Anda di halaman 1dari 26

STATUS PASIEN THT

I.

IDENTITAS PASIEN:
Nama

: Tn. S

Umur

: 34 tahun

Alamat

: Bekasi

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Tanggal berobat : 3 Desember 2014

II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Pasien mengeluh pilek sejak 2 minggu SMRS dan ingus berbau.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Poli THT RS Islam Jakarta Pondok Kopi dengan keluhan pilek sejak
2 minggu SMRS. Pasien mengaku pilek dirasakan pada hidung sebelah kiri, dan
keluar ingus kental berwarna kuning dan berbau. Pasien mengaku merasakan demam
dan pusing. Pasien juga merasakan nyeri disekitar pipi dan kepala. Nyeri menelan dan
nyeri dibelakang bola mata disangkal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

Riwayat asma (-), DM (-), HT (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga menderita penyakit yang sama.
5. Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku belum pernah berobat sebelumnya dengan keluhan ini.
6. Riwayat Alergi
Riwayat alergi debu dan cuaca (+)
1

7. Riwayat psikososial

Pasien sering mengkonsumsi minuman dingin

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

B. Kesadaran

: Compos mentis

C. Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah

: 120/80 mmhg

Nadi

: 80 x/menit, kuat, reguler

Suhu

: 36,5 oC

Frekuensi Napas

: 18x/menit

D. Status Generalis
1.

Kepala

: normocephal

2.

Mata

: konjungtiva anemis (-/-), konjungtiva hiperemis (-/-),sklera ikterik


(-/-), refleks pupil (+/+) isokor, pergerakan mata kesegala arah baik

3.

Telinga

:lihat status lokalis

4.

Hidung

:lihat status lokalis

5.

Mulut

:bibir kering(-), stomatitis(-), lidah kotor dan tremor(-),karies gigi (+)

6.

Tenggorok : lihat status lokalis

7.

Leher

8.

Thorax

9.

: lihat status lokalis

o Inspeksi

: normochestsimetris, retraksi dinding dada (-)

o Palpasi

: tidak ada bagian dada yang tertinggal saat bernapas

o Perkusi

: sonor pada semua lapang paru

o Auskultasi

: suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
o Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

o Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra

o Perkusi

: batas jantung relatif dalam batas normal


2

o Auskultasi

: bunyi jantung I dan II regular, bising jantung (-)

10. Abdomen
o Inspeksi

: ruam makulopapular (-)

o Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)

o Perkusi

: timpani pada seluruh kuadran abdomen

o Auskultasi

: bising usus (+) normal

11. Ekstremitas
o Superior

: akral hangat, udem (-/-), RCT < 2 detik

o Inferior

: akral hangat, udem (-/-), RCT < 2 detik.

E. Status Lokalis THT


Telinga kanan

Telinga kiri

- normotia
- helix sign (-)
- tragus sign (-)

- normotia
Aurikula

- helix sign (-)


- tragus sign (-)

- nyeri tekan

- nyeri tekan

retroaurikuler (-)

retroaurikuler (-)

- hiperemis (-)

- hiperemis (-)

- serumen (-)
- otore (-)

CAE

- massa (-)
-Refleks cahaya (+)

- serumen (-)
- otore (-)
- massa (-)

Membran Tympani

- Refleks cahaya (+)

- hiperemis (-)

- hiperemis (-)

- bulging (-)

- bulging (-)

- Perforasi (-)

- Perforasi (-)

Rinne

Laterarisasi (-)

Weber

Laterarisasi (-)

Sama dengan
pemeriksa

Sama dengan
Schwabach

pemeriksa

Interpretasi : ADS dalam batas normal


3

Hidung
Sinus paranasal

: - Inspeksi : Pembengkakan (-)


- Palpasi : nyeri tekan pada: pangkal hidung (-), pipi (-/+), dahi (-)

Kavum nasi

: sempit -/-, massa -/-, benda asing -/-, secret (-/+)

Mukosa

: hiperemis +/+

Concha

: hipertrofi -/+

Septum

: Deviasi ke kiri

Status lokalis sinus paranasal


Inspeksi

: pembengkakan pada wajah (-), bagian bawah mata (-), daerah diatas
mata (-)

Palpasi

: nyeri tekan pipi kiri (+), atas orbita (-), medius kontur (-)

Pharynx
Nasofaring

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Mukosa faring

: Hiperemis (-), sekret (-)

Arkus faring

: Simetris kanan dan kiri

Uvula

: Ditengah

Tonsil

: T2-T2, tenang, detritus (-), kripte melebar (-)

Larynx
Epiglotis

: tidak diperiksa

Glotis

: tidak diperiksa

Arytenoid

: tidak diperiksa

Pita suara

: tidak diperiksa

Leher
Trakhea

: deviasi (-)

Tiroid

: tidak teraba adanya pembesaran dan tidak ada nyeri tekan

KGB

: tidak ada pembesaran dan nyeri tekan pada KGB


4

IV. RESUME
Laki-laki 34 tahun, datang dengan keluhan pilek sejak 2 minggu SMRS. Keluar ingus
kental bewarna kekuningan dan berbau. Demam (+), nyeri kepala (+). Pada
pemeriksaan fisik ditemukan konka inferior hipertrofi (+), secret (+), pada palpasi
sinus paranasal ditemukan adanya nyeri tekan pada pipi sebelah kiri. Pemeriksaan gigi
ditemukan adanya karies dentis (+)
V. DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja

Rhinosinusitis maksilaris sinistra tipe dentogen

VI. PLANNING

Terapi
o Antibiotik amoxicillin 3x500 mg
o Terapi pembedahan sinus endoskopi fungsional (FESS)

Edukasi :
o Antibiotik harus dihabiskan, walaupun gejala sudah hilang
o Jaga hygiene gigi dan mulut (cabut gigi yang bolong)
o Makan manakan yang bergizi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
B. Sinusitis
Sesuai anatomi sinus yang terkena, sinusitis dapat dibagi menjadi sinusitis maksila,
sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut
multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis
(Mangunkusumo dan Rifki, 2000).
Sinusitis yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid,
sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih jarang (Mangunkusumo dan Rifki, 2000).
2.1 Anatomi Sinus Paranasal
2.1.1 Sinus Maksila
Pada waktu lahir sinus maksila hanya berupa celah kecil disebelah medial orbita. Mulamula dasarnya lebih tinggi daripada dasar rongga hidung, kemudian terus mengalami
penurunan, sehingga pada usia 8 tahun menjadi sama tinggi (Ballenger, 1994).
Perkembangannya berjalan kearah bawah, bentuk sempurna terjadi setelah erupsi gigi
permanen. Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun. Sinus maksila
atau Antrum Highmore, merupakan sinus paranasal yang terbesar, bentuk piramid ireguler
dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya kearah apeks prosessus
zygomaticus os maksila. Menurut Moris pada buku anatomi tubuh manusia, ukuran rata-rata
pada bayi baru lahir 78 x 46 mm dan untuk usia 15 tahun 3132 x 1820 x 1920 mm.
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume

68 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal,
yaitu 15 ml saat dewasa (Ballenger, 1994; Soetjipto dan Mangunkusumo, 2000).
Perdarahan pada sinus maksila meliputi cabang arteri maksilaris termasuk infraorbita,
cabang lateral nasal dari arteri sfenopalatina, arteri greater palatine serta anterior superior dan
posterior dari arteri alveolaris, sedangkan vena yang mendarahinya adalah vena maksilaris
yang berhubungan dengan plexus vena pterygoid (Amedee, 1993).
Sinus maksila ini mendapat persarafan dari nervus maksilaris (V2) yang mempersarafi
sensasi dari mukosa dibagian lateroposterior nasal dan cabang superior alveolar dari nervus
infraorbita (Amedee, 1993).
Sinus maksila mempunyai beberapa dinding yaitu:
a.

Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os palatum,
prosesus unsinatus os etmoid, prosesus maksilaris konka inferior dan sebagian kecil
os maksilaris. Dinding medial sinus maksila merupakan dinding lateral hidung
dimana terdapat ostium sinus yang menghubungkan sinus maksila dengan
infundibulum ethmoid. Ostium ini terletak pada bagian superior dari dinding medial,
biasanya pada pertengahan posterior dari infundibulum, sekitar 9 mm ke arah
posterior duktus nasolakrimalis. Ujung posterior dari ostium berlanjut ke lamina
papyracea dari tulang etmoid (Miller dan Amedee, 1998).

b.

Dinding atas memisahkan rongga sinus dengan orbita terdiri dari tulang yang tipis
yang dilewati oleh kanalis infra orbitalis (Ballenger, 1994).

c.

Dinding posteriorinferior atau dasarnya biasanya paling tebal dan dibentuk oleh
bagian alveolar os maksila atas dan bagian luar palatum durum. Dinding posterior

memisahkan sinus dari fossa infratemporal dan fossa pterigomaksila (Ballenger,


1994).
d.

Dinding anterior terbentuk dari fasia fasialis maksila yang berhadapan dengan fossa
kanina dan memisahkan sinus dari kulit pipi (Ballenger, 1994).

e.

Dasar dari sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris maksila. Pada anak letaknya sekitar
4 mm diatas dasar cavum nasi , dan pada dewasa letaknya 4- 5 mm dibawah dasar
cavum nasi (Miller dan Amedee, 1998).
Proses supuratif yang terjadi disekitar gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui

pembuluh darah atau limfe, sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan
dengan ronggga sinus yang akan mengakibatkan sinusitis (Ballenger, 1994). Anomali fasial
atau sinus yang besar dapat juga menyebabkan sinusitis kronis (Medina, 1999).
2.1.2 Sinus Frontal
Perkembangan sinus frontal dimulai pada bulan keempat kehamilan kemudian
berkembang kearah atas dari hidung pada bagian frontal reses (Amedee, 1993).
Sinus ini jarang tampak pada pemeriksaan rontgen hingga tahun kedua setelah kelahiran,
kemudian sinus ini berkembang secara lambat kearah vertikal pada tulang frontal dan telah
lengkap pada usia remaja (Amedee, 1993).
Sekitar 5% dari populasi mengalami kegagalan pertumbuhan dari sinus ini. Ukuran sinus
frontal pada orang dewasa sekitar 28 x 27 x 17 mm dengan volume 6 sampai 7 ml. (Amedee,
1993).

Perdarahan pada sinus frontal meliputi cabang supra troklear dan supraorbital dari arteri
optalmikus dan melalui vena superior optalmikus yang mengalir kedalam sinus kavernosus
(Amedee, 1993; Marks, 2000).

Sensasi mukosa sinus frontal ini mendapati persarafan dari percabangan supratroklear
nervus frontal yang berasal dari nervus optalmikus (V1) (Amedee, 1993; Marks, 2000).
Sinus frontal terletak pada tulang frontal dibatas atas supraorbital dan akar hidung. Sinus
ini dibagi dua oleh sekat secara vertikal dibatas midline dengan ukuran masing-masing yang
bervariasi. Sinus frontal sangat berhubungan erat dengan tulang etmoid anterior (Amedee,
1993).
Dinding posterior dari sinus ini melebar secara inferior obliq dan posterior dimana
nantinya akan bertemu dengan atap dari orbita. Ostium alami dari sinus ini terletak di
anteromedial dari dasar sinus. Sel-sel infraorbita bisa terobstruksi dan membentuk mukokel
yang terisolasi dari ostium dan sinus etmoid (Murray, 1989; Maran, 1990; Marks, 2000).
2.1.3 Sinus Etmoid
Sel-sel etmoid mulai terbentuk pada bulan ketiga dan keempat setelah kelahiran yang
merupakan invaginasi dari dinding lateral hidung pada daerah meatus medial (etmoid
anterior) dan meatus superior (etmoid posterior). Saat setelah lahir, biasanya tiga atau empat
sel baru tampak (Amedee, 1993; Marks, 2000).
Secara embriologis, sinus etmoid ini terbentuk dari lima etmoturbinal. Kelima bagian
tersebut yakni unsinatus, bula etmoid basal lamella (ground lamella), konka superior dan
konka suprema (Amedee, 1993; Marks, 2000).
10

Sel-sel sinus etmoid ini akan tumbuh secara cepat sehingga pada usia dewasa mencapai
ukuran 20 x 22 x 10 mm pada kelompok sel anterior dan 20 x
20 x 10 mm pada kelompok sel posterior. Sel-sel etmoid ini biasanya mengandung 1015
sel persisi dengan total volume 1415 ml (Amedee, 1993; Marks, 2000).
Perdarahan pada sinus etmoid meliputi cabang arteri sfenopalatina, arteri etmoidalis
anterior dan posterior, cabang arteri optalmikus dari arteri karotis interna. Sedangkan aliran
vena berasal dari vena maksilaris dan etmoidalis yang mengalir kedalam sinus kavernosus
(Amedee, 1993).
Inervasi persarafan dari sinus etmoid ini berasal dari cabang posterolateral hidung dari
nervus maksilaris (V2) dan cabang nervus etmoidalis dari nervus optalmikus (V1) (Amedee,
1993).
Anatomi dari sinus etmoid ini cukup kompleks, bervariasi dan merupakan subjek
penelitian yang baik. Sinus etmoid memiliki dinding yang tipis dengan jumlah dan ukuran
yang bervariasi. Pada bagian lateral berbatasan dengan dinding medial orbita (lamina
papyracea) dan bagian medial dari kavum nasi (Murray, 1989; Maran, 1990; Marks, 2000).
Sinus ini terletak di inferior dari fossa kranial anterior dekat dengan midline. Beberapa sel
melebar mengelilingi frontal sfenoid dan tulang maksila. Kelompok sel anterior kecil-kecil
dan banyak, drainasenya melalui meatus media, sedangkan sel-sel posterior drainasenya
melalui meatus superior (Murray, 1989; Maran, 1990; Marks, 2000).
2.1.4 Sinus Sfenoid

11

Sinus sfenoid mulai berkembang saat bulan ketiga setelah kelahiran yang merupakan
invaginasi dari mukosa bagian superior posterior dari kavum nasi, yang juga dikenal sebagai
sphenoethmoidal recess (Amedee, 1993). Universitas Sumatera Utara
Pneumatisasi sfenoid ini terjadi selama pertengahan usia kanak-kanak dan mengalami
pertumbuhan yang cepat saat berusia 7 tahun. Sinus ini mengalami pertumbuhan maksimal
dan terhenti setelah berusia 12 sampai 15 tahun (Amedee, 1993).
Sinus sfenoid kiri dan kanan yang asimetris tersebut dibagi oleh septum intersinus. Ukuran
sinus ini sekitar 2,5 x 2,5 x 1,5 mm pada tahun pertama dan 14 x 14 x 12 mm saat berusia 15
tahun. Kapasitas sinus berkisar 7,5 ml (Amedee, 1993).
Perdarahan sinus sfenoid meliputi cabang arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis
posterior, sedangkan aliran vena berasal dari vena maksilaris dan pleksus pterigoid (Amedee,
1993).
Inervasi persarafan dari sinus sfenoid ini berasal dari cabang nervus etmoidalis posterior
dari nervus optalmikus (V1), dan cabang nasal dan sfenopalatina dari nervus maksilaris
(Amedee, 1993).
Sinus sfenoid ini pada bagian dinding lateralnya berbatasan dengan arteri karotis interna,
nervus optikus dan vena kavernosa serta sinus interkavernosus. Pada daerah ini juga terdapat
bagian ketiga, keempat opthalmikus dan maksilaris dari nervus kranialis kelima dan keenam
(Murray, 1989; Maran, 1990).
Dibagian superior terletak lobus frontalis dan bagian olfaktori. Dibagian posterior terdapat
fosa pituitari. Nervus dan pembuluh darah sfenopalatina terletak didepan dari sinus sfenoid
ini, sedangkan nervus vidianus terletak dibagian inferiornya (Murray, 1989; Maran, 1990).

12

2.2 Fisiologi Sinus Paranasal


Fungsi dari sinus paranasal masih belum diketahui dengan pasti dan masih belum ada
persesuaian pendapat. Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal tidak mempunyai fungsi
apa-apa karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka (Ramalinggam dan
Sreeramamoorthy, 1990; Soetjipto dan mangunkusumo, 2000).
Namun karena berhubungan langsung dengan hidung, maka sinus dapat membantu
resonansi suara, penciuman, membersihkan, menghangatkan, melembabkan udara inspirasi,
dan merubah udara pernafasan. Kebanyakan penulis masih ragu-ragu dan menyatakan bahwa
sinus paranasal hanya berpengaruh sedikit, terutama hanya bila menderita sakit (Soetjipto dan
Mangunkusumo, 2000; Karen dan Edmund, 2010).
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal:
2.2.1 Sebagai pengatur kondisi udara (air coditioning)
Sinus yang berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur
kelembapan udara inspirasi. Namun teori ini mendapat sanggahan, sebab ternyata tidak
didapati pertukaran udara yang defenitif antara sinus dan rongga hidung (Soetjipto dan
Mangunkusumo, 2000).
Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada
tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam
sinus, lagi pula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar sebanyak mukosa
hidung (Soetjipto dan Mangunkusumo, 2000).
2.2.2 Sebagai penahan suhu (thermal insulators)

13

Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya sinus-sinus
yang besar tidak terletak diantara hidung dan organ-organ yang dilindungi (Soetjipto dan
Mangunkusumo, 2000).
2.2.3 Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi
bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan penambahan berat
sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna (Soetjipto dan
Mangunkusumo, 2000).
2.2.4 Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara, akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif, lagipula tidak ada korelasi
antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan tingkat rendah (Soetjipto dan
Mangunkusumo, 2000).
2.2.5 Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus (Soetjipto dan Mangunkusumo, 2000).
2.2.6 Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut

14

masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang
paling strategis (Soetjipto dan Mangunkusumo, 2000).
2.3 Patogenesis

Secara patofisiologi Perubahan patologik mukosa sinus paranasal terjadi akibat proses
peradangan lapisan mukoperiostium hidung dan sinus yang berlangsung lebih dari 12
minggu. Patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya daya pembersihan mukosiliar
(mucocilliary clearance) di dalam kompleks ostiomeatal (KOM) dapat mempenngaruhi
kesehatan sinus. Gangguan yang terjadi pada KOM dapat menyebabkan terjadinya gangguan
ventilasi dan pembersihan.mukosa. Hal ini dapat dijelaskan oleh karena organ-organ yang
membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan
saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium sinus akan tersumbat.
Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya
transudasi (akumulasi cairan karena proses non inflamasi), yang mula-mula berupa cairan
serous. Kondisi inilah yang dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh
dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Namun apabila kondisi ini menetap, sekret yang
terkumpul dalam sinus merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya
bakteri. Sekret menjadi purulen dan keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial
yang memerlukan terapi dengan disertai antibiotik. Apabila terapi tidak berhasil peradangan
berlanjut dan terjadi hipoksia sehingga bakteri anaerob berkembang, mukosa makin
membengkak dan merupakan rantai siklus yang terus berputar hingga akhirnya terjadi
perubahan mukosa menjadi kronik (Mangunkusumo, 200 dan Higler PA, 1997).

15

2.4 Sinusitis Dentogen

Sinusitis merupakan suatu proses peradangan pada mukosa atau selaput lendir sinus
paranasal. Akibat peradangan ini dapat menyebabkan pembentukan cairan atau kerusakan
tulang di bawahnya., terutama pada daerah fossa kanina dan menyebabkan sekret purulen,
nafas bau, post nasal drip (Buku ajar THT, 2012)
2.4.1 Etiologi
Sinusitis maksilaris disebabkan oleh beberapa faktor pejamu yaitu genetik, kondisi
kongenital, alergi dan imun, abnormalitas anatomi. Faktor lingkungan yaitu infeksi bakteri,
trauma, medikamentosa, tindakan bedah. Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan
infeksi dari hidung (rinogen), gigi dan gusi (dentogen), faring, tonsil serta penyebaran
hematogen walaupun jarang. Sinusitis juga dapat terjadi akibat trauma langsung, barotrauma,
berenang atau menyelam. Faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya sinusitis adalah
kelainan anatomi hidung, hipertrofi konka, polip hidung, dan rinitis alergi.8,9
2.4.2. Gejala klinis

16

Gejala sinusitis maksilaris akut berupa demam, malaise, nyeri kepala, wajah terasa
bengkak dan penuh, gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak (sewaktu naik atau turun
tangga), nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, sekret mukopurulen dapat keluar dari
hidung dan berbau busuk.
Gambaran klinis yang sering dijumpai pada sinusitis maksilaris kronik berupa hidung
tersumbat, sekret kental, cairan mengalir di belakang hidung, hidung berbau, indra pembau
berkurang, dan batuk.

Kriteria Saphiro dan Rachelefsky:


a. Gejala Mayor:
1) Rhinorea purulen
2) Drainase Post Nasal
3) Batuk
b. Gejala Minor:
1) Demam
2) Nyeri Kepala
3) Foeter ex oral
Dikatakan sinusitis maksilaris jika ditemukan 2 gejala mayor atau 1 gejala mayor dan 2
atau lebih gejala minor.
2.4.3 Terapi
17

Antibiotik dan dekongestan


Obat antibiotiknya: ampicillin, amoksisilin
Jika resisten atau memeproduksi beta-laktamase maka obat yang digunakan amoksisilinklavulanat atau sefalosporin generasi 2 selama 10-14 hari . tindakan operasi

2.5 Sinusitis Jamur

Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal.etiologinya ialah Aspergillus dan
Candida. Terapinya pembedahan, debrideman. Obat standar ialah amfoterisin, tidak
diperlukan anti jamur sistemik.
2.6 Pemeriksaan
2.6.1 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan palpasi turut membantu menemukan nyeri tekan pada daerah sinus yang
terkena disamping pemeriksan rinoskopi anterior dan rinoskopi posterior (Ballenger, 1997;
Soetjipto dan Mangunkusumo, 2000).
2.6.2 Transiluminasi
Transluminasi mempuyai manfaat yang terbatas, hanya dapat dipakai untuk pemeriksaan
sinus maksila dan sinus frontal, bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak tersedia (Soetjipto
dan Mangunkusumo, 2000).
2.6.3 Pemeriksaan radiologi

18

a. Foto rontgen sinus paranasal


Pemeriksaan radiologik yang dapat dibuat antara lain: Waters, PA dan Lateral. Tepi
mukosa sinus yang sehat tidak tampak pada foto rontgen, tetapi jika ada infeksi tepi mukosa
akan tampak karena udema permukaan mukosa. Permukaan mukosa yang membengkak dan
udema tampak seperti suatu densitas yang paralel dengan dinding sinus (Ballenger, 1997;
Mangunkusumo dan Rifki, 2000).
Pembengkakan permukaan mukosa yang berbatas tegas pada resesus alveolaris antrum
maksila biasanya terjadi akibat infeksi yang berasal dari gigi atau daerah periodontal
(Ballenger, 1997; Mangunkusumo dan Rifki, 2000).
Jika cairan tidak mengisi seluruh rongga sinus, selalu dapat dilihat adanya batas cairan (air
fluid level) pada foto dengan posisi tegak (Ballenger, 1997; Mangunkusumo dan Rifki,
2000).
b. CT-Scan (Computer Tomography) sinus paranasal
Sinus maksila, rongga hidung, septum nasi dan konka terlihat pada penampang CT-Scan
aksial dan koronal. Pada sinusitis dengan komplikasi, CT-Scan adalah cara yang terbaik
untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah (Ballenger, 1997).
CT-Scan koronal dari sinus paling baik untuk pembedahan, memberikan visualisasi yang
baik tentang anatomi rongga hidung, komplek osteomeatal, rongga-rongga sinus dan strukturstruktur yang mengelilinginya seperti orbita, lamina kribiformis, dan kanalis optikus.
Obstruksi anatomi pada komplek osteomeatal dan kelainan-kelainan gigi akan terlihat jelas
(Ballenger, 1997).

19

CT-Scan dapat menilai tingkat keparahan inflamasi dengan menggunakan sistem gradasi
yaitu staging Lund-Mackay. Sistem ini sangat sederhana untuk digunakan secara rutin dan
didasarkan pada skor angka hasil gambaran CT scan. Lund-MacKay Radiologic Staging
System ditentukan dari lokasi Gradasi Radiologik sinus maksila, etmoid anterior, etmoid
posterior dan sinus sphenoid, Penilaian Gradasi radiologik dari 0-2, Gradasi 0 : Tidak ada
kelainan, Gradasi 1 : Opasifikasi parsial Gradasi 2 : Opasifikasi komplit (Mackay IS dan
Lund VJ, 1997).

2.6.4 Nasoendoskopi
Nasoendoskopi ini akan mempermudah dan memperjelas pemeriksaan karena dapat
melihat bagian-bagian rongga hidung yang berhubungan dengan faktor lokal penyebab
sinusitis (Ballenger, 1997).
Pemeriksaan nasoendoskopi dapat melihat adanya kelainan septum nasi, meatus media,
konka media dan inferior, juga dapat mengetahui adanya polip atau tumor (Ballenger, 1997).
2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
Jika pada pemeriksaan ditemukan adanya faktor predisposisi seperti deviasi septum,
kelainan atau variasi anatomi KOM, hipertrofi adenoid pada anak, polip, kista, jamur, gigi
penyebab sinusitis, dianjurkan untuk melakukan penatalaksanaan yang sesui dengan kelainan
yang ditemukan (Waguespack, 1994; Soetjipto, 2000; Ulusoy, 2007).

20

Jika tidak ditemukan faktor predisposisi, diduga kelainan adalah bakterial yang
memerlukan pemberian antibiotik dan pengobatan medik lainnya (Soetjipto, 2000).
2.7.1 Medikamentosa
A.1 Antibiotika
Meskipun tidak memegang peran penting, antibiotika dapat diberikan sebagai terapi awal.
Pilihan antibiotika harus mencakup -laktamase seperti pada terapi sinusitis akut lini ke II,
yaitu amoksisillin klavulanat atau ampisillin sulbaktam, sefalosporin generasi kedua,
makrolid, klindamisin. Jika ada perbaikan antibiotik diteruskan mencukupi 10 14 atau lebih
jika diperlukan (Weir, 1997; Soetjipto, 2000; Ahmed, 2003; Kennedy, 2006; Dubin MG dan
Liu C, 2007).
Jika tidak ada perbaikan dapat dipilih antibiotika alternatif seperti siprofloksasin, golongan
kuinolon atau yang sesuai dengan kultur. Jika diduga ada bakteri anaerob, dapat diberi
metronidazol (Soetjipto, 2000).
Jika dengan antibiotika alternatif tidak ada perbaikan, maka eveluasi kembali apakah ada
faktor predisposisi yang belum terdiagnosis dengan pemeriksaan nasoendoskopi maupun CTScan (Soetjipto, 2000).
A.2 Terapi Medik Tambahan
Dekongestan, Dekongestan berperan penting sebagai terapi awal mendampingi antibiotik.
Dekongestan oral menstimulasi reseptor -adrenergik dimukosa hidung dengan efek
vasokontriksi yang dapat mengurang keluhan sumbatan hidung, meningkatkan diameter
ostium dan meningkatkan ventilasi (Soetjipto, 2000; Dubin MG dan Liu C, 2007).

21

Preparat yang umum adalah pseudoefedrine dan phenyl-propanolamine. Karena efek


peningkatan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung harus dilakukan dengan hati-hati
(Soetjipto, 2000).
Dekongestan topikal mempunyai efek yang lebih cepat terhadap sumbatan hidung, namun
efeknya ini sebetulnya tidak fisiologik dan pemakaian jangka lama (lebih dari 7 hari) akan
menyebabkan rinitis medika mentosa (Soetjipto, 2000).
Antihistamin, Alergi berperan sebagai penyebab sinusitis kronis pada lebih dari 50%
kasus, karenanya penggunaan antihistamin justru dianjurkan, demikian juga kemungkinan
imunoterapi (Soetjipto, 2000; Dubin MG dan Liu C, 2007; Yuan LJ dan Fang SY, 2008).
Karena antihistamin generasi pertama mempunyai efek antikolinergik yang tinggi,
generasi kedua lebih disukai seperti azelastine, acrivastine, cetirizine, fexofenadine dan
loratadine (Soetjipto, 2000).
Kortikosteroid, ada 2 jenis kortikosteroid, yaitu kortikosteroid topikal dan kortikosteroid
oral, kortikosteroid topikal mempunyai efek lokal terhadap bersin, sekresi lendir, sumbatan
hidung dan hipo/anosmia. Penemuannya merupakan perkembangan besar dalam pengobatan
rinitis dan sinusitis (Soetjipto, 2000).
Penggunaannya kortikosteroid topikal meluas pada kelainan alergi dan non-alergi.
Meskipun obat semprot ini tidak mencapai komplek osteomeatal, keluhan pasien berkurang
karena udema di rongga hidung dan meatus medius hilang (Soetjipto, 2000; Yuan LJ dan
Fang SY, 2008).
Sedangkan kortikosteroid oral dapat mencapai seluruh rongga sinus. Terapi singkat selama
dua minggu sudah efektif menghilangkan beberapa keluhan. Preparat oral dapat diberikan

22

mendahului yang topikal, obat oral dapat membuka sumbatan hidung terlebih dahulu
sehingga distribusi obat semprot merata (Soetjipto, 2000).
B. Penatalaksanaan Operatif
Sinusitis kronis yang tidak sembuh dengan pengobatan medik adekuat dan optimal serta
adanya kelainan mukosa menetap merupakan indikasi tindakan bedah (Nizar, 2000; Soetjipto,
2000).
Beberapa macam tindakan bedah mulai dari antrostomi meatus inferior, Caldwel-Luc,
trepanasi sinus frontal, dan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) dapat dilaksanakan
(Nizar, 2000; Soetjipto, 2000).
Bedah sinus konvensional tidak memperlihatkan usaha pemulihan drainase dan ventilasi
sinus melalui ostium alami (Nizar, 2000; Soetjipto, 2000).
Namun dengan berkembangnya pengetahuan patogenesis sinusitis, maka berkembang pula
modifikasi bedah sinus konvensional misalnya operasi Caldwel-Luc yang hanya mengangkat
jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal agar tetap berfungsi dan melakukan
antrostomi meatus medius sehingga drainase dapat sembuh kembali (Nizar, 2000; Soetjipto,
2000).
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) merupakan kemajuan pesat dalam bedah
sinus. Jenis operasi ini lebih dipilih karena merupakan tindakan konservatif yang lebih efektif
dan fungsional (Nizar, 2000; Soetjipto, 2000; Kennedy, 2006; Salama N, 2009).
Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang,
sehingga saat operasi kita dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi
dirongga-rongga sinus (Nizar, 2000; Soetjipto, 2000; Kennedy, 2006; Salama N, 2009).
23

Jaringan patologik yang diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang
tersumbat diperlebar (Nizar, 2000; Soetjipto, 2000; Kennedy, 2006).
Dengan ini ventilasi sinus lancar secara alami, jaringan normal tetap berfungsi dan
kelainan didalam sinus maksila dan frontal akan sembuh sendiri (Nizar, 2000; Soetjipto,
2000).
2.8 Komplikasi
Kompikasi rinosinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukan antibiotika.
Komplikasi yang dapat terjadi ialah:

A. Osteomielitis dan abses subperiostal


Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada
osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral (Hilger, 1997; Mangunkusumo dan
Rifki ; 2000).
B. Kelainan Orbita
Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling
sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila (Hilger, 1997;
Mangunkusumo dan Rifki, 2000).
Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Variasi yang
dapat timbul ialah udema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita dan
selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus (Hilger, 1997; Mangunkusumo dan
Rifki, 2000).
24

C. Kelainan Intrakranial
Dapat berupa meningitis, abses ektradural, abses otak dan trombosis sinus kavernosus
(Mangunkusumo dan Rifki, 2000; Dhingra, 2007).
D. Kelainan Paru
Seperti bronkitis kronis dan brokiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai denga
kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga timbul asma bronkial
(Mangunkusumo dan Rifki, 2000)

DAFTAR PUSTAKA

BUKU AJAR THT FK UI 2012


Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinus Paranasal dan Sinusitis, Dalam: Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala&Leher. Edisi Keenam.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2009.
Ramanan RV, Khan AN, Branstetter BF, Coombs BD. Sinusitis.
Availablefrom:http://www.emedicine.com/RADIO/topic638.htm.Diakses
tanggal 17 Januari 2012.
Brook I, Foote PA, Frazier EH. Microbiology of Acute Exacerbation of Chronic
Rhinosinusitis. Ann Otorhinolaryngologi. 2005;114:573-6

Syamsuhidayat S, Hutapea J. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jilid I. Departemen


25

Kesehatan Republik Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.


1991. 152-153
Ganong F. Review all Medical Physiology. 17th Ed. A Lange Medical Book.
Singapore. 1995. 167-173.
Depkes RI. Pola Penyakit 50 Peringkat Utama Menurut DTD Pasien Rawat Jalan Di
Rumah Sakit Indonesia Tahun 2003. Depkes RI. Jakarta;2003.
HTA Indonesia. Functional Endoscopic Sinus Surgery di Indonesia [internet]. 2006.
http://www.yanmedik.depkes.go.id/buk/index.php

26