Anda di halaman 1dari 11

TUGAS BAKTERIOLOGI

STAPHYLOCOCCUS AUREUS

Oleh:
DIAN NUR RAHMAWATI (P27834113015)
ARDIESTI NURUL AINI (P27834113024)

D4 Analis Kesehatan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

A. DEFINISI
Pada system klasifikasi binomial (tata nama dengan dua susunan kata) genus ini di
klasifikasikan sebagai berikut :
Kerajaan

:Eubacteria

Filum

:Firmicutes

Kelas

:Bacilli

Ordo

:Bacillales

Familia

:Staphylococcaceae

Genus

:Staphylococcus

Spesies

:Staphylococcus aureus

Staphylococcus ureus adalah sekelompok bakteri yang dapat menyebabkan


sejumlah penyakit sebagai akibat dari infeksi dari berbagai jaringan tubuh.
Staphylococcus lebih akrab dikenal sebagai Staph (diucapkan staff). Penyakit Staph
terkait dapat berkisar dari ringan dan membutuhkan perlakuan yang tidak sampai
parah dan berpotensi fatal.
Lebih dari 30 jenis Staphylococcus dapat menginfeksi manusia, tetapi kebanyakan
infeksi disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Stafilokokus dapat ditemukan secara
normal di dalam hidung dan pada kulit (dan kurang umum di lokasi lain) sekitar 25% 30% dari orang dewasa yang sehat dan 25% dari pekerja rumah sakit. Pada kebanyakan
kasus, bakteri tidak menyebabkan penyakit. Namun, kerusakan pada kulit atau luka lain
mungkin mengizinkan bakteri untuk mengatasi mekanisme perlindungan alami tubuh,
yang menyebabkan infeksi.
B. MORFOLOGI
Staphylococcus aureus adalah gram positif yang berbentuk bulat, biasanya
bersusun pada rangkaian yang tidak beraturan seperti buah anggur. Beberapa
diantaranya tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa manusia,
menyebabkan penanahan, abses, berbagai infeksi patogen dan bahkan septikimia yang
fatal. S. aureus mengandung polisakarida dan protein yang berfungsi sebagai antigen
dan merupakan substansi penting didalam struktur dinding sel, tidak membentuk
spora, dan tidak membentuk flagel (Jawetz,E.2005).

C. SIFAT KULTUR
S. aureus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologik dibawah
suasana aerobik atau mikro-aerobik. Tumbuh dengan cepat pada temperatur 370C
namun pembentukan pigmen yang terbaik adalah pada temperatur kamar (20 - 350C).
Koloni pada media yang padat akan berbentuk bulat, halus, menonjol, dan berkilaukilau, membentuk berbagai pigmen berwarna kuning keemasan (Jawetz,E.2005).
D. TOKSIN DAN ENZIM
S. aureus dapat menyebabkan penyakit karena kemampuannya berkembang biak
dan menyebar luas dalam jaringan tubuh serta adanya beberapa zat yang dapat
diproduksi, antara lain:
a. Eksotoksin
Bahan ini dapat ditemukan dalam filtrat hasil pemisahan dari kuman dengan jalan
menyaring kultur. Bahan ini bersifat tidak tahan pemanasan (termolabil) dan bila
disuntikan pada hewan percobaan dapat menimbulkan kematian dan nekrose kulit.
- Alfa hemolisa : suatu protein dengan berat molekul 3x104 yang dapat melarutkan
eritrosit kelinci, merusak trombosit dan dapat mempengaruhi otot polos
pembuluh darah.
- Beta hemolisa : suatu protein yang dapat menghancurkan eritrosit kambing tetapi
tidak pada eritrosit kelinci dalam 1 jam pada suhu 370 C.
- Gama hemolisa : bersifat antigen (Depkes,RI.1994)
b. Koagulase
Suatu protein yang menyerupai enzim dan dapat menggumpalkan plasma sitrat
dengan bantuan suatu faktor yang terdapat dalam banyak serum. Bakteri yang
membentuk koagulase dianggap menjadi patogen invasif (Jawetz,E.2005).
c. Katalase
Enzim ini dibuat oleh Staphylococcus dan Mikrokokus, sedangkan Pneumokokus
dan Streptokokus tidak. Adanya enzim ini dapat diketahui jika koloni dituangi H2O2 3%
akan timbul gelembung-gelembung udara, yang berarti menghasilkan katalase yaitu
mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen (Arif et al,2000).
d. Lekosidin

Toksin ini dapat mematikan sel darah putih pada hewan yang terkena infeksi.
Lekosidin juga suatu antigen tetapi lebih termolabil dari pada eksotoksin
(Depkes,RI.1989).
e. Enterotoksin
Suatu protein dengan berat molekul 3x104 yang tahan terhadap pendidihan
selama 30 menit. S. aureus merupakan penyebab penting dalam keracunan makanan.
enterotoksin dihasilkan ketika S. aureus tumbuh pada makanan yang mengandung
karbohidrat dan protein (Arif et al,2000).
Masa tunas antara 2-6 jam dengan gejala yang timbul secara mendadak yaitu
mual, muntah, diare, kadang-kadang terjadi kolaps sehingga mungkin dikira kolera. Efek
muntah enterotoksin mungkin akibat perangsangan SSP (Sistem Saraf Pusat). Setelah
toksin bekerja pada reseptor-reseptor syaraf dalam usus. Belum ditemukan suatu cara
yang mudah yang dapat menyatakan bahwa suatu pembenihan kuman S. aureus
mengandung enterotoksin, yang jelas ada hubungannya antara pembentukan
enterotoksin dan koagulase.
S. aureus yang membentuk enterotoksin adalah koagulase positif, tetapi tidak
semua jenis koagulase positif dapat membentuk enterotoksin. Jika dari setiap gram
makanan yang tersangka dapat ditemukan ratusan, ribuan kuman S. aureus atau lebih,
maka hal ini dapat merupakan suatu bukti dari dugaan bahwa makanan tersebut
memang menyebabkan keracunan makanan. Namun perlu diingat bahwa enterotoksin
bersifat termostabil, sehingga jika makanan yang tersangka telah dipanaskan
mungkin tidak dapat ditemukan kuman lagi, meskipun didalamya terkandung jumlah
besar enterotoksin (Arif et al,2000).
E. PATOGENITAS BAKTERI DARI APATOGEN MENJADI PATOGEN
Jenis bakteri Staphylococcus aureus berbahaya bagi tubuh, sebab bakteri ini
bersifat haemolitik ketika ditanam dalam darah. Oleh sebab itu strain Staphylococcus
aureus umumnya lebih pathogen. Hamper semua strain Staphylococcus aureus mampu
menghasilkan enzim koagulase atau enzim penggumpal. Bakteri yang mampu
menghasilkan koagulase,seperti Staphylococcus aureus dianggap berpotensi besar
sebagai pathogen yang mampu menginvasi sel lain.

Kulit adalah system kekebalan tubuh awal di dalam tubuh. Pada flora normal
ada yang namanya reseptor atau tangan,begitu pula pada kulit dan mikroba. Fungsi
flora normal disini ialah sebagai system pertahanan tubuh sehingga jika ada pathogen
yang datang maka flora normal ini menghalangi pathogen untuk menempel pada
permukaan kulit dengan cara semua reseptor ditutup oleh flora normal sehingga flora
sementara yang bersifat potensial pathogen tidak berkesempatan /tidak ada bagian
yang menempel dengan reseptor.
Jika demikian maka flora sementara tidak nempel sehingga kita tidak sakit.
Tetapi jika system pertahanan tubuh kurang bagus maka flora normal tidak maksimal
sehingga flora sementara berkesempatan untuk nempel dengan reseptor . jika flora
sementara menempel dengan reseptor dan berhasil invasi maka terjadilah sakit.
flora sementara yang apatogen dapat berubah menjadi pathogen dikarenakan 3
faktor:
1. system kekebalan tubuh menurun
2. mikroba tersebut bisa menginvasi
3. mikroba tersebut mempunyai virulensi tinggi
F. GEJALA DAN TANDA-TANDA INFEKSI
Penyakit staphylococcus kulit biasanya menghasilkan koleksi lokal nanah, yang
dikenal sebagai abses, bisul, atau furunkel, tergantung pada jenis yang tepat dari lesi
yang hadir. Daerah yang terkena mungkin merah, bengkak, dan nyeri. Drainase atau
nanah adalah umum. Ketika Staph adalah dalam darah (bakteremia atau sepsis), dapat
menyebabkan demam tinggi, menggigil, dan tekanan darah rendah.
G. JENIS PENYAKIT YANG DISEBABKAN
Infeksi kulit merupakan penyakit utama yang disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus ini. Bentuk infeksi kulitnya bisa menjadi semakin parah menjadi bintulbintul bernanah dan terasa gatal serta munculnya perasaan seperti terbakar di jaringan
dalam kulit sehingga dipermukaan kulit muncul ruam (merupakan sakit kulit yang bisa
terjadi jika seseorang kurang menjaga kebersihan tubuh )berwarna kemerahan . lebih
parah lagi , komplikasi serius dari penyakit ini disebut sindrom kulit kepanasan,tetapi
kasus parah seperti ini sangat jarang terjadi.

Sementara itu pada ibu menyusui bakteri jahat ini dapat menyebabkan mastistis
yakni rasa terbakar di payudara,dapat juga muncul abses (bisul benanah) di payudara.
Abses berbahaya bagi bagi karena abses dapat melepaskan bakteri yang bisa termakan
oleh bayi ketika disusui. Ketika masuk ke dalam tubuh, bakteri menguasai aliran darah
dan menyebar ke organ-organ. Akibatnya infeksi serius dapat terjadi.
Terpaparnya bakteri ini dalam darah disebut sebsis, sebsis ketika sudah akut
dapat menyebabkan gagalnya pengaliran darah ke organ-organ tubuh, shock,lantas
menyebabkan meninggalnya penderita. Pada kasus seperti ini, penderita merasakan
sensasi terbakar diseluruh tubuhnya. Jika menginfeksi paru-paru , bakteri ini dapat
menyebabkan peradangan dan munculnya abses-abses di dalam paru-paru, infeksi akan
semakin parah jika penderita memiliki penyakit paru-paru sebelumnya.
Sementara itu jika menginfeksi jantung ia akan menyerang katub-katub jantung
sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik dan menyebabkan gagal jantung. Jika
menginfeksi tulang, tulang akan terasa terbakar dan muncul penyakit osteomyelitis. Jika
infeksi bakteri ini dibiarkan kemungkinan 80 % penderita akan meninggal dunia akibat
infeksi.
Bakteri ini juga hidup dalam makanan yang tidak bersih, sehingga dapat
menimbulkan keracunan. Keracunan akibat bakteri ini menimbulkan gejala

yang

kurang lebih sama dengan keracunan pada umumnya, seperti perasaan mual, muntahmuntah,diare dan dehidrasi. Keracunan akibat bakteri ini,sebenarnya bukan semata
adanya bakteri dalam makanan melainkan karena racun yang dihasilkan oleh bakteri
ini. Gejala keracunan Staphylococcus aureus muncul 1-6 jam setelah makanan yang
terkontaminasi dikonsumsi. Gejala akan terus muncul selama satu hingga 3 hari, dan
biasanya akan menghilang dengan sendirinya. Keracunan ini tidak menular dari
penderita ke orang karena racun tidak dapat disebarkan dari orang ke orang lain.
Staphylococcus tumbuh dalam pembuluh-pembuluh darah pada tulang. Sehingga
terjadi nekrosis pada tulang dan kerapuhan luar biasa serta mengeluarkan nanah yang
tak bisa berhenti hanya dalam hitungan bulan. Staphylococcus juga dapat menyebabkan
keracunan pada kulit seperti jerawat,bisul dan keluarnya nanah pada bagian kulit

manapun karena racun atau toksin leukosidin yang dikeluarkan Staphylococcus dapat
mematikan sel darah putih manusia .
H. RESISTENSI ANTIBIOTIK STAPHYLOCOCCUS
Methicillin-resistant Staphylococcus aureus, dikenal sebagai MRSA, adalah jenis
Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin antibiotik dan obat lain di
kelas yang sama, termasuk penisilin, amoksisilin, dan oksasilin. MRSA adalah salah satu
contoh dari apa yang disebut super, istilah informal digunakan untuk menggambarkan
strain bakteri yang telah menjadi resisten terhadap antibiotik biasanya digunakan
untuk mengobati itu. MRSA pertama kali muncul pada pasien di rumah sakit dan
fasilitas kesehatan lainnya, terutama di kalangan orang tua, yang sangat sakit, dan
orang-orang dengan luka terbuka (seperti luka baring) atau kateter dalam tubuh. Dalam
pengaturan ini, MRSA disebut sebagai perawatan kesehatan terkait MRSA (HA-MRSA).
MRSA sejak itu telah ditemukan menyebabkan penyakit pada masyarakat di luar rumah
sakit dan fasilitas kesehatan lainnya dan dikenal sebagai komunitas terkait MRSA (CAMRSA) dalam pengaturan ini. MRSA di masyarakat dikaitkan dengan penggunaan
antibiotik baru-baru ini, berbagi benda yang terkontaminasi, memiliki penyakit aktif
kulit atau luka, kebersihan yang buruk, dan tinggal di tempat penuh sesak. US Centers
for Disease Control dan Pencegahan (CDC) memperkirakan bahwa sekitar 12% infeksi
MRSA sekarang komunitas terkait, namun persentase ini dapat bervariasi oleh populasi
masyarakat dan pasien.
Infeksi MRSA biasanya infeksi dangkal yang ringan dari kulit yang dapat diobati dengan
sukses dengan perawatan kulit yang tepat dan antibiotik. MRSA, bagaimanapun, bisa
sulit untuk mengobati dan dapat berkembang menjadi darah atau tulang infeksi yang
mengancam jiwa karena ada antibiotik yang efektif yang tersedia lebih sedikit untuk
pengobatan.
Transmisi MRSA sebagian besar dari orang-orang dengan infeksi kulit MRSA yang aktif.
MRSA hampir selalu ditularkan melalui kontak fisik langsung dan tidak melalui udara.
Penyebaran juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan objek menyentuh
(seperti handuk, seprai, pembalut luka, pakaian, tempat latihan, peralatan olahraga)
terkontaminasi oleh kulit yang terinfeksi dari seseorang dengan MRSA. Sama seperti S.

Aureus dapat dilakukan pada kulit atau di hidung tanpa menyebabkan penyakit, MRSA
dapat dilakukan dengan cara ini juga. Berbeda dengan persentase yang relatif tinggi
(25% -30%) orang dewasa yang dijajah oleh Staph aureus di hidung (orang-orang ini
bakteri Staph hadir yang tidak menyebabkan penyakit), hanya sekitar 2% dari orang
sehat membawa MRSA di hidung. Tidak ada gejala yang terkait dengan membawa Staph
secara umum atau MRSA di hidung.
Sebuah obat yang dikenal sebagai mupirocin (Bactroban) telah terbukti efektif dalam
beberapa kasus untuk mengobati dan menghilangkan MRSA dari hidung pembawa
sehat, tetapi dekolonisasi (mengobati operator untuk menghilangkan bakteri) biasanya
tidak dianjurkan kecuali telah terjadi wabah MRSA atau bukti bahwa seorang individu
atau sekelompok orang mungkin menjadi sumber wabah.
Baru-baru ini, strain Staph aureus telah diidentifikasi yang resisten terhadap
vankomisin antibiotik (Vancocin), yang biasanya efektif dalam mengobati infeksi Staph.
Bakteri ini disebut sebagai vancomycin-menengah resistensi S. Aureus (VISA) dan
vankomisin-tahan Staph aureus (VRSA).
I. DIAGNOSA LABORATORIUM
a. Bahan
Usapkan permukaan, nanah, darah, aspirasi trakea, atau cairan spinal untuk
biakan, tergantung pada lokalisasi proses. Pemeriksaan antibodi dalam jarum jarang
dilakukan.
b. Sediaan apus yang diwarnai
Sediaan apus nanah atau sputum yang diwarnai. Tetapi sulit untuk membedakan
organisme patogen S. Aureus dan organisme saprofitik S. Epidermidis.
c. Biakan
Bahan ditanam pada lempeng agar darah menghasilkan koloni khas dalam 18
jam pada suhu 37oC, tetapi hemolosis dan pembentukan pigmen mungkin tidak terjadi
sampai beberapa hari kemudian dan menjadi optimal pada suhu kamar. Dari bahan
yang terkontaminasi dengan flora campuran, dapat ditanam dalam pembenihan yang
mengandung NaCl 7,5%. Dianggap patogen bila menghasilkan koagulase, meragi
manitol, mencairkan gelatin, atau menghemolisiskan darah (Jawetz,E.2005).

J. PENGOBATAN
Methicillin-resistant Staphylococcus aureus, dikenal sebagai MRSA, adalah jenis
Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin antibiotik dan obat lain di
kelas ini. Infeksi Staph diperlakukan dengan topikal, oral, atau intravena antibiotik,
tergantung pada jenis infeksi.
Penggobatan bisa dengan penggunaan antibiotik. Sensitiviti staphylococcus
aureus terhadap bermacam-macam jenis antibiotik dapat diurutkan sebagai berikut :

Kanamycin Sensitiviti

= 87%

Gentamicin Sensitiviti

= 78%

Polymyxin B Sensitiviti

= 75%

Neomycin Sensitiviti

= 75%

Chloramphenicol Sensitiviti

= 66%

Norfloxacin Sensitiviti

= 66%

Bacitracin Sensitiviti

= 66%

Ampicillin Sensitiviti

= 55%

Erythromicin Sensitiviti

= 44%

Clindammycin Sensitiviti

= 33%

Streptomycin Sensitiviti

= 33%

Tritmethoprim + sulfa Sensitiviti

= 12%

Tetracycline Sensitiviti

= 8%

K. PENCEGAHAN
40% hingga 50% manusi membawa Staphylococcus dalam tubuhnya sehingga
potensi untuk menjadi pathogen dalam tubuh manusia sangat besar. Apalagi, jika anda
menyiapkan makanan dengan tangan. Anda juga harus berhati-hati. Enterotoksin yang
dihasilkan oleh Staphylococcus tidak bisa mati dalam suhu dibawah 700C. Jadi pastikan
makanan anda matang sempurna.
Penyakit akibat toksin bakteri Staphylococcus aureus dapat dicegah dengan
selalu menjaga kebersihan, cuci tangan sebelum makan, tidak menggunakan barang-

barang yang berpotensi terkena infeksi kulit secara bersama-sama, seperti handuk,
sikat gigi dan pakaian.
Contoh lain adalah mungkin pada saat wanita mengalami menstruasi dengan
lebih sering mengubah tampon bisa mengurangi risiko sindrom syok toksik (setidaknya
setiap 4-8 jam), menggunakan tampon rendah serap, dan bolak pembalut.

DAFTAR PUSTAKA

Bello, C. S. S and A. Qahtani. 2005. Pitfalls in the Routine Diagnosis of Staphylococcus


aureus. African Journal of Biotechnology. 4 (1): 83 - 86.
Boerlin, P., P. Kuhnert, D. Hussy and M. Schaellibaum. 2003. Methods for Identification of
Staphylococcus aureus Isolates in Cases of Bovine Mastitis. Journal of Clinical
Microbiology. American Society for Microbiology. 41 (2): 767 - 769.
Jones, G. M., T. L. Bailey, Jr. and J. R. Roberson. 1998. Staphylococcus aureus Mastitis:
Cause, Detection and Control. Dairy Science Publication. Virginia Polytechnic Institute and
State University. USA.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/139/jtptunimus-gdl-sailifiroh-6928-3babii.pdf
http://sukeraje-sehat.blogspot.com/2012/07/infeksi-staph-staphylococcusaureus.html
http://tipspetani.blogspot.com/2010/12/memilih-antibiotik-untukpenyakit.html
http://anneahira.com/bakteri-staphylococcus.htm