Anda di halaman 1dari 9

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


Mengetahui dan mengenali bentuk eksentrik untuk anyaman dasar.
Mengetahui dan mempelajari cara penyetelan mulut lusi anyaman polos pada ATM
eksentrik.
Mengetahui dan mempelajari cara penyetelan mulut lusi anyaman keper dengan 2 rol
dan 4 injakan pada ATM eksentrik.
Mengetahui penggunaan ATM eksentrik untuk 2 rol dan 4 injakan.

II.

TEORI DASAR
Dalam pertenunan dengan alat tenun mesin, alat pembentuk mulut lusi ada tiga
macam, yaitu :

Gerakan langsung dari gun dengan perantaraan eksentrik

Gerakan tidak langsung dari gun dengan perantaraan Schaftmachine (dobby)

Gerakan dengan jaquard


Eksentrik, disebut juga cams dan mempunyai poros yang berputar terus menerus

dengan kecepatan yang tetap. Kalau cams berputarnya tidak terus-menerus disebut
tappet. Biasanya cam digunakan untuk merubah gerakan berputar menjadi gerakan
bolak-balik, konstruksi dari cam biasanya dilengkapi dengan bagian lain yang dapat
memberikan gerakan tertentu kepada bagian lain yang biasanya disebut follower.
Follower biasanya digerakkan oleh tenaga dalam dari cam sedangkan untuk
pengembaliannya biasanya dipergunakan tenaga luar misalnya per (spring).
Pada gerakan gun yang langsung, mulut lusi dibentuk oleh eksentrik dengan
perantaraan injakan-injakan yang dihubungkan dengan gun-gun. Karena bentuk
eksentrik yang tidak bundar itu, injakan-injakan berturut-turut gun-gun akan membuat
gerakan-gerakan naik dan turun. Pada tiap pembentukan mulut lusi ada pakan yang
diluncurkan didalam mulut dan diketek. Hal ini terjadi dalam waktu poros utama
berputar satu kali.
Untuk menenun suatu anyaman, kita harus menyusun pembentukan-pembentukan
mulut lusi yang sesuai dengan satu raport anyaman dalam waktu poros eksentrik
berputar satu kali. Ini berarti bahwa eksentrik tersebut hanya berputar sebagian tiap
pakan diluncurkan. Sedangkan lebih besar raport anyamannya, lebih kecil bagan
eksentrik yang berputar. Bentuk eksentrik ditentukan oleh factor-faktor sebagai berikut :

a. Anyaman
Dalam sistem pembentukan mulut, bagian tinggi eksentrik menurunkan atau
menaikkan gun, dan bagian rendah menyebabkan hal yang sebaliknya. Jadi naik
turunnya gun yang diatur sesuai dengan anyaman, atau raport anyaman
mempengaruhi bentuk eksentrik.
b. Gerakan gun
Gerakan gun naik atau turun dari pembukaan mulut ke bukaan mulut berikutnya
dapat beraturan atau tidak beraturan. Pada gerakan gun yang beraturan, gun-gun
bergerak dari permulaan sampai akhir dengan kecepatan yang tetap. Untuk tidak
terjadi sentakan pada lusi, masa ini dipergunakan strijkboom yang dapat bergerak,
sehingga tegangan lusi dapat dikatakan sama. Pada gerakan yang tidak teratur, gungun mulai bergerak perlahan-lahan dan bertambah sampai ketengah-tengah
mulut/middenpositie, kemudian kecepatannya berkurang lagi sampai terbentuknya
mulut lusi. Macam ini dipergunakan pada strijkboom tetap.
c. Bentuk mulut lusi
Pada mulut lusi terbuka, garis hubungan dalam eksentrik antara dua tempat yang
tinggi atau dua tempat yang rendah berjalan sentries, tetapi pada mulut tertutup garis
hubungan antara dua tempat yang tinggi dari eksentrik berjalan kebawah sedang
garis hubungan antara dua tempat yang rendah berjalan keatas. Ini menyebabkan
gun-gun dapat dikembalikan pada satu datar (mulutnya tertutup). Tinggi mulut
mempengaruhi juga besar eksentrik.
d. Waktu pemberhentian gun (waktu pakan diluncurkan)
Saat teroponr diluncurkan, selama itu gun harus berhenti sebab mulut lusi tidak
boleh berubah. Kalau mulut lusi berubah peluncuran pakan tidak akan lancar. Pada
mesin tenun satu kali gun-gun berhenti saat peluncuran pakan selama seperempat
putaran poros utama, dan pada mesin tenun dua kali lebar gun-gun berhenti selama
sepertiga putaran poros utama.
e. Gerakan eksentrik
Eksentrik yang gerakannya diputar oleh roda-roda gigi, kurva eksentrik terdiri dari
garis melengkung, sedangkan kalau gerakannya terjadi oleh stift dan sterrad, yang
menghasilkan gerakan terhenti-henti tappet mempunyai bentuk yang lebih
meruncing keatas dan kebawah.

Prinsip dasar penyetelan Alat Tenun Mesin ini, yaitu :

Mulut lusi diusahakan sekecil-kecilnya, sesuai dengan sifa bahan dan besarnya
teropong yang dipakai.

Pada saat terjadi pembentukan mulut lusi, jarak antara dinding teropong atas dengan
lapisan atas mulut lusi 6 mm. Sedangkan jarak antara lapisan mulut lusi dengan
landasan lade 0,2 2 mm.

Pada saat poros engkol dititik mati belakang (TMB), jarak antara tutup sisir dengan
gun/heald frame adalah 10 15 mm.

Gun depan dikaitkan dengan rol yang diameternya kecil dan dihubungkan dengan
injakan panjang atau eksentrik yang berjari-jari kecil, sedangkan gun belakang
dikaitkan pada rol yang diameternya lebih besar dan dihubungkan dengan eksentrik
berjari-jari besar (injakan pendek).

Poros utama disetel 5 0 - 10 0 dari titik mati atas (TMA).

III. ALAT DAN BAHAN


1. Alat tenun mesin (ATM) yang berisi benang
2. Kunci pas
3. Meteran
4. Eksentrik 2 injakan
5. Palu
IV. LANGKAH KERJA
Penyetelan pembentukan mulut lusi.
1. Penyetelan rol gantungan gun.
2. Pertama-tama buat kedudukan poros engkol pada keadaan 100 sebelum titik
mati atas (TMA)
3. Penyetelan eksentrik/cam.
Sejajarkan cam yang satu dengan yang lainnya dengan menempelkan injakan pada
cam. Pukul bagian yang lebih tinggi dengan palu jika keadaan cam tidak sejajar.
4. Penyetelan rangka gun.
Ikatkan gun dengan rol, dengan ketentuan antara gun satu dengan yang lainnya
sejajar. Dengan ketinggian lusi = 1/3 ruang sisir.
5. Penyetelan gun dengan injakan.
Ikatkan gun dengan injakan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

V.

PENGOLAHAN DATA

Penyetelan Mulut Lusi Anyaman Polos

Penyetelan Mulut Lusi Anyaman Keper


Rencana Tenun

Posisi Cam Eksentrik (Sesuai dengan anyaman diatas)


LUSI 2

LUSI 1

LUSI 3

LUSI 4

Puli 2
14,2 = 195T
Poros
Engkol (PE)
T1 = 40
T4 = 30

T2 = 80

T3
T5

Poros
Pukulan (PP)

Poros
Tappet (PT)
Puli 1
7,96 = 21T

Cam
Eksentrik

T6 = 55

RPM PE = RPM x

= 1200 x

= 672,68

RPM PP = RPM PE x

= 672,68 x

= 336,34

RPM PT = RPM PP x

= 336,34 x

= 183,46

VI. PERTANYAAN DAN JAWABAN


1.

Gambarkan jalannya benang lusi beserta peralatan yang dilaluinya!

2.

Buktikan bahwa tegangan benang lusi pada gun belakang lebih besar daripada
benang lusi pada gun depan !
gun

Kain
Benang

Dari gambar diatas bisa dilihat bahwa gun yang paling belakang akan mengangkat
lusi lebih tinggi daripada gun depan, ini disebabkan karena gun harus membuat
muluit lusi yang sejajar dan bersih. Dengan pengangkatan yang tambah tinggi
maka secara otomatis akan menambah tegangan yang ditarik.

3.

Sebutkan syarat-syarat mulut lusi yang baik ?


Jawab :
a. Mulut lusi bila dilihat dari samping harus terlihat satu benang, padahal itu
adalah banyak benang yang sama sejajar
b. Mulut lusi harus bisa dilewati oleh media pengantar pakan

c. Mulut lusi tidak boleh menyebabkan lusi menjadi putus

4.

Sebutkan penyebab benang lusi putus pada proses pembukaan mulut lusi !
Jawab :
- Ikatan gun dengan rol yang tidak sejajar, antara gun yang satu dengan yang
lainnya.
- Ketinggian benang lusi yang tidak memenuhi syarat (1/3 ruang sisir).
- Penggulungan lusi yang terlalu tegang.
- Posisi engkol/poros engkol yang tidak sesuai saat proses awal penyetelan
mulut lusi.

5.

Kalau mulut lusi terlalu rendah apa akibatnya dan bagaimana cara mengatasinya !
Jawab :
-

Mulut yang terlalu tinggi bisa menyebabkan tabrakan antara teropong dan lusi
maka akan terjadi cacat lusi karena putus, lalu juga teropong tidak sampai
Cara mengatasinya yaitu dengan menyetel penarikan gun saat kebawah agar
mulut lusi turun.

- Mulut yang terlalu rendah akan terjadi saling gesek antara datar luncur dengan
benang lusi, akibatnya lama-kelamaan lusi akan putus.
Cara mengatasinya yaitu dengan membuat tinggi gun agar pada saat membuat
mulut tidak terlalu rendah. Penyetingan jarak antara lusi paling bawah dengan
dasar luncur 0,2 2 mm.
VII. DISKUSI
Pada praktikum penyetelan mulut lusi ini praktikan mengalami kesulitan pada
saat mengatur kesejajaran gun yang di ikatkan dengan rol, karena pada saat
melakukannya gun sulit untuk sejajar satu dengn yang lainnya. Selain itu pengisian
ketinggian benang lusi dengan ketentuan 1/3 ruang sisir sulit untuk terpenuhi, karena
tegangan dari beam lusi kurang, sehingga tinggi lusi tidak memenhui standar (tinggi
lusi mencapai rang sisir). Rol pada injakan yang sudah tidak pas juga mengakibatkan
pengikatan antara rol dengan gun sulit menemui tempat yang pas yang dapat membuat
mulut lusi terbuka lebar. Sehingga mulut lusi yang terbentuk kurang bersih.

VIII. KESIMPULAN
Mulut lusi yang baik adalah mulut lusi yang bersih, dimana pada saat peluncuran pakan
tidak mengalami hambatan. Mulut lusi yang baik dapat diperoleh dengan beberapa
penyetelan yang benar, yaitu :
-

Penyetelan rol dengan injakan, eksentrik. Rol yang depan digunakan rol yang
kecil, injakan yang panjang dan eksentrik yang kecil dan untuk rol belakang
digunakan rol yang lebih besar, injakan pendek dan eksentrik yang lebih besar
diameternya.

Penyetelan jarak antar gun

Penyetelan jarak antara gun dengan tutup sisir

Penggunaan gun yang lebih tipis, hal ini ditujukan agar jarak antar gun dapat lebih
rapat.

Penyetelan tinggi rendahnya gun akan mempengaruhi terhadap hasil produksi.