Anda di halaman 1dari 24

Clinical Science Session

PEMERIKSAAN FORENSIK PADA KASUS PERKOSAAN


DAN PENCABULAN

Disusun Oleh:
Ayu Anissa Bahri (0910313246)

Preseptor :
dr. H. Zulhanif Nazar, Sp.OG (K)

BAGIAN ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUD. Dr. M. HANAFIAH BATUSANGKAR
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunian-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Clinical Science
Session Pemeriksaan Forensik Pada Kasus Perkosaan dan Pencabulan. Clinical
Science Session ini penulis ajukan untuk memenuhi tugas dalam mengikuti
kepaniteraan klinik di bagian Kebidanan RSUD. Prof. Dr. M. Hanafiah
Batusangkar, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pada kesempatan ini,
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada dr. H. Zulhanif Nazar,
Sp.OG (K) sebagai pembimbing, serta semua pihak yang telah membantu
penulisan Clinical Science Session ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Clinical Science Session ini masih
memiliki banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, baik dari cara
penulisan, penyusunan, penguraian, maupun isinya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.
Harapan penulis Clinical Science Session ini dapat bermanfaat bagi
peningkatan pemahaman di bidang kebidanan, khususnya tentang Pemeriksaan
Forensik Pada Kasus Perkosaan dan Pencabulan.
Padang, November 2014
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.1

Latar Belakang
Kekerasan seksual merupakan kejahatan yang universal. Kejahatan ini

dapat ditemukan diseluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat, tidak


memandang usia maupun jenis kelamin.1
Besarnya insiden kejahatan seksual yang dilaporkan di setiap negara
berbeda-beda. Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2006 (National
Violence against Women Survey/NVAWS) melaporkan bahwa 17,6% dari
responden wanita dan 3% dari responden pria pernah mengalami kekerasan
seksual, beberapa diantaranya bahkan lebih dari satu kali sepanjang hidup mereka.
Dari jumlah tersebut hanya sekitar 25% yang pernah membuat laporan polisi.1
Di Indonesia, menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan) sejak tahun 1998 sampai 2011 tercatat 93.960
kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di seluruh Indonesia. Dengan
demikian rata-rata ada 20 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual tiap
harinya. Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa lebih dari 3/4 dari jumlah
kasus tersebut (70,11%) dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan erat
dengan korban. Terdapat dugaan kuat bahwa angka-angka tersebut merupakan
fenomena gunung es, yaitu jumlah kasus yang dilaporkan jauh lebih sedikit
daripada jumlah kejadian sebenarnya di masyarakat. Banyak korban enggan
melapor, mungkin karena malu, takut disalahkan, mengalami trauma psikis, atau
karena tidak tahu harus melapor ke mana.2
Jumlah kasus kekerasan seksual di Indonesia (dan seluruh dunia) semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Korban-korban kekerasan seksual tentunya ingin
mencari keadilan bagi dirinya. Salah satu upayanya adalah dengan membuat
laporan kepolisian, dengan harapan kasus yang mereka alami dapat terungkap.
Komponen penting dari pengungkapan kasus kejahatan seksual adalah visum et

repertum yang dibuat oleh dokter. Dokter, sebagai pihak yang dianggap ahli
mengenai tubuh manusia, tentunya memiliki peran yang besar dalam pembuatan
visum et repertum dan membuat terang suatu perkara bagi aparat penegak
hukum.3
Visum et repertum dapat memperjelas perkara dengan pemaparan dan
interpretasi bukti-bukti fisik kekerasan seksual. Visum et repertum memuat
tentang hasil pemeriksaan medis mengenai bukti-bukti kekerasan seksual yang
terdapat pada tubuh korban berserta interpretasinya, dapat membantu membuat
terang perkara bagi aparat penegak hukum. Karena itu, hendaknya setiap dokter,
baik yang berada di kota besar maupun didaerah terpencil, baik yang berpraktik di
rumah sakit maupun di tempat praktik pribadi memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang mumpuni dalam melakukan pemeriksaan korban kekerasan
seksual.3
Mengingat pentingnya peran dokter dalam pembuktian kasus kejahatan
seksual, penulis tertarik mengetahui pemeriksaan forensik yang diperlukan pada
kasus kejahatan seksual, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat
keterangan medis untuk kasus tersebut.

1.1.2

Tujuan Penulisan
Referat ini bertujuan untuk membhas pemeriksaan forensik pada kasus

pemerkosaan dan pencabulan.


1.1.3

Metode Penulisan
Metode penulisan referat ini adalah metode kepustakaan yang merujuk

kepada berbagai literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kejahatan Seksual
Kejahatan seksual adalah setiap penyerangan yang bersifat seksual
terhadap perempuan, baik telah terjadi persetubuhan ataupun tidak, dan tanpa
memperdulikan hubungan antara pelaku dengan korban. Kekerasan seksual di
definisikan sebagai perilaku motivasi seksual dengan paksaan yang melanggar
privasi walaupun mendapat perlawanan.
2.1.1 Perkosaan
2.1.1.1 Definisi
Pemerkosaan

dalam

kosakata

bahasa

Indonesia

yang

berarti

menundukkan dengan kekerasan, memaksa dengan kekerasan atau menggagahi.


Berdasarkan pengertian tersebut maka perkosaan mempunyai makna yang luas
yang tidak hanya terjadi pada hubungan seksual (sexual intercouse) tetapi dapat
terjadi dalam bentuk lain seperti pelanggaran hak asasi manusia yang lainnya.4
Menurut Soetardjo Wignjo Soebroto yang dimaksud dengan Pemerkosaan
adalah suatu usaha melampiaskan nafsu seksual seorang laki-laki terhadap

seorang perempuan yang menurut moral atau hukum yang berlaku adalah
melanggar. Dalam pengertian demikian bahwa apa yang dimaksud Pemerkosaan
di satu pihak dapat dilihat sebagai suatu perbuatan (yaitu perbuatan seorang secara
paksa hendak melampiaskan nafsu seksualnya) dan dilain pihak dapat dilihat
sebagai suatu peristiwa pelanggaran norma serta tertib sosial.4
2.1.1.2 Tindak Pidana Perkosaan Dalam KUHP
Di Indonesia perkosaan didefinisikan secara yuridis sebagai melakukan
persetubuhan atau senggama dengan wanita yang bukan istrinya dengan disertai
adanya kekerasan maupun ancaman kekerasan. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 285
KUHP yang berbunyi : Barang siapa dengan kekerasan atau dengan ancaman
kekerasan memaksa seorang wanita yang bukan istrinya bersetubuh dengannya,
dihukum karena memperkosa, dengan pidana penjara selama lamanya 12
tahun. Berdasarkan pasal diatas, perkosaan di Indonesia digolongkan sebagai
tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh laki laki (male crime) terhadap
wanita yang bukan istrinya (extra marital crime) dengan persetubuhan yang harus
bersifat intravaginal coitus, dan disertai dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan. Hubungan seksual yang dilkukan secara oral maupun anal yang
disertai

dengan

kekerasan

maupun

ancaman

kekerasan

tidak

dapat

diklasifikasikan sebagai perkosaan melainkan sebagai perbuatan menyerang


kehormatan kesusilaan yang diatur dalam Pasal 289 KUHP.5
Berdasarkan rumusan tindak pidana Perkosaan dalam pasal 285 KUHP
tersebut, dapat diuraikan unsur-unsur tindak pidana perkosaan adalah sebagai
berikut:
a. Perbuatannya : memaksa
6

Yang dimaksud dengan perbuatan memaksa (dwingen) adalah perbuatan


yang ditujukan pada orang lain dengan menekan kehendak orang lain itu, agar
orang tersebut menerima kehendak orang yang menekan atau sama dengan
kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian ini pada intinya bahwa memaksa
berarti di luar kehendak dari seseorang atau bertentangan dengan kehendak
seseorang tersebut. Memaksa dapat dilakukan dengan perbuatan dan dapat juga
dilakukan dengan ucapan.4
b. Caranya : 1) dengan kekerasan 2) dengan ancaman kekerasan
Dalam Pasal 89 KUHP yang merumuskan tentang perluasan arti dari
kekerasan. Disebutkan: Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan
dengan menggunakan kekerasan. Dalam arrest Hoge Raad tanggal 5 Januari
1914 dan tanggal 18 Oktober 1915 mengenai ancaman kekerasan disyaratkan :
- Ancaman harus diucapkan dalam suatu keadaan yang demikian rupa, sehingga
dapat menimbulkan kesan pada orang yang diancam, bahwa yang diancamkan
tersebut benar-benar akan merugikan kebebasan pribadinya
- Pelaku memang telah ditujukan untuk menimbulkan kesan seperti yang
diancamkan
Antara kekerasan dengan ketidakberdayaan perempuan terdapat hubungan
kausal, dan karena tidak berdaya inilah maka persetubuhan dapat terjadi. Jadi
sebenarnya terjadinya persetubuhan pada dasarnya adalah akibat dari perbuatan
memaksa dengan menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan tersebut.4
c. Seorang wanita bukan istrinya
Mengenai wanita bukan istrinya, disini persetubuhan dilakukan terhadap
perempuan yang bukan istrinya. Ditentukannya hal tersebut karena perbuatan

bersetubuh dimaksudkan sebagai perbuatan yang hanya dilakukan antara suami


isteri dalam perkawinan.4

d. Bersetubuh
Menurut Kedokteran Forensik, persetubuhan didefinisikan sebagai suatu
peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat
lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi.4
Sedangkan Persetubuhan dengan Wanita di bawah umur diatur dalam pasal
287 ayat 1 yang berbunyi, Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di
luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa
umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum
waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun. 3
2.1.2

Pencabulan
Pencabulan merupakan kecenderungan untuk melakukan aktivitas seksual

dengan orang yang tidak berdaya seperti anak, baik pria maupun wanita, dengan
kekerasan maupun tanpa kekerasan. Pengertian pencabulan atau cabul dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai berikut: pencabulan adalah kata
dasar dari cabul, yaitu kotor dan keji sifatnya tidak sesuai dengan sopan santun
(tidak senonoh), tidak susila, bercabul: berzinah, melakukan tindak pidana asusila,
mencabul: menzinahi, memperkosa, mencemari kehormatan perempuan, film
cabul: film porno. Keji dan kotor, tidak senonoh (melanggar kesusilaan,
kesopanan).6

Pencabulan oleh Moeljatno dikatakan sebagai segala perbuatan yang


melanggar susila atau perbuatan keji yang berhubungan dengan nafsu ke
kelaminannya.7 Definisi yang diungkapkan Moeljatno lebih menitikberatkan pada
perbuatan yang dilakukan oleh orang yang berdasarkan nafsu kelaminanya, di
mana langsung atau tidak langsung merupakan perbuatan yang melanggar
susila dan dapat dipidana.
R. Soesilo memberikan penjelasan terhadap perbuatan cabul yaitu segala
perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji,
semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin.8F
2.2 Pemeriksaan Forensik Pada Kasus Perkosaan dan Pencabulan
Setiap pemeriksaan korban perkosaan untuk kepentingan pengadilan harus
berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban juga harus
diantar oleh polisi penyidik sehingga keutuhan dan originalitas barang bukti dapat
terjamin. Apabila korban tidak diantar oleh polisi penyidik, dokter harus
memastikan identitas korban yang diperiksa dengan mencocokkan antara identitas
korban yang tercantum dalam SPV dengan tanda identitas sah yang dimiliki
korban, seperti KTP, paspor, atau akta lahir. Catat pula dalam rekam medis bahwa
korban tidak diantar oleh polisi. Hal ini harus dilakukan untuk menghindari
kemungkinan kesalahan identifikasi dalam memeriksa korban.3
Secara umum tujuan pemeriksaan korban kekerasan seksual adalah untuk :
-

Melakukan identifikasi
Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan, dan waktu terjadinya, bila

mungkin;
Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan, termasuk tanda intoksikasi
narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA);

Menentukan pantas/tidaknya korban untuk dikawin, termasuk tingkat


perkembangan seksual; dan membantu identifikasi pelaku.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan korban

kekerasan seksual :
-

Lakukan pemeriksaan sedini mungkin setelah kejadian, jangan dibiarkan

menunggu terlalu lama.


Pada saat pemeriksaan, dokter harus didampingi perawat yang sama jenis

kelaminnya dengan korban (biasanya wanita) atau bidan.


Pemeriksaan harus dilakukan secara sistematis dan menyeluruh terhadap

seluruh bagian tubuh korban, tidak hanya terhadap daerah kelamin saja.
Catat dan dokumentasikan semua temuan, termasuk temuan negatif

Langkah-langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut :3


2.2.1. Anamnesis
Pada korban kekerasan seksual, anamnesis harus dilakukan dengan bahasa
awam yang mudah dimengerti oleh korban.Anamnesis dapat dibagi dalam
anamnesis umum dan khusus. Pada anamnesis umum dapat ditanyakan :
-

Umur atau tanggal lahir,


Status pernikahan,
Riwayat paritas dan/atau abortus,
Riwayat haid (menarche, hari pertama haid terakhir, siklus haid),
Riwayat koitus (sudah pernah atau belum, riwayat koitus sebelum dan/atau
setelah kejadian kekerasan seksual, dengan siapa, penggunaan kondom

atau alat kontrasepsi lainnya),


Penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA),
Riwayat penyakit (sekarang dan dahulu), serta
Keluhan atau gejala yang dirasakan pada saat pemeriksaan.
Pada anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian

kekerasan seksual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik, seperti:
What & How:

10

Jenis tindakan (pemerkosaan, persetubuhan, pencabulan, dan sebagainya),


Adanya kekerasan dan/atau ancaman kekerasan, serta jenisnya,
Adanya upaya perlawanan,
Apakah korban sadar atau tidak pada saat atau setelah kejadian,
Adanya pemberian minuman, makanan, atau obat oleh pelaku sebelum

atau setelah kejadian,


Adanya penetrasi dan sampai mana (parsial atau komplit),
Apakah ada nyeri di daerah kemaluan,
Apakah ada nyeri saat buang air kecil/besar,
Adanya perdarahan dari daerah kemaluan,
Adanya ejakulasi dan apakah terjadi di luar atau di dalam vagina,
penggunaan kondom, dan
kejadian,

misalnya

apakah

tindakan yang dilakukan korban setelah


korban

sudah

buang

air,

tindakan

membasuh/douching, mandi, ganti baju, dan sebagainya.


When:
-

Tanggal dan jam kejadian, bandingkan dengan tanggal dan jam melapor,

dan
Apakah tindakan tersebut baru satu kali terjadi atau sudah berulang.

Where:
-

Tempat kejadian, dan


Jenis tempat kejadian (untuk mencari kemungkinan trace evidence dari
tempat kejadian yang melekat pada tubuh dan/atau pakaian korban).

Who:
-

Apakah pelaku dikenal oleh korban atau tidak,


Jumlah pelaku,
Usia pelaku, dan
Hubungan antara pelaku dengan korban

2.2.2. Pemeriksaan Fisik


Saat melakukan pemeriksaan fisik, gunakan prinsip top-to-toe. Artinya,
pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis dari ujung kepala sampai ke
ujung kaki. Pelaksanaan pemeriksaan fisik juga harus memperhatikan keadaan

11

umum korban. Apabila korban tidak sadar atau keadaan umumnya buruk, maka
pemeriksaan untuk pembuatan visum dapat ditunda dan dokter fokus untuk lifesaving terlebih dahulu.3
Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan fisik umum dan khusus,
pemeriksaan umum meliputi :
-

Keadaan Umum :

keadaan emosional (tenang, sedih / gelisah)


Tanda vital
Periksa gigi-geligi (pertumbuhan gigi ke 7 & 8)
Pada persetubuhn oral, periksa lecet, bintik perdarahan /memar pada

palatum, lakukan swab pada laring dan tonsil


Perkembangan seks sekunder (pertumbuhan mammae, rambut axilla dan

rambut pubis)
Jika pada baju ada bercak mani (kaku), bila mungkin pakaian diminta,

masukkan dalam amplop


Tanda-tanda intoksikasi NAPZA, serta status lokalis dari luka-luka yang

Tingkat kesadaran, penampilan secara keseluruhan,

terdapat pada bagian tubuh selain daerah kemaluan.


Untuk mempermudah pencatatan luka-luka, dapat digunakan diagram tubuh
seperti pada gambar

12

Gambar 1 Diagram tubuh manusia untuk pencatatan luka3

Pemeriksaan fisik khusus bertujuan mencari bukti-bukti fisik yang terkait


dengan tindakan kekerasan seksual yang diakui korban, prosedurnya meliputi : 3,9
-

Posisi litotomi
Periksa daerah pubis (kemaluan bagian luar), yaitu adanya perlukaan pada

jaringan lunak atau bercak cairan mani;


Periksa luka-luka sekitar vulva, perineum dan paha (adanya perlukaan

pada jaringan lunak, bercak cairan mani)


Jika ada bercak, kerok dengan skalpel dan masukkan dalam amplop
Rambut pubis disisir, rambut yang lepas dimasukkan dalam amplop

13

Jika ada rambut pubis yang menggumpal, gunting dan masukkan dalam

amplop, cabut 3-10 lembar rambut dan masukkan dalam amplop lain
Labia mayora dan minora (bibir kemaluan besar dan kecil), apakah ada

perlukaan pada jaringan lunak atau bercak cairan mani;


Vestibulum dan fourchette posterior (pertemuan bibir kemaluan bagian

bawah), apakah ada perlukaan;


Hymen (selaput dara), catat bentuk, diameter ostium, elastisitas atau
ketebalan, adanya perlukaan seperti robekan, memar, lecet, atau hiperemi).
Apabila ditemukan robekan hymen, catat jumlah robekan, lokasi dan arah
robekan (sesuai arah pada jarum jam, dengan korban dalam posisi
litotomi), apakah robekan mencapai dasar (insersio) atau tidak, dan adanya

perdarahan atau tanda penyembuhan pada tepi robekan;


Swab daerah vestibulum, buat sediaan hapus

Gambar 2. Robekan Hymen9


-

Vagina (liang senggama), cari perlukaan dan adanya cairan atau lendir;
Serviks dan portio (mulut leher rahim), cari tanda-tanda pernah melahirkan

dan adanya cairan atau lendir;


Uterus (rahim), periksa apakah ada tanda kehamilan;
Anus (lubang dubur) dan daerah perianal, apabila ada indikasi berdasarkan
anamnesis;

14

Gambar 3. Laserasi anal9


Mulut, apabila ada indikasi berdasarkan anamnesis,
Daerah-daerah erogen (leher, payudara, paha, dan lain-lain), untuk mencari

bercak mani atau air liur dari pelaku; serta


Tanda-tanda kehamilan pada payudara dan perut
Tanda kehilangan kesadaran (pemberian obat tidur / bius) needle marks
indikassi pemeriksaan darah dan urin
Kesulitan utama yang umumnya dihadapi oleh dokter pemeriksa adalah

pemeriksaan selaput dara. Bentuk dan karakteristik selaput dara sangat bervariasi.
Pada jenis-jenis selaput dara tertentu, adanya lipatan-lipatan dapat menyerupai
robekan. Karena itu, pemeriksaan selaput dara dilakukan dengan traksi lateral dari
labia minora secara perlahan, yang diikuti dengan penelusuran tepi selaput dara
dengan lidi kapas yang kecil untuk membedakan lipatan dengan robekan.Pada
penelusuran tersebut, umumnya lipatan akan menghilang, sedangkan robekan
tetap tampak dengan tepi yang tajam.3
1.

Penetrasi penis ke dalam vagina dapat mengakibatkan robekan selaput


dara atau bila dilakukan dengan kasar dapat merusak selaput lendir daerah
vulva dan vagina ataupun laserasi, terutama daerah posterior fourchette.
Robekan selaput dara akan bermakna jika masih baru, masih menunjukan

15

adanya tanda kemerahan disekitar robekan. Pada beberapa korban ada


yang memiliki selaput dara yang elastis sehingga tidak mudah robek.
Pembuktian persetubuhan akan menghadapi kendala jika : korban dengan
selaput dara yang sebelumnya telah robek lama, korban diperiksa sudah
lama, korban yang memiliki selaput dara elastis, penetrasi yang tidak
lengkap.10

Gambar 4. Beragam jenis selaput dara2

16

Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokumentasi yang baik sangat penting.


Selain melakukan pencatatan dalam rekam medis, perlu dilakukan pemotretan
bukti-bukti fisik yang ditemukan. Foto-foto dapat membantu dokter membuat
visum et repertum. Dengan pemotretan, korban juga tidak perlu diperiksa terlalu
lama karena foto-foto tersebut dapat membantu dokter mendeskripsi temuan
secara detil setelah pemeriksaan selesai.

2.2.3. Pemeriksaan Penunjang


Pada kasus kekerasan seksual, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
sesuai indikasi untuk mencari bukti-bukti yang terdapat pada tubuh korban.
Pembuktian persetubuhan yang lain adalah dengan memeriksa cairan mani di
dalam liang vagina korban. Dari pemeriksaan cairan mani akan diperiksa sel
spermatozoa dan cairan mani sendiri.5
a.
Menentukan cairan mani
Untuk menentukan adanya cairan mani dalam secret vagina perlu dideteksi
adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani, beberapa pemeriksaan
yang dapat dilakukan untuk membuktikan hal tersebut adalah :9
1. Reaksi Fosfatase Asam
Fosfatase asam adalah enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat di
dalam cairan semen/mani dan didapatkan pada konsentrasi tertinggi di atas 400
kali dalam mani dibandingkan yang mengalir dalam tubuh lain. Dengan
menentukan secara kuantitatif aktifitas fosfatase asam per 2 cm2 bercak, daapt
ditentukan apakah bercak tersebut mani atau bukan. Aktifitas 25 U.K.A per 1cc
ekstrak yang diperoleh 1 cm2 bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani
17

2. Reaksi Berberio
Prinsip reaksi ini adalah menentukan adanya spermin dalam semen.
Spermin yang terkandung pada cairan mani akan beraksi dengan larutan asam
pikrat jenuh membentuk kristal spermin pikrat.Bercak diekstraksi dengan sedikit
aquades. Ekstrak diletakkan pada kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan
kaca penutup. Reagen diteteskan dengan pipet di bawah kaca penutup.
Interpretasi : hasil positif memperlihatkan adanya kristal spermin pikrat yang
kekuning-kuningan atau coklat berbentuk jarum dengan ujung tumpul.

3. Reaksi Florence
Dasar reaksi adalah untuk menemukan adanya kholin. Bila terdapat bercak
mani, tampak kristal kholin-peryodida berwarna coklat, berbentuk jarum dengan
ujung terbelah.

b.

Pemeriksaan Spermatozoa
1. Tanpa pewarnaan / pemeriksaan langsung
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang

bergerak. Pemeriksaan motilitas spermatozoa ini paling bermakna untuk


memperkirakan saat terjadinya persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam
2-3 jam setelah persetubuhan, masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak
dalam vagina. Bila tidak ditemukan lagi, belum tentu dalam vagina tidak ada
ejakulat.

18

Gambar 5. Sperma pada pewarnaan langsung9


2. Dengan pewarnaan (pulasan Malachite green 1 %)
Interpretasi : pada pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat
gambaran sperma dengan kepala sperma tampak berwarna ungu menyala dan
lehernya merah muda, sedangkan ekornya berwarna hijau.

Gambar 6. Sperma dengan pewarnaan Malachite Green9


3. Pewarnaan Baecchi
Prinsip kerja nya yaitu asam fukhsin dan metilen biru merupakan zat
warna dasar dengan kromogen bermuatan positif. Asam nukleat pada kepala
spermatozoa dan komponen sel tertentu pada ekor membawa muatan negatif,

19

maka akan berikatan secara kuat dengan kromogen kationik tadi. Sehingga terjadi
pewarnaan pada kepala spermatozoa.
Interpretasi : Kepala spermatozoa berwarna merah, ekor merah muda,
menempel pada serabut benang
4. Pemeriksaan pria tersangka, meliputi :
- Pemeriksaan golongan darah
- Menentukan adanya sel epitel vagina pada glans penis, menggunakan
-

larutan lugol
Pemeriksaan sekret uretra
Dalam populasi 85% golongan sekretor yang dalam cairan tubuh (cairan
mani, keringat,liur) mengandung golongan darah. Jika bersetubuh dan

ejakulasi maka golongan darah ada pada tubuh korban


Dalam kepala sel sperma terdapat DNA inti (c-DNA) dan dalam leher sel
sperma ada DNA mitochondria (mt-DNA). Ketika ejakulasi yang
mengandung sel sperma,akan meninggalkan jejak DNA pelaku. Dengan
pemeriksaan DNA akan diketahui siapa dan berapa orang pelaku.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

20

Kekerasan seksual merupakan kejahatan yang universal. Kejahatan ini dapat


ditemukan diseluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat, tidak memandang usia
maupun jenis kelamin
Komponen penting dari pengungkapan kasus kejahatan seksual adalah visum
et repertum yang dibuat oleh dokter. Visum et repertum memuat tentang hasil
pemeriksaan medis mengenai bukti-bukti kekerasan seksual yang terdapat pada
tubuh korban berserta interpretasinya, adanya tanda-tanda persetubuhan sehingga
dapat membantu membuat terang perkara bagi aparat penegak hukum.
Pemeriksaan forensik pada kasus kejahatan seksual meliputi anamnesis
mengenai kronologi kejadian, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan fisik
khusus untuk mencari bukti-bukti fisik kekerasan, serta pemeriksaan penunjang
untuk pembuktian persetubuhan.
Pembuktian persetubuhan dilakukan dengan dua cara yaitu membuktikan
adanya penetrasi (penis) kedalam vagina dan atau anus/oral dan membuktikan
adanya ejakulasi atau adanya air mani didalam vagina/anus. Dari pemeriksaan
cairan mani akan diperiksa sel spermatozoa dan cairan mani sendiri.
Untuk menentukan adanya cairan mani dalam secret vagina perlu dideteksi
adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani, beberapa pemeriksaan
yang dapat dilakukan untuk membuktikan hal tersebut adalah pemeriksaan dengan
reaksi fosfatase asam, reaksi berberio, reaksi Florence.
Pemeriksaan untuk spermatozoa dapat dilakukan dengan pemeriksaan
langsung maupun dengan menggunakan pewarnaan malachite green 1 % maupun
pewarnaan baecchi.
21

DAFTAR PUSTAKA

1. Burgess AW, Marchetti CH. Contemporary issues. In: Hazelwood RR,


Burgess AW, editors. Practical aspects of rape investigation: A
multidisiplinary approach. 4th ed. Boca Raton (FL): CRC Press; 2009. h.
3-23.

22

2. Komnas Perempuan. Kekerasan seksual: Kenali dan tangani. Komnas


Perempuan; 2011. h. 1-5.
3. Meilia, Putri Dianita Ika. Prinsip Pemeriksaan dan Penatalaksanaan
Korban (P3K) Kekerasan Seksual. Cermin Dunia Kedokteran-196. 2012;
39(8); 579-583.
4. Syamsuddin, Rahman. Peranan Visum et Repertum di Pengadilan. AlRisalah. 2011; 11(1); 187-200.
5. Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang. 2004: 130-131.
6. Departermen Pendidikan dan Kebudayaan, op.cit, h. 142.
7. Moeljatno. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Jakarta:Bumi
Aksara. 2003.h. 106.
8. R. Soesilo. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta
komentar-komentarnya lengkap pasal demi pasal.1996. Bogor : Politeia. h.
212.
9. Nofiandi, Rifki. Pemeriksaan forensik pada perkosaan. Diunduh dari
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 2 November 2014
10. Susanti, Rika. Paradigma Baru Peran Dokter Dalam Pelayanan Kedokteran
Forensik. Majalah Kedokteran Andalas.2012; 36(2); 146-152.

form VeR kejahatan seksual


PRO JUSTITIA

Padang, ____________ 20
VISUM ET REPERTUM
No : ___________________________

Yang bertandatangan di bawah ini adalah _______________________, dokter pada


________________________________, berdasarkan surat permintaan visum et repertum
Kepala Kepolisian
Sektor
/
Resort__________________________________________________________________
___Nomor____________________tertanggal___________________________________
____________________________________,dengan ini menerangkan bahwa pada
tanggal
______________________________________________________________pukul_____
_______________________________ bertempat di ____________________ telah
melakukan pemeriksaan atas korban yang menurut surat permintaan visum et repertum
tersebut adalah :
23

Nama : ___________________________________________________
Tempat / tgl.lahir :
___________________________________________________
Alamat : ___________________________________________________
___________________________________________________
HASIL PEMERIKSAAN :
1. Korban datang dalam keadaan _________ dengan keadaan umum
______________
Penampilan umum / sikap ___________________ pakaian
_____________________
2. Korban mengaku diperkosa / _______________ pada tanggal
__________________ pukul ________
Pada saat itu ia mengalami (rincian peristiwa):
3. Riwayat haid : normal / _______; riwayat perkembangan seksual : normal /
________
Persetubuhan terakhir tanggal : dengan / tanpa kondom
4. Pada tubuh korban ditemukan luka-luka sebagai berikut :
5. Pada pemeriksaan genitalia :
Bagian luar :
Selaput dara :
Bagian dalam :
KESIMPULAN
Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sesungguhnya, berdasarkan keilmuan
saya yang sebaik-baiknya dan dengan mengingat sumpah jabatan, serta sesuai dengan
Undang-Undang No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Dokter pemeriksa

24

Anda mungkin juga menyukai