Anda di halaman 1dari 14

KELIMPAHAN JENTIK NYAMUK VEKTOR DBD DAN PSN PLUS

A. Latar belakang
Nyamuk adalah salah satu serangga yang memiliki peran sebagai vektor dari
agen penyakit. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk masih merupakan masalah
kesehatan bagi masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan, seperti: Demam
Berdarah Dengue (DBD), Malaria, Filariasis (kaki gajah), Chikungunya dan lainnya.
Kejadian Luar Biasa (KLB) yang pada beberapa tahun terakhir ini cenderung
mengalami peningkatan jumlah kasus maupun kematiannya.
Demam Berdarah Dengue atau DBD merupakan penyakit menular yang
disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Selain
Aedes aegypti terdapat Aedes albopictus juga telah diketahui dapat menularkan
penyakit DBD. Kedua spesies Aedes tersebut mempunyai habitat pada tempat
penampungan air (TPA), air bersih yang digunakan manusia untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari serta pada genangan air dan air yang tertampung pada barang
bekas.
Cara yang paling tepat untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti adalah
dengan memberantas jentik nyamuk ditempat perkembangbiakannya. Pemberantasan
sarang nyamuk (PSN) Demam Berdarah Dengue dapat dilakukan. Kegiatan PSN telah
dilaksanakan secara intensif sejak tahun 1992 dan pada tahun 2002 dikembangkan
menjadi 3M Plus.
Kegiatan 3M plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat
tempat penampungan air, mengubur barang bekas dan plus memakai obat anti
nyamuk, memanfaatkan barang bekas, memelihara ikan pemakan jentik dan lain
sebagainya. Upaya penanggulangan tersebut belum menampakkan hasil yang
diinginkan. Salah satu penyebab tidak optimalnya upaya penanggulangan 3 tersebut
karena belum adanya perubahan perilaku masyarakat dalam upaya PSN (Depkes RI,
2008).

B. Tujuan
1. Mampu mengidentifikasi jentik nyamuk dan kelimpahannya di daerah sarang
nyamuk.
2. Mengidentifikasi faktor yang mendukung daerah sebagai sarang nyamuk.
3. Mengidentifikasi pengetahuan dan pelaksanaan PSN Plus dan kontinyuitasnya di
masyarakat.

C. Tinjauan Pustaka
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anakanak maupun orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang
biasanya memburuk setelah dua hari pertama dan apabila timbul renjatan (shock)
angka kematian akan meningkat (Sujono dan Suharsono, 2010).
Menurut Yatim (2007), menyatakan bahwa demam pada DBD bisa sampai
0
0
39 -40 C. Bila demam hanya berkisar 380C kemungkinan bukan DBD, tetapi bisa jadi
penyakit infeksi virus lain seperti campak, rubella, dan chikungunya atau virus Hanta
(Demam Korea) atau penyakit lain karena infeksi bakteri seperti tuberkulosa atau
thypus atau penyakit radang selaput otak (meningitis).
Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan
penyebarannya bertambah luas. Keadaan ini erat kaitannya dengan peningkatan
mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta
tersebar luasnya virus Dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah di
Indonesia (Depkes RI, 2010).
Penyakit Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Virus Dengue sampai sekarang
dikenal 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, Dengue-4) termasuk dalam
kelompok Arthropod Borne Virus (Arboviru). Ke-empat serotipe virus ini telah
ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia
menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan
merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1
dan Dengue-4 (Depkes RI, 2010).
Penyakit DBD hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina.
Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang yang
sakit DBD atau tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus Dengue. Orang
yang mengandung virus Dengue tetapi tidak sakit dapat pergi kemana-mana dan
menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes aegypti.
Virus Dengue yang terhisap akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh
tubuh nyamuk termasuk kelenjar liurnya. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap
darah orang lain, virus itu akan berpindah bersama air liur nyamuk. Apabila orang
yang ditulari tidak memiliki kekebalan (umumnya anak-anak) maka ia akan menderita
DBD. Nyamuk yang sudah mengandung virus Dengue, seumur hidupnya dapat
menularkan kepada orang lain. Dalam darah manusia, virus Dengue akan mati dengan
sendirinya dalam waktu lebih kurang 1 minggu (Depkes RI, 1995).
Faktor-faktor yang terkait dalam penularan DBD pada manusia antara lain:
a. Jenis Kelamin; tidak ditemukan perbedaan kerentanan terkena penyakit DBD
yang dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan
sama-sama berpotensi terserang DBD.

b. Status Pendidikan; keluarga dengan tingkat pendidikan rendah biasanya sulit


untuk menerima arahan dalam pemenuhan gizi dan sulit diyakinkan mengenai
pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau pentingnya pelayanan kesehatan
lain yang menunjang tumbuh kembang anak (Aziz, 2003).
c. Kepadatan Penghuni Rumah; apabila di suatu rumah ada nyamuk penular
DBD yaitu Aedes aegypti maka akan menularkan penyakit DBD pada semua
orang yang tinggal di rumah tersebut atau di rumah sekiranya yang berada
dalam jarak terbang nyamuk yaitu 50 meter dan orang yang berkunjung ke
rumah tersebut (Depkes RI, 2010).
d. Umur; DBD pada umumnya menyerang anak-anak, tetapi tidak menutup
kemungkinan orang dewasa tertular penyakit DBD. Dalam dekade terakhir ini
terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi pada kelompok usia dewasa
(Depkes RI, 2012).
e. Penularan virus Dengue melalui gigitan nyamuk lebih banyak terjadi di tempat
yang padat penduduk seperti di perkotaan dan pedesaan pinggir kota. Oleh
karena itu, penyakit DBD lebih bermasalah di daerah sekitar perkotaan
(Yatim, 2007).
Vektor Penyakit DBD, Vektornya adalah Arthropoda yang secara aktif
menularkan mikroorganisme penyebab penyakit dari penderita kepada orang yang
sehat baik secara mekanik maupun biologi. Penularan penyakit DBD dari satu orang
ke orang lain dengan perantara nyamuk Aedes. Penyakit ini tidak akan menular tanpa
ada gigitan nyamuk. Nyamuk pembawa virus Dengue yang paling utama adalah jenis
Aedes aegypti, sedangkan Aedes albopictus relatif jarang. Nyamuk Aedes aegypti
mulanya berasal dari Mesir yang kemudian menyebar ke seluruh dunia, melalui kapal
laut atau udara. Nyamuk hidup dengan baik di belahan dunia yang beriklim tropis dan
subtropis seperti Asia, Afrika, Australia, dan Amerika.
Aedes aegypti telah lama dikenal sebagai penyebar virus Dengue penyebab
penyakit Demam Berdarah Dengue. Nyamuk ini sekarang ditemukan di negara-negara
yang terletak di antara garis lintang 45o Lintang utara dan gari 30o Lintang selatan,
kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan
laut.
Penyebaran kosmopolit ini berkaitan erat dengan perkembangan sistem
transportasi. Suatu studi mengenai kepadatan populasi nyamuk ini di Indonesia
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara musim kemarau dan
musim penghujan. Namun peneliti lain mengatakan bhawa kepadatan nyamuk ini
meningkat pada musim penghujan dan menurun pada musim kemarau (Wulandari,
2001). Masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes aegypti dapat dibagi
menjadi empat tahap, yaitu telur, larva, pupa, dewasa atau imago, sehingga termasuk
metamorphosis sempurna (holometabola).

a.

Telur
Telur nyamuk Aedes aegypti berbentuk elips atau lonjong memanjang,
berwarna hitam, berukuran 0,5-0,8 mm, permukaan poligonal, tidak
mempunyai alat pelampung dan diletakkan satu per satu pada benda-benda
yang terapung atau pada dinding bagian dalam tempat penampungan air (TPA)
yang berbatasan langsung dengan permukaan air. Dilaporkan bahwa dari telur
yang dilepas. Sebanyak 85% melekat di dinding TPA, sedangkan 15% lainnya
jatuh ke permukaan air. Telur nyamuk Aedes aegypti di dalam air dengan suhu
20o-40oC akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari (Soegeng, 2006).

b.

Larva
Larva nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan
bulu-bulu sederhana yang tersusun secara bilateral simetris. Larva ini dalam
pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit, dan
larva yang terbentuk berturut-turut disebut larva instar I, II, III dan IV. Bagian
kepala terdapat sepasang mata majemuk, larva ini tubuhnya langsing dan
bergerak sangat lincah, bersifat fotoaksis negatif dan waktu istirahat
membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang permukaan air. Pada
kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam waktu 4-9 hari
(Soegeng, 2006).

c.

Pupa
Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan bagian
kepala sampai dada lebih besar bila dibandingkan dengan bagian perutnya,
sehingga tampak seperti tanda baca koma. Bagian punggung dada terdapat
alat pernafasan seperti terompet. Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat
pengayuh yang berguna untuk berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai
panjang dan bulu di ruas ke-7 pada ruas perut ke-8 tidak bercabang. Pupa
adalah bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah jika dibandingkan
dengan larva. Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang permukaan
air. Pupa berkembang menjadi nyamuk dewasa dalam 2-3 hari (Soegeng,
2006).

d.

Imago
Imago atau nyamuk dewasa Aedes aegypti keluar dari pupa melalui
celah antara kepala dan dada. Nyamuk dewasa betina yang menghisap darah
manusia untuk keperluan pematangan telurnya. Nyamuk ini menyerang
manusia dari bagian bawah atau belakang tubuh mangsanya. Umur Aedes
aegypti di alam bebas sekitar 10 hari. Umur ini telah cukup bagi nyamuk ini
mengembangkan virus Dengue menjadi jumlah yang lebih banyak dalam
tubuhnya (Soegeng, 2006).

Nyamuk Aedes aegypti yang aktif pada siang hari biasanya meletakkan telur
dan berbiak pada tempat-tempat penampungan air bersih atau air hujan seperti bak
mandi, tangki penampungan air, vas bunga (di rumah, sekolah, kantor, atau
perkuburan), kaleng-kaleng atau kantung-kantung plastik bekas, di atas lantai gedung
terbuka, talang rumah, bambu pagar, kulit-kulit buah seperti kulit buah rambutan,
tempurung kelapa, ban-ban bekas, dan semua bentuk kontainer yang dapat
menampung air bersih. Jentik-jentik nyamuk dapat terlihat berenang naik turun di
tempat-tempat penampungan air tersebut (Dantje, 2009).
Menurut Dantje (2009), menyatakan untuk dapat memberantas nyamuk Aedes
aegypti secara efektif diperlukan pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut
yaitu perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak, sehingga diharapkan
akan dicapai PSN dan jentik nyamuk Aedes aegypti yang tepat.
a. Perilaku Mencari Darah
Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur.
Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 3 hari sekali. Menghisap
darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00 12.00
dan jam 15.00 17.00. Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina
sering menggigit lebih dari satu orang. Jarak terbang nyamuk sekitar 100
meter . Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan.
b. Perilaku Istirahat
Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat
sekitar 2 3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai
yaitu tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi,
dapur, WC, di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai, di
luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah.
c. Perilaku Berkembang Biak
Nyamuk Aedes aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat
penampungan air bersih. Telur diletakkan menempel pada dinding
penampungan air, sedikit di atas permukaan air. Setiap kali bertelur, nyamuk
betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7
mm per butir. Telur ini di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6
bulan. Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam air.
Jentik nyamuk setelah 6 8 hari akan tumbuh menjadi pupa nyamuk. Pupa
nyamuk masih dapat aktif bergerak didalam air, tetapi tidak makan dan setelah
12 hari akan memunculkan nyamuk Aedes aegypti yang baru.

Pencegahan dan Pengendalian Vektor DBD


Vektor adalah arthropoda yang dapat memindahkan atau menularkan suatu
infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (Mabarak dan
Nurul, 2009).
Pengendalian vektor merupakan upaya yang dilakukan untuk mengurangi atau
menekan populasi vektor serendah-rendahnya sehingga tidak berarti lagi sebagai
penular penyakit dan menghindarkan terjadinya kontak antara vektor dan manusia
(Gandahusada, 1998).
Upaya pencegahan tidak harus dilakukan manakala kita sudah benar-benar
sakit. Tetapi, upaya pencegahan harus dilakukan jauh sebelumnya yaitu pada kondisi
sehatpun harus ada upaya yang positif. Tindakan pencegahan merupakan upaya untuk
memotong perjalanan riwayat alamiah penyakit pada titik-titik atau tempat-tempat
yang paling berpotensi menyebabkan penyakit atau sumber penyakit (Budioro, 2001).
Pencegahan penyakit DBD dapat dilakukan dengan cara mengendalikan
nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD. Pencegahan yang efektif
seharusnya dilaksanakan secara integral bersama-sama antara masyarakat, pemerintah
dan petugas kesehatan. Hingga saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti
merupakan cara utama yang dilakukan untuk memberantas DBD karena vaksin untuk
mencegah dan obat untuk membasmi virusnya belum tersedia. Sasaran pemberantasan
DBD dapat dilakukan pada nyamuk dewasa dan jentik. Upaya pemberantasan
meliputi:
a. Pencegahan dengan cara menguras, menutup, dan mengubur atau dikenal dengan
gerakan 3 M, yaitu:
1. Menguras tempat penampungan air secara teratur sekurang-kurangnya
seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
3. Mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung
air hujan seperti kaleng bekas, plastik, dll.
b. Pemberantasan vektor/nyamuk, penyemprotan/fogging fokus pada lokasi yang
ditemui kasus
c. Kunjungan ke rumah-rumah untuk pemantauan jentik dan abatisasi
d. Penyuluhan dan kerja bakti melakukan 3 M (Addin, 2009).

Kegiatan PSN DBD selain dilakukan dengan cara 3 M, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia juga mencanangkan 3 M plus yaitu 3 M ditambah dengan:
a. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat lainnya
yang sejenis seminggu sekali
b. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar atau rusak
c. Menutup lubang-lubang atau potongan bambu/pohon dengan tanah atau yang
lain

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Menaburkan bubuk larvasida misalnya di tempat-tempat yang sulit dikuras


Memelihara ikan pemakan jentik di kolam atau bak penampungan air
Memasang kawat kasa
Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam kamar
Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
Menggunakan kelambu
Memakai obat nyamuk yang dapat mencegah dari gigitan nyamuk (Depkes RI,
2010).

D. Cara kerja
Menyiapkan 4 daerah lokasi yang harus disurvey, yaitu rumah masing-masing mahasiswa.

Mengukur faktor-faktor, berupa faktor abiotik bila diperlukan. juga faktor biotik.

Mengisi kuisioner tentang PSN Plus yang terlampir.

Membuat tabel kuisioner yang didapatkan.

Menyimpulkan dari data yang telah didapatkan.

E. Pembahasan
Praktikum ini dilakukan di lokasi rumah atau kost-an masing-masing
anggota kelompok, melakukan pengamatan dan pengisian kuisioner. Pelaksanaan
tanggal 6 Desember 2014.
Hasil yang didapatkan dari kuisioner yang telah diisi oleh masing-masing
anggota kelompok, yang berjumlah 4 orang. Dilakukan di tempat atau rumahnya
masing-masing. Dalam kuisioner terdapat tiga topik, yaitu Pengetahuan Tentang
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD), Pelaksanaan (Metode Atau Cara) Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Aktifitas Kehidupan
Sehari-hari dan Kontiyuitas Periode Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Aktifitas Kehidupan
Sehari-hari.
Kuisioner topik pertama, mengenai pengetahuan tentang pemberantasan
sarang nyamuk penular penyakit demam berdarah dengue (DBD). Diperoleh data
yang telah ditabulasikan. Tabelnya sebagai berikut.
Jawaban Responden
No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Pertanyaan
Pengetahuan
Pertanyaan 1
Pertanyaan 2
Pertanyaan 3
Pertanyaan 4
Pertanyaan 5
Pertanyaan 6
Pertanyaan 7
Pertanyaan 8
Pertanyaan 9
Pertanyaan 10
Pertanyaan 11
Pertanyaan 12
Pertanyaan 13
Pertanyaan 14
Pertanyaan 15
Pertanyaan 16
Pertanyaan 17
Pertanyaan 18
Pertanyaan 19
Pertanyaan 20
Pertanyaan 21
Pertanyaan 22

YA

TIDAK

Frekuensi

Frekuensi

3
3
3
3
3
0
3
2
4
4
4
4
4
4
3
4
4
3
2
1
1
3

75
75
75
75
75
0
75
50
100
100
100
100
100
100
75
100
100
75
50
25
25
75

1
1
1
1
1
4
1
2
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
2
3
3
1

25
25
25
25
25
100
25
50
0
0
0
0
0
0
25
0
0
25
50
75
75
25

Tabel diatas berdasarkan kuisioner yang telah diisi oleh masing-masing


anggota kelompok (responden) yang berdasarkan pengamatan di rumahnya dan
pengetahuan tentang PSN dan DBD. Selanjutnya pada kuisioner yang kedua yang

mengenai Pelaksanaan (Metode Atau Cara) Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)


Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Aktifitas Kehidupan
Sehari-hari. Tabulasinya sebagai berikut.
Jawaban Responden
No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Pertanyaan
Pengetahuan
Pertanyaan 1
Pertanyaan 2
Pertanyaan 3
Pertanyaan 4
Pertanyaan 5
Pertanyaan 6
Pertanyaan 7
Pertanyaan 8
Pertanyaan 9
Pertanyaan 10
Pertanyaan 11
Pertanyaan 12
Pertanyaan 13
Pertanyaan 14
Pertanyaan 15
Pertanyaan 16
Pertanyaan 17
Pertanyaan 18
Pertanyaan 19
Pertanyaan 20
Pertanyaan 21
Pertanyaan 22

YA

TIDAK

Frekuensi

Frekuensi

1
2
4
4
1
4
2
3
1
2
1
2
0
1
1
0
4
4
4
3
0
3

25
50
100
100
25
100
50
75
25
50
25
50
0
25
25
0
100
100
100
75
0
75

3
2
0
0
3
0
2
1
3
2
3
2
4
3
3
4
0
0
0
1
4
1

75
50
0
0
75
0
50
25
75
50
75
50
100
75
75
100
0
0
0
25
100
25

Kemudian pada topik ketiga, yaitu tentang Kontiyuitas Periode Pelaksanaan


Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) Dalam Aktifitas Kehidupan Sehari-hari.

No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Pertanyaan
Pengetahuan
Pertanyaan 1
Pertanyaan 2
Pertanyaan 3
Pertanyaan 4
Pertanyaan 5
Pertanyaan 6
Pertanyaan 7
Pertanyaan 8

YA
Frekuensi
2
4
2
2
1
4
1
1

Jawaban Responden
TIDAK
%
Frekuensi
50
2
100
0
50
2
50
2
25
3
100
0
25
3
25
3

%
50
0
50
50
75
0
75
75

9
10

Pertanyaan 9
Pertanyaan 10

1
0

25
0

3
4

75
100

Tiap kuisioner diisi oleh responden, responden disini adalah anggota


kelompok 5. Terdiri dari Satrio H. Pamungkas, Amanina K. Maulida, Ekky Y.
Pratomo dan Ditya Farastuti. Masing-masing anggota mengisi berdasarkan tempat dan
rumahnya masing-masing. Serta pengetahuan tentang PSN dari tiap anggota, ada yang
mengetahui dan ada yang tidak mengetahui, seperti pada kuisioner yang pertama.
Dapat disimpulkan dari tiap topik kuisioner, pertama mengenai pengetahuan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dari 4 anggota kelompok, yang mengetahui
PSN 3 orang. Serta mengetahui tentang gerakan 3M Plus berupa menguras tempat
penampungan air (TPA) dan menutup rapat, mengubur barang bekas yang dapat
menjadi tempat penampungan air serta memberikan bubuk abate pada tempat
penampungan air, juga menggunakan kawat kasa dan obat anti-nyamuk.
Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan Depkes, yaitu sebagai berikut.
Kegiatan PSN DBD selain dilakukan dengan cara 3 M, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia juga mencanangkan 3 M plus yaitu 3 M ditambah dengan:
a. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat lainnya
yang sejenis seminggu sekali
b. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar atau rusak
c. Menutup lubang-lubang atau potongan bambu/pohon dengan tanah atau
yang lain
d. Menaburkan bubuk larvasida misalnya di tempat-tempat yang sulit dikuras
e. Memelihara ikan pemakan jentik di kolam atau bak penampungan air
f. Memasang kawat kasa
g. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam kamar
h. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
i. Menggunakan kelambu
j. Memakai obat nyamuk yang dapat mencegah dari gigitan nyamuk
(Depkes RI, 2010).
Hanya saja, kurang dalam beberapa aspek. Kemudian pada kuisioner yang
kedua, tentang pelaksanaan (metode atau cara) pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
penular penyakit demam berdarah dengue (DBD) dalam aktifitas kehidupan seharihari. Dapat disimpulkan dari masing-masing kuisioner yang telah diisi. Menutup
tempat penampungan air yang di dalam rumah, dilakukan oleh satu anggota saja.
Sedangkan pada tempat penampungan air yang di luar rumah, dilakukan dua orang
dari empat anggota. Dalam menguras dan menyikat tempat penampungan air,
dilakukan semua anggota, kemudian dalam mengubur barang bekas dilakukan oleh
seorang saja.
Membuang barang bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan,
dilakukan semua anggota. Lalu dalam mendaur ulang hal tersebut dilakukan dua
orang saja. Hal-hal penting lainnya, penggunaan obat nyamuk, memelihara ikan,

menggunakan kelambu atau kawat kasa, menaburi bubuk abate di tempat


penampungan air (TPA) serta membersihkan tempat-tempat penampungan air, seperti
wadah air dispenser, vas bunga, tempat minum burung, dilakukan oleh beberapa
anggota kelompok. Yang artinya bahwa responden melakukan atau melaksanakan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di kehidupan sehari-harinya, sehingga dapat
mengurangi resiko penyakit demam berdarah dengue (DBD), serta mengetahui
pencegahan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menaruh telur-telur di air
yang jernih pada tempat-tempat penampungan air.
Topik kuisioner ketiga mengenai kontiyuitas periode pelaksanaan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) penular penyakit demam berdarah dengue
(DBD) dalam aktifitas kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, kerutinan atau
kontiyuitas dalam melakukan PSN dari kuisioner tersebut dapat disimpulkan. 4
anggota kelompok, yang rutin atau berkontiyuitas dalam pemberantasan sarang
nyamuk. Hanya tiga orang anggota saja yang rutin setiap minggunya melakukan PSN
dan seorang lainnya hanya melakukan pembersihan barang-barang yang dapat
menampung air seperti ember atau drum dan semua anggota tidak melakukan
pengulangan pemakaian bubuk abate dalam jangka setiap 3 bulan. Hal-hal 3M lainnya
dilakukan dalam setiap minggunya. Atau dapat dikatakan kontiyuitasnya cukup dalam
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sehingga dapat memutus siklus
perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD dan mengurangi
resiko penyakit demam berdarah dengue (DBD). Menurut Gandahusada (1998),
mengatakan bahwa pengendalian vektor merupakan upaya yang dilakukan untuk
mengurangi atau menekan populasi vektor serendah-rendahnya sehingga tidak berarti
lagi sebagai penular penyakit dan menghindarkan terjadinya kontak antara vektor dan
manusia .
Upaya pencegahan tidak harus dilakukan manakala kita sudah benar-benar
sakit. Tetapi, upaya pencegahan harus dilakukan jauh sebelumnya yaitu pada kondisi
sehatpun harus ada upaya yang positif. Tindakan pencegahan merupakan upaya untuk
memotong perjalanan riwayat alamiah penyakit pada titik-titik atau tempat-tempat
yang paling berpotensi menyebabkan penyakit atau sumber penyakit (Budioro, 2001).
Pencegahan penyakit DBD dapat dilakukan dengan cara mengendalikan nyamuk
Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD. Pencegahan yang efektif seharusnya
dilaksanakan secara integral bersama-sama antara masyarakat, pemerintah dan
petugas kesehatan. Hingga saat ini pemberantasan nyamuk Aedes aegypti merupakan
cara utama yang dilakukan untuk memberantas DBD karena vaksin untuk mencegah
dan obat untuk membasmi virusnya belum tersedia.

F. Kesimpulan
Jentik nyamuk dapat ditemukan pada tempat-tempat penampungan air, seperti
bak mandi, ember, kolam atau pot, vas bunga, wadah air dispenser, tempat minum
burung serta barang-barang bekas yang dapat menampung air. Air yang dapat
dijadikan tempat perkembangbiakan hanya air yang jernih untuk nyamuk Aedes
aegypti. Tak hanya di tempat penampungan air (TPA) tetapi dapat ditemukan di
rimbunan tanaman, di balik baju yang digantung, di tempat-tempat yang gelap atau
kurang pencahayaan seperti kolong meja atau dalam lemari.
Faktor-faktor yang dapat mendukung menjadi sarang nyamuk, yaitu
kurangnya pencahayaan dalam ruangan, ventilasi yang terbuka lebar tidak ada kawat
kasa, banyaknya barang-barang bekas yang dapat menampung air dibiarkan tidak
dikubur atau didaur ulang. di dalam kamar mandi yang jarang dibersihkan serta pada
pakaian yang digantung dan tirai-tirai dalam rumah.
Pengetahuan dan kontiyuitas PSN dalam kehidupan sehari-hari setiap anggota
kelompok (responden) dapat disimpulkan cukup paham dan rutin dilakukan setiap
minggunya. Sehingga tinggal ditingkatkan dalam hal-hal 3M Plus yang belum
dilakukan, seperti tidak menggantungkan pakaiannya, memelihara ikan pemakan
jentik dan lainnya yang mudah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Addin A. 2009. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit. Bandung : Puri Delco.
Budioro B. 2001. Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Semarang : Universitas
Diponegoro.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2004,
Kebijakan Program P2-DBD dan Situasi Terkini DBD Indonesia, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
-------------. 2010. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di
Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
------------. 2008. Modul Pelatihan bagi pelatih pemberantasan sarang nyamuk
Demam berdarah dengue (psn-dbd) dengan Pendekatan komunikasi perubahan
perilaku (communication for behavioral impact). Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Gandahusada, S. Henry D. dan Wita Pribadi. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mubarak, W.I. dan Nurul Chayatin. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan
Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.
Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, 1995, Menggerakkan Masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD). Jakarta
: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Riyadi, S dan Suharsono, 2010, Asuhan Keperawatan pada Anak Sakit, Gosyen
Publishing.
Sembel. D.T. 2009. Entomologi Kedokteran. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Soegijanto, Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue Edisi Kedua. Surabaya :
Airlangga University Press.
Wulandari, Tri. 2001. Vektor Demam Berdarah dan Penanggulangannya. In: Mutia
Medika, Vol I, No. 1. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah

Mada. Yogyakarta, 27-30.


Yatim, F. 2007. Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya. Jilid 2.
Jakarta : Pustaka Obor Populer.