Anda di halaman 1dari 19

TUGAS AKHIR MATA KULIAH EKONOMI SYARIAH

PEGADAIAN SYARIAH : TEORI DAN APLIKASINYA PADA


PERUM PEGADAIAN DI INDONESIA

Oleh
Dessy Natalia H34063102

Dosen
Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin Ma’turidi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Adanya pembangunan ekonomi yang berkesinambungan, para pelaku
ekonomi baik pemerintah maupun masyarakat, baik perseorangan maupun badan
hukum memerlukan dana yang besar. Seiring dengan kegiatan ekonomi tersebut,
kebutuhaan akan pendanaan pun akan semakin meningkat. Kebutuhan pendanaan
tersebut sebagian besar dapat dipenuhi melalui kegiatan pinjam meminjam.
Kegiatan pinjam meminjam ini dilakukan oleh perseorangan atau badan
hokum dengan suatu lembaga, baik lembaga informal maupun formal. Indonesia yang
sebagian masyarakatnya masih berada di garis kemiskinan cenderung memilih
melakukan kegiatan pinjam meminjam kepada lembaga informal seperti misalnya
rentenir. Kecenderungan ini dilakukan karena mudahnya persyaratan yang harus
dipenuhi, mudah diakses dan dapat dilakukan dengan waktu yang relatif singkat.
Namun di balik kemudahan tersebut, rentenir atau sejenisnya menekan masyarakat
dengan tingginya bunga.
Jika masyarakat mau melihat keadaan lembaga formal yang dapat
dipergunakan untuk melakukan pinjam meminjam, mungkin masyarakat akan
cenderung memilih lembaga formal tersebut untuk memenuhi kebutuhan dananya.
Lembaga formal tersebut dibagi menjadi dua yaitu lembaga bank dan lembaga
nonbank. Saat ini, masih terdapat kesan pada masyarakat bahwa mrminjam ke bank
adalah suatu hal yang lebih membanggakan dibandingkan dengan lembaga formal
lain, padahal dalam prosesnya memerlukan waktu yang relatif lama dengan
persyaratan yang cukup rumit. Padahal, pemerintah telah memfasilitasi masyarakat
dengan suatu perusahaan umum (perum) yang melakukan kegiatan pegadaian yaitu
Perum Pegadaian yang menawarkan akses yang lebih mudah, proses yang jauh lebih
singkat dan persyaratan yang relatif sederhana dan mempermudah masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan dana.
Namun ternyata tidak hanya sampai di situ fasilitas yang diberikan oleh
pemerintah. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah penganut agama
Islam, maka Perum Pegadaian meluncurkan sebuah produk gadai yang berbasiskan
prinsip-prinsip syariah sehingga masyarakat mendapat beberapa keuntungan yaitu
cepat, praktis dan menentramkan. Cepat karena hanya membutuhkan waktu 15 menit
untuk prosesnya, praktis karena persyaratannya mudah, jangka waktu fleksibel dan
terdapat kemudahan lain, serta menentramkan karena sumber dana berasal dari
sumber yang sesuai dengan syariah begitu pun dengan proses gadai yang
diberlakukan. Produk yang dimaksud di atas adalah produk Gadai Syariah.
Namun, pertanyaan yang kini muncul adalah sejauh mana kesinambungan
antara teori dan prinsip-prinsip syariah mengenai gadai syariah dengan aplikasi yang
diterapkan oleh Perum Pegadaian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu
dianalisis dengan cara membandingkan antara teori dan aplikasi di dunia ril.

1.2. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Mengetahui teori dan prinsip syariah dari gadai syariah.
2. Mengetahui bagaimana aplikasi gadai syariah yang diterapkan oleh Perum
Pegadaian.
3. Mengetahui sejauh mana kesinambungan antara teori dan prinsip-prinsip
syariah mengenai gadai syariah dengan aplikasi yang diterapkan oleh Perum
Pegadaian.

1.3. Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi berbagai
pihak :
1. Perusahaan sebagai masukan untuk mengembangkan atau memperbaiki
usahanya.
2. Masyarakat sebagai salah satu sumber informasi mengenai alternatif sumber
pendanaan syariah.
3. Peneliti sebagai referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya.
II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gadai (Rahn) dalam Islam


2.1.1. Pengertian Gadai
Dalam istilah bahasa Arab, gadai diistilahkan dengan rahn dan dapat juga
dinamai al-habsu (Pasaribu, 1996). Secara etimologis, pengertian rahn adalah tetap
dan lama, sedangkan al-habsu berarti penahanan terhadap suatu barang tersebut
(Syafei, 1987). Sedangkan menurut Sabiq (1987), rahn adalah menjadikan barang
yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan hutang,
hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil sebagian (manfaat) barangnya itu.
Adapun pengertian rahn menurut Imam Ibnu Qudhamah dalam Kitab al-Mughni
adalah sesuatu benda yang dijadikan kepercayaan dari suatu hutang untuk dipenuhi
dari harganya, apabila yang berhutang tidak sanggup membayarnya dari orang yang
berpiutang. Sedangkan Imam Abu Zakaria al-Anshary dalam kitabnya Fathul Wahab
mendefinisikan rahn sebagai menjadikan benda yang bersifat harta benda itu bila
utang tidak dibayar (Sudarsono, 2003).
Sedangkan menurut UU Perdata pasal 1150, gadai adalah suatu hak yang
diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak, yang
diserahkan kepadanya oleh seorang yang berhutang atau oleh seorang lain atas
dirinya, dan yang memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang itu untuk
mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang yang
berpiutang lainnya, dengan pengecualian biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus
didahulukan.

2.1.2. Dasar Hukum Gadai


Dasar hukum gadai menurut Islam adalah Al-Qur’an, sunnah dan ijtihad. Ayat
Al-Qur’an yang dapat dijadikan dasar hukum perjanjian gadai adalah QS. Al-Baqarah
ayat 282 dan 283 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklahh kamu
menuliskannya..” dan “Jika kamu dalam perjalanan sedang kau tidak memperoleh
seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka
hendaklah yang dipercaya itu menunaikkan amanatnya (hutangnya)…”.
Terdapat beberapa hadits Nabi yang menggambarkan bahwa Nabi melakukan
proses gadai, salah satunya adalah hadits HR Bukhari dan Muslim yang isinya :
Aisyah berkata bahwa Rasul bersabda : Rasulullah membeli makan dari seorang
Yahudi dan meminjamkan kepadanya baju besi. Sedangkan menurut ijtihad, terdapat
perbedaan yaitu Jumhur ulama berpendapat bahwa gadai disyariatkan pada waktu
tidak bepergian, namun Adh-Dhahak dan penganut madzhab Az-Zahiri berpendapat
bahwa rahn tidak disyariatkan kecuali pada waktu bepergian.

2.1.3. Rukun dan Syarat Sahnya Perjanjian Gadai serta Hak dan Kewajiban
Penerima dan Pemberi Gadai
Di dalam bukunya Fiqh Islam (1988), Mohammad Anwar menyebutkan rukun
dan syarat sahnya perjanjian gadai adalah sebagai berikut :
1. Ijab qabul (sighot)
2. Orang yang bertransaksi (Aqid), terdiri dari rahin (pemberi gadai) dan
murthahin (penerima gadai)
3. Adanya barang yang digadaikan (Marhun)
4. Utang (Marhun bih)
Sedangkan syarat sah perjanjian gadai adalah :
1. Shigat
2. Orang yang berakal
3. Barang yang dijadikan pinjaman
4. Utang (marhun bih)
Hak penerima gadai adalah sebagai berikut :
1. Apabila rahin tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo,
murtahin berhak untuk menjual marhun.
2. Untuk menjaga keselamatan marhun, pemegang gadai berhak mendapatkan
penggantian biaya yang dikeluarkan.
3. Pemegang gadai berhak menahan barang gadai dari rahin, selama pinjaman
belum dilunasi.
Kewajiban dari penerima gadai adalah :
1. Apabila terjadi sesuatu (hilang ataupun cacat) terhadap marhun akibat dari
kelalaian, maka marhun harus bertanggung jawab.
2. Tidak boleh menggunakan marhun untuk kepentingan pribadi.
3. Sebelum diadakan pelelangan marhun, harus ada pemberitahuan kepada rahin.
Hak dari pemberi gadai adalah :
1. Setelah pelunasan pinjaman, rahin berhak atas barang gadai yang diserahkan
kepada murtahin.
2. Apabila terjadi kerusakan atau hilangnya barang gadai akibat kelalaian
murtahin, rahin menuntut ganti rugi ataas marhun.
3. Setelah dikurangi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya, rahin berhak
menerima sisa hasil penjualan marhun.
4. Apabila diketahui terdapat penyalahgunaan marhun oleh murtahin, maka rahin
berhak untuk meminta marhunnya kembali.
Kewajiban dari pemberi gadai adalah :
1. Melunasi penjaman yang telah diterima serta biaya-biaya yang ada dalam
kurun waktu yang telah ditentukan.
2. Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan rahin tidak dapat melunasi
pinjamannya, maka harus merelakan penjualan atas marhun pemiliknya.

2.1.4. Akad Perjanjian Transaksi Gadai


a) Qard al- Hasan
Akad ini digunakan nasabah untuk tujuan konsumtif, oleh karena itu nasabah (rahin)
akan dikenakan biaya perawatan dan penjagaan barang gadai (marhun) kepada
pegadaian (murtahin)
Ketentuannya:
- Barang gadai hanya dapat dimanfaatkan dengan jalan menjual, seperti emas, barang
elektronik, dan lain sebagainya.
- Karena bersifat sosial, maka tidak ada pembagian hasil. Pegadaian hanya
diperkenankan untuk mengenakan biaya administrsi kepada rahin.

b) Mudharabah
Akad yang diberikan bagi nasabah yang ingin memperbesar modal usahanya atau
untuk pembiayaan lain yang bersifat produktif.
Ketentuannya:
- Barang gadai dapat berupa barang barang bergerak maupun barang tidak bergerak
seperti : emas, elektronik, kendaraan bermotor, tanah, rumah, dan lain-lain.
- Keuntungan dibagi setelah dikurangi dengan biaya pengelolaan marhun

c) Ba’i Muqayyadah
Akad ini diberikan kepada nasabah untuk keperluan yang bersifat produktif. Seperti
pembelian alat kantor atau modal kerja. Dalam hal ini murtahin juga dapat
menggunakan akad jual beli untuk barang atau modal kerja yang diingginkan oleh
rahin. Barang gadai adalah barang yang dimanfaatkan oleh rahin aupun murtahin.

d) Ijarah
Objek dari akad ini pertukaran manfaat tertentu.bentuknya adalah murtahin
menyewakan tempat penyimpanan barang.

2.1.5. Pemanfaatan Barang Gadaian dan Berakhirnya Akad Rahn


Mayoritas ulama membolehkan pegadaian memanfaatkan barang yang
digadaikannya selama mendapat izin dari murtahin selain itu pengadai harus
menjamin barang tersebut selamat dan utuh.
Dari Abu Hurairah r.a bahsawanya Rasulullah saw berkata: “Barang yang
digadaikan itu tidak boleh ditutup dari pemilik yang menggadaikannya. Baginya
adalah keuntungan dan tanggung jawabnyalah bila ada kerugian atau biaya” (HR
Syafi’i dan Daruqutni). Sedangkan sebagian ulama lainnya, selain mazhab Hambali,
berpendapat bahwa murtahin (penerima gadai) tidak boleh mempergunakan barang
rahn.
Akad rahn berakhir bila telah terjadi hal-hal seperti disebutkan di bawah ini:
1. Barang telah diserahkan kembali pada pemiliknya.
2. Rahin membayar hutangnya.
3. Pembebasan hutang dengan cara apapun, meskipun dengan pemindahan oleh
murtahin.
4. Pembatalan oleh murtahin meskipun tidak ada persetujuan dari pihak rahin.
5. Rusaknya barang rahin bukan oleh tindakan atau pengguna murtahin.
6. Memanfaatkan barang rahn dengan barang penyewaan, hibah atau shadaqah
baik dari pihak rahin maupun murtahin.

2.1.6. Kegiatan Pelelangan


Pelelangan baru dapat dilakukan jika nasabah (rahin) tidak dapat
mengembalikan pinjamannya. Sebelum dilakukan pelelangan, harus ada
pemberitahuan pada lima hari sebelum tanggal penjualan. Ketentuan dari pelelangan
ini adalah :
1. Untuk marhun berupa emas ditetapkan margin sebesar 2 % untuk pembeli.
2. Pihak pegadaian melakukan pelelangan terbatas.
3. Biaya penjualan sebesar 1 % dari hasil penjualan, biaya pinjaman empat
bulan, sisanya dikembalikan ke nasabah.
4. Sisa kelebihan yang tidak diambil selama satu tahun akan diserahkan ke baitul
maal.

2.1.7. Persamaan dan Perbedaan antara Rahn dan Gadai


Terdapat beberapa persamaan antara Rahn dan gadai yaitu hak gadai berlaku
atas pinjaman uang, adanya anggaran (barang jaminan) sebagai jaminan hutang, tidak
boleh mengambil manfaat barang yang digadaikan, biaya barang yang digadaikan
ditanggung oleh pemberi gadai, dan apabila batas waktu pinjaman uang telah habis,
barang yang digadaikan boleh dijual atau dilelang.
Sedangkan beberapa perbedaan antara gadai dan rahn adalah :
1. Rahn dilakukan secara sukarela tanpa mencari keuntungan, gadai dilakukan
dengan prinsip tolong menolong tetapi juga menarik keuntungan dengan
menarik bunga.
2. Hak rahn berlaku pada seluruh harta (benda bergerak dan benda tidak
bergerak).
3. Rahn menurut hukum Islam dilaksanakan tanpa melalui suatu lembaga,
sedangkan gadai menurut hukum perdata dilaksanakan melalui suatu lembaga
(Perum Pegadaian)

2.2. Pegadaian Syariah di Indonesia


Lembaga yang menyelenggarakan pegadaian syariah di Indonesia adalah
Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian. Adapun sejarah dari Perum Pegadaian adalah
sebagai berikut. Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, kantor Jawatan
Pegadaian sempat pindah ke Karanganyar, Kebumen karena situasi perang yang kian
memanas. Agresi Militer Belanda II memaksa kantor Jawatan Pegadaian dipindah
lagi ke Magelang. Pasca perang kemerdekaan kantor Jawatan Pegadaian kembali lagi
ke Jakarta dan Pegadaian dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dalam masa
ini, Pegadaian sudah beberapa kali berubah status, yaitu sebagai Perusahaan Negara
(PN) sejak 1 Januari 1961, kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7/1969
menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), dan selanjutnya berdasarkan Peraturan
Pemerintah No.10/1990 (yang diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah
No.103/2000) berubah lagi menjadi Perusahaan Umum (Perum) hingga sekarang.
Terbitnya PP/10 tanggal 1 April 1990 dapat dikatakan menjadi tonggak awal
kebangkitan Pegadaian, satu hal yang perlu dicermati bahwa PP10 menegaskan misi
yang harus diemban oleh Pegadaian untuk mencegah praktik riba, misi ini tidak
berubah hingga terbitnya PP103/2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan
usaha Perum Pegadaian sampai sekarang. Banyak pihak berpendapat bahwa
operasionalisasi Pegadaian pra Fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003 tentang Bunga
Bank, telah sesuai dengan konsep syariah meskipun harus diakui belakangan bahwa
terdapat beberapa aspek yang menepis anggapan itu. Berkat Rahmat Allah SWT dan
setelah melalui kajian panjang, akhirnya disusunlah suatu konsep pendirian unit
Layanan Gadai Syariah sebagai langkah awal pembentukan divisi khusus yang
menangani kegiatan usaha syariah.
Konsep operasi Pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern
yaitu azas rasionalitas, efisiensi dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai Islam.
Fungsi operasi Pegadaian Syariah itu sendiri dijalankan oleh kantor-kantor Cabang
Pegadaian Syariah/ Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) sebagai satu unit organisasi
di bawah binaan Divisi Usaha Lain Perum Pegadaian. ULGS ini merupakan unit
bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai
konvensional. Pegadaian Syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit
Layanan Gadai Syariah ( ULGS) Cabang Dewi Sartika di bulan Januari tahun 2003.
Menyusul kemudian pendirian ULGS di Surabaya, Makasar, Semarang, Surakarta,
dan Yogyakarta di tahun yang sama hingga September 2003. Masih di tahun yang
sama pula, 4 Kantor Cabang Pegadaian di Aceh dikonversi menjadi Pegadaian
Syariah.
Untuk menjadi lembaga keuangan yang terbaik di mata masyarakat, maka
Perum Pegadaian terus meluncurkan produk-produk jasa keuangan termasuk salah
satunya adalah pegadaian pola syariah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pegadaian
syariah ini mulai dioperasikan di Indonesia mulai Januari 2003. Secara umum,
perkembangan pegadaian syariah cukup baik. Perkembangan Pegadaian Syariah
sampai akhir Februari 2009, jumlah pembiayaan mencapai 1, 6 triliun Rupiah dengan
nasabah 600 ribu orang. Jumlah kantor cabang Pegadaian Syariah ini berjumlah 120
unit yang berarti masih 4 % dari jumlah Pegadaian Konvensional yang ada di
Indonesia (Harian Republika dalam Wakhyudin, 2009).
Pegadaian Syariah sebagai lembaga yang dimiliki pemerintah tentunya
memiliki kekurangan dan kelebihan dibandingkan dengan bank. Menurut Endang
(1993) dan Muhammad (1997) kelebihan-kelebihan Pegadaian Syariah dibandingkan
dengan bank adalah :
1. Persyaratan yang sangat sederhana, sehingga memudahkan konsumen dalam
memenuhinya.
2. Prosedur yang sangat sederhana, sehingga memungkinkan konsumen
memperoleh dana dalam waktu 15 menit saja.
3. Keanekaragaman barang yang dapat dijadikan jaminan, angsuran ringan tidak
ditentukan jumlahnya dan dapat diangsur sesuai kemampuan dengan jangka
waktu 120 hari.
4. Cukup dipungut biaya administrasi dan biaya ijarah.
5. Pihak pegadaian tidak mempermasalahkan tujuan penggunaan uang tersebut,
sehingga konsumen dapat memanfaatkan uang tersebut untuk kepentingan apa
saja.
6. Dapat dilunasi sewaktu-waktu, maupun diperpanjang dengan membayar biaya
administrasi dan biaya ijarahnya.
7. MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai operasionalisasi Pegadaian Syariah.
Sedangkan kekurangan dari Pegadaian Syariah dibandingkan dengan bank
adalah sebagai berikut :
1. Harus ada jaminan barang bergerak yang mempunyai nilai.
2. Barang bergerak yang dijadikan jaminan harus diserahkan kepada Perum
Pegadaian, sehingga konsumen tidak dapat memanfaatkan barang tersebut
selama berada di Perum Pegadaian.
3. Jumlah kredit gadai masih terbatas untuk jenis emas dan berlian pada kota-
kota besar, padahal di kota besar angka kemiskinan relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan di kota kecil.
4. Belum semua masyarakat memahami mengenai sistem dari gadai syariah.
5. Belum memiliki visi misi karena masih menyatu dengan perusahaan
induknya.
II PEMBAHASAN

3.1. Implementasi Gadai Syariah di Perum Pegadaian


Gadai syariah di Perum Pegadaian Syariah diimplementasikan dengan adanya
fasilitas rahn, yaitu produk jasa gadai yang berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah,
dimana nasabah hanya akan dipungut biaya administrasi dan ijarah (biaya jasa simpan
dan pemeliharaan barang jaminan). Prinsip-prinsip syariah yang diberlakukan pada
produk gadai syariah di Perum Pegadaian adalah tidak memungut bunga dalam
berbagai bentuk karena riba, menetapkan uang sebagai alat tukar bukan sebagai
komoditas yang diperdagangkan, dan melakukan bisnis untuk memperoleh imbalan
atas jasa dan atau bagi hasil.
Pegadaian Syariah menjawab kebutuhan transaksi gadai sesuai Syariah, untuk
solusi pendanaan yang Cepat, Praktis, dan Menentramkan. Cepat, karena hanya 15
menit kebutuhan dana akan terpenuhi. Praktis, karena tidak perlu membuka rekening
ataupun prosedur lain yang memberatkan. Konsumen cukup membawa barang-barang
berharga milik pribadi, saat itu juga konsumen akan mendapatkan dana yang
dibutuhkan dengan jangka waktu hingga 120 hari dan dapat dilunasi sewaktu-waktu.
Jika masa jatuh tempo tiba dan konsumen masih memerlukan dana pinjaman tersebut,
maka pinjaman dapat diperpanjang hanya dengan membayar sewa simpan dan
pemeliharaan serta biaya administrasi. Sedangkan menentramkan, karena sumber
dana Pegadaian Syariah berasal dari sumber yang sesuai dengan syariah, proses gadai
berlandaskan prinsip syariah, serta didukung oleh petugas-petugas dan outlet dengan
nuansa Islami sehingga lebih syar'i dan menetramkan.
Dalam prinsip syariah, pengoperasian gadai syariah menggunakan metode
mudharabah atau prinsip bagi hasil. Namun, pada aplikasinya, Perum pegadaian
menggunakan metode Fee Based Income (FBI) karena nasabah dalam
mempergunakan dana mempunyai tujuan yang berbeda-beda misalnya untuk
konsumsi, membayar uang sekolah atau tambahan modal kerja, sehingga metode
mudharabah tidak feasible untuk diterapkan pada Perum Pegadaian.
Landasan dalam operasionalisasi gadai syariah adalah Fatwa Dewan Syariah
Nasional nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan
bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk
rahn diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Ketentuan Umum :
1. Murtahin (penerima barang) mempunya hak untuk menahan Marhun (barang)
sampai semua utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.
2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya marhun
tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin, dengan tidak
mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya
pemeliharaan perawatannya.
3. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban
rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan
pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin.
4. Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan
berdasarkan jumlah pinjaman.
5. Penjualan marhun
a. Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera
melunasi utangnya.
b. Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka marhun dijual
paksa/dieksekusi.
c. Hasil Penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya
pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan.
d. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi
kewajiban rahin.
b. Ketentuan Penutup
1. Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan diantara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
melalui Badan Arbritase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian
hari terdapat kekeliruan akan diubah dan disempurnakan sebagai mana
mestinya.
Dari landasan syariah yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, adapun
mekanisme operasional Pegadaian Syariah dapat digambarkan sebagai berikut :
melalui akad rahn, nasabah menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian
menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. Akibat
yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi
nilai investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan keseluruhan proses
kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan biaya sewa
kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pegadaian
Syariah akan memperoleh keutungan hanya dari bea sewa tempat yang dipungut
bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan dari uang
pinjaman. Sehingga di sini dapat dikatakan proses pinjam meminjam uang hanya
sebagai penarik minat konsumen untuk menyimpan barangnya di Pegadaian.
Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad tersebut meliputi :
1. Akad. Akad tidak mengandung syarat fasik/bathil seperti murtahin
mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas.
2. Marhun Bih ( Pinjaman). Pinjaman merupakan hak yang wajib dikembalikan
kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang dirahnkan tersebut.
Serta, pinjaman itu jelas dan tertentu.
3. Marhun (barang yang dirahnkan). Marhun bisa dijual dan nilainya seimbang
dengan pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya, milik sah penuh dari rahin,
tidak terkait dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan baik materi maupun
manfaatnya.
4. Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta
jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur.
5. Rahin dibebani jasa manajemen atas barang berupa : biaya asuransi, biaya
penyimpanan, biaya keamanan, dan biaya pengelolaan serta administrasi.
Untuk dapat memperoleh layanan dari Pegadaian Syariah, masyarakat hanya
cukup menyerahkan harta geraknya ( emas, berlian, kendaraan, dan lain-lain) untuk
dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal. Kemudian staf Penaksir akan
menentukan nilai taksiran barang bergerak tersebut yang akan dijadikan sebagai
patokan perhitungan pengenaan sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon uang
pinjaman yang dapat diberikan. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai
intrinsik dan harga pasar yang telah ditetapkan oleh Perum Pegadaian. Maksimum
uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90% dari nilai taksiran barang.
Setelah melalui tahapan ini, Pegadaian Syariah dan nasabah melakukan akad
dengan kesepakatan :
1. Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama maksimum
empat bulan.
2. Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 90,- (sembilan puluh rupiah)
dari kelipatan taksiran Rp 10.000,- per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat
melunasi pinjaman.
3. Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh Pegadaian pada saat
pencairan uang pinjaman.
Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggaran untuk melakukan penebusan
barang/pelunasan pinjaman kapan pun sebelum jangka waktu empat bulan,
mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dahulu jasa simpan yang
sudah berjalan ditambah bea administrasi, atau hanya membayar jasa simpannya saja
terlebih dahulu jika pada saat jatuh tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman
uangnya.
Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya membayar jasa
simpan, maka Pegadaian Syarian melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara
dijual, selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman, jasa simpan dan pajak
merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. Nasabah diberi kesempatan
selama satu tahun untuk mengambil Uang kelebihan, dan jika dalam satu tahun
ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut, Pegadaian Syariah akan
menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS.
Selain aspek operasionalnya saja, pembiayaan kegiatan dan pendanaan bagi
nasabah, harus diperoleh dari sumber yang benar-benar terbebas dari unsur riba.
Dalam hal ini, seluruh kegiatan Pegadaian syariah termasuk dana yang kemudian
disalurkan kepada nasabah, murni berasal dari modal sendiri ditambah dana pihak
ketiga dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Pegadaian telah melakukan
kerja sama dengan Bank Muamalat sebagai fundernya, ke depan Pegadaian juga akan
melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan syariah lain untuk memback up
modal kerja.
Dari uraian ini dapat dicermati perbedaan yang cukup mendasar dari teknik
transaksi Pegadaian Syariah dibandingkan dengan Pegadaian konvensional, yaitu :
1. Di Pegadaian konvensional, tambahan yang harus dibayar oleh nasabah yang
disebut sebagai sewa modal, dihitung dari nilai pinjaman.
2. Pegadaian konvensional hanya melakukan satu akad perjanjian : hutang piutang
dengan jaminan barang bergerak yang jika ditinjau dari aspek hukum
konvensional, keberadaan barang jaminan dalam gadai bersifat acessoir, sehingga
Pegadaian konvensional bisa tidak melakukan penahanan barang jaminan atau
dengan kata lain melakukan praktik fidusia. Berbeda dengan Pegadaian syariah
yang mensyaratkan secara mutlak keberadaan barang jaminan untuk membenarkan
penarikan bea jasa simpan.
IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan dengan mengulas mengenai
teori gadai syariah yang berlandaskan prinsip-prinsip syariat Islam dengan
membandingkannya dengan operasionalisasi gadai syariah yang telah dipraktekkan
pada Perum Pegadaian di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa operasionalisasi
gadai syariah yang diterapkan, secara umum, telah sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah. Namun, ada beberapa hal, seperti prinsip mudharabah yang belum dapat
dipraktekkan secara sempurna karena kebutuhan masyarakat akan dana tersebut
belum dapat dikontrol oleh pihak Perum Pegadaian, sehingga kita tidak dapat
memastikan apakah dana yang berasal dari transaksi gadai syariah tersebut digunakan
untuk sesuatu yang sesuai dengan syariah atau tidak.

4.2. Saran
Walaupun sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu agama yang dianut oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia, dan juga dirasa lebih menguntungkan, adanya
fasilitas gadai syariah ini belum bisa dinikmati oleh masyarakat secara luas karena
kurangnya publikasi dan pembelajaran kepada publik mengenai gadai syariah dari
Perum Pegadaian. Oleh karena itu, dibutuhkan publikasi, promosi dan pengenalan
kepada masyarakat luas mengenai konsep gadai syariah yang ditawarkan oleh Perum
Pegadaian ini. Diharapkan ke depannya, operasionalisasi dari gadai syariah ini dapat
dilakukan berlandaskan prinsip-prinsip syariat Islami dengan menyeluruh, terutama
pada akad utama gadai syariah, yaitu akad mudharabah.

—Wallahu A’lam bi ash showab—


V DAFTAR PUSTAKA

Anshori, Abdul Ghofur. 2006. Gadai Syariah di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah


Mada University Press.
Gadai Syariah : Konsep dan Operasionalnya di Indonesia.
http://one.indoskripsi.com/skripsi-tugas-kuliah-makalah/ekonomi-islam/gadai-
syariah-konsep-dan-operasionalnya-di-indonesia. [9 Januari 2010]
Pegadaian. http://id.wikipedia.org/wiki/Pegadaian. [9 Januari 2010]
Pegadaian Syariah. http://www.pegadaian.co.id/p.kca.php?uid. [9 Januari 2010]
Perum Pegadaian. http://www.pegadaian.co.id. [9 Januari 2010]
Rahmawati, Rafika. 2009. Makalah Pegadaian Syariah.
http://hendrakholid.net/blog/2009/05/makalah-pegadaian-syariah/. [9 Januari
2010]
Rais, Sasli dan Wakhyudin. 2007. Pengembangan Pegadaian Syariah di Indonesia
dengan Analisis SWOT. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:772_-
YNKECUJ:images.nuris2007.multiply.multiplycontent.com/attachment. [9
Januari 2010]

Lampiran