Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .1
PENDAHULUAN......................................................................................................2
PERBAHASAN
2.1.1.ANAMNESIS.........................................................................................3
2.1.2.PEMERIKSAAN FISIK....4
2.1.3.PEMERIKSAAN PENUNJANG..........................................................7
2.2.DIAGNOSIS KERJA...............................................................................10
2.3.DIAGNOSIS BANDING....13
2.4.ETIOLOGI................................................................................................15
2.5.PATOFISIOLOGI....................................................................................17
2.6.PENCEGAHAN.......................................................................................19
2.7.PENATALAKSANAAN.........................................................................20
2.8.KOMPLIKASI..........................................................................................22
2.9.PROGNOSIS............................................................................................22
3.PENUTUP................................................................................................................23
4.DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................24

STRUMA NON TOKSIK


NORFATIHAH OSMAN
FAKULTAS UNIVERSITAS KRIDA WACANA

BAB I
PENDAHULUAN

Sistim endokrin ini adalah sangat penting karena merupakan sistim dan organ yang
memproduksi hormon. Sistim endokrin terdiri daripada hipotalamus,hiposis anterior dan
posterior,kelenjar tiriod dan paratiriod,kelenjar adrenal,pulau langerhans dan ovarium dan
testis.
Penyakit dan kelainan tiroid merupakan penyakit endokrin yang kedua yang tersering
dijumpai selepas diabetes mellitus. Kelainan tiroid member pengaruh ke hampir seluruh
tubuh karena hormone tiroid mempengaruhi banyak organ.
Maka,dalam mendiagnosis penyakit endokrin ini,dibutuhkan deskripsi mengenai
kelainan faal, gambaran anatomi dan etiologi. Menerusi makalah ini,akan membahaskan
salah satu penyakit kelenjar tiriod yaitu penyakit goiter non toksik.

BAB II
HASIL MANDIRI
2.1 PEMERIKSAAN
2.1.1.ANAMNESIS
Anamnesis ini merupakan tahapan yang utama untuk mengetahui identitas,proses penjalanan
penyakit,faktor pencetusnya,onset riwayat penyakit dahulu dan sebagainya. Proses ini bisa
autoanamnesis(tanya langsung pada pasien) dan heteroanamnesis( bertanya pada ahli
keluarganya).
Antara soalan yang bisa ditanya pada pasien yang mengarah kepada penyakit berkaitan
tentang penyakit endokrin adalah :

1. Kaji riwayat penyakit :

Sudah sejak kapan keluhan dirasakan pasien

Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama keluarga bila ada
harus curiga adanya malignancy tiroid tipe medulare.

Riwayat radiasi daerah leher & kepala pada masa anak-anak malignancy 3337%

Kecepatan tumbuh tumor nodul jinak membesar lama (tahunan), nodul ganas
membesar

dengan

cepat

(minggu/bulan),

misalnya

tipe

anaplastik

pertumbuhannya sangat cepat dan diikuti rasa sakit terutama pada penderita usia
lanjut

2. Tempat tinggal sekarang dan pada masa balita.

Pegunungan dan pantai

3. Usia dan jenis kelamin

Nodul timbul pada usia < 20 th atau > 50 th.

Laki-laki resiko malignancy 20-70%

4. Kebiasaan makan : bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya faktor


goitrogenik.

5. Penggunaan obat-obatan

Kaji jenis obat-obat yang sedang digunakan dalam 3 bulan terakhir

Sudah berapa lama digunakan

Tujuan pemberian obat.

6. Keluhan pasien

Sesak napas apakah bertambah sesak bila beraktivitas

Sulit menelan

Leher bertambah besar

Suara serak / parau

Merasa malu dengan bentuk leher yang besar dan tidak simetris.

7. Struma non toksik eutiroid/hipotiroid

Kulit kering, berat badan bertambah/ gemuk

Malas dan banyak tidur

Gangguan pertumbuhan

8. Struma toksik/hipertirod

Kurus, irritable, keringat dingin

Gelisah

Palpitasi Hipertoni simpatikus (kulit basah, dingin dan tremor). 1

2.1.2 PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik untuk kelenjar tirod melibatkan 3 cara yaitu :


1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Auskultasi

Inspeksi
1. Inspeksi leher anterior

Pasien dalam posisi selesa sama ada duduk atau berdiri dengan posisikan
kepala pasien agak kebelakang. Dan dengan menggunakan pencahayaan
tangensial yang ditujukan secara langsung kearah dagu pasien, perhatikanlah
dengan seksama daerah dibawah kartilago krikoid untuk menemukan kelenjar
tiroid. Batas bawah kelenjar tiroid akan terlihat.

Kemudian mintalah pasien mendongakkan kepala , lalu minta pasien menelan


(memberi air minum). Perhatikan dengan seksama gerakan ke atas dari
kelenjar tiroid saat menelan tadi. Pada saat menelan , kartilago tiroid,krikoid
dan kellenjar tiroid akan terlihat naik, kemudian turun kembali ke tempat
asalnya.2

2. Inspeksi leher lateral

Setelah selesai melakukan inspeksi leher anterior dilanjutkan dengan


memerhatikan leher dari samping. Perkirakan kontur yang halus dan lurus dari
kartilago krikoid sehingga takik suprasternal.

Kemudian ukur sebarang tonjolan pada kontur imaginasi tadi dengan


menggunakan penggaris yang diletakkan di area yang menonjol.3

Palpasi
1. Palpasi leher anterior

Pasien dalam posisi seperti diatas, pemeriksa akan berdiri di hadapan pasien
dan coba temukan lokasi ismus tiroid dengan cara palpasi diantara kartilago
krikoid dan takik suprasternal.

Dengan menggunakan tangan kiri coba untuk retraksi otot sternocleidomastoid


dan tangan kanan akan meraba tiroid untuk menentukan letak, konsistensi,
ukuran dan mobilitas tiroid.

Pasien disuruh untuk menelan saat melakukan palpasi untuk merasakan


gerakan keatas dari kelenjar tiroid.3

2. Palpasi leher posterior

Pasien dalam posisi seperti diatas, pemeriksa akan berdiri di belakang pasien

Pasien diminta untuk menundukkan kepalanya sedikit untuk tujuan


merelaksasi otot sternomastoid. Jari-jari (umumnya 3 jari) dari kedua-dua
tangan diletakkan dileher pasien dengan keadaan jari telunjuk tepat dibawah
kartilago krikoid. Pasien disuruh menelan saat dipalpasi dan rasakanlah ismus
tiroid naik.

Geserlah trakea ke arah kanan dengan jari-jari tangan kiri, lalu dengan jari-jari
tangan kanan anda rabalah bahagian lateral untuk menemukan lobus kanan
kelenjar tiroid pada celahantra trakea yang tergeser tadi dengan otot
sternomastoid, dan temukanlah tepi lateralnya (lateral margin). Hal yang sama
dilakukan untuk menemukan lobus kiri.

Permukaan anterior dari lobus lateral biasanya hampir seukuran phalanx dari
ibu jari dan terasa seperti karet.

Perhatikan ukuran , bentuk dan konsistensi kelenjar tiroid dan temukan adanya
nodus atau nyeri.

Secara klinis sulit membedakan nodul tiroid yang jinak dengan nodul tiroid yang
ganas.
Nodul tiroid dicurigai ganas bila:
1.

Konsistensi keras

2.

Permukaan tidak rata

3.

Batas tak tegas

4.

Sulit digerakkan dari jaringan di sekitarnya

5.

Adanya perubahan warna kulit/ ulkus

6.

Didapati pembesaran kelenjar getah bening

7.

Adanya benjolan pada tulang pipih atau ditemukan adanya metastase di paru.

Kecenderungan keganasan pada nodul tungggal lebih besar daripada multi nodusa.
6

Auskultasi
Bila kelenjar tiroid membesar , dengan stetoskop yang diletakkan dilokasi kelenjar
tiroid tadi dapat terdengar bunyi bruit, yaitu bunyi sejenis yang terdengar pada murmur
jantung. Bruit dapat sinkronik dengan sistolik atau diastolik atau terus menerus mungkin
dapat terdengar pada penyakit hipertiroid.
2.1.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG 3-6
a)Pemeriksaan laboratorium
a. Mengukur fungsi tiroid
Pemeriksaan menggunakan RIA (Radioimmuno-assay) dan ELISA (Enzyme-Linked
Immunoassay) dalam serum atau plasma darah. Akan tetapi biasanya pada kasus goiter
nontoksik kadar FT4 dan TSH dalam serum adalah normal.
Berikut merupakan yang akan diukur 4 :
Tabel 1 : patokan yang dapat diukur dalam pemeriksaan laboratorium

TT4 (Tiroksin Total)

Spesimen

Cara pemeriksaan

Nilai rujukan

Serum

Chemilumetric

6-12ml/dl

immunoassay
TT3 (Tri-iodotironin

Serum

Total)

Chemilumetric

4-23 th 80-

immunoassay

200ng/dl
24 tahun 80120ng/dl

FT4 (Free Tiroksin)

Serum

Chemilumetric

0.8-1.8 ng/dl

immunoassay
TSH (Thyroid

Serum

Chemilumetric

Stimulating

immunoassay

Hormone)
7

0.3-5.0 mIU/L

b. Mencari penyebab gangguan fungsi tiroid


Ditemukan 5 macam antigen-antibodi spesifik pada tiroid:
1.

Antibodi tiroglobulin miksedema, Graves, Hashimoto dan kanker tiroid

2.

Antibodi mikrosomal tiroid autoimmun, kanker tiroid

3.

Antibodi CA2 tiroiditis de Quervain

4.

Antibodi permukaan sel

5.

TSAb (Thyroid Stimulating Antibodies) Graves, Hashimoto5

b)Radiologi
a. Pemeriksaan sidik tiroid (thyroid scan)

Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi, dan yang utama
ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Menggunakan radio-isotop I131, I123, Tc99m pertechnrtate.
Radiasi Gamma untuk diagnostik, sedangkan Beta untuk terapi. Pada pemeriksaan ini pasien
diberi NaCl peroral dan setelah 24 jam secara fotografik ditentukan konsentrasi yodium
radioaktif yang ditangkap oleh tiroid.
Dari hasil sidik tiroid dapat dibedakan 3 bentuk, yaitu:

Nodul dingin - bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan


sekitarnya Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah.

Nodul panas - bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya.
Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih

Nodul hangat - bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini


berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan apakah nodul itu ganas atau jinak.

b. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

Dengan pemeriksaan USG baik untuk memperkirakan jumlah dan ukuran nodul tetapi akurat
dalam pengaturan klinis untuk mengukur volume struma/goiter yang besar. USG juga dapat
bedakan antara yang padat, cair, dan beberapa bentuk kelainan, tetapi belum dapat
membedakan dengan pasti apakah suatu nodul ganas atau jinak. Kelainan-kelainan yang
dapat didiagnosis dengan USG ialah:
Kista: kurang lebih bulat, seluruhnya hipoekoik sonolusen, dindingnya
tipis.
Adenoma/nodul padat: iso atau hiperekoik, kadang-kadang disertai halo
yaitu suatu lingkaran hipoekoik di sekelilingnya.
Kemungkinan karsinoma: nodul padat, biasanya tanpa halo.
Tiroiditis: hipoekoik, difus, meliputi seluruh kelenjar.
Pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan sidik tiroid lebih menguntungkan karena dapat
dilakukan kapan saja tanpa perlu persiapan, lebih aman, dapat dilakukan pada orang hamil
atau anak-anak, dan lebih dapat membedakan antara yang jinak dan ganas.

c. CT scan dan MRI


Computed tomographic scanning (CT-Scan) dan MRI tidak dianjurkan pada evaluasi awal
nodul tiroid karena selain tidak memberikan keterangan berarti untuk diagnosis, selain itu
biaya yang dikeluarkan juga akan sangat mahal CT-scan dan MRI diperlukan bila ingin
mengetahui perluasan struma substernal (di bawah tulang rusuk) atau terdapat kompresi
trachea (penekanan pada tenggorokan) karena penilaiannya sangat baik.. 6
Biopsi aspirasi jarum halus

Pemeriksaan biopsi jaringan dilakukan jika masih belum dapat ditentukan diagnosis,
jenis kelainan jinak atau ganas. Pemeriksaan patologi anatomi merupakan standar baku untuk
sel tiroid dan memiliki nilai akurasi paling tinggi. Setelah diambil contoh jaringan, dilakukan
pemeriksaan menggunakan mikroskop sehingga dapat ditentukan dengan pasti jenis sel yang
ada. Pemeriksaan biopsi dapat menggunakan jarum saja, atau dilakukan operasi untuk
mengambil contoh jaringan yang lebih besar untuk lebih memastikan diagnosis.

Terkadang sulit mendapat jaringan tumor yang memadai oleh karena itu pengerjaan
teknik Biopsi Aspirasi dengan Jarum Halus (BAJAH/FNAB) harus dilakukan oleh operator
yang sudah berpengalaman. Di tangan operator yang terampil, BAJAH dapat menjadi metode
yang efektif untuk membedakan jinak atau ganas pada nodul soliter atau nodul dominan.
BAJAH mempunyai sensitivitas sebesar 83% dan spesifitas 92%. 6

2.2 :WORKING DIAGNOSIS : GOITER NON TOKSIK


2.2.1.Definisi struma
Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar
tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang
dibutuhkan untuk produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid dikarenakan
sebagai usaha meningkatkan hormon yang dihasilkan.
Menurut American society for Study of Goiter membagi :
1. Struma Non Toxic Diffusa
2. Struma Non Toxic Nodusa
3. Stuma Toxic Diffusa
4. Struma Toxic Nodusa
Istilah Toksik dan Non Toksik dipakai karena adanya perubahan dari segi fungsi
fisiologis kelenjar tiroid seperti hipertiroid dan hipotyroid, sedangkan istilah nodusa dan
diffusa lebih kepada perubahan bentuk anatomi.6
Struma Nodusa (toksik dan non-toksik)

Struma nodusa ditandai dengan membesarnya sebagian dari kelenjar tiroid.


Pembesaran tersebut ditandai dengan benjolan di leher yang bergerak pada saat menelan, bisa
tunggal atau lebih. Dari segi fisiologisnya, nodusa terbagi atas toksik dan non-toksik.
Dinamakan nodusa toksik bila kelenjar aktif menghasilkan hormon tiroid sehingga
produksinya berlebihan. Sebaliknya bila kelenjar tiroid tidak aktif menghasilkan hormon
tiroid disebut dengan nodusa non-toksik. Jenis nodusa-non toksik paling banyak ditemukan di
Indonesia

10

Walau sebagian struma nodusa tidak mengganggu pernapasan karena menonjol ke


depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trachea (batang tenggorokan) jika
pembesarannya ke samping. Kelainan ini sering tidak disertai keluhan sehingga pasien
umumnya dating saat nodul sudah begitu membesar dan mungkin menjadi ganas. Diperlukan
pendeteksian lebih cermat guna mengetahui jenis toksik/non-toksiknya sekaligus untuk
menentukan ganas tidaknya struma tersebut. Ini penting dilakukan untuk menentukan teknik
pengobatan apa yang akan diambil..

Struma Difusa (Toksik dan Non-Toksik)

Bila pada struma nodusa benjolannya terlokalisir, maka pada struma difusa seluruh
kelenjar gondok dapat mengalami pembesaran (seakan terjadi pembesaran leher). Struma
difusa toksik merupakan kelainan nomor dua yang paling sering ditemukan di Indonesia.
Pada individu yang lebih muda, gejala yang umumnya terlihat adalah jantung berdebar-debar
dengan denyut jantung cepat sekali, gemetaran, keluar keringat dingin banyak, sering
buangair besar, dan badan kurus meski banyak makan.

Bila bergejala, maka perlu diberikan terapi secara bertahap. Tahap pertama terapi
bertujuan untuk secepat mungkin mengembalikan hormon tiroid menjadi normal. Selanjutnya
setelah hormon normal, pengobatan ditujukan untuk mencegah dan mengembalikan siklus
hormonnya. Kemudian dilanjutkan terapi mencegah kekambuhan. 6
2.2.2 Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid ialah organ endokrin yang terletak di leher manusia. Fungsinya ialah
mengeluarkan hormon tiroid. Hormon yang terpenting ialah Thyroxine (T4) dan
Triiodothyronine (T3).
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus, satu di sebelah kanan dan satu lagi disebelah kiri.
Keduanya dihubungkan oleh suatu struktur ( yang dinamakan isthmus atau ismus). Setiap
lobus berbentuk seperti buah pir. Kelenjar tiroid mempunyai satu lapisan kapsul yang tipis
dan pretracheal fascia. Pada keadaan tertentu kelenjar tiroid aksesoria dapat ditemui di
sepanjang jalur perkembangan embriologi tiroid.

11

Sel tiroid adalah satu-satunya sel dalam tubuh manusia yang dapat menyerap iodin atau
yodium yang diambil melalui pencernaan makanan. Iodin ini akan bergabung dengan asam
amino tirosin yang kemudian akan diubah menjadi T3 (triiodotironin) dan T4 (tiroksin).
Dalam keadaan normal pengeluaran T4 sekitar 80% dan T3 15%. Sedangkan yang 5% adalah
hormon-hormon lain seperti T2.
T3 dan T4 membantu sel mengubah oksigen dan kalori menjadi tenaga (ATP = adenosin tri
fosfat). T3 bersifat lebih aktif daripada T4. T4 yang tidak aktif itu diubah menjadi T3 oleh
enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan ginjal. Proses ini juga berlaku di organ-organ
lain seperti hipotalamus yang berada di otak tengah.
Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi tiroid ialah TRH (thyroid releasing
hormon) dan TSH (thyroid stimulating hormon). Hormon-hormon ini membentuk satu sistem
aksis otak (hipotalamus dan pituitari)- kelenjar tiroid. TRH dikeluarkan oleh hipotalamus
yang kemudian merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan TSH. TSH yang dihasilkan akan
merangasang tiroid untuk mengeluarkan T3 dan T4. Oleh kerena itu hal yang mengganggu
jalur di atas akan menyebabkan produksi T3 dan T4.
Adapun struktur tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitelium
silinder disatukan oleh jaringan ikat sel-selnya mengeluarkan sera. Adapun fungsi kelenjar
tiroid adalah:
1.

Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi

2.

Mengatur pengguanaan oksidasi

3.

Mengatur pengeluaran karbondioksida

4.

Metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan

5.

Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental.6-8

12

Gambar 1 :Pembesaran kelenjar tiroid

Gambar 2 : tracheal compression

2.3: DIFERENSIAL DIAGNOSIS

2.3.1.Hipertiroid
Hipertiroid adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh produksi yang berlebihan dari
hormon tiroid teriodinasi. Jumlah penderita penyakit ini kini terus meningkat. Hipertiroid
merupakan penyakit hormon yang menempati urutan kedua terbesar di Indonesia setelah
diabetes.
Ciri umum orang yang menderita penyakit hipertiroid adalah:
Kurus, makan banyak tapi tidak bisa gemuk
Mata besar menonjol (exophthalmus)
Keluhan lain pada mata seperti nyeri, peka cahaya, kelainan penglihatan dan
conjunctivitis.
Kelenjar gondok membesar (struma nodusa) atau bisa juga tidak
Detak jantung cepat
Ujung jari gemetar.8

2.3.2:Hipotiroid
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang dikarakteristikan oleh produksi hormone tiroid yang
abnormal rendahnya. Ada banyak kekacauan-kekacauan yang berakibat pada hipotiroid.
Kekacauan-kekacauan ini mungkin langsung atau tidak langsung melibatkan kelenjar tiroid.
Karena hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan banyak proses-proses
13

sel, hormon tiroid yang tidak memadai mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang meluas
untuk tubuh.
Pasien-pasien dengan hipotiroid ringan mungkin tidak mempunyai tanda-tanda atau gejalagejala. Gejala-gejala umumnya menjadi lebih nyata ketika kondisinya memburuk dan
mayoritas dari keluhan-keluhan ini berhubungan dengan suatu perlambatan metabolisme
tubuh. Gejala-gejala umum didaftar dibawah:

Kelelahan

Depresi

Kenaikkan berat badan yang sedang

Ketidaktoleranan dingin

Ngantuk yang berlebihan

Rambut yang kering dan kasar

Sembelit

Kulit kering

Kejang-kejang otot

Tingkat-tingkat kolesterol yag meningkat

Konsentrasi menurun

Sakit-sakit dan nyeri-nyeri yang samar-samar

Kaki-kaki yang bengkak.7

2.3.3.Kanker Tiroid
Ada empat jenis utama kanker tiroid - Papillary kanker, kanker folikuler, kanker medullary,
dan kanker Anaplastik. Kanker tiroid, jika tidak ditangani, dapat menyebar ke bagian lain dari
tubuh termasuk kelenjar getah bening, saraf dan pembuluh darah melalui proses yang dikenal
sebagai metastasis. Pada tahap awal kanker tiroid tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala.
Tapi seperti kanker berlangsung itu menunjukkan beberapa tanda dan gejala yang menonjol.
Beberapa tanda yang paling umum dan gejala kanker tiroid meliputi:

14

Sebuah benjolan atau bintil di bagian depan leher (mungkin cepat tumbuh atau keras)
di dekat jakun. Sebuah benjolan tunggal adalah tanda-tanda yang paling umum dari
kanker tiroid.

Sakit di tenggorokan atau leher yang dapat memperpanjang ke telinga.

Suara serak atau kesulitan berbicara dengan suara normal.

Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher. Mereka dapat ditemukan


selama pemeriksaan fisik.

Kesulitan dalam menelan atau bernapas atau sakit di tenggorokan atau leher saat
menelan. Hal ini terjadi ketika tumor menekan kerongkongan pasien.

Persistent batuk, tanpa penyakit dingin atau lainnya.


Namun, tanda-tanda kanker tersebut di atas tiroid dan gejala dapat ditemukan pada

beberapa penyakit tiroid lainnya seperti pembesaran tiroid atau infeksi kelenjar tiroid. Oleh
karena itu, sangat diperlukan untuk membuat diagnosis yang akurat tentang kanker tiroid
sebelum memulai rencana pengobatan. Diagnosis kanker tiroid dibuat dengan pemeriksaan
fisik, tes darah, dan biopsi aspirasi jarum halus.
2.4.ETIOLOGI

1.Defisiensi yodium.
Yodium sendiri dibutuhkan untuk membentuk hormon tyroid yang nantinya akan
diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacam-macam kelenjar. Kelenjar tersebut
diantaranya:
Kelenjar air ludah
Mukosa lambung
Intenstinum tenue
Kelenjar gondok
Choroid
Ciliary body
Kelenjar susu
Plasenta

15

2.Kelebihan yodium
Pembentukan goiter karena kelebihan yodium jarang berlaku dan selalunya berlaku apabila
pernah menderita penyakit autoimun tiroid.
3)Goitrogens
Obat - Propylthiouracil, lithium, phenylbutazone, aminoglutethimide, dan
ekspektoran yang mengandung yodium.
Makanan sayuran dari genus Brassica (cth, kol, lobak , rumpai laut ,
singkong)
Agen lingkungan arang baru, phenolic , phthalate , resorsinol
4)Dyshormogenesis faktor keturunan, ada defek pada jalur biosintesis hormon tiroid.
5)Riwayat radiasi di kepala dan leher terdedah dengan radiasi saat masa kanak-kanak akan
mengakibatkan terbentuk nodule benign atau malignan.
6)Kehamilan hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu Gonadotropin akan
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.
7)Kondisi yang menyebabkan kebutuhan terhadap tiroksin bertambah yaitu :

Masa pertumbuhan

Pubertas

Mentruasi

Kehamilan

Laktasi

Menopouse

16

2.5.PATOFISIOLOGI
Aktifitas utama kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi yodium dari darah untuk
membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak dapat membuat hormon tiroid cukup jika
tidak memiliki cukup yodium. Oleh karena itu, dengan defisiensi yodium individu akan
menjadi hipotiroid. Akibatnya, tingkat hormon tiroid terlalu rendah dan mengirim sinyal ke
tiroid. Sinyal ini disebut thyroid stimulating hormone (TSH). Seperti namanya, hormon ini
merangsang tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid dan tumbuh dalam ukuran yang besar
Pertumbuhan abnormal dalam ukuran menghasilkan apa yang disebut sebuah gondok.
Kelenjar tiroid dikendalikan oleh thyroid stimulating hormone (TSH) yang juga dikenal
sebagai thyrotropin. TSH disekresi dari kelenjar hipofisis, yang pada gilirannya dipengaruhi
oleh hormon thyrotropin releasing hormon (TRH) dari hipotalamus. Thyrotropin bekerja
pada reseptor TSH terletak pada kelenjar tiroid. Serum hormon tiroid levothyroxine dan
triiodothyronine umpan balik ke hipofisis, mengatur produksi TSH. Interferensi dengan
sumbu ini TRH hormon tiroid TSH menyebabkan perubahan fungsi dan struktur kelenjar
tiroid. Stimulasi dari reseptor TSH dari tiroid oleh TSH, TSH reseptor antibodi, atau agonis
reseptor TSH, seperti chorionic gonadotropin, dapat mengakibatkan gondok difus. Ketika
sebuah kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel ganas metastasis untuk tiroid terlibat,
suatu nodul tiroid dapat berkembang.
Goiter dapat juga terjadi hasil dari sejumlah agonis reseptor TSH. Pendorong reseptor
TSH termasuk antibodi reseptor TSH, resistensi terhadap hormon tiroid hipofisis, adenoma
kelenjar hipofisis hipotalamus atau, dan tumor memproduksi human chorionic gonadotropin.
Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi
TSH, glukosil goitrogenik (bahan yang dapat menekan sekresi hormone tiroid), gangguan
pada kelenjar tiroid sendiri serta factor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat
tidaknya sekresi hormone tiroid. Bila kadar kadar hormone tiroid kurang maka akan terjadi
mekanisme umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan
terjadi pembesaran (hipertrofi).
Dampak goiter terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ lain di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar
tiroid terdapat trakea dan esophagus. Goiter dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong
trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan
17

berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit.
Penekanan pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau.Bila
pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau tidak,
jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
2.6.1 Manifestasi klinis
Gejala utama :
1. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di
bagian depan leher tepat di bawah Adams apple.
2. Perasaan sesak di daerah tenggorokan.
3. Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, mengi (karena kompresi batang
tenggorokan).
4. Kesulitan menelan (karena kompresi dari esofagus).
5. Suara serak.
6. Distensi vena leher.
7. Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala
8. Kelainan fisik (asimetris leher)
Dapat juga terdapat gejala lain, diantaranya :
1. Tingkat peningkatan denyut nadi
2. Detak jantung cepat
3. Diare, mual, muntah
4. Berkeringat tanpa latihan
5. Goncangan
6. Agitasi 6.7

18

2.6.PENCEGAHAN

Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk menghindari diri dari
berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah
terjadinya struma adalah :

a. Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam hal merubah pola perilaku makan dan
memasyarakatkan pemakaian garam yodium

b. Mengkonsumsi makanan yang merupakan sumber yodium seperti ikan laut

c. Mengkonsumsi yodium dengan cara memberikan garam beryodium setelah dimasak, tidak
dianjurkan memberikan garam sebelum memasak untuk menghindari hilangnya yodium dari
makanan

d. Iodisasi air minum untuk wilayah tertentu dengan resiko tinggi. Cara ini memberikan
keuntungan yang lebih dibandingkan dengan garam karena dapat terjangkau daerah luas dan
terpencil. Iodisasi dilakukan dengan yodida diberikan dalam saluran air dalam pipa, yodida
yang diberikan dalam air yang mengalir, dan penambahan yodida dalam sediaan air minum.

e. Memberikan kapsul minyak beryodium (lipiodol) pada penduduk di daerah endemik berat
dan endemik sedang. Sasaran pemberiannya adalah semua pria berusia 0-20 tahun dan wanita
0-35 tahun, termasuk wanita hamil dan menyusui yang tinggal di daerah endemis berat dan
endemis sedang. Dosis pemberiannya bervariasi sesuai umur dan kelamin.

f. Memberikan suntikan yodium dalam minyak (lipiodol 40%) diberikan 3 tahun sekali
dengan dosis untuk dewasa dan anak-anak di atas 6 tahun 1 cc dan untuk anak kurang dari 6
tahun 0,2-0,8 cc.

19

Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah upaya mendeteksi secara dini suatu penyakit, mengupayakan
orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit yang dilakukan
melalui beberapa cara yaitu seperti di penatalaksananan di atas seperti operasi,yodium
radioaktif,pemberian tiroksin dan anti tiroid.

Pencegahan Tertier

Pencegahan tersier bertujuan untuk mengembalikan fungsi mental, fisik dan sosial penderita
setelah proses penyakitnya dihentikan. Upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Setelah pengobatan diperlukan kontrol teratur/berkala untuk memastikan dan mendeteksi


adanya kekambuhan atau penyebaran.
b. Menekan munculnya komplikasi dan kecacatan
c. Melakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri, fisik segar dan bugar
serta keluarga dan masyarakat dapat menerima kehadirannya melalui melakukan fisioterapi
yaitu dengan rehabilitasi fisik, psikoterapi yaitu dengan rehabilitasi kejiwaan, sosial terapi
yaitu dengan rehabilitasi sosial dan rehabilitasi aesthesis yaitu yang berhubungan dengan
kecantikan.10,11

2.7.PENATALAKSANAAN
1)Biasanya hanya dipantau,tanpa terapi spesifik
2)Jika goiter semakin membesar sehingga sukar bernafas,pengobatan

harus dilakukan

seperti:
a)Tyroid hormone suppression therapy

Penggunaan T4 untuk mengecilkan goiter non toksik

Terapi ini dapat mengurangi volume 58% berbanding dengan 4% dari pasien yang
diobati

dengan placebo

Penggunaan terapi ini harus dipertimbangkan karena dapat meningkatkan resiko


penurunan densitas tulang dan meningkatkan atrial fibrilasi
20

Pertumbuhan tiroid akan kembali normal setelah penghentian terapi T4.

b)Surgery
Untuk goiter yang terus berkembang dan menyebabkan obstructive symptom
Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena. Bila
hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi, sedangkan kedua lobus terkena
dilakukan subtotal tiroidektomi.
c)Radioactive yodium

Terapi ini dilakukan untuk mengurangi saiz goiter tersebut. Terapi ini dilakukan
apabila operasi tidak dapat dilakukan.

d)Konsultasi

Berkonsultasi dengan endokrinologi dalam goiter non toksik yang rumit dengan
pembentukan nodul atau gejala obstruktif.

konsultasikan dengan ahli bedah tiroid jika indeks kecurigaan yang tinggi untuk
keganasan ada pada pasien dengan suara serak, limfadenopati, dan paparan radiasi
sebelumnya.

e)Sumplemen yodium
f)Obat
Tidak ada pengobatan khusus untuk goiter non toksik:
1) Hormon tiroid (L-tiroksin)
T4 digunakan untuk mengurangi ukuran atau menekan pertumbuhan goiter yang lebih
lanjut.
Contoh : Levothyroxine (Synthroid, Levoxyl, Unithroid, Levothroid)
Dosis Dewasa : 50-75 mcg / d PO; mengevaluasi TSH dalam 6 minggu,
menyesuaikan dosis untuk menjaga TSH rendah dalam kisaran referensi (yaitu,
sekitar 0,3-1 IU / mL)
Dosis anak-anak : Tidak ditetapkan
Kontraindikasi

hipersensitivitas,insufisiensi

subklinis,angina tidak stabil, tachyarrhythmia.


21

adrenal;

hipertiroidisme

2)Antitiroid agen
Mengurangi ukuran goiter.
Contoh : Natrium iodida, atau 131 I (Iodotope)
Dosis Dewasa: 100 Ci / gondok g dikoreksi selama 24 jam 131 aku tiroid serapan
Dosis anak-anak : tidak direkomendasikan
Kontraindikasi :hipersensitivitas, kehamilan, menyusui, hambatan kritis dari gondok
g) jika ada tiroiditis subakut/kronik, dapat diberikan kortikosteroid.9-11

2.8.KOMPLIKASI
Umumnya tidak ada ,kecuali ada infeksi seperti pada tiroiditis akut atau subakut.
Jika dilakukan tiroidektomi, komplikasi yang seringkali muncul adalah;

Perdarahan masif. Resiko ini minimum, namun hati- hati dalam mengamankan
hemostatis dan penggunaan drain setelah operasi.

Masalah terbukanya vena besar, yaitu vena tiroidea superior dan menyebabkan
embolisme udara. Tetapi dengan tindakan anestesi mutakhir, ventilasi tekanan positif
yang intermitten, dan teknik bedah yang cermat, bahaya ini dapat diminimalkan.

Trauma pada nervus laringeus rekurens. Ia menimbulkan paralisis sebagian atau total
jika bilateral laring. Pengetahuan anatomi bedah yang kuat dan ke hati- hatian pada
saat operasi harus diutamakan.

Sepsis yang meluas ke mediastinum. Seharusnya ini tidak boleh terjadi pada operasi
bedah sekarang ini, sehingga antibiotik tidak diperlukan sebagai profilaksis lagi.12

2.9.PROGNOSIS

Umumnya prognosis adalah baik. Prognosis bagi goiter non toksik bergantung kepada
penyebabya. Goiter yang ringan dapat hilang dengan sendirinya atau dapat menjadi lebih
besar. Keadaan hipotiroid dapat timbul apabila berlakunya kerusakan pada tiroid yang dapat
menyebabkan kalenjar berhenti daripada menghasilkan hormone tiroid. Keadaan hipertiroid
dapat timbul jika goiter menjadi toksik dan menghasilkan banyak hormone tiroid dengan
sendiri. Selain itu, ia juga dapat melanjut menjadi kanker tiroid.12

22

BAB III
KESIMPULAN

1. Tonjolan tunggal pada tiroid, merupakan masalah karena kemungkinan ada keganasan.
Dengan pengenalan klinik dan pemeriksaan lainnya, pembedahan yang tidak perlu dapat
dihindarkanStruma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba
sebagai suatu nodul ,tanpa disertai tanda tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul
dibagi :

Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi :


nodul dingin ,nodul hangat,nodul panas

Sedangkan berdasarkan konsistensinya ,nodul dibedakan menjadi ;nodul lunak ,nodul


kistik, nodul keras,nodul sangat keras,

2.Pada penyakit ini,akan terlihat pembengkakan atau benjolan besar pada leher sebelah depan
(pada tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar tiroid yang tidak normal.
3.Salah satu penyebab penyakit goiter non toksik ini adalah disebabkan oleh defisiensi
yodium. Maka,pengobatan utama penyakit ini dengan sumplemen yodium atau makan
yodium yang secukupnya.
4.Umumnya,goiter ini tidak mendatangkan komplikasi melainkan jika adanya infeksi di tiriod
dan prognosisnya adalah baik.

23

BAB 1V
DAFTAR PUSTAKA
1. Struma . Edisi 2008.Diunduh dari www.bedahugm.net/struma/, 24 Nopember 2010.
2. Yasavati K, Mardi S, Johanna SP, Indriani K, Dan H et al/dkk. Pemeriksaan Tiroid.
Buku Panduan Ketrampilan Medik, FK UKRIDA , Jakarta. 2010;5: 36-8.
3. David S, Francis S, Paul W. Nontoxic Goiter. Greenspans Basic & Clinical
Endocrinology, Mc Graw Hill. 2007;8: 336-8
4. Herawati S. Kelenjar tiroid. Modul Blok-21, Metabolik Endokrin 2, FK UKRIDA
Jakarta. 2010:5
5. Mansjoer A et al (editor) 2001., Struma Nodusa Non Toksik., Kapita Selekta
Kedokteran., Jilid 1, Edisi III., Media Esculapius., FKUI., Jakarta
6. Sadler GP., Clark OH., van Heerden JA., Farley DR., 2004. Thyroid and Parathyroid.,
In : Schwartz. SI., et al., 2004., Principles of Surgery. Vol 2., 9th Ed., McGraw-Hill.,
Newyork.
7. Stephanie L. Goiter , Nontoxic. Diupdate pada 22 Maret 2010.
Diunduh dari : http://emedicine.medscape.com/article/120392-overview, pada 25
Nopember 2010.
8. Hipertiroid dan hipotiroid. Edisi 2008.Diunduh dari
www.tanyadokteranda.com/artikel/hipertiroid,25 Nopember 2010
9. Goiter, Nontoxic: Treatment & Medication. Edisi 22 Mar 2010. Diunduh dari
www.emedicine.medscape.com, 25 Nopember 2010.
10. Anonim, 2004., Struma Nodusa Non Toksik., Pedoman Diagnosis dan Terapi.,
Lab/UPF Ilmu Bedah., RSUD Dokter Sutomo., Surabaya.
11. R.Djokomoeljanto.Gangguan akibat kekurangan yodium. Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jilid III : Edisi IV ; Hal 1944-1948
12. Ari S.Eckman. Goiter-simple. Update Oktober 2010 [Online] Diunduh dari
www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001178.html,26 Novemper 2010

24