Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke


proksimal sampai ke korona glandis. Prepusium penis merupakan lipatan kulit
yang menutupi glans penis. Normalnya, kulit prepusium selalu melekat erat pada
glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring
bertambahnya usia dan pertumbuhan terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan
deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga
akhirnya kulit prepusium terpisah dari glans penis.1,2,3
Di Kanada dalam kurun waktu 2000-2003, fimosis ditemukan sebanyak
34,8% dan fimosis fisiologis sebanyak 56,5%.3 Menurut salah satu penelitian di
Cina yang dilakukan terhadap 10.421 anak laki-laki, fimosis ditemukan 99,7%
pada bayi usia < 28 hari, 84,43% pada bayi usia 1-12 bulan, 48,13% pada balita
usia 1-2 tahun, 27,12% pada anak usia 3-6 tahun, 12,04% pada anak usia 7-10
tahun, dan 6,81% pada remaja 11-18 tahun.4
Di Inggris, Gardiner melaporkan bahwa saat lahir <5% anak laki-laki
dapat menarik sepenuhnya preputiumnya hingga ke korona gland penis, dan
angka ini meningkat sampai 15% pada usia 6 bulan, 50% pada umur 1 tahun, 80%
pada umur 2 tahun dan sekitar 90% pada umur 3%.4
Di Jepang, fimosis ditemukan pada 88% bayi yang berusia 1 hingga 3
bulan dan 35% pada balita berusia 3 tahun. Insiden fimosis adalah sebesar 8%
pada usia 6 sampai 7 tahun dan 1% pada usia 16 sampai 18 tahun.5
Insidens fimosis adalah sebesar 8% pada usia 6 sampai 7 tahun dan 1%
pada laki-laki usia 16 sampai 18 tahun. Beberapa penelitian mengatakan kejadian
fimosis saat lahir hanya 4% bayi yang preputiumnya sudah bisa ditarik mundur
sepenuhnya sehingga kepala penis terlihat utuh. Selanjutnya secara perlahan
terjadi desquamasi sehingga perlekatan itu berkurang. Sampai umur 1 tahun,
masih 50% yang belum bisa ditarik penuh. Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun,
10% pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan masih ada 1% yang

bertahan hingga umur 16-17 tahun. Dari kelompok terakhir ini ada sebagian kecil
yang bertahan secara persisten sampai dewasa bila tidak ditangani.1,2
Bila fimosis menghambat kelancaran berkemih seperti balloning maka
sisa-sisa urin mudah terjebak di bagian dalam preputium dan menjadi ladang
subur bagi pertumbuhan bakteri, maka berakibat terjadi infeksi saluran kemih
(ISK) 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Penis

Gambar 2.1 Anatomi penis


Penis terdiri dari corpus penis, glans penis, sulcus coronal glans penis, dan
preputium. Preputium penis merupakan lipatan kulit seperti kerudung yang
menutupi glans penis. Normalnya, kulit preputium selalu melekat erat pada glans
penis dan tidak dapat ditarik kebelakang pada saat lahir, namun seiring
bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi
proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis
bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans
penis.6,7
Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2
batang korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah
disebut korpus spongiosa. Kedua korpus kara kavernosa ini diliputi oleh jaringan

ikat yang disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan
diluarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck. 8,9
Korpus kavernosa terdiri dari gelembung-gelembung yang disebut
sinusoid. Dinding dalam atau endothel sangat berperan untuk bereaksi kimiawi
untuk menghasilkan ereksi. Ini diperdarahi oleh arteriol yang disebut arteria
helicina. Seluruh sinusoid diliputi otot polos yang disebut trabekel. Selanjutnya
sinusoid

berhubungan

dengan

venula

(sistem

pembuluh

balik)

yang

mengumpulkan darah menjadi suatu pleksus vena lalu akhirnya mengalirkan


darah kembali melalui vena dorsalis profunda dan kembali ke tubuh.7,8
Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni syaraf otonom (para simpatis
dan simpatis) dan saraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf simpatis dan
parasimpatis berasal dari hipotalamus menuju ke penis melalui medulla spinalis
(sumsum tulang belakang). Khusus saraf otonom parasimpatis ke luar dari
medulla spinalis (sumsum tulang belakang) pada kolumna vertebralis di S2-4.
Sebaliknya saraf simpatis ke luar dari kolumna vertebralis melalui segmen Th 11
sampai L2 dan akhirnya parasimpatis dan simpatis menyatu menjadi nervus
kavernosa. Saraf ini memasuki penis pada pangkalnya dan mempersyarafi otototot polos. Saraf somatis terutama yang bersifat sensoris yakni yang membawa
impuls (rangsang) dari penis misalnya bila mendapatkan stimulasi yaitu rabaan
pada badan penis dan kepala penis (glans), membentuk nervus dorsalis penis yang
menyatu dengan saraf-saraf lain yang membentuk nervus pudendus. Saraf ini juga
berlanjut ke kolumna vertebralis (sumsum tulang belakang) melalui kolumna
vertebralis S2-4. Stimulasi dari penis atau dari otak secara sendiri atau bersama
sama melalui saraf-saraf diatas akan menghasilkan ereksi penis.7,8
Vaskularisasi untuk penis berasal dari arteri pudenda interna lalu menjadi
arteriapenis communis yang bercabang 3 yakni 2 cabang ke masing-masing yakni
ke korpus kavernosa kiri dan kanan yang kemudian menjadi arteria kavernosa atau
arteria penis profundus yang ketiga ialah arteria bulbourethralis untuk korpus
spongiosum. Arteria memasuki korpus kavernosa lalu bercabang-cabang menjadi
arteriol-arteriol helicina yang bentuknya berkelok-kelok pada saat penis lembek
atau tidak ereksi. Pada keadaan ereksi, arteriol-arteriol helicina mengalami

relaksasi atau pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah bertambah besar
dan cepat kemudian berkumpul di dalam rongga-rongga lakunar atau sinusoid.
Rongga sinusoid membesar sehingga terjadilah ereksi. Sebaliknya darah yang
mengalir dari sinusoid ke luar melalui satu pleksus yang terletak di bawah tunica
albugenia. Bila sinusoid dan trabekel tadi mengembang karena berkumpulnya
darah di seluruh korpus kavernosa, maka vena-vena di sekitarnya menjadi
tertekan. Vena-vena di bawah tunica albuginea ini bergabung membentuk vena
dorsalisprofunda lalu ke luar dari Corpora Cavernosa pada rongga penis ke sistem
vena yang besar.4

2.2 Definisi Fimosis


Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat
diretraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis.Fimosis merupakan
penyempitan ujung prepusium yang biasanya disebabkan oleh fibrosis tepi
prepusium akibat radang seperti balanopostitis atau setelah sirkumsisi yang tidak
sempurna.Pada fimosis, preputium melekat pada bagian glans dan mengakibatkan
tersumbatnya lubang saluran kencing, sehingga bayi dan anak menjadi kesulitan
dan rasa kesakitan pada saat buang air kecil.1,3,6
2.3 Klasifikasi Fimosis
a. Fimosis kongenital (fimosis fisiologis, fimosis palsu, pseudo phimosis) timbul
sejak

lahir.

Fimosis

ini

bukan

disebabkan oleh kelainan anatomi


melainkan

karena

adanya

faktor

perlengketan antara kulit pada penis


bagian depan dengan glans penis
sehingga muara pada ujung kulit
kemaluan
Gambar 2.2 Fimosis Kongenital

sempit.

seakan-akan
Sebenarnya

terlihat
merupakan

kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium
selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada

saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan
faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi
antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit
preputium terpisah dari glans penis.
b. Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis)
timbul kemudian setelah lahir.
Fimosis Patologis didefinisikan
sebagai ketidakmampuan untuk
menarik

preputim

setelah

sebelumnya yang dapat ditarik


kembali. Fimosis ini disebabkan
oleh sempitnya muara di ujung
Gambar 2.3 Balanitis Xerotica Obliterans

kulit kemaluan secara anatomis.

Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene) yang buruk, peradangan kronik
glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan
berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang
akan menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit
preputiumyang membuka. Rickwood mendefinisikan fimosis patologis adalah
kulit distal penis (preputium) yang kaku dan tidak bisa ditarik, yang disebabkan
oleh Balanitis Xerotica Obliterans (BXO).8

Gambar 2.4 Fimosis Fisiologis

Fimosis Patologis
6

2.4 Patofisiologi6-9
Fimosis yang fisiologis merupakan hasil dari adhesi lapisan-lapisan epitel
antara preputium bagian dalam dengan glans penis. Ereksi penis yang terjadi
secara berkala membuat preputium terdilatasi perlahan-lahan sehingga preputium
menjadi retraktil dan tidak dapat ditarik kearah proksimal. Jadi seiring dengan
bertambahnya usia fimosis fisiologis akan hilang.
Higienitas yang buruk pada daerah sekitar penis dan adanya balanitis atau
balanophostitis berulang yang mengarah terbentuknya scar pada orificium
preputium dapat mengakibatkan fimosis patologis. Retraksi preputium secara
paksa juga dapat mengakibatkan luka kecil pada orificio preputium yang dapat
mengarah ke scar dan berlanjut ke fimosis. Pada orang dewasa yang belum
berkhitan memiliki risiko fimosis sekunder karena kehilangan elastisitas kulit.
Pada kasus fimosis, lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga
tidak bisa ditarik mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat. Kadang
hanya tersisa lubang yang sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini, akan
terjadi fenomena balloning dimana preputium mengembang saat berkemih
karena desakan pancaran urine yang tidak diimbangi besarnya lubang di ujung
prepusium. Bila fimosis menghambat kelancaran berkemih, seperti pada balloning
maka

sisa-sisa

urine

mudah

terjebak di dalam

preputium. Hal

ini

bisa

menyebabkan terjadinya infeksi.


Pada

lapisan

dalam

prepusium

terdapat

kelenjar

sebacea

yang

memproduksi smegma. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan


prepusium. Letak kelenjar ini di dekat pertemuan prepusium dan glans penis yang
membentuk semacam lembah di bawah korona glans penis (bagian kepala penis
yang berdiameter paling lebar). Di tempat ini terkumpul keringat, debris/kotoran,
sel

mati

dan bakteri.

Bila tidak terjadi fimosis,

kotoran ini

mudah

dibersihkan. Namun pada kondisi fimosis, pembersihan tersebut sulit dilakukan


karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke belakang. Bila yang terjadi adalah
perlekatan

prepusium

dengan

glans

penis,

debris

dan

sel

mati yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan.

Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini
terjadi peradangan pada permukaan preputium dan glans penis. Terjadi
pembengkakan kemerahan dan produksi pus di antara glans penis dan prepusium.
2.5 Manisfestasi Klinis1,6
1. Menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi dan dapat
menimbulkan retensi urine. Hal tersebut disebabkan oleh karena urine
yang keluar terlebih dahulu masuk ke ruang antara prepusium dan glans
penis yang akan teregang membentuk kandung sebelum keluar melalui
muaranya yang sempit.
2. Gangguan aliran urine berupa sulit BAK, pancaran urine mengecil,
kadang-kadang menetes atau memancar dengan arah yang tidak diduga.
3. Biasanya bayi/anak menangis dan mengejan saat buang air kecil karena
timbul rasa sakit.
4. Higienelokal yang kurang bersih dapat menyebabkan terjadinya infeksi
pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis), atau infeksi
pada glans dan prepusium penis (balanopostitis). Balanopostitis sukar
sembuh karena tindak hygiene biasa untuk membersihkan glans dan
permukaan dalam prepusium tidak dapat dilakukan.
5. Kadang pasien dibawa berobat oleh orangtuanya karena ada benjolan
lunak di ujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan
smegma di dalam sakus prepusium penis. Smegma terjadi dari sel-sel
mukosa prepusium dan glans penis yang mengalami deskuamasi oleh
bakteri yang ada di dalamnya.
2.6 Diagnosis1,6
Untuk menegakkan diagnosis didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan berupa ujung kemaluan
menggembung saat buang air kecil, adanya gangguan aliran urine berupa pancaran
urine mengecil, bayi yang menangis dan mengejan saat buang air kecil karena
timbul rasa sakit, serta manifestasi klinis fimosis lainnya.

Pada pemeriksaan fisik kasus fimosis, dapat ditemukan kulit yang tidak
dapat diretraksi melewati gland penis, korpussmegma, inflamasi pada prepusium
atau pada glans penis. Pada fimosis fisiologis, bagian preputial orifice tidak ada
luka dan terlihat sehat, sedangkan pada fimosis patologis terdapat jaringan fibrus
berwana putih yang melingkar.
2.7 Penatalaksanaan1,8,9,10
1. Terapi Konservatif
Sebagai pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0,050,1%) dua kali sehari selama 20-30 hari. Tetapi ini tidak dianjurkan untuk bayi
dan anak anak yang masih memakai popok, tetapi dapat dipertimbangkan
untuk usia sekitar 3 tahun.
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada
fimosis, karena menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung
prepusium sebagai fimosis sekunder. Fimosis yang disertai balanitis xerotika
obliterans dapat dicoba diberikan salep deksametasone 0,1% yang dioleskan 3
atau 4 kali per hari. Diharapkan setelah pemberian selama 6 minggu,
prepusium dapat diretraksi spontan.
Pada kasus dengan komplikasi, seperti infrksi saluran kemih yang berulang
atau balloning kulit prepusium saat miksi, sirkumsisi harus segera dilakukan
tanpa memperhitungkan usia pasien.

Tabel 2.1 Pengobatan topikal

2. Preputialplasty
Merupakan suatu teknik bedah plastic untuk memperbesar lubang
prepusium tanpa membuang jaringan lokal.
3. Sirkumsisi
Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anak-anak
adalah fimosis patologik. Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi,
menggelembungnya ujung prepeusium pada saat miksi, atau fimosis yang
disertai dengan infeksi postitis atau balanitis merupakan indikasi untuk
dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balanitis atau postitisharus diberi
antibiotika dahulu sebelum sirkumsisi. Bila ada balanopostitis, sebaiknya
dilakukan sayatan dorsal terlebih dahulu yang disusul dengan sirkumsisi
sempurna setelah radang mereda.
Prosedur Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara
memotong preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang
penis ke arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan
kekanan sejajar sulcus coronarius. Langkahnya:
1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi
2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis
melingkar. Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang
akan dipotong dan daerah ventral.
4. Tunggu 3 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan
mencubitkan pinset
5. Bila didapati fimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang
preputium, lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde
atau klem sampai seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal
dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral.
(Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal)

10

7. Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem)


kira-kira

sampai

sentimeter

dari

sulkus

koronarius

(dorsumsisi),buat tali kendali. kulit Preputium dijepit dengan klem


bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher

8. Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11) ke ujung distal sayatan (jam 12
dan 12). Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong
menuju frenulum di distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak
meruncing (huruf V), buat tali kendali).
9. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang
disiapkan.
10. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang
banyak ada di frenulum) siap untuk dijahit.Penjahitan dimulai dari
dorsal (jam 12), dengan patokan klem yang terpasang dan jahitan
kedua pada bagian ventral (jam 6). Tergantung banyaknya jahitan yang
diperlukan, selanjutnya jahitan dibuat melingkar pada jam 3,6,9,12 dan
seterusnya.

11

11. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester.
Lubang uretra harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin
Komplikasi dari sirkumsisi termasuk:
1.

Sepsis

2.

Amputasi dari glans penis

3.

Pemotongan berlebih dari prepusium

4.

Fistel uretrokutan.

Kontraindikasi untuk sirkumsisi antara lain:


1.

Hipospadia

2.

Chordee tanpa hipospadia

3.

Micropenis

4.

Deformitas dorsal penis

2.8 Komplikasi6
1. Ketidaknyamanan atau nyeri saat berkemih
2. Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian
terkena infeksi sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.
3. Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
4. Infeksi pada pada glans penis (balanitis), prepusium (postitis), atau
keduanya (balanopostitis)
5. Infeksi saluran kemih (ISK)

12

2.9 Diagnosis Banding 1,5,7


Parafimosis adalah suatu keadaan dimana
prepusium penis yang diretraksi sampai ke
sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan
pada keadaan semula dan menimbulkan
jeratan pada penis dibelakang sulkus
koronarius.

Jika

prepusium

tidak

secepatnya dikembalikan ketempat semula,


Gambar 2.5 Parafimosis

menyebabkan gangguan aliran balik vena

superfisial, sedangkan aliran arteri tetap berjalan normal. Hal ini menyebabkan
edema glans penis dan dirasakan nyeri. Jika dibiarkan bagian penis di sebelah
distal jeratan makin membengkak yang akhirnya bias mengalami nekrosis glans
penis, warnanya akan menjadi biru atau hitam dan glans penis akan terasa keras
saat di palpasi.
Balanopostitis
Balanitis

adalah

istilah

untuk

peradangan

glans

penis.

Postitis

didefinisikan sebagai peradangan preputium. Balanopostitis merupakan suatu


kondisi dimana terjadi peradangan pada glans penis dan preputium, hal ini
umumnya terjadi pada 4-11% anak laki-laki yang tidak disunat. Etiologinya tidak
jelas dan tidak ada penyebab yang diidentifikasikan dalam banyak kasus,
walaupun dapat terjadi karena infeksi, trauma mekanis, iritasi kontak dan alergi.2
Terapi balanopostitis adalah berupa termasuk
meningkatkan kesehatan dengan retraksi
preputium

secara

lembut,

mandi

dan

membersihkan preputium. Salep topikal dan


antibiotik oral diinsikasikan jika dicurigai
balanopostitis akibat bakteri akut. Group A
Gambar 2.6 Balanopostitis

beta

hemolitik

streptokokus

merupakan

bakteri penyebab umum terjadinya balanopostitis, sefalosporin generasi pertama


dan penisilin telah biasa dianjurkan sebagai pengobatannya.2

13

Balanitis Xerotica Obliterans


Balaniotias xerotica obliterans, yang dikenal dengan liken sclerosus adalah
kondisi kulit yang menyebabkan infiltratif fimosis patologis dan lesi diujung
prepusium. Penyebab umum terjadinya pada masa pubertas dan lesi jarang terjadi
pada

anak

laki-laki

dibawah

umur

tahun.

Gejala

klinsinya

yaitu

ketidakmampuan untuk retraksi prepusium, ketidaknyamanan saat berkemih dan


sesekali terdapat tanda obstruktif minor.2
Diagnosis

dapat

dilakukan

dengan

biopsi,

yang

menunjukkan

hiperkeratosis dengan palk folikular, atrofi stratum spinosum malpigi dengan


degenerasi hidropik sel basal, limfadema, hyalinosis, dan homogenisasi kolagrn
pada dermis bagian atas, dan infiltrasi inflamasi pada pertengahan dermis.1
Terapi dengan menggunakan steroid pada balanitis xderotic obliterns
masih belum jelas, meskipun steroid topikal telah terbukti efektif 80% sebagai
pengobatan fimosis fisiologis. Secara histologis dievaluasi pengguanaan steroid
topikal BXO, dan menyimpulkan bahwa pengobatan steroid cenderung efektif bila
mekanisme inflamasi aktif dan kerusakan jaringan yang irreversibel belum terjadi,
sedangkan pada akhir penyakit ketika dimana perubahan yang irreversibel seperti
degenerasi yang buruk dan atrofi kulit kelamin, pengobatan tidak efektif dan
hanya memperlambat perburukan penyakit.1
Pengobatan yang dianjurkan BXO adalah dengan sirkumsisi, sirkumsisi
dapat menghapus semua jaringan yang terkena. Preputioplasty tidak dianjurkan
karena proses inflamasi dapat berulang. Sisa lesi pada glans penis dapat sembuh
dengan dilakukan sirkumsis. Steroid topikal pasca operasi dapat mengurangi
resiko restenosis.

Gambar 2.7 Balanitis Xerotica Obliterans


14

2.10

Prognosis
Prognosis dari fimosis akan semakin baik bila cepat didiagnosis dan

ditangani dengan tepat. Tidak ada catatan aspek jangka panjang pada fimosis
fisiologis. Jika terjadi setelah pubertas pada saat memasuki hubungan seksual,
bagaimanapun dapan menyebabkan gangguan aktivitas seksual.

15

BAB III
KESIMPULAN

Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat
diretraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. Pada fimosis terjadi
penyempitan pada ujung prepusium. Kelainan ini menyebabkan bayi atau anak
sulit berkemih, sehingga prepusium menggelembung seperti balon. Hal ini dapat
menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit BAK, pancaran urine mengecil,
menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan menimbulkan
retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi
pada prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada
glans dan prepusium penis (balanopostitis).
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada
fimosis karena dapat menimbulkan luka dan terbentuknya sikatrik pada ujung
prepusium. Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya
ujung prepeusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi
postitis atau balanitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya
pada balanitis atau postitis harus diberi antibiotika dahulu sebelum sirkumsisi.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki B Purnomo. Dasar-dasar Urologi. Edisi Kedua. Jakarta: Sagung


Seto; 2009.
2. Santoso

A.

Fimosis`dan

Parafimosis.

Tim

Penyusun

Panduan

Penatalaksanaan Pediatric Urologi di Indonesia. Jakarta: Ikatan Ahli


Urologi Indonesia; 2005.
3. McGregor TB, Pike JG, Leonard MP. PhimosisA Diagnostic Dilemma?.
The Canadian Journal of Urology 2005;12(2):2598:2602.
4. Yang C, Liu X, Wei GH. Foreskin development in 10421 Chinese boys
aged 0-18 years. World J Pediatr 2009;5(4):312-315.
5. Hayashi Y, et al. Prepuce: Phimosis, Paraphimosis and circumcision.
Departement of Nephro-urology, Nagoya city University graduate school
of Medical sciences, Japan. The scientific world journal (2011) 11, 289301 TSW Urology. ISSN 157-744X; DOI 10.1100/tsw.2011.31
6. Sjamsuhidajat, R, Wim de Jong. Saluran kemih dan Alat Kelamin Lelaki.
Buku-Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. Jakarta: EGC, 2004. p 801
7. Tanagho, EA and McAninch, JW. Smiths General Urology. Sixteen
edition. USA: Appleton and Lange; 2004.
8. Spilsbury K, Semmens JB, Wisniewski ZS, Holman CD. "Circumcision
for phimosis and other medical indications in Western Australian boys".
Med. J. Aust. 178 (4): 1558; 2003.
9. Brunicardi FC, et al. Schwartzs Principle of Surgery Eight Edition
Volume 2. USA: Mc Graw Hill.
10. Van Howe RS. Cost-effective Treatment of Phimosis. Pediatrics
1998;102;e43.

17