Anda di halaman 1dari 11

METODE PELAKSANAAN

A.

UMUM
Aspek teknologi sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi.

Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode


metode

pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat,

praktis, cepat dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada
suatu proyek konstruksi. Sehingga, target 3T yaitu tepat mutu/kualitas, tepat
biaya/kuantitas dan tepat waktu sebagaimana ditetapkan, dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan
suatu metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan lapangan. Khususnya
pada saat menghadapi

kendalakendala

lapangan yang tidak sesuai

dengan

yang
dugaan

diakibatkan
sebelumnya.

oleh

kondisi

Untuk

itu,

penerapan metode pelaksanaan konstruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan


sangat membantu dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan.
Konstruksi bangunan memerlukan teknik khusus dalam pembuatannya.
Oleh sebab itu, maka metode pelaksanaan bangunan sangat diperlukan
untuk mengatasi masalahmasalah dalam pembangunan konstruksi bangunan
tersebut.
B. Material atau Bahan
Bahanbahan

bangunan

merupakan

syarat

mutlak

yang

harus

dipenuhi di dalam mendirikan atau membuat suatu bangunan. Pemilihan


bahanbahan

tersebut harus benarbenar

mendapat

perhatian

demi

kelancaran pelaksanaan pembangunan dan mendapatkan kualitas bangunan


yang baik.
Material yang diperlukan dalam perencanaan konstruksi PPI
Menganti Kebumen adalah sebagai berikut:

1. Batu Pecah
Batu pecah digunakan sebagai lapis pelindung bagian inti, lapis
pelindung 2 dan juga sebagai pelindung kaki bangunan (toe protection)
pada bangunan jetty dan seawall.
2. Adukan Beton Siap Pakai (Ready Mixed Concrete)
Adukan beton ready mixed adalah adukan beton siap pakai yang
dibuat dan diolah sesuai dengan mutu pesanan sehingga pemesan
dapat

langsung

menggunakan untuk keperluan pengecoran. Pada

proyek ini, beton ready mixed digunakan untuk membuat tetrapod dan
pada lantai dermaga dengan mutu beton K-300.
3. Tulangan Baja
Tulangan baja digunakan untuk pembuatan tulangan pada tetrapod,
bolder, lantai dermaga, balok memanjang, balok melintang dan
penulangan pondasi tiang pancang. Tulangan baja harus bebas dari
karat, sisik dan lapisan yang dapat
mengurangi lekatnya pada beton. Tulangan baja yang digunakan
adalah 8,
12,

19, 25.
4. Kawat Pengikat Tulangan
Kawat pengikat tulangan terbuat dari baja lunak dengan diameter
minimal 1mm. Kawat

ini digunakan

untuk

mengikat

tulangan

baja agar tulangan-tulangan tersebut memiliki jarak yang tetap sesuai


dengan rencana.
5. Papan Kayu / Multiplek
Multiplek digunakan untuk acuan cetakan beton atau bekisting pada
pembuatan lantai dermaga.
6. Kayu
Kayu digunakan untuk membantu pembangunan konstruksi baik
sebagai penyangga cetakan ataupun sebagai pijakan. Kayu yang
dipakai harus pada kondisi yang baik, tidak cacat dan tidak lapuk.

Pada proyek ini, kayu digunakan sebagai perancah dan penguat


bekisting. Karena hanya sebagai alat bantu dalam pelaksanaan
pekerjaan tertentu dan sifatnya sementara, maka dipilih kayu dengan
kelas keawetannya tidak terlalu tinggi tetapi cukup kuat menahan
beban yang akan diterima.
C. Peralatan Kerja
Selain bahan bangunan, untuk pelaksanaan proyek ini juga
diperlukan adanya peralatan kerja sebagai sarana untuk membantu
dan

memudahkan

pelaksanaan pekerjaan.

Sebagaimana

halnya

pengadaan barang, maka dalam pengadaan dan pemilihan peralatan


kerja harus dilakukan kiat khusus agar pemilihan jenis peralatan kerja
tersebut dapat menghasilkan efektifitas dan produktifitas alat yang
optimal, antara lain :
a. Merinci mengenai peralatan yang dibutuhkan.
b. Memperhitungkan banyaknya alat yang akan dipakai sesuai
dengan volume pekerjaan yang akan dilaksanaan.
c. Memperhitungkan kapasitas alat.
d. Memperhitungkan biaya alat (sewa/beli,pemeliharaan,dll).
e. Memperhitungkan daya tahan alat.
Peralatan-peralatan

yang

digunakan

pada

perencanaan

konstruksi PPI Menganti Kebumen adalah:


1. Truk Mixer
Truck mixer adalah kendaraan pengangkut adukan beton ready mix
dari tempat pembuatannya ke lokasi proyek.
2. Concrete Pump
Concrete Pump adalah kendaraan yang berfungsi untuk membantu
mengalirkan adukan beton ready mix dari truck mixer ke lokasi
pengecoran yang lebih tinggi maupun yang jauh lebih rendah dari
kedudukan truck mixer.
3. Concrete Vibrator
Concrete vibrator adalah alat yang berfungsi untuk memadatkan

adukan beton, meningkatkan

homogenitas

adukan

pengecoran, mengeluarkan gelembung-gelembung

pada saat

udara

sehingga

tidak terjadi rongga udara setelah pengerasan beton dan berfungsi


untuk meratakan beton ke segala arah, serta dapat menjangkau celahcelah terjauh di dalam bekisting.

4. Bar Bender
Bar bender digunakan untuk membengkokkan tulangan sesuai
dengan ukuran yang dikehendaki.
5. Bar Cutter
Bar cutter digunakan

untuk memotong

baja tulangan sesuai

panjang yang ditentukan.


6. Theodolite
Theodolite digunakan untuk menentukan as bangunan
jetty, seawall
7. Waterpass
Waterpass

digunakan

untuk

menentukan

titiktitik

elevasi

bangunan jetty, seawall.


8. Dump Truck
Digunakan sebagai pengangkut batu pecah dari quarry dan untuk
membuang materialmaterial yang tidak diperlukan (lumpur dan
pasir).
9. Single acting drop hammer
Single acting drop hammer berfungsi sebagai palu untuk memukul
tiang pancang agar masuk ke dalam tanah pada pekerjaan pondasi
dermaga.
10. Excavator

Digunakan untuk menggali tanah. Selain itu, excavator digunakan


untuk penataan timbunan material bangunan dan pemasangan batu
belah pada konstruksi jetty dan seawall.
11. Boat Penarik
Digunakan sebagai alat penarik kapal tongkang dari dan menuju lokasi
pembangunan.
13. Crane
Digunakan untuk mengangkat tiang pancang.
14. Flat Bed Truck
Digunakan sebagai pengangkut tetrapod dari area stock menuju cause
way.
D. PEKERJAAN STUKTUR
1. PEKERJAAN GALIAN TANAH PONDASI
Setelah pekerjaan Pendahuluan dan pekerjaan pemancangan selesai
dilakukan, hal yang dilakukan selanjutnya yaitu pekerjaan galian tanah
pondasi. Galian tanah pondasi diperlukan untuk perletakan pondasi plat.
Pengalian dilakukan sesuai dengan gambar rencana pondasi dan telah
mendapat persetujuan dari pengawas. Bidang horizontal galian tanah harus
mempunyai jarak yang lebih besar dari lebar pondasi, hal ini berfungi untuk
memungkinkan pemasangannya, penopangan dan lain-lain. Kedalaman
galian harus sesuai dengan gambar rencana.
Tanah hasil galian ditumpuk ditempat yang telah ditentukan oleh pengawas,
karena tanah tersebut akan dipakai kembali.
2. PEKERJAAN LANTAI KERJA
Setelah tanah digali dan diberikan urugan pasir, selanjutnya dibuat lantai
kerja dengan campuran beton 1Pc:3Ps:5Kr. Sebelum campuran beton
diletakkan, dasar tanah diratakan terlebih dahulu. Tebal dari lantai kerja ini

sekitar 5 cm, setelah lantai kerja mengeras barulah diatasnya diletakkan


pondasi Plat Setempat.
3. PEKERJAAN URUGAN PASIR
Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug,
kemudian dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini
berfungsi untuk menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban.
Urugan Pasir dipadatkan perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir
yang sesuai dengan gambar kerja dan spesifikasi teknis yang ada yaitu
sekitar 7 cm.
4. PEKERJAAN URUGAN TANAH
Pekerjaan urugan tanah dilakukan setelah pondasi selesai dan telah
mengeras. Tanah hasil galian dikembalikan lagi, dan digunakan untuk
menimbun pondasi. Tanah tersebut dipadatkan lapis demi lapis baik dengan
cara manual atau menggunakan alat stamper.
Selain itu urugan tanah juga dilakukan pada permukaan lantai. Bagian lantai
yang perlu ditinggikan di urug dengan tanah urug. Tanah urug yang dipakai
dapat berasal dari hasil galian ataupun tanah urug yang didatangkan. Tanah
dihamparkan kemudian dipadatkan lapis demi lapis hingga didapatkan
kepadatan dan ketebalan yang sesuai dengan spesifikasi teknis.
5. PEKERJAAN PONDASI
Dalam Proyek ini ada dua buah jenis pondasi yang digunakan yaitu pondasi
tiang pancang dan Pondasi Plat Setempat, yang mana metode pelaksanaan
kedua pondasi tersebut berbeda. Pondasi Plat Setempat dipakai pada
bangunan Pos Jaga, Pagar dan Bangunan Utama, sedangkan Pondasi Tiang
Pancang Digunakan pada Gudang, bangunan Utama dan Pagar Luar.
Adapun Pelaksanaan Pekerjaan Tiang Pancang yaitu :
a. Pondasi Tiang Pancang
Tiang Pancang yang digunakan yaitu Tiiang Pancang Beton dengan
ukuran 35x35 cm dan panjang sekitar 30 m. Tiang Pancang ini
merupakan barang pabrikan. Sekitar 1 minggu sebelum kegiatan
pemancangan dilakukan, tiang pancang telah dipesan.
Pelaksanaan pemancangan yaitu sebagai berikut :
Melakukan

pengukuran

kembali

dengan

theodolit

untuk

mendapatkan titik-titik yang akan dipancang dan sesuai dengan


gambar kerja.

Setelah didapatkan titik-titik yang akan dipancang, selanjutnya diatur


posisi atau kedudukan dari crane.
Setelah itu dilakukan penyetelan tiang pancang agar tepat pada
posisinya (Centre Line).
Jika tiang pancang telah pas (Centre) maka selanjutnya tiang pancang
dipukul dengan menggunakan hammer. Jika tiang pancang tersebut
telah hampir tertancap seluruhnya namun setelah dilakukan tes
calendering (PDA Test) masih belum mencapai tanah keras, maka
tiang pancang disambung dengan menggunakan las.
Kegiatan pemancangan dapat dihentikan jika hasil tes calendering
(PDA Test) telah menunjukkan nilai yang diinginkan atau telah
mencapai tanah keras. Untuk mengetahui tiang pancang telah
mencapai tanah keras yaitu jika dipukul hammer (alat pemukul) akan
membalik.
Sisa tiang pancang yang muncul di permukaan tanah dipotong dan
dibobok dengan menggunakan alat potong, kemudian besi dari tiang
pancang yang muncul disambungkan ke balok Sloof dan Kolom.

Proses Pelaksanaan Pemancangan


b. Pondasi Plat Setempat
Pondasi Plat Setempat terbuat dengan mutu beton K-300. Hal pertama
dilakukan yaitu merakit tulangan dan bekisting pondasi sesuai dengan
gambar kerja. Perakitan dan pembuatan mal ini dapat dilakukan
bersamaan dengan pengalian tanah pondasi. Setelah itu bekisting
diletakkan diatas lantai kerja dan besi tulangan dimasukkan ke dalam
bekisting. Sebelum besi tulangan diletakkan di dalam bekisting, diatas
lantai kerja di berikan beton tahu kira-kira berukuran 2x2x2 cm dengan
mutu beton yang sama. Beton tahu ini berfungsi agar kedudukan

tulangan pas berada di tengah dan memberikan ruang untuk selimut


beton yang cukup.
Jika tulangan dan bekisting telah dipasang maka campuran beton dapat
dituang. Ketinggian curahan harus diperhatikan agar seluruh rongga
dapat tertutupi oleh material.
Bahan-bahan yang digunakan dalam campuran beton harus sesuai
dengan job mix design yang ada. Bebas dari material organik, debu dan
telah mendapat persetujuan dari pengawas.
6. PEKERJAAN COR BALOK SLOOF
Pengecoran balok sloof dilakukan setelah pondasi plat setempat dan pile cap
selesai dilakukan. Pada dasarnya pelaksanaan balok sloof sama dengan
pelaksanaan Pondasi Plat Setempat. Bekisting dan tulangan besi dirakit
terlebih dahulu sesuai dengan shop drawing. Setelah itu barulah campuran
beton dituangkan, campuran beton yang digunakan sama dengan campuran
beton Pondasi yaitu mutu beton K-300. Campuran beton tersebut terlebih
dahulu telah dilakukan job mix design dan nilai slump tesnya sesuai dengan
spesifikasi teknis. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini perlu adanya persetujuan
dari pengawas.
7. PEKERJAAN COR BETON KOLOM
Proses pelaksanaan pekerjaan ini sebagai berikut :
Pekerjaan

Pembesian.

Fabrikasi

pembesian

dilakukan

ditempat

fabrikasi. Besi yang digunakan yaitu besi 19 sebagai tulangan utama


dan besi 10 sebagai sengkang (begel). Besi ini dirakit dan dibentuk
sesuai dengan shop drawing.
Pembuatan Bekisting. Bekisting dibuat dari multiplex 9 mm yang
diperkuat dengan kayu usuk 4/6 dan diberi skur-skur penahan agar tidak
mudah roboh.
Melakukan Kontrol Kualitas. Ada 2 kontrol kualitas yang dilakukan.
Kontrol kualitas pertama yaitu Kontrol Kualitas Sebelum dilakukan
pengecoran meliputi kontrol kualitas terhadap posisi dan kondisi
bekisting, posisi dan penempatatan pembesian, jarak antar tulangan,
panjang penjangkaran, ketebalan beton decking (Beton tahu), ukuran
baja tulangan yang digunakan, posisi penempatan water stop.

Kontrol Kualitas kedua yaitu Kontrol kualitas saat pengecoran. Pada


saat berlangsungnya pengecoran, campuran dari Concrete mixer Truck
diambil sampelnya. Sampel diambil menurut ketentuan yang tercantum
dalam spesifikasi.
Pekerjaan Kontrol kualitas ini akan dilakukan bersama-sama dengan
konsultan pengawas untuk selanjutnya dibuat berita acara pengesahan
kontrol kualitas.
Kegiatan pengecoran.
Pengecoran dilakukan secara langsung dan menyeluruh
Kegiatan Curing (perawatan)
Curing (perawatan) dilakukan sehari (24 jam) setelah pengecoran selesai
dilakukan dengan dibasahi air dan dijaga/dikontrol untuk tetap dalam
keadaan basah.

Proses Pelaksanaan Pekerjaan Kolom


8. PEKERJAAN COR BETON BALOK & RING BALOK
Pelaksanaan pekerjaan ini sama dengan pelaksanaan pekerjaan kolom, hanya
saja dalam pengerjaan bekisting perlu adanya tambahan kayu dolken/ubar.
Kayu ini berfungsi sebagai steger/penopang dari bekisting agar bekisting
tetap pada tempatnya (tidak terjadi lendutan). Kayu steger tersebut
ditegakkan dengan jarak sekitar 40 cm. Pelaksanaan pengecoran balok atau
ring balok, biasanya seiringan dengan pelaksanaan Pelat lantai. Dalam
proyek ini tulangan yang digunakan yaitu besi 16 & 13 sebagai tulangan
utama dan besi 8 sebagai sengkang (begel)
9. PEKERJAAN COR BETON PLAT LANTAI
Proses pelaksanaan pekerjaan ini yaitu :

Pekerjaan Pengukuran dan Bekisting


Pemasangan bekisting pelat lantai didahului dengan pengukuran posisi
balok. Pengukuran dilakukan dengan cara memberi tanda as bangunan
pada kolom lantai bawah yang tadinya ada pada lantai bawah.
Pengukuran ini ditujukan untuk mengantisipasi kesalahan pada posisi
balok. Dari hasil pengukuran tersebut maka bekisting balok dan pelat
dapat difabrikasi pada posisi yang benar diatas perancah yang telah
disiapkan. Pengaturan level balok dan pelat dapat dilakukan dengan
mengatur ketinggian perancah (Scafolding). Proses pemasangan
bekisting ini dibantu oleh surveyor untuk mengontrol level balok dan
pelat.
Pekerjaan Pembesian
Fabrikasi pembesian dilakukan di tempat fabrikasi, setelah bekisting
siap, besi tulangan yang telah siap dipasang dan dirangkai dilokasi.
Pembesian balok dilakukan terlebih dahulu, setelah itu diikuti dengan
pembesian pelat lantai. Panjang penjangkaran dipasang 30xD Tulangan
Utama.
Leveling Pengecoran pelat lantai
Agar pengecoran pelat lantai mencapai level yang benar dan tidak
terjadi perbedaan tinggi finishing cor, maka perlu dibuat alat bantu
leveling pengecoran. Leveling pengecoran dibuat dari besi siku
L.50.50.5 yang ditumpukan pada beberapa titik besi beton. Besi beton
ini ditancapkan hingga posisi besi siku tidak lagi bergeser. Penempatan
besi siku diukur dengan waterpass dan diukur pada level sesuai gambar
desain.
Pekerjaan Kontrol Kualitas
Kontrol kualitas yang dilakukan sama dengan kontrol kualitas yang
dilakukan pada pekerjaan kolom.
Pengecoran beton
Pengecoran dilakukan dengan Ready Mix truck yang dibantu dengan
penggunaan Concrete Pump. Dalam hal ini pengecoran dilakukan secara
sekaligus balok dan pelat seluruh lantai. Untuk mempercepat proses
pengecoran dipakai Concrete Pump. Pengecoran dibantu dengan alat
vibrator untuk meratakan dan memadatkan campuran. Selanjutnya
finishing lantai cor ini adalah rata namun dibiarkan kasar karena
selanjutnya akan dilakukan pekerjaan lantai.
Pekerjaan curing
Sama hal nya dengan pekerjaan kolom, Curing (Perawatan) dilakukan
sehari setelah dilakukan pengecoran.

Proses Pelaksanaan Pekerjaan Balok & Pelat Lantai