporal arteritis.
Referred head pain, disebabkan sakit mata, hidung atau sinus, gigi, dsb
Psikogenik, akibat depresi, delusi.

Tension Type Headache (TTH)


Definisi nyeri kepala tipe tegang menurut kriteria Internatinal Headache Society (IHS) adalah
episode yang berulang dari nyeri kepala yang berlangsung bermenit menit sampai berhari-hari.
Nyerinya khas, menekan atau ketat dalam kualitas, ringan atau sedang intensitasnya, umumnya
bilateral lokasinya dan tidak memberat dengan aktivitas fisik rutin, nausea biasanya tidak ada,
tetapi fotofobi bisa ditemukan.(1)
Istilah lain yang pernah digunakan untuk menyingkatkan gambaran klinis dari tension headache
adalah psychomyogenic headache, stress headache, ordinary headache, idiopathic headache, dan
psychogenic headache(2)
. TTH dibagi 2 macam:
Episodik , jika serangan yang terjadi kurang dari 1 hari perbulan (12 hari dalam 1 tahun).
1. Nyeri kepala tipe tegang episodik disertai oleh gangguan otot perikranial.
2. Nyeri kepala tipe tegang episodik tidak disertai oleh gangguan otot perikranial
Ciri-ciri TTH episodik:
1. Paling tidak terjadi 10 kali nyeri kepala yang memenuhi criteria berikut;
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

2. dimana nyeri kepala terjadi kurang dari 15 kali per bulan


3. Nyeri kepala berdurasi sekitar 30 menit 7 hari
4. Paling tidak dua dari karakteristik nyeri berikut terpenuhi:
5. kualitas nyeri menekan (nonpulsatil)
6. intensitas ringan atau sedang
7. lokasi bilateral
8. Tidak diperberat dengan aktivitas fisik rutin
9. Tidak ada mual atau muntah
10. Tidak terjadi Fotofobia dan fonofobia atau hanya ada satu di antaranya
11. tidak ada dugaan nyeri kepala tipe sekunder
12. Kronik, jika serangan minimal 15 hari perbulan selama paling sedikit 3 bulan (180 hari
dalam 1tahun).
13. Short-duration, jika Serangan terjadi kurang dari 4 jam.
14. Long-duration, jika Serangan berlangsung lebih dari 4 jam.
Cirri-ciri TTH kronik:
1. Frekuensi rata-rata nyeri kepala lebih dari 15 hari per bulan selama lebih dari 6 bulan dan
memenuhi criteria berikut :
2. Paling tidak 2 dari karakteristik nyeri berikut terpenuhi
3. kualitas nyeri menekan (nonpulsatil)
4. intensitas ringan atau sedang
5. lokasi bilateral
6. Tidak diperberat dengan aktivitas fisik rutin
7. Tidak ada mual atau muntah
8. Tidak terjadi Fotofobia dan fonofobia atau hanya ada satu di antaranya
9. tidak ada dugaan nyeri kepala tipe sekunder
Migren
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Migren adalah nyeri kepala dengan serangan nyeri yang berlansung 4 72 jam. Nyeri biasanya
unilateral, sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang sampai berat dan diperhebat oleh
aktivitas, dan dapat disertai mual muntah, fotofobia dan fonofobia. Migren dapat
diklasifikasikan menjadi migren dengan aura, tanpa aura, dan migren kronik (transformed).
Migren dengan aura adalah migren dengan satu atau lebih aura reversibel yang
mengindikasikan disfungsi serebral korteks dan atau tanpa disfungsi batang otak, paling tidak
ada satu aura yang terbentuk berangsur angsur lebih dari 4 menit, aura tidak bertahan lebih
dari 60 menit, dan sakit kepala mengikuti aura dalam interval bebas waktu tidak mencapai 60
menit.
Migren tanpa aura adalah migren tanpa disertai aura klasik, biasanya bilateral dan terkena pada
periorbital.
Migren kronik adalah migren episodik yang tampilan klinisnya dapat berubah berbulan-bulan
sampai bertahun-tahun dan berkembang menjadi sindrom nyeri kepala kronik dengan nyeri
setiap hari.
Nyeri Kepala Cluster
Nyeri kepala cluster merupakan sindroma nyeri kepala yang lebih sering terjadi pada pria
dibanding wanita. Nyeri kepala cluster ini pada umumnya terjadi pada usia yang lebih tua
dibanding dengan migraine. Nyeri pada sindrom ini terjadi hemikranial pada daerah yang lebih
kecil dibanding migraine, sering kali pada daerah orbital, sehingga dikatakan sebagai klaster.
Jika serangan terjadi, nyeri ini dirasakan sangat berat, nyeri tidak berdenyut konstan selama
beberapa menit hingga 2 jam. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Donnet, kebanyakan
pasien mengalami serangan dengan durasi 30 hingga 60 menit.
Nyeri kepala klaster episodik
Periode nyeri (klaster) terjadi sepanjang 7 hari sampai 1 tahun, klaster dipisahkan oleh interval
bebas nyeri yang berlangsung selama paling tidak 2 minggu. Umumnya, satu klaster berlangsung
selama 2 minggu sampai 3 bulan.
Nyeri kepala klaster kronik
Terjadi lebih dari satu tahun tanpa remisi, atau remisi bertahan kurang dari 2 minggu. Nyeri
kepala klaster kronik dibagi lagi menjadi nyeri kepala klaster kronik sejak awitan dan nyeri
kepala klaster kronik yang berkembang dari episodik
Nyeri kepala klaster kronik sulit ditangani dan resisten terhadap agen profilaksis standar. Sebagai
etiologi terjadinya nyeri kepala klaster, dipikirkan adanya predisposisi genetic pada keluarga.
Namun tidak ditemukan adanya pola pewarisan tertentu.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Nyeri kepala secara general dibagi atas:


Nyeri kepala Intrakranial
Daerah sensitif nyeri tempurung kepala
Jaringan otak sendiri tidak sensitif terhadap rasa sakit, perangsangan jaringan otak,
terutama korteks akan malah menimbulkan sensai nyeri di tempat yang jauh (misal tangan atau
kaki). Sebaliknya, tekanan , regangan, segala bentuk cedera yang mempengaruhi sinus venosis
dan arteri di otak (terutama arteri meningea media) akan menyebabkan nyeri kepala yang sangat
hebat
Daerah kepala tempat peralihan nyeri kepala intrakranial
Semua rangsangan berupa [eristiwa apapun yang terjadi diatas tentorium cerebri akan
menimbulkan manifestasi sakit kepala separuh bagian frontal, sedangkan stimulasi-stimulasi
yang berasal dari bawah bagian bawah Tentorium (batang otak, serebelum) akan bermanifestasi
sebagai sakit kepala pada separuh belakang kepala
o Nyeri kepala meningitis
Peradangan selaput otak yang terjadi pada meningitis akan bermanifestasi
sebagi sakit kepala yang terjadi di semua derah kepala
o Nyeri kepala akibat kekurangan CSF
Apabila seseorang dikeluarkan sebagian CSF nya maka akan timbul nyeri
hebat saat ia berdiri
o Nyeri kepala Migrain
Nyeri ini disebabkan oleh gangguan vaskular yang dapat juga terkait
faktor psikogenik
o Nyeri kepala alkoholik
Hal ini ditimbulkan akibat konsumsi alkohol berlebih, alkohol toksik
terhadap jaringan otak
o Nyeri kepala konstipasi
Konstipasi dapat menimbulkan nyeri kepala
Nyeri kepala ekstrakranial
o Nyeri kepala akibat spasme otot
Nyeri ini dapat ditimbulkan oleh ketegangan emosiaonal yan
gmenyebvabkan spasme otot-oto yang melekat pad kulit kepala , leher,
dan occiput. Keadaan ini diduga merupakan penyebab umum timbulnya
nyeri kepala. Sebagai akibatmnya, nyeri akan dialihkan ke daerah kepala
yang lebih dalam, menyebabkan rasa nyeri yang ada serupa dengan nyeri
kepala intrakranial dan terasa parah.
o Nyeri kepala akibat iritasi hidung dan struktur sekitarnya
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Peradangan [pada mukosa hidung dan struktur terkait (misal:si9nus) akan


menyebabkan nyerikepala yang akan dialihkan kebagian belakang mata
atau permukaan frontal dahi dan kulit kepala.
o Nyeri kepala akibat kelainan mata.
Nyeri kepala yang timbul pada tipe ini dapat disebabkan oleh kerja
muskulus ciliaris yang berlebihan dalam upaya akomodasi saat seseorang
berusaha memfokuskan terhadap sesuatu, yang akan menimbulkan spasme
otot okuler dan otot facialis
atau juga saat terpajan cahaya yang berlebihan, cimana akan terjadi cedera
retina dan menimbulkan rasa nyeri.

2.5 Patofisiologi
Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu nyeri
kepala adalah sebagai berikut(Lance,2000) : (1) peregangan atau pergeseran pembuluh
darah; intrakranium atau ekstrakranium, (2) traksi pembuluh darah, (3) kontraksi otot
kepala dan leher ( kerja berlebihan otot), (3) peregangan periosteum (nyeri lokal), (4)
degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis (misalnya,
arteritis vertebra servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip- opiat, bahan aktif
pada endorfin).

2.6 Manifestasi

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

Migren

Nyeri kepala Cluster

Nyeri kepala yang dirasakan sesisi biasanya hebat seperti ditusuk tusuk pada separuh
kepala ; di sekitar, di belakang atau di dalam bola mata, pipi, lubang hidung, langit
langit, gusi dan menjalar ke frontal, temporal sampai ke oksiput.

Nyeri kepala ini disertai gejala yang khas yaitu mata sesisi menjadi merah dan berair,
konjugtiva bengkak dan merah, hidung tersumbat, sisi kepala menjadi merah panas dan
nyeri tekan.

Serangan biasanya mengenai satu sisi kepala, tapi kadang kadang berganti ganti
kanan dan kiri atau bilateral.

Nyeri kepala bersifat tajam, menjemukan dan menusuk serta diikuti mual atau muntah.

Nyeri kepala sering terjadi pada lanjut malam atau pagi dini hari sehingga
membangunkan pasien dari tidurnya.

Tension Type Headache (TTH)


SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Nyeri kepala dirasakan seperti kepala berat, pegal, rasa kencang atau seperti diikat
sekeliling kepala.

Nyeri kepala terutama pada dahi, pelipis, belakang kepala atau leher.

Nyeri tidak berdenyut,tidak ada mual, fotofobia dan fonofobia.

Bila berlangsung lama pada perabaan dapat ditemukan daerah-daerah yang membenjol
keras berbatas tegas dan nyeri tekan.

Nyeri dapat menjalar sampai bahu.

Nyeri kepala tegang otot biasa berlangsung selama 30 menit hingga 1 minggu penuh.

Nyeri bisa dirasakan kadang kadang atau terus menerus.

Nyeri pada awalnya dirasakan pasien pada leher bagian belakang kemudian menjalar ke
kepala bagian belakang selanjutnya menjalar ke bagian depan.

nyeri ini juga dapat menjalar ke bahu.

Nyeri kepala dirasakan seperti kepala berat, pegal, rasa kencang pada daerah bitemporal
dan bioksipital, atau seperti diikat di sekeliling kepala. Nyeri kepala tipe ini tidak
berdenyut.

Pada nyeri kepala ini tidak disertai mual ataupun muntah tetapi anoreksia mungkin saja
terjadi.

Pasien juga mengalami fotofobia dan fonofobia.

Gejala lain yang juga dapat ditemukan seperti insomnia (gangguan tidur yang sering
terbangun atau bangun dini hari), nafas pendek, konstipasi, berat badan menurun,
palpitasi dan gangguan haid.

Fase I : Prodromal
Sebanyak 50% pasien mengalami fase
prodromal ini yang berkembang pelan-pelan
selama 24 jam sebelum serangan. Gejala:
kepala terasa ringan , tidak enak, iritabel,
memburuk bila makan makanan tertentu
seperti makanan manis, mengunyah terlalu
kuat, sulit/malas berbicara.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Fase II : Aura
Gangguan penglihatan yang paling sering
dikeluhkan pasien. Khas pasien melihat seperti
melihat kilatan lampu blits (photopsia) atau
melihat garis zig zag disekitar mata dan hilangnya
sebagian penglihatan pada satu atau kedua mata
(scintillating scotoma).
Gejala sensoris yang timbul berupa rasa kesemutan
atau tusukan jarum pada lengan, dysphasia.
Fase ini berlangsung antara 5 60 menit. Sebanyak
80% serangan migraine tidak disertai aura.
Fase III : Headache
Nyeri kepala yang timbul terasa berdenyut dan
berat. Biasanya hanya pada salah satu sisi kepal
tetapi dapat juga pada kedua sisi. Sering disertai
mual muntah tidak tahan cahaya (photofobia) atau
suara (phonofobia). Nyeri kepala sering memburuk
saat bergerak dan pasien lebih senang istrahat
ditempat yang gelap dan ini sering berakhir antara
2 72 jam.
Fase IV : Postdromal
Saat ini nyeri kepala mulai mereda dan akan
berakhir dalam waktu 24 jam, pada fase ini
pasien akan merasakan lelah, nyeri pada
ototnya kadang kadang euphoria. Setelah
nyeri kepala hilang
2.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
Kwalitas nyeri kepala. Kwalitas nyeri kepala sangat
subyektif tergantung pada keadaan psikologi pasien.
Saat timbulnya nyeri kepala. Cluster headache sering
nyeri timbul pada saat pasien tidur sehingga sering
membangunkan pasien. Tumor otak dalam ventrikel juga
dapat menyebabkan nyeri kepala pada saat tidur.
Fenomena lain yang menyertainya seperti
photofobia,phonofobia, gangguan penglihatan, dizziness,
kelemahan otot, febris.
Hal hal lain yang memperburuk nyeri kepala misalnya
Batuk.
1) Pemeriksaan fisisk
Keadaan umum pasien & mentalnya.
Tanda tanda rangsangan meningeal
Adakah kelainan saraf cranial ?
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Adakah kelainan pada kekuatan otot, refleks dan


koordinasinya ?
2) Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah ,LED
Lumbal punksi
Elektroensefalografi
CT Scan kepala , MRI
Tension Type Headache (TTH)
Tension Type Headache harus memenuhi syarat yaitu sekurang kurangnya
dua dari berikut ini : (1) adanya sensasi tertekan/terjepit, (2) intensitas ringan
sedang, (3) lokasi bilateral, (4) tidak diperburuk aktivitas. Selain itu, tidak dijumpai
mual muntah, tidak ada salah satu dari fotofobia dan fonofobia.
Gejala klinis dapat berupa nyeri ringan- sedang berat, tumpul seperti
ditekan atau diikat, tidak berdenyut, menyeluruh, nyeri lebih hebat pada daerah kulit
kepala, oksipital, dan belakang leher, terjadi spontan, memburuk oleh stress,
insomnia, kelelahan kronis, iritabilitas, gangguan konsentrasi, kadang vertigo, dan
rasa tidak nyaman pada bagian leher, rahang serta temporomandibular.
Pemeriksaan Penunjang Tension Type Headache (TTH) Tidak ada uji spesifik
untuk mendiagnosis TTH dan pada saat dilakukan pemeriksaa neurologik tidak
ditemukan kelainan apapun. TTH biasanya tidak memerlukan pemeriksaan darah,
rontgen, CT scan kepala maupun MRI.

Migren
Anamnesa riwayat penyakit dan ditegakkan apabila terdapat tanda tanda
khas migren. Kriteria diagnostik IHS untuk migren dengan aura mensyaratkan bahwa
harus terdapat paling tidak tiga dari empat karakteristik berikut : (1) migren dengan
satu atau lebih aura reversibel yang mengindikasikan disfungsi serebral korteks dan
atau tanpa disfungsi batang otak, (2) paling tidak ada satu aura yang terbentuk
berangsur angsur lebih dari 4 menit, (3) aura tidak bertahan lebih dari 60 menit, (4)
sakit kepala mengikuti aura dalam interval bebas waktu tidak mencapai 60 menit
Kriteria diagnostik IHS untuk migren tanpa aura mensyaratkan bahwa harus
terdapat paling sedikit lima kali serangan nyeri kepala seumur hidup yang memenuhi
kriteria berikut : (a) berlangsung 4 72 jam, (b) paling sedikit memenuhi dua dari :
(1) unilateral , (2) sensasi berdenyut, (3) intensitas sedang berat, (4) diperburuk oleh
aktifitas, (3) bisa terjadi mual muntah, fotofobia dan fonofobia.
Pemeriksaan Penunjang Migren Pemeriksaan untuk menyingkirkan penyakit
lain ( jika ada indikasi) adalah pencitraan ( CT scan dan MRI) dan punksi lumbal.

Sakit Kepala Cluster


Tidak seperti migraine, nyeri kepala cluster selalu unilateral dan biasanya
terjadi pada region yang sama secara berulang-ulang. Nyeri kepala ini umumnya
terjadi pada malam hari, membangunkan pasien dari tidur, terjadi tiap hari, seringkali
terjadi lebih dari sekali dalam satu hari. Nyeri kepala ini bermulai sebagai sensasi
terbakar (burning sensastion) pada aspek lateral dari hidung atau sebagai sensasi
tekanan pada mata. Injeksi konjunctiva dan lakrimasi ipsilateral, kongesti nasal,
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

ptosis, photophobia, sindrom Horner, bahkan ditemukan pula pasien dengan gejala
gastrointestinal
Gejala
Gender
Usia
Kronis/Akut
Lokasi Nyeri

Waktu Timbul Nyeri


Muntah
Mual
Sakit Kepala saat
mengedan,
BAB,
batuk
Diagnosis Banding

Tension
Headache
PR:LK=1,4:1
Semua usia

Cluster
Headache
LK:PR=5:1
Semua usia

Migren

Akut dan
Kronis
Leher, rahang

Akut dan
Kronis
Mata, sisi
wajah

Sisi sebelah
atau semua sisi

Pagi hari
-

Setiap waktu
-

Pagi hari
+
+
-

PR:LK=5:1
20-50 tahun
Akut

Tumor
Otak
???
20-40
tahun
Kronis
Seluruh
kepala,
memberat
Pagi hari
+
+
+

2.8 Tata Laksana


SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Nyeri kepala dapat diobati dengan preparat asetilsalisilat dan jika nyeri kepala
sangat berat dapat diberikan preparat ergot (ergotamin atau dihidroergotamin). Bila
perlu dapat diberikan intravena dengan dosis 1 mg dihidroergotaminmetan sulfat atau
ergotamin 0,5 mg. Preparat Cafergot ( mengandung kafein 100 mg dan 1 mg ergotamin)
diberikan 2 tablet pada saat timbul serangan dan diulangi jam berikutnya.
Pada pasien yang terlalu sering mengalami serangan dapat diberikan preparat
Bellergal (ergot 0,5 mg; atropin 0,3 mg; dan fenobarbital 15mg) diberikan 2 3 kali
sehari selama beberapa minggu. Bagi mereka yang refrakter dapat ditambahkan
pemberian ACTH (40 u/hari) atau prednison (1mg/Kg BB/hari) selama 3 4 minggu.
Preparat penyekat beta,seperti propanolol dan timolol dilaporkan dapat mencegah
timbulnya serangan migren karena mempunyai efek mencegah vasodilatasi kranial.
Tetapi penyekat beta lainnya seperti pindolol, praktolol, dan aprenolol tidak mempunyai
efek teraupetik untuk migren, sehingga mekanisme kerjanya disangka bukan semata
mata penyekat beta saja. Preparat yang efektif adalah penyekat beta yang tidak memiliki
efek ISA ( Intrinsic Sympathomimetic Activity).
Cluster headache umunya membaik dengan pemberian preparat ergot. Untuk
varian Cluster headache umumnya membaik dengan indometasin. Tension type
headache dapat diterapi dengan analgesik dan/atau terapi biofeedback yang dapat
digunakan sebagai pencegahan timbulnya serangan.
Terapi preventif yang bertujuan untuk menurunkan frekuensi, keparahan, dan
durasi sakit kepala. Terapi ini diresepkan kepada pasien yang menderita 4 hari atau lebih
serangan dalam sebulan atau jika pengobatan di atas tidak efektif. Terapi ini harus
digunakan setiap hari. Terapi preventif tersebut adalah pemberian beta bloker, botox,
kalsium channel blokers, dopamine reuptake inhibitors, SSRIs, serotonin atau dopamin
spesifik, dan TCA.

Tata Laksana untuk nyeri kepala tipe tegang


A. Terapi
Non farmakologis
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

o Terapi perilaku
Konseling
Terapi perilaku
Terapi manajemen stress
Latihan relaksasi
Biofeedback.
o Intervensi medis
Blokade saraf occipital
Ice packs
Panas
Farmakologis
o Terapi farmakologis yang ada adalah NSAID berupa
Acetaminophen
Aspirin
Ibuprofen
Naproxen
Ketoprofen
Ketorolac
Obat-obat ini tidak boleh dikonsumsi melebihi 9 hari karena akan
menyebabkan timbulnya komplikasi berupa progresi ke tipe kronik.
o Kegagalan terapi dengan Over the counter medicine menandakan perlunya
obat preskripsi
o Dapat juga ditambahakan butalbital dan codeine pada regimen NSAID
o Terapi profilaksis dapat diberikan pada pasien yang bertipe kronik dengan
serangan lebih dari dua kali dalam satu minggu dengan durasi selama 3-4 jam.
o Tricyclic Anti Depressant dapat diberikan pada pasien untuk mencegah
terjadinya suatu depresi.
Perlu diingat bahwa dengan adanya resiko substance abuse, maka terapi hanya digunakan untuk
membantu pasien-pasien yang mengalami kesulitan dengan hanya menggunakan behavioural
therapy, bukan sebagai suatu lini pertama.
2.9 Komplikasi
Komplikasi TTH adalah rebound headache yaitu nyeri kepala yang disebabkan oleh
penggunaan obat - obatan analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dllyang berlebihan.
Tension type headache episodik dapat berkembang menjadi tipe kronik, dan depresi
akibat gejalanya dapat terjadi sebagai suatu komplikasi pada pasien. Komplikasi Migren
adalah rebound headache, nyeri kepala yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan
analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dll yang berlebihan.
2.10Pencegahan
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Terapi Perilaku merupakan pencegahan yang baik pada pasien, mengingat ini adalah
suatu kelainan psikogenik, diharapkan,d engan adanya suatu terapi psikologis, pasien
dapat mengenali jika sakit kepalanya mulai timbul dan mulai melakukan perubahanperubahan sikap agar sakit kepalanya mereda.
2.11 Prognosis
Kelainan tipe episodik jauh lebih mudah ditangani daripada tipe kronik.
3. Memahami dan menjelaskan nyeri somatoform

3.1 Definisi
- Suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik di mana tidak ditemukan penjelasan
medis yang adekuat.
- Gejala dan keluhan somatik menyebabkan penderitaan emosional/gangguan pada kemampuan
pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.
- Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

3.2 Klasifikasi nyeri somatoform


Ada 5 gangguan somatoform yang spesifik yaitu :
1.

Gangguan konversi

Merupakan bentuk perubahan yang mengakibatkan adanya perubahan fungsi fisik yang tidak
dapat dilacak secara medis. Gangguan ini muncul dalam konflik atau pengalaman traumatik yang
memberikan keyakinan akan adanya penyebab psikologis.
2.

Hipokondriasis

Terpaku pada keyakinan bahwa dirinya menderita penyakit yang serius. Ketakukan akan adanya
penyakit terus ada meskipun secara medis telah diyakinkan. Sensasi atau rasa nyeri fisik
biasanya sering diasosiasikan dengan gejala penyakit kronis tertentu.
3.

Gangguan somatisasi

Keluhan fisik yang muncul berulang mengenai simptom fisik yang tidak ada dasar organis yang
jelas. Gangguan ini menyebabkan seseorang untuk melakukan kunjungan medis berkali-kali atau
menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

4.

Gangguan dismorfik tubuh

Terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau berlebih-lebihan. Menganggap orang tidak
memperhatikannya karena kerusakan tubuh yang dimilikinya (dipersepsikannya). Gangguan ini
akan membawa seseorang pada perilaku komplusif seperti berulang-ulang berdandan, dll.
5.

Gangguan nyeri

Gejala utamanya adalah adanya nyeri pada satu atau lebih tempat yang tidak sepenuhnya
disebabkan oleh kondisi medis atau neurologis nonpsikiatris, disertai oleh penderitaan emosional
dan gangguan fungsional dan gangguan memiliki hubungan sebab yang masuk akal dengan
factor psikologis.
Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi,
1.

gangguan somatisasi

2.

gangguan somatoform tak terperinci

3.

gangguan hipokondriasis

4.

disfungsi otonomik somatoform

5.

gangguan nyeri somatoform menetap

6.

gangguan somatoform lainnya

7.

gangguan somayoform YTT

3.3 Etiologi
Gangguan Somatisasi : Substitusi instiktual yang direpresi, pengajaran parental, kondisi rumah
tidak stabil, penyiksaan fisik, penurunan metabolisme lobus frontalis dan hemisfer nondominan,
genetika, regulasi abnormal sitokin.
Gangguan Konversi : Represi konflik intrapsikis bawah sadar dan konversi kecemasan ke dalam
suatu gejala psikis, hipometabolisme hemisfer dominan, hipermetabolisme hemisfer
nondominan, gangguan komunikasi hemisferik.
Hipokondriasis : Misinterpretasi gejala-gejala tubuh, model belajar sosial, varian gangguan
depresif dan kecemasan, harapan agresif dan permusuhan terhadap orang lain.
Gangguan Dismorfik Tubuh : Melibatkan metabolisme serotonin, pengaruh kultural dan sosial.
Gangguan Nyeri : Ekspresi simbolik intrapsikis melalui tubuh (aleksitimia), perilaku sakit,
manipulasi untuk mendapat keuntungan hubungan interpersonal, melibatkan serotonin, defisiensi
endorfin.Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar yang mempunyai
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

tujuan tertentu. Pada beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam transmisi gangguan ini.
Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunan metabolism (hipometabolisme) suatu zat
tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non dominan
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut (Nevid dkk, 2005) :
a. Faktor-faktor Biologis Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis
(biasanya pada gangguan somatisasi).
b. Faktor Lingkungan Sosial Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung,
seperti peran sakit yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform.
c. Faktor Perilaku. Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang tidak
nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit
Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan dismorfik tubuh
dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada
kekhawatiran akan kesehatan atau kerusakan fisik yang dipersepsikan.
d. Faktor Emosi dan Kognitif Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan
kognitif, penyebab ganda yang terlibat adalah sebagai berikut:
Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simtom fisik sebagai tanda dari adanya penyakit
serius (hipokondriasis).
Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impulsimpuls yang tidak
dapat diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik (gangguan konversi).
Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan suatu strategi
self-handicaping (hipokondriasis).
3.5 Manifestasi
Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang
berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya
negatif dan juga telah dijelaskan dokternya bahwa tidak ada kelainan yang mendasari keluhannya
(Kapita Selekta, 2001). Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam bernafas atau
menelan, atau ada yang menekan di dalam tenggorokan. Masalah-masalah seperti ini dapat
merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang simpatis sistem saraf otonomik, yang
dapat dihubungkan dengan kecemasan. Kadang kala, sejumlah simtom muncul dalam bentuk
yang lebih tidak biasa, seperti kelumpuhan pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

kerja sistem saraf. Dalam kasus-kasus lain, juga dapat ditemukan manifestasi di mana seseorang
berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit yang serius, namun tidak ada bukti
abnormalitas fisik yang dapat ditemukan (Nevid, dkk, 2005).
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik),
terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima
bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih
lanjut (PPDGJ III, 1993). Dalam kasus-kasus lain, orang berfokus pada keyakinan bahwa
mereka menderita penyakit serius, namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat
ditemukan.
Gambaran keluhan gejala somatoform :
Neuropsikiatri:
kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik ;
saya tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya
Kardiopulmonal:
jantung saya terasa berdebar debar. Saya kira saya akan mati
Gastrointestinal:
saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada dokter yang dapat
menyembuhkannya
Genitourinaria:
saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan pemeriksaan namun tidak
di temukan apa-apa
Musculoskeletal
saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang waktu
Sensoris:
pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan
kacamata tidak akan membantu
Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan konversi, hipokondriasis,
gangguan dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi.
Gangguan somatisasi
1. Adanya beberapa keluhan fisik (multiple symptom) yang berulang, dimana ketika
diperiksa secara fisik/medis, tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ia tetap kontinyu
memeriksakan diri. Gangguan tidak muncul karena penggunaan obat. Keluhan yang
umumnya, misalnya sakit kepala, sakit perut, sakit dada, mestruasi tidak teratur, dll
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

2. Pasien menunjukkan keluhan dengan cara histrionik, berlebihan, seakan tersiksa/merana.


3. Berulang memeriksa diri ke dokter, kadang menggunakan berbagai obat, dirawat di RS
bahkan dilakukan operasi.
4. Sering ditemukan masalah perilaku atau hubungan personal seperti kesulitan dalam
pernikahan.
Gangguan konversi
1. Kondisi dimana panca indera atau otot-otot tidak berfungsi walaupun secara fisiologis,
pada sistem saraf atau organ-organ tubuh tersebut tidak terdapat gangguan/kelainan.
2. Secara fisiologis, orang normal dapat mengalami sebagian atau kelumpuhan total pada
tangan, lengan, atau gangguan koordinasi, kulit rasanya gatal atau seperti ditusuk-tusuk,
ketidak pekaan terhadap nyeri atau hilangnya kemampuan untuk merasakan sensasi
(anastesi), kelumpuhan, kebutaan, tidak dapat mendengar, tidak dapat membau, suara
hanya berbisik, dll.
3. Biasanya muncul tiba-tiba dalam keadaan stres, adanya usaha individu untuk
menghindari beberapa aktivitas atau tanggungjawab.
4. Konsep Freud : energi dari insting yang di repres berbalik menyerang dan menghambat
fungsi saluran sensorimotor.
5. Kecemasan dan konflik psikologik diyakini diubah dalam bentuk simptom fisik.
Hipokondriasis
1. Meyakini/ketakutan atau pikiran yang berlebihan dan menetap bahwa dirinya memiliki
suatu penyakit fisik yang serius
2. Adanya reaksi fisik yang berlebihan terhadap sensasi fisik/tubuh (salah interpretasi
terhadap gejala fisik yang dialaminya), misalnya otot kaku, pusing/sakit kepala, berdebardebar, kelelahan.
3. Melakukan banyak tes lab, menggunakan banyak obat, memeriksakan diri ke banyak
dokter atau RS
4. Keyakinan ini terus berlanjut, tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dokter,
walaupun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit dan sudah
diyakinkan.
5. Keyakinan ini menyebabkan adanya distress atau hambatan dalam fungsi sosial,
pekerjaan atau aspek penting lainnya.
Gangguan dimorfik tubuh
1. Keyakinan akan adanya masalah dengan penampilan atau melebih-lebihkan kekurangan
dalam hal penampilan (misalnya : keriput di wajah, bentuk atau ukuran tubuh)
2. Keyakinan/perhatian berlebihan ini meyebabkan stress, menghabiskan banyak waktu,
menjadi mal-adaptive atau menimbulkan hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau
aspek penting lainnya (menghindar/tidak mau bertemu orang lain, keluar sekolah atau
pekerjaan), juga menyebabkan dirinya sering harus konsultasi untuk operasi plastik
3. Bagian tubuh yang diperhatikan sering bervariasi, kadang dipengaruhi budaya.
Gangguan nyeri

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

1. Gangguan dimana individu mengeluhkan adanya rasa nyeri yang sangat dan
berkepanjangan, namun tidak dapat dijelaskan secara medis (bahkan setelah pemeriksaan
yang intensif)
2. Rasa nyeri ini bersifat subyektif, tidak dapat dijelaskan, bersifat kronis, muncul di satu
atau beberapa bagian tubuh.
3. Rasa nyeri ini menyebabkan stress atau hambatan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan
aspek penting lainnya.
4. Faktor-faktor psikologis sering memainkan peranan penting dalam memunculkan,
memperburuk rasa nyeri.
3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding
Untuk gangguan somatisasi, diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:
a) Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak
dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung
sedikitnya 2 tahun
b) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa
tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya.
c) Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang
berkaitan dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya.
Atau :
A. Keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun, terjadi selama periode
beberapa tahun
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan,
4 gejala (G) nyeri: sekurangnya empat tempat atau fungsi yang
berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak,
dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau
selama miksi)
2 G gastrointestinal: sekurangnya dua gejala selain nyeri (misalnya
mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)


-1 G seksual: sekurangnya satu gejala selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi
erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah
sepanjang kehamilan).
-1 G pseudoneurologis: sekurangnya satu gejala atau deficit yang mengarahkan pada kondisi
neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis,
sulit menelan, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan,
ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
C. Salah satu (1)atau (2):
Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat
(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang
ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dari riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, atau temuan laboratorium.
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau purapura).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatisasi Menurut DSM-IV


A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama
periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan
bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi penting lainnya.
B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada
sembarangan waktu selama perjalanan gangguan :
1. Empat gejala nyeri : riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat
tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,
anggota gerak, dada, rektum selama menstruasi, selama berhubungan seksual atau
selama miksi)
2. Dua gejala gastrointestinal : riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal
selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan,
diare atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

3. Satu gejala seksual : riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif
selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,
mendtruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang
kehamilan)
4. Salah satu gejala pseudoneurologis : riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit
yangmengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala
konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau
kelemahan setempat, ssulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi
urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan,
ketulian, kejang, amnesia, hilangnya kesadaran selain pingsan)
C. Salah (1) atau (2) :
1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi umum medis yang dikenal atau efek
langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi umum medis, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkiraannya dan
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium
D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan
atau pura-pura)
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik
yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal
atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stressor lain
C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (pura-pura)
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya
oleh kondisi umum medis atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau
pengalaman yang diterima secara kultural
E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan
medis.
F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi sematamata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih
baik oleh gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau defisit :
Dengan gejala atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Dengan kejang atau konvulsi


Dengan gambaran campuran

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis


A. Perokupasi dengan ketakutan menderita atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit
serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala-gejala tubuh
B. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan
penentraman
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan
delusional, tipe somatik) dan tidak terbatas pada kekhawatiran tentang penampilan
(seperti gangguan dimorfik tubuh)
D. Perokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan
F. Perokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-komplusif, gangguan panik, gangguan depresi berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain
Sebutkan jika : dengan tilikan buruk : jika untuk sebagian besar waktu selama episode
berakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit
serius adalah berlebihan atau tidak beralasan.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Perokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali
tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyata.
B. Perokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial,pekerjaan atau fungsi penting lain.
C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya
ketidakpuasaan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa)
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
A. Nyerii pada satu tempat atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan
cukup parah untuk memerlukan perhatian khusus
B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain
C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan,
eksaserbasi atau bertahannya nyeri
D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan
psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut : gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis :
faktor psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi
dan bertahannya nyeri
Sebutkan jika :
Akut : durasi kurang dari 6 bulan
Kronis : durasi 6 bulan atau lebih
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologis maupun kondisi medis
umum
Sebutkan jika :
Akut : durasi kurang dari 6 bulan
Kronik : durasi 6 bulan atau lebih
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal, atau saluran kemih)
B. Salah satu (1) atau (2) :
1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh
kondisi umum medis yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat
(misalnya efek cedera, medikasi, obat atau alkohol)
2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang
diperkiraan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik atau temuan
laboratorium.
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain
D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan
E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya
gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan,
gangguan tidur atau gangguan psikotik)
F. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat
DIAGNOSIS MENURUT PPDGJ :
Gangguan Somatoform
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang
disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya
negatif dan sudah dijelaskan dokternya bahwa tidak ditemukan keluhan yang menjadi
dasar keluhannya. Penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas
kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam
kehidupan yang dialaminya bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala anxietas dan
depresi.
Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan
penyebab keluhan-keluhannya yang menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua
belah pihak
Gangguan Somatisasi
Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :
Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat
dijelaskan atas dasar kelainan fisik yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun
Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada
kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhannya
Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga yang berkaitan dengan
sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya
a. Gangguan Somatoform Tak Terinci
Pedoman diagnostik
Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi gambaran
klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi
Kemungkinan ada ataupun tidaknya faktor penyebab psikologis belum jelas, akan tetapi
tidak boleh ada penyebab fisik dan keluhan-keluhannya
b. Gangguan Hipokondrik
Pedoman diagnostik
Untuk diagnostik pasti, kedua hal ini harus ada :
Keyakinan yang menetap adanya sekurang0kurangnya satu penyakit fisik yang serius
yang dilandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak
menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap
kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisik
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhannya.
c. Gangguan Otonomik Somatoform
Pedoman diagnostik
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :


Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka
panas/flushing, yang menetap dan mengganggu
Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak khas)
Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya gangguan
yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu, yang tidak
terpengaruh oleh hasil pemeriksaan berulang, maupun penjelasan dari dokter
Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari sistem atau
organ yang dimaksud.
Karakter kelima : F45.30 = jantung dan sistem kardiovaskuler
F45.31 = saluran pencernaan bagian atas
F45.32 = saluran pencernaan bagian bawah
F45.33 = sistem pernafasan
F45.34 = sistem genito-urinaria
F45.35 = sistem atau organ lainnya
d. Gangguan Nyeri Somatoform Menetap
Pedoman diagnostik
Keluhan utama adalah nyeri hebat, menyiksa, menetap, yang tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya gangguan fisik
Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem psikososial
yang cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi terjadinya gangguan
tersebut
Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun medis,
untuk yang bersangkutan.
e. Gangguan Somatoform Lainnya
Pedoman diagnostik
Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak sistem saraf otonom dan terbatas secara
spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu
Tidak ada kaitannya dengan kerusakan jaringan
3.7 Tata Laksana
Terapi untuk Gangguan Somatoform
Kebijakan klinis menyarankan pendekatan halus dan suportif seraya memberikan
penghargaan kepada pasien atas setiap perbaikan kondisi sekecil apa pun yang berhasil
dicapai (Simon, 1998).
Orang-orang yang menderita gangguan somatoform jauh lebih sering datang ke dokter
dibanding ke psikiater atau psikolog karena mereka menganggap masalah berkait dengan
kondisi fisik. Para pasien tersebut menganggap rujukan dokter ke psikolog atau psikiater
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

sebagai tanda bahwa dokter menganggap penyakit mereka terletak di kepala; sehingga
mereka tidak merasa senang dirujuk ke ahli jiwa. Mereka menguji kesabaran dokter
mereka, yang sering kali meresepkan berbagai macam obat atau penanganan medis
dengan harapan akan menyembuhkan keluhan somatik tersebut.
Penyembuhan dengan berbicara yang menjadi dasar psikoanalisis dilandasi oleh asumsi
bahwa suatu represif masif telah memaksa energi psikis diubah menjadi anestesia atau
kelumpuhan yang membingungkan. Namun demikian, psikoanalisis tradisional dengan
terapi jangka panjang dan psikoterapi yang berorientasi psikoanalisis tidak menunjukkan
hasil yang bermanfaat bagi gangguan konversi, kecuali mungkin mengurangi
kekhawatiran pasien atas penyakitnya. Penanganan psikodinamika jangka pendek dapat
menjadi efektif untuk menghilangkan simtom-simtom gangguan somatoform (JunkertTress, 2001).
Pasien somatoform sering menderita kecemasan dan depresi. Dengan menangani
kecemasan dan depresi sering kali mengurangi kekhawatiran somatoform.
Pada kasus komorbiditas antara ganguan obsesif kompulsif dan gangguan somatoform
tertentu, seperti hipokondriasis dan gangguan dismorfik tubuh memiliki penanganan
pilihan untuk ganguan kompulsif-pemaparan dan pencegahan respons-dapat menjadi
efektif untuk gangguan somatoform tersebut.
Terapis perlu memperhitungkan untuk memastikan pasien tidak kehilangan muka ketika
gangguan tersebut tidak lagi dialaminya. Terapis harus mempertimbangkan kemungkinan
pasien merasa dipermalukan ketika kondisinya menjadi lebih baik melalui penanganan
yang tidak berkaitan dengan masalah medis (fisik).
Terapi untuk gangguan somatisasi
Pemaparan atau terapi kognitif dapat digunakan untuk mengatasi ketakutan,
berkurangnya rasa takut dapat membantu mengurangi berbagai keluhan somatik.
Terapi keluarga, membantu pasien dan keluarga mengubah jaringan hubungan
yang bertujuan untuk membantu usahanya menjadi lebih mandiri.
Training asersi dan keterampilan sosial, bermanfaat untuk membantunya
manguasai atau menguasai kembali, berbagai cara untuk berhubungan dengan
orang lain dan mengatasi berbagai tantangan tanpa harus mengatakan Saya
seorang yang malang, lemah, dan sakit.
Dokter tidak menghindari validitas keluhan-keluhan fisik, namun meminimalkan
penggunaan berbagai tes diagnostik dan pemberian obat, mempertahankan kontak
dengan pasien. Teknik-teknik seperti training relaksasi dan berbagai bentuk terapi
kognitif juga terbukti bermanfaat. Biofeedback, yang mencangkup pengendalian
atas proses-proses fisiologis telah terbukti efektif dalam mengurangi berbagai
pikiran yang merusak pada para pasien yang menderita gangguan somatoformbahkan lebih efektif dibanding teknik relaksasi.
Terapi utuk hipokondriasis
Pendekatan kognitif behavioral. Penelitian menunjukkan bahwa para pasien
hipokondrial menunjukkan penyimpanan kognitif dengan menganggap masalah
kesehatan yang muncul sebagai suatu ancaman. Terapi kognitif-behavioral dapat
ditujukan untuk merestrukturisasi pemikiran pesimistik semacam itu.

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

Penanganan dapat mencangkup beberapa strategi seperti mengarahkan perhatian


selektif pasien ke simtom-simtom fisik dan tidak mendorong pasien mencari
kepastian medis bahwa ia tidak sakit.
Terapi untuk rasa nyeri
Nyeri mengandung dua komponen, yaitu nyeri psikogenik dan nyeri yang benarbenar disebabkan factor medis, seperti cedera jaringan otot. Penanganan yang
efektif cenderung terdiri dari hal-hal berikut:
o Melakukan validasi bahwa rasa nyeri memang nyata, dan tidak hanya
dalam pikiran pasien.
o Pelatihan relaksasi
o Menghadiahi pasien karena berperilaku yang tidak sejalan dengan rasa
nyeri (menahan rasa nyeri).
Varian terapi psikodinamika jangka pendek, yang disebut terapi tubuh
psikodinamika, efektif untuk mengurangi rasa nyeri dan mempertahankannya
dalam jangka waktu lama.
Dosis rendah obat antidepresan, terutama imipramine, lebih tinggi manfaatnya
dibandingkan placebo untuk mengurangi rasa nyeri dan distress kronis. Obatobatan tersebut tidak menghilangkan depresi terkait.
a. Secara umum tampaknya perlu disarankan untuk mengalihkan focus dari hal-hal yang

tidak dapat dilakukan pasien karena penyakitnya dan bahkan mengajarkan pada pasien
bagaimana cara mengatasi stres, mendorong aktivitas yang lebih banyak, dan
meningkatkan kontrol diri, terlepas dari keterbatasan fisik atau rasa tidak nyaman yang
dialami pasien.
3.8 Komplikasi
1. Kehidupan yang bergantung pada orang lain
2. Suicide.
3.9 Pencegahan
Pertama, mulai berolah raga dengan baik dan teratur serta menjaga pola makan dengan asupan
gizi yang seimbang. Hal ini berguna untuk menjaga metabolism tubuh. Sehingga menjadi prima.
Kedua, Apabila gangguan serangan cemas akan rasa sakit menyerang, katakan pada diri anda
stop, lalu lakukan relaksi dengan cara mengatur aliran nafas anda.
Ketiga, Lakukan lah medical check up 1 tahun 1 kali, secara rutin. Dengan harapan dapat
mengetahui kondisi fisikyang sebenarnya (membuat anda tenang), dan melakukan langkah
pencegahan jika ditemukan penyakit dalam diri.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

Self talk Tubuh saya sehat, dan saya baik-baik saja. (katakan pada diri anda, setiap hari saat
anda bercermin setiap saat, dan katakan juga indahnya hari ini, saya bersyukur karena tuhan
masih mengijinkan saya menikmati setiap karuniaNya
3.10 Prognosis Nyeri Somatoform
Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan sifat
gangguannya (kronik atau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya baik,
dapatditangani secara sempurna. Sangat sedikit sekali yang mengalami eksarsebasi, dapat
bervariasidari mild-severe dan kronis. Pengobatan yang lebih awal dan menjadikan prognosis
menjadilebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian. Kematian lebih
disebabkankarena upaya bunuh diri. (Kaplan, 1999)
4. Memahami dan menjelaskan keluarga sakkinah,mawaddah,warrahmah
Sakinah mawaddah warahmah.
Kata Sakinah. Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting.
Tanpanya, tiada mawaddah dan warahmah. Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi iman dan
taqwa kepada Allah SWT.
Dalam Al Quran pun dikatakan bahwa suatu saat, akan banyak orang yang saling berkasih
sayang di dunia, tetapi di akhirat kelak mereka akan bermusuhan, menyalahkan dan saling
melempar tanggung jawab. Kecuali orang-orang yang berkasih sayang dilandasi dengan cinta
kepada Allah SWT. Kata adalah mawaddah. Mawaddah itu berupa kasih sayang. Setiap mahluk
Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Dalam konteks pernikahan,
contoh mawaddah itu berupa kejutan suami untuk istrinya, begitu pun sebaliknya. Misalnya
suatu waktu si suami bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuk
anak-anaknya. Dan ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar biasa.
Kata terakhir adalah warahmah. Warahmah ini hubungannya dengan kewajiban. Kewajiban
seorang suami menafkahi istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang baik.
Kewajiban seorang istri untuk menaati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya dengan segala
kewajiban.
Kewajiban Suami Istri dalam Islam
HAK BERSAMA SUAMI ISTRI
1.
Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum:
21)
2.
Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (AnNisa: 19 Al-Hujuraat: 10)
3.
Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa: 19)
4.
Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

SUAMI KEPADA ISTRI


1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama.
(At-aubah: 24)
Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (AtTaghabun: 14)
Hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan:
74)
Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah
(makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri
lebih dari satu. (AI-Ghazali)
Jika istri berbuat Nusyuz, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara
berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang
tidak menyakitkan. (An-Nisa: 34) Nusyuz adalah: Kedurhakaan istri kepada suami
dalam hal ketaatan kepada Allah.
Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan
paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(AthThalaq: 7)
Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya
terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi,
Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Yala)
Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang,
tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa: 19)
Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak
memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah
sendiri. (Abu Dawud).

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09

DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, H.I., Sadock B.J. (1997). Sinopsis Psikiatri Jilid II Edisi ke-7. Jakarta. Binarupa
Aksara.
Mansjoer, A.A.,etc. (2004). Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta. Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. (2003). Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta.
Maslim, R. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.
Jakarta.
Kowalak, Jennifer P., William Welsh. (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Uddin, Jurnalis. (2009). Anatomi Susunan Saraf Manusia. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi.
Price.Sylvia A.,Wilson.Lorraine M, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit., Edisi 6. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sherwood, Lauralee. (2004). Fisiologi Manusia dari sel ke sistem Edisi 2. Jakarta. EGC.
Gunawan , Sulistis Gan et all. (2007). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta. FKUI.
Maramis, W.F. (1997). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi VI. Surabaya. Airlangga
University Press.
F. Bear, Barry W. Connors, Michael A. (2007). Paradiso Neuroscience Exploring the Brain
third edition. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins.

McPhee, Stephen J, Maxine A. Papadakis. (2009). Nervous System disorders. Current


Medical Diagnosis and Treatment . San Fransisco. McGraw-Hill Companies.

Lindsay, Kenneth W. (2004). Headache. Neurology and Neurosurgery. London. Churchill


Livingstone.

The International Classification of Headache Disorders, 2nd Edition. Cephalalgia (2004).

Yutzy SH. (2006). Somatization. In: Blumenfield M, Strain JJ, penyunting. Psychosomatic
Medicine. 1st ed. New York: Lippincott Williams & Wilkins.

Khan AA, Khan A, Harezlak J, Tu W, Kroenke K. (2003). Somatic symptoms in primary


care: Etiology and outcome. Psychosomatics.
SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |
KELOMPOK B-09

SKENARIO 3 SAKIT KEPALA MENAHUN |


KELOMPOK B-09