Anda di halaman 1dari 15

I.

II.

Tujuan Percobaan

Untuk mengetahui cara kerja dan penggunaan alat Refraktrometri.

Membuktikan adanya hubungan antara kadar indeks bias dengan konsentrasi.

Untuk mengetahui indeks bias dari berbagai macam zat cair.

Teori Percobaan

Refraktometri adalah suatu analisis yang berdasarkan pada penentuan indeks


bias suatu zat. Refraktometer Abbe adalah sebuah alat yang ditemukan oleh orang
Jerman yang bernama Zeiss Abbe, yang digunakan untuk mengukur indeks biasa suatu
zat cair, zat padat yang transparan, film dan serbuk. Prinsip pengukuran dapat
dibedakan, oleh cayaha, penggembalaan kejadian, total refleksi, ini adalah pembiasan
(refraksi) atau reflaksi total cahaya yang digunakan. Sebagai prisma umum
menggunakan semua tiga prinsip, satu dengan indeks bias dikenal (prisma). Cahaya
merambat dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel (cairan) dengan
kecepatan yang berbeda indeks bias diketahui dari media sampel diukur dengan
defleksi cahaya. Alat refraktometer ini dilengkapi dengan bak thermostat yang
berfungsi untuk menjaga dan mengatur suhu saat pengukuran indeks bias.
Pengukuran ini didasarkan pada prinsip bahwa cahaya yang masuk melalui
prisma cahaya bisa melewati bidang batas antara cairan dan prisma kerja dengan suatu
sudut yang terletak dalam batas-batas tertentu yang ditentukan oleh sudut batas antara
cairan dan gelas. Yang akan diamati adalah bidang terang dan bidang gelap yang
terpisah menurut garis yang jelas. Tempat perbatasan ini tergantung pada indeks bias
cairan dan gelas. Terjadinya bidang batasan tara gelap dan terang bila cahaya
dijatuhkan pada prisma kerja dengan berbagai sudut datang mulai dari 0o 90o, maka
cahaya dibiaskan keluar dengan berbagai sudut yang besarnya berlainan untuk setiap
warna cahaya.
Dalam menentukan komposisi suatu larutan yang terdiri atas tiga komponen,
dibuat sederetan larutan standar ( konsentrasinya tidak diketahui ) dengan beberapa
variasi volume campuran. Masing - masing larutan standar ditentukan indeks biasnya
dengan menggunakan refraktometer kemudian dilakukan pengkalibrasian terhadap
diagram sama sisi. Untuk menentukan komposisi komponen campuran tiga komponen
yang belum diketahui, dilakukan hal yang sama yaitu mengukur indeks bias dan

pengukuran besaran fisik warnanya dengan membandingkan larutan dengan larutan


standar secara kolorimetri standar seri.

Dalam analisa instrumen, besaran fisika dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu :
1. Besaran fisika selektif
Adalah besaran fisika yang dimiliki oleh suatu komponen dalam zat
dan apabila bercampur dengan besaran fisika lainnya maka nilainya tidak
berpengaruh. Contoh : frekuensi dan kecepatan radiasi.
2. Besaran fisika non-selektif
Adalah besaran fisika yang nilainya berubah bila ada senyawa atau besaran
fisika lainnya dalam campuran. Contoh : indeks bias dan warna.
Kaidah fasa Gibbs menerangkan bahwa derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen
adalah :
F =3P+2

=5P

dimana :
F = jumlah derajat kebebasan (variable bebas terpilih seperti suhu dan tekanan untuk
menentukan keadaan fasa).
P = fasa.
Dan empat derajat kebebasan itu adalah :
a. Tempratur
b. Tekanan
c. Susunan dua komponen
d. Susunan tiga komponen
Bila sistem tiga komponen ini berada dalam suatu fasa maka derajat
kebebasannya (F) = 4, berarti dibutuhkan 4 variabel untuk menentukan sistem secara
mutlak. Untuk penyederhanaan pada sistim tiga komponen ini dilakukan pada P dan T
konstan.
Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya
karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahaya
dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Mendekati Garis Normal


Cahaya dibiakan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium
optik kurang rapat kemedium optik lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari
udara kedalam air.
2. Menjauhi Garis Normal
Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari
medium optik lebih rapat kedalam optik kurang rapat, contoh cahaya merambat dari
dalam air ke udara.
Hukum tentang pembiasan cahaya dikenal dengan hukum Snellius, yang berbunyi :
1)

Perbandingan antara sinus sudut datang dengan sinus sudut bias selalu tetap.

2)

Jika sinar datang dari medium rapat ke medium yang kurang rapat, sinar akan
dibiaskan menjauhi garis normal.

3)

Jika sinar datang dari medium yang kurang rapat ke medium yang rapat, maka
sinar akan dibiaskan mendekati garis normal.

4)

Jika sinar datang tegak lurus bidang maka sinar tidak dibiaskan melainkan
diteruskan.

Penentuan indeks bias juga dapat ditentukan menurut hukum snellius,yaitu :


Indeks bias (n) = sin i
sin r
dimana :
i = sudut datang yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar datang dengan garis normal.
r = sudut bias yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar bias dengan garis normal
Ciri-ciri khas refraktometer adalah dapat dipakai mengukur secara tepat dan
sederhana karena hanya memerlukan zat contoh dalam jumlah yang sedikit, yaitu
0,1 ml dan karena ketelitiannya yang tinggi.
Ada 3 jenis refraktometer yang dikenal, yaitu :
1) Hand Sugar Refraktometer
Refraktometer ini digunakan untuk menentukan kadar gula, biasanya dipakai
untuk minuman seperti sirup dan limun. Refraktometer ini disebut dengan
prokinometer.
2) ImmersionRefraktometer(Refraktometer Celup)
Refraktometer ini dicelupkan pada cairan yang akan ditentukan indeks
biasnya.

3) Refraktometer ABBE
Refraktometer ABBE dirancang oleh Ernest Abbe pada tahun 1869 dan
merupakan refraktometer standar. Larutan yang dibutuhkan sangat sedikit dan
pengerjaannya lebih efisien, sehingga sering digunakan di laboratorium.

III.

SKEMA PERCOBAAN

Menyiapkan larutan gula dan


larutan garam dengan konsentrasi
(persen berat) 5%, 10%, 15%,
20%, 25%, dan 30%, masingmasing sebanyak 10 gram.

Gunakan refraktometer untuk


mengukur konsentrasi dan
indekbias sampel dengan cara :

2. Membuka gredel pada


refraktometer, kemudian
meneteskan air pada prisma,
menyeka prisma dengan
kapas untuk membersihkan.
Teteskan aquadest pada
prisma tempat sampel.

1. Menggeser Refraktometer
sehingga cahaya dan
skala pada refraktrometer
mendapat penerangan
yang cukup (membuka
katup diafragma)

Ukur indeks bias lar gula, lar garam, dan sampel dengan cara :
1. lihat pada lensa, skala yang ditunjukkan.
2. Putar skala dengan posisi mata tetap pada lensa.
3. Atur lapang pandang dengan putaran skala besar dan kecil sehingga warna
hitam dan putih seimbang.
4. Hasil pembacaan seharusnya pada angka 1,3333.
5. Lakukan prosedur ini beberapa kali dengan sedikit memutar maju mundur
putaran skala
Setiap selesai pengukuran, bersihkan prisma tempat sample dengan meneteskan
air aquadest kemudian dilap dengan kapas. Lakukan setidaknya tiga kali agar
benar-benar bersih.

IV.

DATA HASIL PERCOBAAN


Data hasil refraktrometri garam dan gula :

No

Larutan

Kosentrasi

Hasil Pembacaan

(%)

(%)

Indeks bias

1,340

10

10,2

1,3485

15

16,4

1,3585

20

22

1,3670

25

27

1,3760

30

29

1,380

4.9

1,3395

10

9.2

1,346

15

14.0

1,354

20

18,0

1,362

25

23,4

1,370

30

28,0

1,3760

Garam

Gula

Sample garam

20%

1,363

Sample gula

23 %

1,369

Aquadest :

0%

(Hasil pembacaan refraktrometer)

1,3330 (Indeks bias)

V.

PEMBAHASAN DAN DISKUSI

Refraktometri larutan garam


Reaksi :
NaCl(s) + H2O (l) Na+(aq) + Cl- (aq) + H2O (aq)
Tabel data hasil pengamatan

Kosentrasi
No

Larutan

(%)

Hasil Pembacaan (%) Indeks bias

5
10
15

1,340

10,2

1,3485

16,4

1,3585

22

1,3670

27

1,3760

29

1,380

Garam
20
25
30

Sample garam

20%

1,363

Dari tabel data hasil pengamatan diatas digunakan sampel garam dengan
konsentrasi persen larutan garam yang berbeda yaitu: Konsetrasi larutan yang
digunakan 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%. Didapat hasil pembacaan dan indeks bias
yang berbeda - beda. Semakin besar konsentrasinya semakin besar pula hasil
pembacaan dan indeks biasnya. Aquades digunakan sebagai kontrol karena indeks
biasnya 1,3330 dan untuk hasil pembacaannya adalah 0.

Kurva hubungan Indeks bias garam terhadap konsentrasi :

Kurva larutan garam

Konsentrasi (%)

y = 604.22x - 804.38
R = 0.9969

30
25
20
15
10
5

Indeks bias

0
1.335

1.34

1.345

1.35

1.355

1.36

1.365

1.37

1.375

1.38

Gambar 1. Kurva hubungan antara indeks bias dan kosentrasi garam


Dapat dilihat pada gambar 1, Dari hasil uji refraktometri larutan garam didapat
tingkat ketelitian 0,9969 . Hasil yang didapat ternyata cukup linear. Hal ini dikarenakan
nilai R2yang didapat mendekati 1. Selain itu didapati pula persamaannya yaitu y =
604,22x 804,38. Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap sampel yang yang belum
diketahui konsentrasi gulanya. Indeks bias yang didapat dimasukkan dalam persamaan
sebagai nilai x. Kemudian didapatkan nilai y sebagai kosentrasi dari larutan tersebut.
Contoh perhitungan sample garam dengan indeks bias 1,362 , maka
y = 604,22x 804,38
y = 604,22(1,363) 804,38
X = 19,17 % berat

Dari pengamatan dan perhitungan terdapat perbedaan hasil hal ini di karenakan
beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat ketelitian, diantaranya :

Kontaminasi pada pemakaian pipet

Pembacaan skala pada alat refraktometer yang kurang tepat

Pembersihan alat refraktometer kurang bersih sehingga mempengaruhi hasil


pengukuran selanjutnya

penimbangan bahan pada saat pembuatan larutan garam


Sedangkan hubungan indeks bias dan konsentrasi larutan garam berbanding

lurus,hal ini di karenakan semakin besar nilai konsentrasi larutan semakin besar pula nilai
indeks biasnya.
Refraktometri larutan gula.
Reaksi :
C12H22O 11(s) + H2O (l) C12H22O11 (aq) + H2O (aq)
Tabel data hasil pengamatan

No

Larutan

Kosentrasi

Hasil Pembacaan

(%)

(%)

Indeks bias

4,9

1,3395

9,2

1,346

14,0

1,354

18,0

1,362

23,4

1,370

28,0

1,3760

5
10
15

Gula
20
25
30

Sample gula

23 %

1,369

Dari tabel data hasil pengamatan diatas digunakan sampel gula dengan konsentrasi
persen larutan gula yang berbeda yaitu: Konsetrasi larutan yang digunakan 5%, 10%, 15%,

20%, 25%, 30%. Didapat hasil pembacaan dan indeks bias yang berbeda - beda. Semakin
besar konsentrasinya semakin besar pula hasil pembacaan dan indeks biasnya. Aquades
digunakan sebagai kontrol karena indeks biasnya 1,3330 dan untuk hasil pembacaannya
adalah 0.

Kurva hubungan indeks bias gula terhadap konsentrasi :

Kurva larutan gula

Konsentrasi
(%)
30

y = 615.67x - 819.78
R = 0.9972

25
20
15
10
5
0
1.335

1.34

1.345

1.35

1.355

1.36

1.365

1.37

1.375

1.38

1.385

Gambar 2. Kurva hubungan antara indeks bias dan larutan gula


Dapat dilihat pada gambar 2, Dari hasil uji refraktometri larutan guladidapat
tingkat ketelitian 0,9972 . Hasil yang didapat ternyata cukup linear. Hal ini dikarenakan
nilai R2 yang didapat mendekati 1. Selain itu didapati pula persamaannya yaitu y =
615,67x 819,78. Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap sampel yang yang belum
diketahui konsentrasi gulanya. Indeks bias yang didapat dimasukkan dalam persamaan
sebagai nilai x. Kemudian didapatkan nilai y sebagai kosentrasi dari larutan tersebut.
Contoh perhitungan sample gula dengan indeks bias 1,357 , maka
y = 615,67x 819,78
y = 615,67(1,369) 819,78
X = 23,07% berat

Dari pengamatan dan perhitungan terdapat perbedaan hasil hal ini di karenakan
beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat ketelitian, diantaranya :

Kontaminasi pada pemakaian pipet

Pembacaan skala pada alat refraktometer yang kurang tepat

Pembersihan alat refraktometer kurang bersih sehingga mempengaruhi hasil


pengukuran selanjutnya

penimbangan bahan pada saat pembuatan larutan gula


Sedangkan hubungan indeks bias dan konsentrasi larutan gula berbanding

lurus,hal ini di karenakan semakin besar nilai konsentrasi larutan semakin besar pula
nilai indeks biasnya.

VI.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan percobaan ini adalah sebagai
berikut :

1.

Hubungan indeks bias dengan kosentrasi larutan, semakin besar konsentrasi suatu
larutan garam atau gula, semakin besar pula hasil pembacaannya dan indeks bias

2.

Konsentrasi sampel larutan garam adalah 0.673 M

3.

Konsentrasi larutan gula adalah 3,42 M

VII.

DAFTAR PUSTAKA

1. Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Bina Rupa Aksara,
Jakarta.
2. Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia analitik Dasar. Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama.Jakarta
3. Khopkar, S.M. 2003.Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas
Indonesia(UI-Press). Jakarta.
4. Underwood, A.L. dan R.A. Day. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Penerbit
Erlangga.Jakarta
5. Lewis, M., dan G Waller. 1987. Thinking Chemistry, Oxford University Press.

VIII.

APPENDIKS

Persen Berat (% w/w)


Persen berat menyatakan jumlah gram berat zat terlarut dalam 100 gram larutan.
Sampel Larutan gula 23%, berarti dalam 100 gram larutan gula terdapat :

(23/100) x 100 gram gula = 23 gram gula

(100 23) gram air = 77 gram air

Reaksi :
C12H22O 11(s) + H2O (l) C12H22O11 (aq) + H2O (aq)
Mr

= 12 Ar C + 22 Ar H + 11 Ar O
= 12 x 12 + 22 x 1 + 11 x 16
= 342 gr/mol

Molaritas adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan. Rumus Molaritas
adalah :

(23/342) mol
0,1 lt

0,673 M

Sampel Larutan garam 20%, berarti dalam 100 gram larutan garam terdapat :

(20/100) x 100 gram garam = 20 gram garam

(100 20) gram air = 80 gram air

Reaksi :
NaCl(s) + H2O (l) Na+(aq) + Cl- (aq) + H2O (aq)
Mr

= Ar Na + Ar Cl
= 23 + 35,5
= 58,5 gr/mol

(20/58,5)mol = 3,42 M
0,1 lt