Anda di halaman 1dari 11

Anemia pada Kehamilan: Diagnosis, Penatalaksanaan,

dan Pengaruhnya terhadap Ibu dan Janin.


Anesty Claresta (Nim: 102011223)
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana.
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510. A_resta21@yahoo.com

Pendahuluan
Kehamilan memicu berbagai perubahan fisiologis yang sering mempersulit diagnosis
penyakit-penyakit hematologis dan penilaian terhadap pengobatannya. Hal ini terutama terjadi
pada anemia. Anemia sering dijumpai pada kehamilan karena pada masa hamil keperluan
akan zat-zat bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum
tulang. Bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan pertambahan plasma
sehingga terjadi pengenceran darah.1 Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri
secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita.
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan Hb<11g% pada trimester 1 atau <10,5%
pada trimester 2. WHO mencatat bahwa 40% kematian ibu di negara berkembang bekaitan
dengan anemia dalam kehamilan. Kekurangan gizi dan perhatian terhadap kesehatan ibu
hamil adalah predisposisi terhadap anemia dalam kehamilan ini. Anemia dalam kehamilan
dapat menyebabkan gangguan proses kehamilan, proses perkembangan janin, dan juga proses
persalinan.
Skenario
Ny.TK, umur 25 tahun datang ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya yang kedua.
Pasien sudah diketahui hamil empat bulan. Keluhannya adalah sakit kepala dan lesu. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan semua dalah keadaan normal kecuali konjungtiva pucat. Pada
pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Hb 9g/dL.
Adaptasi Fisiologi pada Kehamilan Sistem Hemodinamik
Pengaruh perubahan hormonal pada kehamilan yang berasal dari kelenjar ibu, plasenta, serta
ovarium (saat permulaan) dan kebutuhan yang meningkat akan nutrisi O2, elektrolit dan
elemen dasar yang penting serta pembuangan hasil yang tidak diperlukan, telah menimbulkan
perubahan dalam darah ibu sendiri dan perubahan hemodinamik sirkulasi darah. Perubahan
1

ini bertujuan untuk mendukung tumbuh kembang janin dalam rahim sehat dan optimal
sehingga tercapai well born baby sebagai landasan utama sumber daya manusia yang
berkualitas.1
Hemoglobin adalah protein berpigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah, tersusu
atas besi yang mengandung pigmen heme dan protein globin. Fungsi hemoglobin adalah
mengangkut oksigen dari paru-paru dan dalam peredaran darah untuk dibawa ke jaringan.
Ikatan hemoglobin dengan oksigen disebut oksihemoglobin (HbO2). Sintesis hemoglobin
terjadi selama proses eritropoiesis, pematangan sel darah merah akan mempengaruhi fungsi
hemoglobin.
Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan produksi
eritropoietin. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah merah (eritrosit) meningkat.
Namun peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan
dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin (Hb) akibat
hemodilusi. Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang biasa disebut hidremia atau
hipervolemia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan
bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah yang dianggap sebagai
penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan.1
Pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa
hamil sebagai akibat hidremia, cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila
viskositas darah rendah. Dan pada pendarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang
hilang lebih sedikit dibandingkan apabila darah itu tetap kental.1
Anamnesis

Menanyakan identitas ibu (nama pasien, nama suami, alamat, agama, pendidikan
terakhir, pekerjaan, suku bangsa)
Menyakan keluhan utama, sudah berapa lama dirasakan, dan adakah hubungannya
dengan kehamilannya saat ini, apakah pada kehamilan terdahulu (jika sudah pernah

melahirkan sebelumnya) keluhan ini dirasakan juga.


Sekarang sudah hamil berapa bulan? Sudah kehamilan yang ke berapa? Adakah
komplikasi selama kehamilan terdahulu? Pernah keguguran atau tidak?
Apakah ada keluhan lain seperti demam, hemoroid, kelelahan, pusing, cepat lelah,
nafsu makan berkurang, dll?
Apakah pernah ada pendarahan sebelumnya?
2

Apakah memiliki penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, SLE, dll?
Bagaimana kebiasaan makan sehari-hari? Apakah mengonsumsi makanan dengan gizi
seimbang?
Apakah pernah mengonsumsi obat-obatan selama kehamilan? Obat apa?
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit hemolitik?2

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum pasien, kesadaran dan tanda-tanda vital.


Mengukur tinggi badan dan berat badan pasien.
Adakah sklera ikterik, dan konjungtiva pucat.
Memeriksa bunyi jantung ibu dan janin.
Melakukan palpasi hepar dan limpa untuk mengetahui adakah perbesaran organ.2

Pemeriksaan penunjang
1. Complete Blood Count, SHDT, MCV, MCH, MCHC
Complete blood count meliputi : Hb, Ht, Eritrosit, Leukosit, Trombosit.
SHDT (Sediaan hapus darah tepi) : untuk melihat morfologi, ukuran, dan kepadatan sel darah
dan retikulosit.
Mean Corpuscular Volume (MCV) = Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata
sebuah eritrosit disebut dengan fermatoliter/ rata-rata ukuran eritrosit.3
MCV (VER)

= 10 x Ht : E, satuan femtoliter (fl)

Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) = Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER), yaitu


banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram.
MCH (HER)

= 10 x Hb : E, satuan pikogram (pg)

Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) = Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit


Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapat per eritrosit, dinyatakan dengan
persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah gram hemoglobin per dL eritrosit).
MCHC (KHER) = 100 x Hb : Ht, satuan persen (%)
Hasil penilaian :

Anemia mikrositik

: nilai MCV kecil dari batas bawah normal


3

Anemia normositik
Anemia makrositik
Anemia hipokrom
Anemia normokrom
Anemia hiperkrom

: nilai MCV dalam batas normal


: nilai MCV besar dari batas atas normal
: nilai MCH kecil dari batas bawah normal
: nilai MCH dalam batas normal
: nilai MCH besar dari batas atas normal.3

2. Pemeriksaan serum iron (SI), total iron binding capacity (TIBC) dan ferritin.
Pemeriksaan SI bertujuan mengetahui banyaknya besi yang ada di dalam serum yang terikat
dengan transferin, berfungsi mengangkut besi ke sumsum tulang. Serum iron diangkut oleh
protein yang disebut transferin, banyaknya besi yang dapat diangkut oleh transferin disebut
total iron binding capacity (TIBC). Saturasi transferin mengukur rasio antara kadar SI
terhadap kadar TIBC yang dinyatakan dalam persen. Ferritin adalah cadangan besi tubuh yang
sensitif, kadarnya menurun sebelum terjadi anemia.3
3. Elektroforesis Hb
Analisa Hb Elektroforesa meupakan pemeriksaan untuk mendeteksi beberapa jenis Hb (S atau
D; C atau E) secara kualitatif atau semi-kuantitatif. Pemeriksaan ini juga mampu memisahkan
HbA dan HbA2.
Manfaat Pemeriksaan ini adalah untuk mendiagnosis hemoglobinopati dan thalassemia, dan
evaluasi kondisi anemia hemolitik.
Nilai Rujukan :

HbA : 95-98%, HbA2 : 1,5-3,5%, HbF : <= 2,0%

4. Hitung aktifitas glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD).


5. One Tube Osmotic Fragility Test (OTOFT)
Osmotic fragility adalah tes untuk mendeteksi apakah sel-sel darah merah lebih cenderung
untuk memecah. 1 tetes darah diambil dari ujung jari dimasukkan ke dalam 5 ml 0,36% salin.
Hasil dibaca dalam 10 menit
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi sferositosis herediter dan talasemia. Sferositosis herediter
membuat sel darah merah lebih rapuh dari biasanya. Beberapa sel darah merah pada pasien
dengan thalassemia lebih rapuh dari normal, tetapi jumlah yang lebih besar kurang rapuh dari
normal.3
Working diagnosis dan Differential diagnosis
4

Anemia pada Kehamilan


Anemia adalah kondisi saat berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah
atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa
oksigen ke seluruh jaringan. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi
hemoglobin kurang dari 10,5 11,0 gr/dL.1
Klasifikasi anemia menurut Setiawan Y (2006), anemia dalam kehamilan dapat dibagi
menjadi :

Anemia Defisiensi Zat Besi (kejadian 62,30%)

Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi.
Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan,
gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi. Penyakit infeksi seperti
askariasis juga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi karena dapat mengurangi
penyerapan zat besi.1,4

Anemia Megaloblastik (kejadian 29,00%)

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat dan B12

Anemia Aplastik atau Hipoplastik (kejadian 80,00%)

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat
sel-sel darah merah. Dimana etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar
rontgen, racun dan obat-obatan.

Anemia Hemolitik (kejadian 0,70%)

Anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat, yaitu
penyakit malaria, defisiensi enzim G6PD, dll.
Etiologi
Penyebab anemia pada kehamilan terbagi menjadi 2, yang didapat (aquired) atau yang
herediter.
5

Tabel 1.Penyebab Anemia Selama Kehamilan


Didapat

Anemia defisiensi besi

Anemia akibat kehilangan darah akut

Anemia pada peradangan atau keganasan

Anemia megaloblastik

Anemia hemolitik didapat

Anemia aplastik atau hipoplastik

Herediter

Thalassemia

Hemoglobinopati sel sabit

Anemia hemolitik herediter

Sumber : Obstetri Williams Edisi 23 Vol.2 hal.1139.


Epidemiologi
Anemia pada wanita hamil merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita
diseluruh dunia terutama dinegara berkembang. Badan kesehatan dunia (World Health
Organization/WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi
besi sekitar 35-75% serta semakin meningkat seiring dengan pertambah usia kehamilan.
Menurut WHO 40% kematian ibu dinegara berkembang berkaitan dengan anemia pada
kehamilan dan kebanyakan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan
perdarahan akut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Sedangkan menurut SKRT
(1995) angka anemia ibu hamil yaitu 51,8% pada trimester I, 58,2% pada trimester II dan
49,4% pada trimester III.
Patofisiologi
Patofisiologi anemia dalam kehamilan tergantung dari jenis anemia itu sendiri. Anemia
defisiensi besi termasuk dalam penyebab anemia tersering pada ibu hamil. Dalam kehamilan
terjadi peningkatan volume darah dan peningkatan kebutuhan zat besi sebesar 1000 mg.
Kebutuhan yang meningkat sebesar ini bila tidak dipenuhi dapat mengakibatkan anemia
defisiensi besi. Anemia karena defisiensi lainnya adalah anemia megaloblastik yang
disebabkan defisiensi asam folat atau vitamin B12. Defisiensi asam folat lebih sering
6

dibandingkan defisiensi vitamin B12, karena selama kehamilan kebutuhan asam folat
meningkat dari 50-100 ug/hari menjadi 400 ug/hari.1
Hemoglobinopati adalah gangguan dalam produksi satu atau lebih rantai globin. Thallasemia
adalah hemoglobinopati yang diturunkan, dan diklasifikasikan berdasarkan rantai globin mana
yang mengalami gangguan. Terdapat dua jenis thallasemia yaitu alfa dan beta.4
Dalam kehamilan, beberapa penyakit kronik juga dapat menyebabkan anemia termasuk
penyakit ginjal, systemic lupus eritematosus, reumatoid artritis, tuberkulosis dan neoplasma.
Mekanisme terjadi anemia karena perubahan fungsi retikuloendotel, gangguan metabolisme
besi dan eritropoesis yang berkurang.5
Penyebab lain anemia seperti hemolisis jarang ditemukan dalam kehamilan. Terjadinya
hemolisis dikarenakan adanya autoantibodi yang merusak eritrosit. Penyebabnya idiopatik
atau karena penyakit lain yang mendasari seperti limfoma, leukemia, infeksi atau obat-obatan.
Hemolisis juga dapat disebabkan oleh defek eritrosit yang diturunkan seperti sferotisosis
herediter, defisiensi G6PD namun jarang ditemukan.
Anemia aplastik juga jarang ditemukan dalam kehamilan, namun mempunyai komplikasi
yang sangat berat. Penyebab dapat ditemukan pada sepertiga kasus, biasanya kaena obatobatan, infeksi, radiasi, leukemia atau gangguan imunologi.1
Gejala Klinis
Gejala klinis pada ibu hamil yang menderita anemia, umumnya sama seperti wanita yang
tidak hamil,seperti :
a.

Lemah letih

b.

Palpitasi

c.

Cepat lelah

d.

Lunglai

e.

Sering pusing

f.

Mata berkunang-kunang

g.

Lidah luka

h.

Nafsu makan turun (anoreksia)


7

i.

Konsentrasi hilang

j.

Nafas pendek (pada anemia parah)

k.

Mual muntah lebih hebat pada hamil muda

l.
Pucat pada mukosa bibir dan faring, telapak tangan dan dasar kuku, konjungtiva
5
mata.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan tergantung dari jenis anemia
Anemia defisiensi besi
Koreksi anemia dan pengembalian status besi dapat dicapai dengan pemberian preparat besifero sulfat, fumarat atau glukonas- yang dapat memberikan 200 mg elemen besi. Pengobatan
dilanjutkan hingga 3 bulan setelah koreksi anemia untuk mengembalikan cadangan besi.
Peningkatan hemoglobin minimal 0,3 g/dl tiap minggu. Jika wanita tersebut tidak dapat
mentoleransi preparat besi maka terapi parenteral dapat diberikan.5
Anemia defisiensi folat
Asam folat oral 1-5 mg/hari diberikan hingga beberapa minggu setelah melahirkan.
Pengobatan ini memberikan respon yang baik dan diharapkan kadar hematokrit meningkat 1%
setiap harinya dimulai sejak hari 5-6 pengobatan. Hitung retikulosit juga menigkat dan
merupakan perubahan morfologi yang paling awal terlihat. Suplementasi besi pada anemia
defisiensi folat tergantung indikasi.
Thalassemia
Kasus dengan thalassemia dilakukan pemberian tranfusi packed

red cell untuk

mempertahankan kadar hemoglobin > 9-10 g/dl. Selain itu juga diberikan terapi kelasi besi
dan pemantauan adanya overload dari besi yang dapat menimbulkan kerusakan jantung, hati
dan organ endokrin.
Anemia karena penyakit kronis
Penatalaksanaan disesuaikan dengan penyakit yang mendasari dan patofisiologi anemia.
Pemberian eritropoetin rekombinan pada kasus anemia karena insufisiensi ginjal

dan
8

keganasan sudah digunakan secara luas meskipun penggunaan dalam kehamilan masih
sedikit.
Anemia hemolitik
Penatalaksanaan disesuaikan dengan penyebab hemolisis. Identifikasi ada tidaknya obatobatan atau bahan kimia yang menyebabkan hemolisis penting dilakukan. Pada kasus
idiopatik dan autoimun maka pemberian glukokortikoid seperti prednison 1 mg/kg bb/hari
cukup efektif.5
Anemia aplastik
Penatalaksanaan bergantung pada usia gestasi, keparahan penyakit, dan apakah terapi telah
diberikan. Perawatan suportif mencakup surveilans infeksi yang terus menerus serta terapi
antimikroba secara dini. Transfusi granulosit hanya diberikan sewaktu infeksi. Transfusi sel
darah merah diberikan untuk memperbaiki anemia simtomatik, dan secara rutin untuk
menjada hematokrit pada sekitar 20% volume. Transfusi tromobosit mungkin diperlukan
untuk mengendalikan pendarahan. Bahkan jika trombositopenia nya parah, resiko pendarahan
berat dapat diperkecil melalui persalinan per vaginam dan bukan pelahiran cesar.1
Komplikasi

Bahaya Pada Trimester I

Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan congenital
akibat gangguan vaskularisasi plasenta.

Bahaya Pada Trimester II

Pada trimester II, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante
partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian,
gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu.

Bahaya Saat Persalinan

Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir
dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan
gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif
9

Bahaya saat nifas

Subinvolusio uteri sehingga perdarahan post partum, infeksi puerpuralis, asi berkurang,
infeksi mammae, anemia pada bayi.4
Prognosis
Prognosis anemia dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak tergantung dari jenis
anemia dan tingkat keparahannya. Umumnya, anemia yang tidak terlalu parah dan dapat
diatasi penurunan Hb nya tidak akan mengganggu kehamilan dan janin Persalinan dapat
berlangsung seperti biasa tanpa perdarahan banyak atau komplikasi lain. Anemia berat yang
tidak diobati dalam kehamilan muda dapat menyebabkan abortus, dan dalam kehamilan tua
dapat menyebabkan partus lama, perdarahan postpartum, dan infeksi. Anemia aplastik dan
anemia hipoplastik berat yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk, baik bagi ibu
maupun bagi anak.5
Pencegahan

Pemeriksaan kadar Hb setiap 3 bulan untuk mengenal anemia sedini mungkin atau

dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan III.
Pemberian suplemen Fe dosis rendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non
anemik (Hb 11g/dl), sedangkan untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat

diberikan suplemen Fe sulfat 325 mg 60-65 mg, 1-2 kali sehari.


Untuk yang disebabkan oleh defisiensi asam folat dapat diberikan asam folat 1
mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapat diberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa juga diberi

vitamin B12 100-200 mcg/hari.


Mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi. Kandungan zat besi dapat
diperoleh sumber besi dapat diperoleh dari makanan seperti : hati, daging telur, buah,
sayuran yang mengandung klorofil.Makanan tersebut hendaknya dimasak tidak terlalu

lama, agar kandungan besi di dalam makanan tidak berkurang.


Menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi
Kontrol penyakit infeksi.
Mengurangi mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium seperti susu dan
hasil olahannya, makanan mengandung sereal, kacang-kacangan, biji-bijian dan

tepung serta minum teh, kopi atau coklat dapat menghambat penyerapan besi.
Asupan zat besi yang dikonsumsi dapat dijaga agar terserap tubuh sebanyak mungkin
dengan mengkombinasikan dengan makan vitamin C.
10

Mengatur jarak kehamilan atau kelahiran bayi. Makin sering seorang wanita
mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak kehilangan zat besi dan
menjadi makin anemis. Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan
akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada
kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar jarak antar kehamilan
tidak terlalu pendek, minimal lebih dari 2 tahun.5

Kesimpulan
Ibu yang sedang dalam masa kehamilan rentan sekali menderita anemia. Hal ini disebabkan
karena darah ibu digunakan untuk metabolisme tubuh ibu sendiri dan juga untuk
perkembangan janin. Kurangnya intake zat-zat pembentukan darah pada saat kehamilan juga
dapat menyebabkan anemia. Penyakit anemia herediter yang sudah ada sebelumnya juga akan
dapat memperparah anemia pada ibu hamil. Anemia dapat berakibat buruk bagi proses
kehamilan dan juga untuk perkembangan janin. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan yang
tepat, sesuai dengan jenis dan keparahan anemia yang diderita agar ibu dan bayi sehat.
Daftar Pustaka
1. Cunningham FG, et al. Williams obstetrics. Edisi ke-23.Jakarta: EGC; 2010.h.119-21,
1139-52.
2. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates guide to physical examination and history taking. Edisi
ke-11. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2013.h.893-915.
3. Herawati H, Iskandar I, Edward H, Halim SL, Santoso R. Penuntun hematologi klinik.
Jakarta : Biro publikasi FK Ukrida; 2009.h.103-39.
4. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi ke-4. Jakarta; Bina pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2010.h.774-80.
5. Manuaba IBG. Penuntun kepaniteraan klinik obstetri & ginekologi. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC; 2004.h.40-3.

11