Anda di halaman 1dari 126

i

STUDI PRODUKSI DAN UJI KUALITAS RENDEMEN


PADA TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, TBK
(PG. KREBET BARU)
BULULAWANG, MALANG JAWA TIMUR
MAGANG KERJA
Oleh:
MUHAMMAD FARID
115040201111308
MINAT BUDIDAYA PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
MALANG
2014

STUDI PRODUKSI DAN UJI KUALITAS RENDEMEN


PADA TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, TBK
(PG. KREBET BARU)
BULULAWANG, MALANG JAWA TIMUR
MAGANG KERJA

Oleh:
MUHAMMAD FARID
115040201111308
MINAT BUDIDAYA PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
MALANG
2014
i

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN MAGANG KERJA

STUDI PRODUKSI DAN UJI KUALITAS RENDEMEN


PADA TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, TBK.
(PG. KREBET BARU)
BULULAWANG, MALANG JAWA TIMUR

Disetujui Oleh:

Pembimbing Lapang

Pembimbing Utama

Karyanto, SP.
Kasie. BST PG. KBB

Prof. Dr. Ir. Tatiek Wardiyati, MS.


NIP. 19460201 197701 2 001

Mengetahui
Ketua Jurusan Budidaya Pertanian

Dr. Ir. Nurul Aini, MS.


NIP. 19601012 198601 2 001

ii

LEMBAR PERSETUJUAN
LAPORAN MAGANG KERJA

STUDI PRODUKSI DAN UJI KUALITAS RENDEMEN


PADA TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA, TBK.
(PG. KREBET BARU)
BULULAWANG, MALANG JAWA TIMUR
Disusun Oleh:
Muhammad Farid
115040201111308
Diperiksa dan disetujui oleh :
PT. PG. Rajawali I PG. Krebet Baru

Pembimbing Lapang
Plantation Manager

Kasie. BST PG. KBB

Zulham Suhud, SP.

Karyanto, SP.

Mengetahui
General Manager

Ir. Audry Haris Jolly Lapian

iii

RINGKASAN
Muhammad Farid. 115040201111308. Studi Produksi Dan Uji Kualitas
Rendemen Pada Tebu (Saccharum officinarum L.) Di PT Rajawali Nusantara
Indonesia, Tbk. (PG. Krebet Baru) Bululawang, Malang Jawa Timur. Di
bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Tatiek Wardiyati, MS. sebagai pembimbing
utama dan Karyanto, SP. sebagai pembimbing lapang.

Tebu (Saccharum officinarum L) ialah tanaman rumput-rumputan yang


banyak mengandung gula pada batangnya. Namun untuk sampai menghasilkan
gula, terlebih dahulu tebu hasil panen dari kebun harus segera dikirim ke Pabrik
Gula (PG) untuk selanjutnya diolah dan tidak boleh melebihi batas 36 Jam setelah
tebu siap kirim ke PG. Selanjutnya dari pengolahan tebu ini dihasilkan apa yang
dikenal sebagai Gula Kristal Putih (GKP) dan memenuhi standart gula SHS
(Superior High Sugar) dan tetes sebagai bahan produk limbah cair. Disamping itu
proses pengolahan tebu ini juga memproduksi ampas tebu yang kemudian dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar Ketel (Boiler), Media Jamur Merang, serta
pupuk organik (Kompos). Sedangkan limbah padat (Blotong) yang dihasilkan dari
proses pemurnian, dapat dimanfaatkan pula sebagai bahan baku pembuatan pupuk
organik.
Produktifitas tanaman merupakan hasil interaksi antara faktor internal
tanaman dan lingkungan. Tanaman tebu yang memiliki potensi hasil yang tinggi
masih sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Keadaan lingkungan yang
optimal akan memberikan produktifitas yang tinggi, namun sebaliknya jika
keadaan lingkungan kurang optimal. Faktor internal yang mempengaruhi
produktifitas tebu yaitu varietas dan bibit, sedangkan faktor eksternal yang
berpengaruh antara lain iklim, kesuburan tanah, kesehatan tanaman, teknik
budidaya dan proses tebang angkut yang tepat guna, tepat sasaran, serta tepat
waktu.
Magang kerja ini dilakukan di PT. Rajawali Nusantara Indonesia Tbk,
(PG. Krebet Baru) yang terletak di Desa Krebet Senggrong Jl,. Raya Krebet
Bululawang No. 10 Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Magang kerja ini
iv

dilaksanakan pada tanggal 07 Juli 2014 sampai dengan 07 Oktober 2014. Adapun
dalam metode magang kerja ini adalah melaksanakan kerja secara langsung
dilapangan meliputi kegiatan pembibitan, proses taksasi tebu, analisa potensi
tebang, hingga proses tebang angkut (Panen) yang dibimbing seorang penanggung
jawab kebun (PLTS) dari BST PG. Krebet Baru. Studi Produksi ini bertujuan
tidak lain adalah untuk mengetahui sector dalam produksi PG. Krebet Baru
tentang mekanisme pengolahan dari bahan baku tebu murni hingga menjadi gula
siap edar di pasaran yakni GKP dan SHS yang merupakan sasaran target terakhir
yang ingin dicapai oleh managemen PG. Krebet Baru. Selanjutnya untuk
mengetahui bagaimana tingkat perbandingan kualitas gula yang dihasilkan dari
kandungan bahan pokok tebu, maka harus ada sistem bagi hasil yang sesuai antara
petani dengan pihak PG. Adapun istilah yang umum digunakan adalah Rendemen
(Kualitas mutu kadar gula ) yang dihasilkan dari 1 kg gula dengan bobot rata- rata
100 Kg bobot tebu / Ha gula yang dihasilkan.
Adapun hasil produksi gula di PG. Krebet Baru Malang tiap pekannya
tidak kurang dari rata-rata 500.000 Kw (Kwintal ) Gula yang siap untuk dilelang
dalam proses ekonomi perdagangan di Indonesia.

SUMMARY

Muhammad Farid. 115040201111308. Studi Produksi Dan Uji Kualitas


Rendemen Pada Tebu (Saccharum officinarum L.) at PT Rajawali Nusantara
Indonesia, Tbk. (PG. Krebet Baru) Bululawang, Malang Jawa Timur.
Supervised by Prof. Dr. Ir. Tatiek Wardiyati, MS. and Karyanto, SP. As
field supervisor.

Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is a herbaceous plant which


contains a lot of sugar in cane rod. however to produce sugar cane harvest in
advance of the garden should be immediately sent to the Sugar Factory (PG) for
further in though and should not exceed the limit 36 Hours after the cane is ready
send to PG. Furthermore, from the processing of sugar cane is produced what is
known as white sugar (GKP) and meet the standard sugar SHS (Superior High
Sugar) and drops as a liquid waste product. In addition, the processing of sugar
cane bagasse is also produced which can then be utilized as fuel Boiler (Boiler),
Mushroom media, as well as organic fertilizer (compost). While solid waste
(Blotong) resulting from the refining process, can also be utilized as raw material
for organic fertilizer.
Crop productivity is the result of the interaction between internal factors
and external factors (Environment). Sugarcane crop has a high yield potential is
still very influenced by environmental conditions. Optimal environmental
conditions will provide high productivity, but on the contrary if the environment
is less than optimal. Internal factors that affect the productivity of sugarcane
varieties and seedling, while the external factors influencing such as climate, soil
fertility, plant health, cultivation techniques and cutting transport process is
efficient, effective, and timely.
Internship is done in PT. Rajawali Nusantara Indonesia Tbk (PG. Krebet
Baru) on the located in the village of Krebet Senggrong Jl. Raya

Krebet

Bululawang No. 10 Bululawang Kabupaten Malang. Internships was conducted


vi

on July 7 2014 until October 7 2014. Internships method that work directly to
condact some activities at field for instance the cropplanting and harvesting
supervised by field supervisor. Some activities is work directly in the field include
nurseries, sugarcane taxation process, analysis of the potential harvest, haul up the
process of cutting (harvest) which guided an insurer responsible garden (PLTS) of
BST PG. Krebet Baru. The Production Study aims to find out is none other than
PG in the production sector. PG. Krebet Baru about the mechanism of processing
of raw materials pure cane sugar ready to be circulated in the market that is the
GKP and SHS which is the target last target to be achieved by management PG.
Krebet Baru. Furthermore, to determine how the level of comparative quality of
sugar produced from sugar cane staple ingredients, then there must be an
appropriate revenue sharing system between farmers and the PG. The term
commonly used is sucrose content (Sugar of quality) produced from 1 kg of sugar
with an average weight of 100 kg weight of cane / ha of sugar produced.
The production of sugar in the PG. Krebet Baru Malang each not less than
the weekly average of 500,000 Kw (Quintal) Sugar is ready to be auctioned in the
process of trading in the Indonesian economy.

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segenap puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat


Allah SWT yang atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan magang kerja dengan judul Studi Produksi Dan Uji
Kualitas Rendemen Pada Tebu (Saccharum officinarum L.) di PT. Rajawali
Nusantara Indonesia, Tbk. (PG. Krebet Baru) Bululawang, Malang Jawa Timur.
Kegiatan magang kerja ini merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa
S-1 Program Studi Agroekoteknologi Universitas Brawijaya dalam rangka
menyelesaikan program sarjana (S-1). Kegiatan magang kerja bertujuan melatih
mahasiswa cara bersosialisasi di dunia kerja dan juga melatih tentang pengalaman
pendidikan yang telah diperoleh pada saat di bangku perkuliahan. Sehingga
kedepannya diharapkan dapat mencetak mahasiswa yang berpengalaman dan
berwawasan luas khususnya di bidang pertanian.
Dalam penyusunan laporan magang kerja ini, penulis menyampaikan
terima kasih kepada PT. Rajawali Nusantara Indonesia, Tbk. (PG. Krebet Baru)
Bululawang, Malang Jawa Timur. yang telah mengijinkan untuk melakukan
kegiatan magang kerja serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan laporan magang kerja ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan magang kerja ini
masih terdapat banyak kekurangan.Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan laporan magang kerja
ini.

Malang, 18 Oktober 2014

Penulis

viii

RASA PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
magang kerja ini yang berjudul Studi Produksi dan Uji Kualitas Rendemen
Pada Tebu (Saccharum officinarum L.) .
Pada kesempatan kali ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya terutama kepada :
1. Dr. Ir. Nurul Aini, MS. Selaku Ketua Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
2. Prof. Dr. Ir. Tatiek Wardiyati, MS. Selaku dosen pembimbing utama yang
telah membimbing dan mengarahkan pelaksanaan magang kerja serta
penulisan laporan magang kerja ini.
3. Ir. Audry Haris Jolly Lapian Selaku General Manager PG. Krebet Baru
yang telah mengijinkan kami untuk dapat melakukan kegiatan magang
kerja di PG. Krebet Baru.
4. Zulham Suhud, SP. Selaku Kepala Bagian Tanaman PG. Krebet Baru yang
telah mengijinkan kami untuk dapat melakukan kegiatan magang kerja di
PG. Krebet Baru. Serta pengarahan dan pengetahuan yang bapak berikan
kepada kami selama proses magang kerja.
5. Karyanto, SP. Selaku Kasie. BST PG. Krebet Baru serta selaku
pembimbing lapang yang telah memberikan pengetahuan dan pengarahan
kepada kami selama pelaksanaan proses magang kerja ini selama 3 bulan
lamanya.
6. Semua karyawan PG. Krebet Baru, khususnya bagian tanaman (BST) serta
bagian Pabrikasi KB I dan KB II yang telah memberikan kesempatan dan
waktu untuk mendampingi kegiatan Magang Kerja di PG. Krebet Baru.
7. Kedua

orang

tua

dan

segenap

keluarga,

serta

teman-teman

Agroekoteknologi 2011 yang magang di PG. Krebet Baru serta semua


pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan laporan
magang ini.

ix

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan magang kerja ini


masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan laporan ini.

Malang, 18 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN MAGANG ...................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN MAGANG ..................................... iii
RINGKASAN .................................................................................................... iv
SUMMARY ....................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ...................................................................................... viii
RASA PERSEMBAHAN ................................................................................. ix
DAFTAR ISI ...................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvi

1. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan Magang Kerja ................................................................................ 2
1.2.1 Tujuan Umum Magang Kerja .......................................................... 2
1.2.2 Tujuan Khusus Magang Kerja ......................................................... 3
1.3 Kompetensi yang diharapkan...................................................................... 3

2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 4


2.1 Deskripsi Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) .............................. 4
2.2 Botani Tanaman Tebu................................................................................. 4
2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Tebu .................................................................. 6
2.4 Budidaya Tanaman Tebu ............................................................................ 8
2.4.1 Pembibitan ......................................................................................... 8
2.4.2 Pengolahan Media Tanam .................................................................. 10
2.4.3 Teknik Penanaman ............................................................................. 11
2.4.4 Pemeliharaan Tanaman ....................................................................... 12
2.4.5 Panen ................................................................................................. 17

xi

2.5 Pasca Panen ................................................................................................ 23


2.5.1 Pengolahan Tebu Menjadi Gula ......................................................... 23
2.5.2 Mutu gula ............................................................................................ 25
2.5.3 Rendemen ........................................................................................... 27
2.6 Hama dan Penyakit Tanaman Tebu ............................................................ 28
2.6.1 Hama ................................................................................................... 28
2.6.2 Penyakit .............................................................................................. 31

3. METODE DAN PELAKSANAAN .............................................................. 34


3.1 Waktu dan Tempat ..................................................................................... 34
3.2 Metode Pelaksanaan ................................................................................... 34
3.3 Jadwal Kegiatan Magang .......................................................................... 35

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 38


4.1 Hasil Pelaksanaan Magang Kerja............................................................... 38
4.1.1 Profil Perusahaan PG. Krebet Baru ..................................................... 38
4.1.2 Letak Geografis, Keadaan Iklim, Dan Keadaan Tanah ....................... 40
4.1.3 Profil Perusahaan PG. Krebet Baru ..................................................... 40
4.2 Struktur Organisasi PG. Krebet Baru ......................................................... 43
4.3 Studi Produksi PG. Krebet Baru ............................................................... 48
4.3.1 Pra-Panen ............................................................................................ 48
4.3.2 Managemen Produksi PG. Krebet Baru .............................................. 53
4.4 Proses Produksi Gula PG. Krebet Baru .................................................... 61
4.5 Uji Kualitas Rendemen PG. Krebet Baru ................................................. 73
4.6 Pembahasan ............................................................................................... 87

5. PENUTUP ...................................................................................................... 91
5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 91
5.2 Saran .......................................................................................................... 92

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 94


LAMPIRAN ....................................................................................................... 97

xii

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman
Teks

Gambar 1. Tanaman Tebu ............................................................................. 5


Gambar 2. Teknik Budidaya Tanaman Tebu Kairan ..................................... 14
Gambar 3. Penanaman Bibit Tanaman Tebu Double Row ........................... 15
Gambar 4. Penanaman Bibit Secara Over Lapping ....................................... 15
Gambar 5. Teknik Penanaman Bibit End to End .......................................... 16
Gambar 6. Tanaman Tebu Siap Giling ......................................................... 21
Gambar 7. Hama Penggerek Pucuk Tanaman Tebu .................................... 28
Gambar 8. Hama Uret (Lepidieta stigma F.) Tanaman Tebu ..................... 29
Gambar 9. Hama Penggerek Batang Bergaris Pucuk.................................... 30
Gambar 10. Hama Penggerek Batang Berkilat ............................................. 30
Gambar 11. Penyakit Mozaik Pada Tanaman Tebu ...................................... 31
Gambar 12. Penyakit Busuk Akar Pada Tanaman Tebu ............................... 32
Gambar 13. Penyakit Blendok Pada Tanaman Tebu .................................... 32
Gambar 14. Penyakit Pokkabung Pada Tanaman Tebu ................................ 33
Gambar 15. Penyakit Pokkabung Pada Tanaman Tebu ................................ 33
Gambar 16. Profil Perusahaan PG. Krebet Baru ........................................... 39
Gambar 17. Struktur Organisasi PG. Krebet Baru ........................................ 43
Gambar 18. Struktur Organisasi Bagian Tanaman PG. Krebet Baru ............ 45
Gambar 19. Pemeriksaan Mutu Tebu Di Pos 1 ............................................. 53
Gambar 20. Pencatatan Berat Bruto Dan Pemberian SPBM ........................ 54
Gambar 21. Pemberian Nomor Register Di Pos 3 ......................................... 55
Gambar 22. Pengecekan Kualitas Mutu Tebu Di Pos 4 ................................ 55
Gambar 23. Pengambilan Sample Nira Pada Pos 5 ...................................... 60
Gambar 24. Surat Bukti Telah Bongkar Muat .............................................. 60
Gambar 25. Craine Host ................................................................................ 62
Gambar 26. Proses Ekstraksi (Penggilingan) ................................................ 62
Gambar 27. Pan Masakan Di St. Masakan .................................................... 67

xiii

Gambar 28. Mesin Putaran ............................................................................ 69


Gambar 29. Talang Goyang .......................................................................... 71
Gambar 30. Stasiun Pengepakan Gula .......................................................... 72

xiv

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman
Teks

Tabel 1

Daftar Varietas Bibit Unggul Tanaman Tebu ............................. 9

Tabel 2

Dosis Pupuk Tanaman Tebu ....................................................... 13

Tabel 3

Syarat Mutu Gula Kristal Putih ................................................... 25

Tabel 4

Rencana Jadwal Kegiatan Magang Kerja ................................... 35

Tabel 5

Matriks Kegiatan Magang Kerja ................................................. 37

Tabel 6

Luas Areal Kerja PG. Krebet Baru ............................................. 41

Tabel 7

Tabel Juring ................................................................................. 49

Tabel 8

Penurunan Rendemen ................................................................. 58

Tabel 9

Rating Varietas ............................................................................ 84

Tabel 10

Hasil Uji Kualitas Rendemen ...................................................... 85

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman
Teks

Lampiran 1. Data Diri Mahasiswa Pelaksana Magang ................................. 97


Lampiran 2. Rencana Jadwal Kegiatan Magang Kerja ................................. 98
Lampiran 3. Matriks Kegiatan Magang Kerja .............................................. 100
Lampiran 4. Struktur Organisasi PG. Krebet Baru ........................................ 101
Lampiran 5. Mekanisme Analisa Pendahuluan ............................................. 102
Lampiran 6. Blanko Pengamatan Analisa Pendahuluan ............................... 104
Lampiran 7. Masa Tebang Dan Tanam Varietas ......................................... 105
Lampiran 8. Tabel Derajat Suhu BJ. Brix Suhu ........................................... 106
Lampiran 9. Rencana Pola Giling PG. Krebet Baru .................................... 107
Lampiran 10.Berita Acara Rafraksi Tebu ..................................................... 108
Lampiran 11.Denah Lokasi PG. Krebet Baru ............................................... 109

xvi

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Defisit gula Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula
nasional mulai dirasakan sejak tahun 1967. Defisit ini terus meningkat dan hanya
bisa dipenuhi melalui impor gula. Dengan harga gula dunia yang tinggi dan defisit
yang terus meningkat, mengakibatkan terjadinya pengurasan devisa negara. Pada
tahun 2007, misalnya, Indonesia mengimpor gula sebanyak 3,03 juta ton dengan
nilai US$ 1,05 milyar. Untuk mengatasi defisit ini telah dilakukan usaha
peningkatan produksi gula nasional. Usaha ini memberikan hasil dengan
meningkatnya produksi gula nasional dari 2,05 juta ton tahun 2004 menjadi 2,8
juta ton tahun 2008 dan diperkirakan tahun 2009 mencapai 2,9 juta ton. Akan
tetapi kenaikan produksi ini juga diikuti dengan kenaikan konsumsi. Pada tahun
2009 konsumsi gula nasional diperkirakan mencapai 4,8 juta ton. Sehingga terjadi
defisit gula nasional tahun 2009 sebesar 1,9 juta ton. Gambaran ini menunjukkan
usaha pembangunan industri gula tebu nasional, berupa perluasan areal
pertanaman tebu serta peremajaan dan penambahan pabrik gula, masih perlu
ditingkatkan.
Masalah klasik yang hingga kini sering dihadapi adalah rendahnya
produktivitas tebu dan rendahnya tingkat rendemen gula. Rata-rata produktivitas
tebu yang ditanam di lahan sawah sekitar 95 ton/ha dan di lahan tegalan sekitar 75
ton/ha dengan rendemen gula sekitar 7,3 7,5%. Produktivitas dan rendemen ini
masih dibawah potensi produktivitas dan rendemen yang ada, yaitu diatas 100
ton/ha untuk pertanaman tebu di lahan sawah dan sekitar 90 ton/ha untuk
pertanaman tebu di lahan tegalan dengan rendemen gula diatas 10%. Rendahnya
produktivitas ini berakibat pula pada rendahnya efisiensi pengolahan gula
nasional.
Masalah lain yang berakibat pada rendahnya efisiensi industri gula
nasional adalah kondisi varietas tebu yang dipakai menunjukkan komposisi
kemasakan yang tidak seimbang antara masak awal, masak tengah dan masak
akhir, hal ini berdampak pada masa giling yang berkepanjangan dan banyaknya
tebu masak lambat yang ditebang dan diolah pada masa awal sehingga rendemen

menjadi rendah. Penerapan teknologi budidaya tebu juga belum dilaksanakan


secara optimal dan banyak tanaman tebu dengan ratun lebih dari 3 kali.
PT. Rajawali Nusantara Indonesia I Unit PG. Krebet Baru Bululawang
Malang Jawa Timur ialah salah satu BUMN atau instansi pemerintah yang
bergerak di bidang pertanian yang terus melakukan pengembangan pada sector
produksi komoditas perkebunan. Dalam hal ini di latar belakangi oleh rendahnya
tingkat pendapatan serta tingkat produksi gula yang didapatkan oleh tingkat
petani, maka dalam hal PT. Rajawali Nusantara Indonesia I Unit PG. Krebet Baru
serta Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Jawa Timur (Surabaya) dan juga
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI ) Pasuruan Jawa Timur Selaku
Pusat aktif penelitian tanaman tebu di Indonesia memiliki rasa tanggung jawab
penuh untuk membantu penerapan budidaya tanaman perkebunan (tanaman tebu)
pada tingkat masyarakat. Salah satu komoditas perkebunan yang patut untuk
dikembangkan oleh PG. Krebet Baru dan P3GI adalah tanaman tebu dengan
kategori varietas masa awal yang saat ini masih terus untuk ditingkatkan tingkat
rendemen (produktifitasnya). Adapun dalam hal ini ialah masa awal memiliki
keunggulan dari segi umur tanaman serta hasil rendemen yang diperoleh juga
cukup tinggi untuk memulai standart HPP Gula di Indonesia khususnya di
Provinsi Jawa Timur. Selanjutnya adanya tuntutan kemandirian PG. Krebet Baru
dalam mengelola tanaman tebu tidak hanya sebatas pada proses produksi saja
namun juga harus pada tingkat budidaya tanaman tebu itu sendiri yang meliputi
masa awal masa tengah dan masa akhir yang diharapkan sebagai jembatan
penerapan hasil produksi dan penelitian pengembangan sector perkebunan dan
tingkat rendemen gula di Indonesia.

1.2 Tujuan Magang Kerja


1.2.1 Tujuan Umum Magang Kerja
Tujuan umum dari magang kerja ini ialah:
1.

Memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan Tugas Akhir Tingkat Strata


Sarjana (S-1) di Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya Malang.

2.

Membandingkan ilmu pengetahuan yang diperoleh secara teori saat


perkuliahan dengan praktek secara langsung di lapang dan menelaahnya
apabila terjadi perbedaan yang ada.

3.

Meningkatkan wawasan dan menambah pengalaman mahasiswa tentang


kegiatan suatu perusahaan khususnya yang bergerak di bidang pertanian.

4.

Melatih mahasiswa dalam melakukan pekerjaan secara mandiri di lapang dan


merupakan sarana beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan yang sebenarnya
dihadapi.
1.2.2 Tujuan Khusus Magang Kerja
Tujuan khusus dari magang kerja ini ialah:

1.

Mempelajari produksi gula tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) di PT.


Rajawali Nusantara Indonesia, Tbk. (PG. Krebet Baru) Bulalawang, Malang
Jawa Timur.

2.

Mempelajari berbagai permasalahan mengenai produksi gula kualitas terbaik


tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) di PT. Rajawali Nusantara
Indonesia, Tbk. (PG. Krebet Baru) Bulalawang, Malang Jawa Timur.

1.3 Kompetensi yang diharapkan


Kompetensi yang diharapkan dari kegiatan magang kerja ini diantaranya
menambah pemahaman tentang realita dunia kerja dikemudian hari dan menjadi
bekal saya nantinya dalam melakukan sebuah penelitian. Dengan tercapainya
kompetensi tersebut diharapkan, dikemudian hari saya mampu menciptakan
lapangan kerja (berwirausaha). Untuk itu, tidak lagi menjadi beban Negara oleh
banyaknya pengangguran yang terdidik. Sehingga dikemudian hari, saya akan
sanggup memberikan lapangan kerja bagi diri sendiri dan juga orang lain
disekitar.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.)
Tebu (Saccharum officinarum L) ialah tanaman rumput-rumputan yang
banyak mengandung gula pada batangnya. Namun untuk sampai menghasilkan
gula, terlebih dahulu tebu hasil panen dari kebun harus segera dikirim ke Pabrik
Gula (PG) untuk selanjutnya diolah dan tidak boleh melebihi batas 36 Jam setelah
tebu siap kirim ke PG. Selanjutnya dari pengolahan tebu ini dihasilkan apa yang
dikenal sebagai Gula Kristal Putih (GKP) dan memenuhi standart gula SHS
(Superior High Sugar) dan tetes sebagai bahan produk limbah cair. Disamping itu
proses pengolahan tebu ini juga memproduksi ampas tebu yang kemudian dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar Ketel (Boiler), Media Jamur Merang, serta
pupuk organik (Kompos). Sedangkan limbah padat (Blotong) yang dihasilkan dari
proses pemurnian, dapat dimanfaatkan pula sebagai bahan baku pembuatan pupuk
organic (Hakim, 2008).

Menurut Triantarti (2009) tanaman tebu dapat diklasifikasikan ke dalam


golongan :
Berikut adalah klasifikasi tanaman tebu :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Saccharum

Spesies

: Saccharum officinarum L.
(Triantarti,2009).
2.2 Botani Tanaman Tebu
Tebu mempunyai akar serabut yang panjangnya dapat mencapai satu

meter. Sewaktu tanaman masih muda atau berupa bibit, ada 2 macam akar, yaitu
akar setek dan akar tunas. Akar setek/bibit berasal dari setek batangnya. Akar ini
tidak berumur panjang dan hanya berfungsi sewaktu tanaman masih muda. Akar

tunas berasal dari tunas. Akar ini berumur panjang dan tetap ada selama tanaman
masih tumbuh (Tim Penulis PS, 2000).
Batang tanaman tebu beruas-ruas, dari bagian pangkal sampai
pertengahan, ruasnya panjang-panjang, sedangkan di bagian pucuk ruasnya
pendek. Tinggi batang antara 2 sampai 5 meter, tergantung baik buruknya
pertumbuhan, jenis tebu maupun keadaan iklim. Pada pucuk batang tebu terdapat
titik tumbuh yang mempunyai peranan penting untuk pertumbuhan meninggi
(Supriyadi, 1992).
Daun tebu merupakan daun tidak lengkap, karena hanya terdiri dari
pelepah dan helaian daun, tanpa tangkai daun. Daun berpangkal pada buku batang
dengan kedudukan yang berseling. Pelepah memeluk batang, makin ke atas makin
sempit. Pada pelepah terdapat bulu-bulu dan telinga daun. Pertulangan daun
sejajar. Helaian daun berbentuk garis sepanjang 1 sampai 2 meter dan melebar 4
sampai 7 cm dengan ujung meruncing, bagian tepi bergerigi, dan permukaan daun
kasap (Tim Penulis PS, 2000).
Bunga tebu merupakan malai yang bentuknya piramida, panjangnya
antara 70 sampai 90 cm. Bunga tebu biasanya muncul pada bulan April-Mei.
Bunganya terdiri dari tenda bunga yaitu 3 helai daun kelopak dan 1 helai daun
tajuk bunga. Bunga tebu memiliki 1 bakal buah dan 3 benang sari, kepala
putiknya berbentuk bulu-bulu (Supriyadi, 1992). daunnya berbentuk bulat
memanjang sekitar 7-10 cm dan ketebalan 0,3-0,5 cm (Winarno, F. G. 2004.).

Gambar 1. Tanaman Tebu


(Sumber : http://www.bbpp-lembang.info)

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Tebu


1. Iklim
Pengaruh iklim terhadap pertumbuhan tebu dan rendemen gula sangat
besar. Dalam masa pertumbuhan tanaman tebu membutuhkan banyak air,
sedangkan saat masak tanaman tebu membutuhkan keadaan kering agar
pertumbuhan terhenti. Apabila hujan tetap tinggi maka pertumbuhan akan terus
terjadi dan tidak ada kesempatan untuk menjadi masak sehingga rendemen
menjadi rendah.
1. Curah hujan
Tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik didaerah dengan curah hujan
berkisar antara 1.000 1.300 mm per tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan
kering. Distribusi curah hujan yang ideal untuk pertanaman tebu adalah: pada
periode pertumbuhan vegetatif diperlukan curah hujan yang tinggi (200 mm per
bulan) selama 5-6 bulan. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan
125 mm dan 4 5 bulan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan yang
merupakan periode kering. Periode ini merupakan periode pertumbuhan
generative dan pemasakan tebu. Ditinjau dari kondisi iklim yang diperlukan, maka
wilayah yang dapat ideal diusahakan untuk tebu lahan kering/tegalan berdasarkan
Oldemen dan Syarifudin adalah tipe B2, C2, D2 dan E2. Sedangkan untuk tipe
iklim B1C1D1dan E1 dengan 2 bulan musim kering, dapat diusahakan untuk tebu
dengan syarat tanahnya ringan dan berdrainase bagus. Untuk tipe iklim D3, E3
dan D4 dengan 4 bulan kering, dapat pula diusahakan dengan syarat adanya
ketersediaan air irigasi.
2. Suhu
Pengaruh suhu pada pertumbuhan dan pembentukan sukrisa pada tebu
cukup tinggi. Suhu ideal bagi tanaman tebu berkisar antara 240C340C dengan
perbedaan suhu antara siang dan malam tidak lebih dari 10 0C. Pembentukan
sukrosa terjadi pada siang hari dan akan berjalan lebih optimal pada suhu 30 0C.
Sukrosa yang terbentuk akan ditimbun/disimpan pada batang dimulai dari ruas
paling bawah pada malam hari. Proses penyimpanan sukrosa ini paling efektif dan
optimal pada suhu 15 0C.

3. Sinar Matahari
Tanaman tebu membutuhkan penyinaran 12-14 jam setiap harinya. Proses
asimilasi akan terjadi secara optimal, apabila daun tanaman memperoleh radiasi
penyinaran matahari secara penuh sehingga cuaca yang berawan pada siang hari
akan mempengaruhi intensitas penyinaran dan berakibat pada menurunnya proses
fotosintesa sehingga pertumbuhan terhambat.
4. Angin
Kecepatan

angin

sangat

berperan

dalam

mengatur

keseimbangan

kelembaban udara dan kadar CO2 disekitar tajuk yang mempengaruhi proses
fotosintesa. Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam disiang hari
berdampak positif bagi pertumbuhan tebu, sedangkan angin dengan kecepatan
melebihi 10 km/jam akan mengganggu pertumbuhan tanaman tebu bahkan
tanaman tebu dapat patah dan roboh.
2. Media Tanam
Tanaman tebu tumbuh didaerah tropika dan sub-tropika sampai batas garis
isoterm 20 0C yaitu antara 190 LU 350 LS. Kondisi tanah yang baik bagi
tanaman tebu adalah yang tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah, selain itu
akar tanaman tebu sangat sensitif terhadap kekurangan udara dalam tanah
sehingga pengairan dan drainase harus sangat diperhatikan. Drainase yang baik
dengan kedalaman sekitar 1 meter memberikan peluang akar tanaman menyerap
air dan unsur hara pada lapisan yang lebih dalam sehingga pertumbuhan tanaman
pada musim kemarau tidak terganggu. Drainase yang baik dan dalam juga dapat
manyalurkan kelebihan air dimusim penghujan sehingga tidak terjadi genangan air
yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman karena berkurangnya oksigen
dalam tanah.
Dilihat dari jenis tanah, tanaman tebu dapat tumbuh baik pada berbagai jenis
tanah seperti tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol dengan ketinggian
antara 0 1400 m diatas permukaan laut. Akan tetapi lahan yang paling sesuai
adalah kurang dari 500 m diatas permukaan laut. Sedangkan pada ketinggian >
1200 m diatas permukaan laut pertumbuhan tanaman relative lambat. Kemiringan
lahan sebaiknya kurang dari 8%, meskipun pada kemiringan sampai 10% dapat
juga digunakan untuk areal yang dilokalisir. Kondisi lahan terbaik untuk tebu

adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2% apabila tanahnya ringan
dan sampai 5 % apabila tanahnya lebih berat.
A. Tanah
1. Sifat fisik tanah
Struktur tanah yang baik untuk pertanaman tebu adalah tanah yang gembur
sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna, oleh karena itu upaya
pemecahan bongkahan tanah atau agregat tanah menjadi partikel-partikel kecil
akan memudahkan akar menerobos. Sedangkan tekstur tanah, yaitu perbandingan
partikelpartikel tanah berupa lempung, debu dan liat, yang ideal bagi pertumbuhan
tanaman tebu adalah tekstur tanah ringan sampai agak berat dengan kemampuan
menahan air cukup dan porositas 30 %.
Tanaman tebu menghendaki solum tanah minimal 50 cm dengan tidak ada
lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm. Sehingga pada lahan kering, apabila
lapisan tanah atasnya tipis maka pengolahan tanah harus dalam. Demikian pula
apabila ditemukan lapisan kedap air, lapisan ini harus dipecah agar sistem aerasi,
air tanah dan perakaran tanaman berkembang dengan baik.
2. Sifat kimia tanah
Tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH 6
7,5, akan tetapi masih toleran pada pH tidak lebih tinggi dari 8,5 atau tidak lebih
rendah dari 4,5. Pada pH yang tinggi ketersediaan unsur hara menjadi terbatas.
Sedangkan pada pH kurang dari 5 akan menyebabkan keracunan Fe dan Al pada
tanaman, oleh karena itu perlu dilakukan pemberian kapur (CaCo3) agar unsur Fe
dan Al dapat dikurangi. Bahan racun utama lainnya dalam tanah adalah klor (Cl),
kadar Cl dalam tanah sekitar 0,06 0,1 % telah bersifat racun bagi akar tanaman.
Pada tanah ditepi pantai karena rembesan air laut, kadar Cl nya cukup tinggi
sehingga bersifat racun.
2.4 Budidaya Tanaman Tebu
2.4.1

Pembibitan

1. Persyaratan Bibit
Pemilihan varietas bibit harus memperhatikan sifat-sifat Varietas bibit
unggul yaitu, memliki potensi produksi gula yang tinggi melalui bobot tebu dan
rendemen yang tinggi; memiliki produktivitas yang stabil dan mantap; memiliki

ketahanan yang tinggi untuk keprasan dan kekeringan; serta tahan terhadap hama
dan penyakit.
Varietas tebu berdasarkan masa kemasakannya dapat dibedakan menjadi
tiga,yaitu:
1. Varietas Genjah (masak awal), mencapai masak optimal + 8-10 bulan.
2. Varietas Sedang (masak tengahan), mencapai masak optimal pada umur + 1012 bulan.
3. Varietas Dalam (masak lambat), mencapai masak optimal pada umur lebih dari
12 bulan.
Beberapa varietas unggul yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian dapat
dilihat pada Tabel 1.
Mengingat masa panen tebu dilakukan pada saat yang relatif serempak,
akan tetapi ditanam pada waktu yang lebih panjang karena bergiliran, maka perlu
diatur komposisi penanaman varietas dengan umur masak yang berbeda, yaitu
masak awal, masak tengah dan masak lambat. Komposisi varietas dengan tingkat
kemasakan masak awal, masak tengah dan masak lambat yang dianjurkan
berdasarkan luas tanam adalah 30:40:30.
Tabel 1. Varietas Unggul Tebu

10

Bentuk Bibit

Bagal dan rayungan dari KBD

Top Stek

Jenis / Varietas Bibit


a. Masak awal

: PS 57, PS 60. BZ 132, PS 80-442, POJ 3016 POJ 3016,

PS 41, PS 56, BZ 132, BZ 148, G 90.


b. Masak tengah : PS 59, PS 60, BZ 148, PS 77-1553, PS 77-2601, PS 7982.
c. Masak air

: PS 79-82.

Macam Kebun Bibit


KBP (Kebun Bibit Pokok)
KBN (Kebun Bibit Nenek)
KBI (Kebun Bibit Induk)
KBD (Kebun Bibit / Induk Dasar ) bibitnya disalurkan untuk ditanam di
kebun produksi / tebu giling.
2.4.2 Pengolahan Media Tanam
Sebelum penanaman dilakukan, sebaiknya lahan disiapkan dahulu.
Lahan yang dipilih segera diolah. Guna mencegah nematoda yang merugikan, kita
dapat memberikan Nemagon sebagai fumigan tanah 2 atau 3 minggu sebelum
tanam.
Pembersihan dan persiapan lahan bertujuan untuk membuat kondisi
fisik dan kimia tanah sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman tebu. Tahap
pertama yang harus dilakukan pada lahan semak belukar dan hutan adalah
penebasan atau pembabatan untuk membersihkan semak belukar dan kayu-kayu
kecil. Setelah tahap pembabatan selesai dilanjutkan dengan tahap penebangan
pohon yang ada dan menumpuk hasil tebangan. Pada tanah bekas hutan, kegiatan
pembersihan lahan dilanjutkan dengan pencabutan sisa akar pohon.
Pembersihan lahan semak belukar dan hutan untuk tanaman tebu baru
(plant cane / PC) secara prinsip sama dengan pembersihan lahan bekas tanaman
tebu yang dibongkar untuk tanaman tebu baru (ratoon plant cane/RPC). Akan
tetapi pada PC sedikit lebih berat karena tata letak kebun, topografi maupun
struktur tanahnya masih belum sempurna, selain itu terdapat pula sisa-sisa

11

batang/perakaran yang mengganggu pelaksanaan kegiatan.Lahan yang telah


diolah sebaiknya didiamkan dahulu selama 1 bulan agar diperoleh cukup sinar
matahari, kemudian barulah digunakan.
2.4.3 Teknik Penanaman
Bibit yang telah disapih ditanam pada bedengan yang telah disiapkan
dengan jarak antar tanaman sekitar 50-60 cm. Setiap bedengan berisi bibit tebu.
Kebutuhan bibit tebu per ha antara 60-80 kwintal atau sekitar 10 mata tumbuh per
meter kairan. Sebelum ditanam bibit perlu diberi perlakuan sebagai berikut:
(1) Seleksi bibit untuk memisahkan bibit dari jenis-jenis yang tidak dikehendaki.
(2) Sortasi bibit untuk memilih bibit yang sehat dan benarbenar akan tumbuh serta
memisahkan bibit bagal yang berasal dari bagian atas, tengah dan bawah.
(3) Pemotongan bibit harus menggunakan pisau yang
tajam dan setiap 3-4 kali pemotongan pisau dicelupkan kedalam lisol dengan
kepekatan 20%.
(4) Memberi perlakuan air panas HWT (hot water treatment)
pada bibit dengan merendam bibit dalam air panas (50oC) selama 7 jam
kemudian merendam dalam air dingin selama 15 menit. Hal ini dimaksudkan
untuk menjaga bibit bebas dari hama dan penyakit.
Bibit yang telah siap tanam ditanam merata pada kairan. Penanaman
bibit dilakukan dengan menyusun bibit secara over lapping atau double row atau
end to end (nguntu walang) dengan posisi mata disamping. Hal ini dimaksudkan
agar bila salah satu tunas mati maka tunas disebelahnya dapat menggantikan.
Bibit yang telah ditanam kemudian ditutup dengan tanah setebal bibit itu sendiri.
Akan tetapi bila pada saat tanam curah hujan terlalu tinggi, maka bibit ditanam
sebaiknya ditanam dengan cara baya ngambang atau bibit sedikit terlihat.
Pada tanaman ratoon, penggarapan tebu keprasan berbeda dengan
terbu pertama. Pengeprasan tebu dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali
bekas tebu yang telah ditebang. Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan
dahulu dari kotoran-kotoran bekas tebangan yang lalu. Setelah kebun selesai
dibersihkan barulah pengeprasan dapat dimulai. Pelaksanaan pengeprasan
haruslah dilakukan secara berkelompok dan per-petak. Pengeprasan jangan
dilakukan secara terpencar-pencar karena akan mengakibatkan pertumbuhan tebu

12

tidak merata sehingga penuaannya menjadi tidak merata dan menyulitkan


pemilihan dan penebangan tanaman yang akan dipanen. Seminggu setelah
dikepras, tanaman diairi dan dilakukan penggarapan (jugaran) sebagai bumbun
pertama dan pembersihan rumput-rumputan. Tujuan penggarapan ini adalah
memperbaharui akar tua dan akar putus diganti akar muda, sehingga mempercepat
pertumbuhan tunas dan anakan. Selain itu tanah menjadi longgar sehingga pupuk
akan dengan mudah masuk kedalam tanah.
2.4.4

Pemeliharaan Tanaman

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman tebu,


yaitu :
1. Penyiraman
Penyiraman tidak boleh berlebihan supaya tidak merusak struktur tanah.
Setelah satu hari tidak ada hujan, harus segera dilakukan penyiraman.
Penyiraman pada tanaman tebu bila sering dilakukan penyiraman terusmenerus justru akan berdampak buruk terhadap tingkat perkembangan dan
pertumbuhan tanaman tebu dan juga akan mempengaruhi tingkat kualitas
rendemen tebu yang dihasilkan. Sebab kita ketahui, bahwa tanaman tebu tidak
begitu membutuhkan banyak air seperti yang kita ketahui.
2. Pemupukan
Dosis pupuk yang digunakan haruslah disesuaikan dengan keadaan lahan,
untuk itu perlu dilakukan analisa tanah dan daun secara bertahap. Pemupukan
dilakukan dengan dua kali aplikasi. Pada tanaman baru, pemupukan pertama
dilakukan saat tanam dengan 1/3 dosis urea, satu dosis SP-36 dan 1/3 dosis KCl.
Pemupukan kedua diberikan 1-1,5 bulan setelah pemupukan pertama dengan sisa
dosis yang ada. Pada tanaman keprasan, pemupukan pertama dilakukan 2 minggu
setelah kepras dengan 1/3 dosis urea, satu dosis SP-36 dan 1/3 dosis KCl.
Pemupukan kedua diberikan 6 minggu setelah keprasan dengan sisa dosis yang
ada.

13

Tabel 2. Dosis pupuk tanaman tebu berdasarkan


jenis tanah dan kategori tanaman

Pemupukan ( Dosis / Jenis Tanah )

14

Pemupukan diberikan 2 kali ;


Penyiangan pemeliharaan got, bumbun dan pengendalian hama penyakit
Prinsipnya sama dengan tanaman pertama.
Pemberian pupuk hayati pada tanaman tebu keprasan sama dengan
tanaman pertama. Yaitu saat usia 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 10 bulan.
3. Penyulaman
Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit tebu yang tidak tumbuh,
baik pada tanaman baru maupun tanaman keprasan, sehingga nantinya diperoleh
populasi tanaman tebu yang optimal. Untuk bibit bagal penyulaman dilakukan 2
minggu dan 4 minggu setelah tanam. Penyulaman dilaksanakan pada baris bagal
2-3 mata sebanyak dua potong dan diletakkan pada baris tanaman yang telah
dilubangi sebelumnya. Apabila penyulaman tersebut gagal, penyulaman ulang
harus segera dilaksanakan.

Gambar 2. Teknik Budidaya Tanaman Tebu Sistem Kairan

15

Gambar 3. Penanaman Bibit Tanaman Tebu Secara Double Row

Gambar 4. Penanaman Bibit Secara Over Lapping

16

Gambar 5. Teknik Penanaman Bibit End to End


4. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dan pembumbunan dilakukan secara bersamaan setelah
tanaman berumur kira-kira 1 bulan, yaitu dengan cara membabat atau mencabut
rerumputan, kemudian tanah di sekitar tanaman dibumbun pada tanaman.
dilakukan sebelum pemupukan, sebelum turun tanah, sampai dengan tebu umur 4
bulan, lahan harus bebas gulma. penyiangan dengan tenaga manusia atau dengan
herbisida.
Pembumbunan / turun tanah
Bumbun I

Umur tanam 1 bulan

Bumbun II

Umur tanam 2 2,5 bulan

Bumbun III

Umur tanam 3 3,5 bulan

Bumbun IV

Umur tanam 4 4,5 bulan

17

5. Pengairan
Selama penggarapan tanah : 1,08 1t/detik , Pada saat tanam : 0,54
1t/detik , Setelah tanam s/d umur 200 hari : 0,27 sampai dengan 0,54 1t/detik.
Penyiraman dilakukan ketika :

Menjelang tanam

1 Kali

Setelah tanam

1 Kali

S/d umur 2 minggu

3 hari 1 kali

Umur 2 4 minggu

1 minggu 2 kali

Umur 4 6 minggu

1 minggu 2 kali

Umur 6 16 minggu

1 bulan sekali ;

6. Kurasan
Kurasan dilakukan untuk memelihara drainase/got yang terdapat pada
lahan tebu yang kita budidayakan. Adapun tujuan dari teknik kurasan ini adalah
untuk mengambil air yang tergenang dalam sekitar areal tanaman tebu yang telah
kita budidayakan.
Waktu kurasan :
a.

Sebelum tanam

b.

Sesudah tanam

c.

Setelah turun tanah I, II, III, IV.

d.

Setelah turun hujan lebat / banjir.

7. Klentek
Merupakan pengelupasan daun kering atau daun yang tidak berguna
untuk meringankan beban, tanaman, memperlancar sirkulasi udara dan
photosynthesa.
Klentek I : Sebelum bumbun terakhir ( 4 5 bln ).
Klentek II : Umur tebu 7 bulan.
Klentek III : Umur tebu 11 bulan (12 bulan sebelum tebang).

18

8. Pemeliharaan Keprasan (Ratoon)


Merupakan tanaman yang tumbuh setelah ditanam pertama ditebang.
Tebu dilahan sawah dikepras 1 kali untuk dapat dipelihara kembali (ratoon 1 )
dengan urutan Sebagai berikut :
Pembersihan lahan bekas tebangsan
Pengeprasan paling lambat 7 hari setelah tebang
Cara pengeprasan dengan cara membongkar guludan sehingga tanah agak
rata, tanaman dikepras pada pangkal batang.
Penyulaman dengan bibit bagal 2 mata tunas
Penyiraman setelah tanaman berumur 2 3 minggu, cara dan interval
penyiraman sama dengan tanaman pertama.
Pembumbunan 3 kali
Bumbun I

: Umur 1-1,5 Bulan.

Bumbun II

: Umur 2-3

Bulan

Bumbun III

: Umur 4-5

Bulan

2.4.5 Panen
Pengaturan panen dimaksudkan agar tebu dapat dipungut secara
efisien dan dapat diolah dalam keadaan optimum. Melalui pengaturan panen,
penyediaan tebu di pabrik akan dapat berkesinambungan dan dalam jumlah yang
sesuai dengan kapasitas pabrik sehingga pengolahan menjadi efisien. Kegiatan
panen termasuk dalam tanggung jawab petani, karena petani harus menyerahkan
tebu hasil panennya ditimbangan pabrik. Akan tetapi pada pelaksanaannya
umumnya petani menyerahkan pelaksanaan panen kepada pabrik yang akan
menggiling tebunya atau kepada KUD. Pelaksanaan panen dilakukan pada bulan
Mei sampai September dimana pada musim kering kondisi tebu dalam keadaan
optimum

dengan

tingkat

rendemen

tertinggi.

Penggiliran

panen

tebu

mempertimbangkan tingkat kemasakan tebu dan kemudahan transportasi dari


areal tebu ke pabrik. Kegiatan pemanenan meliputi estimasi produksi tebu,
analisis tingkat kemasakan dan tebang angkut.

19

2.4.5.1 Estimasi Produksi Tebu


Estimasi produksi tebu diperlukan untuk dapat merencanakan
lamanya hari giling yang diperlukan, banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan
serta jumlah bahan pembantu yang harus disediakan. Estimasi produksi tebu
dilakukan dua kali yaitu pada bulan Desember dan Februari. Estimasi dilakukan
dengan mengambil sampel tebu dan menghitungnya dengan rumus:

P = jbtpk x jkha x tbt x b-bt


P

= Produksi tebu per hektar

Jbtpk = Jumlah batang tebu per meter kairan


Jkha = Jumlah kairan per hektar
Tbt

= Tinggi batang, diukur sampai titik patah ( 30 cm dari pucuk)

Bbt

= Bobot batang per-m (diperoleh dari data tahun sebelumnya)


2.4.5.2 Analisis Kemasakan Tebu
Analisis kemasakan tebu dilakukan untuk memperkirakan waktu

yang tepat penebangan tebu sehingga tebu yang akan diolah dalam keadaan
optimum. Analisis ini dilakukan secara periodik setiap 2 minggu sejak tanaman
berusia 8 bulan dengan cara menggiling sampel tebu digilingan kecil di
laboratorium. Sampel tebu diambil sebanyak 15-20 batang dari rumpun tebu yang
berada minimal 15 meter dari tepi dan 30 baris dari barisan pinggir. Nira tebu
yang didapat dari sampel tebu yang digiling di laboratorium diukur persen brix,
pol dan purity nya. Metode analisis kemasakan adalah sebagai berikut:
(1) Setelah akar dan daun tebu sampel dipotong, rata-rata berat dan panjang
batang tebu sampel dihitung.
(2) Setiap batang dipotong menjadi 3 sama besar sehingga didapat bagian batang
bawah, tengah dan atas. Setiap bagian batang ditimbang dan dihitung
perbandingan beratnya, kemudian dibelah menjadi dua.
(3) Belahan batang tebu dari setiap bagian batang digiling untuk mengetahui hasil
nira dari bagian batang bawah, tengah dan atas. Nira yang dihasilkan
ditimbang untuk diketahui daya perah gilingan
(4) Dari nira yang dihasilkan dihitung nilai brix dengan memakai alat Brix
Weger, nilai pol dengan memakai alat Polarimeter dan Rendemen setiap
bagian batang.

20

(5) Nilai faktor kemasakan (FK) dihitung dengan rumus:

RB - RA
FK = -------------------- x 100
RB
RB = Rendemen Batang Bawah
RA = Rendemen Batang Atas
FK = Faktor Kemasakan, Dimana Jika:
FK = 100 Berarti Tebu Masih Muda
FK = 50 Berarti Tebu Setengah Masak
FK = 25 Berarti Tebu Sudah Masak
Data yang diperoleh digunakan untuk memetakan tingkat kemasakkan
tebu pada peta lokasi tebu sebagai informasi lokasi tebu yang sudah layak untuk
dipanen. Namun demikian prioritas penebangan tidak hanya mempertimbangkan
tingkat kemasakan tebu tapi juga mempertimbangkan jarak kebun dari pabrik,
kemudahan transportasi, kesehatan tanaman dan ketersediaan tenaga kerja.
2.4.5.3 Tebang Angkut
Penebangan tebu haruslah memenuhi standar kebersihan yaitu kotoran
seperti daun tebu kering, tanah dan lainnya tidak boleh lebih besar dari 5%. Untuk
tanaman tebu yang hendak dikepras, tebu di sisakan didalam tanah sebatas
permukaan tanah asli agar dapat tumbuh tunas. Bagian pucuk tanaman tebu
dibuang karena bagian ini kaya dengan kandungan asam amino tetapi miskin
kandungan gula. Tebu tunas juga dibuang karena kaya kandungan asam organis,
gula reduksi dan asam amino akan tetapi miskin kandungan gula.
Penebangan tebu dapat dilakukan dengan sistem tebu hijau yaitu
penebangan yang dilakukan tanpa ada perlakuan sebelumnya, atau dengan sistem
tebu bakar yaitu penebangan tebu dengan dilakukan pembakaran sebelumnya
untuk mengurangi sampah yang tidak perlu dan memudahkan penebangan. Sistem
penebangan tebu yang dilakukan di Jawa biasanya memakai sistem tebu hijau,
sementara di luar Jawa umumnya ..., terutama di Lampung, memakai sistem tebu
bakar.

21

Teknik penebangan tebu dapat dilakukan secara bundled cane (tebu


ikat), loose cane (tebu urai) atau chopped cane (tebu cacah). Pada penebangan
tebu dengan teknik bundled cane penebangan dan pemuatan tebu kedalam truk
dilakukan secara manual yang dilakukan dari pukul 5 pagi hingga 10 malam. Truk
yang digunakan biasanya truk dengan kapasitas angkut 6-8 ton atau 10-12 ton.
Truk dimasukkan kedalam areal tanaman tebu. Lintasan truk tidak boleh
memotong barisan tebu yang ada. Muatan tebu kemudian dibongkar di Cane Yard
yaitu tempat penampungan tebu sebelum giling.
Pada penebangan tebu dengan teknik loose cane, penebangan tebu
dilakukan secara manual sedangkan pemuatan tebu keatas truk dilakukan dengan
memakai mesin grab loader. Penebangan tebu dengan teknik ini dilakukan per 12
baris yang dikerjakan oleh 2 orang. Tebu hasil tebangan diletakkan pada baris ke
6 atau 7, sedangkan sampah yang ada diletakkan pada baris ke 1 dan 12. Muatan
tebu kemudian dibongkar di Cane Yard yaitu tempat penampungan tebu sebelum
giling.

Gambar 6. Tanaman Tebu Siap Giling

22

Pada penebangan tebu dengan teknik chopped cane, penebangan tebu


dilakukan dengan memakai mesinpemanen tebu (cane harvvester). Hasil
penebangan tebu dengan teknik ini berupa potongan tebu dengan panjang 20-30
cm. Teknik ini dapat dilakukan pada lahan tebu yang bersih dari sisa tunggul,
tidak banyak gulma, tanah dalam keadaan kering, kodisi tebu tidak banyak roboh
dan petak tebang dalam kondisi utuh sekitar 8 ha.

2.4.5.4 Perhitungan Rendemen


Hasil perhitungan rendemen dengan sampel tebu untuk analisis
tingkat kemasakan disebut sebagai rendemen sampel. Dua metode perhitungan
rendemen lain adalah perhitungan rendemen sementara (RS) dan perhitungan
rendemen efektif (RE).
Perhitungan rendemen sementara didapat dari nira hasil perahan
tebu pertama di pabrik yang dianalisis di laboratorium. Tujuan perhitungan
rendemen sementara untuk menentukan bagi hasil gula bagi petani secara cepat.
Nilai rendemen sementara didapat dari perkalian antara faktor rendemen (FR)
dengan nilai nira (NN). Nilai nira didapat dari:
NN = Nilai Pol 0,4 (Nilai Brix Nilai Pol) Nilai Brix adalah
persentase bahan kering larut yang ada dalam nira terhadap berat tebu, sedangkan
nilai Pol bagian gula dari Brix yang dipersentasekan terhadap berat tebu. Faktor
Rendemen didapat dari:

23

Rendemen efektif disebut juga rendemen nyata karena perhitungan


rendemen ini memakai nilai berat gula yang telah dihasilkan. Perhitungan
rendemen efektif didapat dari jumlah berat gula yang dihasilkan dibagi jumlah
berat tebu yang digiling dikalikan 100%. Angka rendemen efektif inilah yang
digunakan sebagai nilai resmi rendemen yang didapat.
2.5 Pasca Panen
2.5.1 Pengolahan Tebu Menjadi Gula
Setelah tebu dipanen dan diangkut ke pabrik, selanjutnya dilakukan
pengolahan. Pengolahan tebu menjadi gula putih dilakukan di pabrik dengan
menggunakan peralatan yang menggunakan peralatan yang sebagian besar bekerja
secara otomatis. Beberapa tahap pengolahan, yaitu ekstraksi nira, penjernihan,
penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan pengeringan, pengemasan serta
penyimpanan (Tim Penulis PS, 2000).
Tahap

pertama

pengolahan

adalah

ekstraksi.

Pada

stasiun

penggilingan berlangsung proses ekstraksi yang bertujuan mengekstraksi nira dari


tebu sebanyak mungkin dan menekan sekecil mungkin kehilangan gula dalam
ampas. Tahapan ekstraksi ini sangat menentukan nilai rendemen gula yang akan
dihasilkan, semakin banyak nira yang diekstraksi maka semakin tinggi rendemen
gula yang akan dihasilkan. Pada akhir proses ekstraksi, diperoleh cairan keruh
yang berwarna hijau kecoklatan yang disebut nira mentah. Sebelum diproses ke
stasiun pemurnian, nira mentah disaring agar bebas dari kotoran kasar, kemudian
dipompakan ke timbangan boulogne dan dipanaskan dari 30 C hingga 100 C.
Sebagai sisa penggilingan, diperoleh bagasse sebanyak 36,5 % dari total berat
tebu, dengan kadar sabut sekitar 16 % (Hendrawan, F. 2010).
Tujuan dari pemerahan atau ekstraksi adalah untuk memisahkan
sebanyak mungkin nira yang terkandung di dalam batang tanaman tebu, dengan
demikian diharapkan gula yang dapat diperoleh adalah maksimal. Ekstraksi
dilaksanakan dengan cara melewatkan batang-batang tebu melalui celah-celah
yang terbentuk antara dua atau lebih rol gilingan yang berputar dengan kecepatan
tertentu dan saling berdempetan karena pengaruh tekanan hidrolika yang
dibebankan kepadanya (Kuncara, R. T. 2010).

24

Dalam rangkaian proses pemurnian gula, stasiun pemurnian nira


memegang peranan sangat penting, terutama terhadap kualitas gula produk.
Melalui stasiun pemurnian, sebagian besar bukan gula akan diendapkan di
clarifier sebagai nira kotor, kemudian dibuang dalam padat disebut dengan
bagasse. Bukan gula yang ikut dalam proses kristalisasi akan mempengaruhi mutu
masakan, gula produk dan mutu tetes. Semakin besar jumlah bukan gula yang
terolah akan semakin rendah mutu gula produk, ditunjukkan oleh ukuran
kristalisasi yang terjadi (Santoso BE. 2011).
Nira encer yang masih banyak mengandung air akan dipekatkan di
stasiun penguapan. Proses penguapan dilakukan dengan cara menguapkan air
sebanyak mungkin dari nira, hingga mendekati titik jenuh. Stasiun penguapan
merupakan unit proses yang paling banyak mengkonsumsi uap pada pabrik gula.
Proses penguapan berlangsung pada tekanan rendah (vacuum), dimana semakin ke
belakang tekanan vacuum evaporator semakin tinggi. Uap air nira dapat mengalir
karena adanya tarikan vacuum dari evaporator berikutnya. Sebagaimana diketahui
bahwa tekanan berbanding lurus dengan suhu. Oleh karena itu, semakin ke
belakang tekanan evaporator harus dibuat semakin rendah, agar titik didih nira
semakin rendah sehingga pengentalan berjalan lebih cepat (Winarno, F. G. 2004).
Cairan tebu (nira) yang sudah jernih masih banyak mengandung air.
Sebagian besar air dalam nira ini harus dihilangkan dengan cara penguapan
(evaporasi). Di pabrik, penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa
evaporator yang biasanya terdiri dari rangkaian 4-5 bejana yang bekerja secara
berkesinambungan. Uap yang dihasilkan dari satu bejana digunakan sebagai uap
pemanas bejana berikutnya (Tim Penulis PS, 2000).
Tahap selanjutnya adalah kristalisasi, pada tahap ini digunakan suatu
pan yang bersifat vacuum, yaitu tempat dimana nira pekat hasil penguapan
dipanaskan terus-menerus sampai mencapai kondisi lewat jenuh. Pada kondisi
seperti ini, akan terbentuk kristal. Pengkristalan terjadi dari sebagian sukrosa yang
semula larut, kemudian memisahkan diri dan membentuk kristal (Tim Penulis PS,
2000).
Setelah timbul kristal gula pada pan pemasakan, dalam waktu singkat,
massecuite (campuran kristal gula dengan nira kental) akan diturunkan ke

25

pemutaran. Pemutar itu besar, berotasi, berbentuk tabung silinder dengan sumbu
vertikal yang digerakkan oleh elektromotor. Sumbu ini berputar dengan kecepatan
tinggi di dalam tabung. Massecuite dipompa ketika alat pemutar berputar dengan
lambat, dan ketika pembongkaran selesai, mesin akan kembali berputar secara
cepat, sehingga siklus sebelumnya kembali terjadi dengan cara yang sama.
Putaran harus berputar dengan kecepatan tinggi untuk dapat memisahkan gula
kristal dengan nira kental secepatnya (Santoso BE. 2011).
2.5.2 Mutu Gula
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok dan paling banyak
dikonsumsi oleh masyarakat. Sebagai produk makanan tentunya harus memenuhi
standar mutu yang telah ditetapkan sehingga layak untuk dikonsumsi. Di
Indonesia ada tiga jenis gula yang beredar di pasaran, yaitu gula kristal mentah
(GKM) atau raw sugar yang digunakan sebagai bahan baku industri gula rafinasi,
gula kristal putih (GKP) yang dikonsumsi secara langsung dan gula rafinasi
sebagai bahan baku industri makanan dan minuman. Gula yang kita konsumsi
sehari-hari adalah gula kristal putih secara internasional disebut sebagai plantation
white sugar. GKP dibuat dari tebu yang diolah melalui berbagai tahapan proses,
untuk Indonesia kebanyakan menggunakan proses sulfitasi dalam pengolahan
gula. Kriteria mutu gula yang berlaku di Indonesia (SNI) saat ini pada dasarnya
mengacu pada kriteria lama yang dikenal dengan SHS (Superieure Hoofd Suiker),
yang pada perkembangannya kemudian mengalami modifikasi dan terakhir SNI
01-3140-2001/Rev 2005 (Kuswurj, 2009).
Tabel 3. Syarat Mutu Gula Kristal Putih

26

Penjelasan mengenai kriteria uji syarat mutu gula kristal putih adalah
sebagai berikut:
Polarisasi menunjukkan kadar sukrosa dalam gula, semakin tinggi
polarisasi semakin tinggi kadar gulanya. Batasan minimal kadar pol adalah
99,5 %.
Warna kristal dapat dilihat secara langsung dengan mata, secara kualitatif
dengan cara membandingkan dengan standar dapat diketahui tingkat
keputihan (whiteness) gula. Penggunaan peralatan (spektrofotometer
refleksi) diperlukan untuk pengukuran kuantitatif yang dinyatakan dalam
CT (colour type). Semakin tinggi nilai CT semakin putih warna gulanya.
Untuk gula GKP kisaran nilai CT sekitar 5 sampai 10. Pada penentuan
premi mutu gula warna kristal ini merupakan salah satu tolak ukur utama
yang menentukan.
Warna larutan gula berkisar dari kuning muda (warna muda) sampai
kuning kecoklatan (warna gelap) diukur dengan metode ICUMSA
(International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis),
dinyatakan dalam indeks warna. Semakin besar indeks semakin gelap
warna larutan. Batasan maksimal indeks warna untuk GKP adalah 300 iu.
Besar jenis butir adalah ukuran rata-rata butir kristal gula dinyatakan
dalam milimeter. Persyaratan untuk GKP adalah 0,8 sampai 1,1 mm.
Kadar SO2 gula produk kita berkisar 5 sampai 20 ppm, ini disebabkan
sebagian besar pabrik gula menggunakan proses sulfitasi, sehingga
terdapat residu SO2 seperti pada kisaran tersebut. Adanya residu SO2
menjadi kendala untuk konsumsi industri makanan atau minuman, yang
biasanya menuntut bebas SO2. Kadar SO2 maksimal yang diperkenankan
di Indonesia adalah 30 ppm.
Kadar air adalah jumlah air (%) yang terdapat dalam gula, biasanya
batasan maksimal 0,1%. Gula yang mengandung kadar air tinggi cepat
mengalami penurunan mutu/kerusakan dalam penyimpanan, berubah
warna, mencair dan sebagainya (Kuswurj, 2009).

27

2.5.3 Rendemen
Tujuan utama penanaman tebu adalah untuk memperoleh hasil hablur
yang tinggi. Hablur adalah gula sukrosa yang dikristalkan. Dalam sistem produksi
gula, pembentukan gula terjadi didalam proses metabolisme tanaman. Proses ini
terjadi di lapangan (on farm). Pabrik gula sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat
ekstraksi untuk mengeluarkan nira dari batang tebu dan mengolahnya menjadi
gula kristal (Sutrisno, B.2009).
Hablur yang dihasilkan mencerminkan dengan rendemen tebu. Dalam
prosesnya ternyata rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh
keadaan tanaman dan proses penggilingan di pabrik. Untuk mendapatkan
rendemen yang tinggi, tanaman harus bermutu baik dan ditebang pada saat yang
tepat. Namun sebaik apapun mutu tebu, jika pabrik sebagai sarana pengolahan
tidak baik, hablur yang didapat akan berbeda dengan kandungan sukrosa yang ada
di batang. Oleh sebab itu sering terjadi permasalahan dengan cara penentuan
rendemen di pabrik. Berbagai kasus yang mencuat dan bahkan menyebabkan
konflik antara petani dan pabrik gula adalah karena ketidakjelasan penentuan
rendemen (Sutrisno, B.2009).
Rendemen gula adalah perbandingan berat kristal gula yang diperoleh
dengan berat gula tebu yang digiling. Perlu disadari bahwa sebenarnya tinggi
rendahnya rendemen bukan semata ditentukan oleh pabrik , tetapi juga ditentukan
oleh kualitas tanaman tebu meliputi varitas tebu, budidaya tanaman tebu, waktu
tanam, kemasakan optimal waktu panen, kriteria tebangan, dan waktu angkutan
(Winarno, F. G. 2004).

28

2.6 Hama dan Penyakit Tanaman Tebu


Pengendalian hama dan penyakit dapat mencegah meluasnya serangan
hama dan penyakit pada areal pertanaman tebu. Pencegahan meluasnya hama dan
penyakit dapat meningkatkan produktivitas. Beberapa hama dan penyakit utama
tanaman tebu adalah:
2.6.1 Hama
1. Penggerek Pucuk (Triporyza vinella F)
Penggerek pucuk menyerang tanaman tebu umur 2 minggu sampai
umur tebang. Gejala serangan ini berupa lubang-lubang melintang pada helai daun
yang sudah mengembang. Serangan penggerek pucuk pada tanaman yang belum
beruas dapat menyebabkan kematian, sedangkan serangan pada tanaman yang
beruas akan menyebabkan tumbuhnya siwilan sehinggga rendemen menurun.
Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan memakai insektisida Carbofuran
atau Petrofur yang terserap jaringan tanaman tebu dan bersifat sistemik dengan
dosis 25 kg/ha ditebarkan ditanah.

Gambar 7. Hama Penggerek Pucuk Tanaman Tebu (Triporyza vinella F.)

29

2. Uret (Lepidieta stigma F)


Hama uret berupa larva kumbang terutama dari familia Melolonthidae
dan Rutelidae yang bentuk tubuhnya mem-bengkok menyerupai huruf U. Uret
menyerang perakaran dengan memakan akar sehinga tanaman tebu menunjukkan
gejala seperti kekeringan. Jenis uret yang menyerang tebu di Indonesia antara lain
Leucopholis rorida, Psilophis sp. dan Pachnessa nicobarica. Pengendalian
dilakukan secara mekanis atau khemis dengan menangkap kumbang pada
sore/malam hari dengan perangkap lampu biasanya dilakukan pada bulan
Oktober-Desember. Disamping itu dapat pula dengan melakukan pengolahan
tanah untuk membunuh larva uret atau menggunakan insektisida carbofuran 3G.

Gambar 8. Hama Uret Tanaman Tebu (Lepidieta stigma F.)


3. Penggerek Batang
Ada beberapa jenis penggerek batang yang menyerang tanaman tebu
antara lain penggerek batang bergaris (Proceras sacchariphagus Boyer),
penggerek batang berkilat (Chilotraea auricilia Dudg), penggerek batang abu-abu
(Eucosma schista-ceana Sn), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella
Sn), dan penggerek batang jambon (Sesamia inferens Walk). Diantara hama
penggerek batang tersebut penggerek batang bergaris merupakan penggerek
batang yang paling penting yang hampir selalu ditemukan di semua kebun tebu.

30

Gambar 9. Hama Penggerek Batang Bergaris Pucuk


(Proceras sacchariphagus boyer)

Gambar 10. Hama Penggerek Batang Berkilat (Chilotraea auricilia Dudg)

Serangan penggerek batang pada tanaman tebu muda berumur 3-5


bulan atau kurang dapat menyebabkan kematian tanaman karena titik tumbuhnya
mati. Sedang serangan pada tanaman tua menyebabkan kerusakan ruas-ruas

31

batang dan pertumbuhan ruas diatasnya terganggu, sehingga batang menjadi


pendek, berat batang turun dan rendemen gula menjadi turun pula. Tingkat
serangan hama ini dapat mencapai 25%.
Pengendalian umumnya dilakukan dengan penyemprot-an insektisida
antara lain dengan penyemprotan Pestona/ Natural BVR. Beberapa cara
pengendalian lain yang dilakukan yaitu secara biologis dengan menggunakan
parasitoid telur Trichogramma sp. dan lalat jatiroto (Diatraeophaga striatalis).
Secara mekanis dengan rogesan. Kultur teknis dengan menggunakan varietas
tahan yaitu PS 46, 56,57 dan M442-51. Atau secara terpadu dengan memadukan 2
atau lebih cara-cara pengendalian tersebut.

2.6.2

Penyakit

1. Penyakit Mosaik
Disebabkan oleh virus dengan gejala serangan pada daun terdapat nodanoda atau garis-garis berwarna hijau muda, hijau tua, kuning atau klorosis yang
sejajar dengan berkas-berkas pembuluh kayu. Gejala ini nampak jelas pada
helaian daun muda. Penyebaran penyakit dibantu oleh serangga vektor yaitu kutu
daun tanaman jagung, Rhopalosiphun maidis (Anonymous 1996). Pengendalian
dilakukan dengan menanam jenis tebu yang tahan, menghindari infeksi dengan
menggunakan bibit sehat, dan pembersihan lingkungan kebun tebu.

Gambar 11. Penyakit Mozaik Tanaman Tebu

32

2. Penyakit Busuk Akar


Disebabkan oleh cendawan Pythium sp. Penyakit ini banyak terjadi
pada lahan yang drainasenya kurang sempurna. Akibat serangan maka akar tebu
menjadi busuk sehingga tanaman menjadi mati dan tampak layu. Pengendalian
penyakit dilakukan dengan menanam varietas tahan dan dengan memperbaiki
drainase lahan.

Gambar 12. Penyakit Busuk Akar Tanaman Tebu


3. Penyakit Blendok
Disebabkan oleh bakteri Xanthomonas albilineans dengan gejala
serangan timbulnya klorosis pada daun yang mengikuti alur pembuluh. Jalur
klorosis ini lama-lama menjadi kering. Penyakit blendok terlihat kira-kira 6
minggu hingga 2 bulan setelah tanam. Jika daun terserang berat, seluruh daun
bergaris-garis hijau dan putih.. Penularan penyakit terjadi melalui bibit yang
berpenyakit blendok atau melalui pisau pemotong bibit. Pengendalian dengan
menanam varietas tahan penyakit, penggunaan bibit sehat dan serta mencegah
penularan dengan menggunakan desinfektan larutan lysol 15% untuk pisau
pemotong bibit.

Gambar 13. Penyakit Blendok Tanaman Tebu

33

4. Penyakit Pokkahbung
Disebabkan oleh cendawan Gibberella moniliformis. Gejala serangan
berupa bintik-bintik klorosis pada daun terutama pangkal daun, seringkali disertai
cacat bentuk sehingga daun-daun tidak dapat membuka sempurna, ruas-ruas
bengkok dan sedikit gepeng. Akibat serangan pucuk tanaman tebu putus karena
busuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan 2 sendok
makan Natural GLIO+2 sendok makan gula pasir pada daun-daunan muda setiap
minggu, pengembusan dengan tepung kapur tembaga (1;4:5) atau dengan
menanam varietas tahan.

Gambar 14. Penyakit Pokkahbung Tanaman Tebu

Gambar 15. Penyakit Pokkahbung Tanaman Tebu

34

3. METODE DAN PELAKSANAAN


3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan magang kerja dilaksanakan pada tanggal 07 Juli 2014 sampai
dengan tanggal 07 Oktober 2014 di PT. Rajawali Nusantara Indonesia, Tbk,
(PG. Krebet Baru) Jl. Bululawang No. 10 Malang Jawa Timur. Pelaksanaan
magang kerja dilakukan selama 3 bulan dengan 6 hari kerja per minggu dan 8 jam
kerja per hari mulai pukul 07.00-16.00 WIB dengan 1 jam waktu istirahat.
3.2 Metode Pelaksanaan
Bentuk pelaksanaan kegiatan ini ialah magang kerja di PT.

Rajawali

Nusantara Indonesia, Tbk, (PG. Krebet Baru) Jl. Bululawang No. 10 Malang
Jawa Timur dengan metode yang digunakan meliputi:
1. Observasi lapang
Observasi keadaan umum di PT. Rajawali Nusantara Indonesia, Tbk,
(PG. Krebet Baru) Jl. Bululawang No. 10 Malang Jawa Timur yang
meliputi: lokasi, luas area, struktur organisasi, jumlah tenaga kerja dan
kegiatan produksi yang dilakukan.
2. Partisipasi aktif
Keikutsertaan dalam setiap kegiatan manajemen budidaya yang meliputi:
pengorganisasian pekerja, manajemen penanaman, pengamatan teknik
budidaya, pengolahan pasca panen tanaman budidaya.
3. Diskusi dan wawancara
Diskusi dan wawancara merupakan bentuk pelaksanaan praktek kerja
langsung untuk memperoleh informasi, penjelasan dan pemahaman dari
kegiatan yang dilakukan serta memperoleh keterangan dari pihak instansi
mengenai hal-hal yang ingin diketahui dan dibutuhkan berkaitan dengan
tujuan praktek baik secara langsung maupun tidak langsung.
4. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati dan ikut serta praktek
kerja secara langsung sesuai dengan aktivitas yang sedang berlangsung.

35

3.3 Jadwal Kegiatan Magang Kerja


Kegiatan magang kerja ini telah dilaksanakan selama 3 bulan, pada bulan
Juli Oktober 2014, dengan ketentuan 6 hari aktif kerja dan 8,5 Jam kerja.
Dengan rincian rencana kegiatan sebagai berikut:
Tabel 1. Rencana Jadwal Kegiatan Magang Kerja
No

Waktu

1.

Minggu ke-1

Kegiatan
Pengenalan lahan, staf dan pekerja.
Penjelasan dan pembagian tugas di lapang.
Pengenalan varietas dan teknik produksi tanaman
tebu.

2.

Minggu ke-2

Persiapan lahan dan penanaman bibit:


Meliputi Pengolahan lahan dan Persiapan Media yang
digunakan dalam penanaman tebu. serta penanaman
bibit tebu dan penanaman hasil tanaman tebu.

3.

Minggu ke-3

Pemeliharaan tanaman:
Pengolahan lahan tebu serta proses perawatan
tanaman tebu

Minggu ke-4

Pemeliharaan tanaman:
Pengairan dan perawatan tanaman tebu.

5.

Minggu ke-5

Teknik Penanaman tanaman tebu:


Menanam tanaman tebu yang memiliki varietas yang
unggul serta hasil rendemen yang di dapatkan bisa
optimal.

6.

Minggu ke-6

Pemeliharaan tanaman:
Pengairan

lahan,

penyiangan

gulma,

serta

pengendalian hama dan penyakit tanaman serta


pengamatan hasil pertumbuhan dari tanaman tebu.
7.

Minggu ke-7

Pemeliharaan tanaman:
Pemupukan

lahan,

penyiangan

gulma,

serta

gulma,

serta

pengendalian hama dan penyakit.


8.

Minggu ke-8

Pemeliharaan tanaman:
Pengamatan

lahan,

penyiangan

36

pengendalian hama dan penyakit.


9.

Minggu ke-9

Pemeliharaan tanaman:
Pengamatan

lahan,

pemupukan

lahan,

serta

pembersihan got / parit yang ada disekitar pematang


lahan, penyiangan gulma, serta pengendalian hama
dan penyakit tanaman.

10. Minggu ke-10

Pemeliharaan tanaman:
Pemberian pupuk cair pada tanah, dan juga pemberian
nutrisi tanaman (pupuk cair), penyiangan gulma, serta
pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Seleksi varietas tebu unggul.

11. Minggu ke-11

Proses

penyulaman

tanaman

tebu

yang

mati,

pengairan, pembumbunan, kurasan, serta penyiangan


gulma

disekitar

lahan

tanaman

tebu

yang

di

budidayakan.

12. Minggu ke-12

Proses pemeliharaan tanaman tebu serta dilakukan


proses roguing, keprasan, klentek (pembuangan
tanaman tebu yang dirasa rusak dan tidak layak untuk
di produksi), proses tebang tebu, panen dan pasca
panen tanaman tebu unggul.

13. Minggu ke-13

Pengumpulan data dan Evaluasi hasil magang yang


telah didapat dan pembuatan laporan akhir magang
kerja.

37

Tabel 2. Matriks Kegiatan Magang Kerja di PT. Rajawali Nusantara


Indonesia PG. Krebet Baru Bululawang Malang Jawa Timur

JADWAL KEGIATAN MAGANG KERJA MAHASISWA


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA TAHUN 2014
DI PG. KREBET BARU

BST
PABRIKASI
PTA

OKTOBER
1 2 3 4

LIBUR

TEMPAT

KELOMPOK PROSES PRODUKSI


JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5

TU TANAMAN

LIBUR

KELOMPOK BUDIDAYA
BST
LAB. MIKRO
RAYON
PTA
GILINGAN
CONTOH
MEKANISASI
TU TANAMAN

Mengetahui
Pembimbing Lapang

Karyanto, SP.

38

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pelaksanaan Magang Kerja
Pelaksanaan kegiatan magang kerja dilakukan di PT. Rajawali
Nusantara Indonesia I Unit PG. Krebet Baru Bululawang Malang Jawa Timur.
Salah satu instansi pemerintah yang bergerak dalam sektor industry gula di
Indonesia, dengan berbagai aktifitas di bidang pertanian yang sudah dilakukan,
terutama budidaya tanaman tebu baik itu tebu varietas masa awal, masa tengah,
maupun masa lambat. Tanaman tebu memang menjadi salah satu komoditas
unggul yang dikembangkan di PG. Krebet Baru, hal ini mengingat dari jumlah
konsumsi masyarakat Indonesia akan semakin banyaknya permintaan akan
kebutuhan gula dalam negeri. Selanjutnya tanaman tebu itu sendiri akan menjadi
salah satu topik yang akan dibahas dalam laporan magang kerja ini.

4.1.1

Profil Perusahaan PG. Krebet Baru

PG. Krebet Baru Malang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda,


kemudian dibeli oleh Oei Tiong Ham Concern (OTHC) pada tahun 1906. Pada
masa perang, pabrik mengalami kerusakan parah sehingga tahun 1947 pabrik
berhenti beroperasi. Petani yang semula menggiling tebu di pabrik, mengalihkan
penggilingannya ke pengolahan tebu secara tradisional yang menghasilkan gula
merah. Atas desakan IMA PETERMAS (Indonesia Maskapai Andal Koperasi
Pertanian Tebu Rakyat Malang Selatan), pada tahun 1953 diadakan perbaikan
oleh OTHC yang bekerjasa dengan Bank Industri Negara sehingga pabrik dapat
kembali beroperasi dengan nama baru yaitu PG. Krebet Baru. Kualitas gula di
PG. Krebet Baru terus ditingkatkan dari High Sugar (HS) menjadi Superior High
Sugar (SHS) pada tahun 1957.

39

Gambar 16. Profil Perusahaan PG. Krebet Baru.

Tahun 1963 Perusahaan dan pengelolaan atas harta kekayaan OTHC


diserah terimakan kepada Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan
Pengawasan (P3) atau yang sekarang disebut sebagai Departemen Keuangan RI.
Tahun 1964 dibentuk Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN)
Rajawali Nusantara Indonesia (PT. Rajawali Nusantara Indonesia) yang
merupakan BUMN. PT. Rajawali Nusantara Indonesia ini terdiri dari beberapa
unit usaha dan salah satunya adalah unit PG. Krebet Baru Kab.Malang.
Tahun 1974 PG. Krebet Baru menerima penambahan modal dalam negeri
dari pemerintah yang digunakan untuk perbaikan dan penggantian mesin sehingga
kapasitas giling meningkat dari 1600 TDC menjadi 2.000 TDC. Tahun 1976
dibangun pabrik gula baru sehingga pabrik gula lama disebut sebagai PG Krebet
Baru I dan yang baru sebagian PG Krebet Baru II. Tahun 1982 kapasitas giling
PG Krebet Baru I 2.800 TDC sedang PG Krebet Baru II 3.600 TCD. Tahun 2009
dilakukan perbaikan dan gantian mesin di PG. Krebet baru I sehingga kapasitas
giling PG. Krebet Baru I menjadi 6.500 TCD sedang PG Krebet Baru II menjadi
5.500 TCD.
Untuk meningkatkan pelayanan kepada petani tebu rakyat yang semakin
berkembang. PG. Krebet Baru terus menerus melakukan perbaikan dan investasi
hingga kapasitas giling PG. Krebet Baru pada tahun 2006 mencapai 8500 TCD
(Ton Capacity Daily) dan dikembangkan hingga tahun 2007 mencapai 10.000

40

TCD dengan rincian PG. Krebet Baru I sebesar 5200 TCD dan PG. Krebet Baru II
sebesar 4800 TCD. Penambahan kapasitas terus diupayakan target terpasang pada
tahun 2009 hingga tahun 2014 sekarang ini total sebesar 12.000 TCD.
4.1.2

Letak Geografis, Keadaan Iklim, Dan Keadaan Tanah

PG. Krebet Baru terletak pada 1120 , 37, 30 LS di Desa Krebet,


Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang Jawa Timur. Sekitar 13 Km arah
selatan kota Malang, yang dibatasi oleh 4 desa yaitu :
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Senggrong.
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Bakalan.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bakalan.
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Lumbangsari dan Desa Gading.

Menurut klasifikasi iklim oleh Oldeman dan Smith Ferguson, iklim di


daerah ini tergolong agak basah atau zona C dengan curah hujan rata-rata 2077
mm per tahun. Bulan basah jatuh pada bulan Januari sedangkan bulan kering jatuh
pada bulan Agustus. Suhu minimum rata-rata 210 C dan suhu maksimum 330 C.
Wilayah kerja PG. Krebet Baru terletak pada ketinggian tempat 300 600 m dpl.
Berdasarkan tingkat topografinya sangat beragam dari dataran sampai perbukitan
dan pegunungan dengan kemiringan 3 8 %. Pada umumnya jenis tanah adalah
latosol, mediteran, sedikit regosol dan alluvial. pH tanah berkisar antara 5,6 6,5.

4.1.3

Wilayah Kerja PG. Krebet Baru

Wilayah kerja PG. Krebet Baru dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :


a. Wilayah Historis
Ialah wilayah kerja yang telah ada sejak berdirinya PG. Krebet Baru yang
dicirikan dengan adanya jaringan lori dan sebagian besar adalah tanah
sawah. Wilayah kerja historis ini meliputi Kecamatan Bululawang dan
Kecamatan Gondanglegi.

41

b. Wilayah Ekspansi
Ialah wilayah kerja setelah adanya pengembangan PG Krebet Baru tahun
1976. Wilayah ekspansi terdiri dari 15 Kecamatan dan 24 Desa yang
tersebar di daerah Malang Raya.
Wilayah kerja PG. Krebet Baru hingga saat ini dibagi menjadi 4
rayon yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala rayon atau sering
disebut SKK (Sinder Kepala Kebun).

Tabel 1. Luas areal wilayah kerja di PG. Krebet Baru Malang musim
tanam tahun 2013-2014 Sampai dengan periode 31 Mei 2014 (Sie. Tata
Usaha Tanaman PG. Krebet Baru Tahun 2014).

Rayon

Timur

Afdeling

Luas (Ha)

Sumbermanjing Wetan

1668,00

Turen

1280,00

Wajak

1365,00

Tirtoyudo

769,00

Ampelgading

315,00

Dampit

1359,00

Jumlah Rayon Timur

Rayon

UTARA

Afdeling

Luas (Ha)

Bululawang

2615,30

Dau

740,00

Lowokwaru

291,29

Pakisaji

185,00

Lawang

305,00

Singosari

1035,00

Jumlah Rayon Utara

Rayon

6756,00

Afdeling

5171,59

Luas (Ha)

42

TENGAH

Gondanglegi I

2884,00

Gondanglegi II

1431,05

Pagelaran

1793,00

Jumlah Rayon Tengah

Rayon

SELATAN

6108,05

Afdeling

Luas (Ha)

Pagak

1162,00

Bantur

1095,00

Sumbermanjing Kulon

615,00

Donomulyo

128,00

Gedangan

1081,00

Jumlah Rayon Selatan

4081,00

Tebu Sendiri (TS)

118,79

TOTAL

22235,43

Luas wilayah kerja PG. Krebet Baru hingga bulan Mei 2014 seluas
22235,43 ha yang tersebar di Kabupaten dan Kota Malang. Wilayah kerja PG.
Krebet Baru dibagi menjadi 4 rayon, yaitu rayon timur meliputi Sumbermanjing
Wetan, Tirtoyudo, Turen, Wajak, Ampelgading, Dampit, Rayon Utara meliputi
Bululawang, Lowokwaru, Dau, Lawang, dan Singosari. Rayon Tengah meliputi
Gondanglegi, dan Pagelaran. Rayon Selatan meliputi Pagak, Bantur, Donomulyo,
Gedangan. Dari 4 Rayon yang ada, rayon tengah yang memiliki luasan yang
terluas, yakni 6068,05 ha (Tabel 1.). Dalam pelaksanaan kegiatan, Kepala Bagian
Tanaman didukung oleh 4 sie dibawahnya, yaitu Sie. Tebang Angkut, Sie. Bina
Sarana Tani, Sie. Mekanisasi,dan Sie. Laboratorium Kultur Jaringan dan Tata
Usaha Tanaman.

43

4.2

Struktur Organisasi PT. Rajawali I PG. Krebet Baru

Perusahaan Gula (PG) Krebet Baru merupakan Bagian dari PT.


Rajawali I yang bekedudukan Di Surabaya. PT. Rajawali I merupakan anak
perusahaan dari PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang berkantor Di
Jakarta. PG Krebet Baru Memiliki 2 Pabrik gula yaitu PG. Krebet Baru I (KBI)
dan PG. Krebet Baru II (KBII). PG. Krebet Baru dipimpin oleh Seorang General
Manager

dalam

pelaksaaanaan

kegiatan

kerjanya

kemudian

akan

mempertanggung jawabkan kegiatan kepada Direksi PT. Rajawali I yang berada


Disurabaya.

Gambar 17. Struktur Organisasi PG. Krebet Baru.

General Manager dalam pelaksaanaan kerjanya dibantu oleh beberapa


kepala bagian yang meliputi Kabag pabrikasi KB I, Kabag pabrikasi KB II, Kabag
Tanaman, Kabag instalasi, kabag keuangan dan administrasi, kabag SDM dan
Umum. Kemudian setiap kabag akan mempertanggung jawabkan kerja mereka
kepada General Manajer. Berikut fungsi dan lingkup kerja yang ada di PG. Krebet
Baru;

44

a. General Manager
General manager memiliki fungsi untuk memimpin dan mengelola pabrik
secara keseluruhan, sesuai dengan kebijakan direksi dan melakasanakan
keputusan yang telah ditetapkan oleh PT. Rajawali I Surabaya. Seorang
General manager memiliki tugas untuk merumuskan sasaran dalam rangka
memenuhi tujuan yang telah ditetapkan direksi, membuat strategi untuk
mencapai sasaran perusahaan, membantu direksi dalam penyusunan rencana
jangka panjang perusahaan, melaksanakan kebijakan direksi dalam bidang
keuangan, personalia produksi, teknik dan umum serta menegakan disiplin
kerja karyawan. Semua tugas-tugas tersebut akan dipertanggung jawabkan
kepada direksi PT. Rajawali I
b. Kabag Pabrikasi
PG. Krebet Baru memiliki dua pabrik gula yakni pabrik gula Krebet baru
I(KB I) dan pabrik gula Krebet Baru (KB II), setiap pabrik gula yakni KB I
dan KB II dipimpin oleh Kepala bagian Pabrikasi. Tugas dari kepala bagian
ialah membuat rencana kegian produksi, melaksanaakan rencana kegiatan
produksi yang telah disetujui oleh General Manager, melaksanakan kegiatankegiatan teknik operational dalam bidang pabrikasi, mengendalikan dan
mengawasi proses seperti mutu, penimbangan dan pembungkusan gula agar
targert produksi dapat terpenuhi, mengusulkan perubahan atau perbaikan alat
yang bekaitan dengan bagian pabrikasi, menjaga kelancaran proses pabrikasi,
melakukan pengawasan terhadap nilai rendemen produksi serta daftar bagi
hasil gula petani.
c. Kabag tanaman
Kepala bagian tanaman memiliki berfungsi melaksanakan kebijakan yang
dibuat oleh direksi dan ketentuan General Manager. Kepala bagian tanaman
bertugas membuat rencana pengawasan dan memimpin bagian tanaman untuk
mencapai tujuan yang telah dibuat perusahaan. Tugas yang dilaksanakan
kepala bagian tanaman mengatur hal-hal yang berkaitan dengan ketersediaan
bahan baku yakni tebu untuk disuplay ke pabrik, perencanaan teknik
budidaya, pengawasan dari mutu bahan baku, memimpin dan mengelola
bidang pertanian yang meliputi kebun percobaan, tanaman hingga tebang

45

angkut. Kepala bagian melakukan pembagaian tugas dalam hal pengadaan


areal tebu, cara angkut serta penyuluhan. Sehingga dalam pelaksanaan
tugasnya kepala bagian tanaman dibantu oleh Kepala Rayon, Sinder, PLPG
dan PTA. Berikut merupakan tugas dari bagian Tanaman;

Gambar 18. Struktur Organisasi Bagian Tanaman.

Kepala Rayon
Bagian tanaman mengelola bahan baku tebu yang berasal dari petani yang
tidak dimiliki oleh pabrik sendiri. Sehingga agar suplay tebu ke PG dapat
berjalan dengan baik maka dibagilah wilayah pertanaman tebu yang mana
setiap wilayah atau Rayon dipimpin oleh kepala rayon. Kepala rayon bertugas
untuk melakukan pengawasan terhadap supplay tebu yang ada diwilayah
sehingga dapat dibuat laporan yang selanjutnya akan dibuat untuk dilaporkan
kepada kepala bagian tanaman. Sehingga kepala bagian tanaman dapat
membuat dan menentukan jumlah SPTA yang harus dikeluarkan untuk setiap
wilayah.
Sinder kebun wilayah
Sinder kebun wilayah bertanggung jawab atas pengelolaan wilayah tebu
rakyat pada tiap-tiap afdeling dengan dibantu oleh petugas lapang. Sinder
kebun wilayah dibagai menjadi 2 yakni Sinder kebun wilayah TS(tebu

46

sendiri) dan Sinder kebun wilayah TR( tebu rakyat)Sinder kebun wilayah
memiliki tugas untuk memenuhi jumlah pasokan tebu dari wilayah kerjanya
sesuai dengan target yang ditetapkan oleh kepala rayon tanaman. Tugas-tugas
lain yang dilaksanakan oleh sinder kebun wilayah antara lain mengendalikan
pelaksanaan kredit tebu rakyat intensifikasi (TRI) diwilayah atau afdelingnya,
mengelola dan memantau kinerja dari petugas lapang diwilayahnya, dan
melakukan pembinaan atau penyuluhan kepada petani dibidang usaha tani
tebu rakyat sehingga terjalin kerjasama yang kuat antara mitra dengan PG.
PLPG
Pengawas lapang Pabrik Gula (PLPG) betugas untuk memenuhi dan
mencari pasokan tebu sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan oleh
sinder kebun wilayah dari wilayah kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
PLPG dibagi atas 2 jenis PLPG krebet baru. Yaitu PLPG TS (tebu sendiri)
dan PLPG TR (Tebu Rakyat). PLPG TS dibawah kordinasi SKW TS (Sinder
Kebun Wilayah Tebu sendiri) bertugas untuk melakukan pengelolaan
budidaya lahan pembibitan sesuai dengan baku teknis yang ditetapkan oleh
kabag tanaman hingga panen bibit. Selain itu PLPG TS juga mencari lahan
untuk disewa sebagai kebun bibit yang berguna untuk memenuhi kebutuhan
petani TRI dalam hal bibit.
PTA
Pengawas tebang angkut (PTA) bertugas untuk melakukan pengawasan
mutu dari bahan baku yang akan dikirim ke pabrik, mutu bahan tersebut harus
sesuai dengan MBS (manis, bersih dan segar) dan melakukan pengecekan ke
lapang untuk memastikan tebu yang akan dikirim sudah layak untuk panen.
PTA memiliki wewenang untuk mengeluarkan Surat Perintah Tebang Angkut
(SPTA) dan mengatur pembagian areal penerima SPTA sehingga keteraturan
antrian truk dapat tercipta.
Kepala Seksi BST, Mekanisasi Dan Tata Usaha Tanaman
Kepala Seksi pada bagian tanaman berfungsi sebagai unit yang cukup
penting dalam memperlancar kegiatan kerja dari bagian tanaman. Unit kerja
seperti BST bertugas untuk melakukan penyediaan bibit serta sarana yang
dapat menunjang dari kegiatan budidaya tebu, serta merancang kebutuhan

47

biaya dalam RAK (Rancangan Anggara Kebun). Pada seksi mekanisasi


bertugas membantu dalam mempermudah usaha budidaya tebu terutama dari
segi kebutuhan pengolahan tanah (penyediaan traktor) yang akan ditanami
tebu, serta didalam PG sendiri berfungsi sebagai sarana penyedia angkutan
tebu berupa lori dan melakukan pendataan berupa Mapping luasan areal yang
mendaftarkan diri sebagai mitra PG.Krebet Baru. Sedangkan, Tata usaha
tanaman bertugas sebagai perancangan anggaran yang berkaitan dengan
teknis usaha tebu yang dilakukan oleh mitra yang tergabung dalam koperasi
dibawah naungan PG.Krebet Baru dan menyusun anggaran untuk
pengembangan dalam penyediaan bibit dari kultur jaringan.
Kabag. Instalasi
PG.Krebet Baru memiliki dua kepala Bagian Instalasi yaitu kepala bagian
instalasi krebet baru I dan kepala instalasi Krebet Baru II. Kedua kepala
bagian instalasi tersebut memiliki tugas dan wewenang yang sama, hanya
berbeda tempat unit kerjanya. Tugas kepala bagian instalasi adalah membuat
rencana kerja pada bagian teknik dan menjalankan rencana kerja tersebut
setelah disetujui oleh General Manager, melaksanakan pemeliharaan dan
reparasi

mesin

dan

peralatan

pabrik

sehingga

siap

dioperasikan,

mempertahankan operasi dan peralatan pabrik untuk menjaga continuitas


bahan guna memenuhi kebutuhan pabrikasi, bekerjasama dengan kepala
bagian tanaman melakukan pengolahan, pemeliharaan, dan reparasi pompa,
lori loko, traktor dan memberikan semua laporan kegiatan teknik dan
anggaran belanja kepada general manager.
Kabag keuangan dan administrasi
Kepala bagian keuangan dan administrasi bertugas melakukan penyusunan
rancangan anggaran yang akan diusulkan kepada direksi, merencanakan
anggaran keuanagan kemudian mengawasi realisasi dari anggaran, serta
melakukan analisa jika terjadi penyimpangan. Melaksanakan penerimaan,
pengeluaran dan penyimpanan dana perusaahaan. Melaksanakan pengelolaan
data akuntasi agar dapat menghasilkan informasi keuangan bagi pihak yang
memerlukan.

48

Kabag SDM dan Umum


Kepala bagian SDM dan Umum bertugas membuat dan menjalankan rencana
kerja dan kebijakan dibidang SDM dan umum yang ditetapkan general
manager antara lain menetapkan rencana anggaran bagian SDM dan umum,
melaksanakan perekrutan pekerja berdasarkan persaratan yang diberikan tiap
bagian dan mengusulkan promosi karyawan non staf ke staf.
4.3

Studi Produksi Di PT. Rajawali I PG. Krebet Baru

Studi Produksi ialah kegiatan pengolahan tebu menjadi gula yang


dilakukan setelah penebangan tebu sampai tebu berada dimeja tebu dan siap
diproses lebih lanjut. Tebu sebelum memasuki pabrik terlebih dahulu harus
melewati pos. Pos Gawang bertujuan untuk memeriksa kebersihan tebu sebelum
masuk pabrik. Kemudian Pos Gawang juga bertugas dalam memeriksa mutu
kelayakan tebu secara fisik apakah tebu yang dikirim tersebut telah memenuhi
mutu standart MBS (Manis, Bersih, Segar) yang telah ditetapkan oleh pihak
Managemen PG. Krebet Baru
4.3.1 Pra-Panen
Pra-panen merupakan bagian yang menentukan seberapa besar potensi dan
mutu dari suatu produk yang akan dipanen seperti halnya dengan tanaman tebu.
Pada tahapan ini kegiatan pra panen dimaksudkan untuk mengetahui potensi dari
tebu dari lahan apakan sudah layak untuk ditebang. Pada tahapan pra panen
tanaman tebu, kegiatan untuk menentukan potensi kemasakan tanaman tebu
dengan melakukan berbagai kegitan analisa yang dilakukan oleh orang-orang
bagian tanaman. Untuk menentukan layak atau tidaknya tebu untuk dipanen maka
ada beberapa tahapan analisa antara lain sebagai berikut:
a. TAKSASI
Taksasi bertujuan untuk mengetahui jumlah produksi per hektar dalam suatu
kebun sehingga diperoleh data jumlah bobot/berat tebu diperkirakan yang akan
ditebang pada saat waktu panen. Ini berkaitan dengan berapa hari giling yang
harus diperlukan untuk memanen tebu secara menyeluruh secara efektif dan
efisien, sebelumnya harus ditentukan terlebih dahulu kapasitas giling tebu dalam
satu hari dari pabrik. PG.Krebet Baru melakukan taksasi melalui bagian divisi

49

tanamannya melakukan taksasi yang terbagi atas taksasi maret, taksasi agustus
dan taksasi desember serta melakukan taksasi Cross.
Taksasi maret bertujuan untuk mengetahui besarnya jumlah produksi dalam
jumlah hektar dengan diketahui tersebut maka perencananan awal giling dan akhir
giling dapat dilakuakn dengan benar/tepat. Perhitungan pada taksasi tebu dapat
dilakuakan dengan menggunakan rumus:

Produksi/HA= Jumlah Batang x Tinggi batang x berat batang


per meter x Faktor Juring.
Faktor juring ada ketentuan untuk faktornya seperti pada tabel dibawah ini :
Tabel 2. Tabel Juring
Panjang Juring

Pucuk Ke Pucuk Got

Jumlah Juring

(PKP)
8 Meter

110 meter

0,1

1200

10 Meter

110 meter

0,1

900

8 meter

105 Meter

0,1

1100

Taksasi agustus bertujuan untuk mengetahui sisa atau banyaknya


tegakan tebu yang masih berdiri sehingga dapat memprediksi ulang jumlah bahan
baku yang disuplay ke pabrik yang kemudidan mempengaruhi waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan giling. Taksasi desember bertujuan untuk
mengetahui potensis tebu yang akan digiling untuk musim giling selanjutnya.
Pada taksasi ini dimaksudkan untuk mengetahui pupuk yang harus diberikan guna
mendukung pertumbuhan tanaman tebu secara optimal dan mengetahui tangkat
serngan OPT sehingga dapat diambil keputusan yang tepat dalam penangannya.
Cros taksasi berguna untuk mengkaji ulang hasil dari kegiatan taksasi, pegechekan
kebenaran taksasi perlu dilakukan dengan menukar wilayah. Waktu cros taksasi
dilakuakan ketika seluruh areal yang mencakup pertanaman tebu yang telah
bermitra dengan pabrik telah selesai dilakukan taksasi.
Kegiatan taksasi dilakukan dengan pengukuran lahan, sebelumnya
dilakukan persiapan alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran seperti tali

50

yang telah memiliki panjang 10 meter, counter untuk penghitung jumlah tebu,
penggaris untuk menghitung tinggi tebu dan jangka sorong untuk mengukur
diameter batang tebu. Pengukuran lahan bertujuan untuk mengetahui luasan lahan
sehingga dapat ditentukan jumlah leng (juring tebu) sehingga mempengaruhi
banyaknya sample yang akan diambil serta penentuan jumlah angka factor yang
akan digunakan. Kemudian melakukan perhitungan jumlah batang dengan sample
sesuai dengan kriteria yakni rata-rata baik tinggi maupun besarnya batang
mewakili pada leng (juring) yakni diameter, panjang, tidak mati dan bukan
sogolan.Selanjutnya dilakukan pengambilan sampling dengan menghitung jumlah
batang secara zig-zag (sudut menyudut) yang diperoleh data mewakili yang
dihitung.
Data yang diambil sebanyak 10-20 juring dan dirata-rata menjadi data
yang akan diinputkan. Sample yang didapatkan diukur dengan meteran atau
bamboo dengan diameter 10 cm dan panjang 3 meter. Tebu yang diukur dicari
yang mewakili, kemudian diukur diameter dengan menggunakan jangka sorong.
Untuk tebu yang diperkirakan untuk ditebang dalam waktu dekat dapat dilakukan
perhitungan ruas fungsi dari perhitungan ruas untuk mengetahui umur tebu
umumnya tebu yang layak tebang memiliki paling sedikit 20 ruas. Tebu yang
diukur tersebut diambil sebagai sample dengan jumlah 5 sampai 10 sample. Hasil
tebu yang telah diukur kemudia didipotong pada ruas paling bawah selanjutnya
dipotong sama panjang dengan tiga bagian (atas, tengah dan bawah) kemudian
ditimbang dengan timbang. Hasil dari kegiatan tersebut kemudian dicatat didalam
blanko taksasi yang kemudian akan dicari tahu nilainya dengan menggunakan
rumus taksasi. Sample tebu yang telah didapat kemudian dibawa untuk dilakukan
analisa pendahuluan.
b. Analisa Pendahuluanan
Analisa ini digunakan untuk mengetahui nilai dari nira yang terkandung
didalam tebu analisa yang dilakukan berupa perhitungan brix, pool dan suhu, brix
merupakan angka yang didapat dari pembaca brix meter yang diketahui nilai nira
yang masih menjadi satu dengan padatan sedangkan untuk pool merupakan nilai
yang didapatkan dari pembacaan alat poolarimeter dari nira yang telah terpisah
dari padatan setelah dicampur dengan larutan pemisan padatan cairan form A dan

51

form B kemudian ketika telah didapatkan nilai-nilai tersebut dapat diketahui


kandungan atau nilai rendemen yang ada didalam tebu. Analisa pendahuluan ini
dilakukan pada Lab.gilingan contoh karena untuk analisa ini diperlukan mesin
untuk mengeluarkan nira dari tebu.
Teknis dari kegiataan digilingan contoh yang pertama melakukan
pemotongan sample tebu yang sama panjang dengan membagi menjadi 3 bagian
batang yakni batang atas, batang tengah dan batang bawah. Selanjutnya setiap
bagian batang diambil nilai brixnya dengan menggunakan brixmeter kemudian
tiap bagian batang tadi ditimbang berarnya penimbangan berat dari batang
sebaiknya dikelompok menjadi tiga bagian yakni berat batang atas,berat batang
tengah dan berat batang bawah selanjutnya batang tebu tersebut digiling dengan
menggunakan crasser penggilingan harus benar-benar menghilangkan air sehingga
untuk penggilingan batang tebu ini pengulangan penggilingan dilakuakn sebanyak
3 kali hingga nira sudah keluar semua. Nira yang telah diperas dengan
menggunakan Craseer dimasukan kedalam wadah plastic lalu sample nira diukur
beratnya dengan hasil ukur dari nira dikurangi berat wadah nira.kemudian
dilakukan pengukuran suhu dengan menggunakan termoter tangan diletakan
selama 5 menit.
Pengambilan nilai brix dari sample kembali dilakukan untuk mengetahui
perbedaan yang terlihat antara sebelum dan sesudah gili apakah ada penurunan
brix atau tidak. Pada tahapan akhir sample nira dilakukan pencarian nilai pool
dengan poolari meter sebelumnya ambil sample nira sebanyak 50 ml kemudian
masukan form A sebanyak 1 ml dan form B sebanya 1,5 ml form A ialah larutan
NaOH dan form B ialah terdiri (AL2(SO4)3) fungsi dari memaskan zat tersebeut
agar larutan yang berupa cairan namun pada dapat terpisah dari niranya kemudian
dimasukan kedalam tabung reaksi sambil disaraing dengan kertas saring lalu
ditunggu hingga nira tersaring dengan merata.setelah didapatkan nira yang cukup
banyak barulah dimasukan kedalam pool meter. Pembacaan pool meter manual
memerlukan kemampuan penglihatan yang baik serta konsentrasi yang bagus hal
ini dikarenakan pool meter manual memiliki 2 teropong yang atas teropong nilai
pool dan yang dibawah untuk menentukan nilai pool berupa bayangan (hitam dan
jelas).

52

Nilai pool yang sebenarnya dapat terlihat bila hasil dari peneropongan pada
teropong kedua terlihat seperti gerhana matahari yaitu samar-samar kemudian
nilai baru dapat dilihat pada teropong satu. Kemudian hasil-hasil pengukuran
tersebut dicatat didalam blanko Potensi Kebun seperti pada lampiran 4 kemudian
dicari hasil Berdasarkan kegiatan tersebut didapatkan nilai berupa Angka
Rendemen (R), nilai harkat kemurnian (HK), nilai nira (NN), faktor kemasakan
(FK), Koefisiensi peningkatan (KP) dan koefisiensi daya tahan (KDT). Kemudian
untuk mendapatkan hasil dari nilai yang sebenarnya digunakan rumus-rumus
sebagai berikut:
a. Brix Koreksi = Brix kotor x Table suhu C
b. Pool % =
c. Hasil Bagi kemurnian (HK %) =
d. Nilai Nira (NN) = pool% - (0.4 x (Brixkoreksi pool%)
e. Rendemen = NN x FP
f. Penjelasan : R = Rendemen
NN= Nilai Nira
FP = Faktor Perahan
g. Faktor Kemasakan(FK) =

x 100

Penjelasan: FK = Faktor Kemasakan


RB = Rendemen Batang Bawah
RA = Rendemen Batang Atas
FK = 100, Berarti Tebu Masih Muda
FK = 50, Berarti Tebu Setengah Masak
FK = 25, Berarti Tebu Sudah Masak.

53

4.3.2 Manajemen Produksi PG. Krebet Baru


a. Manajemen Penerimaan Tebu
Menunju Pos
Gawang (Pos 1)

TARA (POS 6)

Menuju Ke
timbangan Bruto
(POS2)

ARI (POS 5)

Register (POS 3)

Bagian rafaksi
(POS 4)

Tebu-tebu yang diangkut mengunakan Lori dan menggunakan truk


sebelum masuk kedalam bagian pengolahan akan melewati beberapa proses
penerimaan tebu seperti gambar diatas. Tebu yang akan masuk akan melewati pos
1, pos ini adalah bagian terpenting karena pada bagian ini tebu dinilai secara
kwalitas untuk layak digiling atau tidak. Pada pos ini penilaian dilakukan secara
manual dengan visual dan pengambilan nilai BRIX dengan menggunakan
Handbrix (pada gambar 4). Pada pos ini dilakuakan pencatatan registrasi SPTA
yakni waktu tebu masuk tidak boleh melebihi jam yang telah tertera. Jika tebu
yang masuk tidak memenuhi dari syarat-syarat tersebut maka tebu yang diangkut
tidak dapat digiling dan truk yang membawa tebu tidak mendapat surat perintah
bongkar muat pada pos selanjutnya.

Gambar 19. Pemeriksaan Mutu Tebu Di Pos 1 (Pos Gawang).

54

Tebu yang lolos dari penilai dari POS 1 akan menuju ke POS timbangan truk
yang telah lolos dari pos 1 mendapatkan nomor register dan pencatatan berat bruto
muatan berupa surat perintah bongkar muat (SPBM) untuk mengantri pada pabrik
krebet baru 1 (KB1) atau krebet baru 2 (KB2). Kemudian truk mengantri di
emplasement sesuai dengan register yang didapat. Selanjutnya truk menuju pabrik
untuk memasukan tebu ke meja giling. Sebelum truk bongkar muat SPBM
diberikan ke pada petugas yang ada di POS 3.

(a)

(b)

Gambar 20: a) Pencatatan berat Bruto Di pos 2; b) Pemberian SPBM.

Pada pos 3 dilakukan verifikasi pada pos ini mengimput data meja tebu yang
akan digunakan untuk memuat dari truk sesuai dengan nomor meja tebunya
(gambar 5). Sistem antrian yang ada di masing-masing PG adalah FIFO (First In
First Out), dimana tebu yang datang lebih dahulu ke pelataran pabrik akan digiling
lebih dahulu juga.

55

Gambar 21. Pemberian Nomor Register (Nomor Sampel) Tebu Pada Pos 3.

Selanjutnya data di kirimkan pada pos rafaksi (pos 4) pada pos ini dilakukan
pengecekan kebersihan tebu dan pemberian penalty susuai dengan ketentuan
pelanggaran dari kwalitas MBS pada pos ini penilaian lebih menyeluruh bila
dibandingkan pada pos 1 karena dipos ini bentuk fisik dari tebu tebu dan non-tebu
akan benar-benar terlihat dengan jelas.

Gambar 22. Pengecekan Kualitas Mutu Tebu Pada Pos 4.

Adapun fungsi utama dari Pos 4 (Pos Rafaksi / Pos Meja Tebu) adalah
PG.Krebet Baru menerima tebu dari berbagai rayon, dan tiap-tiapnya dibagi
dalam beberapa afdeling dimana didalam afdeling terdapat banyak kelompok yang
mengirimkan hasil tebangan tebu ke Pabrik untuk dilakukan proses ekstraksi.
Untuk meningkatkan hasil ekstraksi gula sehingga mendapatkan banyak gula tidak
hanya berpatokan pada tingkat rendemen saja namun, kebersihan dari bahan baku

56

merupakan syarat yang harus dipenuhi apabila tidak menjaga dari kebersihan
bahan baku maka hasil ekstaksi gula yang didapatkan sedikit karena bahan baku
yang kotor. Kebersihan tebu sangat penting diperhatikan karena benda-benda
yang tidak bernilai ekonomis (selain batang tebu) akan menurunkan kadar gula.
PG krebet baru menerima tebu dengan mutu MBS yaitu Manis, Bersih dan
Segar. Manis dinyatakan manis ketika sudah melalui analisa pendahuluan oleh
Gilingan contoh, nilai dari brix sudah minimal diatas 20 sehingga dinyatakan
layak tebang oleh PTA. Bersih yaitu tanaman tebu bebas dari bahan yang bukan
tebu dan tidak mengandung gula serta sifatnya yang dapat menurunkan rendemen
yang terkandung. Bahan- bahan tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok.
Bahan non tebu adalah semua bahan asing selain tebu, bersabut atau tidak
bersabut, yang tidak atau sedikit mengandung gula. Bahan yang bersabut misalnya
daun tebu, pucuk tebu, kelaras/kelopak tebu, akar tebu, sogolan yang masih muda
(tidak/sedikit bergula), gulma dan kayu. Bahan tak bersabut misalnya, tanah,
pasir, batu dan bahan logam. Bahan-bahan non gula yang terdapat dalam tebu
yang akan diolah harus dipisahkan atau dibersihkan sampai pada batas yang tidak
merugikan. tanah, akar, pelepah (daduk), bebas sogolan, bebas tali pucuk dan
bebas brondolan (potongan tebu dengan ukuran 30 cm). Segar yakni lama waktu
panen hingga giling tebu tidak boleh lebih dari 36 jam. Berikut merupakan jenis
penalti yang diberikan pada tebu yang dianggap tidak memenuhi kriteria kwalitas
MBS:
1. Tebu dicampur tanah, tebu muda, tebu brondolan:
-

Nota gula hangus : premi hangus selama satu musim giling

Truk tidak boleh masuk selama musim giling : kartu premi sopir
dicabut selama musim giling

2.

Daduk /akar: pengurangan 5% dari bobot tebu dan pencabutan SPTA 1


kali pembagian

3.

Tali pucuk: Pengurangan 7% dari bobot tebu dan pencabutan SPTA 2


kali pembagian

4.

Cacahan: Pengurangan 10% dari bobot tebu dan pencabutan SPTA 2 kali
pembagian

57

5.

Pucuk: pengurangan 15% dari bobot tebu dan pencabutan SPTA 3 kali
pembagian

6.

Sogolan: Pengurangan 15% dari bobot tebu dan pencabutan SPTA 3 kali
pembagian.

Perbedaan pemberian nilai Rafaksi dari tiap macam bentuk pelanggaran


sesuai dengan pengaruh dari bahan yang menyebabkan penurunan kadar gula dari
hasil ekstraksi tebu, kotoran bersabut akan menurunkan rendemen tebu karena
akan menaikan kadar sabut dengan menurunkan kadar nira tebu. Ini berarti,
sebagian gula yang seharusnya dapat diperoleh hilang dalam ampas. Akibatnya
ada bagian non-gula yang larut, sehingga menurunkan harkat kemurnian nira tebu.
Kotoran tidak bersabut mungkin tidak larut, akan tetapi akan merusak peralatan
sehingga akan menurunkan performa peralatan dan menambah untuk biaya
perbaikan. Kotoran seperti tanah yang tidak larut akan mempersulit proses
pemurnian sehingga sukar untuk mendapatkan nira jernih.
Premi merupakan bonus yang diberikan bagi supir yang terdaftar dalam daftar
supir yang sering mengantarkan. Premi akan diberikan pada supir yang memiliki
reputasi baik dalam mengirimkan tebu ke PG. Krebet Baru 1 dan PG. Krebet Baru
II. Bonus yang diberikan berupa gula dengan jumlah 10 kg yang diberikan setiap
bulan.
Sistem tebang yang digunakan oleh Pabrik gula yang satu dengan lainnya
berbeda dimana setiap ada yang menggunaakan sistem Choppe cane atau dibakar
lalu dipanen. Untuk PG.Krebet Baru Tebu yang diterima merupakan tebu dalam
kondisi Manis, Bersih dan Segar (MBS) dan antrian untuk giling tebu sangat
mempengaruhi dari kwalitas tebu yang akan digiling. Kehilangan gula akibat
penundaan giling lebih besar dari pada kehilangan yang terjadi dalam proses
pengolahan. Untuk tebu yang dipotong-potong memiliki resiko yang sangat tinggi
bila dibandingkan dengan tebu utuh. Tebu dipotong-potong menyebabkan
kerusakan kualitas tebu lebih cepat dari pada tebu yang ditebang secara utuh.
Tebu yang dipanen dengan cara dibakar bertujuan untuk mempermudah pekerja
dalam melakukan pemanenan tebu. Tebu dibakar untuk menghilangkan daun-daun
yang telah kering dan lapisan lilin. Api membakar pada suhu yang cukup tinggi
dan berlangsung sangat cepat sehingga tebu dan kandungan gulanya tidak ikut

58

rusak. Namun, dengan Sistem tebu terbakar (Burning Crush) waktu untuk
melakukan pengilingan harus segera dilakukan untuk menghindari terjadinya
perubahan gula menjadi bentuk glukosa dan fruktosa (gula reduksi).
Berikut ialah tabel penurunan dari nilai rendemen Tebu Terbakar pada
hari ke-1 hingga hari ke- 10.
Tabel 3. Penurunan Kandungan Gula (Rendemen)
Hari Ke 1 Hingga Hari Ke 10
HARI KE

SAMPLE
1 A
B
2 A
B
3 A
B
4 A
B
5 A
B
6 A
B
7 A
B
8 A
B
9 A
B
10 A
B

CO

BRIK

POL

BRIK

POL

28

18.8

63.2

18.81

16.85

9.80

28

19.4

64.9

19.41

17.26

10.00

28.5

20.4

68.8

20.45

18.22

10.57

28.5

20.6

69.1

20.65

18.29

10.58

28

20.2

67.6

20.21

17.92

10.37

28

18.8

59.2

18.81

15.78

8.89

27.5

20.2

64.2

20.18

17.02

9.61

27.5

19.0

57.0

18.98

15.18

8.33

28

20.2

63.6

20.21

16.86

9.47

28

18.2

54.1

18.21

14.46

7.90

27

19.2

59.4

19.14

15.81

8.83

27.5

20.4

69.0

20.38

18.27

10.63

25

20.2

57.6

20.00

15.27

8.16

25

21.0

63.3

20.80

16.72

9.21

25

21.0

65.2

20.80

17.23

9.64

25.5

21.0

65.6

20.84

17.33

9.72

26

21.0

55.2

20.87

14.58

7.36

26

20.4

53.0

20.27

14.04

7.04

27

19.6

47.8

19.54

12.70

6.08

27

21.0

54.1

20.94

14.29

7.10

Keterangan:
Warna Merah Menunjukan Sample A
Warna Hitam Menunjukan Sample B

Tabel 3 memperlihatkan bahwa terjadi penurunan kadar gula disetiap


harinya dari tebu terbakar namun terkadang menunjukan kenaikan sekitar 24 jam
pertama setelah tebang, kadang-kadang terlihat kualitas tebu seolah-olah naik
(nilai nira), namun ini adalah kenaikan semu. Ini terjadi karena ada satu atau lebih
zat organik dalam nira yang sifat optis aktifnya berubah (memutar bidang
polarisasi ke-kanan) dalam waktu itu. Sebenarnya hidrolisa (inversi) tetap berjalan

59

terus dan ini terbukti dari meningkatnya kadar gula inversi. Menurut Kuswurj
(2012), tanaman tebu tebang akan menunjukan kenaikan dan penurunan yang
bersifat sementara akibat kerja dari enzim invertase. Penurunan kadar gula dari
tebu terbakar dilahan setelah 20 jam mencapai 2,6 % kemudian setelah 30 jam
menjadi 9%. Apabila setelah dibakar terlambat ditebang atau diproses
pembentukan dekstran akan lebih cepat daripada tebu yang ditebang tanpa
pembakaran lahan.
Pembakaran akan menambah waktu tebu mati dan proses giling (the kill
to mill time or KTM) selama 12 18 jam dibandingkan dengan tebu segar (tidak
terbakar).
Pada PG. Krebet Baru Tebu yang terbakar umumnya mendapatkan
pendahuluan antrian untuk dikarenakan waktu reduksi gula yang terjadi pada tebu
terbakar menurut tebu yang dibakar umumnya kerusakannya lebih cepat karena
kontaminasi oleh mikroba Leuconostoc mesenteroides atau L. dextranicum
membentuk dextran. Sehingga tebu terbakar harus segera dikirim ke Pabrik untuk
segera digiling, apabila tidak dilakukan giling dengan segera akan menghambat
dari proses ekstraksi gula. Dalam tebu akan terbentuk polisakarida antara lain
dekstran yang diikuti dengan naiknya viskositas dan perubahan bentuk hablur
sehingga menyulitkan pengolahan.
Pada waktu musim kemarau yang cukup panjang menyebabkan petani
ingin memasukkan tebunya kedalam pabrik untuk segera dikirim dikarenakan
bobot tebu yang semakin rendah sehingga mempengaruhi proses dari pembayaran.
Dengan berbagai faktor sengaja dan tidak sengaja ada petani yang sengaja
membakar tebunya agar lebih cepat menerima SPTA sehingga tebu dapat
langsung digiling. Sehingga PG. mengeluarkan peraturan tebu terbakar yang
masuk ke PG harus dilaporkan dan mendapatkan Berita Acara agar dapat
digiling kemudian mendapatkan penalti pengurangan rendemen sebanyak 1
point, tujuan dari sanksi ini ialah supaya petani jera dan tidak membakar tebu
dengan sengaja.

60

Di pos 4 juga melakukan pemberian nomor sample tebu yang selanjutnya


akan diberitahukan dengan system komputerisasi ke pada pos 5 (ARI) untuk
waktu pengambilan sample berupa nilai brix dan pool.

Gambar 23. Pengambilan Sample Mutu Tebu Pada Pos 5 (Pos ARI).
Pada pos Analisa Rendemen Individu (ARI) merupakan penentu nilai paling
besar karena berpengaruh terhadap pemberian nilai Rendemen untuk kandungan
yang ada didalam tebu milik petani. Sehingga dari ARI inilah ditentukannya nilai
bagi hasil petani dengan PG.
Yang terakhir adalah pos 6, pada pos ini truk yang telah menyelesaikan
bongkar muat tebu kembali ditimbang untuk mengetahui bobot bersih tebu yang
akan digunakan sebagai perhitungan bagi hasil, pos 6 memberikan surat bukti
telah melakukan bongkar muat.

Gambar 24. Surat Bukti Telah Bongkar Muat Di Pos 6.

61

4.4

Proses Produksi Gula Di PT. Rajawali I PG. Krebet Baru

a. Proses Produksi Gula


Pengelolaan pada PG. Krebet Baru dibagi atas 2 pabrik yakni Krebet Baru
1(KB 1) dan krebet baru 2(KB 2). Pada KB 1 kapasitas produksi yang dimiliki
adalah sebesar 6500 TCD dan KB 2 memiliki kapasitas sebesar sebesar 5500
TCD. Perbedaaan ini dikarenakan jumlah dari meja untuk giling tebu dari kedua
pabrik berbeda dimana pada KB 1 meja giling yang terdapat berjumlah 5 buah
dibandingkan KB 2 yang hanya terdapat 3 meja giling dan kapasitas mesin yang
ada juga lebih besar dibandingkan KB 2. Untuk alur kegiatan produksi dari tebu
menjadi gula tahapan yang dilewati sama dimulai dari penerimaan tebu di unit
meja tebu. Berikut alur proses pada meja Tebu.
Tebu
Crane host
Cane Table
cane carrier
cane cutter
Unigator
Gilingan

Tebu yang telah melewati proses registrasi kemudian melakukan proses


bongkar. Tebu dibongkar dari truk dengan bantuan crane host (gambar25)
sebelum tebu dimasukan kedalam truk bagian bawah didalam truk diberi kawat
baja diurutkan secara berjajar sebanyak 3 buah tujuannya agar ketika tebu
diangkat dari truk tidak pecah dan tebu yang ada didalam truk sudah diatur agar
susunannya pada. Tali-tali baja dihubungkan dengan craine host kemudian tebu
terangkat lalu tebu dipindahkan secara perlahan ke meja tebu.

62

Gambar 25. Craine Host


Pada meja ini tebu kemudian dipecah untuk melakukan pemeriksaan lebih
lanjut dari penilaian yang tidak mampu diperiksa di pos gawang pada cane table
ini pemeriksaan pemeriksaan dapat berlangsung dengan cepat dan langsung
memberikan pengurangan nilai rendemen tergantung dari macam pinaltynya. Dari
cane table selanjutnya tebu dimasukan kedalam cane carrier yang merupakan
lintasan yang membawa tebu menuju ke cane cutter untuk dilakuakan proses
pembukaan sel kemudian melewati unigator untuk dilakukan pencacahan menjadi
potongan yang lebih kecil dan kemudian masuk kedalam Stasiun Penggilingan.
b. Unit Ekstraksi (Gilingan)
Pada unit proses ini tebu yang sudah terpotong-potong menjadi ukuran
yang lebih kecil masuk menuju stasiun gilingan. Pada stasiun ini bertujuan untuk
melakuakan ekstrasi nira (Gambar 26) yang ada didalam tebu sebanyak mungkin
hingga benar-benar semua nira tidak tersisa diharapkan nira yang didapatkan
sebesar 90% dengan cara yang efektif, efisien dan ekonomis.

Gambar 26. Proses Ekstraksi (Penggilingan)

63

Pada stasiun ini terdiri dari 5 gilingan, gilingan yang digunakan dengan
menggunakan mesin yang disebut three roller mill, disebut demikan karena alat
ini berupa tiga buah rol berbentuk slinder yang memiliki permukaan bergigi halus
sehingga mampu mengekstrak nira dari tebu. Gilingan 1 hingga 5 terangkai secara
seri sehingga berhubungan proses satu dengan yang lainnya. Adapun tahapantahapan proses adalah sebagai berikut:
Gilingan 1 merupakan Nira Perah Pertama (NPP) yang digunakan sebagai
penentu untuk bagi hasil rendemen antara petani dengan PG, NPP kemudian
dialirkan dengan bantuan pompa screen menuju DSM screen untuk dilakukan
pemisahan antara nira dengan ampas. Kemudian ampas hasil saringan dari
gilingan 1 dibawa ke gilingan 2 dengan intermediate carrier.
Pada gilingan 2 ampas dari gilingan pertama dan ampas dari DSM screen
kembali diperah dengan penambahan nira imbibisi (N3) atau nira dari hash
perahan dari gilingan 3, penggunaan air imbibisi pada gilingan 2 sebesar 30 %
dari berat batang tebu yang digiling. Penambahan air imbibisi diperlukan untuk
melarutkan gula yang masih terkadung didalam ampas dan mengeluarkannya
dengan pemerasan pada mesin giling berikutnya. Hasil dari gilingan ini
dinamankan Nira Perah Kedua (NPK) dan ampas NPK akan ditampung pada satu
tempat bersama dengan NPP, selanjutnya ditambahkan kapur Ca(OH)2 dan asam
phosfat (H3PO4). Ampas dari gilingan 2 kemudian dibawa dengan menggunakan
IMC menuju gilingan 3 untuk kembali diperah.
Ampas dari gilingan kedua ditambah ampas dari gilingan DSM screen
kemudian ditambahkan nira imbibisi yang berasal dari nira perah gilingan
keempat (N4), sehingga digilingan 3 ini didapatkan nira perah ketiga (N3) dan
ampas. N3 akan digunakan sebagai nira imbibisi pada gilingan 2 dan ampasnya
dibawa oleh IMC menuju gilingan ke empat.
Ampas dari gilingan 3 yang akan digiling ditambahkan dengan nira
imbibisi dari perahan gilingan 5 (N5) dan ditambahkan juga dengan Air imbibisi
yang berasal dari Condensat dengan suhu air yang berkisar 60 70C jika suhu air
yang digunakan terlalu tinggi akan melarutkan zat lilin (peptin) dari dalam tebu
sehingga akan mengganggu proses pemurnian dan pengendapan, tetapi bila suhu
air yang digunakan terlalu rendah dapat menyebabkan pelarutan kurang sempurna

64

dan kemungkinan masih terdapat bakteri yang belum mati dalam nira yang
diperah. Dari gilingan ini akan dihasilkan nirah perah ke empat (N4) dan ampas.
N4 akan digunakan sebagai nira imbibisi untuk gilingan 3 sedangkan ampas
dibawa oleh IMC menuju gilingan 5.
Pada gilingan terakhir yakni gilingan 5, ampas dari gilingan ke empat
ditambahkan air imbibisi sebagai pencuci ampas terakhir. Diharapkan pada
gilingan ini dengan pemberian air imbibisi dapat mendapatkan nira dengan jumlah
yang cukup banyak sehingga nira yang terbawa oleh ampas terakhir benar-benar
tidak tersisa. Pada gilingan 5 akan menghasilkan Baggase berupa ampas yang
benar-benar tidak mengandung nira dan nira pera ke 5 (N5) yang akan digunakan
sebagai nira imbibisi untuk gilingan ke 4. Baggase hasil gilingan 5 selanjutnya
akan diangkut dengan menggunakan Baggase carrier menuju dapur pembakaran
ketel dimana akan digunakan sebagai bahan bakar ketel.
c. Unit Pemurnian (Sulfitasi)
Pemurnian ialah proses untuk menghilangkan sebanyak mungkin kotoran
yang terdapat dalam nira mentah dengan cara kimia dan fisik sehingga tetap
menjaga agar jangan sampai sukrosa maupun gula reduksinya mengalami
kerusakan pada aliran proses di unit pemurnian serta dapat diperoleh kadar gula
maximum. PG. krebet Baru pada unit proses pemurniaanya mengunakan dua
proses pemurnian yakni proses sulfitasi defikasi sakarat. Proses awal dalam unit
pemurnian adalah memanaskan nira pada jus heater 1 dengan suhu sebesar 70C
penggunaan suhu sebesar ini adalah membunuh bakteri yang hidup pada suhu
dibawah 70C kemudian mencegah terbentuknya garam CaH(SO3)2 yang mudah
larut sehingga menghambat proses pengendapan serta bisa mempengaruhi proses
perubahan warna. Dengan suhu sebesar 70C diharapkan terjadi reaksi
pembentukan CaSO3. Serta menekan kerusakan sukrosa agar tidak terjadi inversi
dan pecahnya gula menjadi reduksi.
Pada nira yang telah dipanaskan sebelumnya dialirkan pada defecator 1
dengan penambahan susu kapur (Ca(OH)2 8BE atau 16 Brix hingga pH
mencapai 7,2 kemudian pH Nira dinaikan kembali pada defecator 2 mencapai 9,09,5. Selanjutnya nira dimasukan ke reactor sulfitasi nira metah kemudian pada
reactor ini nira dialirakan gas SO2 untuk menetralkan susu kapur dan membentuk

65

garam kalsium sufit sehingga memunculkan endapan kotoran atau mengkat


kotoran serta dalam proses ini bertujuan untuk mendapatkan pH yang diinginkan.
System kerja dari reactor sulfitir ialah dengan meniniupkan Gas SO2 dari bawah
kemudian nira dipompa keatas dan turun melewati cela-cela yang ada didalam
reactor. Nira dipompa menuju flash tank untuk dilakuakan penguapan gas-gas
didalam nira yang dapat menggangu proses pengendapan. Nira kemudian
dipompa menuju rangkaian pengendap (SRI) pada tahapan ini nira mendapatkan
penambahan flokulan untuk mempercepat reaksi pengendapan. Hasil dari proses
ini telah didapatkan nira jernih yang kemudian dialirkan ke DSM screen.
Kemudian nira yang telah jernih dipompa menuju juice heater 2 untuk dipanaskan
dengan suhu 105C ini dilakukan agar reaksi berjalan sempurna dan daya ikat
CaSO3 pada kotoran kemampuanya lebih besar untuk membunuh bakteri yang
belum mati pada proses juice heater 1. Kemudian dengan dimasukannya kedalam
juice heater 2 bertujuan untuk memudahkan membuang gas yang belum
dikeluarkan dan membantu kerja dari pre evaporator dalam stasiun penguapan.
Dari juice heater 2 nira kemudian dialirkan ke single Tray Clarifier untuk
memisahkan nira dengan kotoran yang terbentuk pada saat proses pemurnian
sehingga diperoleh nira kotor dan nira bersih. Nira bersih selanjutnya dialirkan ke
voor cooker (pre evaporator) di stasiun penguapan, sedangkan nira kotor dari door
clarifier dipompa ke mixer untuk dicampurkan dengan nira kotor yang akan
dialirkan menuju rotary vacuum filter untuk dipisahkan antara blotong dan nira
yang masih terkandung.
d. Penguapan (Evaporasi)
Pada proses produksi gula evaporasi bertujuan untuk mengurangin atau
menguapakan air yang ada didalam nira ini bertujuan untuk mendapatkan nira
yang kental. Sehingga dengan proses penguapan yang dilakukan didapatkan nira
sesuai dengan kekentalan yang diinginkan 60-64 Brix. Di PG krebet Baru
terutaman KB 1 memiliki 7 buah evaporator dimana yang berfungsi sebanyak 5
buah untuk melakuakan proses evaporasi dan 2 buah bersifat stand by, jika ada
salah satu evaporator mengalami kerusakan atau harus menjalani pembersihan
rutin. Tiap evaporator mampu menguapkan air sebanyak 1 kg jadi dengan jumlah
keseluruhan evaporator dapat menguapkan sebanyak 7 kg.

66

Proses penguapan dievaporator, nira dari tangki nira jernih dipompa ke preevaporator (voor cooker) tujuannya untuk memberikan panas awal denga suhu
sebesar 120C dengan tekanan 0,8 kg/cm2. Uap yang digunakan pada preevaporator didapatkan dari uap bekas yang dihasilkan dari turbin uap. Suhu nira
yang dihasilakan pada proses ini adalah 100C tidak boleh lebih sebab dapat
merusak sukrosa yang terkandung didalam nira. Uap nira kemudian digunakan
sebagai pemanas pada juice heater dan stasiun masakan sedangkan uap bekas
yang bebas dari gula dipergunakan sebagai air pengisi ketel. Penggunaan
evaporator yang berjumlah 5 buah yang aktif, menggunakan system bejana
berhubungan dimana proses penguapan nira akan melewati evaporator 1 hingga 5
dan setiap evaporator yang melakukan penguapan akan mengirim uapnya ke
evaporator selanjutnya sebagai tenaga untuk penguapan. Kemudian setiap
evaporator didalam prosesnya selalu menghasilkan uap air, yang dapat digunakan
sebagai air pengisian ketel (boiler) yang telah tersaring dan ditampung pada tangki
pure water. Namun, jika air yang dihasilkan dari proses penguapan ini masih
mengandung gula akan dialih fungsikan sebagai air proses; air imbibisi, air
pencucian kapur dan air untuk proses masakan. Air yang mengandung gula tidak
dapat digunakan sebagai air pengisi ketel karena dapat menyebabkan kerusakan
pada ketel. Pada evaporator ke 5 diharapkan nira yang dihasilkan sudah memiliki
kekentalan yang sesuai kriteria yakni 60-65 Brix
Nira hasil dari evaporator ke 5 kemudian dialirkan ke menuju proses sulfitasi.
Nira dari evaporator yang memiliki nilai pH 5,8-6 akan ditambahkan SO2
tujuannya untuk mengembalikan nira ke pH awalnya yakni 5,4 dan untuk
memucatkan warna nira (bleaching). Setelah didapatkan nira hasil evaporasi
sesuai dengan kriteria kemudian nira dialirkan menuju pan masakan (Stasiun
masakan).
e. Stasiun Masakan.
Pada stasiun masakan bertujuan untuk memasak nira sehingga berubah
bentuk menjadi Kristal-kristal gula proses ini dinamakan proses kristalisasi. Pada
proses kristalisasi nira kental dipanaskan didalam Pan Masakan (gambar 27)
dengan bantuan uap panas dari uap bekas turbin kemudian uap panas ini akan
memasak nira didalam pan kristalisasi didalam pan ini besifat kedap udara

67

(vacum) dimana untuk memasak nira kental memerlukan tekanan sebesar 65


cm/hg, kemudian titik didih akan turun dan suhu yang diberikan akan lebih rendah
serta tidak menimbulkan kerusakan pada sukrosa sehingga dapat membentuk
padatan berupa Kristal-kristal yang disebut gula.

Gambar 27. Pan Masakan Di Stasiun Masakan


Proses kristalisasi dilakukan dengan 2 tahap pembentukan. Kristal inti dan
pembesaran Kristal. Pembentukan Kristal inti dapat terbentuk diakibatkan adanya
gaya Tarik - menarik antara molekul-molekul saccharosa dalam larutan nira
kental. Pembesaran Kristal dilakukan sesuai dengan standart yang ingin dibuat
oleh PG. pada tahapan ini Kristal yang ingin ditumbuhkan akan mendapatkan
penambahan air dan penurunan suhu pada nira yang dimasak sehingga diharapkan
muncul Kristal baru. Penambahan air dan penurunan suhu dari nira kental dapat
mempengaruhi Kristal yang terbentuk. Dalam prose pemasakan setiap pan
masakan dimana pada pabrik krebet memiliki pan masakan A, masakan C,
masakan D1 dan masakan D2 dijaga tiap petugas. Tujuan adalah memastikan
apakah gula yang dimasak sesuai dengan kriteria masakan karena alat pan
masakan yang ada masih diatur secara manual dari proses pengaturan tekanan,
penambahan air hingga suhu dengan system buka tutup keran. Serta untuk
menghindari terjadi kameralisasi (gula gosong) dan terbentuknya butiran gula
palsu yang dapat menurunkan kwalitas dari pembentukan gula dan mengganggu
proses produksi selanjutnya. Proses pembentukan Kristal-kristal gula terbagi
menjadi beberapa tahapan masakan antara lain:

68

Masakan A
Pada proses ini masakan A menggunakan bahan baku nira mentah. Bibit gula
untuk proses masak A adalah gula hasil proses masakan C (gula C) dan klare 1
dengan ukuran Kristal Gula 0,4 mm campuran dari bahan-bahan tersebut dimasak
dan diuapkan hingga benar-benar terbentuk ukuran gula kira-kira dengan ukuran
1-1,2 cm jika terdapat gula palsu kemudian gula dimasak dengan melakukan
penambahan air untuk dicuci sehingga terbentuk larutan Kristal baru kemudian
kembali dimasak dan diuapkan.kemudian masakan A dimasukan kedalam palung
pendingin kemudian dilanjutkan proses selanjutnya. Hasil dari masakan A untuk
Kristal gula disebut gula A dan sirupnya dinamakan stroop A.
Masakan C
Dalam proses masakan C, bibit yang digunakan adalah gula D dengan ukuran
Kristal sekitar 0,2 mm dan dicampurkan dengan Strop A dari masakan A. proses
masak berlangsung seperti yang terjadi pada masakan A, namun kandungan
sukrosa pada sirup A sudah menurun, makan kristalisasi pada masakan C
memerlukan waktu lebih lama. Gula C diambil dengan cara sentrifugasi
sedangkan sirupnya digunakan untuk bahan baku pada masakan D
Masakan D
Proses pada masakan D menggunakan bahan baku berupa campuran Stroop C
dan Stroop A. proses pemasakan pada masakan D memakan waktu yang cukup
lama, ini dikarenakan kadar kemurnian sukrosa yang terkandung dari bahan baku
sudah rendah. Proses kristalisasi dilakukan mulai ketika gula D turun dari bejana
masak kemudian didinginkan dipalung pendingin selama 24 jam. Setelah
dipisahkan dengan sentrifugasi, didapatkan hasil berupa Gula D dan stroop. Gula
D akan dilebur kembali didalam masakan C sedangakan stroopnya akan
digunakan sebagai bahan baku untuk tetes tebu.
f. Stasiun Putaran (Sentrifugasi)
Pada putaran bertujuan untuk memisahkan Kristal gula dari larutan (stroop).
Pada prinsipnya proses kristalisasi gula terjadi di proses stasiun masakan pada
PAN Masakan yang merupakan campuran dari larutan dan Kristal sukrosa.
Setelah mengalami pendinginan pada palung pendingin. Pada pemisahan antara
Kristal gula dengan larutanya terjadi di mesin putaran (Gambar 28) dengan

69

memamfaatkan prinsip sentrifugasi yakni tabung yang berutar gula akan diputar
selama beberapa menit lalu dipisahkan dengan teknik pemisahan menggunakan
penyiraman air dan pemberian uap. Penyiraman dengan air dengan suhu 80C dan
pemberian uap yang dilakukan pada mesin putaran yang terakhir bertujuan untuk
mencuci kotoran dan melarutkan stroop sehingga dapat terpisah dengan Kristal
gula. kemudian gula yang sudah terpisah akan menempel dan kemudian dialihkan
menuju proses selanjutnya sementara larutan akan kembali diproses untuk
dijadikan gula kembali di pan masakan. Pemisahan antara gula dan stroop
dilakukan dengan berbagai cara.

Gambar 28. Mesin Putaran


Pada PG. Krebet baru setiap unit proses putaran terdapat berberapa macam
alat putaran diantaranya batch centrifugal dan centrinous centrifugal. Alat batch
centrifugal memiliki prinsip kerja yakni bekerja secara terputus dan didalam alat
terdapat saringan 1 (saringan Halus) yang berfungsi untuk memisahkan gula
dengan stroopnya, saringan 2 (agak kasar) dan saringan 3 (sangat kasar) yang
berfungsi untuk menyaring dan sebagai jalan keluarnya stroop pada centrinous
centrifugal alat bekerja secara terus menerus tampa berhenti terdiri dari sebuah
tromol conis yang terdiri atas tromol conis yang berdinding yang berupa saringan
untuk memutar gula C dan gula D.
Pada Masakan A, C, dan D hasil dari setiap masakan akan diteruskan
menuju putaran, proses dari setiap puteran antara lain:

70

Putaran A
Hasil masakan A yakni berupa gula A akan diputar pada puteran A, sebelum
masuk ke putaran, gula A masuk kedalam mixer terlebih dahulu. Pada proses ini
gula A diputar sebesar 800 rpm dan kemudian disemprot dengan air bersuhu 8090C untuk mencuci kotoran yang menempel dari Kristal gula dan memisahkan
stroop. dari putaran ini didapatkan gula A dan stroop A, gula A kemudian masuk
ke mixer dan dicampur dengan klare 1, sedangkan stroop A digunakan sebagai
bahan baku untuk ditambakan pada masakan gula C. setelah masuk ke dalam
mixer, gula tersebut masuk kedalam mixer, gula tersebut masuk ke putaran SHS
dengan kecepatan putaran sebesar 1000-1200 rpm. Pada putaran SHS ini juga
dilakukan penyemprotan air panas 80-90 kemudian steam (pemberian udara
kering 100C) untuk membantu pengeringan gula. Apabila waktu pemutaran
membantu pengeriangan gula. Apabila waktu pemutaran sudah cukup, Kristal
gula diskrap dan kemudian dialirkan ke stasiun penyelesaian.
Putaran C
Gula C dilewatkan terlebih dahulu ke mixer sebelum masuk menuju putaran.
Pada putaran ini, gula c dipuatr dengan kecepatan 1400 rpm serta ditambahkan air
panas 60C yang bertujuan untuk memisahkan gula C dan stroop C. kemudian
hasil dari putaran gula C akan dilebur kembali sebagao bahan masakan A dan
stroop yang dihasilkan dari putaran ini akan dilebur kembali bersama dengan
masakan D.
Putaran D
Putaran D, terbagi menjadi Putaran D1 dan Putaran D2, Gula D dialirkan
menuju putaran D1 dengan putaran sebesar 1400 rpm. Dari putaran D1 dilakukan
penambahan air panas dengan suhu 60C untuk memisahkan gula D1 dengan
kotoran gula (molase). Gula hasil Putaran D1 (gula D1) dipompa menuju putaran
D2. Sama dengan putaran D1 di putaran D2 juga dilakuakan penambahan Air
bersuhu 60C tujuannya untuk memisahkan antara gula D2 dan klare 3. Gula D2
akan digunakan sebagai bahan baku masakan C yang disebut bibit gula D
sedangakan klare 3 akan kembali dimasak untuk proses membentuk gula D.
molase hasil putaran D1 ditampung pada bak molase.

71

Putaran SHS
Putaran SHS adalah putaran kedua dari gula A, pada putaran ini akan
dihasilkan Kristal gula dalam bentuk superior high sugar yakni gula dengan
kwalitas terbaik. Pada putaran SHS Kristal gula yang melekat dicuci dengan air
panas dengan suhu 60C dan dikeringkan dengan steam (udara panas) sehingga
air dan stroop yang ada pada Kristal gula benar-benar kering serta. Kemudian
Kristal gula akan dijatuhkan menuju talang goyang untuk dikeringkan dan
disamakan bentuk ukurannya pada stasiun pengepakan.
g. Stasiun Penyelesaian
Stasiun penyelesaian bertujuan untuk melakukan finishing gula yang telah
dilakukan proses pemutaran distasiun putaran. Melakukan pengeringan pada gula
yang masih basah dan penyamaan ukuran Kristal sehingga tidak dihasilkan gula
yang masih dalam bentuk bongkahan Terutama gula-gula yang telah masuk
kedalam putaran A karena merupakan gula dengan kwalitas baik yakni gula
Superior High Sugar (SHS). Gula yang telah diproses dari putaran A dan SHS
akan langsung menuju talang goyang (gambar 29) yang berfungsi sebagai
pengering awal, penyaring gula untuk didapatkan ukuran yang sama. Gula A dan
Gula SHS yang sebelumnya ditampum dalam wet sugar evaporator akan dibawa
menuju talang goyang. Didalam talang goyang juga terdapat sugar dryer yang
berfungsi sebagai pengering gula. Selanjutnya gula akan diangkat menggunakan
sugar konveyor untuk dilakukan penyelesian ukuran pada stasiun penyepakan.

Gambar 29. Talang Goyang

72

h. Stasiun Pengepakan.
Pada stasiun ini bertujuaan untuk melakukan pengepakan gula kedalam
kemasan kedalam karung (gambar 30. b) atau kedalam kemasan plastic sesuai
dengan permintaan dari manajemen. Proses yang terjadi distasiun pengepakan
mulai dari hasil gula yang berasal dari talang goyang kemudian diangkut
menggunakan konveyor menuju hammer screen (gambar 14 A) untuk dilakukan
pemisahan dengan 3 tingkatan saringan yakni antara gula halus, gula kasar dan
gula produksi. Gula yang lolos untuk dikemas adalah gula produksi yang akan
langsung menuju penampungan gula (silo) untuk dikemas. Sedangakan gula kasar
dan gula halus akan dicairkan kembali dengan menggunakan air sehingga
didapatkan larutan gula bersih dan larutan gula kotor yang dipisahkan secara
manual. Larutan gula bersih akan dimasukan kedalam penampungan nira kental
untuk dimasukan ke stasiun masakan kembali sedangkan nira kotor akan masuk
menuju bouloune. Gula produksi yang telah tertampung didalam silo selanjutnya
dapat dikemas dalam karung dengan ukuran 50 kg, setiap gula yang akan dikemas
sudah ditimbang secara otomastis sehingga operator hanya tingga menjahit karung
gula tersebut. Gula yang telah dikemas selanjutnya akan disimpan didalam gudang
gula sebelum didistribusikan.

Gambar 30. a). Hamer Screen

b). SILO (Pengepakan Gula Ke Dalam


Karung @ 50 Kg.

73

4.5

Uji Kualitas Rendemen Di PT. Rajawali I PG. Krebet Baru

Rendemen tebu ialah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang
dinyatakan dalam persen. Secara praktis dikatakan bahwa rendemen tebu adalah
banyaknya gula dalam kilogram yang dihasilkan untuk setiap seratus kilogram
tebu yang digiling oleh pabrik gula. Rendemen merupakan faktor utama yang
paling menentukan dalam perolehan bagi hasil antara petani tebu dan pabrik gula.
Ketentuan bagi hasil antara petani tebu dan pabrik gula diatur dalam Surat
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 05/SK/Mentan/Bimas/IV/1990 (Supriyadi,
1992).
Pengukuran rendemen tebu di pabrik gula di seluruh Indonesia
kebanyakan menggunakan dua buah alat, yaitu Polarimeter, dan timbangan Brix
Weger (Sumarno, 1972). Kedua alat ini bekerja secara manual sehingga hasilnya
sangat rentan terhadap kesalahan operator.
Untuk menentukan nilai rendemen dibutuhkan nira tebu perahan pertama,
artinya nira tebu yang dihasilkan dari gilingan pertama. Di pabrik gula biasanya
dilakukan penggilingan sampai 4 atau 5 kali agar pemerahan batang tebu bisa
tuntas. Nira tebu ini tidak boleh diukur terlalu lama, mengingat daya tahan nira
tebu maksimum adalah 15 menit terhitung dari saat tebu digiling sampai nira tebu
itu selesai di analisis, lebih dari itu nira tidak stabil lagi untuk di analisis. Untuk
menanggulangi masalah-masalah tersebut diatas diperlukan suatu cara yang dapat
mengukur rendemen tebu dengan teliti, cepat, dan praktis. Untuk itu dapat
digunakan digital Refractometer yang menggunakan cahaya (Gelombang
Elektromagnetik). Salah satu cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan

gelombang

ultrasonik.

Pengukuran

dilakukan

dengan

memanfaatkan ketergantungan kecepatan perambatan gelombang ultrasonik


didalam nira tebu terhadap kekentalan dan rapat massanya (Trisnobudi et.al,
2001).

74

Macam-Macam Rendemen
1. Rendemen Contoh
Rendemen ini ialah contoh yang dipakai untuk mengetahui
kemasakan optimal tebu di kebun tebu. Tujuannya ialah untuk mengetahui
berapa tingkat rendemen yang sudah ada sehinggga dapat diketahui saat
tebang yang tepat dan masa tanaman tebu mencapai tingkat rendemen
yang memadai (Supriyadi, 1992).
2. Rendemen Sementara
Rendemen Sementara dilaksanakan untuk menentukan bagi hasil
gula, namun sifatnya masih sementara. Menurut Supriyadi (1992) hal ini
untuk memenuhi ketentuan yang menginstruksikan agar penentuan bagi
hasil gula dilakukan secepatnya setelah tebu petani digiling sehingga
petani tidak menunggu terlalu lama sampai selesai giling.
Cara mendapatkan rendemen sementara ini adalah dengan
mengambil nira perahan pertama tebu yang digiling untuk dianalisis di
laboratorium untuk mengetahui berapa besar rendemen sementara tersebut.
3. Rendemen Efektif
Rendemen efektif ialah rendemen hasil perhitungan setelah tebu
digiling habis dalam jangka waktu tertentu. Perhitungan rendemen efektif
dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 15 Hari atau disebut 1 Periode
giling. Sehingga apabila pabrik gula mempunyai hari giling 170 Hari,
maka jumlah periode giling adalah 170 /15 = 12 Periode. Hal ini berarti
terdapat 12 kali rendemen nyata / efektif yang bisa diperhitungkan dan
diberitahukan kepada petani tebu (Supriyadi, 1992).

CARA PERHITUNGAN RENDEMEN


Penetapan rendemen di Indonesia dilakukan dengan menggunakan
pendekan

Rumus Hommes. Hommes menyatakan bahwa rendemen

merupakan suatu besaran yang ditentukan oleh faktor luar pabrik dan
faktor dalam pabrik. Adapun yang dimaksud dengan faktor luar pabrik
adalah Nilai Nira Perahan Pertama (NPP), sedangkan faktor pabrik
tercakup dalam faktor rendemen (FR). Nilai NPP sepenuhnya tergantung

75

kepada kualitas tebu yang digiling. FR adalah suatu besaran tanpa satuan
yang mengacu kepada kinerja PG. Secara matematis rumus penentuan
rendemen dinayatakan sebagai berikut :

Rendemen = FR x Nilai Nira Perahan


Pertama
Rendemen yang diukur dengan cara diatas selanjutnya dinyatakan sebagai
Rendemen Sementara. Rendemen Efektif ditetapkan kemudian dengan
memasukkan faktor koreksi (Supriyadi, 2002).

NPP =
Nilai Brix adalah Zat Padat Terlarut Yang Terkandung Dalam Nira. Di
dalam padatan terlarut tersebut terkandung gula dan komponen bukan gula. Di
industry gula Indonesia, Brix ditetapkan dengan 2 metoda, yaitu berdasarkan berat
jenis dan index bias larutan gula. Pol di definisikan sebagai jumlah gula (g) yang
terlarut dalam setiap 100 g larutan. Sedangkan nilai pol diukur dengan alat
polarimeter, yang didasarkan atas putaran optik larutan sukrosa (Marjayanti,
2007).

Faktor Rendemen
Faktor Rendemen ialah suatu besaran yang bila dikalikan dengan nilai nira
perahan pertama akan menghasilkan angka rendemen. FR ialah cerminan dari
faktor pabrik dan faktor luar pabrik, sebagaimana dinyatakan Rumus berikut :

Faktor Rendemen = Nira % Tebu x HPBtotal x


PSHK x WR
Nira % tebu ialah cerminan faktor diluar pabrik dalam hal ini kualitas tebu
yang digiling. Nilai tersebut menunjukkan persentase berat nira terhadap berat
tebu giling atau disebut juga sebagai kadar nira tebu (KNT).

76

Nira % Tebu = Brix % Tebu / % Brix NPP x


100%
Hasil Pemerahan Brix Total ialah persentase (Perbandingan) jumlah Brix
dalam nira mentah terhadap jumlah Brix dalam tebu. Angka ini merupakan hasil
pemerahan brix dari seluruh unit gilingan. Nilai HPB

total

yang tinggi

menunjukkan kinerja gilingan yang baik. Ini bisa merefleksikan hasil stelan
gilingan yang tepat, jumlah dan umpan tebu ke gilingan yang teratur, serta
kualitas tebu yang baik.

HPB total = Kuintal Brix Dalam Nira Mentah


/ Kuintal Brix Dalam Tebu x 100%
PSHK ialah Perbandingan Setara Hasil Bagi Kemurnian, nm singkatan
dari nira mentah dan npp singkatan dari nira perahan pertama. Nilai PSHK
menunjukkan prestasi kinerja stasiun gilingan.

PSHK nm/ npp = 1,40 HK nm 40 : 1,40 HK


npp 40

Apabila PSHK nm = PSHK npp Maka,

1,40 HK nm 40 : 1,40 HK npp 40 = 1

Analisa Pendahuluan
Untuk mengetahui tingkat kemasakan tebu, sebelum penebangan terlebih
dahulu dilakukan analisa kemasakan atau analisa pendahuluan. Tujuannya adalah
untuk menentukan apakah suatu kebun / petak tebunya sudah cukup untuk
ditebang. Proses kemasakan tebu berjalan dari ruas ke ruas dimulai dari bawah ke
atas. Pada tebu yang masih muda / belum masak kadar gula ruas yang dibawah
lebih besar dari pada ruas diatasnya. Jika seluruh batang masak, maka kadar gula
antara ruas-ruas tidak ada perbedaan lagi, kecuali pada pucuk. Adapun
pelaksanaan analisa pendahuluan adalah sebagai berikut :

77

1. Pengambilan 5 batang tebu sebagai sampel untuk setiap petak kebun.


2. Pengukuran panjang tiap batang tebu dan menghitung jumlah ruas tiap
batang.
3. Pengukuran diameter batang tebu dengan menggunakan jangka sorong.
4. Setiap batang tebu sampel dipotong menjadi 3 bagian yaitu bagian atas
(A), bagian tengah (T), dan bagian bawah (B).
5. Kemudian dilakukan penimbangan pada tiap bagian batang tebu sampel
(A, T, B).
6. Setelah ditimbang, tiap kelompok batang digiling dengan menggunakan
gilingan contoh. Nira yang diperoleh ditampung dalam ember. Nira bagian
atas, tengah, dan bawah dipisahkan sendiri-sendiri kemudian ditimbang.
Ketiga bagian nira tersebut diambil masing-masing dengan bagian yang
sama dan dicampur untuk menjadi nira rata-rata.
7. Setelah itu, sebagian nira dijernihkan dengan menambahkan larutan Form
A ( Larutan Al Sulfat ) dan Form B (Larutan Natrium Hidroksida).
Untuk 100 ml nira, Form A ( Larutan Al Sulfat ) dan Form B (Larutan
Natrium Hidroksida) yang dicampurkan masing-masing sebanyak 5 ml
lalu disaring dengan menggunakan kertas merang untuk memperoleh nira
yang jernih. Nira yang telah jernih dimasukkan kedalam alat bernama Brix
Weger Digital dan diukur suhunya untuk mendapatkan nilai suhu yang ada
dan untuk mendapatkan nilai % Brix tersebut. Kemudian sisa nira jernih
tersebut dianalisa dengan menggunakan alat polarimeter untuk mengetahui
% Pol-nya. Pol 1 (Al Klorida), Pol 2 (Kalsium Hidroksida + Aditif).
Data-data yang diperoleh dari analisa pendahuluan dicatat pada Form Data
Analisa Pendahuluan. Setelah diperoleh angka brix dan angka pol, kemudian
menghitung % Brix, % Pol, Harkat Kemurnian (HK), NN (Nilai Nira),
Rendemen, FK (Faktor Kemasakan). Di tentukan dengan menggunakan
perhitungan sebagai berikut :

78

Contoh Soal :
Diketahui : Angka Brix Batang Bawah = 16,8
Suhu Nira Batang Bawah

= 25 0 C

Angka Pol Batang Bawah

= 48,5

Berat Jenis

= 1,06463

Faktor Rendemen

= 0,67

Rendemen Atas

= 7,07

didapat dengan cara

perhitungan yang sama


Dicari :
Jawab :

Rendemen Batang Bawah Dan Faktor Kemasakan ?


1. % Brix = Angka Brix + Koreksi Brix Terhadap Suhu (Tabel
Derajat Brix. Dan Tabel Derajat Suhu, Dan BJ
Brix.)
= 16,8 + (-0,19)
= 16,61
2. % Pol = Angka Pol x 0,286 (Hasil dari Angka 1,1 x 26 ) / 100
%
Berat Jenis
= 48,5 x 0,286
1,06463
= 13,029
3. Harkat Kemurnian (HK) = (% Pol / % Brix ) x 100 %
= (13,029 / 16,61 ) x 100 %
= 78,44
4. Nilai Nira (NN)

= % Pol 0,4 (% Brix - % Pol)

79

= 13,029 0,4 (16,61 13,029)


= 11,60
5. Rendemen

= NN X Faktor Rendemen
= 11,60 x 0,67
= 7,77 %

6. Faktor Kemasakan (FK) = FK = RB - RA X 100 %


RB
= 7,77 7,07 X 100 %
7,77
= 9,01
Faktor kemasakan (FK) mengganbarkan perbandingan selisih rendemen
atas, tengah, dan bawah terhadap rendemen bawah, berdasarkan perhitungan
diatas maka tebu digolongkan sudah masak.

Analisa Rendemen Individu (ARI)


Proses penggilingan pertama, dikontrol oleh labroratorium Nira Perahan
Pertama (NPP) disebut juga dengan pos 3. Di dalam laboratorium NPP terdapat
saluran Pipa yang mengeluarkan Nira per satu putaran rantai meja tebu dengan
satuan pulsa menggunakan alat penghitung pulsa yang dinamakan Roximate.
Roximate diatur sedemikian rupa sehingga apabila tebu telah berada di atas meja
tebu maka pulsa akan berjalan yang nantinya akan mengatur keluarnya nira pada

80

saluran NPP. Roximate juga dihubungkan dengan computer yang telah


deprogram khusus untuk mengatur tebu yang digiling, sehingga tebu yang
digiling, dan analisa rendemennya sesuai dengan nomor induk pada SPTA (Surat
Perintah Tebang Angkut). Program tersebut memiliki jaringan terhadap 3 pos
lainnya yakni pos 1 (Crane), pos 2 (Meja Tebu), dan Pos ARI, sehingga semua
data dapat sesuai.
Laboratorium NPP juga dilengkapi dengan Polarimeter Digital untuk
mempercepat analisa. Perolehan nira pertama pada setiap penggilingan disalurkan
melalui pipa kecil. Nira perahan pertama yang diperoleh kemudian ditampung
pada gelas ukur untuk dianalisa % Pol, % Brix dan suhunya. Nilai Brix dilihat
dengan menggunakan alat yang bernama Brix Weager Digital. Proses analisa %
Pol dan % Brix pada laboratorium NPP sama seperti proses analisa pada
laboratoium analisa pendahuluan. Setelah diperoleh data % Brix, % Pol, dan suhu
kemudian data tersebut dibawa ke laboratorium computer ARI (Analisa
Rendemen Individu) untuk dianalisa lebih lanjut.
Pada laboratorium NPP, data % Brix, % Pol, suhu dan data-data yang ada
pada Surat Perintah Tebang Angkut (SPTA) dimasukkan dalam suatu program
Komputer, dari program tersebut akan keluar hasil rendemen sementara (RS),
Nilai Nira (NN), dan nilai hablur sementara. Hablur sementara digunakan untuk
mentaksir pendapatan petani sebagai patokan DO. Perhitungan rendemen
sementara perlu dilaksaanakan untuk menentukan nilai rendemen efektif untuk
menentukan bagi hasil gula, tetapi sifatnya masih sementara.
Pengukuran rendemen tebu di pabrik gula di seluruh Indonesia
kebanyakan menggunakan dua buah alat, yaitu : Polarimeter, dan timbangan brix
weager (Sumarno, 1972). Kedua alat ini bekerja secara manual sehingga hasilnya
sangat rentan terhadap kesalahan operator. Tetapi PG. Krebet Baru tidak lagi
menggunakan kedua alat tersebut. Saat ini alat yang digunakan ialah digital
polarimeter dan digital brix weager, kedua alat ini sangat membantu dalam
perhitungan rendemen dan kesalahan operator dapat diminimalkan. Selanjutnya
Rendemen Efektif ialah Rendemen hasil perhitungan setelah tebu digiling habis
dalam jangka waktu tertentu. Perhitungan rendemen efektif dapat dilaksanakan

81

dalam jangka waktu 15 hari atau disebut 1 periode giling sehingga apabila pabrik
gula mempunyai hari giling 170 hari, maka jumlah periode giling adalah 170 / 12
= 12 Periode. Hal ini berarti terdapat 12 kali rendemen nyata / efektif yang bisa
diperhitungkan dan diberitahukan kepada petani tebu (Supriyadi, 1992).
Penghitungan Rendemen di PG. Krebet Baru sama dengan yang
dinyatakan di literature, tetapi sistem pengambilan nilai rendemennya yang
berbeda. PG. Krebet Baru menamakan Analisis Rendemen Individu (ARI) yang
tujuannya mendapatkan nilai rendemen sesuai dengan tebu milik masing-masing
petani. Hal ini dikarenakan tebu sebagai bahan baku PG. Krebet Baru dipasok
oleh ribuan petani di Kabupaten Malang, sehingga bagi hasilnya diperoleh atas
dasar nilai rendemen tebu milik masing masing petani. Dibutuhkan ketelitian
dalam

penghitungannya

agar

nilai

rendemen

yang

dihasilkan

saling

menguntungkan. Nilai Rendemen Sementara dihasilkan dari pos 3 yang terdapat


di areal penggilingan tebu. Sedangkan nilai Rendemen Efektif ditentukan oleh
Faktor Rendemen (FR). FR ialah cerminan dari faktor pabrik dan faktor luar
pabrik. Setiap pabrik gula memiliki faktor rendemen yang berbeda, hal ini
ditentukan oleh usia mesin pabrik yang berbeda pula. Semakin baru tahun
pembuatan, kesesuaian, dan kualitas kerja mesin makin efisien dan efektif
menghasilkan dan mengolah nira tebu menjadi gula. Sedangkan kebanyakan
pabrik gula di Indonesia ialah peninggalan zaman penjajahan Belanda yang
mesinnya telah berumur ratusan tahun. PG. Krebet Baru ialah satu diantaranya,
tetapi PG. Krebet Baru telah mengalami beberapa kali revitalisasi sehingga nilai
FR-nya tidak banyak menurunkan nilai rendemen efektifnya. Di PG. Krebet Baru
nilai Faktor Rendemen (FR) ditentukan atas kebijakan pimpinan, sehingga setiap
waktu

angkanya

dapat

berubah.

Penentuan

nilai

FR

juga

harus

mempertimbangkan keuntungan yang akan diperoleh petani dan perusahaan,


sehingga petani dapat lebih berminat menanam tebu, tujuannya ialah menjaga
pasokan tebu tetap terjamin selama musim giling di PG. Krebet Baru dan target
produksi tercapai.

82

LAPORAN HASIL UJI KUALITAS RENDEMEN


MASA TANAM TAHUN 2013-2014
PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA UNIT PG. KREBET BARU I
Maksud dan Tujuan
I. Pendahuluan
Dalam rangka untuk mendapatkan informasi tentang kategori
kemasakan dan potensi masing-masing varietas di wilayah PG. Krebet
Baru I.
Tujuannya adalah untuk menentukan / mengelompokkan tingkat
kemasakan tebu (masak Awal, Masak Tengah, Masak Lambat).
II. Metode Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan metode demoplot, untuk masingmasing varietas di tanam pada dua larikan, dengan cara tanam bagal,
jumlah mata per satu meter = 6 mata.
III. Denah Pengamatan
Timur (5 Meter)

Jalan (1 Meter)

Barat (5 Meter)

7 (PS 977-50)

6 (N 11)

TRISULA

PS 901

CENING

PS 901

CENING

PS 901

SS 57

5 (PS 977-50)

SS 57

PS 851

COKRO

JALAN

PS 8922513

VMC 73-229

PS 8922513

GMP 1

MK 2000

GMP 1

MK 2000

PS 951

KK

PS 951

KK

VMC 76-16

83

PS 95-14

VMC 76-16

GMP 2

BR 394

PS 864

BR 394

PS 864

TRITON

BL

TRITON

PS 862 (KOSONG)

PSJK 922

KB 01

PSJK 922

KB 01

POJ 30-16

BZ 132

JALAN

PSBM 96-03

BZ 132

PSBM 88-113

PS 882

TD 02

PS 882

TD 02

TD 01 (KOSONG)

PS 865

Q 188 (KOSONG)

PS 865

PS 99-1130

PS 881

PSJT 94-41

PS 881

KQ 228

KQ 228

84

IV. Hasil Pengamatan

a. Rating Varietas Berdasarkan Kualitas Rendemen Tebu


No.

Varietas

Brix

Pol %

Rendemen

1.

PSBM 96-03

24,48

21,78

14,08

2.

PSBM 88-113

22,77

19,58

3.

TLH 2

22,77

4.

Contoh 6

5.

Produksi

Hablur

Rating

4442,29

62359,8

12,43

4240,25

55052,81

19,16

12,4

3029,095

37448,1

20,21

18,40

12,02

3646,998

43705,41

SS 57

21,21

18,66

11,99

3588,685

42899,25

6.

KK

19,13

17,54

11,49

4316,549

49448,36

7.

PS 881

22,37

18,22

11,26

4321,443

48513,47

8.

PS 865

21,02

17,72

11,15

4797,573

53332,46

9.

CENNING

19,43

17,23

11,11

4354,524

48233,63

10.

PS 881

20,41

17,42

11,03

4739,342

52118,12

10

11.

PS 882

20,32

16,87

10,53

4849,049

50907,3

11

12.

BZ 132

19,90

16,67

10,45

4489,548

46775,03

12

13.

BL

18,11

16,11

10,41

4620,859

47958,83

13

14.

PS 89-22513

19,91

16,55

10,34

4259,923

43915,46

14

15.

POJ

18,91

16,19

10,27

5062,05

51831,29

15

16.

PSJK 922

18,88

16,15

10,24

5566,786

56832,88

16

17.

PS 99-1130

20,27

16,45

10,15

4219,247

42696,88

17

18.

KQ 228

19,31

16,17

10,14

3319,903

33562,82

18

19.

PS 95-14

18,48

15,54

9,77

3721,599

36250,94

19

20.

BR

19,61

15,78

9,69

5261,885

50834,7

20

21.

TRISULA

18,69

15,38

9,55

3818,181

36639,91

21

22.

VMC 7616

17,43

14,73

9,28

5225,26

48344,94

22

23.

GMP 2

17,61

14,75

9,26

3721,599

34358,62

23

24.

PS 851

18,07

14,86

9,23

4415,791

40635,48

24

25.

Contoh 7

16,98

14,52

9,21

4014,01

36858,13

25

26.

MK 2000

20,13

15,35

9,14

3646,492

33228,95

26

27.

VMC 73-229

17,36

14,46

9,07

4707,105

42565,36

27

28.

Contoh 4

16,46

14,21

9,05

3910,633

35285,05

28

29.

KB 01

18,02

14,64

9,04

4104,73

36995,44

29

(Ku / Ha)

85

30.

COKRO

16,81

14,21

8,96

4491,489

40123,01

30

31.

PS 901

17,51

14,39

8,93

4117,051

36654,97

31

32.

PSJT 94-41

17,84

14,45

8,91

4321,443

38388,54

32

33.

PS 864

18,44

14,57

8,86

4217,897

37258,46

33

34.

GMP 1

17,85

14,20

8,75

3765,651

32850,6

34

35.

TD 1

17,55

14,04

8,59

4332,583

37105,24

35

36.

Contoh 5

18,73

14,25

8,47

4650,227

39269,26

36

37.

PS 951

17,61

13,64

8,19

5979,453

48824,8

37

38.

Triton

16,08

13,03

8,03

4784,575

38304,88

38

b. Usulan
Untuk

menjadi

pedoman

di

lapangan,

oleh

karena

itu

kami

merekomendasikan bahwa hasil pengamatan di atas dapat menjadi acuan


dalam penetapan varietas berdasarkan tingkat hasil rendemen yang diperoleh,
dan juga selanjutnya dapat menjadi acuan dalam penentuan varietas masak
awal, masak tengah, dan masak lambat masa tanam tahun 2014-2015 yang
akan datang.
c. Data Hasil Uji Kualitas Rendemen 2014-2015

86

Sumber : Administrasi Tata Usaha Tanaman PG. Krebet Baru Malang

87

4.6 Pembahasan

PT. Rajawali Nusantara Indonesia Unit PG. Krebet Baru ialah satu
diantara pabrik yang mengolah tebu menjadi gula. Adapun gula yang di produksi
oleh PG. Krebet Baru dipengaruhi oleh nilai rendemen dari tebu yang akan diolah.
Bila semakin tinggi nilai rendemen tebu yang diperoleh, maka gula yang
dihasilkan juga akan semakin tinggi pula. Maka dari itu, untuk meningkatkan
hasil gula yang diekstrak, berbagai macam cara dilakukan terutama untuk
meningkatkan

mutu

kualitas

kandungan

rendemen

tebu

yakni

dengan

menggunakan varietas unggul. Salah satu diantaranya cara yang harus dilakukan
ialah mengatur jenis tebu yang akan dipanen sesuai dengan waktu tingkat
kemasakan (Faktor Kemasakan). Waktu kemasakan dibedakan menjadi 3 jenis
sesuai dengan umur kemasakan tebu itu sendiri, yaitu masak awal, masak tengah,
dan masak akhir. Hal ini dilakukan karena berkaitan penting dengan kondisi
fisiologi tanaman tebu.
Kategori kemasakan tebu yang berkaitan dengan umur tanaman tebu /
fisiologi tanaman yakni tebu dewasa (lebih dari 9 bulan) hal ini tebu akan
mengalami kondisi lengas tanah rendah (kurang dari 50 % kapasitas lapng) dan
menunjukkan faktor tingkat kecepatan masaknya, yaitu awal (Mei-Juni), tengah
(Juli-Agustus) dan lambat (Setelah September). Tebu yang masak awal sebaiknya
ditanam pada bulan Mei dan bulan Agustus. Maka dari ini, tebu tersebut akan siap
untuk ditebang pada bulan Mei Juni dimana tanaman tebu yang ditanam pada
bulan Mei telah berumur 12-13 bulan, sedangkan tanaman tebu yang ditanam
pada bulan Agustus baru berumur 9-10 bulan. Oleh karena itu perencanaan tanam
suatu varietas harus selalu disesuaikan dengan rencana tebang yang mengacu
kepada kategori faktor kemasakannya sehingga diperoleh hasil tebu dan tingkat
rendemen yang tinggi pula.
Varietas merupakan salah satu faktor penting yang menentukan
keberhasilan produksi tebu. Varietas menentukan hasil tebu, rendemen, hablur,
dan pola kemasakan. Adapun jenis varietas yang dibudidayakan di wilayah PG.
Krebet Baru Malang adalah varietas PS 881, PSBM 96-03, PSJK, dan varietas BL
/ BR. Kemudian membagi varietas-varietas yang telah dibudidayakan tersebut

88

kedalam berbagai jenis kategori tingkat faktor kemasakan tebu. Pembagian


tersebut ialah varietas PS 881, dan PS 882 tergolong dalam kategori varietas
masak awal, varietas PSJK dan varietas PSBM tergolong dalam kategori varietas
masak tengah, Sedangkan kategori varietas masak akhir ialah varietas BL / BR.
Pengaturan masa tanam, varietas dan kategori tanaman dapat membantu
menentukan permulaan giling yang cepat. Cara ini dianggap setiap tahun harus
diperbaharui. Adapun tingkat konsekuensi dari penerapan cara ini adalah bahwa
setiap tahun harus dilakukan pengamatan terhadap varietas tebu yang ditanam
terutama dalam hal sifat varietas tersebut yakni tebu dengan varietas masak awal
(Lebih Di Prioritaskan), masak tengah, dan masak lambat. Selanjutnya parameter
pengamatan tersebut dianalisis apakah sifat-sifat tersebut akan tetap sama pada
tebu keprasan pertama, kedua, dan seterusnya. Lebih jauh, akan lebih baik lagi
apabila komponen faktor tersebut dapat dipasangkan pada ciri-ciri wilayah
tertentu. Oleh karena itu, cara ini juga harus memerlukan data wilayah seperti peta
tinjau tanah, peta pemupukan, peta berat tanah dan lain sebagainya.
Penentuan kemasakan sangat berpengaruh pada banyaknya ekstraksi yang
dihasilkan. PG. Krebet baru melakukan kegiatan giling tebu mulai pada awal
bulan juni sehingga bahan baku yang digunakan adalah varietas masak awal. Hal
ini dikarenakan kandungan rendemen pada varietas masak awal sangat tinggi
untuk awal giling. Namun, yang diinginkan PG. Krebet Baru dengan kenyataan
dilapangan sulit untuk meyakinkan petani untuk menanam varietas masak awal.
Hal ini disebabkan mindset (Pola Pikir) pemikiran petani yang cenderung
menginginkan tebu yang memiliki berat yang tinggi (Bobot yang tinggi)
dibandingkan dengan rendemen tebu. Pemikiran tersebut yang sulit untuk dirubah
terutama oleh petani-petani yang sudah lama menanam tebu, mereka beranggapan
bahwa penanaman tebu varietas awal memerlukan perawatan yang lebih mahal
dibandingkan dengan tebu varietas tengah-akhir salah satunya dari segi
pemupukan dan proses pengklentekan. Petani juga menganggap penanaman
varietas tebu masak awal hanya menguntungkan PG saja. Hal ini dikarenakan
bobot yang didapatkan lebih kecil.
Salah satu strategi yang dilakukan oleh PG. Krebet Baru sebagai
perusahaan yang bermitra dengan petani untuk mengatasi masalah perbedaan nilai

89

rendemen perjanjian antara petani dengan perusahaan ialah melalui pemberian


program bibit masak awal gratis dimana bibit ini diberikan pada bulan Mei hingga
Agustus setalah lewat dari bulan tersebut pemberian dikenakan biaya. Program
pemberian bibit gratis sendiri telah dilakukan sejak tahun 2012 melihat kebutuhan
tebu yang berkualitas baik untuk awal giling. Dimana setiap tahunnya PG. Krebet
Baru selalu memberikan subsidi rendemen kepada petani dikarenakan bahan baku
yang dikirim kepada PG. Krebet Baru petani kurang berkualitas dari sisi nilai
rendemen. Sehingga nilai rendemen yang dibuat standart 7 akan menjadi 4 pada
awal giling jika tebu yang diperoleh kurang berkualitas. Dengan program bibit
gratis petani menanam varietas masak awal dan program ini dilakukan dengan
sistem perjanjian untuk menghindari tebu yang digunakan sebagai bahan baku
yang akan dikirimkan ke PG. Krebet Baru diperjualkan kepada PG. lain, sehingga
dapat merugikan PG Krebet Baru itu sendiri. Adapun peran sentral dari PLPG
(Petugas Lapang Pabrik Gula) juga sangat penting untuk meningkatkan hubungan
petani dengan PG. PLPG menjadi kunci utama agar program dari penanam
varietas masak awal dapat berjalan dan program-program yang dikelurakan oleh
PG. dapat terlaksana.
Tanaman tebu yang memiliki kualitas baik dan memenuhi kriteria MBS
(Manis, Bersih, Segar) yang telah ditetapkan oleh PG. Krebet Baru merupakan
bahan baku yang mampu memberikan hasil proses gula yang baik. Tebu yang
dikirim ke PG. akan melewati pos pemeriksaan awal pada POS 1 (Pos Gawang)
dan jika lolos akan kembali diperiksa pada POS 4 (Pos Rafraksi / Sanksi
Hukuman). Pada POS 4 akan terlihat banyaknya pelanggaran yang didapatkan
bahkan hampir setiap hari ditemukan pelanggran dari Sogolan (Tebu Muda),
Pucuk, Daduk, Tali Pucuk, Tebu Terbakar, dan Tebu Cacahan. PG. Krebet Baru
sendiri sudah memberikan peringatan berupa penalty berupa pemotongan bobot
tebu hingga pengurangan rendemen, namun tetap saja tebu yang dikirim tetap
tidak mengikuti kaidah standart mutu MBS yang sudah disepakati bersama.
Faktor-faktor yang menyebabkan masih banyak terjadi kondisi seperti ini ialah
permasalahan dari tenaga tebang, pengawasan oleh petugas, dan petani. Tenaga
tebang yang digunakan untuk melakukan tebang ialah dalam luasan lahan 1 Ha
akan ditebang tenaga kerja laki-laki sebanyak 5 orang, namun dari tahun-ketahun

90

tenaga tebang untuk menebang yang dicari sangat sulit sehingga perlu
didatangkan dari luar malang bahkan tenaga tebang menggunakan tenaga wanita.
Kesulitan dalam mendapatkan Surat Perintah Tebang Angkut (SPTA)
mendorong para petani membakar tebu milik mereka, karena tebu terbakar akan
lebih didahulukan masuk untuk digiling karena faktor inversi akan berlangsung
selama 12 Jam. Namun jika melebihi batas faktor inversi tersebut yakni 12 Jam
maka tebu tidak akan digiling dibandingkan dengan tebu hijau. Padahal dengan
pembakaran ini pemberian penalty juga cukup besar yakni pengurangan nilai
rendemen sebesar 1,0 Point. Semakin memasuki musim kemarau jumlah areal
tebu terbakar juga semakin besar dan kualitas tebu untuk digiling juga akan
semakin menurun karena tebu yang terbakar proses untuk dikristalkan semakin
sulit. Untuk mengatasi masalah tebu terbakar, PG. Krebet Baru kemudian
memberikan penyuluhan pencegahan tebu terbakar dengan melakukan rodges atau
pembuangan daun kering pada tebu 3 bulan sebelum panen. Serta dan segera
melakukan pelaporan kepada PG. jika tebu terbakar agar dapat segera diproses.

91

5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
PG. Krebet Baru Malang menyediakan beberapa macam tebu dengan
kualitas varietas unggul diantaranya ialah varietas BL (Bululawang), Varietas PS
881 (Pasuruan P3GI), PSBM 96-03, PSBM 98-113, PSJK 922, BZ 132, KK
(Kidang Kencana), Varietas PS 862, Varietas PS 864, Varietas PS 891, Varietas
PSJT 941, Varietas Cenning, dan Varietas PS 882. Proses dalam budidaya
tanaman tebu sangat penting terutama dalam proses pembibitan. Pembibitan
dilakukan menggunakan bibit bagal, bibit pucuk, bibit kuljar, dan bibit budchips.
Terdapat 4 penjenjangan kebun bibit, yakni Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU),
Kebun Bibit Pokok (KBP), Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI),
serta Kebun Bibit Dasar (KBD).
Pada pengolahan lahan terdapat dua sistem pengolahan tanah, yakni
pertama sistem reynoso untuk lahan sawah beririgasi, kedua sistem bajak untuk
lahan kering non-irigasi. Adapun dalam sistem reynoso hal yang terpenting adalah
pembuatan got keliling, got mujur, serta got malang.
Tanaman tebu giling terdapat 2 macam, yakni tanaman baru (Plant cane)
dan tanaman keprasan (Ratoon cane). Pada penanaman plant cane (PC) ada
beberapa teknik penanaman, yakni single row, double row, dan end to end.
Pemeliharaan tanaman tebu harus dilakukan secara teratur, yakni pemberian air,
penyulaman, penyiangan gulma, pemupukan, penambahan bahan organic tanah,
serta pengendalian hama dan penyakit tanaman yang diaplikasikan pada semua
lahan tebu. Sedangkan aplikasi Zat Pemacu Kemasakan (ZPK) disemprotkan pada
varietas tebu masak akhir agar tingkat faktor kemasakan dapat segera dipercepat.
Pengelentekan wajib dilakukan di Kebun Tebu Giling (KTG) tetapi tidak
dilakukan pada kebun bibit.
Analisa pendahuluan digunakan untuk mengukur tingkat kemasakan tebu
di Kebun, dan perkiraan produksi. Analisa Pendahuluan menggunakan angka Brix
dan Angka Pol % sebagai acuan nilai rendemen sementara (RS).
Proses tebang angkut harus dilakukan secara terkoordinir supaya
menghasilkan tebu yang sesuai dengan kaidah aturan PG. Krebet Baru yakni MBS

92

(Manis, Bersih, dan Segar). Tebu ditebang pada umur 10-11 bulan untuk tebu
masak akhir dan 7-8 bulan untuk varietas tebu masak awal. Terdapat 2 macam
sarana pengangkutan di PG. Krebet Baru Malang yakni dengan menggunakan
Lori yang ditarik oleh Lokomotif Serta dengan menggunakan Truk sebagai alat
muat transportasi tebu ke PG. Krebet Baru Malang.
Analisis Rendemen Individu (ARI) diupayakan untuk menghasilkan angka
rendemen efektif dari nira tebu yang digiling di PG. Krebet Baru, adapun teknis
pelaksanaannya hampir sama dengan penentuan rendemen pada analisa
pendahuluan, yang membedakan ialah penambahan Faktor Rendemen (FR)
sebagai cerminan dari faktor pabrik dan faktor luar pabrik. Angka rendemen dari
ARI merupakan dasar bagi hasil antara petani dan pabrik gula.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan kepada pihak Managemen PG. Krebet
Baru dalam produksi tebu menjadi gula ialah :
Peluasan serta pengadaan lahan Hak Guna Usaha (HGU) sangat diperlukan
bagi perkembangan produksi gula secara internal, serta dapat diperlukan
minimal untuk lahan pembibitan.
Efisiensi teknis di lahan harus dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian,
khususnya penanaman bibit dan pemupukan.
Penggunaan Ratoon Cane (RC) dan Plant Cane (PC) diharapkan maksimal 3
kali keprasan, untuk menjaga produktifitas tebu.
Pengembangan Inovasi teknologi budidaya hendaknya mulai diterapkan di
lahan, khususnya pengendalian

gulma dan

hama penyakit

tanaman

menggunakan herbisida.
Penggunaan alat mekanisasi untuk lahan yang luas harusnya lebih intensif
untuk menekan biaya tenaga kerja di lahan.
Hubungan kemitraan yang baik antara PG. Krebet Baru Malang dan Petani
tebu ialah hal yang paling penting yang harus tetap untuk dipertahankan.
SKW dan PLPG untuk KTG diharapkan lebih aktif menyuluhkan teknis
budidaya tebu yang baik kepada petani.

93

Sarana angkut diharapkan lebih baik, sehingga semua tebu terangkut kurang
dari 24 Jam. Operasional angkutan lori hendaknya lebih diefisienkan untuk
menekan biaya yang harus dikeluarkan PG.
Adanya ARI sangat berperan dalam menghasilkan angka rendemen efektif,
maka dari itu ketertiban prosedur harus lebih ditingkatkan.

94

DAFTAR PUSTAKA
Azharni, H. 1992. Tebu: Bercocok Tanam dan Pascapanen. CV. Yasaguna.
Bogor.
Bantacut T. 2010. Swasembada Gula: Prospek Dan Strategi Pencapaiannya.
Pangan 19(3): 245-256
Byrne, J.J., R.J. Nelson Dan P.H. Googins. 1960. Logging Road Handbook. The
Effect Of Road Design On Hauling Cost. Usda, Washington Dc, Usa.
Dhiyaudzdzikrillah.2011.Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum.L)
Lahan Kering Di PT. Gula Putih Mataram, Lampung Dengan Aspek
Khusus Tebang, Muat, Dan Angkut. Fakultas Pertanian.Institut Pertanian
Bogor
Disbun

Jatim.

2009.

Proyek

Pengembangan

Tebu

Jawa

Timur.

http://www.ratoonjatim.co.cc. 13 Mei 2014


Foster.2010.Keterlambatan

Pengiriman

Dan

Pengiriman

Tebu.

Http://Pabrikgulamini.Blogspot.Com . Diakses Tanggal 5 Oktober 2014

Hakim, M. 2008. Tebu, Menuju Swasembada Gula Dengan 4 Pilar Trobosan.


Emha Training Center & Advisory, Bandung.
Hendrawan, F. 2010. Penghambatan Inversi pada Penyimpanan Pasca Panen Tebu
dengan Natrium Benzoat sebagai Stabilisator Rendemen Gula pada Nira.
Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian,
Universitas Brawijaya. Malang.
Kuncara, R. T. 2010. Pengaruh Konsentrasi Kalium Sorbat dan Lama Penundaan
Penggilingan terhadap Penghambatan Inversi Sukrosa Nira Tebu.
Jurusan

Teknologi

Hasil

Pertanian.

Fakultas

Teknologi

Pertanian,

Universitas Brawijaya. Malang.


Kuswurj

R.

2009.

Degradasi

Kualitas

Tebu

Setelah

Di

Tebang.

http://risvankuswurj.com. Diakses pada 12 April 2012.


Mulyana, W. 2001. Teori dan Praktek Cocok Tanam Tebu Dengan Segala
Masalahnya. Aneka Ilmu, Semarang.

95

Santoso BE. 2011. Analisis kualitas nira dan bahan alur untuk pengawasan
pabrikasi di pabrik gula. Pasuruan : Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia (P3GI).
Soemohandojo T. 2009. Pengantar Injiniring Pabrik Gula. Surabaya : Bintang
Surabaya.
Soepardiman. 1983. Kursus Mandor Pada Pabrik Gula. Bp3g, Pasuruan.
Sudiatso, S. 1981. Bertanam Tebu. Departemen Agronomi Fakulktas Pertanian
IPB. Bogor. 43 hal.
Sugiyarta, Eka. 1994. Strategi Perakitan Tebu Unggul Dan Pengertian Kemasakan
Tebu. Pros. Pert. Teknis. P3gi Pasuruan.
Supatma.2008.Kehilangan Gula Dalam Sistem Tebang Muat Angkut Di Pabrik
Gula Sindang Laut Dan Tersana Baru, Cirebon. Jurnal Teknologi Pertanian
Vol. 13 No. 3 [Desember 2012] 199-206
Sutrisno B. 2009. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan
petani tebu pabrik gula mojo sragen. { Thesis. Universitas Muhammadiyah
Surakarta}.
Tim Penulis. 2000. Botani dan Morfologi Tanaman Tebu. Bina Aksara Putra :
Solo.
Triantarti.2009. Uji aplikasi Produk Reaksi Maillard (PRM) untuk penghambatan
pembentukan dekstran pada pasca panen tebu. Pasuruan : Pusat Penelitian
Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).
Weeks, D. 2004. Harvest Management. Di Dalam James, G. (Ed). 2004.
Sugarcane Second Edition. Blackwell Publishing Company, Victoria,
Australia.
Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.

96

Winarsih. 2003. Pola Penyediaan Bibit Tanaman Tebu (Saccharum officinarum


L.) Lahan Kering Di PG Jatitujuh PT Rajawali Nusantara Indonesia II Jawa
Barat. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

97

LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
Data diri mahasiswa pelaksana magang :
1. Nama

: MUHAMMAD FARID

NIM

: 115040201111308

Konsentrasi

: Fisiologi Tanaman

Jurusan

: Budidaya Pertanian

Program Studi

: S-1 Agroekoteknologi

Institusi

: Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya,


Malang

Tempat , Tgl Lahir : Malang, 09 Agustus 1993


Jenis Kelamin

: Laki-laki

No. Telepon

: 089 722 322 58

Alamat Asal

: Jl. Sunan Giri Rt / Rw 10 / 03 Kasin Sepanjang


Gondanglegi Malang

No. Telp Orang Tua: (0341) 731 88 37


Email

: faried.fistum01@gmail.com

Alamat di Malang : Jl. Kertosentono No. 45 A Malang


Tempat Magang

: PT. Rajawali Nusantara Indonesia, Tbk.

Alamat Magang

: Jalan Raya Bululawang No.10 Malang

Alamat Kampus Mahasiswa Pelaksana Magang :


Jurusan Budidaya Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
JL. Veteran , Lowokwaru , Malang 65145 , Jawa Timur
Telp. (0341) 551611 Pes 315

98

LAMPIRAN 2
Tabel 1. Rencana Jadwal Kegiatan Magang Kerja
No

Waktu

1.

Minggu ke-1

Kegiatan
Pengenalan lahan, staf dan pekerja.
Penjelasan dan pembagian tugas di lapang.
Pengenalan varietas dan teknik produksi tanaman
tebu.

2.

Minggu ke-2

Persiapan lahan dan penanaman bibit:


Meliputi Pengolahan lahan dan Persiapan Media yang
digunakan dalam penanaman tebu. serta penanaman
bibit tebu dan penanaman hasil tanaman tebu.

3.

Minggu ke-3

Pemeliharaan tanaman:
Pengolahan lahan tebu serta proses perawatan
tanaman tebu

Minggu ke-4

Pemeliharaan tanaman:
Pengairan dan perawatan tanaman tebu.

5.

Minggu ke-5

Teknik Penanaman tanaman tebu:


Menanam tanaman tebu yang memiliki varietas yang
unggul serta hasil rendemen yang di dapatkan bisa
optimal.

6.

Minggu ke-6

Pemeliharaan tanaman:
Pengairan

lahan,

penyiangan

gulma,

serta

pengendalian hama dan penyakit tanaman serta


pengamatan hasil pertumbuhan dari tanaman tebu.
7.

Minggu ke-7

Pemeliharaan tanaman:
Pemupukan

lahan,

penyiangan

gulma,

serta

gulma,

serta

lahan,

serta

pengendalian hama dan penyakit.


8.

Minggu ke-8

Pemeliharaan tanaman:
Pengamatan

lahan,

penyiangan

pengendalian hama dan penyakit.


9.

Minggu ke-9

Pemeliharaan tanaman:
Pengamatan

lahan,

pemupukan

99

pembersihan got / parit yang ada disekitar pematang


lahan, penyiangan gulma, serta pengendalian hama
dan penyakit tanaman.

10. Minggu ke-10

Pemeliharaan tanaman:
Pemberian pupuk cair pada tanah, dan juga pemberian
nutrisi tanaman (pupuk cair), penyiangan gulma, serta
pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Seleksi varietas tebu unggul.

11. Minggu ke-11

Proses

penyulaman

tanaman

tebu

yang

mati,

pengairan, pembumbunan, kurasan, serta penyiangan


gulma

disekitar

lahan

tanaman

tebu

yang

di

budidayakan.

12. Minggu ke-12

Proses pemeliharaan tanaman tebu serta dilakukan


proses roguing, keprasan, klentek (pembuangan
tanaman tebu yang dirasa rusak dan tidak layak untuk
di produksi), proses tebang tebu, panen dan pasca
panen tanaman tebu unggul.

13. Minggu ke-13

Pengumpulan data dan Evaluasi hasil magang yang


telah didapat dan pembuatan laporan akhir magang
kerja.

100

LAMPIRAN 3
Tabel 2. Matriks Kegiatan Magang Kerja di PT. Rajawali Nusantara Indonesia
PG. Krebet Baru Bululawang Malang Jawa Timur

JADWAL KEGIATAN MAGANG KERJA MAHASISWA


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA TAHUN 2014
DI PG. KREBET BARU

BST
PABRIKASI
PTA

OKTOBER
2 3 4

LIBUR

TEMPAT

KELOMPOK PROSES PRODUKSI


JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5

TU TANAMAN

BST
LAB. MIKRO
RAYON
PTA
GILINGAN
CONTOH
MEKANISASI

LIBUR

KELOMPOK BUDIDAYA

TU TANAMAN

Mengetahui
Pembimbing Lapang

Karyanto, SP.

101

LAMPIRAN 4
Struktur Organisasi PT. PG. Rajawali I Unit PG. Krebet Baru

Struktur Organisasi PG. Krebet Baru Bagian Tanaman

102

LAMPIRAN 5
Mekanisme Analisa Pendahuluan

32

103

14

11

10

13

12

Keterangan gambar:
1.
2.
3.
4.

Pengambilan sample tebu di lahan.


Pemotongan sample tebu dengan ukuran sama panjang
Penimbangan berat sample tebu
Persiapan sample tebu yang akan digiling & Proses penggilingan sample
tebu
5. Sample Air nira ditampung
6. Penimbangan wadah sample
7. Penimbangan berat sample nira + wadah
8. Pengambilan nilai Brix dengan Hand-Brix
9. Pengukuran suhu nira
10. Pengambilan Nira sebanyak 50 ml
11. Pemberian form A dan Form B
12. Pencampuran nira dengan Form A dan Form B
13. Penyaringan sample yang telah dicampur
14. Penentuan nilai pool dengan Polari-meter.

104

LAMPIRAN 6
Blanko Pengamatan analisa Pendahuluan

105

LAMPIRAN 7
Masa Tebang dan Tanam varietas

106

LAMPIRAN 8
Tabel 1. Derajat Suhu BJ Brix.

Tabel 2. Derajat Brix Suhu Dan Nilai Brix. Koreksi

107

LAMPIRAN 9
Rencana Pola Giling PG. Krebet Baru MG. 2014-2015

108

LAMPIRAN 10
Surat Berita Acara Sanksi Pelanggaran Kaidah MBS

109

LAMPIRAN 11
DENAH PETA LOKASI PG. RAJAWALI
NUSANTARA INDONESIA I TBK.
UNIT PG. KREBET BARU MALANG