Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sekitar abad ke-19 seorang ahli filsafat dari perancis yang bernama Agus Comte menulis
beberapa buah buku yang berisikan pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari
masyarakat. Dia menyarankan agar semua penelitian terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi
suatu ilmu tentang masyarakat yang berdiri sendiri. Maka munculah istilah Sosiologi yang
kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri[1]
Seorang awam yang untuk pertama kali mempelajri sosiologi, sesungguhnya secara tidak sadar
telah mengetahui sedikit tentang sosiologi. Selama hidupnya, dia telah menjadi anggota bagi
masyarakat dan juga brhubungan dengan masyarakat. Namun kadang hal itu tidak pernah
disadari.
1. II. PERMASALAHAN
Setiap ilmu sudah barang tentu memiliki cara pandang yang berbeda terkait dengan objek yang
menjadi bahan kajiannya. Tidak jauh beda dengan sosiologi. Sosiologi menempatkan masyarakat
sebagai objek kajianya, yang dilihat dari hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari
hubungan tersebut.
Sejak kemunculanya cara pandang tekait ilmu sosiologi telah menjadi perdebatan yang panjang
dalam khazanah ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan jika terdapat beberapa paradigma
dalam sosiologi.
Dalam makalah ini kami mncoba memaparkan paradingma-paradigma yang ada dalam sosiologi.

SOSIOLOGI
MAX WEBER
Seorang awam yang untuk pertama kali mempelajari sosiologi, sesungguhnya secara tidak sadar
telah mengetahui sedikit tentang sosiologi. Selama hidupnya, dia telah menjadi anggota bagi
masyarakat dan juga berhubungan dengan masyarakat. Namun kadang hal itu tidak pernah
disadari.
Semua bidang intelektual dibentuk oleh setting sosialnya. Hal ini terutama berlaku bagi sosiologi
yang tidak hanya berasal dari kondisi sosialnya, tetapi juga mejadikan lingkungan sosialnya
sebagai kajian pokoknya. Sejarah muncul dan berkembangnya sosiologi sebagai sebuah disiplin
ilmu sangat terkait dengan peristiwa-peristiwa kekacauan sosial umat manusia.
Sudah menjadi sifat bawaan dari sosiologi, ilmu ini sejak kelahiranya hingga berkembang
menjadi dewasa dalam arti berstatus sebagai sebuah disiplin ilmu tesendiri selalu berada dalam
suasana pergulatan pemikiran dikalangan tokoh-tokoh pencetus serta pengembangnya.
Sejak awal kemunculanya cara pandang serta definisi maupun sasaran tekait ilmu sosiologi telah
menjadi perdebatan yang panjang dalam khazanah ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan jika
terdapat beberapa tokoh yang memiliki pandangan berbeda-beda mengenai sosiologi.
Diantaranya adalah Aguste Comte, Emiel Durkheim, serta Max Weber.
Dalam makalah ini kami akan mencoba menguraikan sebagian kecil dari tokoh sosiologi serta
pemikiranya terhadap ilmu sosiologi yaitu MAX WEBER.
A.

Biografi

Max Weber lahir di Erfurt, Jerman, 21 April 1864. berasal dari keluarga kelas menengah.
Perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar terhadap orientasi intelektual
serta perkembangan psikologi Weber. Ayahnya adalah seorang birokrat yang memiliki

kedudukan politik yang relative penting. Dan akibatnya menjauhkan diri dari setiap aktivitas dan
idealisme yang memerlukan pengorbanan diri atau yang dapat menimbulkan ancaman terhadap
kedudukanya. Dengan demikian ayahnya adalah seorang yang sangat menyukai kesenangan
duniawi. Ia sangat bertolak belakang dengan istrinya, Ibu Weber adalah seorang Calvinis yang
taat, wanita yang berupaya menjalani kehidupan prihatin (ascetic) tanpa kesenangan seperti yang
sangat menjadi dambaan suaminya.
Weber kecil lalu berhadapan dengan suatu pilihan yang jelas (Mariane Weber, 1975;62) mulamula ia memilih orientasi hidup ayahnya, tertapi dalam perkembangan selanjutnya kemudian
tertarik makin mendekati orintasi hidup Ibunya. Apapun pilihan, ketegangan yang dihasilkan
kebutuhan memilih antara pola yang berlawanan ini berpengaruh negatif terhadap kejiwaan
Weber.
Ketika Tahun 1897, di saat karir akademis Weber berkembang, ayahnya meninggal setelah
terjadi pertengkaran sengit di antara mereka. Tak lama kemudian Weber menunjukkan gejala
yang berpuncak pada gangguan saraf. Ia sering tidak bisa tidur dan bekerja, enam atau tujuh
tahun berikutnya dilalui dalam keadaan mendekati kehancuran total.
Setelah masa kosong yang lama, Ia mulai memberikan kuliah pertamanya di Amerika (1904)
yang berlangsung selama 6,5 Tahun, sejak itulah ia mulai kembali aktif dalam kehidupan
akademis. Tahun 1904 dan 1905 ia menerbitkan salah satu karya terbaiknya yaitu The Protestat
Ethic and The Spirit of Capitalism. Setelah 1904 Weber menghasilkan banyak karya yang
sangat penting. Ia menerbitkan berbagi hasil studi tentang agama dunia dan perspektif sejarah
dunia (Misalnya Cina, India dan agama yahudi kuno ). Menjelang kematianya, ia menulis karya
yang sangat penting Economy and Society meski buku ini telah diterbitkan dan telah di
terjemahkan kedalam berbagai bahasa, namun buku ini belum selesai. Pada periode ini, selain
menulis bermacam-macam buku, weber pun melakukan kegiatan lain. Ia mendirikan German
Sosiological Society pada tahun 1910. Rumahnya dijadikan sebagi pusat pertemuan pakar
berbagai cabang ilmu termasuk sosiologi seperti George Simmel, Robert Michelis, maupun
filosofis lainya. Dan akhirnya Weber meninggal pada tanggal 14 Juni 1920.
B.

Pemikiran Max Weber tentang Sosiologi

Sebagi suatu konsep istilah paradigma pertama kali di kemukakan oleh Thomas Khun dalam
karyanya The Stucture of Scientific Revolution. Menurutnya, paradigma adalah satu kerangka

referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Dalam
buku itu Kuhn mejelaskan tentang perubahan paradigma dalam ilmu, dan menurutnya disiplin
ilmu lahir sebagai proses revolusi paradigma. Bisa jadi, suatu pandangan teori ditumbangkan
oleh pandangan teori yang baru yang mengikutinya.dalam sosiologi terdapat tiga paradigma
yaitu Fakta Sosial, definisi Sosial, Perilaku Sosial.
Dalam kaitanya dengan sosiologi, Max weber adalah seorang tokoh sosiologi yang telah
mencetuskan paradigma definisi Sosial untuk melihat realitas sosial. Menurutnya Sosiologi
merupakan studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Inti thesis nya adalah tindakan
yang penuh arti dari individu. Tindakan sosial adalah tindakan individu yang tindakanya itu
mempunyai arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Sebaliknya
tindakan individu yang di arahkan kepada benda mati utau objek fisik semata tanpa dihubungkan
dengan tindakan orang lain bukan merupakan tindakan Sosial. Tindakan seseorang melempar
batu kedalam sungai bukan merupakan tindakan sosial. Tapi tindakan tersebut bisa menjadi
tindakan sosial manakala melempar batu tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan reaksi dari
orang lain.
Secara definitif Weber merumuskan sosiologi sebagi ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan
memahami (Interpretative Understanding) tindakan sosial serta hubungan sosial untuk sampai
pada penjelasan kausal. Dalam definisi ini, terkandung konsep dasarnya. Pertama konsep
tindakan sosial, kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Konsep terakhir ini
menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.
Tindakan Sosial yang dimaksudkan Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan
kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat Subyektif
yang mungkin terjadi karena pengaruh positif terhadap situasi terentu, atau merupakan
pengulangan dengan sengaja sebagi akibat dari pengaruh situasi yang serupa. Atau berupa
persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu.
Bertolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antara hubungan sosial itu, Weber
mengemukakan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi:
1.

tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif. Ini meliputi

tindaka nyata
2.

tindakan nyata yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat membatin dan bersifat

subyektif.

3.

tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu istuasi, tindakan yang sengaja diulang

serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.


4.

tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada individu.

5.

tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

Selaindari ciri-ciri tesebut diatas tindakan sosial masih memiliki ciri-ciri lain. Tindakan sosial
dapat pula dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang diarahkan untuk waktu
sekarang, waktu lalu, dan yang akan datang. Dilihat dari sasaranya, maka fihak sana yang
menjdi sasaran tindakan si aktor dapat berupa individu atau kelompok. Dengan membatasi suatu
perbuatan sebagi sebuah tindakan sosial, maka perbuatan-perbuatan lainya tidak termasuk
kedalam objek penelitian Sosiologi. Jadi tindakan nyata tidak trmasuk tindakan sosial kalau
diarahkan kepada benda mati.
Persoalan selanjutnya adalah bagaimana mempelajari tindakan sosial itu serta bagaimana cara
memahami motif tindakan si aktor?? Dalam hal ini, weber menyarankan peneliti hendaknya
menempatkan dirinya dalam posisi si aktor serta mencoba memahami barang sesuatu seperti
yang di fahami oleh aktor. Metode pemahaman yang di ajukan Weber ini bukan hanya brsifat
pemberian penjelasan kausal belaka terhadap tindakan sosial manusia seperti penjelasanpenjelasan dalam ilmu alam.
Atas dasar Rasionalitas tindakan sosial, Weber membedakanya ke dalam empat tipe. Semakin
rasional tindakan sosial itu semakin mudah difahami.:
a.

Zwerk Rational

Yakni tindakan sosial murni. Dalam tindakan ini aktor tidak hanya sekedar menialai cara yang
terbaik untuk mencapai tujuanya tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri.
b.

Werktrational Action

Dalam tindakan tipe ini aktor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu
merupakan cara yang paling tepat atau lebih tepat untuk mencapai tujuan yang lain. Dalam
tindakan ini memang sukar untuk difahami. Namun tindakan ini rasional, karena pilihan terhadap
cara-cara kiranya sudah menentukan tujuan yang hendak dicapai. Tindakan ini rasional meski tak
serasional yang pertama.
c.

Affektual Action

Tindakan yang dibuat-buat. Dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si

aktor.tindakan ini sukar difahami.


d.

Tradisional Action

Tindakan yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu dimasa lalu
saja.
Kedua tindakan yang terakhir sering hanya merupakan tanggapan secara otomatis terhadap
rangsangan dari luar. Oleh kerenanya tidak termasuk dalam jenis tindakan penuh arti yang
menjadi penelitian Sosiologi.
Konsep kedua dari Weber adalah konsep tentang antar hubungan sosial (Social Relationship).
Didefinisikanya sebagi tindakan yang beberapa orang aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan
itu mengandung makna dan dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain. Tidak
semua kehidupan kolektif memnuhi syarat sebagi antar hubungan sosial. Dimana tidak ada saling
penyesuaian antara orang yang satu dengan orang yang lain, maka disitu tidak ada antar
hubungan sosial. Meskipun ada sekumpulan orang yang diketemukan bersamaan.
Weber tidak hanya berhenti sampai sini. Selanjutnya ia mendiskusikan bentuk-bentuk empiris
tindakan sosial dan antar hubungan sosial itu. Dengan demikian sosiolog harus mencurahkan
perhatian kepada pola-pola tindakan sosial dan pola antar hubungan sosial itu.
Jadi disini weber telah banyak memberikan sumbangan pemikiranya sebagi pemuka ilmu
sosioloi yaitu dengan paradigma definisi sosialnya yang menekankan pada tindakan-tindakan
sosial serta antar hubungan sosialnya.
C.

Karya-karya Max Weber

Usaha Weber dalam perkembangan ilmu Sosiologi tidak boleh di pandang sebelah mata. Karena
lewat hasil-hasil karyanyalah para tokoh-tokoh sosiologi sesudahnya dapat mengembangkan
disiplin ilmu ini hingga sedemikian ini.
Berikut ini adalah sebagian dari karya Max Weber yang telah disusun berdasarkan urutan
kronologisnya. Semasa hidupnya Weber menulis buku-bukunya dalam bahasa Jerman. Juduljudul asli yang dicetak setelah kematianya kemungkinan adalah hasil kompilasi dari karyakaryanya yang belum selesai. Diantara karya-karyanya adalah:
v

Der Nationalstaat und die Volkswirtschaftspolitik (orisinal-1895) Negara Kebangsaan dan

kebijakan Ekonomi kuliah pembukaan di Universitas Freiburg


v

Gessammelte Aufsatze Zur Religionsoziologie (Orisinal-1920,1921) Kumpulan Esai tentang

Sosiologi Agama
v

Gesammelte Politische Schriften (Orisinal-1921) Kumpulan berbagai tulisan politik

Die rationalen und Soziologischen Grundlagen der Musik (Orisinal-1921) Fondasi Rasional

dan Sosiologi dari Musik


v

Gesammelte Aufsatze Zur Wissenchaftslehre (Orisinal-1922) Kumpulan esai tentang

Pendidikan
v

Gesammelte Aufsatze Zur Soziologie und Sozialpolitik (Orisinal-1924) Kumpulan Esai

tentang sosiologi dan kebijakan sosial


v

Wirtschaftsgeschichte (orisinal-1924) sejarah ekonomi

IV. KESIMPULAN
Max Weber lahir di tengah-tengah perbedaan yang sangat tajam antar kedua orang tuanya,
dimana ayahnya adalah seorang politikus yang lebih suka kepada kesenangan duniawi,
sedangkan ibunya adalah seorang calvanis yang taat. Meskipun keadan itu berpengaruh besar
terhadap perkembangan Weber, namun pada akhirnya dari kemelut itulah yang mampu

membawa weber menjadi tokoh sosiologi terkemuka.


Hasil-hasil pemikiranya banyak diteruskan oleh para pengikutnya yaitu dengan teori aksinya
yang mencapai puncak perkembangannya sekitar tahun 1940, melalui karya klasik beberapa
sosiolog :Florian Znaniecki,Robert , mac Iver, T.parson.
Sosiologi dalam pandangan weber adalah sebagi ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan
memahami (Interpretative Understanding) tindakan sosial serta hubungan sosial untuk sampai
pada penjelasan kausal.

PARADIGMA SOSIOLOGI
1. I. PENDAHULUAN
Sekitar abad ke-19 seorang ahli filsafat dari perancis yang bernama Agus Comte menulis
beberapa buah buku yang berisikan pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari
masyarakat. Dia menyarankan agar semua penelitian terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi
suatu ilmu tentang masyarakat yang berdiri sendiri. Maka munculah istilah Sosiologi yang
kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri[1]
Seorang awam yang untuk pertama kali mempelajri sosiologi, sesungguhnya secara tidak sadar
telah mengetahui sedikit tentang sosiologi. Selama hidupnya, dia telah menjadi anggota bagi
masyarakat dan juga brhubungan dengan masyarakat. Namun kadang hal itu tidak pernah
disadari.
2. II. PERMASALAHAN
Setiap ilmu sudah barang tentu memiliki cara pandang yang berbeda terkait dengan objek yang
menjadi bahan kajiannya. Tidak jauh beda dengan sosiologi. Sosiologi menempatkan masyarakat

sebagai objek kajianya, yang dilihat dari hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari
hubungan tersebut.
Sejak kemunculanya cara pandang tekait ilmu sosiologi telah menjadi perdebatan yang panjang
dalam khazanah ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan jika terdapat beberapa paradigma
dalam sosiologi.
Dalam makalah ini kami mncoba memaparkan paradingma-paradigma yang ada dalam sosiologi.
1. III. PEMBAHASAN
1. pengertian Paradigma sosiologi
Secara sederhana paradigma diartikan sebagai kacamata atau sudut pandang dalam melihat
obyek sesuatu yang diamati. Istilah paradigma (paradigm) pertama kali diperkenalkan oleh
Thomas Kuhn dalam karyanya berjudul The Structure of Scientific Revolution (Chicago:
University of Chicago Press, 1970). Menurutnya, paradigma adalah satu kerangka referensi atau
pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Dalam buku itu Kuhn
mejelaskan tentang perubahan paradigma dalam ilmu, dan menurutnya disiplin ilmu lahir sebagai
proses revolusi paradigma. Bisa jadi, suatu pandangan teori ditumbangkan oleh pandangan teori
yang baru yang mengikutinya.[2]
Menurut Robert Friendrichs paradigma merupakan suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin
ilmu tentang apa ang menjadi pokok persoalan (subjek matter) yang semestinya dipelajarinya.
George Ritzer mencoba mnjelaskan pengertian paradigma dengan menindaklanjuti pengertian
paradigma yang telah dikemukakan oleh khun yang menurutnya paradigma adalah pandangan
yang mendasar dari ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya
dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan.
Jadi, paradigma sosiologi merupakan cara pandang terhadap masyarakat yang menyangkut
hubungan antara anggota masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain serta akibat yang
timbul dari hubungan tersebut.

1. Macam-Macam Paradigma Sosiologi


1. 1. Paradigma Fakta Sosial
1. Exemplar[3]
Exemplar paradigma ini diambil dari dua karya durkheim yaitu : The Rules of Sociological
Method (1895) dan Suicide (1897). Menurut paradigma ini, Fakta sosial menjadi pusat
perhatian penyelidikan dalam sosiologi. Durkheim menyatakan bahwa fakta sosial itu dianggap
sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Ia berangkat dari realitas (segala
sesuatu) yang menjadi obyek penelitian dan penyelidikan dalam studi sosiologi. Titik berangkat
dan sifat analisisnya tidak menggunakan pemikiran spekulatif (yang menjadi khas filsafat), tapi
untuk memahami realitas maka diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia. Dan
penelitian yang dihasilkannya pun bersifat deskripstif dan hanya berupa pemaparan atas data dan
realitas yang terjadi.
Fakta social menurut Durkheim terdiri atas dua macam :
v

Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditanggkap dan

diobservasi. Fakta social bentuk ini adalah bagian dari dunia nyata. Misalnya : arsitektur dan
norma hokum,
v

Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata. Fakta social jenis ini

merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya dapat muncul dari dalam
kesadaran manusia. Misalnya Egoisme, opini
Durkheim tidak menyatakan bahwa fakta social itu selalu berbentuk barang sesuatu yang nyata.
Sebagian merupakan sesuatu yang dianggap sebagai barang sesuatu. Beberapa fakta social
seperti norma hukum adalah bentuk matrial karena dapat disimak dan diobservasi. Sedang yang
berbentuk non material seperti opini hanya dapat dinyatakan sebagai barang sesuatu, tidak dapat
diraba. Hanya ada dalam kesadaran manusia.
Namun, sebagian penganut paradigma ini telah mngabaikan pernyataan durkheim yang penting
ini. Diantara meraka justru meyakini bahwa seluruh fakta sosial merupakan barang sesuatu yang

nyata (real thing). Diantaranya adalah Charles K. Warriner yang memusatkan perhatianya pada
satu fakta sosial saja yakni kepada kehidupan kelompok. Menurutnya kelompok adalah fakta
sosial yang nyata meskipun tak senyata kursi atau meja.
1. Pokok persoalan
Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut paradigma
ini adalah Fakta-fakta sosial . secara garis bsar fakta sosial terdiri atas dua tipe yaitu struktur
sosial dan pranata sosial. Sifat dasar serta hubungan antar fakta sosial inilah yang menjadi
sasaran penelitian sosiologi menurut fakta sosial.
Norma-norma dan pola nilai ini diartikan sebagi pranata sosial. Sedangkan jaringan hubungan
social dimana interaksi social berproses dan terorganisir serta melalui posisi-posisi social dari
individu dan kelompok dapat dibedakan, sering isebut Stuktur social. Dengan demikian struktur
social dan pranata social inilah yang menjadi pokok persoalan.
1. Teori-teori

Teori fungsionalisme Struktural,

yaitu teori yang menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan
perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi,
fungsi laten, fungsi manifestasi, dan keseimbangan.
Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem social yang terdiri atas elemen-elemen
yang saling berkaiatan dan saling menyatu dalam suatu keseimbangan. Perubahan yang terjadi
pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya
adalah bahwa setiap struktur dalam system social fungsional terhadaf fungsi yang lain.

Teori Konflik,

yaitu teori yang menentang teori sebelumnya (fungsionalisme-struktural) dimana masyarakat


senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus
diantar unsur-unsurnya.

Menurut teori ini dalam suatu kelompok social setiap elemen memberikan sumbangan terhadap
disintegrasi social. Teori ini menilai bawa keteraturan yang terdapat dalam masyarkat hanyalah
disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang
berkuasa.
1. Metode
Penganut paradigma ini cenderung menggunakan metode kuesioner dan interviu dalam
penelitian mpiris mereka. Alasanya adalah karena lewat metode inilah dapat diketahui informasi
yang akurat dari masing-masing responden yang kemudian dapat disimpulkan.
1. 2. paradigma Definisi social
a. Exemplar
exemplar paradigma ini adalah salah satu aspek yang snagt khusus dari karya weber, yaitu dalam
analisisnya tentang tindakan social (social action). Weber tidak memisahkan dengan tegas antara
struktur social dengan pranata social, karena keduanya membantu untuk membentuk tindakan
manusia yang penuh arti dan penuh makna.
1. Pokok persoalan
Bagi Weber, pokok persoalan sosiologi adalah bagaimana memahami tindakan sosial antar
hubungan sosial, dimana tindakan yang penuh arti itu ditafsirkan untuk sampai pada
penjelasan kausal[4]. Yang dimaksunya dengan tindakan social itu adalah tindakan individu
sepanjang tindakanya itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan
kepada tindakan orang laian.
Tindakan social yang dimaksudkanweber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan
kepada orang lain. Juga dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subjektif
yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Atau merupakan tindakan
pengulangan dengan sengaja sebagi akibat dari pengaruh situasi yang serupa.
Weber mngemukakan ada lima cirri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi:

1. tindakan manusia, yang menurut si actor mengandung makna yang subyektif. Ini meliputi
tindaka nyata
2. tindakan nyata yang bersifat membatin.
3. tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu istuasi, tindakan yang sengaja diulang
serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
4. tindakan itu diarahkan kepada individu atau kelompok.
5. tindakan itu memperhatikan tindaka orang lain dan terarah kepada orang lain itu.
Lebih jauh weber mngemukakan bahwa tindakan social dapat di bedakan kedalam empat tipe.
Semakin rasional tindakan social itu, maka semakin mudah difahami:
1. Zwerk rational
Yaitu tindakan social murni. Dalam tindakan ini actor tidak hanya sekedar menilai cara yang
terbaik untuk mencapai tujuan tapi juga menetukan nilai dari tujuan itu sendiri.
1. Werkrational action.
Dalam tindakan tipe ini actor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilihnya merupakan
cara yang paling tepat.
1. Affectual action
Tindakan yang dibuat-buat. Ipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si actor.
1. Traditional action
Tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjkan sesuatu di masa lalu saja
1. teori-teori

teori aksi (Action Theory)

beberapa asumsi fundamental teori aksi di kemukakan oleh Hinkle dengan merujuk karya max
Iver, Znaniecki, dan Parson adalah:

Tindakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagi subyek dan dari situasi
eksternal dalam posisinya sebagai obyek.

Sebagi suyek manusia bertindak untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur, metode serta perangkat
yang dinilai cocok untuk mencapai tujuan.

Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tidak dapat dirubah
dengan sendirinya.

Manusia memilih, menilai, dan mengevaluasi tindakan yang akan, sedang dan telah
dilakukanya.

Aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat pengambilan keputusan.

Studi mengenai antar hubungan social memerlukan pemakaian teknik penemuan yang
bersifat subyektif.

Pada intinya, tindakan social merupakan suatu proses dimana actor terlibat dalam pengambilan
keputusan subyektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih,
yang semuanya itu dibatasi kemungkinan-kemungkinanya oleh system kebudayaan dalam bentuk
norma-norma, ide-ide, dan nilai-nilai social. Didalam menghadapi situasi yang bersifat kendala,
actor mempunyai sesuatu dirinya berupa kemauan bebas.

teori interaksionalisme simbolik

istilah interaksionalisme simbolikmenunjuk pada sifat-sifat has dari interaksi antar manusia.
Kekhasanya adalah bahwa manusia saling mendefinisikan tindakanya, bukan hanya sekedar
reaksi tindakan seseorang terhadap tindakan orang lain, tetapi didasarkan atas makna yang
diberikan terhadap tindakan orang lain itu. Interaksi ditandai oleh penggunaan symbol-simbol,
interpretasi atau dengan saling berusaha untuk memahami maksud dari tindakn masing-masing.
Jadi proses interpretasi adalah proses berfikir yang merupakan kemampuan khas yang dimiliki
manusia.

teori Fenomenologi.

Teori ini berpandangan bahwa tindakan manusia menjadi suatu hubungan social bilamana
manusia memberikan arti tertentu terhadap tindakanya itu, dan manusia lain memahami tindakan
itu sebagai sesuatu yang penuh arti pula.
Ada empat unsure pokok dari teori ini:
1. perhatian terhdap actor
2. memusatkan perhatian kepada kenyataan yang penting dan kepada sikap yamng wajar.
3. memusatkan perhatian kepada masalah mikro.
1. memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan.
1. Metode
Penganut paradigma ini cenderung menggunakan metode observasi dalam penelitian mereka.
Alasanya adalah untuk dapat memahami relitas intrasubjective dan antarsubjective dari tindakan
sosial dan interaksi social. Penganut paradigma ini sangat tertarik dengan tindakan manusia
yang spontan dan sikap yang wajar.
Teknik yang paling ringan dalam metode ini adalah observasi yang bersifat eksplorasi. Teknik
ini paling subyektif sifatnya dan pemakaianya berhubungan erat dengan rencana observasi yang
sebenarnya, biasanya teknik ini digunakan untuk mengamati tingkah laku yang actual.
Berdasarkan cara peneliti berpartisipasi dalam peoses penyelidikanya dibedakan menjadi empat
macam:
-

Participant observation. Peneliti hadir dalam kelompok tetentu dan tidak memberitahukan

maksudnya kepada kelompok yang ditelitinya.


-

Participan as observer. Disini penliti memberitahukan maksud penelitianya kepada

kelompok yang diteliti.


-

Observer of Participant. Seperti yang kedua. Hanya dalam penelitian ini berlangsung

dalam sekali kunjungan dan dalam waktu singkat.

Complete observer. Peneliti disini bertindak sebagi orang luar, dan subyek yang diteliti

tidak menyadari bahwa mereka sedang diteliti.[5]


3. paradigma perilaku social.
a. Exemplar
exemplar paradigma ini diambil dari karya Skinner yang mencoba menerjemahkan prinsipprinsip psikologi aliaran behaviorisme kedalam sosiologi. Menurutnya objek studi sosiologi yang
yang konkrit realistis dalah perilaku manusia yang nampak serta kemungkinan perulanganya.
b. pokok persoalan
paradigma ini memusatkan perhatianya kepada hubungan antara individu dan lingkunganya.jadi
persoalanya adalahtingkah laku individu yang berlangsung dalam hubunganya dengan factor
lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat tau perubahan dalm factor lingkungan yang
menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.
Bagi paradigma ini inividu kurang memilki kebebasan. Tangggapan yang diberikanya ditentukan
oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya.
c. teori-teori
1. teori behavioral sociologi
Teori ini memusatkan perhatianya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi
dalam lingkungan actor dengan tingkah laku actor. Akibat akibat tingkah lakudiperlakukan
sebagai variable independent. Ini berarti bahwa tori ini brusaha menerangkan tingkah laku yang
terjadi melalui akibatyang mengikutinya kemudian.
2. teori Exchange
Materi teori ini secar garis besar dapat dikelompokan menjdi lima proporsi:

1. jika tingkah laku yang sudah lewat dalam konteks situasi tertentu memproleh ganjaran,
maka besar kemungkinan tingkah laku yang dalam konteks situasinya sama akan
dilakukan (di ulang)
2. menyangkut frekuensi ganjaran yang diterima atas tanggapan tertentu. Makin sering
dalam peristiwa tertentu, tingkah laku sesorang memberikan ganjaran terhadap tingkah
laku orang lain, makin sering orang lain itu mengulang tindakanya.
3. Memberikan nilai kepada tingkahlaku yang diarahkan. Makin bernilai tingkahlaku yang
ditujukan makin besar kmungkinan ia mengulangi tingkah lakunya.
4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakan orang lain, makin berkurang nilai
dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya.
5. Makin dirugikan seseorang oleh orang lain, makin besar kemungkinan akan
memngembangkan emosi.
d. metode
paradigma ini dapat menggunkan metode yang digunakan oleh paradigma lain seperti kuesioner,
interviu, observasi. Namun, demikian paradigma ini sering mengunakan metode eks perimen
dalam penelitianya.
4. paradigma penengah
Dari ketiga paradigma di atas, Ritzer mengusulkan sebuah paradigma integratif yang
menggabungkan kesemua paradigma di atas, yang kemudian disebut dengan istilah MultiParadigma (multi-paradigm). Ritzer mengingatkan bahwa penggunaan paradigma fakta sosial
akan memusatkan perhatian pada makro masyarakat, dan metode yang dipakai adalah
interviu/kuesioner dalam penelitiannya. Sedangkan dalam paradigma definisi sosial lebih
memusatkan perhatiannya kepada aksi dan interaksi sosial yang ditelorkan melalui proses
berfikir, dan metodenya menggunakan model observasi dalam penelitian sosial. Dan jika
paradigmanya adalah perilaku sosial maka perhatiannya dicurahkan pada tingkah laku dan
perulangan tingkah laku, dan metode yang dipakai lebih menyukai model ksperimen.

Ritzer kemudian menawarkan suatu exemplar paradigma yang terpadu, yang kuncinya adalah
tingkatan realitas sosial, yaitu makro-obyektif, makro-subyektif, mikro-obyektif, dan mikrosubyektif.[6]
1. Perbedaan antar paradigma
Letak perbedaan yang sebenarnya adalah paradigma definisi sosial. Menekankan bagaimana
memahami tindakan sosial antar hubungan sosial, dimana tindakan yang penuh arti itu
ditafsirkan untuk sampai pada penjelasan kausal. Paradigma fakta sosial memandang bahwa
perilaku manusia dikontrol oleh berbagai norma, nilai-nilai serta sekian alat pengendalian sosial
lainnya. Sedangkan dengan paradigma perilaku sosial adalah bahwa yang terakhir ini melihat
tingkahlaku mansuia sebagai senantiasa dikendalikan oleh kemungkinan penggunaan kekuatan
(re-enforcement).
1. IV. KESIMPULAN
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan berparadigma banyak, mengapa dikatakan demikian ? hal ini
dikarenakan, antara paradigma yang satu dengan paradigma yang lain terdapat perbedaan bahkan
pertentangan pandangan tentang disiplin sosiologi sebagai suatu kebulatan dan tentang batasbatas bidang paradigma itu masing-masing. Dalam bidang ilmu ini terdapat bebrapa paradigma
yang memaparkan dan menjelaskan cabang-cabang paradigmanya dan spsesifikasi bidangnya
masing-masing. Setidaknya terdapat 3 paradigma yang mendasari ilmu sosiologi ini diantaranya :
1. Paradigma Fakta Sosial, yang dibagi lagi menjadi dua objek kajian :
2. Paradigma Definisi Sosial, yang terbagi menjadi tiga teori diantaranya :
3. Paradigma Perilaku Sosial, terbagi menjadi dua teori diantaranya :
Ketiga paradigma teori tersebut telah dipaparkan penjelasannya diatas beserta dengan cabangcabang teori yang mendukung kostrruk paradigmanya. Selain itu juga banyak spesifikasi yang
diberikan oleh para ahli dalam memberikaj suatu asumsi-asumsi terhadap paradigma tersebut
dengan penjelasannya masing-masing.

[1] Soekanto,Soerjono, sosiologi suatu pengantar (Edisi baru keempat 1990), Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1996, Halaman 4.
[2] http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/sosiologi_profetik.htm
[3] Exemplar merupakan hasil penemuan ilmu pengetahuan yang diterima secara umum (Waston
dan Cruk 1968)
[4] http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/sosiologi_profetik.htm?20091 _edn7
[5] Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda ( penyadur : Drs.
Alimandan ), CV. Rajawali, Jakarta: Januari 1985, halaman 43-74
[6] http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/sosiologi_profetik.htm?20091 _edn10

STRATIFIKASI SOSIAL
Oleh: Misbahul ulum (081211020)
Yang teratas yang segalanya
Srtatifikasi sosial atau pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau warga masyarakat
kedalam lapisan-lapisan secara hirarkis (bertingkat). Wujud nyatanya adalah dengan adanya
pembagian kelas mulai dari kelas atas (Upper class), kelas menengah (Midle class) sampai kelas
bawah (lower class) dalam masyarakat.

Pembagian kelas-kelas yang ada dalam masyarakat itu karena di dalam masyarakat terdapat
ketidak seimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban bagi anggota masyarakat. Di satu
sisi ada anggota masyarakat yang memperoleh hak-hak istimewa dan disisi lain ada anggota
masyarakat yang memperoleh hak-hak sama seperti warga yang lainya.
Menurut selo sumardjan dan soelaiman soemardi, pelapisan sosial itu tetap ada dalam
masyarakat selama dalam masyarakat itu terdapat sesuatu yang di hargai atau
bernilai.selanjutnya mereka mengemukakan bahwa ada empat kriteria yang menonjol yang biasa
dijadikan sebagi dasar pelapiasan sosial. Keempat kriteria tersebut adalah:
Pertama Ukuran kekayaan, anggota masyarakat terkaya yang menduduki lapisan teratas. Hal
ini dapat dilihat dari bentuk rumah, perabot rumah, mobil pribadi, cara berpakaian,pola makan
dan lain sebagainya.
Kedua ukuran kekuasaan, anggota masyarakat yang memegang kekuasaan serta mmiliki
wewenang terbesar akan menempati lapisan teratas yang tertinggi.
Ketiga ukuran kehormatan, ukuran ini biasanya tidak ada kaitanya dengan ukuran kekayaan
dan kekuasaan. Hal ini sering dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. Orang-orang
yang dihormati atau disegani biasanya berada pada posisi teratas. Jadi, ukuran yang dipkai
bukan apa yang secara nyata dimiliki oleh seseorang. Tapi ukuranya adalah seberapa besar
sumbangsih seseorang terhadap perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Misalnya orang
yang dituakan atau dianggap berjasa, orang yang berperilaku luhur, tokoh masyarakat.
* disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi dosen pengampu Ibu Suprihatiningsih
Keempat ukuran ilmu pengetahuan/pendidikan, ukuran ini masih dijadikan patokan
masyarakat khususnya masyarakat yang sangat peduli dengan pendidikan, bagi anggota
masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan menempati lapisan eratas.
Satu hal yang perlu diperhtikan bahwa keempat kriteria ini tidak bersifat mutlak, jadi sangat
tidak menutup kemungkinan masih banyak kriteria-kriteria lain yang digunkan ukuran pelapisan
sosial.

Pada umumnya pengolongan masyrakat secara bertingkat ini tidak terlihat secara jelas layaknya
suatu golongan-golongan yang memiliki tujuan bersama atau dengan kata lainya tidak memiliki
ikatan serta struktur yang jalas sebagaimana layaknya sebuah organisasi. Pelapisan sosial ini
hanya sebuah konsepi masyarakat saja terhadap perbedaan-perbadaan yang terjadi antar anggota
masyarakat.
Meskipun keberadanya secara riil tidak dapat diindera, namun, akibat yang ditimbulnya telah
menjadikan masyarakat tunduk dan patuh pada pola stratifikasi yang mula-mula sudah ada dalam
masyarakat. Akibatnya secara tidak langsung masyarakat telah mengiayan adanya tingkatan yang
hierarki dalam masyarakat.
Perlu difahami bahwa setiap masyarakat menganut sistem pelapisan sisoal yang berbeda-beda
terkait dengan pembagian masyarakat kedalam kelas-kelas sosial bagi masyarakat yang
bersangkutan.
Ada masyarakat yang menganut sistem pelapisan sosial tertutup Closed Social Statification.
Dimana dalam masyarakat tersebut terdapat kelas-kelas sosial yang keberadanya sudah baku.
Atau dengan kata lain anggota masyarakat tidak diberi ruang untuk merubah kelas sosialnya. Jadi
dalam masayarakat yang menganut sistem ini tidak akan pernah terjadi mobilitas vertikal.
Contoh masyarakat yang menganut sistem ini adalah Masyarakat Feodal, masyarakat berkasta.
Selain itu ada juga masyarakt yang menganut sistem pelapisan sosial yang terbuka Opened
Social stratification. Masyarakat yang menganut sistem ini lebih cenderung memberikan ruang
gerak yang lebar bagi anggota masyarakatnya untuk berjuang merubah kelas sosialnya agar
menempati kelas sosial yang atas. Sistem seperti ini dapat di jumpai pada masyarakat modern,
yang menganut sistem demokrasi.
Kiranya sudah tidak menjadi.rahasia lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga terjadi
pelapisan. Hal ini terbukti dengan pemberian hak-hak istimewa dari negara kepada pejabatpejabat negara yang dalam kehidupan bermasyarakat dia memiliki kekuasaan serta wewenang
yang besar. Tentu hal ini tidak hanya terjadi di indonsia saja. Namun di negara lainpun juga
besar kemungkinan terjadi hal yang sama.

Selama dalam masyarakat masih ada sesuatu yang dihargai maka selama itu juga pelapisan sosial
itu akan tetap ada dalam masyarakat. Konsekunsi logisnya adalah mau tidak mau dalam
kehidupan bermasyarakat kita telah terlapis-lapis secara sendirinya.
Antara keadilan dan berlebihan
Jika pelapisan sosial adalah sebuah keniscayaan, idealnya mungkin harus di jalani layaknya
sebuah keniscayan. Namun, ada beberapa hal yang perlu ditelaah ulang. Ini bukan terkait dengan
masalah pelapisan sosial yang ada. Tapi lebih pada telaah terhadap pemberian hak-hak istimewa
yang mungkin terlalu berlebihan.
Banyak sekali fenomena-fenomena pemberian hak-hak yang kadang tidak sesuai dengan
kewajiban dengan sudut pandang tenaga yang dikeluarkan diantaranya adalah
Coba kita lihat fasilitas negara yang di berikan bagi para elit-elit politik, mereka yang punya
kedudukan kuat dalam pemerintahan akan memperoleh rumah dinas, mobil dinas, gaji pokok,
tunjangan kesehatan, uang makan, dan lain-lain. Yang itu tidak setara dengan apa yang diperoleh
oleh guru yang menjadi PNS, paling-paling gaji yang diperoleh tiap bulan tidak lebih dari 2 juta.
Padahal kalau kita lihat tenaga yang dikluarkan tidak jauh beda antar keduanya bahkan boleh jadi
tugasnya lebih berat menjadi seorang guru.
Keadaan yang kadang terlihat aneh dan bahkan mungkin keterlaluan adalah ketika seorang
kepala daerah atau seorang kepala pemerintahan berjalan diatas karpet merah pada suatu acara
untuk memberikan sambutan. Sungguh mengherankan padahal orang-orang yang ada saat itu
pada acara yang sama berdiri diatas tanah biasa dan berada dibawah panas terik matahari.
Setelah melihat contoh-contoh diatas dapat diketahui bahwa ada proses apresiasi yang
keterlaluan terhadap kelas-kelas sosial dalam masyarakat yang terkadang melampaui batas
kewajaran. Terlepas dari apakah apresiasi itu benar ataukah salah, seharusnya pemberian hak
sebanding dengan kewajiban yang diemban.

Sekali lagi stratifikasi sosial adalah sebuah fenomena sosial yang mungkin adanya, namun
apresiasi terhadap kewajiban-kewajiban yang berbeda dalam masyarakat seharusnya tetap
mempertahankan batas-batas kewajaran pada umumnya.
PERUBAHAN SOCIAL
Oleh : Misbahul Ulum
perubahan adalah sebuah keniscayaan. jadi keberadanya akan selalu ada selama kehidupan itu
berlangsung. perubahan social yang terjadi dalam masyarakat sangat beragam. namu secara
general perubahan itu ada yang terjadi secar cepat ada pula yang terjadi secara lamabat. sebelum
mendefinisikan tentang perubahan social, hendaknya harus di ketahiu terlebih dahulu tentang
tindakan social. ini di maksudkan agar tidak semua peruabahan yang terjadi bisa disebut
perubahan social, karena perubahan ssosial harus membawa pengaruh terhadap masyarakat. jadi
tindakan social seseorang secara personal maupun kolektif akan membawa kearah perubahan
social. dengan demikian tindakan sesorang yang tidak dimaksudkan untuk medapat taggapa dari
orang lain tidak bisa disebut tindakan social, jika terjadi perubahan, maka perubahan yang ada
bukan merupakan perubahan social.
suatu perubahan dikatakan sebagai perubahan social manakala perubahan itu meliputi normanorma sosial, nilai-nilai sosial, interaksi sosial, lapisan-lapisan sosial dala masyarakat, kekuasaan
dan wewenang, serta pola perilaku,dan lain sebaginya.
seiring berkembangnya peradaban manusia, serta perkembangan zaman, kita dapat melihat dan
merasakan betapa pesatnya perubahan yang terjadi di masyarakat skarang ini. segala bentuk
perubahan merupakan hal yang wajar, karena seiring keinginan manusia untuk berubah makin
besar, maka perubahan yang terjadi juga semakin besar.
mengenai definisi perubahan sosial tentunya setiap tokoh memiliki perspektif yang berbedabeda. namun pada esensinya perubahan social itu merupakan suatu perubahan dalam masyarakat
yang meliputi segala sendi kehidupan social masyarakat.

selo soemardjan mendefinisikan bahwa perubahan social adalah semua perubahan dalam
lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system
sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku diantara kelompokkelompok dalam masyarakat.
perubahan social dan perubahan kebudayaan
amat sulit untuk membedakan antara perubahan social dengan perubahan kebudayaan. karena
dalam kenyataanya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. dan begitu pila
sebaliknya tidak akan terbentuk kebudayaan jika tidak ada masyarakat. satu hal yang perlu di
ingat adalah bahwa antara perubahan social dan perubahan kebudayaan memiliki satu aspek yang
sama yaitu keduanya berhubungan dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan
dalam masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya.
bentuk-bentuk perubahan social dan kebudayaan.
1. perubahan lambat dan perubahan cepat.
perubahan yang terjadi secara lambat lebih sering disebut Evolusi. evolusi merupakan
perkembangan yang sangat lambat dan perlahan-lahan oleh adanya kerja sama harmonis antara
manusia dengan lingkungan sekitar. kemudian perubahan yang terjadi dalam wakru yang singkat
dan relativ cepat adalah Revolusi. secara sosiologis ada syarat-syarat tertentu agar revolusi itu
bisa terjadi. diantaranya adalah harus ada keinginan bersama untuk mengadakan suatu
perubahan, harus ada seorang pemimpin yang mampu mengarahkan, harus ada moment yang
jelas.
1. perubahan besar dan perubahan kecil
perubahan besar atau kecil ini lebi pada tataran kibat yang timbul. artinya suatu perubahan itu
bisa dikatan perubahan besar manakala membawa efek atau akibat bagi perubahan struktur sosial
yang lain. jadi jika perubahan yang ada hanya berdampak kecil terhadap struktur soisal
masyarakat berarti perubahan yang terjadi adalah perubahan kecil.
1. perubahan yang dikehendaki dan perubahan yang tidak dikehendaki

perubahan yang dikehendaki atau perubahan yang direncanakan merupakan suatu perubaan yang
telah dirancang atau di persiapkan sedemikian rupa oleh fihak-fihak yang ingin mengadakan
perubahan dalam masyarakat. tindakan yang mungkin dilakukan sebelum proses perubahan
seperti yang telah direncanakan harus terlebih daulu melakuan rekayasa sosiala atau Social
engineering serta sosial planing.
perubahan yang tidak direncanakan atau yang tidak dihendaki sangat membawa pengaruh yang
luar biasa terhadap kehidupan masyarakat karena perubahan yang terjadi sama sekali tidak
diinginkan oleh masyarakat. misalnya adalah perubahan sosial akibat dari bencana.
Faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial.
faktor pendorong prubahan sosial

adanya pengetahuhan mengenai Das sain (apa yang ada) dan das sollen (apa yang
seharusnya ada)

kebutuhan dari dalam diri untuk mencapai efisiensi

adanya kontak dengan kebudayaan lain

sistem pendidikan formal yang maju

sikap menghargai hasil karya seseorang dan adanya keinginan untuk maju

open stratification

bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk

penemuan-penemuan baru

pertentangan

faktor penghambat perubahan sosial


v kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
v perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat
v sikap masyarakat yang sangat tradisional
v adat atau kebiasaan yang kaku

LEMBAGA SOSIAL
Lembaga sosial adalah prosedur atu tat cara yang sudah sengaja hubungan manusia degan
manusia yang lain yang hidup berkelompok dalam dalam sebuah kemasyarakatan.(Mac iver dan
Charles H.Page)
ciri-ciri lembaga sosial:
-

memiliki tingkat kekekalan tertentu

memiliki tujuan tertentu

memiliki alat perlengkapan untuk mencapai tujuan

biasanya dilengkapi dengan lambang-lambang atau simbol-simbol

lembaga sosial memiliki tradisi tertulis dan tidak tertulis

proses pembentukan Lembaga Sosial


bagaimana suatu lembaga sosial itu bisa terbentuk?? pada dasarnya lembaga sosial adalah
produk kehidupan sosial yang sebenarnya tidak direncanakan. masyarakat biasanya mencari cara
yang praktis untuk memenuhi kebutuhan. mereka menemukan cara yang kemudian berkembang
secara terus menerus sehingga membentuk pola-pola yang dapat dilaksanakan. pola-pola tersebut
akhirnya menjadi kebiasaan yang baku karena secara continue diulang-ulang.
tipe-tipe lembaga sosial:
No

Klasifikasi lembaga sosial

Berdasarkan perkembanganya

Tipe lembaga sosial


1. crescive Institution
2. Enacted Institution

Berdasarkan sistem nilai yang

1. Basic Institution

diterima masyarakat

2. Subsidiary Institution

Berdasarkan penerimaan masyarakat

1. Aproved Institution
2. Unsanctioned Institution

Berdasaran penyebaranya

1. general Institution
2. restricted Institution

Berdasarkan fungsinya

1. Operative Institution
2. Regulative Institution