Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKU

PREFERENSI SUHU BLACK-MOLLY DAN GUPPY (Poecillia sp.)


Diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah praktikum biologi perilaku

Nama

: ROMARIO

NIM

: 1127020068

Kelas

: Biologi 5B

Tanggal percobaan

: Kamis, 02 Oktober 2014

Pengumpulan laporan : Selasa, 07 Oktober 2014


Asisten

: Teh nury

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.

LATAR BELAKANG
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan

keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi


organisme tersebut Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri
terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis
dantingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam
pengaturan homeostatis yang diperlukan. bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan
(Tunas, 2005).
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie, 1990). Kenaikan
suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu (Aprianto
dan Liviawati, 1992). Menurut Soetjipta (1993), air memiliki beberapa sifat termal yang
unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Selanjutnya
Soetjipta menambahkan bahwa walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air
daripadadi udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama. Oleh karena itu, mahluk
akuatik sering memiliki toleransi yang sempit.
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas tubuh,
sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungan sekelilingnya
(Hoole et al., dalam Tunas, 2005). Sebagai hewan air, ikan memiliki beberapa mekanisme
fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan
perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan (Fujaya, 2004).
Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air, beberapa species mampu
hidup pada suhu air mencapai 29oC, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu airyang
sangat dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas
(Sukiya, 2005). Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan
mengalami kenaikan kecepatan respirasi (Kanisius, 1992).

2.

TUJUAN

Mengetahui preferensi suhu pada ikan guppy (Poecilia reticulata) terhadap suhu air yang
berbeda-beda.
3.

RUMUSAN MASALAH

1.

Pada suhu berapakah yang di sukai ikan guppy (Poecilia reticulata)

2.

Perilaku apa yang muncul untuk berada di satu kisaran suhu tertentu, yang akan
menunjukkan puncak dari sebaran distribusi normal suhu lingkungan yang paling di sukai
yang berhubungan dengan kemampuan ikan tersebut untuk terus bertahan hidup
1.

HIPOTESIS

Perilaku ikan guppy (Poecillia reticulate) akan berubah seiring dengan adanya perubahan
suhu disekitarnya, dan ia akan memilih tempat dimana ia tinggal sesuai dengan tingkat suhu
yang ada.

2.
1.

MANFAAT PENELITIAN

Agar mengetahui pada kisaran suhu berapa ikan guppy (Poecillia reticulate) bisa
bertahan hidup.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan

keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi


organisme tersebut Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap
kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dantingkah laku.
Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan
homeostatis yang diperlukan. bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Tunas, 2005).
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie, 1990). Kenaikan suhu
air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu (Aprianto dan

Liviawati, 1992). Menurut Soetjipta (1993), air memiliki beberapa sifat termal yang unik,
sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Selanjutnya Soetjipta
menambahkan bahwa walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air daripadadi udara,
namun suhu merupakan faktor pembatas utama. Oleh karena itu, mahluk akuatik sering memiliki
toleransi yang sempit.
Menurut Laevastu dan Hayes (1981), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses
metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan
renang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas
terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya
pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah
faktor-faktor yang paling penting yang menentukan kekuatan keturunan dan daya tahan larva
pada spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah
pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di
daerah lain daripada di daerah tersebut. Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat
poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor
yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme.
Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena
pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti ikan
maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30C. Perubahan suhu di bawah 20C
atau di atas 30C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya
daya cerna (Green, et. All., 2005).
Poecilia reticulata memiliki toleransi ekologi yang luas : eurythermal, euryhaline dan
hipoksia toleran. Poecilia reticulata dapat bertahan hidup pada suhu air sampai 32C (Gibson,
1954), dengan toleransi terbatas pada suhu yang lebih tinggi hingga 36C (Arai et al., 1963).
Spesies dapat bereproduksi dengan kekuatan penuh di air laut (35ppt) (Shikano dan Fujio 1997)
dan mentolerir salinitas sampai dengan 58.5ppt (Chervinski 1984). Ikan ini dapat mentolerir
oksigen tingkat rendah turun hingga 0,5 mg / l dengan respirasi dari permukaan air (ASR)
(Laevastu dan Hayes, 1981). Ikan guppy dapat beradaptasi dalam air dengan pH 7,0-8,0
(idealnya), kedalaman 10 dH atau lebih, baik di air payau, air tawar, dan jika menyesuaikan diri
dengan benar, dapat disimpan dalam kondisi air asin juga. Dan dengan suhu 18-28C (Scott,
1999).

Ikan guppy merupakan hewan ovovivipar dan kawin secara poligami dengan fertilisasi
internal, ikan jantan bebas memilih betina dan betina selektif dalam memilih pasangan mereka.
Poecilia reticulate jantan memiliki sirip dubur yang diubah menjadi sebuah gonopodium untuk
fertilisasi internal. Ikan jantan yang terus menerus mengejar dan mengawini betina, meskipun
betina selektif terhadap pasangan mereka (Kottelat, et. All., 1993). Penelitian telah menunjukkan
bahwa ikan betina memilih laki-laki, terutama mereka yang lebih besar dan lebih terang atau
orange spot (Karino, et al. 2005), sedangkan Sukiya (2006) menunjukkan bahwa tekanan predasi
juga merupakan faktor seleksi yang kuat dalam variasi warna pada ikan jantan, dan
mempengaruhi pemilihan pasangan (Reynolds dan Gross, 1992), hal itu merupakan suatu
kompromi antara pemilihan seksual (yang jelasan menguntungkan) dan seleksi alam.

BAB III
METODE KERJA
3.1 ALAT DAN BAHAN
Alat

Jumlah

Bahan

Jumlah

Jaring kecil

1 buah

Ikan guppy (Poecillia

12 ekor

reticulate)
Bunsen

1 buah

Air bersih

Secukupnya

Thermometer

5 buah

Es batu

Secukupnya

Kanal pengamatan

1 buah

Korek api

Secukupnya

preferensi suhu
Stopwatch

1 buah

Alat tulis

1 set

3.2 CARA KERJA

Dalam praktikum kali ini kami menggunakan 12 ekor ikan guppy (Poecillia reticulate)
yang digunakan sebagai sampel uji. Lalu kami menggunakan air bersih untuk sarana praktikum
yang akan ditempatkan pada kanal pengamatan preferensi suhu. Kanal ini berfungsi sebagai
tempat pengamatan ikan ikan terhadap preferensi suhu yang terdapat didalamnya. Lalu sebagai
bahan agar mencapai suhu 15oC kami menggunakan es batu, sedangkan untuk dapat mencapai
suhu 30oC kami menggunakan alat pemanas yaitu Bunsen, korek api dipakai untuk memijarkan
api pada Bunsen. Lalu pada setiap zona kami letakkan thermometer sebagai pengukur suhu
setiap zonanya dan digunakan alat penghitung berupa stopwatch.
1.

Pengamatan morfologi Poecillia sp.


Sebagai obyek penelitian perilaku preferensi suhu digunakan 12 ekor ikan guppy, jaring

kecil dibutuhkan untuk memindahkan ikan. Diambil seekor Poecillia dan diamati morfologinya
melalui mikroskop stereo dan dicatat bagian tubuh ventral.
2.

Penyusunan kotak kanal pengamatan


Disusun dan disiapkan kotak kanal pengamatan preferensi suhu. Kotak ini memiliki

ruang di kedua ujungnya untuk menaruh es dan tempat memanaskan air dengan menggunakan
pembakar Bunsen. Diisi kotak kanal dengan air ledeng yang bersih. Membagi Kotak kanal
menjadi lima zona dengan panjang masing-masing bagian sekitar 10 cm. Sebagai alat pengukur
suhu, digunakan termometer raksa sebanyak 5 buah dan disimpan satu buah di setiap zona
dengan cara digantungkan pada penyangga yang dirangkaikan pada kanal.
3.

Pengamatan perilaku preferensi suhu


Dimasukkan 12 ekor Poecillia ke dalam kotak kanal pengamatan suhu yang sebelumnya

telah disusun. Mula-mula, kanal dirangkai seperti pada tahap 2. Kotak percobaan diisi air
secukupnya sehingga ikan yang dimasukkan ke dalamnya dapat berenang bebas. Ikan diberi
waktu 10-15 menit untuk menyesuaikan diri (habituasi). Saat habituasi tersebut, dicatat pada
zona mana ikan berada. Dimasukkan es ke salah satu ujung kanal dan pembakar Bunsen di ujung
lainnya. Waktu t0 mulai dihitung ketika es sudah dimasukkan ke satu sisi dan pembakar Bunsen
dinyalakan di sisi lainnya. Setiap interval waktu 10 menit, banyaknya ikan di setiap zona suhu
dihitung dan perubahan suhu pada zona tersebut dicatat. Penghitungan dalam satu interval waktu
(10 menit) dilakukan sebanyak lima kali pengulangan (berarti penghitungan dilakukan setiap 2
menit sekali). Penghitungan dan pencatatan dilakukan sebanyak 5 interval waktu, yaitu selama
50 menit. Jadi, jumlah total data untuk setiap kelompok pengamatan adalah 25 buah (5 interval

waktu dikalikan 5 pengulangan). Dilakukan pengolahan statistik menggunakan analisis variansi


(ANOVA) untuk menguji hipotesis mengenai ada atau tidaknya perbedaan rataaan untuk setiap
zona suhu!

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Pada pengamatan morfologi ikan guppy (Poecillia reticulate) panjangnya 2,3, panjang
sirip ekor 6 cm dan warna siripnya orange, sirip perut warna putih, sirip dada warna putih dengan
panjang 2 cm, sirip pinggir warna putih dengan panjang 5 cm, sirip punggung warna putih
keorangean dengan panjang 3 cm, overculum dan mata berwarna putih keunguan, mata putih
hitam.
Klasifikasi dari ikan guppy ini yaitu :
Kerajaan

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Cyprinodontiformes

Famili

: Poeciliidae

Genus

: Poecilia

Spesies

: Poecillia reticulate

Pada uji ANOVA dengan parameter setiap zona diketahui nilai signifikannya yaitu 0,00
yang menunjukkan bahwa nilainya <0.05, hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata
pada setiap zona yang diamati.

Pada uji Tukey dan Duncan, diketahui bahwa subset a (1,2,3) tidak memiliki perbedaan
yang nyata, sedangkan subset a (1,2,3) dan subset b (4) memiliki perbedaan yang nyata. Subset b
(4) dengan subset c (5) terlihat adanya perbedaan yang nyata, sedangkan subset c (5) dengan
subset a (1,2,3) juga memiliki perbedaan yang nyata.

Grafik diatas menunjukkan hasil dari ke lima zona yang ada sebagai perbandingan
preferensi suhu ikan guppy (Poecilia reticulata). Pada zona 1 yang memiliki suhu sekitar 28380C 1,12 ikan, hal ini dikarenakan suhu air pada zona 1 terlalu panas bagi ikan guppy. Pada
zona 2 dengan suhu 28-340C terdapat ikan sebanyak 0,92, hal ini juga dikarenakan suhu pada
zona 2 terlalu panas bagi ikan guppy. Pada zona 3 dengan suhu 28-330C terdapat ikan sebanyak
1,4, hal ini juga dikarenakan suhu air yang terlalu panas. Pada zona 4 dengan suhu 28-320C
terdapat ikan sebanyak 3,32, hal ini dikarenakan suhu air pada zona 4 hangat sehingga ikan yang
ada di zona ini lebih banyak dari zona 1, 2, dan 3, tetapi tidak sebanyak di zona 5. Sedangkan
pada zona 5 dengan suhu 22-290C terdapat ikan sebanyak 5,24, hal ini menunjukkan bahwa suhu
tersebut sangat cocok buat tempat tinggal ikan guppy karena tidak terlalu panas dan tidak terlalu
dingin.
Jumlah ikan yang paling banyak berada di zona 5 dengan suhu 22-290C. Hasil ini
memperlihatkan bahwa ikan guppy lebih menyukai suhu hangat daripada suhu dingin. Poecilia
reticulata dapat bertahan hidup pada suhu air sampai 32C (Gibson, 1954), dengan toleransi
terbatas pada suhu yang lebih tinggi hingga 36C (Arai et al., 1963). Hal ini kemungkinan
karena kurangnya oksigen pada lingkungan tersebut. Disaat suhu dingin maka oksigen akan
semakin berkurang, apalagi dengan jumlah individu yang tidak sedikit pada satu lingkungan
tersebut. Apalagi jika suhu ekstrim, entah itu ekstrim dingin atau panas sesuai dengan itu oksigen

akan semakin berkurang. Seperti menurut Kanisius (1992) Makin tinggi suhu maka, makin
sedikit oksigen dapat larut. Suhu air sangat berperan untuk kenyamanan ikan (Fujaya, 2004).
Ikan ini sangat mudah beradaptasi dan memiliki toleransi yang baik dalam berbagai kondisi
lingkungan tempat hidupnya. Kemungkinan kedua adalah adanya tekanan dari pihak praktikan
saat melakukan praktikum ini. Guncangan-guncangan pada meja praktikum atau kemunculan
kami secara tiba-tiba yang membuat mereka kaget dan kemudian malah berpindah dari satu
tempat ke tempat yang menurut mereka aman.
Suhu air dapat mengatur kegiatannya serta merangsang atau menekan pertumbuhan dan
perkembangannya. Air yang hangat pada umumnya akan memacu metabolisme, sedangkan air
yang yang relatif dingin pada umumnya akan mengendurkan aktivitas organisme air (Tunas,
2005).
Menurut Arinardi (1989) dalam Tunas (2005), yang menyatakan bahwa kenaikan
temperature 2-3oC akan mengakibatkan organisme perairan mengalami stress. Suhu rendah akan
mengurangi imunitas (kekebalan tubuh) ikan, sedangkan suhu tinggi akan mempercepat ikan
terkena infeksi bakteri. Pengaruh aklimatisasi atau adaptasi dapat ditoleransi oleh ikan tertentu.
Penurunan atau kenaikan suhu yang terjadi perlahan-lahan tidak akan terlalu membahayakan
ikan. Sementara perubahan yang terjadi secara tiba-tiba akan membuat ikan stress. Akibatnya,
ikan menjadi stres, tidak ada keseimbangan dan menurun sistem sarafnya (Lesmana, 2002).

BAB V
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa ikan guppy (Poecilia reticulata) lebih senang pada suhu yang
hangat bila dibandingkan dengan suhu dingin. Hal ini kemungkinan karena kurangnya oksigen
pada lingkungan tersebut. Disaat suhu dingin maka oksigen akan semakin berkurang, apalagi
dengan jumlah individu yang tidak sedikit pada satu lingkungan tersebut.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Aprianto, E dan Evi Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan. Cetakan I.
Kanisius. Yogyakarta.
Arai M.N., Cox E.T. and Fry F.E.J. 1963. An effect of dilutions of seawater on the lethal
temperature of the guppy. Canadian Journal of Zoology. Vol 41: 1101-1115.
Arinardi, O. H. 1989. Pengaruh Curah Hujan Terhadap Pertumbuhan Fitoplankton di Teluk
Jakarta Pada Tahun 1978. dalam Penelitian Oseanologi Perairan Indonesia Buku I :
Biologi, Geologi, Lingkungan & Oseanologi. LIPI. Jakarta Cech (2005) dalam Cordova
(2008).
Chervinski J., 1984. Salinity tolerance of the guppy, Poecilia reticulata Peters. Journal of Fish
Biology. Vol 24(4): 449-452.
Ewusie, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung. Penerbit Institut Teknologi Bandung.
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisisologi Ikan. Penerbit P.T Rineka Cipta. Jakarta.
Gibson M.B. 1954. Upper lethal temperature relations of the guppy, Lebistes reticulatus.
Canadian Journal of Zoology. Vol 32: 393-407.
Green, J., S.A. Corbett, E. Watts, and B.L. Oey. 1978. Ecological studies on Indonesian lakes :
The montane lakes of Bali. J. Zool. 186:15-38
Kanisius. 1992. Polusi Air dan Udara. Penerbis Kanisius. Yogyakarta.

Karino K., Utagawa T. and Shinjo S. 2005. Heritability of the algal-foraging ability: an indirect
benefit of female mate preference for males' carotenoid-based coloration in the guppy,
Poecilia reticulata . Behavioural Ecology and Sociobiology. Vol 59(1): 1-5.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari, S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia
Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. dan Proyek EMDI KMNKLH hal
126-127. Jakarta.
Laevastu, T. dan Hayes, M.L. 1981. Fisheries Oceanography and Ecology. New York. Fishering
News Book Ltd.
Lesmana Darti S. 2002. Kualitas Air untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta.
Reynolds J.D. and Gross M.R., 1992. Female mate preference enhances offspring growth and
reproduction in a fish Poecilia reticulata. Proceedings of the Royal Society London B. Vol
250: 57-62.
Scott, P. 1999. Livebearing Fishes (Fishkeeper's Guides). Interpet Publishing. USA.
Shikano T. and Fujio Y. 1997. Successful propagation in seawater of the guppy Poecilia
reticulate with reference to high salinity tolerance at birth. Fisheries Science (Tokyo). Vol
63(4): 573-575.
Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Depdikbud Dirjen Dikti. Yogyakarta.
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Universitas Negeri Malang. Malang.
Tunas, Arthama Wayan. 2005. Patologi Ikan Toloestei. Penerbit Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

LAMPIRAN
Kanal
suhu

pengamatan

preferensi

Ikan guppy di dalam kanal

waktu
(1) 10' 1
2
3
4
5
(2) 10' 1
2
3
4
5
(3) 10' 1
2
3
4
5
(4) 10' 1
2
3
4
5
(5) 10' 1
2
3
4
5
rata-rata

t0
28
29
31
31
31
31
31
34
32
31
31
31
31
31
31
31
31
31
31
32
31
38
38
38
38

zona 1
ikan
0
6
1
7
0
0
4
4
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
5
0
0
0
1.12

t0
28
28
28
28
28
28
28
32
32
32
32
32
32
32
34
34
34
31
31
32
33
33
34
34
34

zona 2
ikan
0
0
1
0
7
0
4
1
0
0
1
0
0
0
0
0
1
3
0
0
0
1
0
4
0
0.92

t0
28
28
28
28
29
29
30
30
30
30
30
30
30
30
31
31
31
31
31
31
31
31
32
32
33

zona 3
ikan
0
0
9
2
2
1
2
1
7
1
0
1
0
2
3
0
1
0
3
0
0
0
0
0
0
1.4

t0
28
28
28
28
28
28
28
30
30
30
30
31
31
31
31
32
31
31
31
31
32
32
33
33
34

zona 4
ikan
1
0
0
3
3
8
1
1
2
3
5
1
2
8
3
5
5
7
3
4
8
2
1
5
2
3.32

t0
28
28
25
22
22
23
24
25
26
27
26
27
27
27
27
26
29
29
29
29
29
29
29
29
29

zona 5
ikan
11
6
1
0
0
3
1
5
3
8
6
10
10
2
6
5
3
5
6
8
3
5
7
7
10
5.24