Anda di halaman 1dari 35

ABSTRAK

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai berbagai macam alat


penukar panas atau heat exchanger. Salah satu contoh sederhana alat
penukar panas adalah radiator mobil dimana cairan pendingin memindahkan
panas mesin ke udara sekitar dibantu dengan kipas yang dihubungkan atau
digerakkan oleh mesin. Heat exchanger adalah alat yang digunakan untuk
memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan
bisa berfungsi sebagai pemanas maupun pendingin. Biasanya, medium
pemanas yang dipakai adalah air yang dipanaskan dan air biasanya sebagai
air pendingin.
Langkah-langkah percobaan yang dilakukan adalah susun peralatan
sesuai skema. Saklar utama dinyalakan, set point pada thermocontrol
dipastikan pada suhu 600 C, serta system kerja peralatan dicek, lalu pada
tahap pengambilan data debit diatur pada 400 L/h lalu pengambilan data
dilakukan dengan waktu tunggu 10 menit. Pengambilan data dilakukan
dengan variasi debit dengan kenaikan 50 L/h hingga 350 L/h untuk parallel
dan counter flow.
Hasil yang didapatkan dari percobaan heat exchanger ini adalah Qcold,
Qhot, Pcold in, Phot in, Pcold out, Phot out, Tcold in, Thot in, Tcold out dan Thot out.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Definisi paling sederhana dan umum dari perpindahan panas adalah
perpindahan energi sebagai akibat dari perbedaan temperature. Proses
perpindahan panas ini terjadi dengan berbagai cara. Jika ada perbedaan
temperature di dalam media diam (cair atau padat) digunakan istilah koduksi
untuk menunjukkan perpindahan panas yang terjadi melintasi media. Istilah
konveksi untuk menunjukkan perpindahan panas yang terjadi antara permukaan
dan fluida yang bergerak ketika berada pada perbedaan temperature. Istilah radiasi
untuk menunjukkan perpindahan panas yang terjadi akibat suatu permukaan pada
temperature tertentu yang memancarkan energi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik. Oleh karena itu tanpa adanya media akan teerjadi perpindahan
panas secara radiasi antara dua permukaan yang berada pada perbedaan
temperatur.
Alat penukar panas (Heat Exchanger) merupakan salah satu alat
penunjang produksi yang berfungsi untuk melaksanakan perpindahan energi
panas dari suatu aliran fluida ke aliran fluida yang lain. Jenis dan ukuran dari alat
penukar panas ini sangat banyak, tergantung dari kebutuhan yang ditentukan oleh
pemakai. Salah satu jenis perlatan ini adalah jenis cangkang dan tabung (shell and
tube) dimana aliran fluida mengalir didalam tabung dan fluida lain dialirkan
melalui selongsong melintasi luar tabung. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
perpindahan panas dari aliran fluida yang bertemperatur lebih tinggi menuju
fluida lain yang bertemperatur lebih rendah. Untuk mendapatkan perpindahan
panas yang lebih besar maka di dalam selongsong dipasang sekat-sekat (baffles).
Untuk megetahui karakteristik sebenarnya suatu alat penukar panas, perlu
dilakukan suatu uji coba peralatan dengan jalan memodelkan pada kondisi
operasional yang sebenarnya. Pada saat fluida mengalir di dalam tabung maka
akan terjadi penurunan tekanan akibat adanya kerugian gesek yang terjadi

sepasang tabung yang mengakibatkan bertambahnya biaya pemompaan fluida,


demikian juga aliran fluida dalam selongsong.

1.2

Rumusan Masalah
Dalam praktikum perpindahan panas Heat Exchanger atau penukar
panas terdapat beberapa rumusan masalah diantaranya adalah:

1.3

1.

Bagaimana terjadinya fenomena fisik heat exchanger?

2.

Bagaimana karakteristik sesungguhnya alat penukar panas?

Tujuan Praktikum
Tujuan dari percobaan alat penukar panas ini adalah mengetahui
karakteristik suatu alat penukar panas pada kondisi sebenarnya. Dengan
mengetahui koefisien perpindahan panas keseluruhan, maka besarnya
perpindahan panas diantara dua jenis fluida berbeda temperatur dapat
dicari. Tujuan diatas dapat dirinci menjadi berikut:
1. memahami fenomena fisik heat exchanger
2. mengetahui karakteristik sesungguhnyaalat penukar panas

1.4

Batasan Masalah
Batasan masalah dalam praktikum perpindahan panas secara konduksi ini

adalah :
a.

Steady State
Properties fluida terhadap suatu titik tidak berubah terhadap waktu.

b.

Incompressible flow
Fluida dengan variasi densitas kurang dari 5% dan mach numbernya
kurang dari 0.3

c.

Fully Developed Flow


Suatu aliran fluida yang sudah stabil, arah dan besar kecepatan
sepanjang pipa relatif sama untuk suatu daerah yang berjarak y dari
dinding.

d.

Perpindahan panas hanya terjadi antara kedua fluida

perpindahan panas hanya terjadi antara kedua fluida dikarenakan


dinding pipa dianggap sangat tipis.
e.

dan

diabaikan

dalam percobaan ini

diasumsikan kecepatan fluida yang masuk

sama dengan fluida yang keluar. Untuk

diasumsikan perbedaan

ketinggian antar preassure gage sama.


f. No fouling factor
Pada sepanjang pipa dianggap tidak ada kotoran pengganggu.
g.

Neglected radiation
Perpindahan panas secara radiasi diabaikan karena nilai konstanta
boltzman nilainya sangat kecil yaitu 5,67 x 108 m-2 k-4, pengaruh
radiasi panas matahari tidak sampai ke tempat praktikum, dan suhu
ruang praktikum perubahannya tidak terlalu besar.

h.

One dimensional heat transfer


Perpindahan panas diasumsikan hanya terjadi pada satu arah saja
yaitu ke arah radial.

1.5

Sistematika Laporan
Adapun sistematika laporan dalam praktikum perpindahan panas

secara konduksi ini adalah :


ABSTRAK
a.

BAB I Pendahuluan
Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan praktikum, batasan
masalah, dan sistematika penulisan.

b.

BAB II Dasar Teori


Berisi dasar teori yang mendukung praktikum Heat Exchanger.

c.

BAB III Metodologi


Berisi peralatan praktikum, instalasi percobaan, langkah langkah
percobaan dan flowchart percobaan

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Tipe Alat Penukar Panas

Berdasarkan arah aliran relatif kedua fluida ada empat macam penukar
panas:
a. Pada susunan aliran searah (paralel flow), fluida panas dan dingin
masuk pada ujung yang sama, mengalir dengan arah yang sama dan
berakhir pada ujung yang sama pula.
b. Pada susunan aliran yang berlawanan (counter flow), fluida panas dan
dingin masuk pada ujung yang berlawanan, mengalir secara
berlawanan arah dan berakhir pada ujung yang berlawanan arah pula.
c. Alternatif yang lain adalah aliran yang melintang atau tegak lurus
(cross flow) yang terbagi menjadi atas 2 kondisi, kedua fluida tak
bercampur (unmixed) dan salah satu dari fluida bercampur tapi yang
lainnya tidak bercampur.
d. Susunan dengan aliran gabungan dua atau tiga pola aliran diatas.

Berdasarkan tipe alat penukar panas ada beberapa macam antara lain
concentric tube heat exchanger, shell and tube heat exchanger.

2.2 Shell and Tube Heat Exchanger


Pada peralatan ini proses perpindahan panas terjadi antara fluida yang
mengalir dalam tube (tabung) dengan fluida shell (selongsong) yang mengalir
diluar tabung. Aliran fluida shell yang berolak akan memberikan koefisien
perpindahan panas yang tinggi. Untuk memperoleh efek olakan pada aliran fluida
tersebut dipasang baffles (sekat-sekat). Disamping itu baffle juga digunakan untuk
mengarahkan aliran fluida di dalam shell dan mengikat / mendukung tube bundle.

2.2.1 Kodifikasi Shell and Tube Heat Exchanger


Berdasarkan TEMA (Tubular Exchanger Manufacturing Association),
shell and tube heat exchanger dikodekan dengan 3 huruf dimana masingmasing huruf menunjukkan tipe front end stationary head, bentuk dan laluan di
shell, dan tipe rear end head. (lihat lampiran)

Gambar 2.1 Bagian-bagian Shell and Tube Heat Exchanger tipe AES
a. Fixed Tube Sheet Heat Exchanger
Fixed Tubesheet Heat Exchanger tersusun atas shell and tubesheet yang
menyatu (tidak dapat dipisah). Hal ini mencegah kebocoran fluida yang
mengalir di shell. Fluida yang mengalir di shell adalah fluida yang tidak
menyebabkan fouling karena jenis ini tidak didesain untuk melakukan
pembersihan di sisi shell.

Gambar 2.2 Fixed Tube Sheet Heat Exchanger

b. U tube Bundle Heat Exchanger


Jenis ini hanya mempunyai satu stationary tubesheet dan rear-nya
berbentuk U. tube bundle dapat dikeluarkan dari shell sehingga dapat
dilakukan pembersihan secara mekanis. Jumlah laluan di sisi tube
harus genap.

Gambar 2.3 U tube bundle heat exchanger


c. Outside Packed Heat Exchanger
Terdapat packing untuk mencegah kebocoran fluida sisi shell. Ada
kalanya fluida mengalami kebocoran sehingga tipe ini tidak boleh
digunakan untuk fluida di sisi shell yang bertekanan tinggi, mudah
terbakar, dan beracun.
d. Internal Floating Heat Exchanger
Ciri-ciri dari tipe ini adalah adanya floating tubesheet yaitu tubesheet
yang terpisah dari shell maupun channel. Konstruksi seperti ini dapat
mengakomodasi adanya axial expansion di tube bundle akibat
perbedaan

temperatur

yang

besar

antara

kedua

fluida.

Memungkinkan tube bundle dapat dikeluarkan dari shell untuk


dilakukan pembersihan secara mechanical maupun chemical. Tube
bundle juga dapat diganti dengan yang baru apabila terjadi kebocoran.

Pull through floating head

Tube bundle dapat langsung dikeluarkan dari shell dengan mudah


yaitu dengan melepas baut di channel dan menariknya keluar.

Gambar 2.5 Pull trhough floating head

Floating head with backing device


Seperti pada gambar 2.1, floating head dijepit antara backing
device dan tubesheet cover. Disebut juga non-pull through
floating head karena tube bundle tidak dapat langsung dilepas
dari shell. Untuk melepas tube bundle, shell cover dan tubesheet
cover harus dilepas terlebih dahulu.

Externally sealed floating tubesheet


Memiliki dua stuffering box yang berhadapan. Juga memiliki
lantern ring diantara packing untuk lubrikasi. Kelebihannya
adalah

murah

dan

dapat

diproduksi

secara

massal.

Kekurangannya adalah kemungkinan terjadinya kebocoran


kedua fluida ke atmosphere atau dari satu fluida ke fluida lain.

Gambar 2.6 Externally sealed floating head

2.2.2 Jenis Jenis Baffles


a. Segmental baffle
segmental baffle dibentuk dengan cara memotong baffle dari bentuk
lingkaran, potongan baffle mempunyai ukuran antara 15% s/d 40%
(biasanya 25%) dari ukuran lingkaran penuh. Baffle ini banyak
digunakan dan dianggap sebagai baffle standar karena mempunyai
efisiensi perpindahan panas yang tinggi.

Gambar 2.7 Segmental Baffle


b. Strip Baffle
Bentuk ini juga dapat disebut double segmental, karena terdapat dua
potongan pada lingkaran penuh baffle besar potongan antara 20%-30%
untuk satu sisi lingkaran.

Gambar 2.8 Strip Baffle

c. Disc and Doughnut Baffle


Desain dari bentuk ini terdiri dari baffle berbentuk disc dan doughnut.
Diameter bentuk disc lebih besar dari diameter lubang doughnut, pada
baffle jenis ini dipakai tie rod untuk menyangga baffle. Tie rod ini
sebagian terletak pada susunan tabung sehingga mempengaruhi jumlah
efektif tabung dalam berkas / susunan tabung.

Gambar 2.8 Disc and Doughnut Baffle


e. Orifice Baffle
Baffle jenis ini terdiri dari disc dengan lubang lubang yang mempunyai
ukuran lebih besar dari diameter tabung. Aliran fluida mengalir melalui
annular orifice dan menimbulkan pengaruh olakan pada fluida. desain
dari baffle ini jarang dipakai karena efisiensi yaang rendah.

Gambar 2.9 Orifice Baffle

f. Rod Baffle
Baffle jenis ini lebih berfungsi sebagai sirip daripada pengarah aliran. Rod
baffle Heat Exchanger dikembangkan oleh Phillip. Heat Exchanger ini
getarannya lebih kecil.

Gambar 2.10 Rod Baffle Heat Exchanger and Support

2.3 Analisa Penukar Panas


2.3.1 Metode Beda Temperatur Rata-Rata Logaritmik (LMTD)
Metode yang sering digunakan untuk perancangan dan perhitungan unjuk
kerja peralatan penukar panas.
..(2.1)
Harga

dapat ditentukan dengan mengetahui harga suhu masuk dan

suhu keluar kedua fluida, sehingga persamaan diatas menjadi:


(

dimana:
q = heat transfer (W)
U = Overall heat transfer, coefisien (kJ/s.m2K)
A = luas bidang perpindahan panas (m2)

Gambar 2.11 distribusi temperatur pada aliran penukar panas counter

Gambar 2.12 distribusi temperatur pada penukar panas aliran parallel


Untuk mendapatkan harga

diperlukan asumsi:

Harga U konstan untuk seluruh panjang pipa


Konduksi hanya berlangsung satu dimensi ke arah radial pipa
Pertukaran panas hanya terjadi antara kedua fluida saja
Kondisi tunak
Perbedaan energi potensial dan kinetik diabaikan
Untuk penukar panas aliran paralel berlaku:
...(2.3)

2.3.2 Metode Number Of Transfer Unit (NTU)


Metode ini lebih efektif, jika dipakai untuk mengetahui unjuk kerja dari
penukar kalor yang sudah jadi. Untuk mendefinisikan unjuk kerja dari
penukar kalor terlebih dahulu harus diketahui laju perpindahan panas
maksimum yang dimungkinkan oleh penukar kalor tersebut (qmaks)
Jika Cc < Ch maka qmaks = Cc (Th,I Tc,i)
Jika Cc > Ch maka qmaks = Ch (Th,I Tc,i)
Sedangkan effectiveness (e) adalah perbandingan antara laju perpindahan
panas heat exchanger dengan laju perpindahan panas maksimum yang
dimungkinkan.

Effectiveness merupakan bilangan tanpa dimensi dan berada dalam batas


0 < < 1. Untuk semua heat exchanger effectiveness dapat dinyatakan
(

Number of Transfer Unit (NTU) juga merupakan bilangan tanpa dimensi dan
didefinisikan sebagai:

dimana Cmin diperoleh untuk nilai yang terkecil dari:

selanjutnya harga NTU dari berbagai jenis heat exchanger dapat dicari dari grafik/
persamaan persamaan yang tersedia dalam text books.
2.3.3 Penurunan Tekanan (Preassure Drop)
a. Sisi Pipa / Tube
Gesekan yang terjadi antara aliran fluida dan permukaan tabung akan
menimbulkan kerugian tekanan sepanjang aliran, besarnya kerugian tekanan
pada aliran fluida laminer adalah:

Sedangkan besarnya major losses yang terjadi didalam tabung pada aliran
laminer adalah:
(

b. Sisi Selongsong / shell


Akibat gesekan yang terjadi dalam selongsong akan menimbulkan kerugian
tekanan sepanjang aliran, besarnya kerugian tekanan pada aliran fluida
turbulen adalah:
(

Sedangkan besarnya major losses yang terjadi di dalam selongsong


pada aliran turbulen adalah:

dimana:
f

= koefisien gesek yang didapatkan dari diagram Moody

= diameter efektif selongsong

= kecepatan fluida dalam selongsong

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Instalasi Percobaan
Percobaan menggunakan instalasi Heat Exchanger yang ada di
Laboratorium Perpindahan Panas dan Massa Teknik Mesin ITS. Instalasi tersebut
menggunakan thermal oil sebagai fluida pemanas dan air sebagai fluida
pendingin; lebih jelasnya dapat dilihat pada skema sederhana instalasi sebagai
berikut :

Gambar 4.1 Skema sederhana Instalasi Heat Exchanger

3.1.1

Dimensi Heat Exchanger

Gambar 3.2 Dimensi Instalasi Heat Exchanger

3.1.2

Karakteristik Fluida Panas dan Pendingin

Peralatan uji coba penukar panas ini dipergunakan untuk fluida


Incompresible baik fluida panas maupun fluida pendinginnya. Selain itu fluida
dipakau juga dapat diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dari penilitian yang
akan dilakukan. Saat ini fluida kerja yang telah ada pada peralatan ini
karakteristiknya adalah sebagai berikut :

a. Fluida Pendingin

Jenis

: Air (H2O)

b. Fluida Panas( Heat Transfer Oil)

Tipe

: Shell Termia Oil B

Density

: 0,868 kg/l at 15 C,IP 160

Viscosity, kinematic

: 229.0 cSt at 0 C IP 71
: 4.65 cSt at 100 C
:1.2 cSt at 200C
: 0.5 cSt at 300 C

Flash Point, IP 34

: 220 C close
: 232 C open

Pour Point, IP 15

: -18 C

Fire Point

: 225 C

Initialing Boiling Point

: 355 C

Coefficient of Thermal exp

: 0.00076 per C

3.2 Peralatan Penunjang dan Alat Ukur


Peralatan penunjang dan alat ukur yang telah terpasang pada instalasi
adalah terdiri dari sebagai berikut :
1. Pompa fluida dingin

Tipe

: Centrifugal Pump

Merek

: LOWARA

Buatan

: China

Debit

: 30L/min pada head total 11 m

Daya

: 125 watt; 220V; 1 phasa

2. Pompa fluida panas

Tipe

: Gear Pump

Merek

: Charlie

Buatan

: USA

Debit

: 20L/min, 220 C

Input

: 1400 rpm; 0.25 Hp

3. Motor

Merek Motor

: Shark

Buatan

: China

Putaran Motor

: 1400rpm

Daya

: 180 watt; 220 V; 1 phase

4. Sistem Pemanas ( Heating and Termocontrol)


Sistem pemanas berfungsi untuk mengatur temperature kerja terdiri
dari elemen pemanas, thermocontrol dan thermocouple.
a) Thermocontrol

Jenis

: PXR4TAY1

Merek

: Fuji

Buatan

: Japan

Preservation Temperature: -20 to 60 C

Time Akurasi

: 0.5%

Mounting Position

: Horizontal

Control Output

: AC 250 V; 3A; 1C

Power Voltage

: 100(-15%) to 240 V

(+10%) 50/60 Hz, 24V(10%) AC/DC

Sensor input tipe

: K(CA) type, J(IC)

Type, PT 100
b) Thermocouple

Tipe

: K type

Merek

: Fluke

Buatan

: USA

Range

: 0 s/d 400C

Akurasi

: 2% of full scale

c) Heating Element

Daya

: 1000 watt, 240 V AC, 1

phasa

Merek

: Lasco

Buatan

: USA

Mounting

: 4xM10 (Plate Mounting)

5. Alat ukur debit aliran fluida (Flowmeter)


a) Fluida panas

Merek

: Omega

Buatan

: USA

Flow Range

: 0.02 s/d 300 GPM

Fluida

Incompressible/compressible

Operating Pressure

: - Aluminium and Brass (up

to 3500 psi)
: - Stainless Steel (up to 6000
psi)
b) Fluida dingin

Jenis

: PT 11

Merek

: Techfluid

Buatan

: Spain

Aplication Range

: 4-40 l/h water

Connector

: PVC

Operating Temperature : 60C maksimum

6. Alat ukur temperature (thermocouple and digital thermometer)


Sehingga pembacaaan temperature dapat dilihat secara langsung
pada display.
a) Thermocouple

Tipe

: K type

Merek

: Fluke

Buatan

: USA

Range

: 0 s/d 400C

Akurasi

: 2% of full scale

b) Digital Termometer

Tipe

: K type

Merek

: Digital Termometer

Buatan

: Taiwan

Range

: 0/0.1

Akurasi

: 2 untuk -50 s/d 0


(0.3% s/d 1) untuk 0 s/d
1000

7. Alat ukur tekanan


Alat ukur ini terdiri dari 2 jenis yaitu untuk mengetahui besarnya
penurunan tekanan pada fluida dingin atau fluida panas.
a) Fluida Panas

Pressure Gauge In
Merek

: Atlantis

Buatan

: France

Item

: SGN 60A (SS316)

Range

: 0-10 kg/cm2

Connection

: 3/8 PT

Pressure Gauge Out


Merek

: Atlantis

Buatan

: France

Item

: SGN 60A(SS316)

Range

: 0-1 kg/cm2

Connection

: 3/8 PT

b) Fluida dingin
Pressure Gauge In
Merek

: Wika

Buatan

: Germany

Range

: 0-0.6 kg/cm2

Connection

: inch PVC

Pressure Gauge out


Merek

: Wika

Buatan

: Germany

Range

: 0- 1.0 kg/cm2

Connection

: inch PVC

3.3 Langkah-langkah Percobaan


Untuk memudahkan penggunaan peralatan ini diperlukan prosedur percobaan
yang baku guna mendapatkan data pengamatan yang akurat. Adapun tahapan
tahapannya adalah :
1. Tahap set up peralatan
a) Menyalakan saklar instalasi sehingga panel utama menunjukkan
temperature pada thermocontrol.
b) Mengatur katup saluran fluida dingin untuk memilih type parallel atau
counter flow.
Paralel Flow
Membuka katup K-4 ; K-6, menutup katup K-3; K-5
Counter Flow
Membuka katup K-3 ; K-5, menutup katup K-4; K-6,
Posisi katup dapat dilihat pada gambar instalasi di atas.
c) Mengecek kebocoran saluran fluida dingin dengan menghidupkan
pompanya dan memastikan katup K-2 dalam keadaan terbuka,
mengatur debit dengan mengatur katupnya sampai kondisi maksimum
d) Memastikan pompa fluida dingin dan memperbaiki bila masih terjadi
kebocoran dan mengulangi prosedur
e) Memastikan katup K-1 keadaan terbuka. Melakukan prosedur c dan d
untuk fluida panasnya dengan katup K-1 dan menjaga tekanan tangki
0,8 bar dan tinggi level control 3/4 (Lihat gambar instalasi dan
tangki)

f) Bila kedua saluran tidak terjadi kebocoran, kedua pompa dinyalakan


secara simultan
g) Set thermocontrol sesuai yang dikehendaki (60OC)
h) Pengambilan data siap dilakukan bila sudah stabil

2. Tahap pengambilan data


a) Debit fluida dingin diatur, untuk awal adalah 40 L/h dengan kenaikan
50 L/h
b) Data siap diambil dengan time hold 10 menit setelah prosedur a.
c) Tekan tombol control panel thermocontrol sesuai dengan tulisan yang
ada pada selector dimana ada Tin Cold, Tout Cold, Tin Hot dan Tout
Hot
d) Bila diperlukan, perlakuan terhadap temperature fluida panas dilakukan
sesuai prosedur tahap 2
e) Bila telah selesai, matikan setting thermocontrol, pompa fluida dingin
dan panas, saklar utama, buka katup K-1.

3.4 Flowchart Percobaan

BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan


(terlampir)

4.2 Flowchart Perhitungan

START

Qcold, Qhot,Tsi, n=12, Pci, Pho, Phi,


Thi, Tho, Tco, Din steel, Dout

Paralel

Tmc = Tci + Tco/2


Tmh = Thi + Tho/2
Tmf = Tmc + Tmh /2

Properties :

Tabel A.6 -> Fluida dingin (water)


Table A.5 -> Fluida panas (Engine oil)
Table A.1 -> Tube (copper)
Mencari : c, c, Cpc, Pr, c, Kc, Ktube, Kr, Prk, , lk

h = h.Qh

c = c.Qc

Hot

Re, h =

Cold
Ac = /4 D2skilin /4
D2tubeout
P = D skilin + 12. D
tubeout
Dn = 4Ac/P

4h

Re,h > 2300

NuD = 4,36
4c

Re,c =
A

NuD = 0.023
Re.h4/5Pr0.4

NuD = 4,36

Re,h >2.300
02300

hh = Nuh

NuD = 0.023
Re.h4/5Pr0.4
Hc = Nu . k

Ch = h .Cph

Cc = mc . Cpc

Rtot =

ln

UA = 1/Rtot

Cmax = Ch Cmin = Cc

Ch > Cc

Cmax = Ch Cmin = Cc

NTU = UA/Cmin
g1max = Cmin (ThA Toi)

gact = Ch (Thi Tho)

= gact/gmax
Ph = Phi-Pho

Pc = Pci-Pco
Cr = Cmin/Cmax

Qc = Qo + 50L/h

Qc 850
L/h

Counter
flow

Grafik parallel
Gact vs Re cold
Gcold vs Re cold

dan

>
>

Grafik counter
vs (NTU,Cr)
Pc vs Re cold

Perbandingan grafik Gact vs Re cold untuk aliran parallel dan


counter

END

4.3 Contoh Perhitungan


Parallel Flow
1. Menghitung Temperatur fluida

dimana

dari nilai

diatas didapatkan

dari nilai

diatas didapatkan

2. Rate Mass

3.

luasan yang dilewati fluida dingin


((

) )

c
c

4. Parimeter / Keliling
(

5. Diameter Hidrolis

6. Reynold Number (Re)

7. Nusselt Number cold (Nuc)


(

)(

8. Nusselt Number hot (Nuh)


(

)(

9. menghitung koefisien perpindahan panas konveksi

10. Mencari hambatan total

11.mencari Overall Heat Transfer

12.mencari

dimana

dan

sehingga nilai dari

adalah

13. mencari
(

14. mencari NTU

15. mencari effectiveness

16. mencari heat capacity ratio

17. mencari preassure drop