Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

PEMBAHASAN
4.1 Analisa Prosedur
Isolasi senyawa etil trans-p-metoksisinamat dari rhizoma kencur ini dilakukan dengan
cara ekstraksi soxhlet dan dilanjutkan dengan evaporasi (penguapan) pelarut menggunaka rotary
evaporator vakum. Isolasi dengan cara ekstraksi soxhlet ini bertujuan untuk mendapatkan
senyawa etil-p-metoksisinamat yang terdapat dalam rhizome kencur.
Hal pertama yang dilakakan dalam percobaan ini adalah preparasi sampel kencur yaitu
dengan cara mencuci kencur bersih agar kotoran-kotoran yang menempel pada kencur tidak ikut
bercampur dalam proses ekstraksi. Setelah dicuci kencur diiris tipis-tipis untuk memperluas
permukaan atau bidang kontak sampel kencur dan pelarut sehingga diharapkan dapat didiperoleh
hasil isolasi yang cukup banyak. Selanjutnya dikeringkan pada suhu kamar untuk mengurangi
kandungan air yang terdapat pada kencur, karena kandungan air menghambat ekstraksi
disebabkan adanya air yang bersifat polar, sehingga senyawa yang bersifat nonpolar akan sulit
terekstrak dalam fase pelarutnya. Setelah preparasi sampel dilakukan selanjutnya dilakukan
proses ekstraksi soxhlet. Sampel kencur yang telah dipreparasi dimasukkan dalam kertas timbel
yang sudah dijahit berbentuk silinder. Hal ini bertujuan agar ekstrak yang diperoleh bersih serta
tidak tercampur oleh ampas dari sampel. Kemudian dilakukan penimbangan timbel yang
berisikan sampel kencur untuk diketahui massa kenncur yang akan diekstrak. Sebelum dilakukan
ekstraksi, ditambahkan batu didih pada labu alas bulat untuk mencegah terjadinya bumping.
Selanjutnya timbel dimasukkan dalam alat soxhlet dan ditambahkan pelarut n-heksana. Dalam
percobaan ini digunakan pelarut n-heksana pada proses ekstraksi soxhlet karena n-heksana
merupakan pelarut yang dapat melarutkan senyawa etil trans-p-metoksisinamat dalam kencur
dengan prinsip like dissolve like, karena n-heksana bersifat nonpolar sama seperti metil transp-pmetoksisinamat (sax and lewis. 1987).
Selain itu n-heksana memiliki titik didih yang rendah yaitu sekitar (68-69oc) sehingga
mudah untuk diuapkan dengan pemanasan. Uap n-heksana yang dihasilkan akan terkondensasi
kembali untuk mengisolasi etil trans-p-metoksisinamat. Titik didih dari n-heksana lebih rendah
dari pada etil-p-metoksisinamat (184-187oC), sehingga pelarut ini lebih mudah untuk dipisahkan
dengan cara evaporasi. Metode ekstraksi soxhlet merupakan salah satu metoda untuk

mengekstrak padatan dengan menggunakan pelarut organic, sehingga metoda ini dapat
digunakan untuk mengekstrak senyawa etil-p-metoksisinamat. Ekstraksi soxhlet mempunyai
kelebihan yaitu pelarut yang dipakai dapat digunakan dapat dipakai untuk berkali-kali karena
proses ekstraksi berlangsung secara berkesinambungan. Tingkat kemurniannya juga cukup tinggi
karena bersih dari pengotor, terutama yang tidak larut dalam pelarut yang digunakan.
Tahapan proses ekstraksi soxhlet yaitu saluran air untuk kondensasi dihidupkan sebelum
larutan dipanaskan agar kondensor dalam keadaan dingin sehingga ketika larutan sudah
dipanaskan dan uapnya telah mencapai kondensor, maka akan terkondensasi akibatnya tidak
akan ada uap dari pelarut yang akan keluar dari system ektraktor soxhlet. Kemudian labu alas
bulat yang berisi pelartut dipanaskan hingga menguap, kemudian uap akan naik ke atas melalui
pipa uap, karena gas mempunyai sifat yang ringan dan mengisi segala ruang. Selanjutnya uap
mencapai kondensor dan akan terjadi proses kondensasi, sehingga uap akan menjadi cair kembali
dan akan turun ke tabung ekstraktor. Pada tabung terjadi proses partisi minyak yang ada dalam
sampel buah pala oleh pelarut. Ketika larutan yang ada dalam tabung ekstraktor posisinya
melebihi tinggi siflon maka larutan akan mengalir kedalam labu alas bulat melalui siflon. Proses
ini disebut satu sirkulasi. Pada awal sirkulasi diperoleh campuran yang berwarna kuning. Prinsip
dari pengaliran cairan melalui sifon yaitu ketika ketinggian cairan disalah satu kolom melebihi
titik tengah pipa maka cairan akan mengalir kekolom sebelahnya, ini disebabkan tekanan
dikolom sebelahnya melebihi tekanan kesetimbangan sehingga tekanan dalam sifon lebih besar
dari pada tekanan luar, akibatnya campuran (pelarut dan minyak) akan mengalir kedalam labu
alas bulat. Pada percobaan ini dilakukan selama 10 kali sirkulasi.
Setelah proses ekstraksi berakhir maka ekstrak dipisahkan dari pelarutnya yaitu nheksana dengan menggunakan rotary evaporator vacuum yang bertujuan untuk memisahkan
pelarut dan minyak kencur sehingga hasil yang diperoleh murni berupa minyak kencur dan tidak
mengandung pelarut. Prinsip kerjanya adalah memutas sampel yang dipisahkan, menguapkan
komponen pada sampel yang memiliki titik didih lebih rendah, mengkondensasi uap yang telah
mengalir, dan memisahkan kondesat dari sampel. Keuntungan dari penggunaan rotary evaporator
vacuum adalah proses pemisahannya menjadi lebih cepat karena pada rotary evaporator vacuum
ini tekanannya dibuat sangat rendah, akibatnya pelarut lebih mudah untuk diuapkan. Dengan
demikian, komponen yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu,
kemudian akan terkondensasi dan terpisah dari komponen lain pada larutan yang memiliki titik

didih yang lebih tinggi. Dalam percobaan ini, n-heksana menguap dan terpisah dari minyak
kencur karena titik didihnya lebih rendah lebih rendah dari minyak kencur, yaitu 68,74oC.
Identifikasi menggunakan spektrofotometri UV-Vis dilakukan untuk menentukan panjang
gelombang maksimum pada nilai absorbansi maksimum dari senyawa etil trans-pmetoksisinamat. Sampel diambil sedikit dan dilarutkan dengan
pelarut n-heksana, kemudian dimasukkan dalam kuvet. Selanjutnya dilakukan pengukuran
absorbansi sampel menggunakan spektofotometri UV-Vis double beam. Sebelum pengukuran
absorbansi sampel, perlu dilakukan baseline menggunakan pelarut n-heksana sebagai larutan
blanko. Baseline dilakukan agar pelarut n-heksana tersebut tidak memberikan serapan pada
panjang gelombang UV-Vis. Sebelum kuvet dimasukkan dala alat spektofotometri terlebih
dahulu kuvet dibersihkan dengan tisu untuk mengilangkan kemungkinan kotoran ataupun bekas
sidik jari tidak menempel pada kuvet sehingga tidak mempengaruhi hasil pengukuran absorbansi.
Pada saat mengukur dengan spektrofotometri UV-Vis, sampel tidak boleh terlalu pekat agar
spectra yang dihasilkan sesuai.
Selanjutnya sebagian sampel yang diperoleh dari hasil rotary evaporator diambil sedikit
kemudian diencerkan dalam n-heksana, dengan bantuan pipa kapiler ditotolkan sampel ke plat
KLT , ditotolkan sedikit demi sedikit sampai terlihat noda jika disinar UV, plat kemudian
dimasukkan dalam chamber yang berisi eluen n-heksana:etil asetat (4:1). Ditunggu sampai
pelarut naik mendekati batas, diambil dan dilakukan penyinaran dengan sinar UV untuk melihat
noda yang tercetak. Diukur jarak komponen dan jarak pelarutnya untuk menhitung nilai Rf,
dibahas hasil yang diperoleh.
4.2 Analisa Hasil
4.2.1 Isolasi Etil Trans-p-Metoksisinamat
Prinsip percobaan ini adalah melakukan isolasi senyawa etil trans-p-metoksisinamat dari
kencur dengan menggunakan metoda ekstraksi soxhlet. Hasil ekstraksi yang diperoleh kemudian
dipisahkan dari pelarutnya dengan menggunakan rotary evaporator vacuum. Minyak yang
didapatkan kemudian di uji sifat fisiknya dengan penentuan massa jenis minyak dan indeks
biasnya. Selain dianalisa sifat fisiknya, juga dilakukan analisa dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis.

Setelah penelitian selesai dilakukan, diperoleh minyak hasil ekstraksi soxhlet bewarna
kuning keruh sebanyak satu botol kecil. Setelah minyak didinginkan dalam lemari pendingin
selama tujuh hari, diperoleh minyak berwarna kuning keruh. Untuk membuktikan apakah kristal
yang dihasilkan itu merupakan etil trans-p-metoksisinamat atau bukan, perlu dilakukan beberapa
uji meliputi penetuan massa jenis, uji indeks bias, penentuan panjang gelombang menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dan kromatrografi lapis tipis (KLT). Berdasarkan hasil pengukuran
menggunakan spektrofotometer UV-Vis double beam, diperoleh panjang gelombang maksimum
dari sampel adalah 283,00 nm dengan absorbansi maksimum 0,839. Nilai ini sudah mendekati
panjang gelombang maksimum senyawa etil trans-p-metoksisinamat yang dihitung secara teoritis
yaitu 318 nm (dapat dilihat pada lampiran). Jadi dapat dikatakan bahwa dalam sampel hasil
ekstraksi soxhlet dari kencur tersebut terdapat senyawa etil trans-p-metoksisinamat. Panjang
gelombang maksimum dari sampel lebih kecil bila dibandingkan dengan panjang gelombang
teoritis karena dimungkinkan sampel masing terlalu pekat dan masih terdapat pengotor pada
sampel. Pengotor pada sampel berupa senyawa lain yang terkandung dalam kencur dan
dimungkinkan senyawa ini memiliki gugus auksokrom maupun kromofor yang dapat
menyebabkan pergeseran panjang gelombang hipsokromik yaitu pergeseran serapan kearah
yang lebih pendek disebabkan substitusi / pelarut pada senyawa etil trans-p-metoksisinamat.
4.2.2

Identifikasi

Senyawa

Etiltrans-p-metoksisinamat

dengan

Menggunakan

Spektrofotometri UV-Vis dan KLT


Setelah dilakukan isolasi senyawa etiltrans-p-metoksisinamat dilakukan analisis dengan
metode spektrofotometri UV-Vis. Dari spektrum yang dihasilkan menunjukan bahwa pada
panjang gelombang 283.00 nm, didapatkan serapan maksimumnya 0.839. Menurut teori panjang
gekombang yang diperoleh seharusnya 228 nm namun didapat panjang gelombang yang lebih
rendah dikarenakan senyawa yang didapat belum dikristalisasi yang berarti masih terdapat
pengotor dalam etil trans-p-metoksisinamat tersebut.
Identifikasi

etil

trans-p-metoksisinamat

menggunakan

KLT,

digunakan

larutan

pengembang n-heksana:etil acetat (4:1), hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan literatur nilai
Rf 0,63 (Fahmi, 1997) dan etil trans-p-metoksisinamat yang diidentifikasi memiliki nilai Rf 0,57
terdapat sedikit perbedaan nilai Rf namun tidak begitu jauh, mungkin disebabkan karena
senyawa yang diperoleh kurang murni. Nilai Rf diperoleh dari pembagian jarak komponen
dibagi jarak pelarut, jarak komponen yang diperoleh yaitu 2 cm, untuk jarak pelarut diperoleh

nilai 3,5 cm. Dari hasil pembagian diperoleh nilai Rf sebesar 0,57. Untuk melihat bahwa etil
trans-p-metoksisinamat sudah terelusi digunakan sinar UV. Dengan penyinaran sinar UV noda
yang terbentuk dapat terlihat jelas dan diperoleh kenampakan seperti gambar dibawah ini.

Fahmi. R., 1997, Sintesis Amida Turunan p-Metoksi Sinamat (TESIS), Fakultas Pascasarjana
ITB, Bandung
Sax,N.J.,and R.J.,Lewis,1987, Hawleys Condensed Chemical Dictionary,Van Nonstrand
Reinhold Company,New York