Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Latihan fisik adalah pergerakan tubuh yang dilakukan otot dengan terencana dan berulang
yang menyebabkan peningkatan pemakaian energi dengan tujuan memperbaiki kebugaran fisik
(Pedriatics, 1994). Defenisi lain, latihan fisik atau exercise adalah sub kelompok aktifitas fisik
berupa gerakan tubuh yang terencana, terstruktur dan repetitive (berulang) untuk memperbaiki
atau memulihkan satu atau lebih komponen kebugaran fisik (Halliwell and Whiteman, 2004).

Aktivitas fisik sangat dianjurkan untuk program preventif dan rehabilitatif dalam upaya
menjaga dan meningkatkan kesehatan terutama kesehatan jantung (Foss, 2006 cit. Flora,
2011).
Jantung merupakan organ yang berperan besar dalam aktivitas fisik. Selama hidup
jantung berkontraksi dan untuk mempertahankan fungsi jantung dalam berbagai beban maka
perlu tersedia oksigen dan substrat terus-menerus. Pada keadaan aerobik miokardium
membutuhkan oksigen lebih banyak dibandingkan organ lain. Peningkatan kebutuhan
oksigen pada saat aktivitas fisik berakibat pula pada peningkatan hantaran oksigen di jantung.
Otot jantung menghasilkan lebih dari 90% energinya dari respirasi mitokondria. Jantung
mengkonsumsi lebih banyak energi dibandingkan organ lain untuk memenuhi kebutuhan
energinya jantung mengubah energi kima yang tersimpan didalam asam lemak dan glukosa
ke dalam energi mekanik berupa interaksi aktin-miosin miofibril (Heineman, 1990;
Neubauer,2007)
Metabolisme

energi

membutuhkan perantara,

otot

jantung

sangat

kompleks.

Proses

metabolismenya

diantaranya yaitu creatine kinase (CK) yang berfungsi dalam

mekanisme ulang alik energi (energy Shuttle) (Bessman, 1981; Ingwall,2002). CK terdapat
dalam jumlah yang bervariasi pada otot jantung dan skelet, CK mengkatalisis dua per tiga

creatine di jantung menjadi fosfocreatine (PCr). Dalam kondisi hipoksia dan kelebihan beban
kerja otot jantung dapat mengakibatkan penurunan aktivitas CK di jaringan. Beberapa
penelitian yang mengevaluasi aktivitas CK setelah aktivitas fisik didapatkan bahwa, terdapat
perbedaan akitvitas CK yang nyata sesuai dengan tingkat aktivitas fisik. Pada aktivitas fisik
yang membutuhkan kontraksi otot isometrik puncak aktivitas serum CK terjadi lebih dini
yaitu 24-48 jam setelah aktivitas fisik (Kirwan et al, 1986 ; Graves et al, 1987), sedangkan
pada aktivitas fisik yang membutuhkan kontraksi otot eksentrik puncak aktivitas serum CK
terjadi 3-7 hari setelah aktivitas fisik (Smith et al, 1994;Clarckson and Tremblay, 1988).
Penelitian yang dilakukan oleh Flora ( 2011) didapatkan bahwa, pada kelompok tikus
yang diberi beban aktivitas fisik aerobik dan anaerobik terjadi penurunan terbesar kadar CK
otot jantung pada hari ketiga aktivitas fisik, pada kelompok anaerobik hari kesepuluh terjadi
kembali penurunan kadar CK hal ini kemungkinan disebabkan aktivitas fisik anaerobik yang
diberikan tanpa periode hari istirahat menimbulkan kelebihan beban kerja otot jantung. Pada
aktivitas fisik anaerobik CK sangat diperlukan dalam proses penyediaan energi sebaliknya,
pada aktivitas fisik aerobik CK tidak diperlukan dalam proses penyadian energi. Dibidang
olahraga CK digunakan sebagai petanda untuk mendeteksi cedera dan kelebihan beban kerja
otot (Totsuka et al, 1996).
Apabila terjadi peningkatan beban kerja jantung, maka akan direspon melalui
stimulasi sistem saraf simpatis dan RAA ( renin angiotensin aldosteron), yang tujuannya
mempertahankan perfusi jaringan. Akan tetapi hal ini justru memperberat kerja jantung,
sehingga jantung berada dalam keadaan vicious cycle. Jantung mulai mengalami disfungsi
dan peregangan dinding ventrikel yang akan dikompensasi dengan hipertropi. Salah satu
respon spesifik jantung terhadap stress kardia pada tingkat seluler dan molekuler adalah
peningkatan sintesis BNP (B-type natriuretic peptide) yang berperan dalam membantu
jantung menghadapi beban yang meningkat. Diketahui bahwa peningkatan konsentrasi BNP

dalam plasma sesuai dengan beratnya gangguan fungsi jantung. Disamping itu diketahui
bahwa BNP mempunyai efek sitoproteksi dan anti-iskemia pada jantung (Ferdinal, 2009;
Maurellet, 2008; Yip,2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Ferdinal (2009) pada tikus yang dinduksi hipoksia
sistemik kronik didapatkan terjadi peningkatan mRNA BNP secara bermakna pada otot
jantung. Peningkatan tersebut terjadi secara berangsur sampai hari ke-14 perlakuan
selanjutnya terjadi peningkatan yang lebih tinggi pada hari ke-21. Hal ini menunjukkan
bahwa pada hari ke-21 telah terjadi gangguan fungsi jantung berat. Begitu juga penelitian
yang dilakukan oleh Suo et al (2002), yang memberikan perlakuan beban berlebih tekanan
pada jantung tikus dengan menggunakan infus angiotensin II hasilnya terjadi kenaikan BNP
plasma yang disertai dengan peningktan konsentrasi mRNA BNP sebesar 5,2 kali dibanding
kontrol. Peningkatan BNP plasma terjadi pada keadaan iskemia sebagai petanda bahwa
jantung sudah tidak mampu lagi beradaptasi secara fisiologis terhadap kelebihan beban yang
diberikan.
Di bidang olahraga aktivitas fisik merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian
mendadak pada atlet. Penelitian retrospektif atas data kematian atlet dari tahun 1990-1997
yang dilakukan di Norwegia menunjukkan bahwa dari 23 kasus kematian mendadak terjadi
pada usia antara 17-34 tahun dengan penyebab kematian terbanyak adalah infark miokard
(48%) (Solberg, 2010). Belum diketahui apakah beban berlebih yang diberikan pada atlet
pada saat latihan maupun pertandingan yang menyebabkan terjadinya kerusakan otot jantung.
Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar dasar mekanisme cidera pada otot
jantung yang disebabkan oleh aktivitas fisik dapat diketahui dengan jelas. Pada penelitian ini
digunakan hewan coba, tikus, untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang kerusakan
otot jantung akibat aktivitas fisik.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan rumusan masalah yaitu, apakah ada
pengaruh aktivitas fisik anaerobik tanpa hari istirahat terhadap kadar BNP dan CK otot
jantung tikus wistar.

1.3 Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik anaerobik tanpa hari istirahat terhadap
kadar BNP dan CK otot jantung tikus wistar
2. Tujuan Khusus
2.1 Untuk mengukur kadar BNP otot jantung sebelum aktivitas fisik anerobik tanpa
hari istirahat
2.2 Untuk mengukur kadar BNP otot jantung sesudah aktivitas fisik anerobik tanpa
hari istirahat
2.3 Untuk membandingkan kadar BNP otot jantung sebelum dan sesudah aktivitas
fisik anerobik tanpa hari istirahat
2.4 Untuk mengukur kadar CK otot jantung sebelum aktivitas fisik anerobik tanpa
hari istirahat
2.5 Untuk mengukur kadar CK otot jantung sesudah aktivitas fisik anerobik tanpa
hari istirahat
2.6 Untuk membandingkan kadar CK otot jantung sebelum dan sesudah aktivitas fisik
anerobik tanpa hari istirahat
2.7 untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik anaerobik tanpa hari istirahat
terhadap kadar BNP dan CK otot jantung

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang kerusakan
jantung akibat beban aktivitas fisik yang berlebihan.
1.4.2 Manfaat praktis
Di bidang kesehatan olahraga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan
dalam mencegah terjadinya kerusakan otot jantung yang disebabkan oleh latihan
fisik maksimal.

1.5 Kerangka Teori


Aktivitas fisik anaerobik tanpa hari istirahat

konsumsi O2

Hipoksia

Respon Adaptif

Stabilitas HIF-1

Peralihan metabolisme
dari aerob ke anaerob

Respon Akut

Inhibisi kanal ion-K

Stimulasi
kardiorepisratorik

Beban Jantung
Peningkatan Laktat

Kadar CK

Disfungsi ventrikel & wall


stress

BNP

1.6 Kerangka Konsep


Aktivitas
fisikfisik
anaerobik
tanpa
Aktivitas
maksimal
hari istirahat
Konsumsi oksigen meningkat

Pe

beban kerja otot jantung

Pe

kontraksi sel otot Jantung


(Hipertropi

Disfungsi ventrikel & wall stress

Peralihan
metabolisme aerob ke
anaerob

Pe

asam laktat

Kadar CK

Kadar BNP

1.7 Premis-premis
1. Penelitian yang dilakukan oleh Flora ( 2011) didapatkan bahwa pada aktivitas fisik
aerobik dan anaerobik terjadi penurunan terbesar kadar CK otot jantung pada hari
ketiga aktivitas fisik, pada kelompok anaerobik hari kesepuluh terjadi kembali
penurunan kadar CK hal ini kemungkinan disebabkan aktivitas fisik anaerobik yang
diberikan tanpa periode hari istirahat menimbulkan kelebihan beban kerja otot
jantung.
2. Pada aktivitas fisik yang membutuhkan kontraksi otot isometrik puncak aktivitas
serum CK terjadi lebih dini yaitu 24-48 jam setelah aktivitas fisik (Kirwan et al, 1986
; Graves et al, 1987)

3. Pada aktivitas fisik yang membutuhkan kontraksi otot eksentrik puncak aktivitas
serum CK terjadi 3-7 hari setelah aktivitas fisik (Smith et al, 1994;Clarckson and
Tremblay, 1988).
4. Penelitian yang dilakukan oleh Ferdinal (2009) menyatakan bahwa pada hipoksia
sistemik kronik didapatkan terjadi peningkatan mRNA BNP secara bermakna pada
otot jantung.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Suo et al (2002), yang memberikan perlakuan beban
berlebih tekanan pada jantung tikus dengan menggunakan infus angiotensin II
hasilnya terjadi kenaikan BNP plasma yang disertai dengan peningkatan konsentrasi
mRNA BNP sebesar 5,2 kali dibanding kontrol.

1.8 Hipotesis
Ho : Tidak ada pengaruh aktivitas fisik anaerobik tanpa hari istirahat terhadap kadar
BNP dan CK otot jantung tikus wistar
Ha : Ada pengaruh aktivitas fisik anaerobik tanpa hari istirahat terhadap kadar BNP
dan CK otot jantung tikus wistar