Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU GIZI DAN PANGAN

PENILAIAN STATUS GIZI PADA ANAK


Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Praktikum Ilmu Gizi dan Pangan

Oleh

: Dadang Surahman (1127020007)

Dosen Pengampu

: Aneu Nurul M.Si

Waktu Pelaksanaan

: 13 Oktober 2014

Waktu Pengumpulan : 20 Oktober 2014

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2014

I.

Pendahuluan
1.1 Tujuan
1.1.1

Tujuan umum :
Mengetahui status gizi anak di TK Nuansa

1.1.2

Tujuan Khusus:
a. Mengidentifikasi status gizi berdasarkan indeks BB/U
b. Mengidentifikasi status gizi berdasarkan indeks TB/U
c. Mengidentifikasi status pertumbuhan anak TK

1.2 Dasar Teori


Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel
tertentu. Contoh: Gondok endemik merupakan keadaan tidak seimbangnya
pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh (Supariasa, 2002).
Penilaian status gizi adalah interpretasi dari data yang didapatkan
dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau
individu yang beresiko atau dengan status gizi buruk. Menurut Almatsier
(2009), Penilaian status gizi bertujuan untuk :
a. Memberikan gambaran secara umum mengenai metode penilaian status
gizi.
b. Memberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kelemahan dari
masing-masing yang ada.
c. Memberikan gambaran singkat mengenai pengumpulan data, perencanaan
dan implementasi untuk penilaian status gizi.
Metode dalam penilaian status gizi dibagi dalam dua kelompok, yaitu
secara langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung
terdiri dari penilaian dengan tanda klinis, tes laboratorium, metode biofisik
dan antropometri. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung
berupa survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Adapun
metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pengukuran
antropometri (Supariasa, 2002).
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari
sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat
umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat

ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat


pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot
dan jumlah air dalam tubuh. (Supariasa, 2002)
Indeks Antropometri meliputi :
a. Berat Badan Menurut Umur ( BB/U )
Indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara
pengukuran status gizi. Berat badan menurut umur tidak sensitif untuk
mengetahui apakah seseorang mengalami kekurangan gizi masa lalu atau masa
kini. Berat badan menurut umur merefleksikan status gizi masa lalu maupun
masa kini ( Irianto, 2004 ).
b. Tinggi Badan Menurut Umur ( TB/U )
Indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. Beaton dan bengoa (
1973 ) menyatakan bahwa indeks TB/U disamping memberikan gambaran
statis gizi masa lampau juga lebih erat kaitannya dengan status sosial ekonomi.
( Irianto, 2004 ).
c.

Berat Badan Menurut Tinggi Badan ( BB/TB )


Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan.

Dalam keadaan normal perkembangan berat badan akan searah dengan


pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jelliffe pada tahun 1966
telah memperkirakan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks
BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini
(sekarang ). Indeks BB/TB adalah merupakan indeks yang independen
terhadap umur( Irianto, 2004 ).
d. Indeks Masa Tubuh/IMT Anak ( IMT/U )
IMT/U adalah indikator yang terutama bermanfaat untuk penapisan
kelebihan berat badan dan kegemukan. Biasanya IMT tidak meningkat dengan
bertabahnya umur seperti yang terjadi pada berat badan dan tinggi badan,
tetapi pada bayi peningkatan

IMT naik secara tajam karena terjadi

peningkatan berat badan secara cepat relatif terhadap panjang badan pada 6
bulan pertama kehidupan. IMT menurun pada bayi setelah 6 bulan dan tetap
stabil pada umur 2-5 tahun( Irianto, 2004 ).
Indikator IMT/U hampir sama dengan BB/PB atau BB/TB. Ketika
melakukan

interpretasi

resiko

kelebihan

berat

badan,

perlu

mempertimbangkan berat badan orang tua. Jika seseorang anak mempunyai

orang tua yang obes akan meningkatkan resiko terjadinya kelebihan berat
badan pada anak. Anak yang mempunyai salah satu orang tua yang obesitas,
kemungkinan 40 % untuk menjadi kelebihan berat badan. Jika kedua orang
tuanya obes, kemudian meningkat sampai 70 %. Perlu diketahui bahwa anak
yang pendek pun dapat mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
(Anggraeni, 2012).
e.

Z-score
Z-Score merupakan indeks antropometri yang digunakan secara

internasional untuk menentukan status gizi dan pertumbuhan, yang


diekspresikan sebagai satuan standar deviasi (SD) populasi rujukan. Untuk
pengukuran z-score pada populasi yang distribusinya normal. Umumnya
digunakan pada indicator panjang atau tinggi badan anak ( Sediaoetama,
2004).
Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi status gizi adalah sebagai
berikut :
1.

Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:


a)

Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf

ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga
tersebut. ( Sediaoetama, 2004).
b) Pendidikan
Pendidikan

gizi

merupakan

suatu

proses

merubah

pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan
dengan status gizi yang baik. ( Sediaoetama, 2004).
c)

Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan


yang

menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh

terhadap kehidupan keluarga( Sediaoetama, 2004).

d) Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan
kebiasaan. (Soetjiningsih, 1998).

2.

Faktor Internal

Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :


a)

Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki

orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita( Sediaoetama, 2004).


b) Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia,
semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang
buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan,
karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk
pertumbuhan cepat . Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya
nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan.
(Anwar, 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan makanan anak yaitu :
1.

Penerimaan Makanan
Penerimaan terhadap makanan dipengaruhi oleh berbagai faktor,

seperti status gizi, tingkat kekenyangan, rasa makanan, pengalaman masa lalu,
dan kepercayaan terhadap makanan tertentu. Belakangan ini dilakukan
penelitian-penelitian tentang faktor keturunan yang mempengaruhi kesukaan
makanan. Bayi kembar satu telur menunjukan kesamaan lebih besar dalam
kesukaan makanan daripada bayi kembar dua telur. Pengaruh keturunan yang
kuat terlihat terhadap phenylthiocarbanide (PTC) yang mempunyai rasa pahit.
Mereka yang sensitive terhadap PTC cenderung menunjukan ketidaksukaan
lebih banyak terhadap makanan (food dislikes) daripada yang tidak sensitive.
Makanan yang mempunyai rasa pahit adalah brokoli, kacang buncis, pare,
daun singkong, daun papaya, apel, dan jeruk. Keturunan tampaknya lebih
berpengaruh terhadap kesukaan makanan pada anak yang kurang sensitive
terhadap rasa pahit ; mereka lebih mudah menerima berbagai jenis makanan.
(Almatsier, 2011)

2.

Pengaruh Orang Tua


Orangtua berpengaruh terhadap perilaku makan anak. Banyak

penelitian menunjukan bahwa orang tua secara sadar maupun tidak sadar telah

menuntun kesukaan makan anak dan membentuk gaya yang berpengaruh


terhadap dimana, bagaimana, dengan siapa, dan berapa banyak ia makan.
(Almatsier, 2011)
3.

Pengetahuan Gizi
Pengetahan gizi orangtua dan pengasuh anak ternyata sangat

berpengaruh terhadap pilihan makan anak. Tingkat pengetahuan gizi yang


dipraktikkan pada perencanaan makanan keluarga tampaknya berhubungan
dengan sikap positif ibu terhadap diri sendiri, kemampuan ibu dalam
memecahkan masalah, dan mengorganisasikan keluarga. Urut-urutan anak
pra-sekolah dalam keluarga tampaknya berpengaruh terhadap pilihan makanan
yang diberikan. Bila anak adalah anak bungsu dalam keluarga ibu tampaknya
kurang sensitive terhadap permintaan anak akan produk baru. Sebaliknya ibu
akan lebih memperhatikan kesukaan anak apabila ia adalah anak sulung.
Anak-anak umumnya menyukai makanan yang padat energi. Orang tua sering
kecewa karena anak lebih suka makanan yang disukai daripada makanan yang
lebih bergizi. (Almatsier, 2011)
4.

Interaksi Orang Tua dan Anak


Interaksi orang tua dengan anak berpengaruh terhadap pilihan makanan

dan pengembangan pola makan anak. Bila orang tua tidak terlalu menanggapi
kesukaan anak pra-sekolah terhadap makanan tertentu yang kurang baik,
kebiasaan makan ini akan cepat berlalu. Tetapi, bila orang tua sukar menerima
perilaku ini dan member perhatian dorong anak untuk makan makanan yang
lain, membicarakan ketidaksukaan anak terhadap makanan tertentu di
depannya, atau menyediakan makanan yang tidak disukai anak, anak akan
terdorong untuk menjadikan kebiasaan makan yang salah tersebut sebagai
kebiasaan makan permanen (Anwar, 2000).
Lingkungan sosial-emosional anak berkaitan dengan kecukupan
asupan makanannya. Pendampingan saat maka, suasana rumah yang positif,
dan perilaku terkait dengan makanan

orang tua yang sesuai sangat

berpengaruh terhadap mutu makanan anak. Orang tua hendaknya banyak


berdiskusi dengan anak tentang makanan yang tidak disukai, memberi banyak
perhatian, membujuk anak untuk makan, dan menghidangkan makanan yang
bervariasi (Anwar, 2000).

Interaksi orang tua dan anak juga berpengaruh terhadap jumlah


makanan yang dikonsumsi. Ada perbedaan antara interaksi anak dan orang tua
pada anak langsing dan anak gemuk, baik dalam hal makanan maupun bukan
makanan. Anak langsing lebih banyak berbicara satu sama lain dengan ibunya,
makan lebih sedikit dan lebih lambat dibandingkan dengan anak gemuk.
Kesukaan terhadap makanan meningkat bila makanan diberikan sebagai
hadiah dengan interaksi social positif dengan orang dewasa. (Almatsier, 2011)
II.

Metode Kerja
2.1 Alat dan Bahan
Alat

Jumlah

Objek

Jumlah

Alat tulis

1 set

Anak TK

4 orang

Timbangan

1 buah

Kertas

Secukupnya

Meteran

1 buah

Bola

3 buah

Tabel rujukan

1 set

2.2 Cara Kerja


Ketahui tanggal lahir balita untuk mengetahui umurnya

Ketahui pula berat badan, tinggi badan, dan jenis kelaminnya

Tentukan nilai Z-score

Lihat nilai median BB dan SD berdasarkan jenis kelamin dan umur

Klasifikasikan status gizi berdasarkan nilai Z-score

Amati pula perkembangan motoric halus dan kasar menurut umur

Hasil

III.

Hasil Pengamatan
Rumus Perhitungan Nilai Z-Score
Nilai individu subjek >median
Nilai individu subjek nilai median
(nilai+ISD) nilai median

Nilai individu subjek <median


Nilai individu subjek nilai median
(nilai-ISD) nilai median

Nilai individu subjek =median


Nilai individu subjek nilai median
Nilai median

a. Nama

: Dinda

Jenis kelamin

: perempuan

Umur

: 5 Tahun

BB

: 16 Kg

TB

:105 cm

Nilai Z-score BB/U =

= 0,92

Nilai Z-score TB/U =


Motoric kasar
Berjalan

Lulus/TL
pada

Lulus

tumit-jari
Menangkap bola 2

Motoric halus
Menggambar

Lulus/TL
orang

Kurang baik

bagian
Tidak lulus

dari 3
Berdiri pada 1 kaki

= 0,92

Mengikuti

membuat

Lulus

persegi
Lulus

Menirukan

Kurang baik

selama 10 detik
Berjalan

mundur

Tidak lulus

Menggambar

pada tumit jari kaki

orang

Lulus

bagian

Makanannya :mie goring, nasi, minum putih


b. Nama

: Radit

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 5 Tahun

BB

: 19 Kg

TB

: 108 cm

Nilai Z-score BB/U =

= 0,26

Nilai Z-score TB/U =


Motoric kasar
Berjalan pada tumit-jari

= 0,43

Lulus/TL

Motoric halus

Lulus

Menggambar

Lulus/TL
orang

Lulus

Mengikutimembuatpersegi

Lulus

Menirukan

Lulus

bagian
Menangkap bola 2 dari

Lulus

3
Berdiri pada 1 kaki

Lulus

selama 10 detik

kali

Berjalan mundur pada

Lulus

tumit jari kaki

Menggambar
bagian

Makanannya :donat, minum susu mil


c. Nama

: Basel

Jeniskelamin

: Laki-laki

Umur

: 5 Tahun

BB

: 17 Kg

TB

:107 cm

orang

Lulus

Nilai Z-score BB/U =

= 0,57

Nilai Z-score TB/U =


Motoric kasar

= 0,69

Lulus/TL

Motoric halus

Lulus/TL

pada

Lulus

Menggambar orang 3 bagian

Lulus

Menangkap bola 2

Lulus

Mengikuti membuat persegi

Lulus

dari 3

kali

Berdiri pada 1 kaki

Lulus

Menirukan

Lulus

Menggambar orang 6 bagian

Lulus

Berjalan
tumit-jari

selama 10 detik
Berjalan

mundur

Lulus

padatumitjari kaki
Makanannya : roti coklat, minum putih
d. Nama

: Lisa

Jeniskelamin

: perempuan

Umur

: 5 Tahun

BB

: 18 Kg

TB

:112 cm

Nilai Z-score BB/U =


Nilai Z-score TB/U =

= 0,08
= 0,59

Motoric kasar

Lulus/TL

Motoric halus

Lulus/TL

Berjalan pada tumit-

Lulus

Menggambar orang 3 bagian

Lulus

Mengikuti membuat persegi

Lulus

jari
Menangkap bola 2

Lulus

dari 3

kali

Berdiri pada 1 kaki

Lulus

Menirukan

Lulus

Lulus

Menggambar orang 6 bagian

Lulus

selama 10 detik
Berjalan

mundur

pada tumit jari kaki


Makanannya : kue bronis coklat, minum putih
IV.

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan terhadap beberapa anak di
Taman Kanak-kanak Nuansa yang bertempat di daerah Riung Bandung.
Pengamatan ini bertujuan untuk menentukan nilai status gizi dari anak-anak
tersebut. anak-anak yang menjadi objek pengamatan pada kali ini berjumlah 4
orang yaitu Dinda, Basel, Radit dan Lisa. Umur dari keempat anak tersebut adalah
5 tahun. Pengamatan yang dilakukan untuk menilai status gizi anak pada
praktikum kali ini adalah pengukuran berat badan, tinggi badan, umur, makanan
yang biasa dikonsumsi, dan pengukuran motorik kasar dan halus.
Pada pengukuran berat badan, diketahui berat badan dar Dinda 16 kg, Radit 19
kg, Basel 17 kg, dan Lisa 18 kg. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui nilai
dari Z score BB/U dari mereka berturut-turut adalah 0,92; 0,26; 0,57; dan 0,08.
Berdasarkan data berat badan terhadap umur, keempat anak tersebut
diklasifikasikan pada kelompok anak memiliki gizi baik karena masih berada pada
rentan > -2 SD sampai dengan < +2 SD.
Menurut

Anwar (2000),

berat badan adalah salah satu parameter yang

memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap


perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi,
menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi.
Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara
konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang
mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat
2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau
lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka
indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran
status gizi. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U
lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini.
Pada pengukuran tinggi badan diketahui bahwa tinggi badan mereka sebesar :
Dinda 105 cm, Radit 108 cm, Basel 107 cm dan Lisa 112 cm. Berdasarkan data
tersebut dapat diketahui bahwa nilai Z-score TB/U nya berturut-turut adalah 0,92;
0,43; 0,69; dan 0,59. Nilai Z-score TB/U tersebut menunjukan bahwa keempat

anak tersebut diklasifikasikan kedalam anak normal karena nilai Z-score mereka >
-2 SD.
Menurut

Anwar (2000),

Tinggi badan merupakan antropometri yang

menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi


badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tingi badan tidak
seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi
dalam waktu pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan
nampak dalam waktu yang relatif lama. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka
indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu.
Pada pengamtan selanjutnya dilakukan uji motorik kasar dan uji motorik
halus.

Uji

motorik

ini

bertujuan

untuk

mengukur

gerak

anak

dan

perkembangannya yang terlihat dari keterampilan anak dapat dikumpulkan


dalam waktu yang cukup panjang. Hubungan uji motorik ini dengan status gizi
anak adalah seorang anak yang normal atau bergizi baik akan memiliki
perkembangan motorik yang optimal.
Motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motor yang melibatkan
keterampilan otot-otot besar. Gerakan-gerakan seperti tengkurap, duduk,
merangkak, dan mengangkat leher. Gerakan inilah yang pertama terjadi pada
tahun pertama usia anak. Motorik halus merupakan aktivitas keterampilan yang
melibatkan gerakan otot-otot kecil seperti, menggambar, meronce manik, menulis,
dan makan. Kemampuan motorik halus ini berkembang setelah kemampuan
motorik kasar si kecil berkembang (Soetjiningsih, 1995).
Pengamatan motorik yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah motorik
kasar seperti Berjalan pada tumit-jari, Menangkap bola 2 dari 3 , Berdiri pada 1
kaki selama 10 detik dan Berjalan mundur pada tumit jari kaki. Sedangkan
motorik halus yang diujikan yaitu Menggambar orang 3 bagian, Mengikuti
membuat persegi, Menirukan dan Menggambar orang 6 bagian. Berdasarkan hasil
pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa 3 dari anak tersebut lulus uji motorik
secara baik dengan nilai sempurna. Ketiga anak tersebut adalah Radit, Basel dan
Lisa. Sedangkan Dinda tidak memiliki nilai motorik yang kurang yaitu tidak lulus
dalam motorik kasar berupa menangkap bola, berjalan mundur pada tumit dan jari
kaki serta kurang baik dalam menirukan dan menggambar 3 bagian orang. Yang
menyebabkan kurang baiknya anak dalam perkembangan motoriknya adalah
asupan gizinya. Mahendra dan Saputra (2006) menyatakan perkembangan

motorik sangat dipengaruhi oleh gizi, status kesehatan, dan perlakuan gerak yang
sesuai dengan masa perkembangannya. Jadi secara anatomis, perkembangan
akan terjadi pada struktur tubuh individu yang berubah secara proporsional seiring
dengan bertambahnya usia seseorang. Status gizi yang kurang akan menghambat
laju perkembangan yang dialami individu, akibatnya proporsi struktur tubuh
menjadi tidak sesuai dengan usianya yang pada akhirnya semua itu akan
berimplikasi pada perkembangan aspek lain.
Menurut

Anwar (2000),

zat-zat gizi yang dikonsumsi batita akan

berpengaruh pada status gizi batita. Perbedaan status gizi balita memiliki
pengaruh yang berbeda pada setiap perkembangan anak, dimana jika gizi yang
dikonsumsi

tidak terpenuhi

dengan baik maka perkembangan balita akan

terhambat. Apabila balita mengalami kekurangan gizi akan berdampak Hubungan


antara Status Gizi dengan Perkembangan pada keterbatasan pertumbuhan, rentan
terhadap infeksi, peradangan kulit dan akhirnya dapat menghambat perkembangan
anak

meliputi

kognitif, motorik, bahasa, dan keterampilannya dibandingkan

dengan batita yang memiliki status gizi baik.


Selain diamati kemampuan motorik kasar dan halus dari anak, dilakukan juga
pengamatan terhadap jenis makanan yang yang biasa dikonsumsi dan dibawa
ketika masuk taman kanak-kanak. Dalam hal kebiasaan memabawa makanan ini
terjadi variasi dalam hal pemilihan makanan sehingga asupan gizi yang diperoleh
setiap anak pun cukup bervariasi. Dinda membawa Makanan berupa :donat,
minum susu mil, Radit membawa Makanan :donat, minum susu mil, Basel
membawa Makanan : roti coklat, minum putih dan Lisa membawa Makanan : kue
bronis coklat, minum putih. Makanan yang dibawa tersebut cukup mengandung
kandungan gizi yang hampir serupa sehingga tidak ada perbedaan asupan gizi
yang menonjol dari keempat anak tersebut. Setiap anak pemilihan makanannya
masing-masing, hal ini dikarenakan adanya perbedaan selera. Faktor yang dapat
menyebabkan perbedaan selera diantaranya : penerimaan makanan oleh anak,
kebiasaan yang diberikan oleh orang tua dan pegetahuan gizi dari orang tuanya.

V.

Kesimpulan
Status gizi keempat anak yang diamati diklasifikasikan kedalam kelompok
bergizi baik. Hal ini dilihat dari nilai Z-score dari BB/U dan TB/U yang berada
pada rentan nilai > -2 SD sampai dengan < +2 SD. Namun pada tes kemampuan
motorik anak bernama Dinda memiliki nilai motorik yang kurang baik sehingga
dapat diketahui bahwa asupan gizi pada Dinda kurang jika dibandingkan dengan
ketiga anak lainnya. Hal tersebut dapat diketahui akarena salah satu yang
menyebabkan kurangnya kemampuan motorik dari anak adalah asupan gizi dari
anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, H., M. 2000. Peranan Gizi dan Pola Asuh dalam Meningkat Kualitas
Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : DepKes.
Almatsier, Sunita. 2009. Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Irianto, Kus; Kusno Waluyo. 2004. Gizi dan Pola Hidup Sehat. Bandung: CV.
YRAMA WIDYA.
Mahendra, Agus dan Saputra, Yudha M. 2006. Perkembangan dan Belajar
Motorik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Sediaoetama, Achmad Djaeni. 2004. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi.
Jakarta: PT Dian Rakyat.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Supariasa, I Dewan Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.