Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH SISTEM KENDALI

PENGOLAHAN KELAPA SAWIT

Disusun Oleh :

Intan Nisa Arroyan

3.31.12.0.11

Prahita Ratna Ningrum

3.31.12.0.17

Yayan Hisyam Nur W

3.31.12.0.20

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Di Indonesia, tanaman kelapa sawit banyak dikebunkan oleh perusahaan-perusahaan
besar baik pemerintah maupun swasta. Bahkan masyarakat pun banyak bertanam kelapa
sawit. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit sangat cocok tumbuh di Indonesia.
Jika Indonesia ditargetkan untuk menjadi negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di
dunia, tentunya banyak orang-orang yang mengelolanya. Mulai dari pembibitan, penanaman
sampai ke teknik pengolahan hasil panen. Disinilah dapat dilihat bahwaada potensi untuk
mengolah kelapa sawit menjadi berbagai macam produk. Selain CPO yang dihasilkan kelapa
sawit, kelapa sawit juga banyak manfaatnya. Antara lain sebagai bahan bakar biodisel,
minyak goreng, pupuk, kosmetik dan lain-lain. Semua yang terdapat dalam kelapa sawit bisa
digunakan kembali atau bisa diolah.

1.2 TUJUAN
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem kendali
2. Mengetahui proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak mentah
3. Menambah pengetahuan tentang manfaat kelapa sawit

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KELAPA SAWIT


Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak,
minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Pohon Kelapa Sawit terdiri dari dua spesies
Arecaceae atau famili palma yang digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran
minyak kelapa sawit. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Bunga dan buahnya berupa
tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila masak, berwarna merah
kehitaman. Daging buahnya padat dan mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan
sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan
ternak. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Perkebunannya
menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi
menjadi perkebunan kelapa sawit. Di Indonesia penyebarannya didaerah Aceh, pantai timur
Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

2.2 PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT


Proses pengolahan kelapa sawit merupakan suatu proses pengolahan yang
menghasilkan minyak kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti
sawit, sabut, dan cangkang. Pabrik kelapa sawit dalam konteks industri kelapa sawit di
Indonesia berguna sebagai unit ekstraksi Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit dari tandan
buah segar kelapa sawit berguna sebagai kernel sebagai unit Palm Kernel Oil (PKO). Pabrik
Kelapa Sawit tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan
mekanis, fisik, dan kimia. Perlu diketahui bahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh
sangat dipengaruhi oleh kondisi buah yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses
pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan dalam pengolahannya,
sehingga kualitas CPO yang dihasilkan tidak semata-mata tergantung dari kondisi buah yang
masuk ke dalam pabrik. Berikut flow proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO dan
PKO.

Gambar 1. Flowchart proses pengolah kelapa sawit

Berdasarkan gambar flowchart diatas berikut adalah berbagai proses dari pengolahan kelapa
sawit:
a. Loading Ramp
Setelah buah disortir pihak sortasi, buah dimasukkan kedalam ramp cage yang berada
diatas rel lori. Ramp cage mempunyai 30 pintu yang dibuka tutup dengan sistem hidrolik,
terdiri dari 2 line sebelah kiri dan kanan. Pada saat pintu dibuka lori yang berada
dibawah cage akan terisi dengan TBS. Setelah terisi, lori ditarik dengan capstand
ke transfer carriage, dimana transfer carriage dapat memuat 3 lori yang masing masing
mempunyai berat rata-rata 3,3 3,5 ton. Dengan transfer carriage lori diarahkan ke
rel sterilizer yang diinginkan. Kemudian diserikan sebanyak 12 lori untuk dimasukan
kedalam sterilizer. Pemasukan lori ke dalam sterilizer menggunakan loader.

b. Sterilizer
Sterilisasi adalah proses perebusan dalam suatu bejana yang disebut dengan sterilizer.
Adapun fungsi dari perebusan adalah sebagai berikut:
Mematikan enzyme.
Memudahkan lepasnya brondolan dari tandan.
Mengurangi kadar air dalam buah.
Melunakkan mesocarp sehingga memudahkan proses pelumatan dan pengepressan.

Memudahkan lepasnya kernel dari cangkangnya.

Proses perebusan dilakukan selama 85 -95 menit. Untuk media pemanas dipakai
steam dari BVP (Back Pressure Vessel) yang bertekanan 2,8-3 bar. Perebusan dilakukan
dengan sistem 3 peak ( tiga puncak tekanan). Puncak pertama tekanan sampai 1,5 Kg/cm2,
puncak kedua tekanan sampai 2,0 Kg/cm2 dan puncak ketiga tekanan sampai 2,8 3,0
Kg/cm2. Berikut proses perebusan sistem tiga peak :
Deaeration dilakukan 2 menit, dimana posisi condensate terbuka. Memasukkan uap
untuk peak pertama yang dicapai dalam waktu 10 menit. Biasanya tekanan mencapai 1,2
bar. Uap dan kondensat dibuang sampai tekanan menjadi 0 bar dalam waktu 5 menit. Uap
dimasukkan selama 15 menit untuk mencapai tekanan 2 bar. Uap kondensat dibuang lagi
selama 3 menit. Kemudian steam dimasukkan lagi untuk mencapai peak ke-3 dalam waktu
15 20 menit. Setalah peak ketiga tercapai maka dilakukan penahanan selama 40 50
menit. Uap kondensat dibuang selama 5 7 menit sampai tekanan 0.

c. Theresser
Setelah perebusan TBS yang telah masak diangkut ke thresser dengan mengggunakan
hoisting crane yang mempunyai daya angkat 5 ton. Lori diangkat dan dibalikkan
diatas hopper thresser (auto feeder).
Pada stasiun ini tandan buah segar yang telah direbus siap untuk dipisahkan antara
berondolan dan tandannya. Sebelum masuk kedalam thresser TBS yang telah direbus
diatur pemasukannya dengan menggunakan auto feeder. Dengan menggunakan putaran
TBS

dibanting

sehingga

berondolan

lepas

dari

tandannya

dan

jatuh

ke conveyor dan elevator untuk didistribusikan ke rethresser untuk pembantingan kedua


kalinya. Thresser mempunyai kecepatan putaran 22 25 rpm. Pada bagian dalam thresser,
dipasang batang-batang besi perantara sehingga membentuk kisi-kisi yang memungkinkan
berondolan

keluar

dari thresser.

Untuk

tandan

kosong

sendiri

didistribusikan

dengan empty bunch conveyor untuk didistribusikan ke penampungan empty bunch.

d. Stasiun Press
Berondolan yang keluar dari thresser jatuh ke conveyor, kemudian diangkut
dengan fruit

elevator ke top

cross

conveyor yang

mendistribusikan

berondolan

kedistributing conveyor untuk dimasukkan dalam tiap-tiap digester. Digester adalah tangki
silinder tegak yang dilengkapi pisau-pisau pengaduk dengan kecepatan putaran 25-26 rpm,

sehingga brondolan dapat dicacah di dalam tangki ini. Bila tiap-tiap digester telah terisi
penuh maka brondolan menuju ke conveyor recycling, diteruskan ke elevator untuk
dikembalikan ke digester. Tujuan pelumatan adalah agar daging buah terlepas
dari biji sehingga mudah di-press. Untuk memudahkan pelumatan buah, pada digester diinject steam bersuhu sekitar 90 95 C.
Berondolan yang telah lumat masuk ke dalam screw press untuk diperas sehingga
dihasilkan minyak (crude oil). Pada proses ini dilakukan penyemprotan air panas agar
minyak yang keluar tidak terlalu kental (penurunan viscositas) supaya pori-pori silinder
tidak tersumbat, sehingga kerja screw press tidak terlalu berat. Penyemprotan air
dilakukan melalui nozzle-nozzle pada pipa berlubang yang dipasang pada screw press.
Kapasitas mesin press adalah 15 ton per jam.
Tekanan mesin press harus diatur, karena bila tekanan terlalu tinggi dapat
menyebabkan inti pecah dan screw press mudah aus. Sebaliknya, jika tekanan
mesinpress terlalu

rendah

maka oil

losses di

ampas

tinggi.

Minyak

hasil

mesin press kemudian menuju ke sand trap tank untuk pengendapan. Hasil lain adalah
ampas (terdiri dari biji dan fiber), yang akan dipisahkan dengan menggunakan cake
breaker conveyor (CBC).

e. Stasiun Pemurnian
Minyak yang berasal dari stasiun press masih banyak mengandung kotoran-kotoran
yang berasal dari daging buah seperti lumpur, air dan lain-lain. Untuk mendapatkan
minyak yang memenuhi standar, maka perlu dilakukan pemurnian terhadap minyak
tersebut. Pada stasiun ini terdiri dari beberapa unit alat pengolah untuk memurnikan
minyak produksi, yang meliputi:

Sand Trap Tank


Minyak

hasil

mesin press merupakan

minyak

mentah

yang

masih

banyak

mengandung kotoran-kotoran. Minyak tersebut masuk ke sand trap tank untuk


mengendapkan partikel-partikel yang mempunyai densitas tinggi. Sand trap
tank adalah sebuah bejana yang berbentuk silinder tegak.

Vibrating Screen
Minyak bagian atas dari sand trap tank yang masih mengandung serat dan sedikit
kotoran dialirkan ke ayakan getar (vibrating screen). Proses penyaringan
memakai vibrating screen bertujuan untuk memisahkan padatan, seperti : serabut,

pasir, tanah dan kotoran-kotoran lain yang masih terbawa dari sand trap
tank. Vibrating yang

digunakan

adalah

double deck

vibrating

screen,

dimana screen pertama berukuran 30 mesh dan screen kedua 40 mesh. Padatan yang
tertahan pada ayakan akan dikembalikan ke digester melalui conveyor, sedangkan
minyak dipompakan ke crude oil tank.

Crude Oil Tank (COT)


Minyak yang keluar dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank untuk ditampung
sementara. Pada crude oil tank ini minyak dipanaskan dengan steammelalui sistem
pipa pemanas, dan suhu dipertahankan 90-95C. Dari sini minyak dipompakan ke
CST (Continuous Settling Tank).

Continous Settling Tank (CST)


Minyak dari COT dipompakan ke CST dimana sebelumnya dilewatkan ke buffer
tank agar aliran minyak masuk ke CST tidak terlalu kencang. CST bertujuan untuk
mengendapkan lumpur (sudge) berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Di CST suhu
dipertahankan

86-90 oC.

bantuan skimmer menuju oil

Minyak
tank,

pada

bagian

atas

CST

dikutip

sedangkan sludge (yang masih

dengan

mengandung

minyak) pada bagian bawah dialirkan secara underflow ke sludge vibrating


screensebelum ke sludge oil tank. Sludge dan pasir yang mengendap didasar CST diblowdown untuk dibawa ke sludge drain tank .

Oil Tank
Minyak dari CST menuju ke oil tank untuk ditampung sementara waktu, sebelum
dialirkan ke oil purifier. Dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75-80C) dengan
tujuan untuk mengurangi kadar air.

Purifier
Di dalam purifier dilakukan pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air
yang terdapat pada minyak berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan
gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang
memiliki densitas yang besar akan berada pada bagian yang luar (dinding bowl),
sedangkan minyak yang mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan
keluar melalui sudu-sudu untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang
melekat pada dinding di-blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.

Vacuum Drier

Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk mengurangi
kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum drier. Di sini minyak disemprot
dengan menggunakan nozzle sehingga campuran minyak dan air tersebut akan pecah.
Hal ini akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana minyak yang
memiliki tekanan uap lebih rendah dari air akan turun ke bawah dan kemudian
dipompakan ke storage tank.

Sludge Tank
Untuk overflow dari tangki ini di alirkan ke drain tank sedangkan under flownya
dialirkan ke vibrating screen dan brush strainer atau langsung ke bak transit untuk
dipompakan ke sand cyclone. Untuk mempercepat pengendapan lumpur, sludge
dipanaskan

(80-90oC)

dengan

menggunakan

uap

yang

dialirkan

melalui

coil pemanas. Sehingga densitas minyak menjadi lebih rendah dan lumpur halus yang
melekat pada minyak akan terlepas dan mengendap pada dasar tangki. Dari sand
cyclone atau brush strainer sludge dialirkan ke balance tank sebagai umpan untuk
decanter atau sludge centrifuge.

Sludge centrifuge
Sludge centrifuge untuk mengolah sludge. Sludge Centrifuge adalah alat yang
digunakan untuk memisahkan minyak yang masih terkandung di dalam sludge,
dengan cara pemisahan berdasarkan gaya sentrifugal. Didalam sludge centrifuge ini
terdapat bowl yang berputar 1450 rpm, bowl ini berbentuk bintang yang diujungnya
terdapat nozzle dengan diameter lubang tertentu dan nozzle ini dapat diganti sesuai
keinginan.
Prinsip kerjanya adalah nozzle separator berputar dengan gaya centifugal dimana
pemisahannya, fraksi berat ( lumpur, kotoran ) terlempar ke dinding bowl dan fraksi
ringan (air dan minyak) akan ketengah. Minyak yang mempunyai densitas lebih kecil
akan menuju poros dan terdorong keluar melalui sudu-sudu (paring disk), dan
ditampung di reclaimed tank sebelum dipompakan oleh reclaimed oil pump untuk
alirkan kembali ke CST. Sedangkan sludge (mengandung air) yang mempuyai
densitas lebih besar akan terdorong ke bagian dinding bowl dan keluar melalui nozzle,
kemudian sludge keluar melalui saluran pembuangan menuju fat pit.

Sludge drain tank


Lapisan bawah dari CST, dan sludge tank pada selang waktu tertentu didrain menuju
sludge drain tank. Di sludge drain tank minyak mengalir tenang dan dibiarkan

overflow untuk mengalir dan ditampung pada reclaimed tank, dan kemudian
dipompakan kembali ke CST untuk kemudian dimurnikan lagi. Sedangkan kotoran
dan air dialirkan menuju fat pit.

Fat Pit
Sebelum sludge di buang ke kolam pengolahan limbah, terlebih dahulu ditampung di
fat pit dengan maksud agar minyak yang masih terbawa dapat terpisah kembali. Di
Fat Pit diinjeksikan uap sebagai pemanas untuk mempermudah proses pemisahan
minyak dengan kotoran. Minyak yang ada pada permukaan dibiarkan melimpah
(overflow). Selanjutnya minyak ditampung pada sebuah bak pada pinggiran kolam fat
pit, dan kemudian dipompakan kembali ke sludge drain tank.

Storage Tank
Minyak dari vacuum dryer, kemudian dipompakan ke storage tank (tangki timbun),
pada suhu simpan 45-55C. Setiap hari dilakukan pengujian mutu. Minyak yang
dihasilkan dari daging buah berupa minyak yang disebut Crude Palm Oil (CPO).

f. Stasiun Kernel
Pada stasiun ini dilakukan aktifitas pemisahan serabut dari nut, pemisahan inti dari
cangkangnya dan juga pengeringan inti. Peralatan yang digunakan di stasiun ini ,
diantaranya :

Cake Breaker Conveyor (CBC)


Ampas dari screw press yang terdiri dari fiber dan nut yang masih menggumpal
masuk ke CBC. CBC merupakan suatu screw conveyor namun screwnya dipasang
palt persegi sebagai pelempar fiber dan nut. CBC berfungsi untuk mengurai gumpalan
fiber dengan nut dan membawanya ke depericarper.

Depericarper
Depericarper adalah alat untuk memisahkan fiber dengan nut. Fiber dan nut dari CBC
masuk ke separating column. Disini fraksi ringan yang berupa fiber dihisap
dengan fibre cyclone dan di tampung dalam hopper sebagai bahan bakar pada boiler.
Sedangkan fraksi berat berupa nut turun ke bawah masuk ke polishing drum.

Nut Polishing Drum


Nut polishing drum berupa drum berlubang-lubang yang berrputar. Akibat dari
perputaran ini terjadi gesekan yang mengakibatkan serabut yang masih menempel
pada nut terkikis dan terpisah dari nut. Nut jatuh, selanjutnya nut diangkut oleh nut

conveyor dan destoner (second depericarper) untuk memisahkan batu dan benda
benda yang lebih berat dari nut seperti besi. Nut yang terbawa ke atas jatuh kembali di
dalam air lock dan di tampung oleh nut elevator untuk dibawa ke dalam nut silo.

Nut Silo
Fungsi dari alat ini sebagai tempat penampungan nut, hal ini dilakukan untuk
mengurangi kadar air sehingga lebih mudah dipecah dan inti lekang dari
cangkangnya.

Ripple Mill
Biji dari nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari
cangkang. Biji yang masuk melalui rotor akan mengalami gaya sentrifugal sehingga
biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah.
Setelah dipecahkan inti yang masih bercampur dengan kotoran-kotoran di bawa ke
kernel grading drum.

Kernel Grading Drum


Pada kernel grading drum ini di saring antara nut,shell dan kotoran dengan nut yang
belum terpecahkan. Untuk nut shell dan kotoran lolos dari saringan dibawa ke LTDS.
Sementara untuk nut atau yang tertahan dikembalikan ke nut conveyor.

Light Tenera Dry Separator (LTDS)


Pada bagian ini akan terjadi pemisahan dimana fraksi-fraksi yang lebih ringan akan
dihisap oleh LTDS cyclone. Fraksi-fraksi yang ringan di hisap yang terdiri dari
cangkang dan serabut akan di bawa ke shell hopper melalui fibre and shell conveyor.
Inti dan sebagian cangkang yang belum terpisahkan, dipisahkan lagi pada clay bath.

Clay Bath
Clay bath adalah alat pemisahan Inti dengan cangkang. Proses pemisahan ini secara
basah yang menggunakan larutan CaCO3 dan air dengan ukuran partikel CaCO3 lolos
mesh 400. Clay bath berfungsi sebagai larutan pemisah antara kernel dan cangkang
berdasarkan berat jenis. Berat jenis Kernel basah = 1,07 dan berat jenis cangkang =
1,15 1,20, maka untuk memisah kernel dan cangkang tersebut dibuat larutan dengan
berat jenis = 1,12. Bagian yang ringan akan mengapung dan bagian yang berat akan
tenggelam. Inti yang merupakan fraksi ringan akan dibawa ke kernel silo untuk
disimpan dengan suhu tertentu.

Kernel Silo

Inti yang masih mengandung air, perlu dikeringkan sampai kadar air 7%. Inti yang
berasal dari pemisahan di clay bath melalui top wet kernel conveyor didistribusikan
ke dalam unit kernel silo untuk dilakukan proses pengeringan. Pada kernel silo ini inti
akan dikeringkan dengan menggunakan udara panas dari steam heater yang
dihembuskan oleh Fan kernel silo ke dalam kernel silo. Pengeringan dilakukan pada
temperatur 60-80C selama 4-8 jam. Kernel yang telah dikeringkan ini dibawa ke
kernel bulk silo melalui dry kernel transport fan.

Gambar 2. Proses Pengolahan Kelapa Sawit

Tandan buah segar yang sudah tiba di pabrik harus segera diolah menjadi CPO agar
meminimalkan peningkatan asam lemak bebas dalam minyak. Apabila dalam 24 jam lebih
TBS belum diolah maka dapat dikatakan restan pabrik. Secara umum proses pengolahan
kelapa sawit dibagi menjadi lima alur, yaitu sterilization, threshing, digestion, pressing, dan
clarification.
Proses pertama, Sterilization dilakukan perebusan TBS kelapa sawit dalam sterilizer
berupa bejana uap bertekanan 2.8-3 kg/cm2 selama 90 menit. Perebusan ini berfungsi untuk

menonaktifkan enzim lipase yang berperan menaikkan asam lemak bebas pada minyak,
memudahkan pelepasan brondolan pada tandan, dan melunakkan buah untuk memudahkan
dalam proses pengepresan.
Threshing, Tandan buah segar yang telah direbus diangkat menggunakan housting
crane dan dituang ke dalam theser melalui hopper yang berfungsi menampuh TBS rebusan.
Di dalam theser TBS dibanting untuk memisahkan brondolan dari tandan dengan kecepatan
putara 23-25 rpm.
Digestion, Brondolan yang sudah terpipil selanjutnya ditampung oleh fruit elevator
dan dibawa oleh distributing conveyor untuk didistribusikan ke tiap-tiap digester. Di dalam
digester buah dilumat dan diaduk untuk memisahkan antara daging buah (mesokarp) dengan
biji. Proses pelumatan biasanya berlangsung selama 30 menit.

Gambar 3. CPO Milling process

Pressing, Brondolan yang sudah dilumatkan kemudian dimasukkan ke dalam alat


pengepresan (screw press). Proses ini untuk mendapatkan minyak kasar dari mesokarp buah.
Dari proses ini diperoleh minyak kasar, ampas, dan biji. Biji yang bercampur dengan serat
akan dimasukkan ke alat cake breaker conveyor untuk dipisahkan antara biji dan seratnya,
sedangkan minyak kasar akan dialirkan ke stasiun pemurnian.
Clarification, Minyak kasar yang dihasilkan harus segera dimurnikan agar tidak
menurunan kualitas minyak akibat proses hidrolisis dan oksidasi. Proses pemisahan minyak,
air, dan kotoran dilakukan dengan sistem pengendapan, sentrifugasi, dan penguapan.

Setelah melalui banyak proses seperti diatas, minyak mentah kelapa sawit masih harus
melalui proses pemurnian. Seperti gambar berikut ini :

Gambar 4. Proses pemurnian

Bagian-bagian yang dihilangkan dari tahap pemurnian tersebut adalah sebagai berikut :

Gambar 5. Tabel tahap pemurnian

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Secara umum proses pengolahan kelapa sawit dibagi menjadi lima alur,
yaitu sterilization, threshing, digestion, pressing, dan clarification. Perlu diketahui bahwa
kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah yang
diolah dalam pabrik. Jadi dalam pengolahan kelapa sawit harus saat itu juga di olah agar
kualitasnya bagus. Kelapa sawit memiliki banyak manfaat, selain menghasilkan minyak
CPO dan kernel. Seluruh bagian dari kelapa sawit tidak ada sisanya atau dapat di
manfaatkan. Antara lain untuk minyak goreng, sabun, kosmetik, bahan bakar biodisel,
pupuk dan lain-lain.

REFERENSI

1. file:///H:/presentasi%20p%20setyoko/referensi/proses%20pengolahan%20kelapa%20sa
wit.htm
2. file:///H:/presentasi%20p%20setyoko/referensi/Anggi%20Yudi%20Chemical%20Engine
ering%20%20PROSES%20PENGOLAHAN%20KELAPA%20SAWIT.htm
3. file:///H:/presentasi%20p%20setyoko/referensi/Proses%20Pengolahan%20Minyak%20
Kelapa%20Sawit%20(Crude%20Palm%20Oil)%20%20%20Kampong%20Cip.htm
4. http://surgapetani.blogspot.com/2012/11/screw-press-mesin-pengempa.html

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Bagus Nurul H (03)


Bagaimana prinsip kerja screw press ?

2. Taufiq Ramadhan (19)


Jelaskan satu persatu apa itu five in one ?

3. Faisal Hermawan (06)


Dalam proses pengolahan kelapa sawit ada beberapa tank. Apakah setiap tank
perlakuannya sama ?

4. Dwi Prakoso (05)


Dalam proses pengolahan sawit apa saja yang menjadi konversi sinyal, kontrol proses,
dan kontrol akhir ? Sebutkan !

5. Riko Irwanto (15)


Pada proses pengolahan kelapa sawit apakah ada sensor di setiap prosesnya ? Apabila
tidak ada, apakah setiap tank dapat bekerja ?

6. Patuh Eriyana (16)


Bagaimana karakteristik dan pengaturan suhu di setiap tank ?

7. Hendi Winata (10)


Bagaimana cara menjaga kualitas minyak dalam storage tank ?

8. Fajar Ari Kristianto (07)


Apasaja bahan yang dicampur dalam menghilangkan zat-zat kimia dalam proses
pemurnian ?

9. Lukman Hakim (13)


Berapa ton sawit dan berapa liter CPO yang dihasilkan setiap kali panen ?

JAWABAN

1. Alat pengepress jenis ini memanfaatkan putaran dari double scew press dan scew press
cage untuk mengekstraksi minyak keluar dari gumpalan fibre yang telah dilumatkan di
digester. Pengekstrasian minyak ini juga dibantu dengan adanya tekanan kedepan dari
adjusting cone dengan memanfaatkan tenaga hidrolik.

2. Continous Settling Tank (CST)


Minyak dari COT dipompakan ke CST dimana sebelumnya dilewatkan ke buffer
tank agar aliran minyak masuk ke CST tidak terlalu kencang. CST bertujuan untuk
mengendapkan lumpur (sudge) berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Di CST suhu
dipertahankan

86-90 oC.

Minyak

pada

bagian

atas

CST

dikutip

dengan

bantuan skimmer menuju oil tank, sedangkan sludge (yang masih mengandung minyak)
pada bagian bawah dialirkan secara underflow ke sludge vibrating screensebelum
ke sludge oil tank. Sludge dan pasir yang mengendap didasar CST di-blowdown untuk
dibawa ke sludge drain tank .
Sludge Oil Tank
Untuk overflow dari tangki ini di alirkan ke drain tank sedangkan under flownya
dialirkan ke vibrating screen dan brush strainer atau langsung ke bak transit untuk
dipompakan ke sand cyclone. Untuk mempercepat pengendapan lumpur, sludge
dipanaskan (80-90oC) dengan menggunakan uap yang dialirkan melalui coil pemanas.
Sehingga densitas minyak menjadi lebih rendah dan lumpur halus yang melekat pada
minyak akan terlepas dan mengendap pada dasar tangki.
Hot Water Tank (H.W.T)
Sebelum sludge di buang ke tempat pengolahan limbah, terlebih dahulu ditampung di
HWT dengan maksud agar minyak yang masih terbawa dapat terpisah kembali. Di HWT
diinjeksikan uap sebagai pemanas untuk mempermudah proses pemisahan minyak
dengan kotoran. Minyak yang ada pada permukaan dibiarkan melimpah (overflow).
Selanjutnya minyak ditampung pada sebuah bak pada pinggiran kolam HWT, kemudian
dipompakan kembali ke sludge drain tank.
Pure Oil Tank (P.O.T)
Di dalam purifier dilakukan pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air
yang terdapat pada minyak berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan
gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang

memiliki densitas yang besar akan berada pada bagian luar (dinding bowl), sedangkan
minyak yang mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan keluar melalui
sudu-sudu untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang melekat pada dinding
di-blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.
Sludge Drain Tank (S.D.T)
Lapisan bawah dari CST, dan sludge tank pada selang waktu tertentu didrain menuju
sludge drain tank. Di sludge drain tank minyak mengalir tenang dan dibiarkan overflow
untuk mengalir dan ditampung pada reclaimed tank, dan kemudian dipompakan kembali
ke CST untuk kemudian dimurnikan lagi. Sedangkan kotoran dan air dialirkan menuju
fat pit.

3. Ada beberapa tank dari proses pengolahan kelapa sawit dan pastinya dari masing-masing
tank berbeda perlakuannya. Karena masing-masing tank memiliki fungsi sendiri dan
kelapa sawit yang di olah pun sudah dalam bentuk hasil yang berbeda pada tiap tank.

4. Untuk konversi sinyalnya sendiri adalah yaitu ada pada loading ramp, karena disitu
mengatur buah sawit yang masuk.
Untuk kontrol proses adalah semua proses pengolah seperti sterilization, threshing,
digestion, pressing.
Untuk kontrol akhir adalah pada proses yang menghasilkan minyak CPO.

5. Semua proses yang ada pada pabrik pengolahan ini adalah menggunakan kontrol manual
jadi ada operator yang mengendalikan disetiap mesin pengolahan. Sehingga meesin
digunakan seefektif mungkin.

6. Karakteristik dan pengaturan suhu di setiap tank, didalam pabrik tersebut untuk tank
yang digunakan untuk proses sterilizer (perebusan) di buat untuk tahan terhadap suhu
tinggi 1300 atau lebih karena pada saat perebusan membutuhkan suhu sebesar 1300
dengan waktu yang cukup lama yaitu 90 menit.

7. Sebenarnya kualitas minyak pada saat setelah proses pengepresan dan menghasilkan
minyak yang di tampung pada tanki penampung tersebut adalah sama jadi minyak yang
terus mengalir dari proses sebelumnya tidak mengubah minyak yang sudah ada pada
tanki. Karena masih berupa minyak CPO.

8. Bahan yang dicampur pada saat proses pemurnian dalam menghilangkan zat yang tidak
diperlukan yaitu ada lecithin, acid oil.

9. Pada pabrik ini memproduksi 30 ton/jam kelapa sawit dan menghasilkan minyak cpo
sebanyak 6.595,70/liter

Beri Nilai