Anda di halaman 1dari 22

Socialization Through The Life Cycle

Tugas Mata Kuliah :


Teori Pendidikan Orang Dewasa (KPM 619)
Dosen :
Dr. Ir. Dwi Sadono, M.Si

Oleh:
Epsi Euriga

MAYOR ILMU PENYULUHAN PEMBANGUNAN


SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
SOSIALISASI SEPANJANG HIDUP
(SOCIALIZATION THROUGH THE LIFE CYCLE)
Oleh Orville G. Brim, Jr.

I.361140041

Pendahuluan
Sosialisasi adalah sebuah proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan,
keterampilan dan sifat/watak yang dapat menjadikan seseorang dapat atau tidak dapat
menjadi anggota suatu masyarakat. Terlihat jelas bahwa sosialisasi yang menjadi
pengalaman seseorang pada masa kanak-kanak tidak dapat menyiapkan seseorang untuk
semua peran yang akan diemban pada masa beberapa tahun kemudian. Artikel ini
memfokuskan pada karakter sosialisasi yang terjadi pada setiap rentang kehidupan
individu pada waktu berbeda dan mencoba menjawab pertanyaan mengenai perbedaan
sosialisasi pada masa kanak-kanak dan pada masa dewasa.
Permasalahan
1;

Bagaimana karakter sosialisasi yang terjadi pada setiap rentang kehidupan individu

2;
3;

pada waktu berbeda ?


Bagaimana perbedaan sosialisasi pada masa kanak-kanak dan pada masa dewasa?
Bagaimana aplikasi konsep sosialiasi sepanjang hidup dalam pendidikan orang
dewasa?

Tujuan
1;

Menganalisis karakter sosialisasi yang terjadi pada setiap rentang kehidupan

2;
3;

individu pada waktu berbeda


Menganalisis perbedaan sosialisasi pada masa kanak-kanak dan pada masa dewasa.
Bagaimana aplikasi konsep sosialiasi sepanjang hidup dalam pendidikan orang
dewasa?

Kepribadian dalam Hubungan Masyarakat (Personality in Relation Society)


Terdapat dua tradisi penelitian mengenai kepribadian dalam hubungan masyarakat
(personality in relation society):

1; Bagaimana individu menyesuaikan diri dengan masyarakat dan bagaimana pengaruh

masyarakat terhadap mereka untuk menciptakan kreativitas dan secara bertahap


merubahnya menjadi aturan masyarakat dimana mereka lahir.
2; Bagaimana pergaulan individu dalam masyarakat, yaitu bagaimana merubah bahan
dasar manusia secara biologis menjadi seseorang yang sesuai untuk bertindak dalam
aktivitas kemasyarakatan.
Penelitian mengenai sosialisasi jatuh pada tradisi kedua yang menimbulkan pertanyaan
mendasar yaitu bagaimana mungkin suatu masyarakat mampu bertahan dan
membangun. Fokus pertanyaan adalah pada bagaimana masyarakat merubah seorang
manusia, bukan pada bagaimana manusia mengubah masyarakat.
Perilaku yang disyaratkan kepada seseorang pada posisi atau status tertentu yang
diberikan disebut prescribed role, dan persyaratan itu sendiri disebut role prescriptions.
Prescribed role diarahkan pada kesuksesan pemenuhan tugas pada sistem masyarakat.
Sedangkan role prescriptions adalah usaha pada beberapa anggota masyarakat untuk
mengatur perilaku anggota lain dengan berbagai konsekuensi yang mengikutinya. Role
prescriptions berdasarkan teori, yaitu secara implisit atau tidak terkait dengan perilaku
manusia. Sedangkan prescribed role adalah untuk perilaku yang dipercaya oleh
masyarakat yang digunakan sebagai instrumen untuk mencapai hasil yang diinginkan,
dan dispesifikasikan juga sebagai fungsi dari sistem sosial. Perubahan role prescriptions
terjadi ketika teori sifat dasar manusia tergantung pada perubahan perilaku yang
diharapkan atau ketika terdapat perubahan yang dicapai pada sistem sosial.
Individu memperoleh budaya dari kelompoknya melalui sosialisasi yang memiliki dua
tujuan yaitu 1) memahami statusnya (posisinya dalam masyarakat, dan 2) mempelajari
role prescriptions dan role behavior yang berhubungan dengan cara merasakan. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah untuk merubah manusia menjadi
anggota yang mampu bekerja dengan baik dalam masyarakat, pemahaman terhadap
sruktur status, role prescriptions dan role behavior yang dihubungkan dengan berbagai

posisi dalam suatu struktur. Namun kenyataannya banyak persyaratan dalam masyarakat
yang irrasional. Hal ini mengarah pada pertanyaan, masyarakat seperti apakah yang
diinginkan?.
Sosialisasi Peran Sosial (Socialization into Social Roles)
Penekanan artikel ini adalah pada bagaimana seseorang memperoleh kebiasaan,
keyakinan, sikap dan motif yang dapat menjadikan seseorang berkinerja memuaskan
dalam peranan yang ia harapkan dalam masyarakat. Perolehan peran bukan dipandang
sebagai keseluruhan konten dalam sosialisasi, tapi pembelajaran peran merupakan
segmen sosialisasi yang akan dicoba untuk dianalisis, dan perolehan peran mungkin
adalah hal yang terpenting dalam aspek sosialisasi orang dewasa. Sedangkan perolehan
peran anak-anak dalam penelitian sosialisasi sangat sedikit dilakukan, sehingga
pembelajaran peran pada masa anak-anak tidak dibahas dalam konten sosialisasi. Selain
itu konsep sosialisasi terkait pembelajaran peran baru dan sebagai adaptasi individu
sesuai

permintaan

masyarakat

sehingga

perilaku

sosialnya

berubah

seiring

berpindahnya seseorang pada posisi lain. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana
penelitian tentang pembelajaran peran sosial sebaiknya berfokus pada keduanya yaitu
pada anak-anak dan dewasa.
KEPRIBADIAN DILIHAT SEBAGAI SISTEM SELF-OTHER
Pengembangan Sistem Self-Other
Dalam penelitian sebelumnya terutama dalam hal sosialisasi (teori kepribadian) para
sosiolog tidak begitu memperhatikan topik yang terkait dengan pembelajaran peran,
interaksi sosial dan pengaruh group reference. Sosiolog membatasi pemikiran mengenai
kepribadian hanya terbatas pada proses tertentu dan komponen pembentuk kepribadian,
mereka tidak memperhatikan proses kognitif atau motivasi belajar dan psikologis
seseorang. Pandangan ini juga menunjukkan bahwa para sosiolog lebih cenderung
menggunakan pendekatan masyarakat dan kurang memperhatikan masalah adaptasi
individu terhadap permintaan masyarakat sosial. Asumsi terdahulu bahwa terkait

konflik antara permintaan masyarakat sosial dengan proses internal individu


mengakibatkan kesulitan untuk mempelajari sosialisasi.
Kesimpulan dasarnya adalah bahwa sebagian besar yang dipelajari dalam sosialisasi
dalam masa kanak-kanak dan juga sepanjang hidup merupakan sebuah kompleksitas
suatu hubungan interpersonal yang berurutan. Dalam kehidupan seseorang terdapat
beberapa orang yang secara langsung terlibat dalam sosialisasi dan memiliki pengaruh
yang besar karena frekuensi interaksi, kedudukan yang tinggi dan mereka
mengendalikan

melalui

penghargaan

dan

hukuman.

Orang-orang

tersebut

mempengaruhi perilaku anak tersebut. Dalam sepanjang hidupnya, orang-orang terus


mempengaruhinya dan kemudian membangun sebuah karakter. Hasilnya adalah
kemunculan sistem self-other dimana seorang anak berorientasi pada role
prescriptions dan evaluasi terhadap orang lain dilingkungannya. Kepribadian dapat
digambarkan dengan bagaimana individu tersebut mempersepsikan dirinya sendiri,
perilakunya dan organisasi sosialnya dimana ia tinggal. Kita juga perlu mengetahui
bagaimana ia mempersepsikan orang lain, apa yang orang lain harapkan dari dirinya,
apakah ia menyukai orang lain atau mempercayainya. Bagaimana ia menyelesaikan
konflik dengan orang lain, apakah membuat resolusi atau terus melanjutkan konflik,
semua hal tersebut merupakan komponen penting kepribadian seseorang dan
menggambarkan aspek hubungan seseorang dengan orang lain.
Dalam level analisis ini maka kita dapat menyimpulkan bahwa seorang individu
mempelajari perilaku yang sesuai dengan posisinya dalam suatu kelompok melalui
interaksi dengan orang lain yang memegang keyakinan normatif mengenai bagaimana
ia seharusnya berperan, siapa yang memberi penghargaan atau memberi hukuman
terhadap tingkah lakunya yang benar atau tidak benar. Hal ini merupakan kontribusi
sosiologi bahwa komponen utama dalam sosialisasi melibatkan peran orang lain yaitu
mencoba mengantisipasi respon orang lain pada perilaku dirinya dan merefleksikan
performa seseorang dan menghargai perilakunya sebagai perilaku buruk atau baik.

Berikut merupakan teori terkait kepribadian dan proses pengambilan keputusan:


Mead memperlihatkan bahwa diri seseorang (self) merupakan proses dimana seseorang bisa menjadi
keduanya yaitu subyek atau obyek. Ego dapat bertindak dan ia bisa mempertimbangkan tindakannya jika
orang lain melihat dirinya. Cottrell membuat preposisi bahwa setelah beberapa pola interaktif (melibatkan
dua orang) yang diulang-ulang berkali-kali maka bisa dimungkinkan orang-orang tersebut secara
tersembunyi mengulangi pola tersebut.

Goodman dalam developmental view menggambarkan proses akuisisi komponen sistem


self-other dalam sosialisasi. Seorang anak mempelajari bahasa, pada awalnya bahasa
hanya digunakan pada orang yang spesifik misalnya terbatas pada orang tuanya.
Selanjutnya bahasa digunakan pada segmen yang lebih luas bahkan pada suatu peran
(misalnya dalam sebuah permainan). Dalam permainan peran, anak akan belajar apa
yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan. Sehingga dengan demikian
ekspektasi perilaku seorang anak tidak hanya diturunkan dari orang tertentu tetapi juga
dari sistem sosial yang kompleks.
I-Them, They-Me and I-Me Relationship
Hubungan antara seseorang dengan orang lain merupakan bahan dasar yang membentuk
kepribadian seseorang. Kepribadian adalah kumpulan pembelajaran mengenai sistem
atau hubungan self-other, sistem tersebut terdiri dari ratusan ataupun ribuan harapan
yang diingat, penilaian terhadap kinerja diri dan orang lain, menghasilkan persepsi
terhadap tindakan yang diterima (sukses) atau tindakan menyimpang (gagal) dan
konsekuensi penghargaan atau celaan yang diberikan masyarakat. Dalam sistem
tersebut terdapat dua jenis hubungan yaitu:
1; Hubungan They-Me, dimana seseorang menjadi obyek bagi tindakan,

ekspektasi atau sikap orang lain seperti He doesn,t want me to do that


2; Hubungan I-Them, dimana yang menjadi obyek adalah orang lain seperti I

will be angry if he fails to live up to his promise.

Dari hubungan tersebut muncul hubungan lain yang mungkin timbul. Misalnya theythem dimana orang lain menjadi subyek dan obyek, namun hal ini tidak termasuk
dalam sistem self-other. Lalu bagaimana jika seseorang tersebut menjadi subyek dan
obyek atau I-me seperti, I will able to do this. Bagaimana komponen I-me ini
dibangun? Individu tersebut ketika melihat dirinya sebagai obyek maka ia akan
melihatnya dari sudut pandang orang lain, padahal sesungguhnya pandangan tersebut
tidak ada kaitannya dengan orang lain, jadi komponen I-me didapatkan dari berbagai
hubungan they-me.
Bagaimana jika seseorang dalam situasi tidak dapat mengidentifikasi hubungan
interpersonal? Dalam hal ini maka tipe hubungan I-me bersumber dari generalisasi
dan ketidakmampuan untuk membedakan. Generalisasi timbul dari berbagai interaksi
yang tidak diidentifikasikan pada orang tertentu, karena terlalu banyak referensi figur
dan ketidakmampuan untuk membedakan timbul pada anak-anak ketika apa yang
dipelajarinya dari orang tuanya digeneralisasikan sama dengan orang lain di dunia pada
umumnya.
Dalam tipe I-me persepsi seseorang diletakkan oleh figur yang sangat kuat misalnya
orang tua, sekelompok orang yang membentuk identitasnya. Ekspektasi dari orang
tertentu hanya memiliki sedikit kontribusi dalam identitasnya. Sehingga muncul istilah
true self dimana tipe I-me lebih mendominasi dibanding tipe I-them dan theyme. Namun dalam konsep I-me apakah sesorang akan memberi hukuman atau
penghargaan terhadap dirinya sendiri. Tidak ada korelasi antara tipe I-me dengan
komponen kepribadian yang tertekan.
Motivasi dan Perilaku Peran
Apakah implikasi dari berbagai hal tersebut diatas terhadap motivasi dan perilaku?
Seorang individu berusaha memenuhi harapan orang lain terhadap dirinya, untuk itu dia
termotivasi untuk memenuhi standar-standar tersebut dan rasa kepuasan dan
kesejahteraan tergantung dari kesesuaian-kesesuaian tersebut. Hubungan self-other akan

mengarahkan seseorang individu untuk menilai dirinya baik atau buruk sesuai dengan
tingkatan penghargaan dirinya terhadap harapan orang lain. Konsekuensi penilaian diri
sendiri dan persepsi kekurangan atau kecukupan akan menaikkan atau menurunkan
penghargaan diri atau self-esteem seseorang yaitu persepsi penilaian subyektif yang
dibuat individu sebagai hasil evaluasi mengenai dirinya yang tercermin dalam sikap
positif atau negatif. Jenis perilaku dan motivasi seperti hasrat untuk mendominasi,
pencapaian, afiliasi tergantung dari permintaan perilaku tersebut dari orang lain dan
hubungan self-other yang spesifik yang akan menghasilkan perhatian individu pada
kinerjanya. Sumber yang kuat mengenai motivasi individu tidak berasal dari tekanan
sistem sosial lokal. Banyak orang-orang yang memperoleh motivasi bukan dari
hubungan yang sedang dijalani ataupun dari sistem sosial namun kadang diperoleh dari
figur fiksi ataupun religius. Namun hubungan I-me merupakan hubungan yang dapat
menghasilkan motivasi.
SOSIALISASI DI KEMUDIAN HARI (LATER LIFE)
Perlunya Sosialisasi Setelah Masa Anak-Anak
Sosialisasi yang diterima individu ketika ia masih kecil tidak cukup untuk digunakan
sebagai persiapan tugas-tugas di tahun-tahun berikutnya. Semakin dewasa seorang
individu maka mereka memiliki tahapan status yang berhubungan dengan berbagai
tingkatan dalam siklus kehidupannya. Sebagaimana kita tahu masyarakat memiliki
permintaan agar individu tersebut memenuhi perubahan harapan-harapan dan meminta
agar individu tersebut mengubah perilaku dan kepribadiannya dan memperbaiki
hidupnya menjadi orang yang sesungguhnya misalnya sebagai anggota keluarganya,
gurunya, atasannya dan kolega kerjanya.
Keefektifan sosialisasi pada masa anak-anak lebih besar terjadi pada lingkungan sosial
yang cenderung tetap. Proses perkembangan dan diferensiasi seiring dengan
kedewasaan fisik yang dapat meningkatkan kapasitas, kekuatan yang memungkinkan
individu memenuhi permintaan terkait status barunya. Permintaan tersebut ditandai

dengan umur dan pertumbuhan dan dapat disebut sebagai development task, misalnya
seorang anak masuk SD harus diumur ketika anak memiliki fisik, kemampuan bahasa
dan ketrampilan sosial untuk dapat mengikuti pendidikan formal. Dalam lingkungan
sosial yang tetap, stabilitas berasal dari kontinuitas sepanjang waktu dari orang lain
yang terlibat misalnya orang tua, teman. Dalam

sosialisasi anak-anak tidak dapat

disosialisasikan bagaimana menghandle peran yang akan dihadapi di masa mendatang.


Namun sosialisasi di tahun-tahun berikutnya dibangun atas dasar sikap dan
keterampilan yang diperoleh pada masa anak-anak. Perubahan sosial yang berubah
secara cepat di sepanjang hidupnya tidak dapat dipenuhi dengan pembelajaran masa
anak anak. Sedangkan dalam lingkungan sosial yang terus berubah dan kompleks dapat
digunakan sebagai dasar pembelajaran yang diperlukan pada kehidupan selanjutnya
ketika anak-anak dihadapkan dengan peran orang dewasa yang samar-samar, dengan
mendorong individu untuk menciptakan kreativitas, pemahaman, menentukan tujuan
sendiri, fleksibel dan cerdas merespon pada kondisi baru, untuk bergerak dan menjauh
dari indoktrinasi dan pembentukan kebiasaan melalui pengembangan sifat dan
keterampilan yang berguna sehingga membuatnya mampu menghadapi berbagai
permintaan dari masyarakat sosial. Hal ini disebut sebagai family educational theory.
Masyarakat modern kini sebaiknya menyiapkan resosialisasi terkait peran dimana
seseorang belum dipersiapkan pengembangan untuk itu. Kurangnya sosialisasi
pengembangan disebabkan kurangnya perhatian orang tua, ketiadaan pasangan dirumah,
menurunnya tanggung jawab anak untuk membantu orang tua dirumah. Sehingga pada
akhirnya muncul program dan institusi yang berfokus pada pendidikan orang tua dan
keluarga.
Keterbatasan Sosialisasi di Kemudian Hari (Later Life)
Keterbatasan sosialisasi pada kemudian hari (later life) dibentuk oleh kapasitas biologi
seorang individu dan efek pembelajaran sebelumnya atau kegagalan dari pembelajaran
tersebut. Kefektifan sosialisasi kemudian hari (later life) adalah konsekuensi interaksi

dua restriksi dengan berbagai level teknologi yang dicapai masyarakat dalam metode
sosialisasinya. Restrikisi biologi menyebabkan keterbatasan sosialisasi kemudian hari
(later life) melalui dua cara, yaitu 1) terjadi pada masyarakat kelas terbuka dengan
pencapaian level motivasi yang tinggi. 2) terjadi ketika perang atau bencana
menghancurkan perlindungan masyarakat terhadap individu karena dampak alam.
Restriksi efek pembelajaran sebelumnya atau kegagalan pembelajaran tersebut juga
menyebabkan keterbatasan. Hal ini harus dikenali melalui ketahanan kualitas
pembelajaran di masa kanak-kanak yang sulit diubah dikarenakan pembelajaran
tersebut dilakukan dibawah penguatan. Selain itu tumpukan material kepribadian
terakumulasi dan relatif tidak terakses oleh sosialisasi yang sederhana. Bahkan
dimungkinkan karakteristik pertahanan seseorang dibangun pada masa kanak-kanak dan
mewarnai kepribadian dasar di sepanjang hidup.
Dalam beberapa kasus terdapat diskontinuitas dan konflik antara pembelajaran
terdahulu dan kemudian, dimana sosialisasi kemudian hari (later life) mensyaratkan
penggantian terdahulu dengan kemudian, mengganti yang lama dengan yang baru,
bukan membangun diatas kepribadian yang sudah terbentuk. Sebagai contoh peran
wanita muda sebelum dan sesudah pernikahan. Meskipun demikian pembelajaran di
masa kecil dapat memfasilitasi pembelajaran selanjutnya jika elemen-elemennya sesuai
dengan apa yang dipelajari pada kemudian hari (later life). Terkadang sesuatu yang
belum pernah dipelajari pada masa anak-anak akan memudahkan orang dewasa belajar
dengan mudah, misalnya mengajari pengantin wanita untuk memasak. Namun berbagai
penelitian juga menunjukkan bahwa tidak adanya pembelajaran di masa kecil akan
mengganggu sosialisasi kemudian hari (later life) ketika pembelajaran tersebut harus
diperoleh sebagai dasar dalam pembelajaran berikutnya contohnya pada akuisisi bahasa.
Penelitian menunjukkan adanya keberlanjutan kepribadian namun variasinya sangat
beragam sehingga disimpulkan bahwa perubahan kepribadian bersifat samar namun
hukuman merupakan salah satu sebab mengapa perubahan tersebut terjadi pada masa
dewasa.

10

PERUBAHAN KONTEN SOSIALISASI


Konten sesungguhnya dari sosialisasi berbeda terutama dalam berbagai tahapan yang
berbeda dalam siklus hidup dan dalam institusi sosial. Orang mempelajari hal yang
berbeda pada waktu dan tempat yang berbeda pula dalam kehidupannya. Berikut ini
akan dibahas enam perubahan konten yang mungkin terjadi dalam sosialisasi
1;

Nilai dan Motivasi versus Perilaku Overt


Terdapat tiga hal yang harus dipenuhi bila seseorang ingin sukses menjalankan
perannya yaitu 1) ia harus mengetahui apa yang diharapkan darinya (baik perilaku
maupun nilai), 2) ia harus memenuhi persyaratan peran, 3) ia harus memiliki
keinginan untuk mempraktekkan perilaku dan mencapai kesesuaian. Tujuan
sosialisasi adalah untuk memberikan seseorang pengetahuan, kemampuan dan
motivasi. Berikut adalah persilangan klasifikasi antara tiga konsep tersebut dengan
nilai dan perilaku yang membangun paradigma untuk membantu memahami dalam
menganalisis sosialisasi dalam siklus kehidupan:
Knowledge
Ability
Motivation

Behavior
A
C
E

Values
B
D
F

Sel A dan B menunjukkan bahwa individu tahu perilaku apa yang diharapkan dan
bagaimana hasil akhir yang harus dicapai. E dan F menunjukkan bahwa individu
termotivasi untuk bertindak dengan cara yang sesuai dan mematuhi nilai-nilai, C
dan D menunjukkan bahwa individu dapat melaksanakan perilaku dan menjalankan
nilai yang sesuai. Selama siklus hidup, penekanan sosialisasi bergerak dari motivasi
kepada kemampuan dan pengetahuan dan dari nilai menuju ke perilaku.
Prioritas utama pada sosialisasi kanak-kanak direpresentasikan pada sel F, yang
merupakan pengenalan dasar bagi bayi dan mengubahnya pada pengenalan dan
persetujuan terhadap nilai-nilai budaya. Sel A merepresentasikan sosialisasi pada
masa dewasa dimana orang dewasa mengetahui nilai yang harus dipenuhi untuk

11

peran yang berbeda dalam lingkungan sosialnya sehingga mereka harus diajari
bagaimana melakukan sesuatu. Hal ini diilustrasikan dalam pendidikan militer,
program pendidikan dimulai dengan level pelajaran Ini senjata dan Ini caranya
menembak. Jika ada sesuatu yang membuat seorang individu tidak dapat
melakukannya (sel C), maka program pendidikan mencari cara untuk meningkatkan
kemampuannya misalnya dengan instruksi untuk mengurangi ketidakmampuan
membaca dan menulis. Jika seseorang tidak mau melaksanakan berbagai tugasnya
(sel D), maka training motivasi diperlukan melalui penerapan penghargaan
(reward) dan hukuman (punishment). Jika pendidikan mengenai nilai-nilai
diperlukan (sel B) maka seorang individu harus mengikuti orientasi umum terkait
nilai-nilai orang Amerika dan tujuan perang misalnya program training Mengapa
kita berperang?. Jika seseorang mengalami konflik dalam dirinya maka diperlukan
prosedur therapeutic dalam sel D.
Masyarakat secara umum menghabiskan sedikit waktu untuk mengarahkan
motivasi dan nilai-nilai pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak,
dimana dapat dimengerti untuk anak-anak maka perlu dilibatkan institusi
pendidikan dan keluarga untuk menanamkan hal tersebut. Mengapa perbedaan itu
muncul? Hal ini disebabkan keterbatasan pembelajaran di kemudian hari (later life)
yang membuat resosialisasi menjadi tidak praktis. Irving Rosow mengungkapkan
meskipun orang dewasa memperoleh keyakinan, motivasi yang sesuai untuk
kinerjanya, namun keterbatasan pembelajaran adalah bahwa agen hanya melihat
kinerja yang terlihat saja. Selain itu hal tersebut menghabiskan biaya tinggi dan
waktu yang banyak untuk mengajari anjing tua sebuah trik baru.
Meskipun demikian, masyarakat memiliki dua solusi untuk menghadapi hal
tersebut, pertama antisipasi; seleksi kandidat dilakukan untuk organisasi dewasa
guna menyaring orang yang tidak memiliki motivasi dan nilai untuk peran yang
akan diberikan. Solusi kedua sebagaimana diungkapkan Rosow yaitu masyarakat

12

dapat menerimanya sebagai sosialisasi yang memuaskan, menerima perilaku, tanpa


terlebih dahulu memperhatikan sistem nilai.
Alternatif terakhir terhadap penyimpangan yang ada sehingga perlu dilakukan
resosialisasi, dimana nilai-nilai yang sesuai tidak dapat diinternalisasi seseorang,
maka dapat dilakukan melalui institusi spesial seperti penjara, rumah sakit dan
rumah rehabilitasi.
2;

Akuisisi Material Baru versus Sintesis Material Lama


Tujuan sosialisasi pada tahap kemudian hari (later life) adalah untuk
mempraktekkan kombinasi ketrampilan baru yang didapat dengan ketrampilan
yang sudah ada sebelumnya dalam bentuk ketrampilan baru.

3;

Idealisme dan Realisme


Semakin dewasa seseorang maka ia akan menjadi lebih realistis dibanding ketika
masih kecil. Ia menyadari bahwa terdapat perbedaan antara yang ideal dengan
kenyataannya, dan berusaha untuk mengambil perannya dalam masyarakat sesuai
dengan harapan yang sesungguhnya dibanding melakukan kompromi

dengan

norma idealnya.

4;

Menyelesaikan Konflik; Meta Prescriptions


Perubahan konten keempat adalah untuk mengajari individu melakukan mediasi
konflik yang timbul. Terdapat konflik terkait tuntutan peran yang mungkin timbul
antara lain, pertama, intrarole conflict yang terdiri dari dua jenis; a) tuntutan satu
atau lebih individu dalam aspek peran yang sama misalnya istri dan atasan maka
tuntutan kinerja keduanya akan berbeda, b) tuntutan pada seorang individu dalam
aspek peran yang berbeda akan menimbulkan konflik, misal istri mengharapkan
suaminya menemani dan mengawasi dan mengajari anaknya. Kedua adalah
interrole conflict , diklasifikasikan lagi menjadi dua jenis yaitu a) konflik antara
satu atau lebih individu mengenai dua peran yang terpisah, contoh; permintaan
atasan terhadap kinerja pekerjaan dengan permintaan istri terhadap kinerja

13

keluarga, b) konflik antara harapan seorang individu pada dua peran yang berbeda,
contohnya seorang istri memiliki konflik harapan terhadap perilaku suaminya di
rumah dan di pekerjaan.
Pembelajaran bagaimana menangani konflik-konflik tersebut sangat diperlukan
pada kemudian hari (later life) terutama untuk dua alasan. Pertama, anak-anak
dilindungi lingkungan sosialnya dari kenyataan hidup, dan tidak diperbolehkan
melihat konflik sehingga tidak diajarkan bagaimana cara menghadapinya. Kedua, di
kemudian hari (later life) maka semakin banyak peran dan kompleksitas peran
semakin tinggi, sehingga sangat besar kemungkinan terjadi konflik peran. Terdapat
suatu metode penting untuk meresolusi konflik. Dalam setiap komunitas sosial,
selalui ada resep terbaik untuk menghadapi suatu konflik yang muncul dari
permintaan anggota-anggotanya, cara tersebut disebut meta-prescriptions. Metaprescriptions mengendalikan resolusi konflik permintaan pada satu waktu dan
loyalitas dan biasanya termasuk interrole conflict dibanding intrarole conflict.
Contoh meta-prescriptions adalah Lakukan apa yang diperintahkan atasan,
meskipun hal ini berarti Anda memiliki sedikit waktu dengan anak-anak. Dan
Berpihaklah pada istri Anda ketika mendisplinkan anak meskipun Anda berpikir
istri Anda salah.

Meta-prescriptions menuntun pada proses kompromi dan

memberi arahan apakah solusi harus berada pada satu sisi atau berimbang, seperti
Luangkan waktu tiga malam untuk keluarga, meskipun ada pekerjaan yang harus
Anda kerjakan.
5;

Peningkatan Spesifikasi
Perubahan konten sosialisasi yang kelima adalah dimensi general-spesisifik, yaitu
apakah pemikiran diterapkan pada berbagai situasi sosial atau beberapa saja.
Dimensi ini bisa diaplikasikan pada dua komponen yaitu nilai dan makna dari role
prescription. Anak-anak diajarkan karakteristik general seperti pengetahuan
mengenai pria dan wanita yang akan mewarnai berbagai peran di masyarakat.
Selain itu anak-anak juga diajarkan posisi sosial ekonomi yang juga bersifat umum.

14

Maka dapat disimpulkan bahwa nilai general (umum) suatu budaya diperoleh pada
masa anak-anak. Sedangkan nilai spesifik diajarkan pada kemudian hari (later life)
misalnya untuk peran yang spesifik yang diajarkan misalnya melalui perguruan
tinggi.
6;

Hubungan I-Me Semakin Sedikit


Sebagaimana telah dibahas sebelumnya bahwa bagian dari kepribadian adalah
sistem self-other. Dalam tahap berikutnya dalam siklus hidup maka akan lebih
sedikit terjadi hubungan I-me dan akan lebih banyak komponen they-me dan
I-them yang lebih obyektif. Semakin dewasa seseorang maka semakin jelas siapa
they. Dengan tumbuhnya kedewasaan juga akan meningkatkan derajat
konsekuensi tindakan dan ia akan memposisikan dirinya sebagai I-them.

HUBUNGAN DENGAN AGEN SOSIALISASI


Hubungan antara individu dengan agen sosialisasi mungkin akan berubah dalam siklus
hidupnya. Apakah hubungan antara orang-tua dan anak dapat diparalelkan dengan guru
dan murid, suami dan istri atau karyawan dan atasan?. Tidak ada cara yang pasti dalam
menganalisis hubungan beberapa orang. Chicago School menggambarkannya sebagai
sebuah kompetisi, kerjasama dan variabel pola. Ada juga yang berpendapat bahwa
hubungan digambarkan sebagai kekuatan relatif individu atau reputasi relatif,
persaingan, atau frekuensi kontak. Dari berbagai hal tersebut maka dapat digambarkan
tiga karakteristik hubungan interpersonal antara individu dengan agen sosialisasi.
1; Formalitas hubungan

Karakteristik pertama adalah tingkat formalitas atau terlembaga atau tidaknya suatu
hubungan. Sosialisasi suami terhadap perannya terhadap istrinya, sosialisasi orang
dewasa terhadap anaknya akan perannya sebagai orang tua, tidak mensyaratkan
pembelajaran secara formal. Yonina Talmon mengungkapkan bahwa sebuah
hubungan dikatakan formal atau tidak, tergantung apakah agen sosialisasi
menyediakan organisasi formal seperti unit tentara, sekolah, perusahaan atau grup

15

informal seperti keluarga ataupun grup pertemanan. Dua komponen formalitas


tersebut menghasilkan empat klasifikasi yaitu; organisasi formal dimana peran
pembelajar ditentukan (pelajar, on the job training), organisasi formal dimana peran
pembelajar tidak ditentukan, organisasi informal dimana peran pembelajar
ditentukan (sebagai anak) dan organisasi informal dimana peran pembelajar tidak
ditentukan (anak dengan kehidupan bertetangga). Dari hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa sosialisasi orang dewasa terjadi pada organisasi formal tanpa
peran yang jelas sebagai pembelajar dimana ia melakukan proses pembelajaran trial
and error, sedangkan sosialisasi anak-anak terjadi pada grup informal dimana
perannya sebagai pembelajar ditentukan dan dengan supervisi serta pengawasan dan
perlindungan untuk berlatih tanpa hukuman.
2; Kekuasaan dan dukungan dalam hubungan/relasi
Aspek lain dalam suatu hubungan seseorang dengan agen sosialisasi adalah kualitas
hubungan tersebut. Menurut Straus (1964), kekuasaan dan afektifitas adalah dua
dimensi utama yang mendasari berbagai tipe hubungan. Kekuasaan adalah tingkat
dimana agen sosialisasi (misalnya orang tua) mengerahkan dominasi atau
kewenangan dalam hubungannya dengan anaknya, apakah permissive, demokratis
atau submissive. Sedangkan afektifitas adalah tingkat hubungan orang-tua dan anak
apakah afektifitasnya tinggi, netral ataupun rendah. Derajat afektifitas ini berkisar
dari negatif ke positif ataupun dari cinta ke benci. Hal ini menjadi sangat jelas
menunjukkan bahwa pada masa kecil sosialisasi dilakukan pada afektifitas dan
kekuasaan yang tinggi, sedangkan pada masa dewasa dilakukan dengan afektifitas
netral dan sedikit kekuasaan.
3; Konteks kelompok dari orang yang akan disosialisasi
Aspek dimensi hubungan agen sosialisasi dengan individu diderivasikan dari
klasifikasi dasar konteks sosialisasi yang dikemukakan Stanton Wheeler dengan
mengajukan dua pertanyaan, yaitu, apakah sosialisasi dijalani sendirian atau sebagai
anggota sebuah grup dan apakah dia (atau grup) merupakan suatu rangkaian
melewati suksesi proses sosialisasi atau hanya satu jenis saja. Hal ini dibedakan
Becker sebagai individual dan kolektif, dan yang kedua disebut rangkaian dan

16

hubungan disjunctive. Ketika dikombinasikan maka Wheeler mengemukakan empat


klasifikasi. Seorang anak dalam sebuah keluarga mengalami hubungan disjunctive,
biasanya anak tertua hanya mengalami hubungan tersebut satu tahun atau lebih.
Selanjutnya anak mengalami berbagai rangkaian melewati berbagai proses sosialisasi
menjadi seorang individu. Ketika umurnya semakin beranjak maka ia akan
membangun sebuah grup dan situasi ini dapat disebut sebagai sosialisasi disjunctive
kolektif. Dan dalam institusi sekolah, anak-anak mengalami sosialisasi hubungan
kolektif berangkai (seri).
RESOSIALISASI SEBAGAI KONTROL PERILAKU MENYIMPANG
Becker dalam bukunya The Outsider mengungkapkan bahwa perilaku atau nilai
individu yang menyimpang ditentukan oleh referensi atau pandangan dari orang atau
kelompok tertentu. Referensi tersebut biasanya terkait norma-norma dalam masyarakat.
Resosialisasi merupakan model pengendalian perilaku menyimpang yang harus dibuang
dalam masyarakat. Hal ini bisa berbentuk mengeluarkan individu dalam partisipasi,
mengisolasi dari pergaulan, memberikan hukuman untuk mengubah cara hidupnya.
Resosialisasi dengan sengaja mungkin merupakan cara terbaik.
Tipe Penyimpangan
Sebelum melakukan resosialisasi maka perlu dianalisis tipe perilaku menyimpang.
Sebelumnya telah dibahas enam konten sosialisasi yaitu pengetahuan, kemampuan dan
motivasi dalam hubungannya dengan perilaku dan nilai. Dalam enam konten tersebut
apabila terjadi kegagalan maka akan mengindikasikan enam tipe dasar penyimpangan.
Berikut ilustrasi yang dapat digambarkan terkait situasi keluarga mengenai prestasi
akademik anak dan harapan orang tuanya.
1;

Tipe pertama (sel A); aktor tidak menyadari perilaku yang diharapkan kepadanya.
Seorang anak tahu bahwa ia diwajibkan untuk memperoleh nilai yang baik namun
ia tidak mengerti pentingnya belajar keras dan mengerjakan pekerjaan rumah tepat
waktu.

17

2;

Tipe kedua (sel B); aktor tidak menyadari hasil akhir yang ingin dicapai. Seorang
anak mungkin menuruti orang tuanya untuk belajar dengan keras namun ia
melakukannya karena takut dikritik dan tidak memahami bahwa sesungguhnya hal

3;

itu dilakukan agar ia mencapai tingkatan yang istimewa.


Tipe ketiga (sel C); aktor menyimpang perilakunya karena ketidakmampuannya
untuk menyesuaikan diri. Ketidakmampuan anak untuk belajar karena mata atau

4;

kondisi fisik yang lemah.


Tipe keempat (sel D); ketidakmampuan sebagai sumber penyimpangan nilai.
Seorang anak tidak bercita-cita pergi ke perguruan tinggi karena takut dibandingkan
dengan ayahnya ketika di perguruan tinggi, dan dia tidak ingin dimarahi. Anak
tersebut mungkin tetap giat belajar namun hanya untuk menghindari kritik, bukan

5;

karena ingin ke perguruan tinggi.


Tipe kelima (sel E dan F); motivasi sebagai sumber penyimpangan. Seorang anak
mungkin menjumpai bahwa belajar terasa sulit dan tidak menyenangkan sehingga
ia kurang termotivasi, ia mungkin ingin mencapai grade tinggi namun mencarinya

6;

dengan cara menyimpang yaitu dengan mencontek.


Tipe keenam (sel F); kurangnya motivasi untuk memenuhi nilai yang sesuai,
seseorang berada dijalan yang benar namun dengan alasan yang salah. Seorang
anak mungkin akan belajar dengan giat namun menolak orang tua untuk
melanjutkan pendidikan akademik, ia lebih memilih untuk melanjutkan ke
Angkatan Laut.

Sebagai catatan sel D dan F tetap berbeda meskipun terlihat sama. Dalam sel D, orang
tidak dapat mencapai suatu nilai bukan karena tidak termotivasi sebagaimana di sel F.
Seseorang dapat menginginkan apa yang tidak bisa dicapainya. Misalnya seorang anak
mungkin tertarik untuk masuk ke perguruan tinggi meskipun tidak bisa. Keenamnya
merupakan tipe murni penyimpangan, terdapat tipe penyimpanyan yang lebih
kompleks, misalnya terjadi pada perilaku dan nilai misalnya bayi yang baru lahir, anak
yang baru masuk sekolah pertama kali.

18

Cara Pengendalian
Cara yang digunakan individu, grup, kelompok dan masyarakat untuk mengontrol
penyimpangan mencerminkan teori dan asumsi mengenai penyebab penyimpangan dan
berakar dari sifat alamiah manusia, misalnya apakah manusia seperti binatang yang
bodoh, apakah ia dikuasai setan atau kekuatan supranatural, apakah ia tidak bermoral
sejak lahir, atau terbebani dosa. Penyimpangan dalam hal motivasi dan nilai dianggap
paling serius. Masyarakat lebih mentoleransi ketidakmampuan sepanjang hatinya
memiliki niatan yang baik. Namun didalam penegakan hukum kadang untuk
menghindari

masalah

yang

sulit

dalam

menilai

komponen

motivasi

suatu

penyimpangan, maka diasumsikan bahwa penyebab penyimpangan adalah motivasi.


Hukum menolak ketidakmampuan dan tidak memberikan kompromi. Misalnya
ketidaktahuan mengenai tanda berhenti, atau rem yang rusak, tidak dapat
menghilangkan tanggung jawab seseorang untuk berhenti di persimpangan jalan. Untuk
itu cara menangani penyimpangan terkait perilaku adalah pendidikan, terkait
ketidakmampuan adalah dengan training, sedangkan terkait motivasi maka diadakan
program

reward

dan

punishment.

Jika

penyimpangan

disebabkan

karena

ketidakmampuan lalu diterapkan hukuman maka akan terjadi penolakan nilai. Misalnya
seorang anak yang ingin memperoleh nilai pelajaran yang baik namun ia tidak bisa
karena ia memerlukan kacamata dan tidak bisa belajar tanpa kacamata tersebut lalu ia
akan membenci sekolah jika gagal memperoleh nilai yang baik. Penyimpangan pada
anak-anak atau bayi lebih ditoleransi, dan semakin tinggi usianya maka toleransi akan
semakin berkurang dan berubah menjadi tanggung jawab penuh ketika dewasa.
Ketika Resosialisasi Gagal
Apa yang terjadi ketika usaha resosialisasi untuk penyimpangan tidak efektif sehingga
penyimpangan tersebut terus berlanjut? Salah satu akibatnya adalah sistem sosial
menjadi rusak sebagaimana individu dengan perilaku menyimpang mundur dari
kelompok dimana ia terlibat. Pasangan menikah mungkin akan bercerai, mahasiswa di
drop out. Terkadang mundurnya seseorang tersebut bersifat antisipatif, dimana individu

19

tersebut tidak terlibat secara signifikan dalam sebuah grup namun hidup dalam posisi
yang marjinal misalnya pertapa.
Sistem sosial mungkin bisa atau tidak rusak, terdapat dua solusi lain untuk
mempertahankan penyimpangan yang terjadi. Pertama penyimpangan sistem sosial
dibawah tekanan (stress). Sistem tetap berlanjut meskipun ada salah satu atau lebih
anggotanya yang menyimpang misalnya dengan cara memberlakukan reward dan
punishment. Hal ini menyebabkan penekanan terhadap perasaan yang lebih banyak.
Solusi kedua adalah dengan tetap melibatkan anggota yang menyimpang dalam sistem
dengan mengubah harapan dengan suatu cara untuk mengeliminasi penyimpangan.
Dengan demikian individu tersebut telah sukses mentransformasi sistem, aspek inovatif
perilakunya

diterima

dan

dilegitimasi

dan

agen

perubahan

dipaksa

untuk

mempertimbangkan tujuannya.
Bagaimana penanganan keberlanjutan penyimpangan pada anak-anak dan orang dewasa
berbeda? Pertama, hubungan orang tua dan anak sulit untuk dihancurkan. Dahulu
mungkin anak bisa lari dari rumah, namun saat ini sangat sulit bagi anak-anak di
Amerika melakukan hal tersebut karena hukum kesejahteraan yang berlaku. Resolusi
untuk masalah tersebut adalah dengan dua cara tersebut diatas. Penyimpangan anakanak ditoleransi oleh sistem sehingga mereka memiliki pengalaman sosialisasi yang
memiliki karakter sistem interpersonal dengan pertentangan yang lebih besar, dalamnya
perasaan, dan tekanan kepribadian yang lebih produktif. Alternatif lain, keluarga
mengganti arahan atau mendefinisikan ulang bahwa penyimpangan tersebut dapat
diterima. Sedangkan orang dewasa dianggap memiliki otonomi, memiliki kekuasaan
untuk merubah perilakunya dalam berinteraksi. Namun anak-anak juga dapat
mempengaruhi sistem dalam keluarganya dengan memodifikasi harapan orang tuanya
tentang tindakan, konsep tahapan umur dan pengembangan tugas, tentang apa yang
boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Aplikasi konsep sosialiasi sepanjang hidup dalam pendidikan orang dewasa

20

Dari konsep-konsep diatas maka dalam pendidikan orang dewasa harus diperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1;

Agen sosialisasi dalam pendidikan orang dewasa harus memperhatikan sosialisasi


yang diperlukan untuk memenuhi perannya sebagai orang dewasa yang tidak

2;

diperoleh ketika sosialisasi di masa anak-anak


Agen sosialisasi memberikan pengetahuan, kemampuan dan motivasi sehingga

3;

menghasilkan perilaku yang diharapkan serta sesuai dengan norma dan nilai.
Agen sosialisasi harus mempertimbangkan pengalaman dan mengaitkan sosialisasi

4;

di masa kecil dalam pendidikan orang dewasa


Agen sosialisasi harus mengetahui bahwa tuntutan peran orang dewasa semakin

5;

kompleks dan menuntuk keahlian dalam resolusi konflik.


Agen sosialisasi harus memahami bahwa orang dewasa menghadapi konflik apakah

6;

harus berlaku ideal atau realistis.


Agen sosialisasi harus mempertimbangkan dalam sosialisasi bahwa orang dewasa

7;

lebih cenderung kepada hubungan tipe they-me


Agen sosialisasi harus memahami bahwa orang dewasa cenderung ingin

8;

mempelajari hal yang spesifik sesuai perannya dan kebutuhannya


Agen sosialisasi harus memperhatikan tipe sosialisasi yang lebih efektif apakah
formal atau tidak, apakah lebih efektif melalui grup atau tidak, ataukah perlu
pengaruh seseorang yang menjadi figurnya

Kesimpulan
Pendidikan orang dewasa di kemudian hari sangat penting untuk memenuhi perannya
dalam masyarakat. Dalam pendidikan tersebut harus dipertimbangkan perubahan konten
sosialisasi dan restriksi atau hambatan yang dapat membatasi sosialisasi. Selain itu
terdapat

dua interseksi dalam mempelajari kepribadian dan struktur sosial yaitu

bagaimana masyarakat mengelola sosialisasi individu dan bagaimana individu


mengelola sistem sosial dimana mereka tinggal. Orang dengan penyimpangan
merupakan sumber inovasi dan merubah perilaku dan idealisme masyarakat. Masalah
fundamental masyarakat adalah untuk mendidik individu menjadi bertanggungjawab

21

dan juga mendukung pengembangan orang untuk bebas dan kreatif. Kebebasan,
kreativitas dan revolusi sebaiknya dibahas lebih lanjut dalam topik terpisah.

Referensi
.
Brim OG Jr, Wheeler S. 1966. Socialization After Childhood. New York: John Wiley
and Sons, Inc.

22